.
Hickey
.
.
Jika enam bulan lalu ada yang mengatakan pada Hinata jika Itachi Uchiha adalah kekasihnya, maka Hinata akan tertawa sambil menganggap orang itu sudah gila karena mengatakan hal yang sangat konyol dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang Itachi Uchiha mau meliriknya? Banyak gadis diluar sana yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Hinata, tidak ada alasan bagi Hinata untuk bisa mendapatkan perhatian Itachi Uchiha. Oleh karena itu ia selalu mengabaikan sosok Itachi Uchiha. Bagi Hinata mereka berdua saling bertolak belakang, tidak mungkin bisa bersama. Terlebih lagi Hinata telah menyukai orang lain, pria berambut kuning yang bernama Naruto Uzumaki yang selalu ia idam-idamkan.
Namun takdir memang aneh. Pria pujaan hatinya justru mengabaikannya sedangkan pria yang ia abaikan justru jatuh hati padanya.
Takdir memang sesuatu yang sangat misterius.
Namun Hinata sangat bersyukur karena takdir telah membuatnya menemukan sosok Itachi.
Setelah bersama dengan Itachi, Hinata baru memahami apa itu cinta. Perasaannya pada Naruto dulu justru terlihat lebih dangkal, lebih mirip seperti seseorang yang mengagumi idolanya. Tapi tidak dengan Itachi, pria itu membuatnya merasakan seperti apa itu mencintai dan dicintai.
Itachi membuat hidupnya sempurna.
"Ne, Hinata seperti apa Itachi-san sebenarnya? Apakah dibalik sikapnya yang pendiam ternyata dia itu romantis?"
Wajah Hinata memerah ketika mendengar pertanyaan Ino.
Sakura menyikut Ino. "Hush, jangan bertanya hal-hal aneh seperti itu pada Hinata."
"Mengapa tidak?" Bantah Ino "Bukankah kau juga penasaran dengan Hinata dan Itachi? Bahkan semua orang juga penasaran dengan hubungan mereka berdua."
Hinata menundukkan wajahnya. "Ino-san…"
"Jangan memperdulikan Ino, dia bertanya padamu karena ingin menggali gosip panas." Kata Sakura.
"Aku tidak seperti itu!" Bantah Ino.
"Oh ya?! Semua orang juga sudah tahu jika kau adalah tukang gosip!"
Dan kedua kunoichi cantik itu kini berselisih.
"Abaikan mereka berdua, Hinata. Ini sudah menjadi kebiasaan mereka." Kata Tenten.
Hinata hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tapi Hinata, di cuaca panas seperti ini mengapa kau memakai baju dengan kerah tinggi seperti itu? Apakah kau tidak merasa gerah?"
Pertanyaan Tenten sukses merebut perhatian Sakura dan Ino. Kini mereka bertiga memusatkan perhatian mereka pada sosok wanita berambut indigo itu.
"I-itu… u-um…"
Ino terkesiap. "Apakah kau memakai itu karena sedang berusaha menutupi sesuatu yang sedang menghiasi lehermu?"
Sakura dan Tenten tertegun.
"Bu-bukan seperti itu!"
"Uh-uh." Kata Ino dengan tidak percaya.
"Menurutmu sudah sejauh apa hubungan Hinata dengan Itachi?" Bisik Sakura pada Tenten.
"Entahlah, aku tidak tahu. Mereka berdua sangat pendiam dan sulit untuk ditebak." Bisik Tenten.
"Ne Hinata-chan~ kau tidak perlu malu-malu begitu. Hal-hal seperti itu adalah sesuatu yang normal dilakukan oleh sepasang kekasih." Kata Ino sambil mengedipkan matanya.
"A-aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Kata Hinata berpura-pura bingung sambil memasang wajah lugu dan polos yang telah menjadi andalannya.
Tenten, Sakura, dan Ino saling berpandangan. Bagi mereka, Hinata adalah gadis manis yang masih lugu dan polos. Hinata tidak mungkin melakukan 'sesuatu' dengan Itachi kan? Apalagi mengingat reputasi Itachi yang dikenal sebagai seorang yang sopan dan rendah hati. Mereka berdua tidak mungkin melakukan 'sesuatu' kan?
"A-aku permisi dulu. Otou-san sudah menantikanku pulang." Pamit Hinata.
Sepeninggal Hinata, ketiga gadis cantik itu masih diliputi rasa penasaran.
"Mereka berdua bukan pasangan yang agresif kan?" Tanya Ino.
"Hinata dan Itachi? Agresif? Aku tidak bisa membayangkan itu." Kata Sakura. Tenten mengangguk tanda menyetujui perkataan Sakura.
"Tapi ada yang mengatakan jika seorang yang pendiam justru lebih berbahaya." Kata Ino.
"Tapi Hinata sangat lugu dan polos. Itachi-san juga sangat sopan dan tingkah lakunya terhormat." Kata Tenten.
Ketiga gadis itu berpikir serius.
.
.
Hinata menatap pantulan bayangannya di cermin.
Sesampainya di rumah ia lalu menanggalkan baju berkerah tinggi yang ia kenakan tadi. Di cuaca yang panas seperti ini memakai pakaian seperti itu membuatnya gerah dan tidak nyaman. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain karena lehernya dihiasi tanda merah bekas ciuman dan gigitan yang diberikan kekasihnya.
Hinata menepuk-nepuk pipinya yang memerah.
Tidak ada yang mengetahui hal ini… kan?
.
.
