Title: Shattered Darkness
Summary: Ancaman baru muncul. Dan kali ini para Guardians harus mau bekerja sama dengan sang Nightmare King. Kenapa? Karena tampaknya ancaman kali ini ada hubungannya dengan masa lalu Pitch.
Pairing: Jack/Pitch/Bunny. Jadi… Dark Chocolate Ice Cream? *payah*
Rate: T untuk sekarang. M untuk nanti.
Disclaimer: Bukan yang saia~!
Bacotan: Yup, chappie two is here~!
Saia lagi pelarian ini, soalnya saia stress berat sama ospek. Cih, besok kan mulai kuliah, kok masih diospek juga ya? Sebel deh.
Okeh, daripada saia nularin anda semua dengan stress saia, mending saia akhiri bacotan ini.
Enjoy~!
Salju di hutan itu mulai sedikit dan Jack ingin sekali untuk melapisi lagi tanah setengah beku itu dengan salju, tetapi sekarang ada hal lebih penting yang harus dia lakukan. Masih ada waktu untuk bermain salju, sekarang waktunya untuk mengingat-ingat letak lubang yang dulu menjadi tempat masuk ke gua Pitch. Mengingat belum pernah sesusah ini baginya. Berkali-kali dia mengira dia sudah menemukan tempat yang tepat, tetapi selalu saja ada hawa tidak enak—rasa takut—yang datang dari arah lain sehingga butuh waktu baginya untuk akhirnya bisa menemukan tempat yang tepat.
Aneh. Sbelumnya tidak pernah ada kebocoran rasa takut yang mirip kebocoran gas begini, kan?
"Kenapa, Jack?" tanya Bunny sedikit penasaran melihat ekspresi Jack yang tidak tenang.
Jakc menggelengkan kepalanya sedikit. "Tidak. Hanya saja, aku takut kita salah tempat. Dari tadi, pasti ada hawa rasa takut yang muncul disana-sini. Aku jadi bingung."
North mengernyit. "Apa lagi yang Pitch rencanakan?" keluhnya kesal. Sudah cukup dua tahun lalu mereka nyaris menghilang karena serangan Pitch. Dia tidak akan membiarkan Pitch kabur kali ini kalau memang dia merencanakan kudeta lagi.
"Ya, ini tempat yang tepat," ujar Bunny setelah berhasil membuka terowongan di tanah. "Untung saja."
"Jadi kita masuk sekarang?" tanya Tooth sambil terbang rendah mengitari lubang gelap itu.
Sandy mengangguk kecil dan melompat masuk.
Tidak ada kata mundur sekarang.
Pitch sedang berusaha untuk menenangkan pikirannya ketika dia mendengar bunyi benda jatuh ke dalam guanya. Sebenarnya dia penasaran benda apa yang berhasil masuk, tetapi rasanya mengawasi lubang di tengah guanya tetap menjadi prioritas baginya.
Samar-samar terdengar suara-suara familiar yang sedang mengobrol dan dia sadar bahwa yang memasuki guanya bukan sekadar benda.
Apa yang para Guardians lakukan disini?
Suara itu semakin dekat dan Pitch menjadi sedikit heran. Bagaimana mereka bisa mencapai pusat guanya dengan begitu cepat?
Dia ingin meraih bayangan dan bersembunyi ke tempat yang aman, tetapi kalau itu tidak berhasil maka dia tidak akan cukup kuat untuk melawan dan itu bisa saja berarti mati. Lagipula, dia harus tetap mencegah para Guardians yang penasaran mengoprek-oprek rahasia yang dia sembunyikan dalam guanya selama berabad-abad itu. Sedikit saja kesalahan bisa menghancurkan segel yang susah payah dia buat untuk mengurung rahasianya. Sedikit kesalahan bisa menimbulkan kehancuran yang lebih besar dari yang pernah dia buat.
Menjadi Nightmare King bukan berarti menginginkan segalanya hancur.
"Pitch!"
Dia tersentak dan berbalik menghadapi lima pasang mata marah.
"Oh, Guardians. Aku tidak tahu aku harus senang atau marah kalian masuk kesini. Disini sangat sepi sih. Tidak setiap hari aku dapat kunjungan. Tapi, apa kalian mengerti artinya 'privasi'? Dan apa yang terjadi padamu, Bunnymund?"
"Berhenti mengoceh dan katakan apa yang kau rencanakan," perintah North sambil mengacungkan pedangnya.
"Aku tidak merencanakan apa-apa," jawab Pitch. Dia mencoba agar wajahnya tetap tenang walaupun sebenarnya dia mulai gelisah.
Tidak, harusnya dia tidak boleh gelisah. Itu hanya akan membuat Nightmares mengejarnya.
Tooth lama-lama kesal dan langsung menerjang dengan kadhaga-nya. Pitch hanya bisa menghindar dan merelakan telapak tangannya teriris lebar. Darah mengalir dari lukanya dan menetes ke lantai gua, tepat ke dalam lubang menganga di belakang si Boogeyman. Matanya terbelalak lebar ketika melihat bayangan gelap di dalamnya seakan berputar, bergerak, menggeliat dan akhirnya meluap keluar.
"Pergi dari sini," ucapnya pada para Guardians yang sama sekali tidak menghiraukannya dan lebih mmilih untuk menatap luapan bayangan tanpa tahu harus melakukan apa. "Kubilang, pergi dari sini!"
"Dan kau bilang kau tidak merencanakan apa-apa?" balas North sambil bersiap menyerang, tetapi dia didahului oleh Jack yang langsung melesat dengan angin dingin. Sekelebat bayangan hitam menghalanginya dari menyerang Pitch dan butuh sesaat untuknya menyadari bahwa itu adalah seekor Nightmare.
Jack bersiap untuk menyerang lagi tetapi Pitch tampak terhuyung ke belakang dan terjatuh ke dalam gumpalan bayangan yang meluap, diikuti oleh Nightmare satu itu. Refleks, Jack melompat mengikuti juga dngan maksud menghalangi apapun yang akan Pitch lakukan.
"Jack!" teriak Tooth.
Sandy mencoba untuk menarik Jack dengan sebuah tali dari pasir emas, tetapi lubang itu langsung tertutup ketika Jack menghilang di dalam kegelapannya, tanpa ada sisa apa-apa kecuali bekas hitam pada permukaan lantai dingin berwarna abu-abu.
"Jack!" teriak Bunny panik sambil berkali-kali mencoba membuka terowongan di atas lantai. Usahanya sia-sia tetapi dia tidak menyerah. Dia mengambil ramuan dari Spring dan menuangkannya ke kakinya, lansgung membuka terowongan di atas bekas hitam tempat tadi Jack menghilang, dan segera melompat ke dalamnya.
Terowongan tersebut langsung tertutup begitu Bunny masuk dan ketiga Guardians yang tersisa tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu sambil berharap kedua teman mereka akan baik-baik saja.
"Papa!" panggil seorang gadis kecil yang samar-samar dia ingat. Gadis itu berlari-lari menuju dirinya dengan setangkai bunga putih di tangan mungilnya. Gaun hijaunya berkibar diterpa angin, begitu pula rambut hitamnya.
Sudah lama sekali sejak ada yang memanggilnya seperti itu dan rasanya dia tidak keberatan dengan sedikit kenangan masa lalu.
"Papa!" panggilnya lagi. Padang rumput luas itu tidak terasa sepi lagi.
Dia tersenyum pada gadis itu.
"Papa! Disini gelap! Keluarkan aku!"
Seketika semuanya menjadi gelap dan gadis kecil itu perlahan tenggelam ke dalam gumpalan hitam bayangan yang bergerak-gerak menenggelamkannya. "Tolong!"
Dia tidak bisa berkutik.
Tidak ada lagi gadis kecil yang manis sekarang, hanya ada belulang yang dilapisi daging tercabik yang masih mengeluarkan darah segar bergerak-gerak seakan memintanya untuk mengeluarkannya dari situ. Pembuluh-pembuluh darah terlihat jelas berkedut-kedut memompa darah yang akhirnya hanya mengalir keluar, kulit gadis itu terbaring di samping makhluk merah yang dililit bayangan itu.
Tiba-tiba kulit itu bergerak sendiri, seakan-akan masih ada daging di dalamnya. Perlahan, perlahan, kulit itu kembali berbentuk; seorang gadis kecil berambut hitam dengan gaun hijau yang berdarah membelakangi dirinya.
Dia mencoba memanggil gadis itu, tetapi lidahnya kelu karena dia sadar dia tidak tahu nama gadis itu.
Ketika gadis itu berbalik, dia melihat pemandangan mengerikan. Mata si gadis dipenuhi bayangan yang bergerak menggeliat dan meluap keluar karena tidak ada bola mata yang mngisi kekosongan itu, begitu pula mulut, telinga, dan hidungnya. Kulit putihnya membengkak dan sedikit-sedikit pecah, mengeluarkan bayangan hitam yang terlihat cair seperti darah.
Mulutnya menyeringai lebar dan tajam dengan terlalu banyak deretan gigi tajam yang tidak rata. Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut monster itu; "Kau tidak ingat siapa aku, Papa?"
Dirinya terbangun dengan sebuah teriakan.
Mimpi itu lagi, mimpi yang sama yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun.
Jika ada yang namanya mimpi pada waktu yang tidak tepat, sekarang adalah contoh terbaiknya.
"Pitch!"
Dia tersentak dan menengadah ke arah suara yang ternyata adalah Jack yang sedang terlilit dan bergantung terbalik pada sebuah pohon kering yang dipenuhi tumbuhan menjalar dan benalu.
"Sedikit bantuan disini?"
Pitch merengut. "Kenapa aku harus membantumu, Frost? Kau musuhku."
Matanya sedikit memicing karena cahaya sambil mencoba untuk mengenali tempat tersebut.
Di hadapannya adalah sebuah tebing tinggi dengan sebuah pohon di kakinya, tepat dihadapan dirinya dan Jack berada di atas pohon itu. Di belakangnya adalah padang rumput yang dipenuhi oleh kristal-kristal hijau biru sebesar lengannya yang mencuat dari dalam tanah. Langit berwarna biru dan diterangi oleh sebuah matahari—yang ukurannya lebih besar dari matahari yang terlihat di bumi tetapi sama terangnya—yang setengahnya berupa bulan. Langit biru itu bergradasi, bercampur dengan kuning, oranye, lalu merah, biru, dan berubah menjadi hitam pada ujung horizon satu lagi. Pada langit malam yang menghiasi setengah horizon langit itu terbentang lautan bintang yang membentuk rasi-rasi bintang yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya.
Oh, terkutuk.
Benar-benar tempat yang ada di peringkat satu daftar tempat yang tidak ingin dia kunjungi.
"Sial…"
"Uh, Pitch? Kau sudah selesai dengan cuci matanya? Bisa tolong aku?"
Sekali lagi Pitch merengut. "Tidak, Jack. Aku tidak mau membantumu."
"Ayolah… kumohon?"
"Tidak, Jack."
"Tapi aku ga bisa bergerak!" keluh Jack dengan lantang sembari menggeliat dengan ganas karena lilitan benalu di tubuhnya tetap tidak bisa lepas. "Argh… setidaknya berikan tongkatku?"
"Tidak."
"Pitch…"
"Tidak."
"Kumohon?"
"Tidak."
"Sekali ini saja dan aku tidak akan mengajakmu bicara lagi?"
Itu terdengar bagus. "Baiklah."
Pitch membungkuk untuk mengambil tongkat Jack yang dengan manisnya terbaring di atas rumput lalu mengulurkannya pada Jack yang agak kepayahan meraihnya. "Sudah, kan?" ujar Pitch sambil berbalik dan mulai berjalan.
"Uh… Pitch?"
"Tepati janjimu, Frost."
"Kurasa kau memang sebaiknya menurunkan aku dari sini, deh."
Walaupun enggan, Pitch tetap membantu Jack karena mungkin nanti dia berguna juga. Untuk keluar dari sini.
"Hell," rutuk Bunny sambil mengusap kepalanya yang sakit karena terbentur ketika jatuh tadi. Angin dingin berhembus dan dia menggigil. Dia terjatuh ketika berjalan karena dia lupa bahwa ukuran kakinya sekarang nyaris tiga kali lebih kecil dari biasanya.
Sungguh. Dia benci sekali menjadi manusia begini.
Sementara itu, Pitch sedang sibuk melepaskan Jack dari lilitan benalu dengan memotong benalu-benalu dengan sepotong batu pipih yang dia temukan di dekat situ.
"Tunggu, kayaknya aku sudah bisa," ujar Jack sambil menarik satu lagi lilitan yang menahan pinggangnya.
"Jangan yang itu!"
Seketika Jack terjatuh dan menimpa Pitch dengan tidak tahu dirinya.
"Ouch."
"Kubilang jangan yang itu, Frost."
Jack hanya menyengir dan menggidikkan bahunya. "Jadi, apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Jack sambil berdiri dan membersihkan bajunya yang terkena debu.
"Aku tidak merencanakan apa-apa."
"Yang benar?"
Ingin rasanya Pitch mengubur Jack dalam-dalam supaya tdak perlu mendengar ocehannya lagi. "Iya. Aku tidak peduli kau percaya atau tidak."
Terdengar suara ringkikan dan seekor Nightmare muncul dari balik tebing.
"Onyx," panggil Pitch. Kuda itu langsung berderap mendekati tuannya. "Gadis pintar, gadis pintar," puji Pitch sembari mengelus-elus surai Onyx.
"Jadi, kapan kita bisa keluar dari sini?" tanya Jack merusak suasana haru pertemuan sang tuan dengan kudanya.
"Jujur, Jack, aku tidak tahu. Tempat ini memang ada di dalam guaku, tetapi ada segel yang menahannya, jadi… perjalanan dengan bayangan juga tidak bisa mengeluarkan kita dari sini."
"Apa?!"
"Ya. Kita mungkin terjebak disini selama-lamanya."
"Apa yang selama-lamanya?" satu lagi anggota baru bergabung untuk bersama-sama meratapi nasib. "'Ey, Jack, keapa kau ngobrol dengannya?!" teriak Bunny tidak terima sambil melempar satu bumerangnya pada Pitch dan langsung dihalangi oleh Onyx.
"Woah, Bunny! Aku tahu ini terlihat buruk, tapi—"
"Kau membelanya?!"
"Bunny, ini tidak seperti kelihatannya."
"Jack, kau Guardian, tahu!"
"Iya, aku cukup sadar diri."
Sementara Bunny dan Jack beradu mulut seperti pasangan suami-istri, Pitch menarik kekang pada mulut Onyx dan berjalan menjauh.
"Tunggu! Kau tidak kemana-mana, tuan!" perintah Bunny sambil menghentakkan kakinya kesal.
Kesalahan besar. Sedikit susah mengontrol kekuatannya dalam bentuk ini. Sebuah terowongan besar terbuka dan menelan mereka bertiga ditambah seekor Nightmare.
Dan Pitch hanya menggeram kesal begitu lubang itu tertutup begitu mereka berada di dasar ruangan bawah tanah itu.
Ruangan bawah tanah itu besar dan ada beberapa patung-patung yang sebagiannya sudah patah atau tercungkil karena waktu. Atau mungkin sesuatu yang lain. Satu-satunya sumber cahaya disitu adalah kristal-kristal hijau biru besar yang berpendar terang—kristal-kristal yang sama dengan yang mencuat di ke permukaan tanah di atas dan Jack tahu skarang dari mana asalnya. Langit-langit ruangan itu ditutupi oleh akar-akar tumbuhan—mungkin akar pohon tempat Jack terlilit tadi—dan hanya ada sedikit bagian yang tidak tertutupi akar yaitu tempat tadi mereka terjatuh.
Pitch terlihat gelisah dan Bunny memutuskan itu adalah pertanda baik bahwa dia bisa mencercanya. "Kenapa gelisah? Kau tidak mau kami menemukan rahasiamu disini?"
Dia tidak menjawab. Hanya diam dan mencari jalan keluar yang dia tahu ada disini. "Akan kujawab kalau kita berhasil keluar dari sini."
"Tidak. Jawab sekarang."
Masih juga tidak ada jawaban. Onyx mulai brkelakuan galak karena mencium kegelisahan tuannya.
"Kami tidak akan keluar sampai kau menjelaskan apa yang sebegitu rahasianya sampai kau ingin kami untuk cpat-cepat pergi dari sini," desak Bunny. "Apa kau berencana membunuh kami lagi, Pitch?"
"Tidak."
"Lalu?"
Terdengar bunyi kerikil berjatuhan dan mereka sadar itu bukan hanya kerikil, tetapi serpihan-serpihan tembok pada satu sisi ruangan yang berjatuhan.
"Kita harus pergi," ujar Pitch tidak kalah mendesak sambil menatap ngeri tembok itu. Dia berjalan menjauh dari Jack dan Bunny yang masih terpaku di tempat dan memandang runtuhnya tembok.
Tidak boleh!
Kau tidak seharusnya hidup!
Seorang pemuda muncul dari balik debu-debu tembok itu. Rambutnya hitam bergelombang dan memantulkan cahaya dengan tidak wajar, wajahnya tampan dengan sepasang mata berwarna biru tua, hidung mancung, tulang pipi yang tinggi, alis hitam yang kontras dengan kulitnya yang berwarna putih, bibir tipis dan sederet gigi yang rapi. Sejumput rambut di pelipisnya tumbuh panjang dan diikat dengan rapi.
Seringainya makin tajam ketika dia memandang wajah Pitch.
Mulutnya terbuka dan suara beratnya memenuhi ruangan dan bergema, dingin dan tajam; "Ah, senang bertemu lagi denganmu, Jendral."
End of Chapter Two
Btw, kayaknya ada typo, ya? Hmm… saia ga merhatiin. Oh, ya, nama pedangnya Tooth itu Kadhaga, kan? Saia lupa… (tepatnya ga yakin soalnya belum baca buku Tooth dan lagi males nyari di google, jadi seingetnya aja)
Tolong masukan dan ripiunya, ya~!
Love
Shirasaka Konoe
