Living Space
Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul
1
Mungkin matahari dan awan tidak memiliki konflik apapun siang ini hingga membiarkan bintang raksasa itu bersinar dengan cerahnya, menerangi seisi kota yang bisa terjangkau.
Membiarkan burung terbang dengan bebas. Mengizinkan pejalan kaki tanpa payung. Dan rumah-rumah tanpa tempias air pada teras mereka.
Dan di waktu-waktu seperti ini, yang Lee Taeyong biasa lakukan hanyalah fokus dengan berbagai gadget yang ada di sekelilingnya.
Sesekali mengintip keadaan kota dari jendela besarnya atau menjelajah isi kantornya sendiri.
Kalau sedang hari baik, temannya akan berkunjung ke kantornya, ke ruangannya. Membicarakan apa yang sewajarnya dua orang laki-laki dewasa dan mapan bicarakan.
"Biar kutebak, kau belum pernah mencoba satupun makanan dari restoran di belakang kantormu ini."
Taeyong mengangkat kepalanya.
Oh, rupanya hari ini adalah hari baik.
Lalu menggeleng.
"Geez, apa gunanya punya kantor di pusat kota?"
"Tanyakan itu kepada kakek ayahku."
"Dan menggali kuburnya, begitu?"
Lee Taeyong berdecih, di susul dengan suara sepatu dari temannya yang mendekat menuju meja kerjanya.
"By the way, di mana sekretarismu itu?"
Yang baru saja menutup kotak makannya langsung mengerjap kemudian menatap Johnny lagi. "Tentu saja istirahat makan siang, bodoh."
"Apa dia akan kembali dengan cepat?" Tanya Johnny lagi.
Oh ayolah, Lee Taeyong adalah bosnya!
Mau seberapa cantik atau berprestasinya sekretaris Kim Jisoo itu, tetap saja tidak akan mengubah Taeyong menjadi boyguardnya.
"You can ask her by yourself."
"Give me her number then."
"Aku akan memberikannya kalau kau sudah berani berbicara dengannya."
Yang diikuti dengan suara dengusan dan protes dari Johnny, "Come on, pal."
Namun Lee Taeyong enggan menghiraukan sahabatnya, memilih untuk menyandarkan diri di nakas kayu dengan cat hitam dengan halus itu.
Menyegarkan matanya dengan cahaya matahari yang bersinar dengan terang di titik bumi 127 derajat dari Greenwich.
Yah, sebenarnya tidak banyak juga yang bisa ia lihat.
Posisi ruangan yang berada di lantai-lantai teratas membuatnya begitu sulit untuk sekadar melihat apa yang terjadi di bawah.
Namun lebih ke depan, menatap banyaknya gedung-gedung pencakar langit lainnya.
"John,"
"Hm?"
"Kau mendapatkan tulisan itu benar-benar setelah bertemu dengan Jisoo?"
Laki-laki itu dapat mendengar dengan baik suara gesekan sepatu dengan lantai yang mendekat ke arahnya.
Menempelkan kepalanya dengan kaca besar di sisi kanan, "Tidak juga. Intinya saat aku pulang kerja dan membuka kemeja, tanda itu sudah ada."
Tanda.
Tulisan.
Tato.
Coretan.
Guratan.
Atau apalah, you named it.
Mereka semua merujuk ke satu bagian krusial pada kulit manusia yang baru akan muncul ketika mereka sudah menginjak umur –setidaknya– 20 tahun.
Itu yang orang dulu pikirkan.
Namun kenyataanya tidak selogis itu.
Mereka akan muncul ketika sudah menemukan pasangannya.
Ketika seseorang menemukan pasangan jiwanya, soulmate, baik disengaja ataupun tidak. Baik pertemuan yang memberikan kesan atau malah mereka sendiri tidak merasa pernah bertemu sebelumnya.
Sesulit itu, namun semanis itu juga.
Dan ketika orang-orang di sekelilingnya sudah mulai memiliki tanda itu di permukaan tubuh mereka, Lee Taeyong yang sudah dua puluh tujuh tahun bertarung dengan kerasnya dunia belum juga memilikinya.
Mungkin dia sudah mati bahkan sebelum bertemu denganku, pikirnya asal setiap kali teringat.
Johnny mendapatkannya di bagian yang agak tertutup, di bagian bahu. Membuat Taeyong tidak bisa melakukan apapun untuk membantu temannya membuktikan bahwa sekretarisnya itu adalah soulmate Johnny.
Θησαυρέ μου.
"Kau bisa membacanya?" Tanya Taeyong saat pertama kali melihat tanda di bahu temannya itu.
Lalu Johnny mengangguk, "Thisavre Mou. My treasure."
Taeyong hanya balik mengangguk saat Johnny mulai menyebutkan teori-teorinya.
Lalu temannya yang satu lagi, Jung Jaehyun, mendapatkannya di salah satu tempat yang semua orang inginkan, lengah bawah bagian dalam.
Membuatnya dengan mudah menemukan pasangan jiwanya, bahkan sejak masa kuliah.
La Vie.
Atau mungkin kita lebih mengenalnya dengan sebutan, "hidup."
Dan Jaehyun benar-benar menemukannya, berkaitan dengan "hidup" itu sendiri.
Seorang mahasiswa jurusan kedokteran semester lima, satu tahun di atasnya.
Yes, mahasiswa, bukan siswi.
Bahkan Ji Hansol yang tidak pernah disangka akan mendapatkan tanda itu sebelum Taeyong saja baru memilikinya tiga hari yang lalu ketika ia sedang menonton konser band favoritnya.
Iya, konser. Bersama ribuan orang lainnya.
"Bagaimana kalau aku berjodoh dengan Rina?"
Yang langsung mendapat toyoran dari Lee Taeyong, melupakan fakta bahwa Hansol lebih tua dibanding dirinya.
Dengan, sebuah simbol musical single bar note di lengan bagian bawah bagian luarnya, sisi lain dari posisi Jaehyun.
Jadi Taeyong dibuat menerka-nerka, tanda macam apa dan siapa yang akan ia dapatkan.
"Lee Taeyong,"
Suara Johnny menyadarkannya, membuatnya harus mengerjap beberapa kali untuk kembali berpijak. "Apa?"
"Aku kembali ke kantor, see ya." Ujarnya sebelum meninggalkan Taeyong dan pikiran yang masih menjadi bayang-bayangnya.
.
.
.
TBC
.
.
a.n: Jadi, di sini fantasynya. Semacam tanda yang akan terbentuk kalau kita udah nemuin soulmate. Yang suka ubek-ubek PlotIdeas on twitter atau NCT Scenarios on tumblr mungkin pernah nemu ini.
Dont forget to follow, fav & review! Thank you!
p.s: luCAS AKA YUKHEI WOOHOO!
