Anak berambut hitam pekat dengan model emo itu terus menangis meski tidak bersuara, tangan mungilnya mengelus lututnya yang tidak terluka, dia duduk di ujung lorong sempit disamping taman yang sudah mulai sepi karena tidak ada lagi anak yang ingin bermain apalagi langit mulai senja dan sebentar lagi akan gelap.
Lama dia menangis hingga sosok gadis kecil berambut pirang pendek sebahu datang menghampirinya, "Kamu teluka dan nangis?" tanya gadis kecil itu dengan pandangan mata yang tidak percaya. Anak laki-laki itu terdiam dengan wajah merah karena malu.
Gadis kecil didepannya tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kantung plastik bening yang didalamnya terlihat daun yang sudah hancur karena ditumbuk kasar.
"Tadi aku liat kamu jatuh kalena di dolong Shido-kun, aku pikil kamu mau pulang keluma eh malah duduk dicini angkanya aku cali daun ini yang tumbuh dicana kalena kata ibuku daun ini obat luka." ujarnya menjelaskan sambil menujukkan tumbuhan hidup yang menjelar disekitar tembok setengah hancur yang merupakan tumbuhan Phiahong. Anak lelaki itu tetap diam mendengarkan.
Gadis kecil itu tersenyum kecil lalu menaruh daun yang sudah dia tumbuk ke luka anak laki-laki didepannya. "Awww... Sakit." anak laki-laki itu meringis kesakitan karena pedih yang dia rasakan seperti ditusuk-tusuk jarum saat luka itu di tempeli daun phiahong.
"Cabal ya ental lagi juga gak cakit lagi, perltama emang cakit, aku juga dulu cepelti itu." ujar gadis kecil itu lalu membuang phiahong yang tersisa.
Anak laki-laki itu tidak dapat menahannya karena benar-benar sangat perih jadinya dia semakin menangis keras. "Cakit banget ya?" anak laki-laki bermata onyx itu tidak menjawab melainkan menangis sambil memandangi sapphire milik gadis kecil didepannya.
"Cini, naiklah ke punggung ku, aku antal pulang." ujarnya sok dewasa dan langsung berbalik memunggungi anak laki-laki itu untuk menawarkan punggungnya.
Karena sudah sangat sore dan hampir malam terpaksa dia harus menerima tawaran gadis kecil itu, dia tidak sanggup berjalan lagi karena rasa perih masih dapat dia rasakan.
Senyum lebar terukir dibibir gadis kecil pemiliki rambut pirang saat anak laki-laki yang dia tolong mau naik kepunggungnya dan dengan terpaksa dia digendong gadis kecil sampai didepan pagar mansionnya yang jaraknya cukup jauh dari taman tempat mereka bermain.
"Kok cepi?" kedua sapphire miliknya melihat kesana-kemari memperhatikan mansion mewah didepannya dengan bingung.
"Tou-cama dan Kaa-cama sedang di lual negeli." anak laki-laki itu menjawab lalu turun dari gendongan gadis kecil.
"Aligatou." ucapnya tulus. Gadis itu mengangguk senang sambil tersenyum dengan wajah yang sudah kotor oleh debu tapi tidak menutupi wajah cantiknya. "Hm!" sahutnya.
"Namaku Uchiha Sasuke." ujarnya lalu tanpa sadar dia mencium pipi gadis didepannya membuat gadis itu terdiam dengan wajah merona.
Setelah dia cium, dia meninggalkan gadis itu seorang diri didepan pagar karena malu akan perbuatan dirinya sendiri.
"Namikaze Naruto!" seru gadis kecil itu dengan penuh semangat dari luar pagar. Sasuke tersenyum kecil dan melanjutkan jalannya yang sedikit pincang karena perih lukanya belum hilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mitsuki HimeChan
present
Sun Flowers
SasufemNaru
Chapter 2
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dimana kapten Obito dan Rin?" tanya Naruto sambil berlari pelan kearah gedung tua yang disulap menjadi tempat pengobatan bagi tentara atau warga sipil yang terluka, sementara itu tentara yang berada dibelakangnya mengekor.
"Kapten saat ini ada di kota untuk menemui seseorang tapi akan segera kesini dan Rin ada disungai untuk mencuci kain yang kotor dan sudah kami beritahu." jawabnya.
"Siapkan senjata kalian karena bagaimana'pun juga mereka orang asing!" ujar Naruto memberi perintah dan beberapa tentara yang berjaga langsung patuh akan perintah dari wakil komandan tim elit ANBU dari kesatuan pasukan khusus Jepang itu.
Mereka langsung bersiap dengan senjata api mereka masing-masing dan berdiri didepan gedung tua tersebut menunggu helikopter yang akan datang. Seorang tentara datang dan memberikannya berkas pasien yang akan di tangani yang ternyata adalah bangsawan Inggris yang sedang dalam perjalan pulang menuju negara asalnya. Bangsawan itu pingsan didalam helikopternya dan butuh bantuan saat ini juga.
Seorang gadis berambut coklat berlari kencang dan berhenti tepat disamping Naruto yang sedang membaca beberapa lembar kertas.
"Maaf terlambat." ujarnya. Naruto menoleh dan memberikan wanita berusia dua puluh tiga tahun itu senyuman dan mengangguk.
Wanita itu bernama Rin. Dia warga negara Rouran yang saat ini sering berkomplik dengan negara Suna dan karena hal itulah tugas pasukan khusus yang dikirim PBB untuk menjaga perbatasan antara kedua negara yang memaksa mereka harus waspada 24 jam. Rin adalah tabib yang sudah sering membantu para dokter tentara untuk mengobati pasien meski dia bukan lulusan sekolah kedokteran tapi kemampuannya hampir menyamai para dokter yang ada dirumah sakit besar, hal ini terjadi karena dia sering diajarkan oleh para dokter yang ada dibarak tentara.
Dan Naruto yang merupakan mahasiswa tamanatan sekolah kedokteran sekaligus akademi militer dengan senang hati mengajarinya tapi meskipun begitu Naruto belum bisa memperbolehkan Rin untuk mengoperasi pasien sendiri, dia hanya boleh menemani dan membantu saja jika ada operasi.
Tak lama mobil jeep hitam berhenti tepat didepan gedung tua dan sosok pria berseragam militer turun dari mobil itu dengan pandangan yang ramah dan tegas. Pria itu berjalan mendekati para tentara yang berdiri dengan senjata api masing-masing, para tentara yang melihat kedatangannya langsung memberi hormat kecuali Naruto dan Rin.
"Yo! Naruto." ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Hentikan senyuman bodoh mu itu kapten." sahut Naruto dingin membuat senyum pria itu luntur dengan cepat. "Kau ini dingin sekali ya huh~" Obito mengerucutkan bibirnya mendapat respon Naruto yang terlihat tidak peduli dengannya.
Suara helikopter mulai terdengar nyaring dan angin yang diakibatkan oleh baling-baling mulai terasa, debu berterbangan membuat semua tentara harus menutup wajah mereka dengan kedua tangan agar debu tidak masuk kemata mereka.
Setelah baling-baling itu berhenti barulah Naruto dan Rin bersiap untuk melihat pasien mereka yang sudah berbaring di ranjang beroda yang disiap oleh para tentara.
"Aku harap akan ada dokter relawan yang akan datang ketempat ini!" gumam Naruto menggerutu dan mengundang tawa kecil Rin yang mendengarnya karena sudah hampir lima bulan setelah dokter relawan dari PBB kembali ke Amerika membuat tugas mereka kini beralih semua kepada Naruto seorang dan untunglah ada Rin yang siap membantu.
"Rin siapkan ruang operasi!"
"Siap!"
Selagi Rin menyiapkan ruangan dibantu oleh seorang tentara, Naruto memasangkan pasiennya infus dan juga memeriksa tubuh pasiennya dan kalau ini sesuai dengan apa yang tertulis di selembaran tadi maka pria ini benar-benar terkena usus buntu dan harus dioperasi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Minato mengurut dahinya yang terasa pening akibat terlalu lama berkerja dan juga memikirkan dimana putri pertamanya yang saat ini menghilang entah kemana, dia merasa dirinya sudah gagal menjadi seorang ayah dan tidak berguna. Dia sudah melakukan banyak cara agar menemukan putrinya itu bahkan dia menyewa banyak orang untuk mencari keberadaan Naruto dan hasilnya nihil.
Naruto menghilang seperti ditelan bumi. Ini sudah sepuluh tahun berlalu dan tanda-tanda Naruto akan muncul kembali tidak ada sama sekali.
Pria paruh baya itu menghela napas panjang dan menyenderkan tubuhnya kesandara kursinya.
"Maafkan ayah nak maafkan ayah mu yang bodoh ini." ucapnya pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" jawab Minato dan kembali menegakkan tubuhnya. Pintu terbuka dan sosok pria berambut hitam masuk dan menutup pintu dibelakangnya.
Blam.
Pria itu berojigi lalu memberikan sebuah amplok hitam kepada Minato. Minato mengernyit heran tapi dia tidak bertanya dan mengambil amplok yang orang itu berikan padanya.
Sreeek...
Amplok itu ia robek dan melihat lima lembar foto, kedua sapphirenya terbelalak dan menatap kedua onyx didepannya dengan penuh tanda tanya yang besar.
"Beberapa hari yang lalu anak buah ku melihat Naruto-sama di New York dan karena dia tidak mungkin mengejar Naruto-sama karena sedang bersama istrinya yang sedang hamil tua jadinya dia hanya bisa memfoto dari kejauhan." ujar pria itu menjelaskan seolah tahu apa yang pria bermata sapphire itu pikirkan.
Kedua tangan Minato terkepal melihat foto tersebut pasalnya dia tidak melihat wajah kecerian disana melainkan wajah serius nan dingin dan yang lebih membuat dia tidak percaya adalah didalam foto itu Naruto sedang berdiri dibelakang pohon dan membidikan pistol kearah pria berjas hitam yang tampak mencurigakan yang sedang berdiri dan mengobrol dengan pria berkajet coklat didekat pagar pembatas antara jalan setapak dengan laur disebalah kanan.
Foto kedua pria berjas hitam tertembak dan terlihat menggeram kesakitan karena kakinya tertembak dan pria berkajet coklat kabur. Foto ketiga Naruto keluar dari persembunyian dan menembak pria berkajet coklat tepat dikaki. Dua pria berbaju hitam seperti Naruto kenakan muncul dan menyeret kedua pria paruh baya itu masuk kedalam mobil.
Foto keempat Naruto menarik topi hitamnya kebawah untuk menyembunyikan wajahnya dan foto kelima Naruto ikut masuk kedalam mobil.
"Yamato. Sebenarnya apa perkerjaan Naruto kenapa dia memegang pistol?" tanya Minato dengan tatapan mata tidak percaya dan juga takut.
"Sampai saat ini aku belum menemukan apapun tentang Naruto-sama selain foto ini." jawabnya.
"Apa maksud ayah?" tanya Kurama yang ternyata sudah berdiri didekat pintu bersama dengan Kushina. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berjalan mendekat dan melihat foto yang ada diatas meja kerja milik ayahnya.
Kedua sapphirenya menatap foto itu dengan tidak percaya, wanita yang ada didalam foto itu bukan adiknya. Adiknya Naruto berkulit putih pucat dan berambut pirang panjang sedangkan wanita yang ada di foto berambut pendek diatas bahu dan kulit yang sedikit kecoklatan tapi tidak gelap.
"Dia bukan adikku!" ujar Kurama dan menyobek foto tersebut lalu membuangnya ketempat sampah yang ada didekat meja.
"Yamato." panggil Minato.
"Iya tuan?" sahutnya.
"Aku tidak mau tahu, kau harus tahu info mengenani Naruto secepatnya dan aku tidak peduli soal uang. Kau mengertikan maksudku?" Yamato menganggukkan kepalanya pasrah. Masalahnya bukan soal uang tapi keberadaan wanita yang memiliki wajah yang sama dengan tuannya itulah yang sulit dicari.
"Akan aku usahakan." Yamato berojigi lalu pamit undur diri.
Kushina memunguti kertas foto yang dirobek Kurama dan disatukannya lagi untuk melihat wajah Naruto yang sedang bersembunyi dibalik pohon dan Kushina benar-benar berterima kasih kepada orang yang sudah memfoto karena dia mengezoom kamera agar bisa melihat wajah Naruto dengan jelas.
"Putriku." ucapnya sendu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Huaaaaa ibuuuu..." Naruto merengek sepanjang jalan bersama seorang wanita berambut pirang yang diikat dua. Wanita yang hampir menginjak usia lima puluh tahun itu tetap terlihat muda dan cantik meski sudah tua sementara itu laki-laki tua berambut putih mengekor dari belakang dengan santai.
"Kamu ini perempuan Naruto harusnya kamu itu feminim!" ujarnya tegas membuat gadis berambut pirang sebahu itu semakin merengek.
"Kakek..." Naruto menoleh kebelakang kearah Jiraya yang terlihat santai.
"Ck kau memanggil istriku dengan sebutan ibu dan kau panggil aku kakek? Cih enak saja sekarang kau meminta tolong kepadaku." ujar Jiraya cuek.
"Ini juga karena salah mu Jiraya! Dia ini perempuan tapi kau melatihnya jadi tentara!" ujar wanita itu kesal lalu menarik lengan Naruto memasuki salah satu spa yang ada di mall terbesar yang ada di kota New York.
Naruto mengancam semua pegawai tapi ternyata acaman ibunya lebih keren dari pada miliknya dan terpaksa Naruto mengukti perintah dari ibu angkatnya sejak usianya tujuh belas tahun.
Dialah Tsunade Senju istri dari Jiraya Senju. Mereka adalah sepasang suami istri yang tidak memiliki anak setelah anak gadis mereka meninggal dunia karena kecelakaan beruntun yang terjadi limas belas tahun yang lalu di Konoha.
Masih segar ingatan Tsunade akan kejadian sepuluh tahun yang lalu saat Naruto datang kerumahnya dalam keadaan yang mengenaskan. Dirinya yang memang seorang dokter langsung merawat Naruto hingga sembuh lalu mengurus semua surat adopsi untuk Naruto setelah mendengar cerita dari suaminya sendiri dan juga Naruto langsung.
Semuanya di urus dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang tahu lalu setelah seminggu berlalu mereka semua berangkat keluar negeri. Tsunade kembali mengerjakan tugasnya sebagai pemilik lima rumah sakit terbesar dan elit se Asia dan Eropa sedangkan Jiraya kembali mengerjakan tugasnya sebagai jendral dan Naruto masuk sekolah kedokteran terlebih dahulu karena sesuai dengan kesepakatan Naruto akan jadi dokter sekaligus tentara.
Dengan kejinusannya Naruto berhasil lulus dengan sangat cepat dari sekolah kedokteran dan menjadi lulusan terbaik lalu dia masuk ke akademi militer dan menjadi anggota pasukan khusus saat usianya dua puluh lima tahun lalu naik jabatan sebagai letnan beberapa minggu yang lalu.
Orang tua mana yang tidak bangga? Sayangnya keluarga Namikaze terlalu memperhatikan anak sulung dan anak bungsu mereka dan melupakan Naruto.
Naruto menghela napas lega saat semua pegawai selesai dengan perkerjaan mereka lalu Tsunade kembali menarik lengan Naruto menuju butik. Jiraya tersenyum geli melihat ekspresi Naruto yang sangat lucu baginya, bagaimana tidak. Naruto tidak suka dandan dan sekarang karena takut akan kemarahan Tsunade, Naruto rela nurut bak anak kucing.
.
Ditempat lain, disebuah kamar hotel mewah. Seorang pria berambut emo berdiri sambil memandangi kota New York dari balik kaca jendela kamar sambil menyesap nikmat vodka miliknya. Kedua onyxnya milirik kearah vas bunga yang ada disampingnya. Bunga matahari yang baru saja dia beli tadi tampak terlihat masih segar tapi sampai kapan bunga itu akan tetap bertahan?
Seorang pria paruh baya datang dan berdiri disampingnya, "Kau masih mengharapkan wanita itu?" tanyanya.
"Hn." sahut pria berambut emo dengan kedua onyx nya yang masih diam memandangi kota dibawah sana yang terlihat padat oleh banyaknya manusia yang berjalan kaki.
"Ayah tidak pernah mengekang kalian tapi ayah harap kau berpikir untuk masa depan. Itachi sudah menikah dan kau kapan? Menunggu wanita itu? Dia bahkan tidak pernah muncul lagi setelah kalian tamat sekolah." ujarnya.
"..."
"Sasuke."
"Hn."
"Pikirkan masa depan mu anakku." pria itu berbalik hendak meninggalkan putra bungsunya yang masih setia memandang kota yang seolah ada dibawah kakinya saat ini.
"Hn."
"Malam ini ada pesta ulang tahun salah satu kolega ku, datanglah bersamaku malam ini."
"..." kedua onyx pria berkepala dua itu terpejam untuk sebentar kemudian di taruhnya gelas yang sejak tadi dia pegang keatas meja tepat disamping vas bunga.
Fugaku melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar hotel setelah tidak mendapat jawaban dari putra bungsungnya itu yang tampak masih belum bisa move on dari sosok gadis berambut pirang panjang bermata sapphire.
"Kalau kau tahu filosofinya maka tunggulah aku jika tidak bahagilah bersama orang lain."
Kata-kata yang Naruto katakan padanya masih teringat olehnya jika memang benar itu akan terjadi maka Sasuke akan tetap menunggu gadis itu walau memakan waktu yang lama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keluarga Senju malam ini menjadi pusat perhatian para tamu undangan pasalnya yang mereka tahu anak dari kedua Senju itu sudah lama meninggal tapi sekarang mereka berdua datang dengan seorang wanita cantik bertubuh mungil tapi tinggi datang kepesta.
Rambut pirang Naruto dibiarkan tergerai dan hanya berhiasan beberapa mutiara membentuk setengah lingkaran diatas kepalanya dan dress pendek selutut berwarna merah marun tanpa lengan dan berdada rendah ia kenakan dengan sangat pas dan membentuk tubuhnya yang indah bak gitar Spanyol.
High heels setinggi lima senti berwarna merah tua milik Naruto menggema disetiap dia melangkahkan kakinya membuat para tamu undangan yang bergender pria harus meneguk ludah mereka susah payah apalagi saat sapphire Naruto tidak sengaja beradu pandang dengan mereka membuat jantung mereka hampir lepas.
"Sayang tunggu, ibu lupa memberikan kalung ini untuk mu." ujar Tsunade sambil mengeluarkan kotak kecil beludru berwarna biru tua dari dalam tas tangannya.
Naruto berhenti berjalan dan memandang ibunya heran. Kalung dengan liontin batu sapphire berbentuk persegi panjang itu terpasang dengan sempurna dileher jenjangnya. Rantai kalung yang berwarna perak mengkilat terlihat cocok dengan kulitnya yang memang tidak seputih dulu.
"Sekarang ibu akan memperkenalkan kamu sebagai Naruto Senju pewaris Senju Hospital." ujar Tsunade bangga lalu mengamit lengan Naruto sayang sedangkan Jiraya hanya bisa menghela napas pasrah dan mengikuti langkah kaki istrinya.
Jiraya tidak suka pesta formal seperti ini karena dia suka pesta yang biasa seperti yang sering dia lakukan bersama pasukannya saat menadapat libur. Mereka pesta sake sampai satu hari satu malam.
Minato bersama dengan Kurama disambut baik oleh pelayan yang berjaga didepan pintu masuk hotel dan langsung membawa keduanya ke ballroom hotel tempat pesta berlangsung.
"Ayah soal yang kemarin mumpung kita di New York. Tak salah kalau kita mencari Naruto?" ujar Kurama, langkah kaki mereka terhenti didepan pintu ballroom.
Minato melihat kearah Kurama yang tampak gagah berdiri disampingnya yang juga menatapnya, "Tentu saja." pintu ballroom terbuka dan keduanya berjalan memasuki pesta.
.
Sasuke tampak bosan mengikuti acara pesta ini sedangkan ayahnya tampak serius sedang berbincang dengan para tamu yang lain. Beberapa kelompok penari atau pernyanyi yang sejak tadi menunjukan bakat mereka diatas panggung tidak membuat Sasuke merasa terhibur sama sekali bahkan tambah membuatnya semakin bosan dan kesal.
Kedua matanya menyipit dan menajam saat kedua onyx nya menangkap sosok wanita mirip Naruto sedang tersenyum menanggapi semua apa yang wanita berambut coklat katakan sementara itu wanita cantik berambut pirang dikuncir dua ikut bercerita dan sesekali tertawa.
Tanpa ada rasa ragu sedikit'pun Sasuke berjalan mendekati wanita cantik itu, senyuman wanita itu mirip dengan senyuman Naruto gadisnya, sapphire wanita itu juga dan warna rambut wanita itu yang berbeda wajah wanita itu terlihat dewasa dan warna kulit yang tidak putih pucat seperti gadisnya.
"Naruto." panggil Sasuke dengan suaranya yang dingin dan berat. Merasa namanya dipanggil lantas membuat Naruto menoleh dan melihat sosok pria bertubuh tegap berdiri disampingnya. Kedua iris berbeda warna itu saling bersirobok dan sedetik kemudian tubuh pria itu sudah membekap tubuh wanita berambut pirang pendek didepannya.
Tsunade dan teman bicaranya kaget melihat Naruto dipeluk oleh president direktur Uchiha Group. "Sasuke." ucap Naruto pelan didalam dekapan Sasuke.
"Aku benci kau!" ujar Sasuke pelan. Naruto terdiam mendengarnya. "Aku benci kamu yang pergi tanpa izin dariku!" Naruto tersenyum getir lalu membalas pelukan Sasuke tanpa peduli bahwa saat ini mereka jadi pusat perhatian termasuk kedua sapphire yang sama dengan milik Naruto.
"Benci aku Sasuke-kun." sahut Naruto pelan.
Tsunade dan Jiraya tersenyum melihat keduanya, mereka sudah tahu soal Naruto yang mencintai Sasuke begitu juga sebaliknya maka dari itu mereka diam saja menyaksikan.
"Ya aku benci melihat mu mengenakan pakaian berdada rendah seperti ini kau pikir kau siapa hm? Pergi seenak jidat mu dan datang seenak jidat mu pula!" Sasuke melepaskan pelukannya lalu melepaskan jas hitam milinya dan memakaikannya kepada Naruto.
Beberapa wanita yang melihat kejadian itu hanya bisa gigit jari karena iri melihat Naruto yang diperlakukan seperti itu oleh Sasuke.
"Ikut aku!" Sasuke meraih pergelangan tangan Naruto dan meremasnya lembut tapi sosok Jiraya muncul didepannya dengan tiba-tiba.
"Dia putriku nak." ujar Jiraya.
"Apa?" ucap Sasuke pelan karena tidak mengerti.
"Kau harus izin kepada ayahnya terlebih dahulu." kata Jiraya bangga.
Sasuke menoleh kearah Naruto yang juga melihat kearahnya sambil mengedikan bahu, "Aku putri angkat Senju." ujar Naruto pelan.
"Khehehehe... sudahlah nak pergi sana kalau mau pergi!" ujar Jiraya geli melihat ekspresi Sasuke yang menurutnya aneh.
"Aku ingin membawa Naruto sebentar." ujar Sasuke sedikit kaku dan langsung saja menarik tangan Naruto untuk keluar dari ballroom. Minato dan Kurama yang melihatnya ikut keluar mengejar.
Naruto hanya bisa memandangi punggung lebar milik Sasuke yang terus berjalan didepannya hingga mereka keluar dari dalam hotel menuju sebuah taman yang ada disamping hotel.
"Sasuke."
Grep!
Sasuke memeluk Naruto pelan dan menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher milik kekasihnya itu untuk menghirup aroma yang ada disana untuk mengobati rasa rindu yang selama ini bersarang dihatinya.
Lama keduanya terdiam saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindu. Sasuke melonggarkan pelukannya untuk mencium dahi, kedua kelopak mata, kedua pipi, hidung, dagu dan terakhir bibir Naruto walapun singkat hanya ciuman singkat tapi apa yang Sasuke lakukan itu mampu membuat Naruto merasa dicintai dan dirindukan.
Sepeluh tahun kepergiannya membuat prianya ini cemas, khawatir dan takut. Takut akan kehilangannya, takut kalau gadisnya yang berisik ini hilang dan tak kembali apalagi Naruto menghilang tanpa jejak setelah hari itu.
Tes
Tes
Tes
Air mata Sasuke jatuh membasahi tengkuk gadis itu. Naruto mengelus punggung Sasuke pelan hingga prianya berhenti meneteskan air mata lalu duduk berdua dikursi taman berwarna putih sambil bergandengan tangan.
Kurama dan Minato yang sejak tadi berdiri diam tak jauh dari mereka, mereka tak ingin menganggu Naruto dan Sasuke meski rasa kesal ada dihati mereka melihat semua perbuatan yang Sasuke lakukan untuk Naruto.
Kurama menarik lengan ayahnya saat ayahnya hendak menghampiri Naruto. "Kita tunggu sebentar lagi." ujarnya pelan. Dengan tidak rela, Minato menuruti apa yang putra sulungnya itu katakan.
Kurama melirik pohon beringin yang ada tak jauh dari tempat Sasuke dan Naruto duduk disana ada lalu ada pohon bunga sepatu yang cukup besar menutupi sebuah kursi untuk dua orang yang berjarak lima meter dari tempat keduanya duduk.
"Kita kesana saja yah tapi diam-diam." ajak Kurama. Minato mengangguk setuju karena dengan begitu mereka bisa mencuri dengar apa yang Sasuke dan Naruto bicarakan.
"Kau dimana selama ini Naruto dan kenapa kau bisa menjadi putri keluarga Senju?" tanya Sasuke sambil memandangi kedua sapphire didepannya.
"Aku di adopsi oleh keluarga Senju karena mereka sudah tahu kabar ku soal aku tidak di akui oleh Namikaze. Aku mengenal keluarga Senju sudah lama sebelum kabar itu beredar dan aku mengenal mereka karena aku menolong Jiraya, tou-chan angkat ku dari geng anak-anak sekolah yang suka membegal.
Kami berteman baik sejak saat itu hingga dia menganggap ku putrinya sendiri dan kabar itu datang, dia bilang dia siap menjadi ayah ku dan istrinya sangat bahagia menerima ku." jawab Naruto sambil meremas pelan kedua tangan Sasuke yang menggenggam erat tangannya. Sasuke kembali memeluk Naruto erat dan mengelus rambut pendek Naruto.
"Aku berkerja sebagai dokter." ujar Naruto didalam dekapan Sasuke.
"Lalu kenapa kau tidak muncul kehadapanku? Kenapa lama sekali?" Naruto tersenyum kecil.
"Aku ingin melupakan masa laluku."
"Apa aku juga masa lalu yang harus di lupakan?"
"..."
"Jawab aku." Sasuke melepaskan pelukannnya dan menatap kedua sapphire didepannya.
"Tidak." jawab Naruto lalu menundukan pandangannya. "Aku hanya ingin merasa tenang saja untuk saat ini Sasuke. Aku tak ingin pulang ke Jepang karena takut akan bertemu keluarga Namikaze. Aku tak sanggup melihat tatapan benci mereka untukku."
"Kalau kau tidak mau pulang kenapa tidak menghubungi ku?" tanya Sasuke setengah membentak.
"Aku ketakutan Naruto! Aku takut kau kenapa-napa! Apa kau pikir rasa cinta ku padamu selama ini hanya main-main?! Bahkan aku menolak banyak lamaran demi menunggu mu! Apa kau tidak memikirkan perasaan ku?!" ujar Sasuke satu oktaf lebih tinggi, kedua onyx nya kembali digenangi air.
"Gomenasai Sasuke-kun aku memang bodoh!" ujar Naruto dan menangis mendengar perkataan Sasuke barusan. Pria itu melepaskan genggaman tangannya dan duduk diam disamping Naruto.
"Mereka mencari mu. Keluarga mu. Kyuubi menceritakan semuanya dan aku hampir khilaf ingin membunuhnya kalau saja tidak ada Itachi yang membawa ku pergi." ujar Sasuke setelah keduanya lama terdiam.
Naruto mendongakan kepalanya menatap Sasuke yang duduk disampingnya tidak percaya. Keluarganya mencarinya? Apa ini cuma sandiwara mereka untuk kembali menyakitinya? Tapi sayangnya Naruto tidak akan pernah kembali kepada mereka meski mereka bersujud dibawah kakinya. Naruto hanya akan menganggap mereka seperti dia menganggap orang lain dan juga bertindak sopan didepan mereka seperti yang dia lakukan dengan kepada orang kebanyakan, ya dia akan melakukannya kalau mereka bertemu dan itupun kalau tubuhnya tidak bergetar ketakutan saat bertemu mereka.
"Naruto."
"Ya?"
"Apa kau akan kembali bersamaku?"
"..." wanita itu terdiam dan mengalihkan pandangannya untuk melihat langit diatasnya.
"Aku selalu menunggu mu selalu Naruto, apakah penantian ku ini akan berakhir?" tanya Sasuke dengan nada bergetar.
"..."
"Kita sudah bersama selama dua puluh satu tahun Naruto dan kita berpacaran sudah tujuh belas tahun, meski kita sering putus nyambung dan bertengkar tapi ketahuilah aku mencintai mu, aku mengkhawatirkan mu.
"..." kedua mata Naruto terpejam untuk menyembunyikan air matanya dan ingatan masa lalunya kembali berputar seperti kaset lama seperti halnya Sasuke yang kembali mengingatnya.
[Flashback on]
"Oy Sasuke-kun!" teriak Naruto keras. Saat ini usianya mereka masih sepuluh tahun. Mereka sudah bersahabat selama empat tahun dan ya ini tahun keempat mereka bersahabat.
Sasuke menghela napas lalu menghampiri Naruto yang sudah menunggunya didepan gerbang masuk.
Naruto tersenyum dengan wajah bodohnya lalu mengamit lengan Sasuke.
"Kau tahu aku dapat nol lagi hahahaha..."
"Ck kau ini bodoh atau apa sih? Kemarinkan sudah aku ajari!" sahut Sasuke ketus dan Naruto tersenyum lebar disampingnya.
"Aku tak peduli." timpal Naruto sing a song. Sasuke menghela napas kasar dan melepaskan lengan Naruto dari lengannya.
"Aku mau ke kelas!"
"Yak Sasuke tunggu!" Naruto tertawa kecil dan mengejar Sasuke yang berjalan didepannya. Mereka berbeda kelas karena Sasuke ada dikelas A tempat para siswa berotak jenius sedangkan dia berada di tempat siswa berotak kelewat biasa dan juga nakal yaitu kelas F.
Skip time
Sasuke duduk diatap sekolah bersama Naruto yang sibuk mengerjakan soal darinya. Sasuke tersenyum melihat wajah Naruto yang terlihat berpikir keras atau hanya pura-pura berpikir karena bagi Naruto semua soal itu seperti nasi yang dengan mudah dia makan.
Semua soal itu semuanya mudah tapi dia malas mengerjakannya. Naruto mengisinya asal dan memberikan kertas-kertas itu kembali kepada Sasuke. Sasuke menatap Naruto jengkel. "Aku akan menjadikan kau pacarku kalau kau bisa mendapat nilai seratus dalam ujian besok." ujar Sasuke yang sukses membuat kedua sapphire gadis itu terbelalak. "Benarkah?" Sasuke mengangguk.
"Oke!" sahut Naruto cepat dan langsung memeluk Sasuke erat. Dan sesuai dengan perjanjian, saat ujian Naruto berhasil mendapat nilai seratus. Sasuke tersenyum melihat nilai dan Naruto bahagia luar biasa saat Sasuke mencium pipinya dan mengatakan 'Selamat kau jadi pacarku.'
Disaat usia mereka dua belas tahun mereka putus karena banyak siswi yang mengerjai Naruto karena dekat dengan Sasuke padahal Sasuke sendiri selalu membelanya dan demi kebaikan bersama mereka berpisah tapi tetap bersahabat baik.
Usia empat belas tahun, mereka kembali berpacaran tanpa kedua orang tua mereka ketahui, tak ada yang tahu kecuali orang-orang yang ada disekolah, tahun kedua SMA mereka pisah karena salah paham membuat keduanya menjadi musuhan tapi tak lama Naruto kembali mengejar-ngejar Sasuke.
Sasuke cuma bisa menggelengkan kepala melihat Naruto yang sering berkelahi dan terkadang dia membantu kalau gadis itu kualahan. Melihat Naruto melompat dari tempat yang tinggi bukanlah yang baru baginya bahkan gadis itu pernah melompat dari atap sekolah didepan matanya sendiri dan ternyata selamat. Gadis macam apa itu dan kalau ditanya kenapa lompat jawabnya 'Menguji adrenalin.' dengan senyuman yang bodoh.
...
Sasuke baru saja keluar dari ruang ganti lebih dulu dan hendak masuk kedalam kelas yang kosong melompong karena semua siswanya masih dikamar mandi untuk membersihkan diri atau ruang ganti setelah jam olahraga.
Kedua onyx hitamnya tanpa sengaja melihat Sakura yang masih mengenakan seragam olahraga sedang menaburkan sesuatu kedalam kotak bekal Naruto. Si bungsu Uchiha itu'pun bersembunyi dibalik dinding saat Sakura keluar dari dalam kelas.
"Apa yang dia inginkan?" gumam Sasuke pelan melihat kotak bekal itu kembali seperti semula.
Tak lama jam istirahat berbunyi nyaring dan semua siswa yang memenuhi kelas langsung berhamburan keluar dari dalam kelas begitu juga dengan Naruto yang berlari kencang keluar sambil membawa kotak bekalnya.
Sasuke yang melihat hal tersebut ikuti keluar di ikuti ketiga sahabat baiknya, teriakan dari sana-sini bukanlah hal yang baru bagi mereka berempat bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari yang terkadang sangat mengganggu pendengaran mereka.
"Apa kau masih menyukai Naruto, Sasuke?" tanya Gaara yang berjalan disampingnya.
"Tidak." tapi aku mencintainya, lanjut Sasuke dari dalam hati.
Pemuda beraambut merah itu menganggukan kepala.
Saat Sasuke dan teman-temannya masuk kearea kantin lantas membuat suara tawa yang tadi menggema hingga keluar area kantin langsung berhenti saat dia melangkahkan kakinya masuk kecuali Naruto yang terlihat masih tertawa puas.
Sasuke melangkahkan kakinya kesebuah meja kosong yang ada disamping meja Naruto yang tampak kosong melompong, di ikuti dengan teman-temannya pula.
Sakura yang melihat hal tersebut berdiri dari duduknya dan menghampiri Sasuke yang sudah duduk dengan nyaman dikursinya. Sakura tersenyum lalu bergelayut manja dilengan Sasuke. "Duduklah disampingku Sasuke-kun. Kau tahukan disini sangat berisik." ujar Sakura menyindir Naruto yang duduk disebelah Sasuke.
'Cih apa yang pingky ini inginkan!' gerutu Sasuke dalam hati.
Naruto berhenti tertawa dan menoleh cepat kearah Sakura yang melihatnya sinis. "Apa mau mu pingky?!" tanya Naruto dengan nada mengejek. Sakura memberi Naruto death glare andalannya tapi tidak mempan sedikit'pun kepada Naruto.
'Cih kau pikir Naruto cewek lemah hanya karena tatapan matamu itu bodoh!' Sasuke kembali menggerutu didalam hati karena melihat Sakura melempar death glare secara cuma-cuma untuk Naruto.
"Sasuke-kun duduk disini saja bersama ku ya?" ujar Naruto sambil mengedipkan kedua matanya beberapa kali membuat Sakura hampir muntah melihatnya.
'Itu lebih baik ketimbang duduk dengan permen gulali.' jawab Sasuke dalam hati.
"Kau menjijikkan." celetuk Sakura sinis. Sasuke melepaskan tangan Sakura yang melilit lengan kananya dengan kasar. "Pergilah Sakura dan kau Naruto diamlah aku ingin makan siang dengan tenang!" ujarnya tegas.
Bibir Sakura mengerucut kesal kemudian pergi meninggalkan Sasuke yang terlihat kesal sedangkan Naruto tersenyum dan menggeser bangkunya untuk bisa duduk disamping Sasuke dan si bungsu Uchiha itu tidak merasa terganggu sama sekali dengan keberadaan Naruto disampingnya karena itu lebih baik. Gadis bermata sapphire itu memberikan sebuah kotak bekal yang tertutupi kain bergambar katak hijau keatas meja didepan Sasuke.
"Untuk mu, aku yang masak." ujar Naruto lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya dan sikunya menjadi tumpuannya diatas meja, kedua sapphirenya menatap wajah Sasuke dengan penuh cinta tak peduli dengan bisikan para siswa dan siswi mulai terdengar mengejeknya.
'Jadi Naruto membuatnya untukku? Dan Sakura ingin meracuni ku? Kurang ajar! Aku sudah sangat lama ingin makan masakan Naruto lagi. Aku mengutuk mu Haruno sialan!' Sasuke mengumpat didalam hatinya. Sasuke mendengus sebal. Oh ayolah hari ini seharusnya dia menikmati masakan Naruto yang luar biasa lezat itu tapi untunglah dia melihat Sakura tadi kalau tidak dia mungkin sudah keracunan saat ini dan menyalahkan Naruto.
"Jangan berharap aku akan memakannya." Sasuke menggeser kotak bekal itu menggunakan lengannya hingga terjatuh kelantai dan isinya tumpah begitu saja, Sakura yang melihatnya tertawa puas melihat ekspresi Naruto yang tidak percaya.
'Sial dia tertawa diatas penderitaan ku!' Sasuke manatap Sakura tajam
Ketiga sahabat baik Sasuke pun tersenyum melihatnya bahkan tertawa pelan.
Lee yang melihatnya tidak bisa terus berdiam diri saja, jadinya dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat.
Braaakk...
Digebraknya keras meja tempat Sasuke dan teman-temannya untuk makan siang dengan keras tak peduli delikan tajam dari ketiga sahabat baik si bungsu Uchiha itu berikan untuknya secara gratis.
"Aku tahu kau bangsawan yang kaya tapi setidaknya hargailah pemberian orang lain dan asal kau tahu, perbuatan mu ini tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan sama sekali." ujar Lee tajam membuat Sasuke untuk sejenak bungkam dan mendelikan kearahnya.
'Setidaknya aku bangsawan murni tidak seperti mu!' Sasuke menggerutu didakam hati.
"Sudahlah Lee, dia itu belum pernah merasakan bagaimana rasanya susah mencari sesuap nasi." timpal Chouji malas.
"Yo Naruto daripada kau buat bekal untuknya lebih baik untuk ku yo!" timpal Killer bee sambil ngerap.
Naruto tersenyum kecil dan menatap Sasuke, "Kau tidak suka ya? Kalau begitu makanan yang seperti apa yang kau suka?" tanya Naruto dengan suara lembut membuat semua orang yang mendengarnya kaget. Sejak kapan Naruto mau bertutur kata lemah lembut? Apa telinga mereka sedikit bermasalah?
"Jangan sok akrab dengan ku Naruto dan asal kau tahu nafsu makan ku selalu bisa hilang hanya karena melihat wajah mu." ujar Sasuke dingin tapi menusuk tajam tepat dihati gadis berambut pirang itu.
'Maafkan aku Naruto.'
Sasuke berdiri dari duduknya kemudian pergi meninggalkan kantin dan tak lupa dia memberi death glare kepada Sakura yang terdiam tidak berkutik.
...
Naruto turun dari kamarnya dengan malas dan langsung saja duduk di salah satu kursi tak peduli dengan tatapan mata yang mengarah padanya. Semua orang di ruangan ini berpakaian rapi dan juga mewah sedangkan dia hanya memakai hotpants dan jaket hoodie berwarna biru muda yang memiliki telinga rubah dan kaca mata berframe hitam bertengker manis dihidung mancungnya.
'Akhirnya kau turun.' batin Sasuke.
Naruto mengambil nasi untuk dirinya sendiri berserta lauk pauknya. "Dia putri mu Minato?" tanya Fugaku melihat Naruto yang tampak acuh duduk didepan Sasuke.
Minato berdehem sedikit karena malu melihat tingkah laku Naruto didepan keluarga bangsawan seperti Uchiha. "Hanya anak angkat." jawab Minato bohong membuat Naruto yang hampir menyuapkan nasi kedalam mulutnya urung karena sendoknya lebih dulu terjatuh dan menimbulkan suara benturan antara benda stenlis dan piring keramik berwarna putih.
Hati Naruto terasa tertohok mendengar jawaban ayahnya yang begitu melukai hatinya. Mikoto tersenyum sinis melihatnya tapi Naruto tidak tahu. Sasuke menatap Minato tidak percaya akan apa yang pria paruh baya itu katakan barusan.
'Tidak mungkin.' batin Sasuke.
"Hanya anak angkat tapi bertingkah layaknya tuan putri." ujar Mikoto sinis yang berhasil mencubit hati Naruto, cubitannya kecil tapi menyakitkan.
Kyuubi kembali memakan makananya dengan tenang sambil menikmati tontonannya sedangkan Kurama menatap adiknya yang memiliki warna rambut seperti ayahnya dengan tidak percaya.
Kushina berdehem pelan, "Ya memang begitu tingkah lakunya yang terkadang membuat kami merasa risih." ujar Kushina menimpali dan membuat Naruto menatapnya dengan tidak percaya.
"Anak seperti mu harusnya berterima kasih dan menghormati keluarga Namikaze yang sudah mau mengadopsi mu. Bersikaplah anggun layaknya bangsawan meski kau bukan keluarga bangsawan tapi dengan menyandang nama Namikaze didepan namamu itu artinya kau harus bertingkah laku layaknya bangsawan." ujar Fugaku berusaha bijak. Naruto tersenyum getir dan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Itachi menatap kedua sapphire Naruto yang menisyaratkan kekecewaan disana dan sepertinya keluarga Namikaze berbohong soal Naruto apalagi melihat sikap Naruto saat mendengar pernyataan Minato tadi.
Setelah makan malam usia Naruto langsung keluar rumah lewat pintu yang ada dibelakang dan Sasuke mengekor tanpa gadis itu ketahui sedangkan keluarganya sedang berbincang-bincang diruang keluarga.
"Kalau aku bukan anak kalian kenapa kalian mengadopsi ku kalau hanya ingin membuat hatiku sakit." ujarnya sendu.
Naruto menangis tersedu dan secara perlahan tubuhnya merosot turun hingga terduduk dijalan setapak taman dan memeluk kedua lututnya erat lalu menangis sekeras mungkin.
Sasuke berdiri belakang pohon Momiji dan mendengarkan semua keluh kesah Naruto
"Aaaaaaarrrrggghhhh..." Naruto berteriak keras disela tangis sambil menjambak rambutnya keras hingga beberapa helai rambut pirangnya terlepas dan menyangkut dijari-jari lentiknya.
"Hiks...heeeee...a-a-aaku ben-benci...kalian..hiks..hiks..."
"Kenapa semua orang membenci ku hiks...Sasuke-kun juga...Aku ta-tak pu-punya sia-papun lagi hiks...hiks..."
"Kau tidak sendiri Naruto." gumam Sasuke.
...
[Flashback off]
"Kau penguntit." Naruto mendengus mendengar semua yang Sasuke ceritakan padanya. Pria itu tersenyum kecil.
"Aku mengikuti mu selalu bahkan aku mengikuti mu saat kau menemui pria yang sekarang menjadi ayah mu. Dan bodohnya aku karena aku melupakan nomor mobil itu, aku sudah menghubungi perusahaan taksi itu tapi tidak ada sopir yang ingat pernah membawa mu kecuali sopir yang ternyata yang sudah pensiun dan tidak tahu dimana orang itu." sahut Sasuke.
Wanita itu tersenyum kecil dan menyandarkan kepalanya kebahu Sasuke dan Sasuke ikut menyenderkan kepalanya ke kepala Naruto yang duduk disampingnya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini karena aku selalu mendengar perintah dan terkadang berbuat apa yang aku suka dan mendapat hukuman tapi aku suka melakukannya." ujar Naruto jujur. Sasuke mengeriyit bingung mendengarnya.
"Berbaris rapi dan–"
"Apa maksudmu Naruto?" potong Sasuke cepat. Naruto tersadar dari apa yang dia katakan, dengan segera dia kembali menegakkan tubuhnya.
"Tidak apa." Naruto tersenyum kecil.
"Ak–"
Suara Sasuke terpotong mendengar suara smartphone Naruto berdering dan wanita itu mengelurkan smartphone miliknya dari dalam tas tangan berwarna hitam yang sejak tadi dia bawa.
Naruto melirik Sasuke sebentar lalu dia berdiri dari duduknya.
"Sebentar."
"Disini saja." sahut Sasuke namun Naruto tidak mendengarkannya dan menjauh dari Sasuke membuat pria itu mendengus.
Naruto menggeser gambar telpon berwarna hijau lalu menempatkan Smartphonenya ketelinganya,
Pip!
"Ada apa?" tanya Naruto.
"Hormat Letnan Senju-san. Saat ini mobil yang membawa obat-obatan dari PBB ditahan di Rouran Utara oleh kelompok yang kami tidak ketahui. Mereka meminta uang tebusan. Pesawat angkut tercepat akan segera berangkat menuju Rouran, anda diharapkan bersiap!"
"Aku di New York butuh waktu lama untuk ke Tokyo."
"Baiklah kami akan menjemput letnan kesana, tunggulah disana nanti helikopter akan datang dan dimana saat ini letnan berada?"
"The Towers at Lotte New York Place." jawab Naruto.
"Kami akan menjemput letnan di landasan helikopter West 30th Street pangkalan pesawat Amfibi New York. Setelah meminta izin untuk terbang memasuki New York."
"Oke aku akan segera kesana."
"Baik!"
Pip!
Naruto menutup telponnya dan segera menghampiri Sasuke.
"Aku harus segera pergi maaf Sasuke."
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke. Naruto menggigit bibir bawahnya.
"Maaf!" Naruto segera berlari meninggalkan Sasuke.
"Kau mau kemana Naruto?!" seru Kurama yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya bersama sang ayah. Naruto yang kaget melihat kedua pria yang paling tidak ingin dia temui akhirnya muncul di depan kedua matanya membuat Naruto drop seketika.
Tubuh wanita itu bergetar dan berjalan mundur. "Naruto maafkan ayah." ujar Minato menyesal.
'Aku tak bisa kalau seperti ini misi ku bisa kacau.' batin Naruto.
"Naruto." panggil Kurama pelan sementara itu Sasuke berdiri didepan Naruto.
"Jangan temui Naruto saat ini, aku tahu kalian ingin sekali bertemu dengannya tapi tidak sekarang." ujar Sasuke karena dia melihat reaksi Naruto cukup berlebihan dan membuat dia paham akan kondisi psikis wanita berambut pirang itu.
"Aku harus pergi!" ujar Naruto tegas dan melepaskan kedua high heels nya kemudian langsung berlari kedepan.
Kurama berusaha menggapai tangan Naruto tapi wanita bertubuh mungil itu sangat cepat menghindar dan lari.
Ketiga pria berbeda warna rambut itu berusaha mengejar Naruto tapi gadis itu sangat cepat berlari dan menghilang dibalik kerumunan orang yang sedang berjalan. Mereka bertiga berpecar.
Sasuke berlari tak tentu arah mencari keberadaan wanita yang mengenakan jas kebesaran dan bertelanjang kaki hingga dia menemukan wanita itu sedang naik taksi. Sasuke langsung masuk kedalam taksi yang diberhentikan seorang nenek.
"Sorry!" ujarnya kepada sang nenek dan meminta sopir itu untuk segera mengejar mobil taksi yang membawa Naruto.
Sasuke bukannya tidak pernah ke Amerika tapi apa yang Naruto lakukan dengan pergi ke landasan helikopter West 30th Street pangkalan pesawat Amfibi New York?
"Apa anda tentara tuan?" tanya sopir taksi.
"Bukan." jawab Sasuke.
"Tunggu tentara?" gumam Sasuke. Taksinya berhenti tak jauh dari taksi Naruto.
Sasuke turun dan bersembunyi dibalik mobil jeep yang kebetulan ada disana. Naruto berdiri disana seorang diri lalu tak lama sebuah pesawat tempur AH-64 Apache hendak mendarat heliped. Sasuke berusaha menutup wajahnya yang terkena angin akibat terjangan angin yang begitu kencang.
Setelah pesawat tempur itu mendarat seorang tentara turun dan memberi hormat kepada Naurto. Naruto membalas hormat tentara itu lalu masuk kedalam hilikopter setelah pintunya dibukakan oleh tentara itu dan heikopter tempur itu kembali mengudara setelah orang yang dijemput naik.
"Siapa kau Naruto?" tanya Sasuke pelan melihat kepergian Naruto.
Bersambung~
Terima kasih yang sudah favfoll dan reviews...
Silahkan kunjungi akun ku di wattpad : Mitsuki_HaruChan
Thanks to
, TheB1gBoy, Shafira anggraini120398, choikim1310, aiko4848, Aoi Latte, Muhammad Ramadhan630, Boltltou-ku RT, uzumaki megami, Nopebowir, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Alfiona571, freeX9r, M.D.A 1530, naruhina, 85, fujusaki Yuki, amayah 21, AkarisaRuu, RavenMyta12, Nakamoto Yuu Na, Delta31
