YOUNG FICTION AVENGERS
EPISODE 2: "A FISHING STORY"
Percy terbangun keesokan paginya dan bersiap turun untuk sarapan. Dia menyadari bahwa Luke sudah bangun lebih dahulu daripada dirinya. Semalam dia tidur sangat nyenyak. Dia sama sekali lupa menanyakan pada Luke, apakah benda yang tergeletak di kasurnya itu adalah Pedang Cahaya atau bukan. Tapi setelah itu, dia mencoba mengiyakannya pada dirinya sendiri. Luke bahkan sudah tidak ada di kamar sekarang, mungkin sudah ke aula lebih dahulu. Percy menyadari satu hal yang penting; dia terlambat sarapan di hari pertamanya.
Di aula besar, Harry mengobrol dengan Katniss dan Frodo, yang sibuk mengisap pipanya setelah menyantap segenggam roti panggang. Philades lewat sambil membawa sebuah perkamen di tangan kirinya. Dia tampak tenang, tetapi juga agak gelisah.
"Ada apa, Philades?" kata Katniss pada centaurus itu. "Apakah Raja Lancelot baik-baik saja dalam perjalanan kemari? Para nymph memberitahuku bahwa ia akan datang satu jam sebelum makan siang nanti."
"Dia akan baik-baik saja, aku yakin," jawab Philades. "Sekarang Louis sedang bicara pada ketua gryphon dan memintanya mengirimkan anak buahnya mengintai selama perjalanan berlangsung. Jarak Avalonium ke sini sejauh jarak Amerika Serikat ke Antartika, tapi Raja Lancelot mengendarai kuda-kuda terbang pilihannya, dan kuda-kuda itu semuanya cerdas. Mereka pasti bisa membawanya dengan selamat."
"Sewaktu petualanganku dulu," kata Frodo sambil meniupkan asap berbentuk lingkaran, "sahabatku Gandalf suka dibantu oleh elang-elang raksasa, anak buah Gwaihir sang Penguasa Angin. Gwaihir juga membantuku keluar dari Mordor setelah aku memusnahkan cincin terkutuk itu."
"Untung saja kau naik elang, Master Baggins," kata Philades sambil tertawa. "Kuda-kuda terbang susah diatur. Mereka tidak mau dianggap bodoh, sehingga mereka selalu melawan penjinak mereka."
Percy memasuki aula besar dan duduk di samping Harry.
"Halo, putra Poseidon," sapa Philades sambil membungkuk hormat. "Ini hari yang indah, dan aku harap kau bisa tidur dengan nyenyak tadi malam."
"Trims, tapi aku butuh roti bakar dan selai sekarang," kata Percy.
"Nafsu makanmu cukup besar," tegur Katniss saat ia melihat Percy mengambil setumpuk roti panggang dan mengoleskan selai berwarna kuning ke atasnya banyak-banyak.
"Aku lapar," jawab Percy sambil melahap roti panggangnya. Dia tidak bicara lebih banyak lagi. Philades akhirnya mohon diri.
"Sekarang matahari sudah naik empat puluh derajat lebih tinggi," ujarnya. "Aku akan memeriksa informasi yang didapatkan para gryphon. Nah, semoga berhasil di hari pertamamu, Master Jackson."
"Pilihan yang bagus, Nak," bisik Frodo kepada Percy. "Makanlah banyak-banyak, karena kita akan pergi setelah ini."
"Pergi? Ke mana?" Mulut Percy penuh dengan roti panggang sehingga dia tidak bisa bicara dengan jelas.
"Kita akan pergi memancing," kata Frodo. "Aku sudah memikirkan aktivitas apa yang cocok untukmu, sebagai putra Poseidon. Katamu, Poseidon adalah dewa laut, jadi mungkin pekerjaan di air akan membuatmu senang."
"Oh, ya, aku suka memancing," kata Percy. Meskipun sebenarnya, harus diakui bahwa dia pemancing ikan yang payah. Dia tidak pernah pulang membawa ikan ke rumah, paling-paling kepiting atau keong air. Sekali dia mendapat ikan, dia akan dipalak oleh ayah tirinya yang saat itu masih tinggal serumah dengan ibunya. Tapi dengan kekuatan air, dia yakin mungkin acara memancing kali ini tidak akan terlalu sulit.
Setelah makan, bel berdering keras dan makanan-makanan itu lenyap seperti sebelumnya. Percy memutuskan berjalan-jalan di sekitar kastil. Para pahlawan yang juga baru selesai sarapan melakukan hal yang sama. Tapi kali ini, Percy tidak melihat para pahlawan dewasa. Dia juga tidak melihat Luke. Dalam beberapa saat kemudian, Percy sudah berkenalan dengan teman-teman baru selain Harry, Katniss, Frodo, Eragon, dan Jared. Dia mengobrol sedikit dengan Violet Baudelaire yang mengatakan bahwa mata birunya sungguh indah, lalu adiknya, Klaus, akan menceritakan saat-saat sulit yang tiga bersaudara itu alami saat dikejar-kejar penjahat bernama Count Olaf. Adik mereka yang terkecil, Sunny, hanya diam sambil tertawa-tawa memandang Percy. Di tangannya ada sebatang cokelat berbentuk batang kayu yang sibuk dia kerikiti.
"Itu adalah cokelat pemberian Nafira, seorang nymph hutan," jelas Violet, "karena Sunny selalu menghabiskan setiap kayu yang kami berikan padanya. Dia sudah besar, tapi masih suka menggigiti sesuatu dengan gigi susunya. Jadi, kurasa cokelat ini akan membantunya keluar dari kebiasaan buruk itu."
Kemudian, Percy bertemu dengan anak-anak perempuan yang berasal dari serial American Girl. Mereka begitu sopan, seperti yang digambarkan di buku-buku, tetapi juga pemberani. Dan mereka—sejauh yang Percy ketahui—tampaknya sibuk berbisik-bisik soal dirinya. Percy berani bertaruh dia akan dapat satu-dua surat dari secret admirer sebentar lagi. Jadi, dia meninggalkan anak-anak perempuan itu dan berjalan menuju kebun belakang, tempat Igor si tukang kebun bekerja. Percy ingat dia punya janji akan ikut Frodo memancing. Jadi, dia langsung memikirkan tentang cacing yang pastinya harus dibawa sebagai umpan memancing.
"Cacing? Wah, kebetulan aku punya beberapa!" seru Igor dengan bahagia. Dia berlari-lari kecil menuju rumah kacanya, lalu kembali sambil membawa sebuah toples berisi cacing merah yang menggeliat-geliat.
"Kau mengumpulkan cacing-cacing itu? Untuk apa?" tanya Percy takjub.
"Makanan kodok pelangi," jawab Igor. "Spesies kodok pelangi menyukai cacing tanah sama seperti kesukaan mereka kepada nyamuk. Dan kalau diberi cacing, mereka akan berpendar-pendar indah karena senang, mirip lampu jalanan yang berwarna-warni. Tapi ambillah, cacing-cacing ini akan membantumu menangkap ikan. Rasanya pasti lezat sekali."
"Trims," kata Percy. "Aku akan membawakanmu ikan saat aku pulang nanti."
Frodo telah menunggu di ambang pintu gerbang ketika Percy tiba. Dia membawa dua batang pancing, jaring, dan ember kayu. Percy membawa umpan cacingnya deengan hati-hati, karena tangannya berkeringat saking bersemangatnya.
"Wow, si tua Igor pasti sudah bekerja keras!" kata Frodo sambil mendecakkan lidah. "Ayo berangkat, Percy!"
Mereka berdua menyusuri jalan batu kali yang panjang itu sambil mengobrol dan bersenandung. Langit begitu biru dan cerah di atas kepala mereka. Burung-burung berkicau riang. Hawa angin yang sejuk, seperti angin pegunungan, melintas melewati telinga mereka. Ketika mereka sampai ke desa utama, orang-orang yang tengah membersihkan halaman dan anak-anak yang bermain berhenti sejenak untuk memberi salam pada kedua pemuda itu. Beberapa anak ber-'oooh' panjang ketika melihat Frodo, yang bagi mereka merupakan pemandangan langka. Hal yang sama terus terjadi sampai mereka keluar dari desa dan sampai di persimpangan tempat papan penunjuk jalan yang semalam dilihat Percy.
"Sepupuku Merry juga suka memancing," kata Frodo. "Dia petualang sejati yang menyukai sungai dan hutan-hutan lebat. Dia bahkan lebih kenal hutan-hutan itu daripada penduduk yang tinggal di daerah di dekatnya. Ceritakan padaku tentang kejadian keong itu, Sobat!"
Percy mulai bercerita tentang teman masa kecilnya, Alfred, yang saking payahnya harus menangkap ikan menggunakan taplak meja. Ada juga pengalaman lucu Grover bertemu putri duyung di kamp Half-Blood. Frodo menyimak kisahnya dengan antusias. Seperti kebanyakan hobbit, Frodo menyukai cerita-cerita yang baru baginya.
Sungai yang dimaksud Frodo hanya terletak dua kilometer dari kastil. Sungai itu dirintangi sebuah jembatan batu yang tempak sangat tua. Air sungai itu cukup tenang dan dalam. Frodo menyiapkan pancingnya lalu memasang umpan. Dia menurunkan talinya ke bawah sementara ia duduk di atas jembatan dan menunggu. Percy melaksanakan tugasnya, yaitu mengikatkan jaring pada tonggal yang menonjol di dinding jembatan. Dia sudah memasang pancingnya juga.
"Apa benar Bilbo Baggins—pamanmu—akan keluar dari Asrama?" tanya Percy kepada Frodo. "Mengapa? Padahal, dia kan pahlawan dalam kisahnya sendiri; The Hobbit."
"Dia yang memutuskan akan keluar," jelas Frodo. "Selain dia sudah terlalu tua, dia berpikir bahwa tinggal di Asrama merupakan kehormatan baginya, tetapi dia sudah merasa sangat tua. Dia ingin mencari kesenangannya sendiri di luar Asrama."
"Ke mana dia akan pergi?"
"Dia... entahlah... mungkin ke Panti Jompo Fiksi? Dia sedang bersantai di kursinya yang empuk di ketika para Penyeleksi menghubunginya untuk datang dan menjadi anggota Asrama. Setahun kemudian, aku dipanggil. Mustahil kami akan kembali ke kisah kami setelah dipanggil Penyeleksi kemari."
"Apakah yang lain juga begitu?" tanya Percy lagi.
"Ya, kebanyakan yang merasa semakin tua melakukan itu," kata Frodo. Percy langsung merasa khawatir Luke akan melakukan hal yang sama setelah ia merasa tua nanti. Tiba-tiba, Percy merasakan tarikan pada tali pancingnya.
"Wah, lihat!" seru Frodo. "Tarik pancingmu, Nak! Ada ikan menggigit umpanmu! Wah, itu pasti ikan yang sangat besar!"
Percy menarik dan menarik lagi, tetapi pancingnya tetap tidak mau ditarik. Semakin merasa berat, Percy tak kuasa menahan pancingnya, lalu ia sendiri tergelincir dan tercebur ke dalam air.
"Percy! Kau baik-baik saja?" suara Frodo memanggil-manggil cemas. "PERCY!"
Sementara itu, masih berkutat dengan ikan yang menarik pancingnya, Percy bersusah payah berkonsentrasi. Tiba-tiba, di sekelilingnya muncul kolom-kolom air besar yang berpusing begitu hebat. Beriringan dengan itu, si ikan tersedot masuk ke kolom-kolom air tersebut. Percy bergerak mengejarnya, tetapi dia malah tersandung batu licin di dasar sungai. Percy terus berusaha menahan pancingnya yang dibawa lari ikan, tetapi sia-sia belaka. Pancing itu langsung patah jadi dua begitu membentur kolom air tadi.
Percy tidak tahu apa yang terjadi berikutnya. Dia sudah berdiri di dasar air ketika kolom-kolom air itu semakin besar. Saking besarnya, kolom-kolom air tadi berputar membentuk pipa bercorong di bagian bawah. Percy membutuhkan waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa corong tadi adalah air sungai itu sendiri, dan selama ini dia memang berdiri di tanah, memandang langit biru, dan mengamati corong raksasa itu berputar. Pancing Percy berada di dalamnya.
Mata Frodo terbelalak. Dia tak mampu berkata-kata saat Percy menjentikkan jari dan corong air itu pun lenyap. Tetapi, ikan yang sudah pusing duluan ketika tersedot corong air malah ikut tertarik kekuatan Percy. Ikan-ikan itu kini bergelimpangan di rumput tepi sungai, di jembatan, dan di atas kepala Frodo.
"Kerja bagus, putra Poseidon!" seru Frodo, antara takjub dan gembira, selagi melindungi kepalanya dari hujan ikan. "Kita bisa membawa ikan-ikan ini sebagai makan malam!"
Saat Percy dan Frodo berjalan pulang membawa ember berisi penuh ikan, di atas kepala mereka melintas seekor elang—bukan—lebih besar dari elang. Burung itu langsung dikenali Percy sebagai gryphon. Mungkin salah satunya adalah Louis. Pasti mereka baru saja pulang dari pengintaian perjalanan Raja Lancelot.
Percy memberi Igor dua ekor ikan, sementara Frodo memberikan sisanya kepada peri-rumah untuk dimasak sebagai hidangan saat makan siang nanti. Setelah itu, mereka berjalan menuju halaman untuk menemui Harry dan Jared yang sedang sibuk membicarakan sesuatu, tetapi Jared malah sibuk membolak-balik halaman buku tua yang sudah berjamur dan berjudul Cara Menangani Siput Harimau dan Bagaimana Membuat Ramuan Penangkal Tawon Berbisa yang Praktis karya Evangeline Street.
"Hai," sapa Harry. "Bagaimana memancingnya?"
"Seru banget," kata Percy. "Kami dapat banyak, satu ember pun tak cukup."
"Kau serius? Hebat!" kata Jared. "Aku belum pernah mendapatkan ikan sebanyak itu seumur hidupku."
"Omong-omong kalian sedang apa?" tanya Percy pada yang lain.
"Kami?" kata Harry. "Tidak sedang apa-apa."
"Yang benar?" Percy mengerutkan dahi tak percaya.
"Oke, ini masalah serius," kata Jared kepada Harry secara perlahan, seolah dia tak ingin Percy mendengarnya.
"Masalah apa? Kenapa bisa serius?" Percy semakin tak sabar.
"Tenang, Sobat, tenangkan dirimu," kata Harry. "Ini tidak berkaitan denganmu, tapi dengan Raja Lancelot."
"Raja Lancelot mengalami kecelakaan," kata Jared. "Kereta kudanya diserang oleh gargoyle di dekat Peru. Aku juga baru tahu ketika Louis kembali. Aku bisa bahasa gryphon."
"Itu aneh," kata Percy. "Setahuku gargoyle bukan berasal dari Peru. Mereka makhluk Eropa yang sekarang dikembangbiakkan di Prancis."
"Memang," kata Jared. "Itulah kenapa kami mendiskusikan hal ini. Kami belum memberitahu Philades, tapi sepertinya Louis akan melakukannya. Para Pengawas sudah dikabari, tapi mereka berkata serangan itu di luar batas jangkauan, sehingga mereka tak bisa berbuat banyak ketika keretanya jatuh."
"Dan Raja Lancelot?" tanya Percy.
"Dia baik-baik saja, untungnya," kata Harry. "Dia sedang dalam perawatan tim medis pribadinya. Tapi, itu berarti kunjungannya kemari harus ditunda."
Percy menggigit bibirnya keras-keras. "Yang aku bingung adalah, bagaimana gargoyle itu bisa masuk wilayah Peru? Apakah tidak ada yang mengetahui serangan itu sebelumnya?"
Harry mengangkat bahu. "Tidak tahu. Mungkin itulah kesalahan mereka. Membiarkan gargoyle lepas dari pengawasan."
Percy menatap Jared dan Harry bergantian dengan pandangan sangsi. "Kalian seolah menyembunyikan berita ini dariku. Apakah ada kaitannya dengan aku?"
"Kami harus melin—" Jared mulai bicara, tapi Harry menyodok lengannya, dan menyambung, "Kami tidak bisa menjamin kebenaran beritanya."
"Tapi, kalian kan diberitahu Louis sendiri, dan Louis baru saja kembali dari pengintaian. Aku melihatnya belum lama tadi," kata Percy, semakin curiga. "Katakan, sebenarnya ada apa? Mengapa kalian seolah ingin menyembunyikan hal ini?"
Baik Harry maupun Jared saling berpandang-pandangan. Mereka akhirnya setuju memberitahukan hal yang sebenarnya.
"Oke, jadi begini," kata Harry, "kau dalam bahaya besar. Bukan hanya kau. Kita semua dalam bahaya besar. Penyerangan gargoyle ini belum seberapa. Kami mulai memikirkan hal lain yang jauh lebih besar."
"Mungkin ada orang yang menginginkan kita dan Asrama jatuh," kata Jared. "Dan menurutku itu sesuatu yang di luar dugaan. Musuh kita semua sudah kalah di dalam novel. Tapi, bukan berarti menutup kemungkinan bahwa akan terjadi sesutau yang lebih mengerikan."
Percy menelan ludah. "Jadi," katanya setelah agak lama, "kita semua memang dalam bahaya besar."
TO BE CONTINUED
