Chapter 2
All casts © God
My only one girl © FujoAoi
Genre :
Drama, Romance, Hurt/Comfort
WARNING: TYPO, LAMBAT UPDATE (BANGET), ADEGAN YANG TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR, GS! OFFICIAL COUPLE, COMPLICATED STORY
DON'T LIKE, DON'T READ! - AOI
. . .
Luhan meletakkan tasnya di atas meja belajarnya dan mengeluarkan semua buku pelajarannya. Sehun masuk tanpa menimbulkan suara ke kamar Luhan, dan juga tanpa izin Luhan terlebih dahulu. Luhan yang sedang membuka seragam sekolahnya kaget melihat Sehun sedang berdiri dibelakangnya. "Apa yang kau inginkan?" tanya Luhan dingin. "Seks?"
Sehun mendesis. "Aku tidak semesum yang kau pikirkan, gadis kecil!" kata Sehun sambil menoyor kepala Luhan. Luhan mendecih dan mengancingkan seragamnya lagi. Ia mengambil baju yang telah ia siapkan dan berjalan menuju kamar mandi.
Sehun menarik lengan Luhan, Luhan menepisnya. "Kau bisa berganti baju disini," kata Sehun. "Lalu? Kau melihatku berganti baju seperti striptis? Begitu?" tanya Luhan balik dengan ketus. Sehun menghela nafasnya. Luhan benar-benar menggunakan kata-katanya sebagai pedang.
"Kau harus berhati-hati dengan kata-katamu, gadis nakal!" gumam Sehun kesal. Luhan mendecih. "Aku akan melakukan apa yang kau minta, Tuan Oh," kata Luhan dengan kasar. Sehun mengunci kamar Luhan. "Menghindari orang lain melihat tubuhmu," kilah Sehun.
Luhan membuka kembali kemejanya di depan ranjangnya. Sehun yang duduk di depan Luhan hanya diam mengamati bagaimana gadis itu berganti baju. "Kau tidak mengganti bramu?" tanya Sehun. Luhan terkekeh. "Wah! Kau membayangkan aku akan mengganti braku di depanmu?" tanya Luhan. "Yah. Aku berharap seperti itu," jawab Sehun terlalu jujur.
Luhan memakai baju kaosnya dan mengganti rok seragamnya dengan celana separuh paha berwarna hitam. Luhan mengikat rambutnya menjadi ekor kuda dan berjalan menuju pintu. KLIK. Luhan kembali membuka pintu kamarnya. "Sekarang kau bisa keluar," saran Luhan.
Luhan duduk di kursi belajarnya dan mengeluarkan alat tulisnya. Sehun mendekati Luhan dan duduk di sampingnya. "Kenapa kau seketus ini?" tanya Sehun lembut. Luhan diam dan tetap berkonsentrasi mengerjakan tugas-tugasnya. Luhan kemudian merengut.
Sehun masih memperhatikan Luhan yang memperhatikan sekelilingnya. "Peraturan masih berlaku?" tanya Luhan. Sehun mengangguk, "Tentu. Selama kau masih pro—"
Luhan kembali menulis di sebuah buku tulis dengan serius dan sambil mengingat-ngingat sesuatu. Ia merobekkan selembar kertas itu dan memberikannya kepada Sehun. "Ini kebutuhanku," kata Luhan. Sehun menerima kertas dengan tulisan tangan yang rapi itu dengan sedikit bingung.
"Ingat peraturan nomor satu?" Sehun tersenyum. Ponsel, kamus korea-inggris, kalkulator, laptop, dan juga pembalut. "Bukannya kau menjamin semua kebutuhanku?" tanya Luhan lagi. Sehun senang melihat gadis di depannya akhirnya menuruti dirinya. Walaupun karena gadis ini membutuhkan sesuatu.
"Aku akan menyur—"
"Cari dengan usahamu sendiri. Aku ingin kau mendapatkan semuanya esok," kata Luhan final. Sehun tersenyum. "Baik. Aku akan mencarinya dengan usahaku sendiri," ucap Sehun dengan senyuman terkembang. "Ada syaratnya," kata Sehun.
"Satu ronde pemberi tenaga?" tanya Sehun. Luhan mendecih. "Akhir pekan. Aku akan memberikan apa yang kau mau," jawab Luhan. "Karena sekarang adalah Selasa. Maka, terhitung malam ini, maka ada 4 ronde yang bisa kau dapatkan," tambah Luhan. "CALL!"
. . .
Sehun dan Luhan sedang makan malam bersama. Sehun menyuruh Luhan untuk makan disampingnya dan membiarkan Sehun memberikan makanan untuknya. Luhan makan dengan baik, jadi Sehun tidak khawatir dengan gadis di depannya ini. Sehun meninggalkan meja makan, dan membuat Luhan melihatnya yang berjalan ke kamarnya. Sehun kembali membawa dua kotak berbeda ukuran dililiti pita.
"Ini ponsel untukmu. Sebenarnya, aku ingin memberikanmu tadi, aku lupa," kata Sehun. "dan juga headset terbaru untukmu," tambah Sehun. Luhan tersenyum. "Terima kasih,"
"Kau menambah jumlah rondemu? Begitu?" tanya Luhan dengan agak tertawa. Sehun menaikkan bahunya. "Aku tidak bermaksud begitu. Kecuali kau memberikannya sebagai hadiah karena memberikanmu hadiah tambahan," bantah Sehun.
"Baiklah. 5 ronde terkumpul," kata Luhan. Sehun mengangguk. "Terima kasih,"
Akhirnya mereka larut lagi dalam diam. Luhan terlebih dahulu selesai makan. Luhan mengangkat piringnya ke pencuci piring dan menggunakan sarung tangan plastik hijau. Sehun mendengar suara piring-piring beradu. Sehun merindukan suara ini. Suara yang selalu ia dengarkan ketika ibunya masih disisinya.
Sehun mengangkat mangkuknya dan membawanya ke tempat Luhan yang sedang bekerja. Sehun memeluk Luhan dari belakang. Sehun tersenyum senang. Ia mengingat ibunya. Ibunya. "Eomma…" gumam Sehun. Sehun merasa airmatanya akan tumpah segera melepaskan pelukannya.
"Bagaimana dengan yeoja malam ini?" tanya Luhan. "Aku mengusirnya," jawab Sehun enteng, sambil mencoba mengedip-ngedipkan matanya, menghilangkan panas karena tangis yang tertahan. "Kau lebih nikmat dibandingkan dirinya. Kau adalah properti yang masih baru," kata Sehun. "Mengusirnya? Dengan apa?"
"Menyuruh beberapa pengawalku untuk menikmatinya sebagai bonus karena tetap bekerja untuk mengawasimu di klub malam itu," jawab Sehun. Luhan tertawa. "Benarkah? Lalu, dia setuju?" tanya Luhan penasaran. "Sangat setuju," kata Sehun.
"Memuaskan 5 lelaki berbadan kekar sekaligus merupakan pilihan baik karena telah menerima bayaran besar dari seorang Oh Sehun," ujar Sehun. "daripada kehilangan uang dalam jumlah besar," tambah Sehun.
Luhan meletakkan sarung tangannya dan mengambil gelas. Ia minum sambil menatap Sehun yang masih berdiri di tempatnya tadi. "Apa kau akan memberikanku bonus lagi? Karena mengusir jalang itu?" tanya Sehun. Luhan berdecak kecewa. "Kau benar-benar brengsek atau mesum? Kata mana yang lebih mendeskripsikan dirimu?" tanya Luhan pada dirinya sendiri. "Satu untuk malam ini. Tunggu aku menyelesaikan tugasku," kata Luhan.
. . .
Sehun membantu Luhan menyelesaikan tugasnya. Ia juga menyemangati Luhan karena ia tau, Luhan merupakan siswi cerdas. "Selesai," gumam Luhan sambil meregangkan otot-ototnya.
Sehun segera menggendong Luhan ke atas kasur. "Kau cantik, pintar, tajam, dan tentu saja nikmat," kata Sehun. "Kata-katamu itu vulgar sekali," balas Luhan. "Aku begini karenamu," kata Sehun. Sehun mencium bibir Luhan. "Aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Aku hanya ingin bersamamu," kata Sehun.
Luhan tersenyum. "Benarkah?" Sehun mengangguk. "Terima kasih," ucap Luhan. Sehun menarik Luhan dan meletakkannya lebih ke atas. Sehun berbaring disampingnya. Sehun mengelus rambut Luhan yang halus dan mengecupi dahi Luhan. "Sudah punya teman?" tanya Sehun. Luhan mengangguk. "Dua. Tidak terlalu dekat," jawab Luhan.
"Kau tau yang aku pikirkan ketika melihatmu menampar wanita jalang itu?" tanya Sehun. Luhan kaget. "Kau mendengarkannya?" tanya Luhan. Sehun tertawa. "Aku mendengarnya dengan jelas," jawab Sehun.
"Kau mengatakan dirimu bukanlah jalang. Tentu saja kau bukan,"
"Kau mengatakan dirimu tidak selevel dengan gadis murahan itu. Kau berada di kalangan atas, Luhan,"
"Kau mengatakan dirimu lebih nikmat. Sangat-sangat nikmat. Terima kasih menjadikanku yang pertama. Dan menjadikan seks pertamaku sangat hebat,"
Luhan menatap Sehun. "Seks pertamamu?" Sehun mengangguk.
"Dan lagi, kau mengatakan bahwa kau akan selalu bersamaku sepanjang hidupmu. Aku berharap juga begitu,"
Luhan tersipu. "Aku tampak seperti gadis bodoh di depanmu," kekeh Luhan. "Kau tampak berani. Aku menyukai seorang pendamping yang pemberani," ujar Sehun. "Aku selalu membutuhkanmu, Luhan," gumam Sehun.
Tak ada tanggapan.
Sehun menatap Luhan yang sudah tidur. Sehun menutup jendela dan pintu yang mengarah ke taman. Ia mengunci pintu kamar Luhan dan kembali naik ke atas ranjang queen sizenya dan menarik selimut. "Aku rasa aku mulai menyayangimu, gadis cantik,"
Sehun meletakkan kepala Luhan di lengan kirinya, ia mencium dahi Luhan dan memeluk Luhan dengan erat. "Aku harap kita akan menjadi lebih dekat lagi,"
Sehun mulai mengantuk dan tertidur dengan posisi kepalanya di atas kepala Luhan.
. . .
Luhan datang lebih pagi dibanding kemarin. Hari ini ia bisa berkenalan dengan dua yeoja manis disampingnya. "Baekhyun ini kekasihnya Park tiang yang merupakan kapten basket itu," Kata Kyungsoo. Baekhyun mempoutkan bibirnya. "Kalau kau, Kyungsoo, kau pacar dari ketua grup dance sekolah," balas Baekhyun.
"Kalau kau, bagaimana Luhan? Kami ingin tau, siapa namja beruntung yang memiliki dirimu itu," kata Baekhyun. Luhan agak ragu. Bel jam pelajaran pertama berbunyi. "Kau bisa melihatnya ketika aku pulang sekolah nanti,"
. . .
From : Luhan
Aku akan menemanimu mencari barang-barang yang ku cari
Sehun membalas pesan Luhan dengan ketika cepat.
To : Luhan
Baiklah. Aku akan menemuimu di depan sekolah tepat setelah bel jam pelajaran berakhir
Luhan membalas, dan Sehun segera membacanya.
From : Luhan
Tidak lucu ketika seorang lelaki mencari pembalut sendirian dengan wajah datarnya berdiri diantara wanita yang mulai menatap jijik dirinya
. . .
Baekhyun, Luhan, dan Kyungsoo berjalan menuju ujung jalan yang mengarah ke jalanan besar dimana terdapat beberapa mobil mewah menunggu di sana. Luhan berpamitan pada Baekhyun dan Kyungsoo ketika melihat Sehun bersender di mobil dengan kemeja putih, celana hitam, dan juga kacamata hitam.
"OOH! II-Itu kekasih LUHAN?! TAMPAN!" teriak Baekhyun. Luhan digiring masuk ke dalam mobil Sehun dan meninggalkan Baekhyun yang masih memukul-mukul dada Kyungsoo karena kagum terhadap Sehun.
Luhan menatap Sehun yang terlihat sangat tampan. "Tampilanku? Bagaimana?" tanya Sehun. Luhan tersenyum menilai. "Jika aku tidak mengenalmu, sudah pasti aku akan memujamu," jawab Luhan. Sehun tersenyum. "Ambil kotak putih dibelakang," perintah Sehun.
Luhan mengambil kotak putih dibelakang dan membawanya ke depan. "Bukalah,"
Luhan membelalak ketika ia melihat cincin emas putih dengan berlian berada di sebuah rantai kalung. "Untukmu," kata Sehun. "anggap saja sebagai hadiah lainnya," tambahnya.
"Simpan saja dulu. Aku akan memakaikannya ketika kita sampai di rumah," Sehun tetap fokus menyetir dan membawa Luhan menuju sebuah mall. Sehun memarkirkan mobilnya. Ia menarik Luhan menuju ke dalam mall.
Sehun membawa Luhan ke dalam toko komputer dan memberikan laptop keluaran terbaru. Sehun membawa Luhan menuju sebuah toko pakaian. Dress, kaus, celana pendek, rok mini, dan juga kemeja, semuanya Sehun belikan untuk Luhan. Sehun dan Luhan kemudian masuk ke toko buku. Sehun membiarkan Luhan memilih buku yang ia butuhkan. Setelah semuanya Luhan punya, Sehun membawa Luhan menuju sebuah mini market.
"Aku akan membeli pembalutmu. Tunggu disini," perintah Sehun. "TUNGGU!" tahan Luhan. Sehun menatap Luhan, "Kenapa?" tanya Sehun. "Kau yakin? Ke dalam membelikanku pembalut?" tanya Luhan. "Tenang saja. Aku bukan tipe pria yang gengsi melakukan sesuatu demi gadisnya,"
Luhan diam. Ia melihat Sehun dari dalam mobil. Luhan tidak mengerti kenapa dirinya mulai mengkhawatirkan namja itu. Namja yang beberapa hari lalu ia panggil brengsek. Apa dia sudah mulai gila?
Sehun kembali dengan beberapa pembalut di dalam kantung plastik. "Tidak ada ibu-ibu atau gadis yang melihatmu kan?" tanya Luhan cemas. Sehun menggeleng. "Bahkan mereka bertanya, untuk siapa? Ku katakan untuk pacarku. Dia membutuhkannya. Mereka memujiku karena aku terlalu baik," jawak Sehun. "aku memang baik kan?"
Luhan menatap Sehun datar. "Aku tidak perlu ditatap seperti itu Xi Luhan!" ujar Sehun risih.
Sehun dan Luhan kemudian pulang disambut oleh Minseok yang tampak agak cemas. Sehun membukakan pintu Luhan. "Aku menjemputmu di sekolah. Sekolah sudah sepi, jantungku hampir saja meledak karena ketakutan," kata Minseok yang tampak pucat. Luhan memegang tangan Minseok. "Maaf aku lupa memberitahumu,"
Luhan berlalu ke dalam rumah. Sehun tertawa melihat reaksi Minseok yang hanya diam. "Dia gadisku," Sehun juga masuk sambil memanggil beberapa pelayan untuk mengantarkan barang ke kamar Luhan.
Sehun masuk ke dalam kamar Luhan tanpa pemberitahuan lagi. Luhan sedang dalam keadaan half naked. "Lu! Sudah ku katakan untuk mengunci pintu!" bentak Sehun. Luhan menatap datar Sehun. "Tolong kuncikan," kata Luhan dengan nada datar.
Sehun mengunci pintu kamar Luhan dengan kamar. Sehun berjalan cepat ke arah Luhan dan mencium Luhan. Ia melumat bibir Luhan yang hanya bisa menerima. "Cpkkk… Eummhhh…" desahan tercipta seringin dengan suara-suara yang tercipta karena ciuman panas itu.
Sehun melepaskan ciumannya dan melihat Luhan yang tertunduk. "Itu hukumanmu. Hukuman ringan," kata Sehun. "Pakai bajumu!" perintah Sehun. Luhan dengan diam mengambil bajunya dan mengenakannya. "Lu…" panggil Sehun.
Luhan diam dan bergerak untuk mengambil celana di dalam walk in closetnya. Sehun memeluk Luhan dari belakang. "Maaf…" kata Sehun. Luhan hanya diam. Jujur, ia agak tersinggung karena Sehun berkata keras padanya. Ia lupa, bisa tidak, Sehun memberi tahu dengan pelan saja?
"A-Aku benar-benar minta maaf…"
Luhan melepaskan tangan Sehun dan berjalan mengambil celananya. Luhan berjalan menuju kamar mandi dan mengganti celananya. Sehun kemudian keluar ketika Luhan sudah selesai berganti baju. Sehun mengambil ponselnya di dalam saku. Kontak : Jongdae.
"Halo, pesankan aku satu jalang malam ini,"
"…"
"Berikan yang terbaik diantara semuanya,"
PIP PIP PIP
Sehun diam berjalan menuju kamarnya. Ia mengganti kemejanya dengan baju kaus dan celana selutut. Sehun keluar bersamaan dengan Luhan. Luhan menatapnya malas dan segera masuk ke dalam kamar. Luhan mengunci pintunya dan membiarkan Sehun menatapnya dari depan pintu kamarnya.
Luhan membuka ponselnya dan segera membuat akun Instagram dan LINE. Luhan merengut sebal karena mengingat kata-kata Sehun yang tadi. "Ia terlalu kasar!" sungut Luhan. Luhan kemudian membuak pintunya dan segera keluar dari kamarnya lagi.
Tidak ada Sehun di luar. Luhan berjalan menuju bagian belakang rumah yang belum pernah ia lihat. Luhan berjalan melewati dapur dan ruangan pelayan. Luhan melihat sebuah kolam besar dan tiga buah gazebo cantik. Satu ada di tengah kolam, dua lagi berada di ujung kolam bagian belakang.
Luhan berjalan menuju tengah kolam menuju gazebo. Luhan berhenti di sana dan menatap dirinya di air kolam. Luhan kemudian duduk di gazebo. Setelah puas menikmati pemandangan gazebo yang cantik, Luhan masuk ke dalam rumah.
Ia menemukan satu jalang lagi.
Si namja pucat itu benar-benar munafik!
Luhan mengetuk pintu kamar Sehun dengan keras. Yeoja jalang itu berdiri dan kemudian melihat Luhan yang mengetuk pintu dengan kesal. "YA! Apa yang kau lakukan, anak kecil?" tanyanya. "Jaga mulutmu!" kata Luhan.
Tak kunjung mendapat respon dari Sehun. Luhan berjalan menuju ruang tengah. Ia melihat dimana tangga menuju ke atas. "Apa yang kau inginkan dari Tuan Sehun, anak kecil?" tanya yeoja itu lagi. "Bukan urusanmu," jawab Luhan.
Yeoja itu memutar matanya kesal. Yeoja itu mendekati Luhan. "YA! Aku lebih tua daripada dirimu!" katanya. Luhan mendecih. "Aku ini adalah ga—"
"Dia propertiku. Tidak jauh sepertimu," bantah Sehun cepat. Yeoja itu terpesona melihat Sehun. "Ayo, kita ke kamar atas," ajak Sehun. Sehun mengamit pinggang yeoja itu dan membawanya ke atas sambil meremas pantat yeoja itu di depan Luhan. Luhan semakin kesal. Ia mengejar Sehun ke atas. Sehun keluar dari kamar atas setelah membawa jalang itu masuk dan melihat Luhan berdiri di lorong.
"Kita butuh bicara!" kata Luhan.
"Kita tidak," elak Sehun.
"KITA BUTUH!"
Sehun diam melihat Luhan begitu emosi. "Silahkan," Sehun mengalah.
"Kau benar-benar menyewanya?" tanya Luhan dengan menggebu-gebu.
Sehun mengangguk
"Kau berkata kau lebih menyukaiku!"
"Tapi aku tidak berjanji tidak akan menyewa jalang lagi, benar?"
Luhan diam. Ya, Sehun tidak pernah berbicara seperti itu. Sehun mengatakannya di peraturan, bahwa ia bisa memiliki kekasih, atau bahkan istri. "Baik. Sekarang aku ingin membuat kesepakatan denganmu,"
Sehun menimbang-nimbangnya, Luhan cemas. "Baik. Silahkan,"
"Aku ingin kebebasanku," kata Luhan. Mata Sehun membelalak. "Apa katamu barusan?" tanya Sehun. "Baru beberapa hari disini, kau sudah membuatku benar-benar emosi. Aku hanya gadis yang kau perawani dan kau kurung di dalam rumah besarmu. Aku propertimu. Dan sebagai sebuah properti, aku juga bisa dilepaskan. Aku mau hal itu," jelas Luhan.
Sehun mendorong Luhan ke dinding. "Kau tidak pantas mengatakan itu!" ucap Sehun dingin sambil menahan tangan Luhan yang berontak. "Tapi kau tidak akan membantahnya!" kilah Luhan. "Aku tidak akan memberikanmu itu, Luhan,"
Sehun meninggalkan Luhan yang masih diam di lorong tadi.
. . .
Luhan makan malam sendiri. Sehun makan bersama di jalang itu di atas. Luhan berjalan ke atas dan mendengar suara desahan keluar dari kamar itu. "Ahhhh… Tuannnhhhh… Morree… Eummm… Fasterrhhhh…"
Luhan diam. Ia menatap sendu pintu kamar itu. Luhan berjalan menuju kamarnya yang di bawah. Luhan segera mencuci tangan dan kakinya, ia segera naik ke atas kasur dan memejamkan matanya.
Luhan tidak mengeti kenapa ia bertingkah seperti orang yang cemburu. Apa ia jatuh cinta pada Sehun? Luhan membantahnya. Mungkin ini perasaan cemburu yang dimiliki hewan ketika tuannya bermain dengan hewan lain.
Luhan yakin itu.
Luhan terbangun pagi hari. Ia melihat Sehun yang berjalan menuju kamarnya menggunakan baju yang sama dengan tadi malam, hanya sedikit berantakan. "Bagaimana permainanmu?" tanya Luhan. Sehun menoleh. "Hampir senikmat dirimu," jawab Sehun.
Luhan segera menyiapkan sarapan karena pelayan masih memasak. Luhan hanya memakan sereal dan susu. Sehun melihat Luhan makan, kemudian duduk di kursi meja makan. "Kau naik?" tanya Sehun. Luhan mengeleng, bohong. "Apa desahan kami terlalu kuat?" tanya Sehun. Luhan menaikkan bahunya.
"Kau naik. Kau bohong. Aku hanya sekedar mengelus pahanya dan memegangi bagian bawahnya," jelas Sehun. Luhan meletakkan sendoknya. "Kau mengatakan itu padaku. Kau mengatakan dia nikmat seperti diriku. Apa kau pantas, duduk di sini tanpa rasa bersalah?" tanya Luhan dengan menatap Sehun jijik.
Luhan meninggalkan piringnya. Sehun melihat piring Luhan yang sudah kosong. "Makannya sedikit sekali," gumam Sehun.
Skip time…
Luhan berada di kantin bersama Kyungsoo dan Baekhyun. Mereka menikmati makanannya. Kemudian, seorang namja tinggi berwajah dingin menyapa Baekhyun dan Kyungsoo. "Hai!" sapanya. Baekhyun dan Kyungsoo menyapa balik namja itu. "Boleh?" tanyanya menatap kursi di samping Kyungsoo.
"Boleh, tentu saja, Kris sunbae," kata Baekhyun.
"Ini siapa?" tanya Kris dengan penuh minat menatap Luhan. Luhan menunduk karena tidak suka dengan cara Kris menatapnya. "Luhan. namanya Xi Luhan," jawab Baekhyun. "Luhan?" tanya Kris pada Luhan. Luhan menganggukkan kepalanya.
"Kris sunbae juga orang China, lho, Luhan," kata Kyungsoo. "Oh? Benarkah?" tanya Luhan penasaran, ia mulai tertarik, dan Kris senang karena itu. "Ya, begitulah," jawab Kris yang kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Luhan dan Kris semakin dekat karena pembicaraan mereka mengenai China. "Lalu, apa kau sudah punya kekasih?" tanya Kris. "maaf bertanya seperti itu," sambung Kris. Luhan diam. Kemudian menggeleng. "KAU PUTUS?" tanya Baekhyun yang membuat perhatian tertuju padanya. "Bisa dibilang begitu," jawab Luhan acuh.
"Bagaimana kalau kita berkencan?" tanya Kris.
Luhan dalam dilema menghadapi seniornya dan Sehun saat ini. Luhan masih ingat perkataan Minseok tentang Sehun yang tidak suka jika Luhan dekat dengan lelaki lain. Namun, Luhan sekarang tidak peduli. Jika Sehun bisa memiliki banyak wanita, kenapa ia tidak bisa berhubungan dengan lelaki lain?
. . .
Luhan diberitahu oleh Minseok jika ia akan dijemput dengan mobil sedan biasa. Tapi, yang menjemputnya adalah orang lain. "Aku harus menyelesaikan masalah perusahaan Sehun di Jepang selama 2 bulan kedepan," begitu kata Minseok. Akhirnya Luhan pulang menggunakan sedan yang biasa Minseok bawa.
Sehun melihat Luhan yang sudah pulang. Sehun merasa kesal sekaligus bersalah melihat Luhan yang menjadi dingin. Sehun masuk ke dalam kamar Luhan. Ia mendengar suara berisik dari kamar mandi. Kemudian Luhan keluar menggunakan bajunya dan membawa baju kotornya ke keranjang cuci.
"Aku minta maaf," kata Sehun.
"Pergilah. Aku sedang tidak ingin mendengar kata-kata apapun darimu, Tuan Oh," kata Luhan balik. Ia menarik kursi belajarnya dan segera membuka bukunya. Sehun menatap punggung Luhan yang benar-benar kelihatan lelah karena kegiatannya di sekolah. "Aku pergi,"
"Tidak usah kembali lagi kalau perlu," timpal Luhan.
Next day at same time…
Luhan baru saja pulang sekolah. Ia lelah. Untung besok adalah hari libur. Luhan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat sebuket bunga mawar putih dan pink di atas kasurnya. Dan juga, sekotak coklat dan permen.
"Dia kira aku anak kecil?" tanya Luhan dengan senyuman.
Ketika malam tiba, Sehun mencoba mendatangi kamar Luhan. "Sudah tidak marah lagi?" tanya Sehun. Luhan menggeleng.. "Tidak terlalu," jawabnya singkat. "Bagus," komentar Sehun.
"Aku ingin menagih jatahku," kata Sehun. Luhan menyetujuinya, ia tidak ingin menjadi orang yang ingkar janji. "Di kamarku saja," saran Sehun. "Pakailah lingerie yang ada di walk-in-closetmu,"
Luhan mengangguk dan mengganti bajunya dengan lingerie. Ia menggunakan jaket untuk menutupi bagian tubuhnya. Ketika sampai di kamar Sehun, Luhan mengunci pintu dan meletakkan jaketnya di gantungan baju.
Sehun sedang duduk di sofa sambil mengotak-atik ponselnya. Ia menggunakan kaus putih tipis dan boxer abu-abu. Luhan melihat-lihat kamar Sehun dan melihat foto-foto Sehun dari ia kecil hingga ia tamat kuliah. "Kau berkuliah?" tanya Luhan yang agak terlihat kaget.
Sehun mengangguk sambil berdiri di belakang Luhan. "Sudah selesai. Dua tahun. Waktu yang lama," kata Sehun. "aku tamat dari High School, 16 tahun. Aku tamat kuliah 18 tahun. Dua tahun aku habiskan menyelesaikan pekerjaan. Dan sekarang saat bersenang-senang," jelas Sehun.
"Kau terlalu sok, Tuan Oh," kata Luhan yang melipat tangannya di dada karena kesal. Sehun mengelus paha Luhan dari belakang. "Lembut…" pujinya. Sehun mengelus perut Luhan dan naik ke payudaranya. "Turunkan tanganmu, atau kupotong 'properti' yang masih menempel di tubuhmu," kata Luhan ketus.
Sehun menurunkannya ke perut Luhan dan memeluk Luhan erat. "Bagaimana sekolahmu?" tanya Sehun. "Aku berkenalan dengan seorang sunbae," jawab Luhan enteng. "namja," sambung Luhan. Sehun kaget dan membalik tubuh Luhan. "Na-Namja?" tanya Sehun. Luhan mengangguk.
Sehun mengguncang tubuh Luhan. "Jauhi dia!" perintah Sehun. "Kenapa?" tanya Luhan. "Aku mohon, jauhi dia!" ucap Sehun dengan geram. Luhan mendecih. "Oh Sehun, Tuanku memohon… Oh… Pasti aku sudah gila," gumam Luhan.
Sehun menarik dagu Luhan dengan tangan-tangan rampingnya sehingga bibirnya bisa langsung menikmati bibir manis Luhan. "Eumhhh…"
Sehun mencium bibir Luhan dan menjelajahi isi mulut Luhan. Sehun membuat ciuman itu semakin panas dengan mengelus pantat dan paha Luhan dari depan. Luhan mengerang ketika Sehun meninggalkan bibirnya dan mulai mengecap ceruknya. "Ahhh…"
Sehun membawa Luhan ke atas kasur dengan senyuman di bibirnya. "Kita mulai?" tanya Sehun. Luhan mengangguk lugu dengan tatapannya yang seperti anak anjing. "Kau membuatku semakin menginginkanmu berada di bawahku, menyebut kata-kata nakal, mengerang, dan mendesahkan namaku," ujar Sehun.
"Kau tidak ingat, kalau kau ketahuan melakukan ini padaku, kau bisa terjerat masalah hukum yang berat?" tanya Luhan. Sehun diam. "Penyuka gadis muda, pembelian manusia yang seharusnya hidup bebas, pemerkosa gadis muda, dan juga…" kata Luhan menggantung. "tukang selingkuh,"
Diam Sehun bukan tanpa alasan, akhirnya Sehun mendecih. "Aku tidak selingkuh, Luhan," jelas Sehun dengan senyum. "Bagiku kau selingkuh," kilah Luhan dengan nada cemburu. "Selingkuh untuk orang yang cemburu," ujar Sehun. Wajah Luhan bersemu merah. "A-Aku tidak cemburu. Ki-Kita saja baru mengenal seminggu terakhir," bantah Luhan sambil mencoba menatap mata Sehun. Tapi, ia tidak bisa.
"Kau menarik. Kau cemburu, anak kecil yang manis," kata Sehun. "dan juga anak kecil yang nakal," tambah Sehun dengan seringai mesumnya.
Sehun membuka bajunya dan menarik lingerie Luhan ke atas, ia meloloskan lingerie itu dengan bantuan Luhan yang menggerakkan badannya. "Aku berpikir, malam ini kau sangat…" Sehun berpikir untuk menemukan kata-kata yang tepat.
"Seksi?" tebak Luhan. "Salah satunya," jawab Sehun.
"Lebih mau bekerja sama," akhirnya Sehun menemukan kata-kata itu. "Itu karena malam ini hakmu. Aku yang menjanjikannya padamu," jelas Luhan yang tak ingin membuat Sehun besar kepala dan mengira dirinya mudah terjebak jika bersama pemuda mesum ini.
Sehun mendesah pelan. "Sebaiknya aku memulai sebelum nafsu kita habis,"
Sehun kembali mencium bibir Luhan dan menimbulkan suara-suara yang memecah keheningan malam. Luhan menggeliat geli ketika Sehun menelusuri tubuhnya dengan jari-jarinya. Sehun membuat beberapa kissmark lagi di sekitar leher Luhan—yang akan meninggalkan bekas beberapa hari kedepan.
"Aku kira akan lebih enak untukku melakukannya tanpa pemanasan untukmu," kata Sehun. Luhan membelalak. "Tanpa pemanasan?" tanya Luhan dengan kaget. "Iya. Begitulah, tapi kau pasti akan kesakitan dan tidak bisa berjalan hingga beberapa hari. Dan pasti aku tidak bisa melihatmu berkeliaran di dalam rumah," kata Sehun.
Sehun menjilat jari telunjuknya dan memasukkannya ke kewanitaan Luhan. "Akhhh…" Luhan meringis. "Kau belum terbiasa. Aku mohon kau menahan sakitnya," kata Sehun sambil menatap Luhan iba. "A-Aku harush… Benar?" tanya Luhan dengan wajah penahan perih.
"Benar," jawab Sehun sambil memasukkan jari tengahnya. Luhan meringis lagi dan mengerang. "Aku akan menambahkannya lagi, kau yakin akan kuat?" tanya Sehun memastikan. Luhan mengangguk. Sehun menambahkan jari manisnya. Sehun mengocok kewanitaan Luhan dan memastikan lubang itu siap.
Luhan merasa dirinya sudah siap baik mental maupun fisik. "Keluarkan itu semua," perintah Luhan yang membuat Sehun agak kaget. "kita mulai ke intinya saja," sambung Luhan.
Sehun tersenyum. Ia menurunkan boxernya dan mengeluarkan propertinya yang sempat akan Luhan potong jika Sehun tadi masih mengelus paha Luhan. Sehun memasukkan propertinya itu ke dalam propertinya yang lain.
Luhan mendesah dan begitu pula Sehun yang menikmati propertinya yang lain. "Kau nikmath…" ucap Sehun sambil tersenyum melihat Luhan. Luhan tersenyum juga. Sehun menimpa Luhan dan mencium bibir Luhan.
Sehun bekali-kali mengeluarkan benihnya di dalam rahim Luhan. Luhan lupa jika ia harus mengatakan bahwa Sehun harus mengeluarkan benihnya di luar. Sehun dan Luhan bermain hingga 8 ronde. Mereka tersenyum senang setelah melakukannya.
"Hei," kata Sehun yang tengah berbaring di samping Luhan sambil mengelus rambut Luhan. "Kenapa?" tanya Luhan. "Bagaimana jika kita akhirnya saling jatuh cinta?" tanya Sehun. Luhan diam, tidak mungkin kau mencintaiku," jawab Luhan.
"Tak ada yang tidak mungkin, sayang," kata Sehun yang terkekeh. "Mungkin kita akan menikah jika kita saling mencintai. Kita juga bisa saja menjalani hubungan seperti ini jika kita jalan di tempat dengan perasaan kita," jelas Luhan.
"Dan kemungkinan terburuk, kita akan berpisah, menikah, memiliki anak, dan memiliki pasangan masing-masing," tambah Luhan. Luhan menutup matanya. "Benarkah?" tanya Sehun. Luhan tak menjawab. Sehun mengira Luhan sudah tidur. Sehun tersenyum dan mengelus rambut Luhan.
"Padahal aku yakin aku menyukaimu," gumam Sehun sedih. Luhan kaget dan menatap Sehun yang sudah tertidur karena lelah. "Maaf…" ucap Luhan lirih. Luhan tersenyum pahit dan merapatkan badannya ke badan Sehun.
. . .
TBC
. . .
HAHAHAIII!
Ini chapter 2 dari FF My Only One Girl!
Gimana chapter ini? Memuaskan atau tidak memuaskan? Semoga chapter ini memuaskan ya, seperti 'anu'nya Sehun bagi Luhan. #dilemparkeHanRiver
Oke, terima kasih banyak buat yang udah review, fav, dan follow di chapter 1. FF ini mungkin satu-satunya FF yang berpotensi bisa cepat Aoi update, berbeda dari FF sebelumnya. Karena FF ini sudah diketik hingga chapter 5. Jadi, kalian bisa menikmati tiap chapter FF ini sedikit lebih cepat dari pada FF yang lain.
Terima kasih lagi ya untuk yang sudah nyaranin ini itu, bertanya ini itu, dan lainnya. Untuk pertanyaan tentang tokoh ini siapa? Bagaimana mereka sebenarnya? Itu akan dijawab melalui chapter-chapte selanjutnya. Jadi, Aoi mohon kalian tetap menunggu.
Oke, sekian cuap-cuapnya. Mohon maaf karena semua kesalahan.
AND…
REVIEW PLEASE!
