"Sasu-nii!"

Plop.

"Lihat! Balon sabunnya besar!"

Plop.

"Sasu-nii! Sasu-nii! Sasu-nii!"

Plop. Plop. Plop.

"Hentikan itu."

Menma, anak kecil hiperaktif yang telah menginjak tahun ketiganya itu berlarian di sekeliling Sasuke sambil memegang sebotol cairan sabun di tangan kanan, sementara tangan yang lain menggenggam peniupnya, yang kemudian dicelupkan lagi ke dalam cairan sabun untuk selanjutnya diarahkan pada wajah stoic seseorang di depannya. Lalu sang anak menggembungkan pipinya, meniupkan udara dari mulutnya secara beruntun.

Gelembung-gelembung sabun transparan yang rapuh melayang saling mendahului untuk menabrak permukaan epidermis putih pucat milik Sasuke.

Plop. Plop. Plop.

. . .

A Naruto Fanfiction

Title: 小さな掌 (Chiisana Tenohira)

Author: Kouun

Main Cast: Uchiha Sasuke, Menma, Uzumaki Naruto, Sasori

Additional Cast: Ibiki Morino

Genre: Family, Fantasy, Tragedy, Angst, Sci-Fi(?), Romance

Rating: PG-15

Warnings: AU, Shounen-Ai to Yaoi, M-Preg, OOC, typo(s), misstype(s)

Disclaimer: I own this fanfic, Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei

Feel free to read and comment, enjoy! =)

. . .

Page 2: Kiiroi Iro no WISH

Sang pemuda dengan trademark rambut mencuat ke belakang condong ke atas tersebut menutup kilat iris onyx kirinya yang terciprat air sabun. Sedikit air mata mengintip di celah kelopak matanya yang tertutup. Perih.

"Menma..." desisnya.

Si cilik bernama Menma itu hanya mengedip beberapa kali, memelas secara innocent lewat bola mata yang besar seperti anak anjing kehilangan tuannya.

Sasuke menghela nafas perlahan, mengeluarkan pocket tissue dari saku celana jeans-nya dan segera mengelap muka yang basah akibat ulah Menma yang selalu meniupkan bola sabun ke wajahnya. Ia menarik nafas panjang, meremas tisu yang kumal menjadi gumpalan dan melemparnya masuk ke tong sampah yang tak jauh dari sana. Pandangannya kembali ke arah Menma.

"Kenapa Menma masih memanggilku Sasu-nii?"

Menma tidak langsung menjawab. Anak itu mengaduk-aduk cairan sabun yang ada di genggamannya sampai penuh berbusa dan kembali meniupnya. Sepasang iris gelap cemerlang bak kelereng mengikuti arah terbangnya gelembung-gelembung sabun yang membumbung menuju lazuardi.

"Balon sabun itu untuk tou-chan dan kaa-chan di surga."

Sasuke menatap sang anak lekat. Kenyataan bahwa dialah ayah yang sebenarnya pasti masih terlalu sulit dipahami oleh Menma yang terlampau kecil.

Lagi-lagi hal itu membuatnya merenung. Seandainya sejak awal ia tidak perlu berpura-pura sebagai kakak dan menyembunyikan identitas aslinya, segala sesuatunya pasti tidak akan menjadi serumit ini. Tapi mau bagaimana lagi, bahkan ia sendiri tidak menyangka Menma bisa hadir di dalam hidupnya. Ia tidak pernah menyangka akan menjadi seorang ayah di usia 14 tahun, usia yang terlalu dini untuk meneruskan garis keturunan keluarganya.

Surai raven itu teracak sempurna secara abstrak oleh sang empunya.

Ini gila, apalagi jika semua orang mengetahui bagaimana seorang Uchiha Menma bisa 'ada'. Ini terjadi karena sesuatu di luar akal sehat.

"..."

Sasuke terhenyak ketika keitai di saku celananya bergetar menandakan panggilan masuk. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat nama si penelepon yang terpampang jelas di layar yang berkedip-kedip.

"Moshi-moshi?"

Sebuah suara berat dengan sedikit aksen parau terdengar dari seberang sana.

"Moshi-moshi, Uchiha-san. Sebelumnya aku ingin mengucapkan belasungkawa atas kematian kedua orangtuamu—"

"Hn."

"—kemudian, bisakah kau datang ke sekolah hari ini? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu."

Sasuke menatap ke arah Menma yang masih asyik sendiri dengan gelembung sabunnya. Sebenarnya hari ini ia ingin sekali menghabiskan waktu yang ia punya bersama anak laki-lakinya itu, tapi sepertinya ada hal lain yang harus dilakukan. Dan jika menyangkut dengan Morino Ibiki yang merupakan guru pembinanya, itu pasti hal yang serius.

"Baik."

"Baiklah, kutunggu kau di ruanganku!"

Klik.

Setelah menempatkan kembali keitai-nya ke tempat semula, Sasuke menghampiri Menma dan berjongkok di depannya.

"Maaf, Tou-chan harus pergi," pamit sang pemuda pelan pada balita di hadapannya yang hanya diam tanpa mengatakan apapun, bahkan tak ada ekspresi apa-apa di sana. Sasuke mengecup dahi Menma sekilas dan mengusap kepala anak itu sebelum beranjak pergi, mengerling pada Sasori yang sedari tadi duduk tenang di kursi taman. Pemuda dengan rambut merah tersebut mengangguk dan menghampiri majikan ciliknya.

"Yatta, Saso-nii! Ayo main balon sabun!" Mendapat sambutan meriah yang membuat Sasuke berjengit sedikit di dadanya. Semenjak ia meminta anak itu memanggilnya 'tou-chan', semenjak itu pula ia justru merasa semakin jauh dengan Menma.

. . .

Wangi manis dari helaian Sakura yang bertaburan entah dari mana, menyambut kedatangan Uchiha Sasuke di gerbang sekolahnya. Gedung mewah di depan matanya ini terasa asing baginya yang nyaris tak pernah dimasuki semenjak ia diterima di sini. Kenapa begitu?

Sederhana saja, ia terlalu sibuk dikarantina di gedung khusus yang berada tak jauh dari gedung sekolahnya ini. Dan teriakan-teriakan yang cukup familiar pun membahana, bergema masuk melalui lubang telinganya seperti national anthem.

Merapikan sebentar ujung bawah kemeja seragamnya yang sedikit menyembul keluar dari celana dan memasang muka datarnya seperti biasa, Sasuke melangkahkan kaki-kakinya dengan mantap tanpa peduli tatapan-tatapan dengan segala ekspresi yang dilayangkan padanya. Ia tak peduli dengan bisik-bisik yang dikoarkan terutama oleh para fangirls-nya yang sok tahu.

"Kau lihat itu? Uchiha Sasuke, kan...?!"

"Eeh, mana? Mana?!"

"..."

"Kyaaa, dia semakin tampan saja! Apa yang dilakukannya di sini? Bukankah ia sedang dikarantina di gedung sebelah untuk mengikuti olimpiade sains di Oto?"

"..."

"Rasanya sudah lama sekali semenjak Sasuke-kun terakhir kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Ia terlalu sibuk mengikuti karantina dan melakukan riset bersama ilmuwan-ilmuwan ternama dari seluruh dunia. Aku heran, kenapa ia tidak meluluskan dirinya lebih cepat saja? Kenapa ia harus sekolah jika ia sudah menjadi seorang... jenius?"

Kedua bola mata Sasuke berputar. Annoyed. Ia tak ingin ambil pusing dengan segala komentar orang lain tentangnya. Mereka itu tidak tahu apa-apa, hanya orang-orang yang terlalu ingin ikut campur di dalam kehidupannya.

Langkah kaki Sasuke mengeluarkan bunyi berderap ketika memasuki koridor yang sepi. Sebuah papan nama bertuliskan Morino Ibiki terpampang di depan pintu kayu jati yang kokoh. Tanpa bermaksud mengetuk pintu, anak itu langsung memutar handle sampai terbuka dan masuk ke dalam tanpa meminta izin.

"Ah, kau sampai juga." Guru botak yang biasa dipanggil Ibiki tersebut sedang duduk di kursinya sembari menghadapi setumpuk kertas-kertas yang kelihatan menua, menguning. Ia tersenyum pada Sasuke. "Duduklah."

Sasuke mendudukkan pantatnya pada kursi yang ada dan menatap gurunya dengan serius. "Hn... tak usah basa-basi."

"Seperti biasa, selalu dingin dan to the point," komentar Ibiki sambil mengeluarkan tawa kecil.

"Aku tak punya banyak waktu," balas sang murid.

Ibiki menghela nafas dan mengangkat kedua tangannya ke atas dalam posisi menyerah, "Baiklah, baiklah, Tuan Muda Uchiha... aku hanya ingin mengonfirmasi sesuatu padamu."

Mendadak suhu dalam ruangan tersebut terasa naik beberapa derajat celsius. Aura yang tidak mengenakkan mulai merambah.

Guru senior dengan beberapa goresan luka misterius yang melintang di wajahnya itu tersenyum tipis, memejamkan kedua matanya sambil melipat tangan di depan dada. Kursi yang didudukinya bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan gerakan lamban.

"Pernahkah kau melakukan sebuah penelitian dan percobaan besar dalam hidupmu dengan pemikiranmu sendiri? Penelitian atau percobaan yang belum pernah bisa dipecahkan oleh para ilmuwan namun kau berhasil melakukannya? Yang meskipun kau tahu itu berhasil namun tidak pernah bermaksud mempublikasikannya?"

Sasuke bergeming tanpa suara. Matanya menajam, mengarah pada Ibiki yang telah membuka miliknya secara sempurna. Mata yang terlihat lapar untuk mengintimidasi. Mata yang haus untuk segera menginterogasi.

"Apa maksudmu?" Sang Uchiha giliran melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat waspada akan sesuatu.

Bruk.

Sebelum kemudian Ibiki menjatuhkan beberapa dokumen tua pada permukaan mejanya yang telah penuh. Sasuke sedikit terhenyak melihat dokumen-dokumen lawas tersebut, namun berusaha untuk tidak menunjukkannya dan bersikap seperti biasa.

"Possibility of Male Pregnancy," ucap sang sensei, membaca salah satu judul dokumen di depannya. "Aku yakin kau begitu familiar dengan semua ini, catatan-catatan tanganmu sendiri 4 tahun yang lalu, yang kutemukan di dalam bekas loker tuamu semasa SMP yang kini sudah berkarat dan teronggok di gudang."

"..."

Sasuke masih mencoba bersikap tenang, namun ia tidak dapat memungkiri bahwa ada bagian di dalam dirinya yang gelisah, mengetahui bahwa rahasianya mungkin akan terbongkar sebentar lagi.

"Dari dokumen-dokumen ini aku dapat menyimpulkan bahwa, kau melakukan eksperimenmu sendiri tentang male pregnancy dengan cara mengosongkan DNA dalam mitokondria pada ovum dan menggantinya dengan DNA seorang laki-laki, kemudian menanamnya dalam tubuh seorang pria untuk kemudian dibuahi secara eksternal pada dinding perut. Di sini tertulis persentase keberhasilannya 50:50," terang Ibiki, membuat Sasuke merutuk dalam hati mengapa ia tidak membakar saja dokumen-dokumen itu sampai habis tak bersisa.

Shit.

"Jadi," lanjutnya, "mengapa kau menyembunyikan hasil risetmu yang luar biasa ini? Para ilmuwan di luar sana telah menghabiskan masa muda mereka yang berharga untuk mencari tahu kemungkinan terjadinya male pregnancy tanpa melibatkan surrogate mother, kau tahu? Kemudian meskipun kau menulis persentase keberhasilannya 50:50, tetapi aku yakin jika kau telah berhasil melakukannya, membuat seorang laki-laki bisa mengandung darah dagingnya sendiri."

Sasuke menggeretakkan giginya, "Kau—"

Ibiki menyeringai, "Ini harus segera dipublikasikan. Kau tidak tahu seberapa banyak terima kasih dari para pasangan gay di dunia luar sanayang ingin memiliki buah cinta mereka sendiri. Dengan penemuan ini maka kau akan menjadi terkenal dan kaya, serta akan semakin mengharumkan nama sekolah kita."

Brak!

Sasuke membenamkan kuku jemari tangannya pada permukaan meja kayu yang baru saja digebraknya, mengukir goresan panjang mengerikan. Raut wajahnya terlampau serius, "Cih! Kau pikir itu berhasil?"

"Huh? Apa maksudmu? Hal-hal menarik yang kau tulis pada dokumen-dokumen tersebut belum pernah terpikirkan di otakku sebelumnya. Dan setelah kubayangkan... kupikir apa yang telah kau pikirkan bisa menjadi sebuah kenyataan. Aku yakin 60 persen itu akan berhasil dilakukan," balas Ibuki yang kembali memejamkan matanya.

Brak!

Kembali Sasuke menggebrak meja untuk yang kedua kalinya.

"Itu gagal! Pria dalam percobaan itu akan meninggal karena di dalam tubuhnya tidak terdapat komponen yang mendukung perkembangan janin!" Giginya mulai bergemeletuk menahan amarah. "Semua catatan tersebut hanyalah omong kosong yang kubuat saat kalah dalam lomba karya ilmiah! Tak ada hubungannya dengan penemuan dan eksperimen..."

Pemuda itu berbalik pergi, memutar handle pintu dan mendesis.

"Sebaiknya kau buang catatan bodoh itu."

Sebelum melangkahkan kaki keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan debaman keras.

Ibiki Morino memandang kepergian Sasuke dengan tanda tanya terpatri di kepalanya. Ia memandangi dokumen-dokumen tersebut sebelum tersenyum misterius.

"Membuang dokumen ini? Mana mungkin aku akan menuruti omongan pemuda Uchiha yang naif itu."

. . .

"Menma, ayo kita pulang," bujuk Sasori yang entah keberapapuluh kalinya pada anak laki-laki kecil yang sekarang sedang asyik bermain di kotak pasir. Tentu saja anak itu tidak menggubrisnya, walaupun matahari yang terik terus menerus memancarkan panas menyengatnya.

Pemuda berparas manis dengan usia 20 tahun itu benci dengan suasana taman yang semakin siang justru semakin ramai dikunjungi orang. Ia memilih pergi berteduh ke bawah pohon besar yang ternyata banyak juga orang lain yang berada di sana.

Sasori menyandarkan punggungnya pada permukaan kulit pohon yang lumayan keras, namun berusaha membuat posisinya senyaman mungkin. Ia menoleh ke arah kiri dan mendapati seorang pemuda yang tertidur dalam posisi telentang dengan satu lutut tertekuk ke atas dan sebuah majalah shounen ternama yang menutupi wajah sampai kepalanya. Celana panjang kotak-kotak, kemeja putih dengan lambang Seishun Gakuen di saku depan, dasi panjang kotak-kotak, sepatu high-cut hitam polos... Sasori tertegun. Anak itu pasti sekolah di tempat yang sama seperti Sasuke—dilihat dari segala outfit yang dikenakan. Bukannya sekolah itu sekolah elit? Kenapa salah satu muridnya bisa ada di luar pada jam efektif seperti ini? Dan—

Sasori mengangkat sebelah alisnya ke atas, heran. Di lengan kanan pemuda yang tertidur tersebut terdapat sebuah badge platinum dan keterangan di bawahnya menunjukkan bahwa badge tersebut hanya dimiliki oleh ketua OSIS Seishun Gakuen. Dengan kata lain, anak yang sepertinya membolos dan asyik tiduran di sampingnya ini adalah salah satu orang penting di sekolahnya. Kok bisa ada ketua OSIS yang seperti itu? Apakah ini termasuk human error?

Srak.

Mata sang pemuda beriris deep brown terbelalak ketika pemuda yang sedang diperhatikannya itu mendadak bangun dari posisi tidurnya, menampakkan wajah cemberut pemuda berkulit cokelat eksotis dengan rambut kuning cerah yang jabrik dan berantakan. Pemuda itu menggaruk pipinya dengan kasar hingga memerah.

"Dasar semut kurang ajar, tidak tahu apa semalaman aku begadang sampai jam 3 pagi mengerjakan proposal festival tahunan sekolah? Tak perlu menggigit untuk menyadarkanku bahwa aku sedang kabur dari pelajaran! Huh, menyebalkan," gerutunya tanpa sadar jika orang di sampingnya terus memperhatikannya dengan tatapan 'what the?'.

'Ada-ada saja,' pikir Sasori sambil memejamkan matanya, mencoba untuk istirahat sebentar.

Sementara itu pemuda berambut kuning yang pipinya bentol memerah itu beranjak untuk membersihkan kotoran dan dedaunan kering yang menempel pada seragamnya. Ia menguap lebar dan mengucek mata ngantuknya yang berwarna azure.

"Saso-nii, mau balon!"

Menma berlari menuju ke arah Sasori yang dalam beberapa detik saja sudah pulas menuju alam mimpi. Uchiha muda itu cemberut dan berteriak-teriak di depannya.

"Saso-nii, balon! Saso-nii, balon!"

Tak mendapat respon dari baby sitter-nya, Menma mulai berkaca-kaca... namun sebuah tangan tiba-tiba menggandeng tangan kecilnya. Balita itu menoleh ke atas dan mendapati seseorang tersenyum padanya.

"Ssst... biarkan dulu aniki-mu istirahat, sepertinya dia lelah. Bagaimana kalau Nii-chan saja yang membelikanmu balon?"

Menma hanya diam, terpesona pada cengiran lebar pemuda yang sepertinya seumuran dengan Sasuke tersebut. Anak laki-laki itu mengangguk pelan dan membalas genggaman tangan sang pemuda padanya. Mereka berjalan menuju penjual balon yang nyaris tak terlihat akibat dikerubuti oleh anak-anak kecil.

"Ini untukmu." Pemuda itu menyerahkan sebuah balon berwarna kuning cerah yang senada dengan rona surai jabriknya. Menma menerimanya dengan gembira.

"Kiiroi!" teriaknya senang.

"Warna kuning berarti harapan," ucap si anak sekolahan yang kini berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan sang balita.

Menma mengedipkan matanya, "Apa itu harapan?"

"Eh, err... harapan itu... um, bagaimana menjelaskannya ya...?"

Menma memiringkan kepalanya penuh tanya.

"Namamu siapa?"

"Menma!" jawabnya tegas.

"Harapan itu... jika Menma menginginkan sesuatu, maka Menma bisa mendapatkannya." Ketua OSIS aneh dari Seishun Gakuen itu tersenyum lembut, meskipun ia sendiri tidak terlalu mengerti dengan apa yang barusan dikatakannya. "Nah, apa yang Menma inginkan?"

"Menma ingin..."

Namun senyum di wajah sang pemuda memudar dan berganti dengan ekspresi bingung ketika Menma tak meneruskan kalimatnya dan malah memilih melepaskan tali balon yang ada di genggamannya, membuat balon berwarna kuning yang terisi gas nitrogen tersebut membumbung tinggi terbawa angin dan semakin naik... naik...

Ketika sepasang iris azure kembali mengarah pada bocah Uchiha, anak kecil itu tiba-tiba terisak.

"Hiks, Me-Menma ingin bertemu tou-chan dan kaa-chan... hiks... huwaaa..."

"E-eh, lho kok malah menangis?" Pemuda bersurai kuning itu panik sendiri, ditambah lagi dengan tatapan mencurigai orang-orang yang menghujam ke arahnya. Mungkin mereka pikir pemuda itu adalah shotacon yang sedang mencari mangsa.

"Huwaaa... tou-chan... kaa-chan..."

"Cup, cup, Menma-kun, jangan menangis lagi... nanti Nii-chan belikan balon yang baru." Ia menghapus air mata yang terus bercucuran di pipi Menma, namun tidak bisa menghentikannya.

Di saat itulah Sasori yang mendengar tangisan Menma terbangun.

"Menma, ada apa?" Sasori berjongkok dengan cemas, memeriksa kalau-kalau ada bagian tubuh Menma yang terluka. Kemudian ia menoleh curiga pada pemuda berseragam anak sekolah yang sempat diperhatikannya tadi—yang kini terlihat sangat panik.

"A-ano... tadi balon miliknya terbang, jadi dia menangis. Aku sudah menawarinya balon yang baru tapi ia tidak mau. M-mungkin ia hanya mengantuk?"

Pemuda itu bernafas lega ketika Sasori mengangguk dan kemudian membawa Menma dalam gendongannya, mengusap kepalanya pelan dan kemudian pergi dari taman.

Pemuda tersebut memungut sebuah name tag miliknya yang baru ia sadari telah jatuh ke tanah. Name tag bertuliskan Uzumaki Naruto, yang merupakan namanya sendiri. Ia menggenggam erat name tag tersebut dan memandang langit dengan titik kuning kecil yang semakin menjauh.

"Doushite..."

Balon kuning yang diterbangkan Menma pun mengapung. Balon pembawa harapan yang diteriakkan penuh perasaan sambil memanggil kedua orangtuanya.

Deg.

"Jantungku berdetak begitu keras sampai sesak." Naruto memejamkan kedua matanya. "Apa anak kecil tadi senasib denganku, ya?"

つづく

Footnote

Chou: kupu-kupu

Kawaii: adorable; lucu; imut

Kiroii iro: warna kuning

Keitai: handphone

Surrogate mother: ibu pengganti

Shotacon: pecinta anak laki-laki kecil (?)

Doushite: kenapa/mengapa; how come

A/N: Yosha, selesai chapter 2! Chapter ini lebih panjang dan agak melenceng dari rencana saya, dan tentang male pregnancy itu saya banyak mencari referensi di internet sambil menyimpulkan sendiri ==a (maklum saya bukan anak Biologi, jadi kalau ada yang melenceng dari teori di atas mohon koreksi-nya). Tapi kalau dipikir-pikir memang bisa terjadi kok #plak. Oh ya, saya nggak pakai Konoha Gakuen tapi pakai sekolahnya Prince Of Tennis, Seigaku a.k.a Seishun Gakuen (namanya bagus :p).

Sedikit penjelasan tentang FF ini (dan curhatan tersirat Kouun si author *dibakar*), judulnya itu Chiisana Tenohira, artinya 'telapak tangan kecil'—judul ini diambil dari lagunya Aqua Timez yang waktu itu sedang Kouun dengarkan di radio saat tercipta ide membuat FF ini. Umur Sasuke sekarang 18 th (bikin anak waktu dia 14 th), Menma 3 th, Sasori dan Itachi 20 th. Menma anak kandungnya Sasuke, tapi karena berbagai alasan (yang akan dijabarkan di chapter-chapter selanjutnya) dia menyembunyikan identitasnya dan mengaku sebagai kakak Menma. Sasori itu pengasuh Menma dari lahir, dia dulunya ada sesuatu(?) sama Itachi tapi karena suatu masalah yg rumit *halah* jadinya saling dendam sampe sekarang. Um... apalagi ya, masalah alur cepat atau lambat dan flashback mungkin tergantung mood Kouun, fufufu... Kaa-sannya Menma? You already know the answer! (udah jelas, tho? XD). Sebenarnya Kouun bikin FF ini tuh karena tertarik banget sama issue-issue male pregnancy dan kemungkinan terjadinya (bakal sedikit rumit sih ==). Soalnya agak gimana gitu kalo baca FF mpreg yg tiba2 aja langsung beranak(?), hn... rikutsu janai~ *ditabok wajan panas*

Gomen ne, kalo banyak sekali typo dan apabila ada kata-kata Kouun yang menyinggung _

Special thanks: Mayyurie Zala, noirouge, Nia Yuuki, Leslayy, Amach cie cerry blossom, Subaru Abe, YukiMiku, Fuyuki SasuNaruLopher, kinana, Arum Junnie, kathleeya, Kamui Gakurin, Izca RizcassieYJ, who am I, Akira Naru-desu, kkhukhukhukhudattebayo, TheBrownEyes'129, Guest, Nayuya, Wookie, Yamashita Kumiko, Shin, Drack Yellow, Guest (1), oguri miruku, Guest (2), ukkychan. And silent reader. (YOU GUYS AWESOME! XD)

Jaa, ne!

Kouun.