"Hayato, lari!"

"Wha—" ia menoleh ke belakangnya dan juga kakak laki-lakinya. Menemukan kakak perempuannya yang berambut pink panjang tengah berjalan mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi makanan yang berasap ungu, "—a—aneki!"

"Che, sudah kubilang lari bukan?! Kau mau pingsan lagi karena makanan Bianchi?!" Kakaknya tampak menarik kerah belakangnya dan membawanya pergi menjauh dari kakak perempuannya yang bernama Bianchi.

Ia menyayangi keluarganya, ayahnya, ibunya, kedua kakaknya, dan entah kenapa guru piano yang selalu datang setiap tiga kali dalam satu tahun ke rumah untuk melatihnya bermain piano—yang entah bagaimana tidak lagi datang selama beberapa bulan ini. Terutama Gaspare, kakak laki-laki tertua yang meskipun terkadang menyebalkan selalu memperhatikannya dan mengajarinya banyak hal.

"Bagaimana janjimu mengajariku setelah aku selesai berlatih piano?!"

"Minimal sampai Bianchi capek mencari kita bodoh! Bersembunyi disini!" Mereka berdua masuk ke dalam lemari dan menunggu disana. Hingga suara pintu terbuka, menampakkan beberapa maid yang membereskan kamar tempat dimana mereka sedang bersembunyi.

"Sepertinya Nona Bianchi sedang mencari tuan muda G dan juga tuan muda Hayato."

"Mereka benar-benar akrab," suara tawa diiringi saat salah satu maid mengatakan hal itu. Dan suasana hening, beberapa saat sambil suara-suara benda yang dipindahkan terdengar, "—tetapi sayang…"

"Kenapa?"

"Kau tidak mendengar rumor yang menyebar di mansion?"

"Maksudmu rumor itu benar?" Suara mereka semakin pelan, namun Hayato mencoba untuk mendengar dan memajukan kepalanya hingga menempel di lemari, "—rumor tentang tuan muda Hayato yang ternyata bukan anak dari nona besar?"

"…apa?" G bahkan berbisik mencoba mengecilkan suara, kaget dengan apa yang ia dengar saat itu. Sepertinya kakak laki-lakinyapun juga tidak tahu. Namun tentu saja yang paling terkejut adalah Hayato yang membatu dan terdiam.

"Kudengar juga ibu kandung tuan muda adalah guru lesnya yang setiap tiga kali setahun datang dan mengajari tuan muda."

"Benarkah?! Pantas saja warna rambut dan iris mata tuan muda berbeda dengan tuan dan nyonya besar!"

Kakak laki-lakinya menoleh kearah Hayato. Ia sedikit bingung memang sejak awal kenapa warna rambut dan iris mata Hayato berbeda darinya dan juga Bianchi. Tetapi ini—

BRAK!

"T—tuan muda Hayato!"

Semua maid terkejut melihat Hayato yang tampak keluar dari lemari dan G yang tampak masih berada di dalam dan tampak menatap punggung Hayato yang bergetar.

"HAYATO!"

.

.

The Bond of Family

Rated : T

Genre : Family/Friendship

Main Character : Sawada Tsunayoshi, Giotto, Vongola 1st, Vongola 10th

Warning : Slight!BL (D18, 8059, 6927); CEDEF!Vongola1st; Semi-AR!Story; Bashing!Iemitsu.

.

.

Summary : Sawada Tsunayoshi (10 tahun) terdampar di Penjara Vendice karena tuduhan tidak benar yang disebabkan oleh kembarannya dan juga ayahnya. Tujuh tahun berlalu, Sawada Ieyasu—Giotto—ketua CEDEF, anak tertua dari keluarga Sawada yang hanya bingung jika adik bungsunya itu tewas menemukan fakta mengejutkan.

Bahwa selain Vongola yang dipimpin oleh adiknya menjadi kelompok mafia yang corruptdan rakus, juga berita tentang adiknya yang seharusnya sudah meninggal berada di Sicilly dan menuntut balas dendam atas apa yang terjadi 7 tahun yang lalu.

.

.

Katekyo Hitman Reborn belong to Amano Akira; Sawada Takeyoshi belong to Me.

Chapter 1—Hidden Storm and Adorable Sky

.

.

"Dimana Gokudera?!"

Pemuda berambut cokelat tua dengan warna mata biru tampak membuka kasar pintu ruangannya dan menemukan pemuda berambut hitam pendek yang tampak baru saja akan mengetuk pintu ruangan itu, "Yamamoto, dimana Gokudera?"

"Ah, kudengar ia mencari udara segar diluar. Mungkin ia akan kembali sebentar lagi."

"Tch, dasar tidak berguna. Yamamoto, aku ingin laporan keuangan kelompok Vongola dan jadwal pertemuan dengan kelompok Estarno," menyibakkan jubah hitamnya, ia tampak berjalan melewati Yamamoto yang hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

"Baiklah Takeyoshi!"

"Aku tidak memintamu untuk memanggilku dengan nama! Aku adalah bossmu," senyuman itu tampak menghilang, dan Yamamoto menatap kearah Takeyoshi yang meliriknya dengan tatapan dingin.

"...baiklah, boss."

Sigh, bagaimana ia berharap kalau ia menuruti perkataan Gokudera daripada memaksakan diri untuk menyerahkan laporan dan berakhir menemani boss mereka. Yamamoto Takeshi tidak pernah merasa cocok dengan Sawada Takeyoshi.

Namun kakaknya memintanya untuk menjaga Vongola. Sama seperti G yang meminta Gokudera menjaga Vongola, Asari Ugetsu meminta adiknya untuk menjaga Vongola dari Sawada Takeyoshi.

.

.

"Makanlah yang banyak, ramen ayahku benar-benar enak!"

Sora membawa Gokudera Hayato yang entah bagaimana berakhir mengikuti pemuda berambut cokelat itu. Jamnya untuk beristirahat sudah habis, tetapi karena perutnya berbunyi sesaat sebelum ia bisa melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.

"Kau terlalu memuji Sora, ramenku tidak seenak itu."

Gokudera melihat ayah dari Sora yang merupakan pria berambut putih yang mengenakan kacamata bulat. Sebenarnya kalau dilihat tidak ada sama sekali kesamaan antara ayah pemuda itu dengan pemuda didepannya, namun—ia hanya diam dan tidak mengurusinya.

Mungkin saja anak ini menurun pada ibunya.

"Haha—makanlah!" Inginnya menolak, namun ia ingat bagaimana Sawada Takeyoshi memaksanya untuk mengerjakan semua tugasnya hingga ia tidak bisa tidur dan juga makan. Saat ini ia ingin makan sedikit saja. Sora yang melihat itu seolah bisa membaca pikirannya, "—kau tidak akan mendapatkan masalah."

...

"Che," Gokudera tampaknya terluka harga dirinya. Entah kenapa ia merasa tenang dengan apa yang dikatakan oleh pemuda ini hingga ia percaya begitu saja. Dengan segera mengambil sumpit, ia menyerup makanan didepannya dengan segera.

"Siapa namamu?" Sora yang duduk didepannya tampak menompang dagunya dengan kedua tangan dan menatap Gokudera yang balas menatapnya, "—aku sudah memberikan namaku. Siapa namamu?"

"Gokudera—Hayato..."

Entah kenapa karena suara yang cukup mirip dengan Takeyoshi membuatnya menyerengit. Sungguh, rasanya ia seperti berhadapan dengan versi Takeyoshi yang lebih kalem—jauh lebih kalem.

"Gokudera kalau begitu," sekali lagi, karena suaranya yang mirip dan caranya menyebut nama Gokudera membuat ia menyerengit, "—apakah kau punya masalah Gokudera?"

"Apa maksudmu?"

"Kau punya mata yang sama denganku," Gokudera dengan segera menatap Sora, tenggelam dalam mata aunburn milik pemuda itu yang seolah menelannya dalam kegelapan yang berada diantara cahaya. Cahaya yang ia lihat dari pemuda itu saat ia tersenyum, "tetapi bedanya, aku tidak terlihat menyedihkan sepertimu~"

Seperti sebuah panah imajiner menombak dadanya dengan tulisan 'MENYEDIHKAN', dan Sora hanya tersenyum polos padanya yang tampak menundukkan kepalanya, "—bagaimana kalau kau keluar dari neraka itu? Ayahku tidak akan keberatan memiliki anak angkat satu lagi..."

...

"Ini bukan masalah neraka atau tidak," Gokudera meletakkan sumpitnya. Selera makannya menghilang begitu saja saat semua ini membicarakan tentang Vongola—secara tidak langsung. Dan ia berdiri begitu saja, "—aku tidak pernah dibutuhkan dimanapun. Bahkan di keluargaku sendiri..."

Sora mengepalkan tangannya dengan erat. Perkataan itu seolah kata-kata yang selalu ada di pikirannya.

"Kenapa mereka tidak menginginkanku?"

.

"Kenapa mereka membuangku Kawahira-san?"

"Makanya—" Gokudera yang sedaritadi menunduk tampak menoleh kearah Sora dan terkejut saat menemukan pemuda itu menangis. Tidak bersuara, namun air mata itu tampak begitu deras mengalir, "—ap—KENAPA KAU MENANGIS?!"

"T—tidak," Sora menghampus air matanya begitu saja, "—ha—hanya saja aku tidak... a—aku hanya merasa sedih mendengar perkataanmu."

"Che, seperti kau akan mengerti saja!" Gokudera berdecih dan memalingkan wajahnya. Berdiri akan pergi dari tempat itu, "—aku sudah membuang-buang waktu...walaupun lebih baik daripada harus berada disamping si brengsek itu. Tetapi..."

Gokudera bergumam tidak jelas, memasukkan kedua tangannya di kantung celana dan membuka pintu kedai itu.

"Ah Gokudera-kun," entah kenapa pemuda berambut perak itu tampaknya tertarik mendengarkannya, "kalau kau butuh tempat untuk beristirahat, aku tidak keberatan untuk membiarkanmu disini dan kita bisa berteman!"

...

"Berhentilah berbicara nonsen seperti itu bodoh! Kehidupanku tidak seperti yang kau bayangkan!"

BRAK!

.

.

"Kau tidak pernah mengatakannya padaku kakek tua..."

Pemuda dengan mata ruby—dengan warna rambut merah magenta yang ia dapatkan dari ayahnya dan mata dari ibunya—dan juga Bianchi—menatap pada ayahnya yang ada didepannya. Sudah beberapa minggu lamanya saat G—Gaspare dan juga Hayato mengetahui kebenaran tentang Hayato.

Dan sekarang, kakak tertua tampak berhadapan dengan ayah mereka. G—yang saat itu berusia 18 tahun tentu saja sudah memulai kesibukannya sebagai seorang tangan kanan calon penerus CEDEF—Sawada Ieyasu atau Giotto yang juga merupakan sahabat kecilnya.

"Lalu, membuatmu bersikap berbeda dari Bianchi? Sikapmu akan diketahui oleh keluarga famiglia lainnya. Kau hanya akan membuat kelompok ayah dan juga Vongola hancur."

"Jadi semua ini bukan karena perasaan Hayato?! Dan bodoh jika kau mengatakan aku akan memperlakukannya berbeda dari Bianchi! Hayato sama seperti Bianchi, dan sampai kapanpun mereka berdua adalah adikku," G menatap tajam ayahnya. Persetan dengan sopan santun dan semua pelajaran sopan santun yang diberikan ayahnya sejak kecil.

Susah mengatakan dan mengakuinya, namun G menyayangi adiknya. Kedua adiknya—Bianchi dan juga Hayato. Bahkan saat ia mengetahui jika adik bungsunya Hayato adalah adik tirinya.

Heck! Ia bukan bocah usia 12 tahun yang labil dan akan menjauh hanya karena keluarganya yang selama 10 tahun bersama dengannya bukan adik kandungnya.

Itu semua hanya sebuah hubungan darah.

"Aku tidak peduli selama itu tidak mempengaruhi Vongola dan famiglia kita."

...

"Meskipun aku membagi DNA denganmu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya kau pikirkan," ia mengeratkan kepalan tangannya. Meskipun ia berusia 18 tahun, dan merupakan kandidat terkuat dari tangan kanan pemimpin CEDEF, namun kedudukan ayahnya saat itu lebih memiliki kekuasaan darinya.

Ia masih bisa mengendalikan Vongola dan CEDEF melalui Sawada Iemitsu—ayah Giotto. Yang tidak pernah ia sukai sejak pertama bertemu. Begitu juga dengan Sawada Takeyoshi.

"Aku akan menjadi kuat. Membuat Hayato menjadi kuat dengan caraku sendiri, dan suatu saat aku yakin Hayato bisa membuktikan kalau ia bukanlah aib darimu. Ia akan berdiri lebih tinggi dibandingkan kau, dan saat itu aku akan meruntuhkan kekuasanmu."

Dan dengan cuek, G berbalik dan meninggalkan ruangan ayahnya. Tidak peduli jika ayahnya berteriak dengan nada amarah padanya. Dan malam itu, adalah malam terakhir G berada di rumahnya. Saat ia berselisih dengan ayahnya.

.

.

"G!" Suara itu membuat pemuda berambut magenta yang hendak membuka pintu dimana Giotto sudah menunggu menoleh. Menemukan Gokudera yang tampak berlari kearahnya, namun segera ditahan oleh beberapa pengawal disana, "G, kau mau kemana?! Kau sudah berjanji padaku untuk menemaniku bukan?!"

...

"Kau bohong! Kau jadi aneh saat tahu kalau aku bukan adik kandungku! Apakah kau akan bersikap seperti ayah juga?! Kau sudah berjanji kalau kau akan melatihku dan akan membuatku menjadi kuat bukan?!" sekali lagi tidak ada jawaban dari kakak sulungnya itu, "—jawab!"

"Itu tidak ada gunanya sekarang... kau yang sekarang, tidak akan bisa menjadi kuat... Hayato."

Ia tersentak. Tubuhnya membeku, sesaat sebelumnya ia mencoba untuk keluar dari dekapan pengawal dihadapannya, dan sekarang ia bahkan tidak melawan.

"Kau masih terlalu lemah, itulah sebabnya aku melakukan ini..."

Hayato tidak pernah melihat raut wajah dan tatapan G yang seperti itu. Ia seolah sedang melihat seorang yang asing disana. Itu bukan kakak yang ia kenal bukan? kemana G yang ia kenal—yang menyebalkan namun selalu menemaninya bahkan saat ia sedang sibuk dengan pelatihannya.

"HANYA KARENA ITU?! KAU BERSIKAP SEPERTI ITU HANYA KARENA ALASAN YANG SAMA DENGAN AYAH?!" Kali ini Hayato mencoba menerobos bukan untuk menghentikan kakaknya, namun lebih karena ia ingin mendengar lebih jelas, "—AKU AKAN MENJADI KUAT KALAU ITU BISA MEMBUATMU TIDAK MENINGGALKANKU! APAKAH KAU AKAN MENINGGALKANKU SEPERTI MADRE?!"

...

"JAWAB G!"

"...itu belum cukup," kaki jenjang kakaknya bergerak dan ia masuk ke dalam mobil mewah disana, "—aku tidak akan bisa bersama denganmu Hayato. Kecuali kau menjadi lebih kuat."

Pintu tertutup, mesin mobil menyala dan berjalan perlahan meninggalkan Hayato yang sudah tenang. Terlalu tenang—karena ia menahan amarah mendengarkan kata demi kata dari kakaknya yang tampak seolah menusuknya.

"...begitu? Aku akan membuatmu menyesal G! Aku akan menjadi kuat—lebih kuat darimu dan setelah itu aku akan mengalahkanmu hingga kau menyesal sudah meninggalkanku!"

Dan itu adalah tekad awal dari Hayato, yang tanpa sadar sudah menyadarkan flame storm miliknya.

.

.

"Yakin dengan apa yang kau lakukan G?"

"Tidak masalah," G menghela napas dalam mobil, menoleh pada jendela yang menunjukkan pemandangan mansion yang semakin menjauh. Ia mendengar, semua kata-kata yang diteriakkan oleh Hayato dari awal hingga akhir.

"...menyesal? Aku sudah merasakannya—" gumaman G tampak tidak terdengar oleh siapapun di dalam mobil itu selain dirinya.

.

.

"Aku sudah tidak butuh orang tidak berguna sepertimu! Meeting dengan mereka menjadi terlambat karena semuanya tidak ada di markas!"

Suara pintu yang tertutup terdengar memutuskan omongan dari orang yang ada didalam sana. Gokudera yang kemarin tampak terlambat berada di markas karena berada di Cielo Orphanage hingga malam diusir keluar oleh Takeyoshi yang moodnya sedang memburuk keesokan harinya.

"—sejak awal aku tidak setuju Vongola beraliansi dengan kelompok itu," ia berdecih dan menggaruk kepala belakangnya.

"Hayato—" suara itu membuat langkahnya terhenti. Ia melirik dari sudut bahu, menemukan pemuda berambut merah magenta yang tampak berjalan kearahnya. Tatapannya tajam, ia tidak suka dan tidak mau bertemu dengan kakaknya saat ini, "kudengar dari Takeshi kalau Takeyoshi melukaimu. Kau tidak apa-apa?"

"Che, kalau hanya lemparan seperti itu sudah membuatku tewas, aku sudah terbunuh sejak dulu," ia menepis tangan G yang akan melihat plester pemberikan Sora padanya itu, "—jangan bersikap seolah kau peduli padaku."

...

"Aku memang peduli padamu."

"Heh," Gokudera tampak mendengus mendengar pernyataan kakaknya. Peduli? Meninggalkannya sendiri selama 5 tahun lamanya hanya karena ia lemah? Ia bahkan membuang harga dirinya dengan masuk ke kelompok Vongola. Meskipun ia harus menjadi tangan kanan orang seperti Takeyoshi, meskipun itu artinya ia harus berada dalam lingkungan dimana G berada didekatnya, "—kau sudah tidak peduli padaku sejak 7 tahun yang lalu. Dan jangan mencoba mengelaknya."

Dan begitu saja ia pergi meninggalkan G yang tidak mengejarnya dan hanya menatap punggung Gokudera.

.

.

"Ah, kau datang lagi! Kalau tidak salah namamu Gokudera Hayato bukan?"

Gokudera tidak percaya pada apa yang ia lakukan. Ia tidak memiliki pekerjaan lainnya di markas setelah Takeyoshi memberinya 'libur/cuti' untuk hari ini. Dan entah bagaimana, kakinya tampak bergerak dan membawanya ke kedai ramen yang ada di dekat Cielo Orphanage itu.

"Aku ingin ramen ayam," ia akan tampak seperti orang bodoh yang berdiri mematung di depan toko jika ia tidak memesan sesuatu. Toh, ia belum sempat memakan apapun sebelum berada di markas. Saat Kawahira—yang menyambutnya tadi berbalik untuk membuat ramen pesanannya, Gokudera menoleh kearah sekelilingnya.

"Kalau kau mencari Sora, ia sedang pergi untuk menemani 'adik'-nya yang ingin membantu di kedai," perkataan Kawahira tampak membuat Gokudera tersentak dan sedikit kehilangan pertahanannya. Wajahnya memerah karena apa yang dikatakan oleh Kawahira tepat sasaran, "—kurasa Sora benar-benar hebat untuk membaca pikiran seseorang bukan?"

...

"Ia hanya orang yang banyak omong dan sok tahu. Kehidupanku baik-baik saja," Gokudera mencoba berdenial. Dan Kawahira hanya tersenyum sebelum menatap kearah cincin yang ada di jarinya.

"Vongola benar-benar berubah menjadi kelompok mafia yang jahat kau tahu?" Gokudera hampir saja tersedak karena perkataan Kawahira. Ia menatap tajam seolah mengatakan 'darimana kau tahu aku berasal dari Vongola?'

"Cincin itu cukup mencolok, terutama untukku," Kawahira tertawa santai seolah tidak melakukan apapun yang membuat Gokudera semakin kesal dan marah, "—oh hai Sora, I-Pin bagaimana 'pekerjaanmu' hari ini?"

"I-Pin benar-benar membantu," Gokudera menoleh dan melihat Sora bersama dengan seorang gadis kecil berusia kira-kira 10 tahun yang tampak membawa tempat mengantar ramen, "ia tersenyum dan menyapa orang-orang dengan sangat baik."

"Sora-nii benar-benar membantuku juga!"

"Ya-ya, ah—" Sora menatap kearah Gokudera yang memalingkan wajahnya, "—Gokudera-san, kau datang lagi!"

"A—aku hanya merasa lapar dan ingin makan di luar saja."

"Yang lainnya juga mencarimu, ayo!" Sora menarik tangan Gokudera menuju ke bangunan yang ada di dekat sana. Cielo Orphanage.

.

.

"Ah, itu Tako-head-nii-san!"

Anak-anak disana tampak menoleh ketika Sora datang bersama dengan Gokudera. Dan mendengar panggilan 'sayang' itu, wajahnya tampak memerah begitu saja. Bukan malu, tetapi marah akan panggilan untuknya dari anak-anak itu.

"Namaku adalah Gokudera Hayato, jangan panggil aku seperti itu!"

"Ayo main lompat-lompat lagi Tako-Head-nii-san!"

"Kalian—" Gokudera tampak kesal namun membiarkan tubuhnya ditarik oleh anak-anak itu. Sora yang melihat itu hanya tertawa dan menepuk tangannya untuk memberikan isyarat untuk tenang dan diam.

"Karena permainan kalian berbahaya, bagaimana kalau sekarang kita akan belajar bernyanyi?"

...

Semua anak tampak memucat saat mendengar Sora mengatakan itu. Gokudera sama sekali tidak mengerti, dan saat Sora berjalan dan duduk di depan piano, semua anak tampak segera menggerakkan tangannya menutup telinga mereka semua.

"Apa yang kalian—"

BRANG!

Rasanya ada bintang yang bertaburan didepan wajahnya. Diikuti dengan suara sumbang dari piano yang dimainkan oleh Sora, sementara anak-anak lainnya semakin menutup telinganya dengan erat. Nun jauh disana, tampak Kawahira sudah mengenakan penutup telinganya.

"STOP!"

Menghentikan segera permainan dari Sora, Gokudera menatap tajam Sora yang tertawa datar sambil menatap bingung Gokudera, "kalau kau tidak bisa bermain piano kau tidak usah bermain piano bodoh!"

"Te—tetapi tidak ada yang mau bermain piano tanpa dibayar, dan tidak ada kenalanku yang tahu cara bermain piano," Sora tertawa gugup sambil menggaruk kepala belakangnya. Gokudera menepuk wajahnya dengan keras sebelum menendang Sora dari tempat duduk piano itu.

"Cara bermain piano itu seperti ini!"

Sora yang masih mengaduh saat duduk di lantai dan mendengarkan bagaimana satu per satu not terlantun dari tangan Gokudera saat itu. Semua anak-anak tampak terdiam mendengarkan, sebuah alunan lagu yang tampak mengalir begitu saja.

...

"Caranya adalah begitu bodoh!"

"I—itu sangat indah! Tako-nii, mainkan lagi!" Dan segerombol anak-anak segera menabrak Gokudera yang membuatnya segera terjatuh dan mengaduh. Menatap kearah anak-anak itu yang tampak tersenyum, Gokudera yang menatap tajam mereka tampak menghela napas sebelum tersenyum.

.

.

"Aku mengirimkan laporan dari Juudaime untuk kalian."

Gokudera tampak memberikan beberapa map sambil membuka pintu sebuah ruangan. Dimana Giotto dan G tampak berada disana dan menoleh kearahnya. Gokudera tidak suka berada disini, menghindar dari kakaknya sejauh apapun—namun, jika pekerjaan ini bisa membawanya lebih cepat ke Cielo Orphanage, ia akan melakukannya.

Gokudera memang menjadi sangat sering berada disana, memainkan piano untuk anak-anak itu atau hanya mengobrol dengan Sora. Meskipun itu terjadi, saat Gokudera hanya sedang melewati tempat itu dan ditarik paksa oleh Sora, ataupun saat Gokudera hanya ingin memakan ramen Kawahira.

"Hayato-kun, apakah ada sesuatu yang menyenangkan akhir-akhir ini?"

Perkataan Giotto membuat Gokudera menoleh pada sahabat kakaknya itu yang bisa membaca pikiran dengan tepat. Entah kenapa selalu mengingatkannya pada Fuyona Sora. Kakaknya sepertinya juga memikirkan hal yang sama.

"Tidak ada," meskipun Gokudera memalingkan wajahnya, takut jika Giotto bisa membaca lebih jauh pikirannya, "—aku akan menghabiskan waktu istirahatku di luar."

Giotto dan G tampak saling bertatapan.

.

.

"Hei, Tako-nii datang!"

"Masih saja kalian memanggilku seperti itu?!"

Beberapa anak tampak menghampiri bersama dengan Sora yang berjalan menghampiri mereka. Gokudera memang kesal saat anak-anak itu mencoba memanggilnya seperti itu, namun pada akhirnya hanya pertengkaran mulut atau sedikit pukulan di kepala oleh Gokudera—yang berakhir dengan omelan dari Sora padanya.

Dan tentu saja tidak ada hari tanpa permainan piano dari sang Storm Guardian.

"Maaf merepotkanmu Gokudera-kun."

"Che," wajahnya memerah saat melihat Sora tersenyum padanya, "—aku hanya membalas karena ayahmu memberikanku ramen gratis setiap kali aku mampir."

"Tetap saja, anak-anak sangat senang dan selalu menunggumu untuk datang!"

Sora tersenyum sambil menelengkan kepalanya ke kiri. Pada akhirnya, entah kenapa ada sesuatu yang seolah mengikat Gokudera dengan Sora. Wajahnya ia palingkan dari senyuman menyilaukan itu, sekaligus menyembunyikan wajah merahnya.

"Ah, Tako-nii jadi seperti Takoyaki!" Taro tampak menunjuk kearah Gokudera yang wajahnya sangat memerah. Mendengar itu, Gokudera tampak memukul Taro yang mengatakan itu untuk menyembunyikan rasa malunya.

"HIEEE! Gokudera-kun!"

.

.

"Kau tidak masuk ke dalam?"

Pemuda yang mengintip dari luar tampak menoleh dan menemukan Kawahira yang tersenyum padanya sambil memakan ramen di tangannya, "—aku tidak keberatan kalau kau masuk dan mendengarkan dengan baik, tangan kanan pemimpin CEDEF sepertimu akan menjadi sebuah kehormatan untuk datang kemari."

G menatap kearah Kawahira yang tampak mengetahui siapa dirinya dan menatapnnya dengan tatapan curiga.

"Aku bukan musuh, kau bisa memastikan itu nanti. Bukankah permainan piano adikmu sangat bagus?"

"Aku tidak pernah melihat dan mendengarnya bermain piano lagi. Dan senyumannya itu, ia bahkan tidak pernah lagi tersenyum padaku seperti itu," G menghela napas dan menggaruk kepala belakangnya, "—aku tidak ingin senyuman itu menghilang begitu saja hanya karena kehadiranku."

...

"Yang bisa kuyakinkan saat ini adalah, ia berada di tempat yang lebih membuatnya bahagia daripada Vongola. Sadar atau tidak."

Kawahira tampak tersenyum dan menghela napas sebelum berbalik sambil mengatakan hal untuk terakhir kalinya, "—tetapi sepertinya kau terlambat."

"Huh?"

"Apa yang kau lakukan disini," G segera menoleh dan menemukan Gokudera yang menatapnya tajam. G tampak hanya menggaruk kepala belakangnya, menyadari kalau Gokudera menyadari keberadaannya. Tanpa tahu, apa yang terjadi sebelum ini.

.

.

Semua orang menikmati permainan langsung dari Gokudera begitu juga dengan Sora yang duduk agak lebih jauh daripada yang lainnya. Ia tersenyum saat Gokudera menyelesaikan permainannya dan anak-anak disana tampak senang dan menghampirinya.

Ia senang ada yang membuat anak-anak ini bahagia. Dan ia senang karena ia memiliki teman.

SREEET!

Suara samar membuatnya menoleh dan menatap kearah jendela yang ada didekat Gokudera. Menemukan pemuda berambut merah magenta yang ada disana sedang mengintip, mata cokelatnya membulat mengenal siapa yang ada disana.

"G-nii..."

.

.

"Jadi, bagaimana kau bisa berada disini?"

"Aku hanya kebetulan berada disini dan mendengarkan suara piano," G mencoba untuk menyembunyikan jika ia mengikuti Gokudera kemari. Walaupun sepertinya adiknya tampak tidak percaya padanya dan menatapnya curiga, "—lupakan itu. Tempat apa ini?"

"Panti asuhan, dikelola Kawahira-san dan juga Sorahuh dimana dia?" Gokudera menoleh pada Sora yang seharusnya berada di dekat sana dan sudah tidak ada dimana-mana.

"Kalau Sora-nii langsung pergi karena katanya ada urusan dengan Kawahira-jii-san!" Taro menunjuk kearah kedai ramen yang tampak cukup ramai dengan orang lain. Gokudera hanya sweatdrop dan G tampak menoleh bingung dengan orang bernama Sora.

"Aku akan kembali ke markas. Giotto bisa kabur dari pekerjaannya kalau aku meninggalkannya terlalu lama."

"Jangan sekalipun mengatakan pada orang lain bahkan Giotto-san tentang ini!"

"Ya-ya..."

Tidak ada yang menyadari jika beberapa orang tampak bersembunyi dan memperhatikan tempat itu. Memotret Sora beberapa kali hingga Gokudera keluar dari tempat itu dan kembali ke Vongola.

.

.

"Kau yakin dengan apa yang kau bawakan untukku ini?"

Seorang pemuda tampak membawakan beberapa foto pada pemuda yang duduk di kursi depannya. Mengangguk, pemuda berambut cokelat pendek dengan mata biru itu tampak memperhatikan satu per satu foto yang menampakkan Sora dan juga Gokudera.

"That Bastard..." Takeyoshi Sawada, meremas foto yang ada di tangannya dengan tangan yang gemetar. Ia sudah senang saat mengetahui tidak ada kabar dari saudara kembarnya itu. Namun sekarang, ia melihat bagaimana replika dirinya itu tampak sehat dan akan merebut sesuatu darinya lagi.

"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan..." Kedua pengawal tampak menatap sang boss dalam diam, "—hancurkan tempat itu..."

.

.

"Selesai juga..."

Gokudera tampak berjalan kearah pintu keluar dan akan keluar dari maskar untuk pergi kembali ke Cielo Orphanage. Tentu saja untuk bertemu dengan Sora dan juga yang lainnya. Sebelum mata emeraldnya tampak menemukan Takeyoshi yang menyilangkan tangannya dan menyenderkan tubuhnya di dinding dekat sana.

"Mau kemana kau Gokudera?"

"Hanya mencari udara segar, aku akan segera kembali saat jam istirahatku selesai Juudaime," Gokudera membungkuk sedikit sebelum ia bergerak hendak keluar dari ruangan itu. Namun, kerahnya segera ditarik, dan tampak pemuda berambut cokelat itu mendorongnya ke dinding. Menahannya untuk bergerak.

"Apakah sebegitu pentingnya tempat itu untukmu Gokudera Hayato? Hingga perhatianmu semua tertuju padanya," suara itu berbisik tepat didepan telinganya. Dengan nada dingin yang seolah membekukan gerakannya, "—kau memang tidak berguna di kelompok Vongola ini. Tetapi cincin itu memilihmu, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja..."

...

"Aku akan menghancurkan apapun yang merebut semuanya dariku..."

Dan apa yang ada di pikiran Gokudera hanyalah Sora.

.

.

Suara sirine mobil kebakaran itu terdengar memekakkan telinga. Gokudera berlari sekencang yang bisa ia lakukan, meskipun pada akhirnya hanya nyala api merah yang membakar habis bangunan berlantai 3 itu.

"Sora..."

"Aku melihat seseorang membakar bangunan ini beberapa saat yang lalu."

"Vongola... aku melihat lambang itu..."

Gokudera mendengar semua itu, membulatkan matanya dan menoleh pada orang-orang yang berbicara. Vongola. Kebakaran. Sawada... Takeyoshi.

"Gokudera-kun!" Ia menoleh dan menemukan Kawahira berlari kearahnya, "—Sora! Sora menerobos ke dalam karena I-Pin dan Taro masih ada didalam!"

Ia bahkan tidak perlu memikirkan apapun—untuk kakinya bergerak dan tampak menerobos api yang semakin besar membakar pintu depan bangunan itu. Kawahira tampak terkejut, sebelum sunggingan di wajahnya membentuk senyuman.

"Pada akhirnya badai akan menemukan langit yang tepat..."

.

.

"Signor G!"

Ia menoleh untuk menemukan Oregano berlari kencang dan berhenti di depannya. Dengan wajah panik dan pucat, ia tampak mengambil napas terlebih dahulu sebelum memulai laporannya yang mengejutkan.

"Vongola menghancurkan bangunan lain lagi," G menepuk kepalanya keras, laporan untuknya dan Giotto akan bertambah lagi, "—banyak yang melihat Hayato-san berada didekat sana dan laporan terbaru melihat kalau ia menerobos kobaran api di bangunan itu."

Kursi yang diduduki G tampak terjatuh, dan matanya membulat menampakkan ketakutan.

"Dimana..."

"Ba—bangunan panti asuhan di Sicilly—Cielo Orphanage."

.

.

"SORA!" Gokudera menutup mulutnya dan menatap seluruh bangunan yang sudah terbakar disana, "SORA JAWAB AKU KALAU KAU MASIH HIDUP! DAN PERCAYALAH KAU HARUS TETAP HIDUP ATAU AKU AKAN MENENDANGMU DARI NERAKA!"

Suara paniknya menggema, namun tidak ada sama sekali seseorangpun yang menjawab. Ia hampir saja menyerah saat suara piano sumbang tampak tertangkap oleh telinganya. Suara dan cara bermain yang payah—ia tahu kalau ia tidak akan salah mengenalinya.

Dan dengan segera ia bergerak dan menuju ke ruang bermain, mendobrak pintunya hingga terbuka dan menunjukkan Sora di depan piano bersama I-Pin dan juga Taro.

"SORA!"

"Gokudera-kun."

"Bodoh kenapa kau berada disini dan tidak pergi! Kau bisa mati disi—" Gokudera melihat kaki Sora yang tampak terluka parah, "—kakimu."

"I-Pin dan juga Taro tidak ingin keluar jika tidak bersama denganku, tetapi aku tidak bisa bergerak dari sini," Sora menyerengit saat mencoba untuk menggerakkan kakinya. Gokudera segera menahan tubuhnya, dan Sora hanya tertawa, "—mereka pingsan kehabisan oksigen. Bawa mereka berdua keluar Gokudera-kun."

"Bagaimana denganmu?!"

"Aku tidak mungkin pergi... dengan keadaan kakiku seperti ini."

"Aku tidak akan meninggalkanmu! Anak-anak itu akan membunuhku jika aku pergi dari sini tanpamu!" Gokudera mencoba untuk menggotong Taro dan I-Pin yang berada disana, membopong Sora yang mencoba untuk berjalan, "—bertahanlah, aku akan membawa kalian bertiga keluar."

Sora hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka berjalan, Gokudera mencoba untuk menghindarkan mereka berempat dari api yang menghancurkan perlahan bangunan yang ada didepannya. Suara lantai yang retak benar-benar membuatnya khawatir.

"Lantai ini tidak akan kuat menahan kita..."

"Apa yang kau—" Gokudera baru saja akan bertanya saat Sora mendorongnya begitu saja menjauh dari tempat mereka berpijak.

KRAK!

"SORA!" Gokudera tampak menatap horror bagaimana tubuh pemuda itu tampak terjatuh dari lantai retak yang menghubungkan lantai kayu itu dengan bagian bawah, "—SORA! SORA JAWAB AKU!"

Ia menghindar dari api yang menyebar kearahnya. Ia masih membawa I-Pin dan Taro. Ia tidak bisa turun begitu saja dan menyelamatkan Sora. Namun, jika tidak—maka Sora akan terbakar dan tewas disini.

"Apa yang harus kulakukan..."

"Tanganmu sangat indah untuk memainkan piano Hayato..."

Bayangan ibunya yang menyentuh tangannya dengan kedua tangan tampak membayanginya.

"Ibumu adalah guru les pianomu yang meninggal 6 bulan yang lalu..."

"Tidak..."

"Kau lihat bukan? Kau ditinggalkan karena kau lemah..."

"Tidak lagi..."

"Aku tidak bisa bersama denganmu karena kau lemah Hayato..."

Kakaknya yang meninggalkannya, hanya karena dia lemah. Kakaknya yang selalu ada, dan pada akhirnya meninggalkannya seperti ibunya yang tewas meninggalkannya sendiri. Dan sekarang—

"Kau sangat hebat Gokudera-kun! Itu sangat indah!"

"Aku tidak ingin ditinggalkan lagi... Tidak sekarang," ia melihat kearah Sora yang membuka matanya perlahan. Menatap kearahnya sebelum tersenyum.

"Pergilah... Hayato, ini... bukan salahmu..."

Tidak... tidak. Tidak...

"AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANMU SAMPAI KAPANPUN!" Gokudera menatap kearah Sora yang perlahan kehilangan kesadaran, dan tidak menjawabnya lagi, "SORA!"

Ia harus meninggalkan tempat ini, minimal menyelamatkan kedua anak di gendongannya saat ini. Tetapi Sora—

"Apa yang harus kulakukan..."

"HAYATO!" Suara itu membuatnya membulatkan matanya dan menatap kearah lainnya. Menemukan kakaknya yang menerobos kebakaran, menatap kearahnya dan berlari hingga kehadapannya, "—kenapa kau ada disini?! Kau harus pergi dari sini bodoh!"

"Aku tidak akan meninggalkan Sora! Aku tidak akan meninggalkannya seperti kau meninggalkanku dulu!" G membulatkan matanya saat mendengar perkataan Gokudera. Menemukan ide yang lebih bagus, ia segera menurunkan I-Pin dan Taro memberikannya pada G, "—bawa anak-anak ini! Aku akan menyelamatkan Sora!"

"Hayato!" G tampak membawa kedua anak itu, dan terkejut saat menemukan G yang segera melompat kebawah. Ia bergerak mendekat, menemukan Gokudera yang bersama dengan seorang yang familiar.

"Takeyoshi...?" G melihat lebih jelas, dan matanya semakin membulat saat tahu jika itu bukanlah Takeyoshi.

"...Tsuna...yoshi?"

.

[Chapter 1—Hidden Storm and Adorable Sky ]

.

[ Next! ]

"KARENA KAU YANG MEMBERITAHUKAN PADA SI BRENGSEK TAKEYOSHI SORA-SAN TERLUKA SEPERTI INI!"

.

"Aku tidak memberitahukannya Hayato... bukan aku yang melakukannya."

.

"Tolong G-nii... Jangan katakan jika aku masih hidup pada Giotto-nii-san..."

.

"Jagalah dia untukku Tsunayoshi..."

.

"Aku disuruh oleh Giotto-san untuk menemanimu, Nana-san..."

.

"Kalau saja kau bertemu dengan Tsu-kun, ia pasti akan sangat senang bertemu denganmu... Takeshi-kun."

.

"Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk... meskipun aku tidak suka, dan tidak ingin berada di dunia ini. Aku hanya ingin mengembalikan kakakku..."

.

"Kau adalah adik yang baik Takeshi-kun... dan kurasa, Asari-san akan mengerti apa yang kau inginkan..."

.

"Aku bertemu dengan seorang yang sangat baik Nana-san... Namanya adalah Fuyona Sora."

.

"Sora... Tsu...kun."

[ Coming Soon! Chapter 2—Calming Rain and Lonely Mother ]

.

Oke, Chapter 2 sudah selesai dengan cukup panjang :')) ada yang menunggu? Disini Goku sudah ketemu sama Tsuna dan mengikat hubungan spesial. G tahu kalau Sora itu Tsuna? Bisa dilihat nanti di chapter selanjutnya~

Takeyoshi saya bikin jadi... sedikit Seme. Seme maksa yang kayaknya posesif dalam segi negatif dan ga mau guardiannya sampai direbut orang lain.

Nah loh, gimana sama pairing yang ada di pengumuman? Silahkan lihat saja nanti~

Makasih buat nanykitsune, Cocoa2795, Natsu Yuuki, Zee Cielova, Aozora27, Hikage Natsuhimiko (Takeyoshi itu flamenya sama kuat sama Tsuna n Giotto bahkan mungkin lebih kuat. #... alasannya silahkan ikuti ceritanya XD), dwinur . halifah . 9, zhichaloveanime, Chris, Axerleoulus Xenon Xelvarixion, Caeliayuuki (Iemitsu belum meninggal :3), Allen491.