Title : Twilight
Ditulis Oleh : Stephenie Meyer.
Main Cast :
Oh Sehun
Xi Lu Han
Wu Yi Fan
Rated : M
Warning! Genderswitch for all uke's
CHAPTER 1.
[[ Buku yang terbuka ]]
Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu di Korea 23° C langit cerah, biru tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku—tanpa lengan, berenda putih.
Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan.
Ketika itulah aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama tiga musim panas terakhir ini, ayahku, Chen, berlibur bersamaku di Seoul selama dua minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri – keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat.
Ugh, Aku benci Forks.
"Luhan," ibuku berkata—untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya—sebelum aku naik pesawat. "Kau tidak perlu melakukan ini."
Ibuku mirip aku, kecuali pipi seperti bakpau yang ia miliki. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar.
Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian?
"Aku ingin pergi," aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan.
"Sampaikan salamku untuk Daddy~."
"Akan kusampaikan."
"Sampai ketemu lagi," ibuku berkeras. "Kau bisa pulang kapan pun kau mau—aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku." Tapi di matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu.
"Jangan khawatirkan aku," pintaku. "Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom." Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik ke pesawat, dan ia pun pergi.
Makan waktu empat jam untuk terbang dari Seoul ke Seattle, satu jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu satu jam perjalanan darat menuju Forks.
Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama daddy-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan, Daddy lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama.
Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA. Tapi tentu saja saat-saat bersama Daddy terasa canggung. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku—sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku pada Forks.
Daddy menungguku di mobil patrolinya.
Daddy adalah Kepala Polisi Kim di Forks.
Daddy memelukku canggung dengan satu lengan ketika aku menuruni pesawat.
"Senang bisa ketemu denganmu, Hans," katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. "Kau tak banyak berubah. Bagaimana Xiumie?"
"Mom baik-baik saja. Aku juga senang bertemu kau, Dad." Aku tersenyum padanya.
"Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah," ujarnya ketika kami sudah berada di mobil.
"Mobil jenis apa?" Aku curiga dengan caranya mengatakan "mobil bagus buatmu", seolah itu tidak sekadar "mobil bagus".
"Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy."
"Di mana kau mendapatkannya?"
"Kauingat Billy Black di La Push?" La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai.
"Tidak."
"Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas," Daddy menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku.
"Sekarang dia menggunakan kursi roda," Daddy melanjutkan ketika aku diam saja, "jadi dia tak bisa mengemudi lagi dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah."
"Keluaran tahun berapa?" Dari perubahan ekspresinya aku tahu ia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini.
"Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik— umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh." Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku memercayai kata-katanya dengan mudah.
"Kapan dia membelinya?"
"Rasanya tahun 1984."
"Apa waktu dibeli masih baru?"
"Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal '60-an— atau setidaknya akhir '50-an," Dad mengakui malu-malu.
"Ch—Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir..."
"Sungguh, Luhan, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang."
Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai—paling jelek sebagai nama panggilan.
"Seberapa murah yang Dad maksud?" Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini.
"Well, Sayang aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang." Daddy melirikku dengan ekspresi penuh harap.
Wow. Gratis.
"Kau tak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku."
"Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini." Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Daddy merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika menjawab.
"Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya." Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku.
"Well. sama-sama kalau begitu," gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku. Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab, dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam.
Akhirnya kami tiba di rumah Daddy. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan dua kamar tidur, yang dibelinya bersama ibuku pada awal pernikahan mereka. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki—masa-masa awal. Di sana, terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah, tampak truk baruku—
"Wow, Dad, aku suka! Thankyou!" Komentarku
"Aku senang kau menyukainya," kata Daddy parau, sekali lagi merasa malu.
Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. Aku mendapat kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. Kamar itu sangat familier, itu kamarku sejak aku dilahirkan.
Lantai kayu, dinding biru cerah, langit-langit lancip, tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela—semua ini bagian masa kecilku. Satu-satunya pembahan yang dibuat Daddy adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. Di meja itu sekarang ada komputer bekas, dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat
Ini permintaan ibuku, supaya kami gampang berkomunikasi. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut.
Hanya ada satu kamar mandi kecil di lantai atas, dan aku harus memakainya dengan Daddy. Salah satu hal terbaik tentang Daddy adalah, ia tidak pernah membuntutiku. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku, perilaku yang tak mungkin kudapatkan dari ibuku.
Total murid SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357—sekarang 358; sementara murid di tempat asalku dulu ada lebih dari tujuh ratus orang. []
Tidurku gelisah malam itu, bahkan setelah aku selesai menangis. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala, kemudian menambahkan bantal-bantal.
Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur, ketika hujan akhirnya berubah jadi gerimis. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku.
Sarapan bersama Daddy berlangsung hening.
Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah.
Aku berterima kasih padanya, meski tahu doanya sia-sia. Keberuntungan selalu menjauhiku. Daddy berangkat duluan, menuju kantornya. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu, di salah satu dari tiga kursi yang tak serasi, mengamati dapur kecilnya, dengan dinding panelnya yang gelap, rak-rak kuning terang serta lantai linoleumnya yang putih.
Tak ada yang berubah.
Delapan belas tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil, tampak berderet foto-foto.
Yang pertama foto pernikahan Daddy dan ibuku di Seoul.
-kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat, diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. Aku malu melihatnya— aku harus mencari cara supaya Daddy mau memindahkannya ke tempat lain. setidaknya selama aku tinggal di sini.
Rasanya mustahil berada di rumah ini, dan tidak menyadari bahwa Daddy belum bisa melupakan ibuku. Itu membuatku tidak nyaman.
Aku tak mau terburu-buru ke sekolah, tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Aku mengenakan jaketku dan menerobos hujan.
Hujan masih gerimis, tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu, dan menguncinya.[]
Bangunan sekolah, seperti kebanyakan bangunan lainnya, letaknya tak jauh dari jalan raya. Tidak langsung ketahuan itu sekolah sih; hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks, yang membuatku berhenti. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi, dibangun dengan batu bata warna marun. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya.
Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu, bunyinya TATA USAHA. Tak ada yang parkir di sana, sehingga aku yakin itu daerah
parkir khusus.
Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam, daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat, menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap.
Di dalam keadaan cukup terang dan lebih hangat dari yang kuharap. Kantornya kecil, ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok, karpet bersemburat Jingga, pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding sebuah jam dinding besar berdetak keras.
Ruangan itu dibagi dua oleh konter panjang berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas.
Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya.
Ada tiga meja di balik konter, salah satunya dihuni wanita bertubuh besar berambut merah yang mengenakan kacamata.
Wanita berambut merah itu mendongak. "Bisa kubantu?"
"Aku Xi Luhan" kataku. Kulihat matanya berkilat terkejut.
"Tentu saja," katanya. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan yang dicarinya.
"Ini jadwal pelajaranmu, dan peta sekolah." Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya padaku.
-Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil, menerangkan rute terbaik menuju masing-masing kelas pada peta, dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali.
Ia tersenyum dan berharap, seperti Daddy, aku senang berada di sini- di Forks. Aku balas tersenyum meyakinkan sebisaku.
Aku mempelajari peta sekolah ini, berusaha mengingatnya; berharap aku tak perlu berjalan sambil terus memeganginya seharian. Aku memasukkan semua ke tas, dan menyandangkan talinya di bahu, dan menarik napas panjang. Aku bisa melakukannya, aku setengah membohongi diriku. Tak ada yang bakal menggigitku.
Akhirnya aku mengembuskan napas dan melangkah keluar truk.[]
Kelasnya kecil. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan mereka di tiang gantungan yang panjang. Aku mencontoh mereka. Mereka dua orang gadis, yang satu berambut pirang yang lain juga berkulit pucat, rambutnya cokelat muda.
Setidaknya warna kulitku tidak bakal mencolok di sini.
Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru, laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Mason. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku—bukan respons yang membangun—dan tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Aku terus menunduk, memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Bacaan dasar: Bronte, Shakespeare, Chaucer, Faulkner. Aku sudah pernah membaca semuanya.
Menyenangkan... dan membosankan. Aku membayangkan apakah ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara.
Ketika bel berbunyi, suaranya berupa gumaman sengau Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara padaku.
"Kau Xi Luhan, kan?" Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong
"Luhan." aku meralatnya. Semua orang dalam jarak tiga kursi berbalik menghadapku.
"Habis ini kau masuk kelas apa?" tanyanya. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku.
"Mmm, Pemerintahan, dengan Jefferson, di gedung enam." Aku tak bisa melihat ke mana pun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran.
"Aku akan ke gedung empat, aku bisa menunjukkannya padamu..." Jelas tipe kelewat suka menolong. "Aku Lee Sungyeol," tambahnya.
"Kau?" Aku belum sempat melanjutkan kata-kataku saat ia tiba-tiba menyelaku
"Ya, aku juga berasal dari Korea, sepertimu"
Aku tersenyum hati-hati. "Haha, baiklah"
Kami mengambil jaket dan menerobos hujan, yang sudah reda. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. Kuharap aku tidak menjadi paranoid.
"Jadi, ini sangat berbeda dengan di Asia heh?" tanyanya.
"Sangat".
"Kulitmu tidak terlalu cokelat."
"Ibuku setengah albino." Ia mengamati wajahku dengan waswas, dan aku mendesah.
Kami berjalan lagi mengitari kafetaria, ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gimnasium. Sungyeol mengantarku sampai ke pintu, meskipun papan tandanya jelas.
"Semoga berhasil," katanya ketika aku meraih gagang pintu. "Barangkali kita akan bertemu di kelas lain." Ia terdengar berharap.
Aku tersenyum samar dan masuk.
Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. Guru Trigonometriku, Mr. Varner, yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya, adalah satusatunya yang menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Aku tergagap, wajahku merah padam, dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku.
Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan bahasa Spanyol, dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat makan siang. Tubuhnya mungil, lebih pendek daripada aku yang 160 senti, tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. Aku tak ingat namanya, jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. Aku tak berusaha memerhatikannya.
Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa temannya. Ia memperkenalkanku pada mereka. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. Cowok dari kelas bahasa Inggris, Sungyeol, melambai padaku dari seberang ruangan.
Di sanalah, duduk di ruang makan siang berusaha memulai pembicaraan dengan tujuh orang asing yang penasaran,
-ketika aku pertama kali melihat mereka.
Mereka duduk di sudut kafetaria, sejauh mungkin dari tempat dudukku. Mereka berlima. Mereka tidak bicara, juga tidak makan, meskipun di depan mereka masing-masing ada satu nampan makanan yang tak tersentuh.
Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Dari tiga cowok yang satu bertubuh lumayan besar—dan terlihat berotot
Yang lain lebih tinggi, lebih langsing tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan.
Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. Ia lebih kekanakan daripada yang dua lagi.
Yang cewek-cewek kebalikannya. Yang jangkung tatapannya dingin. Tubuhnya indah. Rambutnya keemasan, tergerai lembut di punggung.
Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. sangat kurus, perawakannya mungil. Rambutnya hitam kelam, dipotong pendek dan lancip-lancip.
Namun toh mereka sama persis. Mereka pucat pasi, paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. Lebih pucat daripada aku, si albino. Mata mereka sangat gelap, begitu kontras dengan warna rambut mereka.
Mereka juga memiliki kantong mata keunguan, memar seperti bayangan. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa bisa tidur, atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. Terlepas dari hidung mereka, semua garis tubuh mereka lurus, sempurna, kaku. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. Aku memandangi mereka karena wajah mereka begitu berbeda, namun sangat mirip, semuanya luar biasa, keindahan yang memancarkan kekejaman. Sulit memutuskan siapa yang paling indah mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu, atau si cowok berambut perunggu.
Mereka semua mengalihkan pandangan—dari satu sama lain, dari murid-murid lain, dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Ketika aku memerhatikan, si cewek mungil bangkit membawa nampan—kaleng sodanya belum dibuka, apelnya masih utuh—dan berlalu sambil melompat cepat dan indah.
"Siapa mereka?" aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku, yang aku lupa namanya.
Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud—meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu—tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya, cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan, mungkin yang paling muda. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik, lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku.
Ia berpaling dengan cepat, lebih cepat dari yang bisa kulakukan, meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan—seolah temanku telah menyebut namanya, dan ia memandang sebagai reaksi spontan, telah memutuskan untuk tidak menjawab. Gadis di sebelahku tertawa tersipu, menunduk memandangi meja seperti aku.
"Oh Sehun, dan Kai serta Kyungsoo Hale. Chanyeol Hale Yang baru saja pergi namanya Baekhyun; mereka tinggal bersama dr. Cullen dan istrinya." Ia mengatakannya dengan berbisik.
Aku melirik cowok tampan itu, yang sekarang sedang memandangi nampannya, mencubit cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat. Mulutnya bergerak sangat cepat, bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. Yang tiga lagi masih membuang muka, namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka.
Nama-nama aneh yang tidak populer, pikirku. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek nenek. Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica
"Mereka... sangat tampan dan cantik." Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu.
"Benar!" Jessica setuju seraya terkekeh lagi. "Dan mereka selalu bersama-sama—Kai dan Kyungsoo, Chanyeol dan Baekhyun, maksudku. Dan mereka tinggal bersama-sama." Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini, pikirku kritis.
"Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?" tanyaku. "Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga..."
"Oh, memang tidak. Dr. Cullen masih sangat muda, kirakira dua puluhan atau awal tiga puluhan. Mereka semua anak adopsi. Yang bermarga Hale, Kyungsoo dan Chanyeol adalah sepasang kembaran laki laki dan perempuan—yang pirang—mereka anak angkat."
"Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat."
"Sekarang memang. Chanyeol dan Kyungsoo umurnya delapan belas, tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. Cullen sejak masih delapan tahun. Mrs. Cullen bibi mereka atau seperti itulah."
"Mereka baik sekali—mau memelihara semua anak-anak itu, ketika mereka masih kecil dan segalanya."
"Kurasa begitu," ujar Jessica enggan, dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu.
Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu, aku menduga alasannya adalah iri. "Kurasa Mrs. Cullen tidak bisa punya anak," Jessica menambahkan, seolah-olah komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka.
Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. Mereka terus memandang dinding dan tidak makan.
"Apa mereka sejak dulu tinggal di Forks?" tanyaku.
"Tidak," kata Jessica, nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas, bahkan bagi pendatang baru seperti aku. "Mereka baru saja pindah ke sini dua tahun
yang lalu dari sekitar Alaska."
Aku merasakan sebersit rasa iba, sekaligus lega. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka, mereka adalah pendatang jelas tidak diterima. Dan lega karena aku bukan satu satunya pendatang baru di sini, dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun.
Saat aku mengamati mereka, yang paling muda, salah satu yang bermarga Oh, mendongak dan beradu pandang denganku, kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. Ketika aku pelan-pelan mengalihkan pandangan, tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan.
"Cowok berambut cokelat kemerahan itu siapa?" tanyaku. Aku mengintip ke arahnya lewat sudut mata, dan ia masih menatapku, tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini—ekspresinya sedikit gelisah. Aku kembali menunduk.
"Itu Oh Sehun. Dia tampan tentu saja, tapi jangan buang-buang waktu. Dia tidak berkencan. Kelihatannya tak satu pun cewek di sini cukup cantik baginya." Jessica mendengus, sikapnya jelas pahit.
Aku membayangkan kapan Sehun menampiknya.
Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Lalu aku kembali memandang Sehun. Ia sudah memalingkan wajah, tapi rasanya pipinya seperti tertarik, seolah-olah ia juga tersenyum. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun—bahkan yang berkulit hitam eksotis itu,Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Yang bernama Sehun tidak menoleh ke arahku lagi.
Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Aku tak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku di sekolah. Salah satu kenalan baruku, yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela, juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. Ia juga pemalu.
Ketika kami memasuki kelas, Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam, persis yang dulu sering kutempati. Ia sudah punya teman sebangku.
Malah sebenarnya semua meja telah terisi, kecuali satu yang masih kosong. Di sisi gang tengah, aku mengenali Oh Sehun dari rambutnya yang tidak biasa, duduk di sebelah kursi yang kosong.
Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku, aku diam-diam memerhatikan Sehun. Ketika aku melewatinya, tiba-tiba duduknya jadi kaku. Ia menatapku lagi, mataku bertemu pandang dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh—tidak bersahabat, gusar.
Saat itulah aku memerhatikan bahwa matanya berwarna hitam—hitam legam. Mr. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan.
Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisinya, bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. Tanpa mengangkat wajah, kuatur bukuku di meja lalu duduk, tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Ia menjauh dariku, duduk di ujung kursi, memalingkan wajah seolah-olah mencium aroma yang tidak enak.
Diamdiam aku mengendus rambutku. Aromanya seperti stroberi, aroma sampo kesukaanku. Sepertinya baunya cukup enak. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan, sebagai penghalang di antara kami, dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran.
Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di ujung kursinya, sejauh mungkin dariku.
Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri, otot-ototnya menyembul di balik kulit pucatnya.
-Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku, dan mengejutkan karena lengannya kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Ia tidak kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar.
Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daripada yang lain, Tangannya terus terkepal, ia duduk bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. Apa yang salah dengannya? Apakah ini perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus saat makan siang tadi. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. Tak mungkin ada hubungannya denganku.
Ia sama sekali tak mengenalku. Sekali lagi aku mengintip, dan menyesalinya. Ia sedang menatapku, matanya yang hitam penuh rasa jijik. Ketika aku mengalihkan pandang, menciut di kursiku.
-tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku.
Bel berbunyi keras, membuatku terperanjat. Oh Sehun bangkit dari duduk. Dengan luwes ia berdiri—ia lebih tinggi daripada yang kukira—memunggungiku, dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka.
Aku duduk membeku, menatapnya tak berkedip. Ia jahat sekali. Ini tidak adil. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku, mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku, sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Kalau marah aku biasanya menangis,
-kebiasaan memalukan.
"Apa kau Xi Luhan?" terdengar suara cowok bertanya.
Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan, rambutnya yang pirang pucat di-gel membentuk spike yang teratur. Ia tersenyum ramah. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak.
"Luhan," ralatku tersenyum.
"Aku Woohyun."
"Hai. Woohyun."
"Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?"
"Sebenarnya aku mau ke gimnasium. Kurasa aku bisa menemukannya."
"Itu juga kelasku berikutnya." Ia tampak senang meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini.
Kami berjalan bareng ke gimnasium; ia ternyata cowok yang senang mengobrol kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya, memudahkan segalanya buatku. Ia tinggal di Asia Tenggara sampai umur sepuluh tahun, jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang Forks
Tapi ketika kami memasuki gimnasium, ia bertanya, "Jadi, kau menusuk Oh Sehun dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu."
Aku menciut Jadi, aku bukan satu-satunya yang memerhatikan hal ini. Dan rupanya itu bukan perilaku Sehun yang biasanya. Aku memutuskan untuk berpurapura tidak tahu.
"Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?" tanyaku polos.
"Ya," katanya. "Dia kelihatan kesakitan atau apa."
"Aku tidak tahu," timpalku. "Aku tak pernah bicara dengannya."
"Dia aneh." Bukannya menuju kamar ganti, Woohyun malah terus bersamaku. "Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu, aku bakal mengobrol denganmu."
Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Ia cukup bersahabat dan memesona. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku.[]
Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertas-kertas yang sudah ditandatangani. Hujan sudah reda, tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Aku memeluk diriku sendiri. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat, aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri.
Oh Sehun berdiri di meja di depanku. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang berantakan itu. Sepertinya ia tidak memerhatikan kedatanganku.
Aku berdiri merapat ke dinding belakang menunggu petugas resepsionis selesai. Sehun sedang berdebat dengannya, nada suaranya rendah dan indah. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain—jam mana saja.
Aku sama sekali tak percaya keinginannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Pasti sesuatu yang lain, sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba tiba sangat tidak menyukaiku. Pintunya terbuka lagi, dan angin dingin tiba-tiba berembus ke dalam ruangan, meniup kertas-kertas di meja, meniup rambutku hingga menutupi wajah. Cewek yang masuk langsung melangkah ke meja, meletakkan catatan di keranjang kawat, lalu keluar lagi.
Tapi punggung Oh Sehun menegang dan perlahan ia berbalik menatapku— wajahnya luar biasa tampan—tatapannya menghunjam dan sarat kebencian. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat, hingga bulu kuduk di tanganku meremang. Tatapannya hanya sedetik, tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. Ia berbalik lagi ke resepsionis.
"Kalau begitu lupakan saja," katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. "Aku mengerti ini tidak mungkin. Terima kasih banyak atas bantuan Anda." Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi, lalu lenyap di balik pintu. Aku berjalan pelan ke meja, wajahku pucat dan bukannya memerah. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani.
"Bagaimana hari pertamamu, Nak?" tanya resepsionis lembut.
"Baik," aku berbohong, suaraku lemah. Ia kelihatan tidak percaya.
Ketika tiba di lapangan parkir, hanya tinggal beberapa mobil di sana. Aku duduk sebentar di dalamnya, hanya menerawang ke luar kaca depan. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan, kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. Aku pulang ke rumahDaddy sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana.[]
