"Ketuklah sebanyak tiga kali pada pintu yang tertutup dari dalam ruangan, ketika pintu itu dibuka, maka pintu itu akan membawa anda ke tempat yang lain."

"Kau mau apa?"

"Mau coba mengetuk pintu ini," ujar Draco.

"Jangan bercanda! Hanya ada satu pintu keluar-masuk di perpustakaan ini, bagaimana jika misteri itu menjadi kenyataan?!"

.

.

Disclaimer: JKR.

Warning: AR tidak ada Voldemort, tahun ketujuh Harry dkk, DraMione, mungkin akan OOC dan akan ada OC, author tidak mengambil keuntungan apa pun.

.

.

Knock, Knock, Knock
Chapter 2: Sang Penjelajah

by Fei Mei

.

.

"Oke, jadi pintu itu sepertinya tidak terhubung dengan pintu lain," kata Hermione. Melihat Draco mengerutkan dahinya, ia pun melanjutkan. "Maksudku, pintu perpustakaan itu langung membawa kita ke pantai ini dan pintunya menghilang, kan? Jadi ini seakan kita tiba-tiba muncul di tempat ini, bukan seperti dari ruangan ... ah, pokoknys begitu, deh!"

Draco hanya tetap mengerutkan keningnya, masih tidak mengerti apa yang diucapkan Hermione. Tetapi memang, pintu yang membawa mereka ke pantai itu langsung hilang ketika Hermione menyusulnya.

Gadis berambut ombak itu memperhatikan sekelilingnya. Itu pantai asli. Tetapi mungkin mereka 'terdampar' di pinggiran pantai, karena gadis itu sama sekali tidak melihat adanya pondok atau manusia di sekitarnya. Ia pun mencoba melangkah maju untuk melihat tanda-tanda adanya manusia disana. Dan ia akhirnya melihat banyak sekali manusia berpuluh meter di depannya. Lalu Hermione pun menyadari satu hal.

"Kita ada di dunia muggle," ujar Hermione pelan.

Pemuda berambut perak yang mengikuti langkahnya dari belakang terkejut.

"D-Dunia muggle?! Ini pantai muggle?!" pekik Draco, memasang wajah horor.

"Tapi aku tidak tahu ini pantai di daerah mana," kata Hermione. "Yang pasti aku belum pernah kemari."

Seketika itu juga, tiba-tiba ada bola pantai yang terlempat ke arah mereka dan menggelinding di dekat kaki Hermione. Siapa yang melempar bola pantai sampai sebegitu jauhnya?

Hermione mengangkat bola pantai itu ketika melihat seorang anak perempuan kecil yang rambutnya diikat ekor kuda serta mengenakan pakaian renang bermotif bunga-bunga berlari ke arah Hermione, pasti ingin mengambil bola pantai itu. Hermione melihat anak itu berkulit agak kecoklatan, agak kontras dengan dengan warna kulit gadis sendiri. Saat anak kecil itu semakin dekat, Hermione bisa melihat bahwa wajah anak yang ingin mengambil bolanya ini bukanlah wajah orang Inggris, wajah itu wajah orang Asia.

Anak kecil tersebut mengucapkan sebuah kalimat yang tidak Hermione mengerti sama sekali. Jelas kalimat itu diucapkan tidak dengan bahasa Inggris. Anak kecil itu terus menunjuk bola pantai yang ada di tangan Hermione sambil mengucapkan kalimat yang sama –yang tidak dimengerti Hermione maupun Draco. Masih bingung, akhirnya Hermione berikan saja bola yang ia pegang, lalu anakkecil langsung berlari ke kerumunan orang banyak sambil membawa bolanya.

Hermione penasaran sekali, ia ingin tahu dimana ia sekarang. Ia berjalan maju dengan pelan di atas pasir, dengan Draco mengikuti di belakangnya. Ya, pemuda berambut perak itu sedang mati kutu, karena ia sedang berada di dunia muggle, dan ia hanya bisa merutuk di dalam hati.

Tiba-tiba mata gadis berombak itu menangkap sebuah bendera yang berkibar pada sebuah tiang yang ada di salah satu toko di sana. Bendera itu hanya memiliki dua warna: merah dan putih. Warna merah ada di bagian atas dan warna putih di bagian bawah.

"Itu bendera apa?" tanya Draco yang menyadari obyek yang Hermione lihat.

"Itu bendera negara Indonesia," kata Hermione. "Berarti kita ada di salah satu pantai yang ada di Indonesia."

Begitu tahu mereka sedang di Indonesia, gadis berasrama Gryffindor itu sangat berharap mereka ada di Bali. Itu karena ia tahu bahwa pulau Bali di Indonesia memiliki banyak turis, jadi pasti para pegawai tokonya bisa berbahasa Inggris. Hermione pun mencoba berjalan menuju salah toko yang cukup bagus di daerah pantai itu. Draco masih terus mengekorinya, sambil merasa tidak enak karena selama mereka berjalan menuju toko, banyak orang yang memperhatikan mereka. Mungkin karena Hermione dan Draco masih mengenakan seragam sekolah Hogwarts yang berlengan panjang dan berkesan resmi, sedangkan orang-orang yang ke pantai biasanya mengenakan celana santai, pakaian renang, dan kaus biasa.

"Kau mau apa di toko ini?" bisik Draco, begitu mereka memasuki sebuah toko yang ternyata adalah restoran.

"Aku ingin tanya apakah disini ada alat untuk aku bisa browsing," jawab Hermione.

Draco mengerutkan dahinya begitu mendengar gadis yang bersamanya menyebutkan kata 'browsing'.

"Aku ingin cari tentang mitos yang kau baca di perpustakaan tadi lewat internet," kata Hermione lagi.

Sekali lagi Draco mengerutkan dahinya. Apa itu 'internet'? Yang pasti ia tahu itu adalah istilah yang diucapkan oleh para muggle, makanya para penyihir tidak tahu menahu tentang kata itu.

Lalu Hermione pun mencoba mengajak bicara seorang pria yang kebetulan lewat –yang sebenarnya adalah pelayan disana-. Untungnya pelayan itu bisa berbahasa Inggris. Draco membiarkan Hermione bicara dengan pelayan itu. Ia mengerti pembicaraan kedua orang ini, tetapi ia tidak mengerti beberapa kosakata seperti 'komputer', 'ponsel', dan 'wifi'. Ketika Hermione mengucapkan 'terimakasih' dan pelayan itu meninggalkan mereka, gadis itu menghadap Draco.

"Di restoran ini ada kamar-kamar hotel di lantai dua dan tiga. Ada komputer di masing-masing kamar dan ada wifi untuk internet juga. Masalahnya, kita harus menyewa kamar kalau ingin pakai komputer, atau membeli makanan dan minuman jika ingin pakai wifi. Aku tidak ada ponsel dan tidak ada uang muggle juga," jelas Hermione.

"Repot banget, sih!" ujar Draco kesal. "Kenapa tidak pakai sihir saja?!" kata Draco sambil ingin mengambil tongkat sihir dari sakunya.

Tahu bahwa putra tunggal Lucius Malfoy itu ingin mengeluarkan tongkat sihirnya, Hermione langsung menahan tangan pemuda itu.

"Jangan!" kata Hermione, agak mendesis. "Kita di dunia muggle, kita bisa dikeluarkan dari Hogwarts kalau ketahuan memakai sihir di sini!"

"Bodoh, kalau ketahuan oleh pihak mentri atau sekolah, kita kan bisa meninggalkan tempat ini dan kembali ke dunia sihir!" balasa Draco mendesis.

"Aku tidak mau kalau sampai dikeluarkan!" kata Hermione marah.

"Itu urusanmu," kata Draco. "Lagipula yang ingin pakai sihir kan, aku. Kalau ketahuan ya, mereka hanya akan mengeluarkan aku, tetapi kau dan aku akan tetap bisa dibawa pulang ke dunia sihir."

"Tidak boleh begitu! Kita terjebak sama-sama di sini, jadi kalau sampai hanya kau yang dihukum karena melakukan hal konyol di sini, aku akan merasa bersalah!" kata Hermione.

"Eh? Jadi kau peduli padaku?" tanya Draco iseng.

Hermione terkejut akan pertanyaan Draco, dan merasa wajahnya agak hangat seketika. Belum gadis menjawab, tiba-tiba seorang gadis berwajah Asia yang sepertinya seumuran dengan mereka menghampiri dua remaja ini.

"Permisi," ujar gadis itu menggunakan bahasa Inggris. "Namaku Sari. Kulihat kalian berdua seperti sedang kesusahan. Mungkin aku bisa bantu?"

Hermione langsung menjawab pertanyaan gadis bernama Sari itu. Draco mendengar lagi-lagi Hermione menyebutkan istilah-istilah muggle yang ia tidak mengerti. Tetapi pemuda itu melihat senyum gadis yang terjebak bersamanya ini tiba-tiba mengembang, ia langsung tahu bahwa Hermione akan memberitahunya kabar baik.

Sari mengajak Hermione dan Draco naik tangga, menuju lantai tiga. Hermione memberitahu Draco bahwa Sari ternyata adalah salah satu penghuni kamar hotel di tempat itu, dan menawarkan Hermione menggunakan komputer di kamarnya.

Di kamar Sari, gadis yang berkata bahwa ia aslinya datang dari kota Jakarta itu langsung menyalakan komputer, membiarkan Hermione menggunakan internet, sementara Sari sendiri meninggalkan dua orang yang baru ia kenal di kamar –ia ingin kembali ke lantai satu

Walau Draco paling tidak suka segala sesuatu yang berbau muggle, ia akhirnya penasaran juga akan sesuatu yang bernama 'internet' itu. Hermione duduk di kursi dan berhadapan dengan layar komputer, sedangkan Draco berdiri di belakangnya sambil memperhatikan layar. Sungguh, ini pertama kalinya bagi seorang Draco Malfoy melihat apa yang muggle sebut sebagai 'komputer'. Astaga, bahkan ini pertama kali untuk Draco merasakan manfaat suatu hal yang bernama 'listrik'!

Dengan serius, Hermione mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan mitos yang menjadi kenyataan ini dengan bantuan Google. Mungkin sekitar 10 tab lebih telah ia buka, tetapi isinya hanya satu sampai dua paragraf penjelasan singkat soal mitos itu. Isi penjelasannya pun kurang lebih sama, hanya beda cara penyampaiannya saja.

Inti dari artikel-artikel itu adalah kalau mengetuk pintu sebanyak tiga kali dari dalam ruangan, maka ketika pntu itu dibuka akan membawa orang yang ada di dalam ruangan itu ke tempat lain. Jika orang terakhir dari ruangan itu menginjakkan kaki ke 'tempat baru' lewat pintu yang diketuk, maka pintu penghubung itu akan hilang sehingga orang-orang yang masuk ke tempat baru itu akan 'terjebak'. Orang-orang ini disebut 'penjelajah'. Itu saja isinya, dan Hermione serta Draco sudah mengetahui tentang hal-hal itu sebelum Hermione mencarinya di internet.

"Malfoy," panggil Hemrione, dengan nada lelah dan agak putus asa. "Kau masih ingat judul dan nama pengarang buku yang kau baca itu?"

"Judulnya 'Kumpulan Mitos: Masih Misteri', aku tidak ingat siapa pengarangnya," jawab Draco, yang sebenarnya sedang asyik memainkan lampu meja.

Hermione tidak melihat ke arah Draco sebenarnya, ia terlalu fokus untuk mencari artikel soal mitos. Andai gadis itu melihat aktivas si Malfoy, entah ekspresi apa yang akan gadis itu buat.

Mendengar jawaban Draco, Hermione mengangguk lalu ia mengetikkan 'buku Kumpulan Mitos: Masih Misteri' pada kolom pencarian di Google. Wajah Hermione langsung cerah begitu melihat adalah situs untuk mengunduh PDF buku tersebut, ia pun langsung mengunduhnya.

Tidak sampai semenit, PDF itu sudah siap dibaca Hermione. Dan ternyata artikel pada buku tersebut memang jauh lebih lengkap dibanding 10 tab yang gadis itu buka awalnya. Hermione langsung membacanya dengan cepat, lalu wajahnya memucat seketika.

Draco yang tadinya sedang asyik melihat benda-benda eletronik, kini melihat ke arah layar komputer –karena ia tidak mendengar suara gadis itu mengetik pada keyboard.

"Ada tiga cara untuk bisa kembali ke tempat semula," baca Hermione sambil mengeluarkan suaranya, begitu sadar Draco ikut melihat layar. "Yang pertama adalah secara manual, berarti sang penjelajah menggunakan transportasi biasa atau bagaimana pun caranya untuk menuju tempat asalnya. Tetapi ini sangat tidak disarankan. Misalkan awalnya si penjelajah mengetuk pintu kamarnya dari dalam sebanyak tiga kali lalu keluar lewat pintu itu (berarti pintu mistis itu akan hilang di tempat baru), kemudian ia menelepon keluarganya untuk menjemput atau dia sendiri cari transportasi agar bisa pulang. Saat ia berhasil pulang, kamarnya tidak akan ada, alias hilang, karena jika pintu kamarnya dibuka maka yang terlihat adalah tempat baru yang lain.

"Cara kedua dengan peruntungan. Coba saja masuk ke dalam suatu ruangan lalu tutup pintunya, setelah itu ketuk pintunya tiga kali. Jika beruntung, sang pejelajah bisa kembali ke tempat semula. Jika tidak beruntung, sang penjelajah akan masuk ke tempat yang berbeda lagi. Penjelajah bisa masuk ke tempat baru itu lalu mengetuk pintu lain, atau menutup pintu tersebut dan mengetuk tiga kali terus menerus sampai pintu itu membawa penjelajah kembali ke tempat asal. Jika berhasil kembali dengan cara ini, pintu yang awalnya diketuk (yang membuat penjelajah terjebak) akan menjadi pintu biasa lagi, lalu penjelajah akan mendapati bahwa ia seakan terjebak selama satu detik. Misal penjelajah mengetuk pintu kamar dari dalam tiga kali dan saat itu adalah pukul 11:00:03. Maka ketika ia berhasil kembali ke kamarnya dengan cara ini, ia akan mendapati jamnya menunjukkan pukul 11:00:04.

"Cara ketiga sekaligus yang terakhir, kurang lebih sama seperti cara kedua: mengetuk pintu tiga kali, pintu akan kembali normal, dan penjelajah akan mendapati dirinya hanya terjebak selama sedetik. Bedanya, untuk cara ini, penjelajah tidak perlu memakai untung-untungan bahwa pintu akan membawa penjelajah pulang setelah mencoba beberapa kali, karena cara ini pasti akan segera membawa penjelajah ke tempat asal dalam sekali coba. TETAPI cara ini hanya bisa dilakukan jika penjelajah dari tempat itu ada dua orang atau lebih. Dan agar sekali buka pintu langsung kembali, harus ada dua orang dari sekian penjelajah itu yang saling jatuh cinta satu sama lain. Jika penjelajah hanya dua orang, berarti keduanya harus saling jatuh cinta, agar bisa langsung kembali."

Usai Hermione membacakan secara lengka[ ketiga cara agar mereka bisa kenbali ke Hogwarts, kamar hotel itu langsung hening. Jelas. Ketiganya terdengar begitu ... aneh. Cara yang paling 'normal' adalah cara pertama, yakni manual, tetapi begitu mereka kembali ke Hogwarts berarti perpustakaan itu hilang. Cara yang ketiga itu seperti didramatisir –dan jelas tidak mungkin terjadi jika 'penjelajah' itu adalah Hermione Granger dan Draco Malfoy. Berarti mereka hanya tinggal untung-untungan. Tetapi mau sampai kapan?

Keduanya memikirkan baik-baik isi artikel itu. Antara percaya dan tidak percaya juga bahwa mitos ini ternyata menjadi kenyataan –'dan ini adalah salah Malfoy,' ujar Hermione dalam hati.

"Aku mau coba ketuk pintu itu," kata Draco sambil menunjuk pintu kamar itu dengan dagunya.

"Jangan bercanda! Aku masih agak lelah karena berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, dan lalu kau ingin menambah masalah lagi?!" bentak Hermione.

"Siapa yang mau menambah masalah, sih?!" balas Draco. "Kalau beruntung, kita bisa kembali ke Hogwarts lewat pintu ini, kan?! Da lagi jika pintu ini membawa kita ke tempat lain, ya sudah, kita tinggal coba lagi!"

"Bagaimana kalau tempat baru itu nantinya, misalkan, kita terdampar di daerah yang sedang perang atau apa?!" ujar Hermione, berdiri dari kursinya.

"Jangan pesimis, Granger! Jika kita tidak mencobanya, mau kapan lagi?!" kata Draco. "Cara yang ketiga itu berarti kau harus menunggu aku membalas cintamu dulu dan itu akan membutuhkan waktu selama berabad-abad untuk bisa terjadi!"

"Oh, oh, tunggu dulu," kata Hermione sambil melipatkan kedua tangannya di dada. "Aku harus menunggu kau membalas cintaku? Kau pikir aku sudah jatuh cinta padamu, begitu? Jangan bermimpi!"

"Hah, kalau aku sampai bermimpi kau jatuh cinta padaku, maka itu adalah mimpi buruk!" bentak Draco.

Hermione dan Draco terus bertengkar sampai pintu kar itu terbuka. Keduanya langsun terdiam, lalu melihat Sari masuk membawa nampan besar penuh makanan ke dalam kamar.

"Hei, aku mendengar suara teriakan dari luar, kalian baik-baik saja?" tanya gadis itu, Hermione dan Draco hanya menganguk pelan. "Aku ada beli makanan untuk kalian, kalian mau?"

Pertanyaan Sari dijawab oleh suara perut Hermione dan Draco yang keroncongan. Hermione mengucapkan 'terimakasih' lalu mengambil makanan yang dibawakan Sari. Dengan enggan Draco mengambil salah satu makanan.

'Huh, makanan muggle,' dengus pemuda berambut perak itu sambil mencoba makan.

.

.

TBC

.

.

A/N: Agak mendramatisir banget ya kayaknya fict ini. Hiks. Makanya Fei pun masukin ini ke genre drama. Pada pengen romance ya? Tapi kayaknya genre romance disini adalah genre ketiga, sedangkan di ffn genre-nya cuma bisa tag dua macem. Untuk tag genre fantasy itu Fei agak ragu antara fantasy atau suspense atau mystery.

Makasih banget buat yang udah read, review, fave, follow! Gak nyangka bisa dapat sejumlah itu di chapter pertama (ketawan selama ini sepi review #jleb). Maaf lama update-nya, soalnya kemaren-kemaren itu lagi ... mager *ditampar massal*.

Monggo review lagi~