Bulan Mei
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, High school love life
Rated : T
Warning :
AU!, Typo(s), gaje, pake nama Indonesia
.
Present~
.
.
Orang-orang percaya bahwa dengan bertambahnya umur, maka keberuntungan akan semakin meningkat. Seperti Ino yang akan segera merayakan pertambahan umurnya. Hanya saja, ia biasa merayakan tanpa teman-teman. Ia takut akan terharu melihat banyak teman ikut bersuka cita, ia takut hidungnya memerah.
Beberapa hari sebelumnya, ia sempat berjalan-jalan di lapangan, tempat ia biasa latihan cheers. Tapi fokusnya tidak ke sana, melainkan ke arah lapangan basket yang mulai ditinggalkan para pemainnya.
Waktu terasa berhenti ketika seseorang itu berjalan ke arahnya, terus berjalan ke arahnya. Ino bahkan menjatuhkan pom-pom yang ia goyangkan sejak tadi. Namun, seperti hembusan angin, seseorang itu lewat begitu saja tanpa ada kesempatan saling bertatap mata. Ino menyaksikan punggung orang itu dari belakang.
"Ya sudahlah, dia kan memang tidak mengenalku."
Ino lantas berusaha memungut kembali pom-pomnya yang ternyata sudah tak tergeletak lagi di tanah. Seseorang tengah memegangnya.
"Jangan sedih." Seseorang itu berbicara.
Ino yang langsung tahu ada seseorang berkacamata di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Ia tidak pernah ingin membicarakan perasaannya dengan orang lain, terlebih Kiba. Waktu itu ia tidak berniat membocorkan rahasianya sendiri. Semua itu terjadi tanpa kesengajaan. Tapi Kiba seolah ingin menggali seluruhnya, begitu penasaran.
"Ku dengar senior akan mengadakan acara ulang tahun untuk semua anggota yang lahir bulan Mei. Kamu juga lahir bulan Mei, kan?"
Ino hanya mengangguk.
"Semua anggota tim olahraga diundang, jadi bersyukurlah karena kamu diistimewakan."
"Memangnya aku yang diistimewakan? Acara ini hanya diadakan untuk kepentingan senior. Hanya mereka yang benar-benar merayakan, sementara para junior cuma mendapat jatah meniup lilin di atas satu kue."
Ino bermuka muram, ia sendiri memang kurang suka ide apapun yang berhubungan dengan keramaian. Entah itu hanya untuk kepentingan senior, ataupun memang benar-benar mengistimewakan junior. Ia tidak mau semua orang melihat hidungnya memerah.
"Tapi acara ini bagus untukmu, karena tim basket juga datang."
Ino diam, memandangi rerumputan. Ia tidak menginginkan rahasianya dibiarkan diketahui orang lain, selama ini ia hanya memendamnya sendiri, terlebih jika menyangkut hati. Tapi jauh dari dasar hatinya, ia ingin mimpinya ini tidak hanya menjadi sekedar mimpi. Ia tidak ingin seseorang itu hanya menjadi angan-angan saja.
"Lalu aku harus bagaimana kalau dia datang?"
.
.
.
Balon, pita, confetti menghiasi studio yang sudah dipesan untuk acara ulang tahun massal para anggota tim pemandu sorak. Lampu-lampu hias juga tidak kalah terang menghiasi pohon-pohon di luar ruangan, layaknya lampu natal.
Kiba, orang yang mengajaknya datang malah entah ada dimana. Dan Ino sendiri entah sejak kapan mempercayai ide gila si pemuda berkacamata itu. Malam ini rencananya Kiba akan mengenalkan Ino pada si kapten tim basket. Usaha membantu yang sangat gila!
Bicara tentang si kapten tim basket, Ino sudah menangkap sosoknya sejak tadi. Dia berada diantara segerombolan grup cantik. Tidak heran sih, orang cantik juga ingin mendapat perhatian.
"Ino, selamat ulang tahun!" Beberapa teman satu grupnya yang tidak berulang tahun memeluknya bersamaan.
Ino merasa sesak luar biasa.
"Terima kasih ya, eh tapi kenapa kalian bisa datang bersamaan?"
"Tidak kok, kita tadi kebetulan bertemu di pintu masuk."
Ino tidak tahu harus merespon apalagi perkataan teman-temannya. Jadi, ia hanya diam saja seraya memandangi sekitar yang ramai orang-orang berpakaian elegan. Lampu warna-warni yang terpasang apik di pohon depan studio juga membuatnya terkesima.
"Bagi anak kelas satu yang lahir bulan Mei dimohon naik panggung sekarang juga. Sesi potong kue akan segera berlangsung."
Begitu orang-orang yang berulang tahun sudah naik panggung, lagu selamat ulang tahun mulai dinyanyikan. Orang-orang bertepuk tangan menantikan para artis semalam di atas panggung meniup lilin, dan dipotong lah kue yang tidak seberapa besar itu.
Tamu undangan diberi waktu memberikan kado pada teman yang mereka kenal. Ino sendiri sudah menerima beberapa dari teman satu grupnya, hadiah yang membuat hidungnya memerah. Tapi sebagian orang sudah tidak kaget ketika melihat gurat merah itu setelah ia bercerita panjang lebar beberapa waktu lalu.
Sebelum ia beranjak dari panggung, seorang lelaki berkemeja mendekat ke panggung. Itu seseorangnya yang mulai berjalan mendekat sambil membawa sebuah kado di tangan. Ketika Ino sudah berdebar luar biasa, dan matanya lupa berkedip, seseorang itu justru melewatinya. Pemuda itu tersenyum pada perempuan lain, tepatnya salah satu gadis dari grup cantik.
Di film-film, ketika tokoh utama wanita yang biasa-biasa saja jatuh cinta pada lelaki yang diidamkan semua orang, tokoh utama wanita itu pasti tetap mendapatkannya. Namun mengapa yang ia alami berbeda? Untuk saling mengenal saja rasanya terhalang tembok yang begitu tinggi.
Beberapa detik berselang, suasana di panggung tidak seramai yang seharusnya. Ino turun dari sana, melewati tamu undangan di sisi kiri dan kanan ruangan, berjalan menuju taman. Ia merasa sepi.
Lucunya, ia tidak mendapati seorangpun yang peduli padanya. Meski hanya untuk mencoba menahannya agar tidak pergi dari panggung. Mungkin orang-orang benar, hidup tidak seindah drama.
Lagipula, ia memang tidak memiliki siapa-siapa kecuali teman satu grup yang sedang rakus diantara tumpukan makanan. Terserah dengan mereka.
Di taman justru lebih nyaman, meski ada beberapa orang yang tengah asyik tertawa, Ino tidak peduli karena ia tak mengenal mereka. Ketika berjalan menuju sudut taman yang lain, ia temukan kucing belang hitam putih mencakar daun di depannya. Ia membopong kucing besar entah milik siapa itu. Syukurlah ada pusat atensi baru, ia jadi tidak harus melebih-lebihkan kesedihan akibat cinta yang tak sampai.
"Merah?"
Ia menoleh, membuat kucing di pangkuannya melompat turun.
"Kamu merah, kan?"
Seseorang yang wajahnya membelakangi lampu penerangan memanggil lagi. Kali ini dengan memperlihatkan gigi.
Tapi apa maksudnya dengan mera-
Ah!
Nama panggilannya semenjak ikut klub pemandu sorak.
"Kenapa memanggilku seperti itu? Memangnya kita saling kenal?"
"Rencananya aku memang akan mengajakmu berkenalan."
Pemuda itu tersenyum.
Meski Ino tidak memperlihatkannya, ia tidak mungkin tidak mengenali seorang pemuda di hadapannya. Pemuda yang ia lihat sepanjang waktu di lapangan. Kapten tim voli putra. Orang yang mematahkan pandangan merendahkannya pada tim voli.
Awal mengetahui sosoknya adalah ketika Ino berusaha membandingkan performa kedua tim saat latihan. Beruntungnya jadi anggota pemandu sorak, bisa cuci mata tiap hari. Tapi ini bukan berarti Ino memperhatikan si kapten tim voli dengan pandangan khusus ya. Bukan.
Jadi intinya, hari itu Ino menyaksikan sendiri si kapten yang bersusah payah mengajari salah seorang anggota timnya yang susah sekali diminta melakukan smash. Beruntunglah guru olahraga memilih siswa yang benar-benar professional seperti si kapten satu ini, hingga membuat Ino merasa tidak sungkan lagi menyemangati tim voli sekolah.
Drrrrtttt!
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Sebentar," Ujarnya pada si kapten sebelum mengangkat telepon.
"Halo?"
"Kamu kemana saja? Aku sudah mencarimu sejak tadi. Sekarang ini aku sudah ada di sampingnya."
"Kiba? Darimana kamu tahu nomorku?"
"Itu tidak penting. Kamu mau bicara dengan dia atau tidak?"
Suara di seberang telepon memekik, napas terengah juga ia dengar. Kiba pasti terlambat dan berlari ke pesta.
Ino mendesah lelah.
"Kiba…"
"Cepat sebelum terlalu malam. Sebelum orang ini pergi juga."
Memorinya menguar kembali tentang keadaan di dalam studio. Bagaimana mungkin Ino kembali kalau orang yang Kiba sebutkan justru menjadi alasan mengapa ia pergi ke taman sendirian. Ah, mungkin sekarang tidak sendirian lagi.
"Tidak usah, Kiba. Lebih baik kamu pulang saja, aku sudah tidak tertarik lagi."
Ia menutup telepon sepihak.
"Merah?"
Suara yang terlupakan memanggilnya lagi.
"Selamat ulang tahun ya. Aku kebetulan punya satu kado tersisa." Si kapten voli menyodorkan kado putih berpita biru.
Kado yang bagus, omong-omong. Dan jujur saja ini pertama kalinya ia mendapatkan hadiah dari laki-laki. Tapi Ino tidak mengenal kapten itu dengan baik, maka ia ragu-ragu hendak menerima.
"Kenapa? Kamu tidak mau nerima hadiah dariku?"
Merasa tak enak hati, maka mengangguk menjadi opsi terakhir yang Ino pilih.
"Kenalkan, aku Sasori. Aku penderita red nose, sama sepertimu."
Lamat-lamat gurat merah kembali muncul di penghujung bulan Mei kala itu.
.
.
TBC
.
A/N: Ceritanya agak nganu, tapi semoga tidak terlalu ngawur.
.
.
Lin Xiao Li : Aku sedang berusaha memenuhi permintaanmu untuk nulis KibaIno lagi, ehe. :D Jangan bosan bosan di sini yak qaqa
Uyab4869 : Terima kasih, ini sudah dilanjut. :)
.
.
I'll be back soon~
Hang in there, guys.
