My Overprotective Brothersby
CherryKnight23
.
.
.
Hai semua… aku kembali lagi membawa fict abal ini.
Apakah masih ada yang bersedia membacanya ?
Hehehe, kalau begitu selamat membaca ya ! ^_^a
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishismoto
Story ©CherryKnight23
Rate : T
Genre : Romance, Drama, dan SEDIKIT humor(maybe)
Warning : OOC, AU, Crack Family, Mainstream, Typo(s), Lebay
dan mungkin masih banyak lagi
.
.
.
Don't Like Don't Read !
Chapter 2
Penat.
Itulah yang dirasakan oleh gadis merah muda ini. Sesampainya di rumah, Sakura langsung merebahkan dirinya di sebuah tempat tidur mewah berukuran King size yang ada di kamarnya.
"Fuih, lelah juga hari ini." Gumamnya pelan. Dia kemudian beranjak dari tidurnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah itu, dia menuju ke ruang makan.
"Saku-chan, hari ini Kaa-san membuatkan makanan kesukaanmu untuk merayakan hari pertamamu masuk sekolah." Ucap seorang wanita cantik berambut merah dan bermata emerald dengan gembira.
"Hm… terima kasih Kaa-san." Sakura pun segera bergabung dengan Sasori dan Gaara yang sudah duduk dari tadi. Mereka pun makan dengan tenang.
"Oh iya, bagaimana hari pertamamu masuk sekolah Saku ?" Tanya Ibunya dengan wajah penasaran.,
"Biasa saja, tapi ada sesuatu hal yang membuatku kesal, ralat, sangat kesal." Jawab Sakura sambil memanyunkan bibirnya. Sedangkan Sasori dan Gaara yang merasa bahwa diri mereka yang Sakura maksud mendongakkan kepalanya.
"Apa yang membuatmu kesal, nak ?" Tanya Ibunya lagi. Sakura melirik kedua kakaknya yang tengah menatapnya dengan penasaran.
"Kaa-chan tahu kan kalau aku masih belum mengenal betul Konoha, karena selama tiga tahun aku homeschooling dan aku juga jarang keluar. Nah, pagi ini Gaara-nii dan Sasori-nii menyuruhku untuk membawa mobil sendiri. Aku hampir saja telat, apalagi di jalan aku sempat tersesat. Untung ada seorang siswa sekolahku yang mengantarku." Jelas Sakura dengan wajah yang semakin dibuat cemberut.
Gaara dan Sasori saling berpandangan lalu saling meluncurkan deathglare. Sakura menghela nafas gusar sedangkan ibunya menatap ketiga anaknya dengan tatapan 'Dasar anak muda zaman sekarang.'
"Ini semua salahmu!" Bentak Sasori tiba-tiba pada Gaara. Membuat Gaara menatap tidak suka pada kakaknya itu.
"Apa maksudmu? Kau sendiri yang meninggalkan Sakura sendirian tadi pagi." Ucap Gaara tidak mau kalah.
"Salahkan saja dirimu dan rapat bodohmu itu." Sasori tetap tidak mau disalahkan. Gaara memutar kedua bola matanya.
"Kau juga, kenapa lebih mementingkan klubmu itu!"
"Pokoknya ini semua salahmu!"
"SALAHMU!"
"SALAHMU!"
"SALAHMU!"
"SALAHMU!"
"SALAHMU!"
"DIAAAAAAAAAAAAAAAMMMMM!" Suara Sakura yang maha dahsyat itu mampu menghentikan debat sang duo Red-head itu. Gaara dan Sasori memandang takut kearah adiknya. Keringat dingin sebesar biji jagung itu menetes di kedua pelipis pemuda tampan tersebut. Dengan cengiran lebarnya, Sasori langsung merangkul Sakura.
"Saku-chaaan, jangan marah ya…. Hehehehehe." Bujuk Sasori. Sakura dan Gaara memutar kedua bola mata mereka. Mereka merasa heran sendiri. Sasori adalah yang tertua diantara mereka bertiga, tapi kelakuannya yang paling kekanakan.
"Jadi..Onii-chan ku yang imut ini ingin dimaafkan?" Goda Sakura sambil sedikit menyeringai. Sasor i mengerutkan keningnya.
"Kenapa hanya aku? Lalu bagaimana dengan si panda merah itu?" Bantah Sasori sambil menunjuk Gaara dengan telunjuknya. Membuat Gaara mendelik kesal ke arahnya.
"Cih! Asal kau tahu ya, Sakura sudah memaafkanku dari tadi." Ucap Gaara dengan percaya diri.
"Itu juga berlaku untukmu, Panda-nii!" Ucap Sakura sambil tersenyum manis yang dibuat-buat. Gaara menatap Sakura dengan wajah kesal, yang benar saja. Sasori tertawa melihat ekspresi Gaara. Sakura kemudian menarik nafas panjang.
"Baiklah, aku akan memaafkan kalian tapi dengan beberapa syarat." Ucap Sakura, membuat kedua kakaknya terdiam.
"Pertama, jangan pernah menyewa mata-mata untuk mengawasiku. Kedua, kalian harus mengantar jemputku setiap pergi dan pulang sekolah. Ketiga, patuhi kedua syarat itu dan biarkan aku bebas dari kalian selama di sekolah." Jelas Sakura. Gaara dan Sasori terdiam dengan mulut menganga, yang benar saja! Membiarkan Sakura tanpa pengawasan itu benar-benar hal yang tidak bisa dilakukan oleh Sasori dan Gaara.
"Sa..Sakura-chan... bisakah syaratnya lebih ringan sedikit?" Tawar Sasori dengan senyum super manisnya. Sakura memalingkan mukanya. Kemudian pergi berlalu begitu saja dari ruang makan itu. Rin yang sedari tadi melihat kelakuan anak-anaknya hanya tersenyum lembut dan terus melanjutkan makannya. "Benar-benar damai..."
Di Kamar Sakura
Sakura saat ini tengah duduk di sebuah kursi malas yang ada di kamarnya sambil membaca sebuah novel. Sesekali gadis itu menguap bosan. Sakura kemudian bangkit, dia merasa tidak tertarik lagi membaca novel itu. Sakura lalu berjalan menuju balkon kamarnya. Udara malam ini dingin sekali sampai-sampai membuat tubuh Sakura menggigil. Akhirnya, Sakura memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan segera tidur.
Keesokan Harinya
"Sakura-sama, sudah waktunya anda bangun dan bersipa-siap ke sekolah. Kaito-sama dan yang lainnya sudah menunggu di ruang makan." Ucap seorang pelayan yang memang ditugaskan untuk melayani segala kebutuhan Sakura.
"Hoaamm.." Sakura menguap karena merasa masih mengantuk."Arigatou, Meiko-san." Ucap Sakura. Meiko hanya tersenyum sambil membungkuk. Sakura kemudian bangkit dan menuju ke kamar mandi. Meiko segera merapikan tempat tidur Sakura.
Di Ruang Makan
"Aku yang akan berangkat dengan Sakura hari ini." Ucap Gaara setelah menghabiskan sarapannya. Sasori mendelik tidak suka ke arahnya.
"Enak saja! Aku yang akan berangkat dengan Sakura. Kau kapan-kapan saja." Ucap Sasori. Kaito dan Rin Cuma bisa mengelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putranya yang begitu berlebihan kepada adik perempuannya.
"Sasori, Gaara, Biar Tou-san yang mengantar Sakura." Ucap Kaito yang berusaha menengahi perselisihan anaknya.
"Tou-san tidak boleh ikut campur!" Ucap Sasori dan Gaara sambil menatap tajam Kaito dan kemudian kembali berdebat. Namun baru beberapa menit berlangsung, kedua pemuda berambut merah itu baru menyadari apa yang abru saja dilakukannya. Dengan gugup Sasori dan Gaara menoleh perlahan kearah Kaito yang sedang duduk menatap mereka dengan wajah yang datar.
"Ehm... ba..baikalah, biar Tou-san yang mengantar Sakura." Ucap Saori di ikuti oleh anggukan Gaara. Namun Kaito masih tetap memadangi mereka datar.
"I..iya, Saku akan berangkat dengan Tou-san." Ucap Gaara ogah-ogahan. Kaito hanya menyeringai mendengar penuturan kedua anaknya itu. Gadis yang menjadi topik utama dari ketiga pria itu baru saja datang dan memandang ketiganya dengan pendangan bingung.
"Ada apa dengan kalian, Tou-chan? Nii-chan?" Tanya Sakura sambil mengoleskan selai coklat di rotinya namun Sasori segera mengambil alih dan mengoleskannya untuk Sakura. Gara pun tidak tinggal diam, dia menuangkan susu strawberry ke gelas Sakura.
"Arigatou Nii-chan." Ucap Sakura sambil tersenyum manis kepada kedua kakanya itu. Kaito dan Rin yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian, acara sarapan keluarga itu selesai. Sakura, Gaara dan Sasori segera beranjak dari meja makan. Sasori dan Gaara sengaja mempercepat gerakannya dengan tujuan agar Ayah mereka lupa dengan mengantar Sakura. Tapi usaha mereka sia-sia.
"Ehem!.." Terdengar suara Kaito yang sengaja berdehem cukup keras. Dengan senyum manisnya Kaito kemudian merangkul pundak Sakura. "Kau berangkat bersama Ayah, sayang." Ucap Kaito. Sakura mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian dia mengangguk dan tersenyum senang kepada Ayahnya. Sasori dan Gaara menggeram kesal. Rin hanya tersenyum kecut melihat kedua putranya yang sekarang terlihat begitu kesal.
Ayah yang pengertian, bukan?
***MOB***
Sakura POV
"Haahh.."
Aku menghela nafas panjang. Ini pertama kalinya aku berangkat dengan Tou-chan. Telingaku mungkin akan segera berdengung karena mendengar celoteh Tou-chan yang panjang dan lebar itu. Untung saja kami akhirnya sampai di depan gerbang Konoha Elite High School. Aku mencium pipi Tou-chan, lalu segera keluar dari mobil dan melambaikan tangan padanya.
"Jaa ne.. Tou-chan!" Ucapku saat mobil Tou-chan meninggalkan sekolah. Aku mengedarkan pandanganku mengamati suasanya di sekolah itu. Sekolah memang masih terlihat agak sepi, menginhat pelajaran baru akan dimulai setengah jam lagi. Lalu pandanganku ku arahkan ke tempat parkir. Hm? Diamana mobil Gaara-nii dan Saso-nii? Bukannya tadi mereka berangkat lebih dulu?
Flashback
Aku cuma tersenyum kecut menanggapi cerita Tou-chan mengenai pekerjaannya, teman-temannya, bahkan sampai pada bulan madunya.
"Lalu, kau tahu apa yang diakatakan Rin saat tahu bahwa ternyata dia salah sangka karena mengira aku selingkuh? Mukanya benar-benar merah, benar-benar menggemasakan sehingga aku tak tahan untuk tidak menyerangnya. Dan setelah beberapa minggu kemudian, Rin pun mengandungmu." Ucap Tou-chan.
What! Jadi aku dibuat karena insiden perselingkuhan? Aku memandang sebal pada Tou-chan yang masih sibuk dengan ceritanya. Tiba-tiba...
Wusshh!
Aku mengalihkan pandanganku ke jendela mobil. Aku bisa melihat dua mobil yang melaju kencang menyalip mobil kami. Aku tahu itu mobil Saso-nii dan Gaara-nii. Kencang sekali. Aku bahkan hanya bisa mengedipkan mataku berkali-kali. Kemudian ku coba menoleh ke arah Tou-chan yang entah kenapa berhenti bercerita. Dugaanku benar, Tou-chan kini menatap marah kearah dua mobil yang kini sudah berada jauh di depan kami. Aku menelan ludahku, Tou-chan dan menghitung detik-detik Tou-chan akan meledak. 3...2...1...
"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! BERANI SEKALI MEREKA ITU! TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN! PULANG NANTI AKU AKAN MENYITA MOBIL MEREKA! LIHAT SAJA NANTI!" Teriak Tou-chan marah.
Aku menutup kedua kupingku. Aku akan meminta pertanggung jawaban kepada si duo red-hair itu jika benar-benar ada masalah dengan telingaku ini.
End Flashback
"Kemana kedua Aniki baka itu?" Ucapku kesal karena teringat dengan kejadian tadi. Benar-benar menyebalkan!. Akhirnya ku putuskan untuk melakukan sesuatu dari pada hanya berdiri dengan wajah kesal di sini. Oh, aku baru ingat, sejak kedatanganku di sekolah ini, aku bahkan sama sekali belum melihat sekeliling. Siapa tahu aku menemukan hal yang menarik.
End POV
Sakura melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri koridor sekolah. Meliah-lihat ruangan kelas, klub, aula, pokoknya semuanya akan Sakura jelajahi, begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh Sakura sekarang. Namun saat melewati sebuah ruangan yang pintunya bertuliskan "MUSIC'S ROOM". Sakura terhenti. Matanya melihat sekeliling.
" Aku rasa sudah melewati tempat ini duak kali..." Gumam Sakura pelan. Sakura merutuki dirnya sendiri. Sudah tahu dia anak yang buta arah, masih saja nekat mengelilingi sekolah yang luasnya tak terhitung ini. *Plak! Heheh Lebay*
"Aku harus bagaimana? Pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi, kenapa tidak ada satu orang pun disini sih?" Ucap Sakura dengan mata yang berkaca-kaca. Apalagi saat dia menyadari bahwa Handphonenya tertinggal di mobil ayahnya tadi.
Krieet..
Tiba-tiba pintu ruang musik itu terbuka. Dan muncul seorang pemuda berambut biru donker dengan model yang mirip seperti pantat ayam. Begitulah pikir Sakura saat melihat pemuda itu. Mata Onyxnya menatap Sakura dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya suara yang maskulin Sasuke. Sejujurnya dia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang sudah merebut perhatiannya sejak kemarin. Hal itu membuatnya sedikit senang, walaupun rasa senangnya tertutupi oleh wajah datarnya. Sakura yang ditanya seperti itu, mengerjapkan matanya. Dia sempat terpesona dengan kedua mata onyx Sasuke yang menurutnya indah itu.
"Engh.. ano.. apa kau bisa menunjukan jalan ke Diamond-class?" Tanya Sakura gugup saat menyadari dari tadi pandangan Sasuke terus tertuju padanya. Sasuke menahan tawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut mungil Sakura.
"Kau tersesat? Di sekolah sendiri?" Ejek Sasuke. Sakura mengerucutkan bibirnya.
"Jangan mengejekku. Salahkan sekolahnya yang terlalu luas." Ucap Sakura. Sasuke akhirnya benar-benar tertawa kali ini. Walau tawanya tidak keras, tapi benar-benar manis. Sakura tadi berfikir kalau Sasuke itu anak yang dingin dan galak. Tapi melihatnya tertawa manis seperti sekarng, membuatnya membuang jauh-jauh pemikirannya itu.
"Berhentilah tertawa, kau membuatku malu tahu." Ucap Sakura dengan bibir yang masih mengerucut. Sasuke hanya tersenyum kecil. Dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, bahkan didepan Naruto dan yang lain, dia bahkan tidak pernah tertawa seperti ini, paling dia hanya tersenyum kecil jika menurutnya ada yang lucu. Tapi hari ini, gadis musim semi itu berhasil membuatnya tertawa hanya dengan kata-kata polosnya.
"Hn. Siapa namamu?" Tanya Sasuke. Meskipun dia sebenarnya sudah mengetahui nama gaids di hadapannya itu, namun dia ingin mendengar langsung dari mulut Sakura.
"Haruno Sakura. Dan kau? " Tanya Sakura kembali. Menurutnya percuma memakai marga palsu lagi, pasti seluruh sekolah sudah tahu siapa dia mengingat insiden kemarin di parkiran sekolah.
"Uchiha Sasuke." Ucap Sasuke seraya berjalan santai melewati Sakura. Sakura terdiam. Kemudian berbalik dan mengikuti Sasuke.
"Hey, kau tidak mau menunjukan jalan padaku?" tanya Sakura. Sasuke menyeringai kecil.
"Kau tahu? sekarang itu sudah tidak ada yang gratis Sakura. Kalau kau mau minta bantuanku, maka harus ada imbalannya." Ucap Sasuke. Sakura mendelik kesal. Bukannya dia bisa mendapatkan apa saja yang dia mau? Mengingat marga Uchiha yang disandangnya? Tapi kenapa masih minta imbalan? Dasar Uchiha matre.
"Kau mau imbalan? Memang kau mau apa?" Tanya Sakura kemudian. Sasuke terdiam sebentar. Kemudian menyeringai kecil. Telunjuk Sasuke kemudian mengarah ke arah pipi kanannya. Wajah Sakura merona saat mengetahui apa yang diinginkan oleh si bungsu Uchiha itu. Cium? Si pantat ayam itu ingin dicium di pipi kanannya itu?
"Tak ku sangka kau itu mesum, Uchiha-san." Ucap Sakura sambil melipat kadua tangannya di depan dada walau masih ada sedikit rona mera di kedua pipinya. Sasuke hanya mengangkat kedua pundaknya cuek.
"Ya sudah kalau kau tidak mau, asal kau tahu, pelajaran akan dimulai 30 detik lagi." Ucap Sasuke sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Sakura segera melihat jam tangannya dan benar tinggal 30 detik lagi.
'Bagaimana ini? Cium? Tidak! Cium? Tidak! Cium atau kau merusak reputasimu dan membuatmu mendapat gelar anak baru yang suka membolos, kau pilih mana ?' Batin Sakura. Sasuke sebenarnya hanya mengerjai sakura saja, karena entah kenapa melihat ekspresi kesal di wajah gadis itu merupakan kesenangan tersendiri baginya.
"Hn... sudahlah aku hanya bercanda, ayo ikuti aku." Ucap Sasuke sambil melangkahkan kakinya pergi. Sakura menatapnya dengan ekspresi kesal, walau pada akhirnya dia tetap mengikuti kemana pemuda itu melangkah.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, Sakura dan Sasuke hanya saling mendiami, tidak ada satu pun yang ingin memulai pembicaraan.
"Oh iya, yang aku katakan soal tidak ada sesuatu yang gratis itu bukan candaan. Aku ingin meminta imbalan darimu." Ucap Sasuke yang akhirnya bosan dengan keheningan tadi. Ucapkan selamat pada si bungsu Uchiha itu, karena berhasil memerankan sifat yang bukan sifatnya.
"Kau benar-benar minta imbalan? Kau menginginkan aku mencium pipimu itu?" Tanya sakura polos. Membuat Sasuke untuk berusaha menahan tawanya.
"Kalau kau mau, dengan senang hati." Sahut Sasuke sambil menyeringai. Membuat Sakura sedikit merona karena melihat seringai Sasuke yang so sexy itu. Entah kenapa jantungnya serasa berdebar-debar saat ini.
"Tidak, terima kasih." Jawab Sakura yang kni berhasil menetralkan detakan jantungnya yang sempat berdetak jauh dari kata normal tadi.
"Kalau begitu, lakukan sesuatu. Seperti, membuatkan aku makan siang misalnya." Kata Sasuke.
"Hm.. makan siang ya? Boleh juga. Tapi hanya sekali yaa.." Ucap Sakura sambil tersenyum lebar pada Sasuke.
Ctak!
"Aaw! Ittai! Baka! " Sakura mengaduh kesakitan ketika Sasuke dengan tiba-tiba menyentil dahinya yang bisa dibilang lebar itu.
"Enak saja hanya sekali. Kau harus membuatkanku makan siang, sebanyak pintu yang akan kita lewati sampai ke kelas. Jadi mulailah menghitung pintu dari sekarang." Ujar Sasuke sambil memalingkan wajahnya yang sedikit merona karena melihat senyum Sakura tadi.
"Hufft.. Baiklah Sa-su-ke-sa-ma." Ucap Sakura dengan malas-malasan sambil mengeja nama Sasuke. Walau begitu, debaran di dada Sakura masih belum juga berhenti. Melihat itu, Sasuke menyeringai tapi tidak terlihat oleh Sakura.
Poor you Sakura. Tidakkah kau sadar arti dari seringai si bungsu Uchiha itu. Dan tidakkah kau sadar kalau sedari tadi dia sudah mengambil jalan memutar sebanyak tiga kali?
***MOB***
Hinata menghampiri Sakura yang sibuk membereskan alat-alat belajarnya. Bel istirahat memang baru berbunyi satu menit yang lalu. Tapi gadis Hyuuga ini benar-benar sudah tidak sabar untuk segera mengisi perutnya.
"Sakura-chan ayo ke kantin, aku sudah sangat ingin mengisi perutku." Ucap Hinata sambil memegang perutnya. Sakura terkekeh pelan dan mengangguk. Hinata pun menggandeng tangan Sakura dan segera pergi menuju ke kantin Diamond-class.
"Kita mau duduk dimana, Hinata?" tanya Sakura sambil memperhatikan sekeliling, berudaha untuk menemukan meja yang kosong.
" Hey Hinata! Sakura!...disini!" Sakura dan Hinata segera mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara itu. Disana terlihat Ino dan Tenten sedang melambaikan tangannya ke arah Sakura dan Hinata. Tanpa pikir panjang lagi, sakura dan Hinata pun menuju ke tempat mereka.
"Hey! Aku sudah memanggil kalian dari tadi, tapi jakian sama seklai tidak mendengar, menyebalkan!" Ino mengembungkan pipinya menatap ke arah Sakura dan Hinata.
"Hehehe.. maaf." Ucap Sakura sambil menjulurkan lidahnya membuat Ino mendengus.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Hinata sambil menatap Ino, Sakura, dan Tenten. Tiga orang yang merasa dipandangi itu hanya mengangguk.
"Aku pernah mengantar Sakura ke ruang kepala sekolah waktu dia baru pertama kali masuk ke sini." Jawab Tenten.
"Aku dan Sakura pernah tidak sengaja bertabrakan, lalu kami berkenalan." Jelas Ino. Sakura hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Ino dan Tenten, lalu dengan cuek dia mulai membaca menu yang ada di buku menu, memilih makanan apa yang akan dipesannya.
"Tapi... kenapa kalian bisa ada disini? " Tanya Hinata bingung. Bukankah Ino dan Tenten dari Gold-class? dan Bukannya mereka juga punya kantin sendiri?
"Khusus untuk hari ini. Ada yang ingin aku tanyakan pada Sakura." Jawab Ino sambil meminum jus melonnya. Sakura yang mendengar namanya disebut mengalihkan tatapannya dari buku menu dan menatap Ino heran.
"Ada apa denganku?"
"Hehehe...ada apa dengan yang kemarin? Kenapa Sasori-senpai dan Gaara-senpai begitu tertarik denganmu? Sasori-senpai bahkan merentangkan tangannya di depan mobilmu seolah tidak ingin membiarkanmu lewat? Apa hubungan kalian? Apa kalian terlibat cinta segitiga? Atau mungkin kau membuat masalah dengan kedua Senpai itu? Atau ada yang lain?" Tanya Ino cepat dan hampir berteriak. Membuat semua siswa yang sedang menikmati makanannya memandang sebal kepada salah satu anggota OSIS itu, namun Ino sama sekali tidak peduli, karena saat ini Ino sedang berada dalam mode penasaran tingkat akut, membuat Sakura yang ditanya menaikkan sebelah alisnya dan menatap Ino heran.
'Jadi belum ada yang tahu? Ku pikir setelah kejadian kemarin semua sudah jelas. Pantas saja dari tadi semua siswa memandang aneh ke arahku' Batin Sakura sendiri merasa heran, bukankah kemarin semua sudah jelas? Lalu...Cinta segitiga? Dengan kedua Red-Hair itu? Oh, yang benar saja!
"I..Ino.. kalau bertanya itu pelan-pelan, jangan ngebut seperti dikejar setan begitu." Nasehat Tenten yang juga ikut bengong mendengar pertanyaan super panjang kali lebar kali tinggi itu. Ino hanya menjulurkan lidahnya sambil menggaruk kecil kepalanya yang tidak gatal. Di sekolah ini, Ino memang dikenal sebagai anggota OSIS yang cerewetnya minta ampun. Segala hal yang menyangkut siswa dan siswi KEHS harus dia ketahui, dengan alasan mencegah terjadinya sistem ketidakadilan antar siswa. Benar-benar alasan yang tidak masuk akal.
Di sisi lain, terliaht seorang pemuda tampan berambut biru donker yang sedari terdiam, mata onyxnya terus saja memandang satu objek yang sama. Gadis manis berambut merah muda yang saat ini sedang menikmati makan siang bersama teman-temannya. Hal itu membuat keempat sahabatnya ini jengah.
"Woy Teme! Kalau kau tidak mau memakan makananmu, biar aku saja yang makan. Melamun di depan makanan itu tidak baik loh.." Ucap Naruto yang mulai kesal diabaikan oleh mahluk berambut pantat ayam itu. Pasalnya, sudah sekitar 20 menit yang lalu dia mengoceh namun sama sekali tidak di pedulikan oleh Sasuke. Neji, Sai, dan Shikamaru memandang bosan ke arah dua pemuda itu.
'Sebentar lagi perang pasti terjadi.' Batin ketiga pemuda itu.
"Berani kau menyentuh makananku ku pastikan kau tidak akan bisa lagi memakan ramenmu, Dobe." Akhirnya keluar juga suara dingin nan tajam yang sudah sedari tadi di tunggu oleh pemuda pirang itu. Naruto menyeringai.
"Masih memandang Sakura-chan?" Goda Naruto dengan nada yang terdengar begitu menyebalkan bagi Sasuke. Membuat Sasuke mengalihkan pandangannya dan menatap Naruto tajam.
"Hn. Bukan urusanmu!" Dengus Sasuke seraya meminum jus tomatnya.
"Tentu saja ada, Sakura itu kan adik sepupu kesayanganku!"
Ppfffttttt!
Sasuke sukses menyemburkan kembali jus tomat yang baru saja akan melakukan perjalanan ke kerongkongan Sasuke. Keempat sahabatnya memandangnya illfeel. Yang benar saja, seorang Uchiha Sasuke baru saja melakukan suatu tindakan yang benar-benar tidak Uchiha sama sekali. Oh, ayolah! You know what I mean.
"Kau jorok sekali Teme!" Naruto kesal karena semburan Sasuke tadi sedikit mengenai wajahnya. Sasuke sama sekali tidak peduli dan malah melemparkan tatapan menuntut penjelasan pada Naruto.
"Apa? Ada apa dengan tatapanmu itu, hah?" Tanya Naruto yang masih membersihkan wajahnya dengan tissue.
"Sakura-chan itu sepupumu, Naruto?" Tanya Sai yang menyadari sifat Sasuke yang malas bicara itu. Neji dan Shikamaru juga menatap Naruto menuntut penjelasan. Naruto yang ditatap aneh oleh keempat sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas.
"Yeah, dia sepupuku. Ibunya, Haruno Rin adalah saudara ibuku." Jawab Naruto.
"Tapi bukannya marga ibumu Uzumaki ?" Tanya Shikamaru.
"Ibuku dan Ibu Sakura itu adalah keturunan Clan Senju, Uzumaki itu marga nenekku sedangkan Haruno berasal dari Kakekku. Clan Senju itu nenek moyang kami yang berasal dari keturunan raja-raja." Jelas Naruto. Shikamaru, Sai, Neji, dan Sasuke hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Naruto.
"Lalu, kenapa kau belum juga menyapa sepupumu itu Naruto?" Neji yang sedari tadi diam mulai ikut bertanya.
"Tentu saja sudah. Tapi secara tidak langsung sih..." Jawab Naruto sambil menyenderkan badannya ke sandaran kursi. Keemat sahabatnya memandangnya heran.
"Apa maksdumu dengan 'secara tidak langsung' itu Dobe?" Tanya Sasuke. Naruto melirik Sasuke sinis. Yang benar saja! Para sahabatnya yang biasanya diam dan dinginseperti patung itu sekarang berubah menjadi sekumpulan pemuda yang cerewet.
"Kenapa kalian tiba-tiba berubah cerewet seperti ini sih?!" Naruto mengacak-acak rambutnya dengan gusar. "Baiklah, kujelaskan tapi Cuma sekali!"
"Hn."
"Hmm.."
"Mendokusei..."
"Ya."
Mendapat respon para sahabatnya yang terlihat tidak peduli itu membuat Naruto memanyunkan bibirnya kesal. Dia kemudian menghela nafas panjang.
"Baiklah... Sakura-chan itu satu-satunya keturunan perempuan dari clan Akasuna, jadi sejak kecil dia sangat dijaga ketat. Dia bahkan tidak pernah bersekolah diluar lingkungan rumahnya. Sejak kecil dia belajar dengan sistem homeschooling." Naruto berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
"Kenapa protective sekali?" Komentar Neji heran.
"Yah.. begitulah, Ayah Sakura-chan itu takut kalau terjadi apa-apa dengan anak perempuan satu-satunya itu. Ah iya! Aku lupa, saat itu Sakura-chan pernah bersekolah diluar, tapi itu tidak lama, salah satu teman sekelasnya tidak sengaja mendorongnya hingga terjatuh dan mimisan. Sejak saat itu Sakura-chan belajar dirumah." Lanjut Naruto.
"Dari penjelasanmu tadi, aku tidak dapat menyimpulkan alasan kenapa kau menyapa Sakura dengan tidak langsung..." Ucap Shikamaru. Naruto tertawa kecil.
"Itu hanya kata pengantar..." Jawab Naruto tanpa dosa, dan langsung disuguhi tatapan mematikan dari keempat sahabatnya itu, membuatnya hanya bisa meneguk ludah.
"Baiklah...baiklah...!" Ucap Naruto menyerah. "Selain dijaga ketat oleh Ayahnya, Sakura-chan juga disembunyikan keberadaannya dari publik. Yang oralng lain tahu itu bahwa keluarga Akasuna hanya mempunyai dua anak laki-laki, Sasori-nii dan Gaara -nii. Alasannya karena Ayah Sakura-chan takut kalau ada orang yang mengincar Sakura-chan hanya untuk menjatuhkannya." Naruto kembali berhenti untuk mengambil nafas.
"Tapi aku heran... kenapa kalian ingin tahu soal Sakura-chan?" Tanya Naruto sambil memandangi sahabatnya satu persatu. Shikamaru, Neji, dan Sai menoleh ke arah Sasuke.
"Apa?" Tanya Sasuke yang merasa heran dengan tatapan sahabatnya.
"Seandainya saja aku tidak tertarik dengan Ino, si gadis dari Gold-class itu,mungkin aku sudah terpesona pada Sakura-chan, tapi sekarang aku tidak terlalu peduli Naruto, tapi karena Sasuke tertarik dengan Sakura-chan aku juga jadi ikut tertarik." Jawab Sai dengan senyum palsunya. Bukan rahasia lagi kalau sedari dulu Sai sudah menaruh perhatian lebih kepada si gadis pirang itu. Entah kenapa, sejak dia pertama kali melihat Ino, Sai tidak pernah bisa menghapus bayangan Ino dari fikirannya. Jaid dia terus saja memperhatikan Ino, walau dari jauh.
"Mendokusei... alasanku kurang lebih sama dengan Sai. Seandainya saja aku belum bertunangan , aku sudah mengincar sepupumu itu Naruto. Tapi melihat sasuke, yah.. apa boleh buat." Ujar Shikamaru sambil menguap bosan. Shikamaru memang sudah ditunangkan dengan seorang gadis dari Suna yang bernama Temari yang juga adalah sahabatnya dari kecil, dan dia sudah lama menyukai gadis itu.
"Dan jangan tanya aku, alasanku juga hampir sama dengan mereka." Jawab Neji sambil menyeruput minumanya. Sama seperti Sai, pemuda Hyuuga ini juga tertarik dengan seorang gadis dari Gold-class. Seorang gadis yang merupakan juniornya di klub Karate. Ya, dialah Tenten. Dia tertarik kepada gadis itu sejak gadis itu pernah berhasil menonjoknya saat latihan.
"Hooh.. begitu.. dan untukmu Sai! Jangan sembarangan memanggil Sakura-chan dengan sebutan '-chan', mengerti?" Naruto menatap Sai dengan tatapan mematikan, namun hanya dibalas dengan senyum tanpa dosa oleh pemuda berkulit pucat itu. Sebenarnya sudah dari tadi Naruto mencoba bersabar saat mengetahui kalau teman-temannya yang lain itu hampir saja mengincar Sakura. Untung saja sahabtnya yang lain itu sudah memiliki seseorang yang spesial masing-masing.
'Cukup Teme saja, aku tidak bisa membayangkan jika Sai, Neji, dan Shikamaru juag menyukai Sakura." Batin Naruto.
"Urusai! Lanjutkan saja ceritamu Dobe!" Pinta Sasuke sambil mengalihkan wajahnya yang sedikit memerah. Sai, Neji, dan Shikamaru cuma menyeringai kecil, sedangkan Naruto memasang wajah malas, namun tetap melanjutkan ceritanya itu.
"Baiklah Teme...sampai dimana tadi?" Tanya Naruto malas dan sukses membuat keempat sahabatnya itu terjatuh dari tempat duduk dengan posisi yang tidak elit sama sekali.
"sampai di Ayah Sakura yang takut ada yang mengincar anaknya." Jawab Neji yang sudah kembali stay cool. "Dan langsung saja ke intinya, Naruto! Alasan kenapa kau hanya bisa menyapa Sakura secara tidak langsung!."
"Wakatta..wakatta! Jadi, selain dijaga ketat oleh Ayahnya, Sakura juga juga punya dua Aniki yang sangaat OVERPROTECTIVE padanya, bahkan lebih parah dari Ayahnya."Jelas Naruto.
"Jangan bilang kalau kedua Aniki Sakura itu Gaara-senpai dan Sasori-senpai." Sai mulai bergidik membayangkan sesuatu yang tiba-tiba terlintas dipikirannya.
"Yup! Seratus untukmu Sai, Sasori-nii dan Gaara-nii adalah kakak Sakura-chan. Bayangkan! Aku berkunjung kerumah Sakura-chan saja diberi batas waktu. Aku Cuma bisa ngobrol dengannya maksimal 25 menit. Benar-benar menyebalkan." Naruto mulai kesal mengingat dirinya tidka bisa bebas bersama sepupu kesayangannya itu.
"Jadi itu yang membuat Sasori-senpai dan Gaara-senpai tidak membiarkanmu bserbicara langsung dengan Sakura-chan?" Tebak Sai masih dengan senyum palsunya itu.
"Bukan, dan hey! Sudah kubilang jangan panggil Sakura-chan dengan emebel-embel '-chan'! kau itu keras kepala sekali." Naruto mulai naik darah menghdapi Saiyang menurutnya sangat-sangat menyebalkan itu.
"Lalu apa alasannya?" Tanya Sai tak peduli dengan omelan Naruto. Membuat Naruto semakin kesal.
"Dasar mayat hidup!" Geram Naruto kesal. "Alasannya karena aku pernah mengatakan pada Sasori-nii kalau aku menyukai Sakura-chan, dan kau tahu apa yang dilakukanoleh salah satu dari duo Red-Hair itu? Dia langsung menyeretku keluar dan melarangku berbicara dengan Sakura-chan. Untung saja kami masih bisa berkomunikasi lewat handpone, email, dan jejaring sosial. Aku tidak bisa membayangkan seandainya Gaara-nii juga ada disitu. Kedua laki-laki itu benar-benar menyeramkan." Naruto bergidik saat mengingat kembali momen-momen yang 'wah' itu.
Flashback
"Sasori-nii! Yang aku maksud bukan perasaan khusus antara pria dan wanita! Aku menyukainya sebagai adikku!" Teriak Naruto yang tidak rela kerah baju belakangnya diseret 'dengan indah' oleh si pemuda baby face itu. Sampai mereka sampai di depan pintu kediaman Akasuna.
"Aku tidak peduli alasanmu! Yang jelas cepat kau pergi dari sini! Dan jangan harap kau bisa bertemu dengan Sakura lagi!" Sasori tetap menyeret Naruto tanpa memperdulikan protes dari pemuda berambut pirang itu.
"TIDAAAKKKKKK!"
"Jangan berteriak disini!"
Naruto tetap berusaha untuk masuk masuk kedalam kediaman Akasuna itu, namun Sasori sama sekali tidak membiarkannya.
"Heh? Kau mau merasakan bantinganku rupanya." Ucap Sasori dingin sambil membunyikan jari-jarinya.
'krek...krek..'
Naruto menelan ludahnya dengan susah payah. Merasakan bantingan? Dari seorang karateka bersabuk hitam? Oh tidak! terima kasih. Sasori kini berjalan pelan mendekati Naruto dengan mengeluarkan aura yang sangat tidak bersahabat. Naruto secara perlahan ikut mundur juga. Keringat dingin mulai membanjiri tubuh pemuda berambut pirang itu.
"Sa..Sasori-nii, aa..aku akan p..pp..pulang sekarang, hehehe, a..aaku pulang ..sekarang." Ucap Naruto gugup. Tiba-tiba 'rasa' aneh menghampirinya. Perasaan yang membuatnya benar-benar ingin buang air kecil sekarang. Saking ketakutannya dirinya sehingga 'perasaan laknat' itu datang dan membuatnya benar-benar ingin buang air kecil.
"Naruto, kau tidak suka menarik kata-katamu bukan?" Tanya Sasori dengan nada yang menyeramkan. Naruto yang sudah tidak bisa menahannya lagi akhirnya mengeluarkannya di depan Sasori.
'persetan dengan Sasori-nii! Aku tidak peduli lagi!' Jerit batin Naruto.
Sasori menatap horror pada Naruto. Baru saja dia akan membanting Naruto, pemuda itu malah pipis seenaknya di hadapannya. Apalagi ini di depan rumahnya, sekali lagi pemirsa NARUTO PIPIS DI CELANA DI DEPAN RUMAHNYA! Oke capslock jebol.
"Aaakkhhhh! Ini semua karena kau Sasori-nii! Kau membuatku merusak harga diriku sendiri!" Naruto berlari ke arah mobilnya dan segera meninggalkan Sasori yang semakin menatapnya dengan tatapan yang benar-benar tak bisa di jelaskan lagi. Antara marah, kesal, jorok, illfeel, dan ingin tertawa semua jadi satu.
End Flashback
Sasuke, Sai, Neji, dan Shikamaru menatap aneh kearah bocah duren yang kini memasang tampang hidup enggan mati tak mau itu.
"Woy! Naruto! Kenapa kau?" Tanya Neji heran. Naruto kemudian kembali tersadar dari lamunannya saat mendengar teguran dari Neji.
"Hehe.. aku tadi baru saja mengingat sesuatu yang benar-benar menyeramkan." Jawab Naruto sambil merinding. Dan kini pandangannya beralih ke Sasuke yang sudah kembali mengalihkan pandangannya kearah gadis Cherry Blossom itu.
"Jadi, intinya Teme, kau tidak akan bisa mendapatkan Sakura-chan jika kau tidka direstui oleh kedua kakaknya itu. Sebenarnya aku juga tidak mau Sakura-chan bersamamu, tapi mengingat ini pertama kalinya kau tertarik pada seorang gadis, aku jadi ingin mendukungmu, Teme." Kata Naruto. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari beberapa gadis di dalam kantin itu. Membuat kelima pemuda itu menolehkan pandangannya ke arah teriakan tersebut.
"Kyaaa! Sasori-senpai! Gaara-senpai!"
"Mereka benar-benar tampan!"
"Apa yang kedua Senpai tampan itu lakukan di sini?
"Tentu saja dia mencariku."
Kira-kira begitulah bunyi jeritan para gadis-gadis didalam kantin itu.
"Baru saja dibicarakn, mereka sudah datang duluan. Aku yakin mereka pasti punya umur yang panjang." Gumam Naruto kepada keempat Sahabatnya itu.
Lain halnya dengan gadis berambut bubble gum yang duduk di meja lain. Gadis itu sibuk menutupi wajahnya dengan buku daftar menu yang sedari tadi dibacanya.
"Kyaaa! Lihat Sakura, kedua Aniki-mu datang kemari." Ucap Ino dengan wajah berseri-seri saat melihat kedua senior mereka yang terkenal karena ketampanannya itu.
"Li..lihat Sakura-chan, Sasori-senpai dan Gaara-senpai sepertinya sedang mencari seseorang." Hinata juga ikut menambahkan. Sakura memasang wajah cemberutnya, namun terhalangi oleh buku menu yang sedang digunakannya untuk menutupi wajahnya.
"Sakura, kenapa kau menutupi wajahmu?" Tenten bertanya heran.
"Nanti kuceritakan, sekarang bantu aku supaya kedua Baka Aniki itu tidak menemukanku." Sakura semakin berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Ino, Hinata, dan Tenten menatap heran kearah Sakura. Mengapa dia sekhawatir itu? Kedua kakak kelas mereka yang tampan itu kan adalah kakaknya. Setidaknya itulah sekarang pertanyaan yang bersarang dikepala ketiga gadis itu.
"Nii-san, dimana Sakura? Mungkin dia sedang tidak berada disini." Ucap Gaara sambil melihat sekeliling. Namun tidak ada didapatinya gadis yang berambut pink.
"Hn. Mungkin dia sedang berada di tempat lain." Jawab Sasori sambil mengacak rambut belakangnya, membuat semua siswi yang melihatnya menjerit.
"Kyaaaa! Sasori-senpai kakkoiii!"
"Disini berisik sekali. Ayo pergi!" Akhirnya Sasori pin meninggalkan kantin yang berisik itu diikuti oleh Gaara di belakanya.
"Dasar Tsunade-Baachan! Tega sekali dia melarangku menyewa mata-mata di lingkungan sekolah." Gerutu Sasori pelan. Gaara yang mendengarnya hanya memutar bola matanya bosan.
"Kau tidak akan pernah mendapat persetujuan jika kau membawa rombongan orang berbaju hitam itu ke sekolah." Sahut Gaara. Sasori hanya mencibir kearah pemuda yang berstatus sebagai adiknya itu. Mereka pun berjalan santai meninggalkan kantin.
Sakura yang menyadari keadaan kantin yang tadinya berisik kini mulai kembali tenang akhirnya bisa bernafas lega.
"Bagaimana? Kemana mereka? Mereka sudah pergi?" Tanya Sakura kearah Hinata, Ino, dan Tenten. Ketiga temannya itu menganggukkan kepalanya.
"Ahh.. yokatta! Sebaiknya aku segera pergi dari sini sebelum mereka datang lagi." Ucap Sakura seraya bangkit dari tempat duduknya. Namun, baru saja dia akan berdiri, tiba-tiba pundaknya didorong keras sehingga membuatnya kembali terduduk. Sakura menoleh kearah orang yang mndorongnya tadi. Dilihatnya Shion bersama dua pengikutnya yang dikenalnya adalah Tayuya dan Kin menatapnya tajam seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
"Hey! Apa yang kau lakukan Shion!" Bentak Ino seraya bangkit dari tempat duduknya dan menatap Shion tajam. Shion yang sedari tadi menatap Sakura tajam mengalihkan pandagannya kearah Ino.
"Wow! Apa yang dilakukan muri Gold-Class disini? Apa stok makanan dikantin mereka sudah habis? Sehingga harus makan disini? Benar-benar merusak pemandangan!" Cibir Shion sambil menyeringai kearah Ino.
"jaga perkataanmu, nona! Dasar gadis tidak punya etika!" Tenten yang tidak terima kelasnya dihina begitu juga ikut membentak Shion.
"Shion! Apa maumu? Kenapa kau mengganggu kami?" Bentak Hinata dengan suara bergetar.
"Kami? Aku tidak punya urusan denganmu dan dua sampah dari Gold-Class itu! Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepada Pinky itu, si murid baru yang tidak tahu diri!" Jawab Shion seraya mengalihkan kembali pandangannya kearah Sakura yang kini menatap Shion tajam.
Naruto yang melihat adik sepupunya didorong kasar begitu merasa tidak terima. Baru saja dia akan mengahampiri Sakura, sebuah tangan sudah menahannya. Shikamaru menari tangan Naruto untuk kembali duduk.
"Diam saja disini dulu." Ucap Shikamaru.
"Apa maksudmu! Diam? Melihat sepupu kesayanganku diperlakukan begitu? Oh, tidak! Terima kasih tuan Nara." Kata Naruto kesal. Dia kembali berusaha untuk bangkit dan menghampiri Sakura namun tangan Shikamaru mencengkram tangannya erat.
"Kehadiranmu akan semakin memperkeruh suasana Naruto. Kit a lihat saja apa yang akan terjadi, kau pikir aku tega melihat Ino diperlakukan seperti itu?" Tanya Sai tajam, membuat Naruto menghela nafas gusar dan kembali melihat kearah Sakura dan Shion itu. Dia mengerti dengan perasaan Sai, apalagi Neji, yang harus sabar melihat adik dan gadis yang disukainya diperlakukan seperti itu.
Sasuke sendiri merasa ada yang aneh dengannya. Entah kenapa dia merasa sangat marah saat melihat Shion dengan kasar mendorong pundak Sakura.
'Ada apa denganku? Apa aku benar-benar sudah tertarik pada gadis itu?' Batin Sasuke. Sebenarnya dia juga tadi hampir beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Sakura seandainya dia tidak medengar kata Sai tadi. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap diam dan terus melihat kearah Sakura.
Suasana dikantin yang tadinya mulai tenang kini kembali berisik. Bukan karena kedua Senpai keren itu kembali, tapi karena hal yang dilakukan oleh Shion.
Sakura yang merasa tidak terima sahabatnya dihina seperti itu terus menatap Shion tajam.
"Kalau kau punya urusan denganku, katakan saja apa maumu! Kau tidak perlu menghina kedua temanku seperti itu." Bentak Sakura seraya bangkit dari duduknya.
"Mauku? Aku mau kau tidak usah berlagak sok disekolah ini! Kau itu hanya seorang murid baru, tapi sudah membuat kehebohan sana-sini, kau tidak punya malu?!" Tanya Shion tajam.
"Apa maksudmu! Aku tidak mengerti!" Sakura merasa benar-benar bingung, kehebohan? Kehebohan apa? Rasanya dia tidak melakukan apa-apa, selain berperilaku sebagaimana siswa lainnya.
"Kau tidak usah berpura-pura seperti itu, Sa-ku-ra!" Ucap Shion dengan sengaja menekankan intonasinya pada kata terakhirnya. Shion melirik kearah jus jeruk yang ada dimeja dan tanpa aba-aba dia menyiramkannya ke kepala Sakura. Membuat semua pasang mata yang ada di kantin itu membulat.
Sakura hanya bisa terdiam saat merasakan kepalanya basah oleh jus jeruk itu. Shion yang melihatnya menyeringai.
"Lihatlah! Kau semakin cantik sekarang!" Ejek Shion sambil tertawa pelan diikuti oleh Tayuya dan Kin.
Naruto yang benar-benar sudah tidak tahan lagi kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berniat menghampiri Sakura jiak saja Sasuke tidak mendahuluinya.
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Sasuke sambil menatap tajam kearah Shion. Shion yang merasa kaget karena kedatangan Sasuke hanya bisa terdiam.
"A..aku cuma mengajarkan tata krama pada gadis itu." Bela Shion sambil tergagap. Dia benar-benar tidak menyangka Sasuke akan membela Sakura. Pasalnya, sudah dari dulu Shion biasa menindas seseorang, bahkan di depan Sasuke namun pemuda itu sama sekal tidak peduli. Tapi kenapa? Kali ini dia peduli pada Sakura. Gaids itu benar-benar menyebalkan!
"Sekali lagi kau menyentuh Sakura, ku pastikan kau tidak akan bisa menikmat hari-harimu lagi!" Ucap Sasuke tajam dengan penuh penekanan di setiap katanya. Semua murid yang ada di dalam kantin itu memandang kejadian itu dengan pandangan takjub. Seorang Uchiha Sasuke peduli dengan seorang gadis? Wow! Kehadiran seorang Haruno Sakura di sekolah ini benar-benar sesuatu.
Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya kearah Sakura yang masih terdiam dan menunduk itu.
"Kau tidak apa-apa? " Tanya Sasuke. Dengan lembut dibersihkannya sisa-sisa jus yang masih menetes di kepala Sakura dengan sapu tangannya. Melihat Sakura yang tidak menolak, membuat Sasuke meneruskan niatnya. Ino, Hinata, dan Tenten hanya terdiam melihatnya, mereka merasa tidak enak untuk mengganggu.
"Kenapa kau peduli dengan gadis menjengkelkan itu, Sasuke-kun?" Tanya Shion yang merasa tidak terima dibentak seperti itu. Gerakan tangan Sasuke yang sedang membersihkan kepala sakura itu terhenti.
'Kenapa aku peduli dengan gadis ini? Apa sebenarnya arti gadis ini bagiku?" Batin Sasuke bingung.
Yang lain menatap kejadian itu tanpa berkedip, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut seorang Uchiha Sasuke.
Di lain tempat, Sasori dan Gaara yang masih sibuk mencari Sakura merasa heran dengan siswa-siswi yang berlarian menuju ke kantin Diamond-Class.
"Nii-san, kenapa semua berlari seperti itu?" Tanya Gaara. Sasori mengangkat bahunya. Dia lalu menahan lengan seorang siswi yang barlari tepat disampingnya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berlari seperti itu?" Tanya Sasori pada gadis itu.
"Ano.. Senpai ! Ada yang sedang bertengkar dikantin Diamond-Class, katanya Shion berulah lagi dia menindas seorang murid baru." Jawab Siswa itu. Perasaan Sasori dan Gaara mulai tidak enak. Entah kenapa fikiran mereka tertuju pada Sakura. Tanpa aba-aba, kedua pemuda berambut merah darah itu segera berlari dengan cepat menuju ke kantin. Dan benar saja, walau trhalang oleh kumpulan siswa dan siswa, mereka dapat melihat Sakura yang tertunduk dengan rambut yang basah. Disampingnya terlihat Sasuke yang sedang membersihkan kepala Sakura, mereka juga melihat Shion dan kedua temannya sedang menatap Sakura tajam. Dengan geram, Sasori dan Gaara segera menghampiri mereka.
Para siswa-dan siswi yang sedari tadi berkumpul itu kini menyingkir karena melihat tatapan mata sasori dan Gaara yang benar-benar beda dari biasanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Gaara dingin sambil matanya menatap tajam keraha Shion. Shion menguk ludahnya, entah kenapa perasaan takut tiba-tiba menyerangnya.
"Ga..Gaara-senpai, a..ap..apa yang kau lakukan disini?" Tanya Shion sambil menatap Gaara takut. Melihat tatapan Gaara padanya saat ini mebuat nyalinya benar-benar ciut sekarang. Sasori kemudian menghampiri Sakura yang masih tertunduk, dengan lembut di peluknya gadis itu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Sakura sekarang, gadis itu tengah menahan agar air matanya tidak keluar, namun sejujurnya, Sasori lebih suka jika Sakura menumpahkan semua air matanya dan menceritakan semua masalahnya daripada Sakura harus diam seperti ini.
Sasuke segera menarik tangannya dari kepala Sakura. Sasori menatapnya dingin.
"Jangan berani kau menyentuh adikku, Uchiha!" Ucap Sasori dingin seraya merangkul Sakura pergi meninggalkan kantin. Sasori bukan marah tanpa sebab kepada Uchiha itu. Sepertinya dia mengira kalau Shion menyerang Sakura karena tidak suka melihat Sasuke menaruh perhatian kepada Sakura.
"Jawab, brengsek! Apa yang kau lakukan pada adikku!" Bentak Gaara sambil mencengkram erat kerah baju Shion. Ta perduli siapa pun itu, tidak mengenal dia seorang perempuan sekalipun, jika ada yang berani menyakiti Sakura maka tidak akan ada lagi ampun baginya. Semua mata yang ada di dalam kantin –minus SasuNaruSaiNejiShikaInoHinaTenten dan Gaara- membulat. Jadi Sakura adalah adik mereka? Pantas saja, tak heran kenapa Sasori dan Gaara sangat perhatian padanya.
"Sa..Sa..Sakura adalah adikmu?" Tanya Shion tidak percaya. Kini dia benar-benar takut sekarang, lebih tepatnya SANGAT TAKUT. Dia tidak menyangka kalau Sakura adalah adik dari kedua Senior mereka yang sangat berpengaruh bagi sekolah.
"Jangan harap setelah kau melakukan ini, kau bisa hidup tenang, Bitch!" Ucap Gaara sadis sambil menjambak keras rambut Shion, kemudian pergi meninggalkan Shion yang kini menangis. Semua orang memandang ngeri dengan kejadian ini. Hinata, Ino, dan Tenten kemudian meninggalkan kantin berniat untuk mencari Sakura, walau kemungkinan besar Sakura sudah dibawa pulang oleh kedua kakaknya itu.
Naruto, Sai, Neji, dan Shikamaru menghampiri Sasuke yang masih berdiri menatap kearah perginya Sakura yang dibawa oleh Sasori. Mereka tahu apa yang diarasakan oleh Sasuke saat ini.
"Kau lihat sendiri kan Teme? Bagaiman sifat kedua pemuda itu jika sudah menyangkut Sakura-chan?" Tanya Naruto pelan seraya menepuk pundak sahabatnya itu. "Tatapan mereka benar-benar menakutkan."
"Hn."
"Apa yang diakatakan Sasori-senpai padamu?" Tanya Sai yang sempat melihat Sasori bebicara sedikit pada Sasuke.
"Hn. Bukan apa-apa." Tatapannya masih mengarah kearah perginya Sakura.
"kau tenang saja Sasuke, kami tetap mendukungmu." Hibur Shikamaru diikuti oleh anggukan Naruto, Sai, dan Neji. Sasuke menatap wajah sahabatnya itu satu-persatu, dia benar-benar merasa beruntung karena memiliki sahabat seperti mereka.
**MOB**
Sasori merangkul Sakura menuju ke tempat parkiran. Sasori benar-benar merasa khawatir pada Sakura. Sakura belum pernah bersikap seperti ini. Biasanya jika sakura merasa sedih, dia akan langsung menceritakan keluh kesahnya. Tidak seperti sekarang, Sakura hanya diam dan tertunduk. Mereka kemudian memasuki mobil Sasori yang masih terparkir.
"Saku, aku mohon, jangan seperti ini. Bicaralah." Bujuk Sasori sambil menggenggam erat tangan Sakura yang masih terus saja diam.
"Aku merasa sangat tidak berguna sekarang." Ucap Sasori lembut. Sasori hanya bisa menatap Sakura sendu. Pemuda itu lalu membawa sakura ke pelukannya.
"Tenanglah, selama masih ada aku, kau akan baik-baik saja." Hibur Sasori sambil mengelus lembut rambut Sakura yanng kini terasa sedikit lengket akibat jus tadi.
"Hiks..hiks...Nii-san, gomen, aku membuat kalian khawatir." Ucap Sakura pelan sambil terisak. "Aku hanya tidak mengerti, hiks..hiks... kenapa merka melakukan ini. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana, ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini."
Sasori semakin mengeratkan pelukannya. Sasori tahu, Sakura adalah seorang gadis yang rapuh. Ini pertama lakinya ada yang memperlakukan Sakura seperti itu. Sasori tahu bahwa perasaan gadis itu sedang shock sekarang.
"Tenang, Nii-san ada disini."
"Arigatou, Nii-chan!" Sahut sakura sambil mengangkat wajahnya, menatap langsung kearah mata Sasori yang kini membulat.
"Ka..Kau bilang apa tadi? Kau memanggilku Nii-chan?" Tanya Sasori tidak percaya. Sakura menghapus air matanya dan tersenyum lebar seraya mengangguk.
"Hontou? Kau memang imoutouku yang tersayang." Ssori kemudian kembali memeluk Sakura. Sakura tersenyum senang. Setidaknya dia bisa menghilangkan kekhwatiran kakaknya. Sasori sendiri merasa benar-benar sengan, hanya karena panggilan 'Nii-san' berubah menjadi 'Nii-chan'. Bersenang-senanglah Sasori, karena jika Gaara tahu, tamat riwayatmu.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Sasori kemudian. Sakura terdiam sebentar kemudian mengeleng.
"Tidak usah, aku sudah merasa lebih baik sekarang. Bisakah kita kembali ke sekolah? Aku harus ke toilet untuk membersihakn rambutku ini." Jawab Sakura. Sasori tersenyum lalu mengacak-acak rambut Sakura.
"Baiklah, Hime!"
Mereka kemudian keluar dari mobil dan menuju ke gedung sekolah. Sasori merasa sedikit heran dengan sikap Sakura yang tiba-tiba semangat itu.
"Perasaanku saja atau adik kecilku ini sedang senang?" Tanya Sasori. Dia benar-benar bingung dengan Sakura, bukankah beberapa menit yang lalu gadis itu masih merasa down?
"Nandemonai, aku hanya merasa harus berterima kasih kepada seseorang." Gumam Sakura pelan, perlahan-lahan rona merah mulai menjalar di wajah cantik gadis musim semi itu.
"Apa? Kau mengatak sesuatu?" Tanya Sasori lagi. Sakura mengeleng cepat. Namun rona merah di wajahnya tidak hilang juga. Entah kenapa, gadis itu tidak bisa menghilangkan sosok seorang pemuda yang baru saja dikenalnya dari kepalanya. Sasori menatap curiga.
"Apa kau sakit?" Tanya Sasori yang melihat wajah Sakura yang memerah. Dia kemudian menempelkan punggung tangannya ke kening Sakura. "Hm.. tidak panas."
"Aku baik-baik saja, Nii-chan." Ucap Sakura gugup sambil melepas tangan Sasori yang masih menempel di keningnya. Sakura kemudian berlari saat melihat toilet wanita tepat berada didepannya.
"Nii-chan! Kau bisa kembali ke kelasmu sekarang. Ok!" Sakura sebelum memasuki toilet perempuan itu. Dia kemudian bersandar di pintu toilet.
"Huftt... hampir saja." Ujar Sakura lega. Sakura segera membersihkan rambutnya yang sekarang terasa lengket itu. Saat dia menyentuh rambutnya, tiba-tiba wajahnya kembali merona. Bayangang Sasuke yang membersihkan rambutnya tadi kembali terlintas.
"Hah! Ada apa sih denganku! Kenapa pemuda chikenbutt itu tidak mau hilang dari fikiranku! Menyebalkan sekali!" Sakura terus berbicara sendiri di toilet. Tidak perduli apakah ada yang mendengarnya atau tidak. Dasar sakura.
**MOB**
"Sakura-chan!"
Hinata tiba-tiba bangkit dari kursinya saat melihat Sakura memasuki kelas. Semua mata kini memandang Sakura dengan tatapan aneh. Sakura yang merasa theran melihat tatapan teman-teman sekelasnya itu.
"Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Sakura sambil menunjuk wajahnya sendiri. Hinata segera menghampiri gadis itu lalu menariknya menuju ke temapt duduk mereka.
"Hinata, kenapa semua memandangku seperti itu?" Tanga Sakura heran.
"Tentu saja, mereka masih tidak menyengka kau adalah adik dari Sasori-senpai dan Gaara-senpai. Ditambah lagi dengan kejadian di kantin tadi." Jawab Hinata. Sakura mengerucutkan bibirnya sedikit.
'Sepertinya semua orang menjadi canggung padaku.' Batin Sakura miris.
"Hiks..hiks.."
Sakura yang mendengar suara isakan seorang gadis segera mengalihkan padangannya kearah suara itu. Dilihatnya Shion yang menunduk di bangkunya sambil sesekali terisak.
"Apa yang terjadi pada Shion? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Sakura khawatir. melihat kondisi Shion sekarang. Hinata menggertakkan giginya.
"Kau masih peduli dengan gadis jahat itu? Aku benar-benar tidak mengerti jalan fikiranmu, Sakura-chan." Hinata menghela nafas panjang. Sepertinya dia masih harus belajar banyak tentang Sakura. "Selepas perginya kau dan Sasori-senpai, Dia terus menangis sampai sekarang, kau masih bisa mendengar jelas isakannya bukan?"
"Apa Gaara-nii melakuakan sesuatu padanya?" Tanya Sakura lagi. Beda dengan Sasori yang masih bisa sedikit menahan emosinya. Gaara itu tipe orang yang tidak sabaran. Itu membuat Sakura khawatir. Hinata mengangguk pelan.
"Gaara-senpai benar-benar menakutkan, dia mencengkram kerah seragam Shion lalu mejambak rambutnya, ditambah lagi dengan kaka-kata kasarnya."
Saura menepuk keningnya pelan. Sepertinya dia harus menceramahi Gaara atas tindakannya yang sudah kelewatan itu. Sakura pun kembali melihat kearah Shion yang masih saja terisak. Tanpa sengaja, matanya bersibobrok dengan sepasang onyx yang kini menatapnya juga. Onyx dan emerald.Sakura segera mengalihkan pandanganya. Jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Bisa dipastikan wajahnya sekarang juga ikut memerah.
"Ah! Aku bisa gila! Mungkin sepulang sekolah nanti aku akan pergi ke rumah sakit, mungkin aku sedang terkena gejala jantung." Batin Sakura sambil berusaha utnuk mengatur nafasnya. Hinata menatap heran pada Sakura.
"kau baik-baik saja, Sakura-chan? Apa kau sakit? Wajahmu merah." Tanya Hinata. Sakura mengeleng cepat, wajahnya semakin memerah.
"Aku baik-baik saja! 100% baik-baik saja." Jawab Sakura sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Hinata hanya mengangkat bahunya pelan.
"SAKURAAA-CHAAANN!"
Semua mata menoleh kearah datangnya suara kencang yang bahkan mengalahkan suara petir itu. Nampaklah seorang pemuda rubah berambut pirang dengan penampilan yang acak-acakan.
"Naruto-nii? " Sakura sendiri ikut heran melihat langsung berlari kearah Sakura dan memeluknya.
"Kau baik-baik saja? Dari mana saja kau? Apa ada yang terluka?" Tanya Naruto bertubi-tubi. Sakura tersenyum dan membalas pelukan Naruto. Tanpa mereka sadari sepasang mata onyx menatap mereka tidak suka.
"Hn, kau keduluan Sasuke. Bukannya itu yang akan kau tanyakan padanya?" Ejek Shikamaru yang langsung mendapatkan deathglare khas Uchiha itu.
"Hahaha... bisa memastikan perasaanmu sekarang?" Tanya Sai sambil tertawa kecil. Sasuke hanya memalingkan wajahnya dan kembali melihat adegan Naruto memeluk sakura, walau sebenarnya dalam hatinya dia merasa sangat kesal.
"Aku baik-baik saja, Naruto-nii. Lihat, aku tidak apa-apa bukan?" Jawab Sakura sambil melepas oelukannya. "Kau sendiri dari mana? Kenapa penampilanmu begitu berantakan?"
Narut berdecih pelan. Kejadian tadi kembali terulang di memorinya.
Flashback
"Hey, Gaara-nii, kemana Sasori-nii membawa Sakura-chan?" Tanya Narut o sambil terus mengikuti Gaara. Gaara sendiri yang masih merasa kesal hanya diam sambil mengepalkan tangannya. Dia benar-benar merasa sangat kesal mendengar Naruto yang terus mengoceh.
"Bisakah kau diam? Kau membuatku benar-benar pusing." Jawab Gaara kesal sambil mengacak-acak rambutnya.
"Aku tidak akan diam sebelum kau memberi tahu dimana Sakura-chan!" Jawab naruto tegas. Gaara benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Dengan kasar diseretnya kerah belakang seragam Naruto, mebuat Naruto merasa De ja vu .Kejadian ini benar-benar sama persis dengan yang pernah dilakukan oleh Sasori padanya dulu.
'Tidak boleh! Aku tidak akan pipis dicelana lagi! Tidak akan!Kami-sama! Tasuketeeeeee!'jerit Naruto dalam hati.
"Gaara-nii! Kau mau membawaku kemana? Baik aku akan diam jadi tolong lepaskan aku." Jerit Naruto, namun sama sekali tidak didengar oleh Gaara. Gaara malah semakin menarik Naruto keras. Semua murid bahkan guru yang melihatnya hanya diam tak berani mengganggu si Sabaku yang sedang marah itu. Mereka hanya memandang naruto prihatin seraya memberikan dukungan dalam hati. Poor you, Naruto!
Bruk!
Gaara lalu melempar Naruto kedalam sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan olahraga, ya! Gaara membawa Naruto kedalam gudang peralatan olahraga.
"Diamdan jadilah anak baik disitu, kalau beruntung, kau bisa berteman dengan penghuni tempat ini, Naruto." Ucap Gaara sambil menutup pintu gudang tersebut. Naruto yang notabene takut dengan hal-hali yang berbau gaib itu Cuma bisa menelan ludah. Secepat kilat dia berlari kearah pintu dang menggedor-gedornya.
"Gaara-nii! Gaara–nii! Buka pintunya!" Teriak Naruto keras dan terus menerus menggedor pintu itu. Gaara yang berada diluar pura-pura tidak mendengarnya dia lalu pergi meninggalkan Naruto yang kini terkunci didalam gudang.
End Flashback
"Lalu bagaimana kau bisa keluar?" Tanya Sakura yang prihatin dengan keadaan Naruto.
"Gai-sensei yang menemukanku. Dia pergi untuk mengambil sebuah jaring. Jaring itu benar-benar menyelamatkanku." Jawab Naruto membuat Sakura dan Hinata yang sedari tadi mendengar cerita Naruto sweardrop.
"Yokkata, Naruto-kun." Ucap Hinata dengan wajah memerah. Baru saja Naruto mau membalas perkataan Hinta, Kakashi-sensei sudah masuk kedalam kelas.
"Naruto! Kembali ketempatmu, dan kita memulai pelajaran." Ucap Kakashi.
**MOB**
Setelah bel pulang berbunyi, semua murid segera merapikan barang-barangnya dan bersiap-siap untuk pulang. Begitu pun dengan gadis berambut merah muda ini, namun, setelah merapikan peralatan belajaranya, gadis itu masih tetap duduk ditempat duduknya.
"Sakura-chan? Kau tidak pulang?" Tanya Hinata. Sakura mengeleng pelan.
"kau duluan saja, dan tolong katakan pada Sasori-nii dan Gaara-nii supaya mereka tidak usah menungguku." Jawab Sakura. Hinata hanya mengangguk.
"kalau begitu, aku duluan."
Sakura melambaikan tangannya kearah Hinata yang sudah menghilang dibalik pintu. Sakura melirik kearah bangku Sasuke. Terlihat kalau pemuda itu masih merapikan peralatannya. Sakura menarik nafas panjang. Dia memang berniat untuk menunggu Sasuke dang mengucapkan terima kasih pada pemuda itu.
"Loh? Kau tidak [ulang Sakura-chan?" Tanya Naruto. Sakura mengeleng.
"Ayo! Aku akan mengantarmu." Ucap Naruto lagi. Sakura tersenyum.
"Kau pulang duluan saja, Naruto-nii, aku masih ada urusan." Jawab Sakura, Naruto menghela nafas singkat lelu mengacak-acak rambut Sakura.
"Kalau begitu, aku duluan, bye Sakura-chan." Ucap Naruto seraya meninggalkan kelas diikuti oleh Sai, Neji, dan Shikamaru. Kini yang berada dikelas tinggal Sasuke dan Sakura. Menyadari itu, Sakura merasa jantungnya kembali berdetak tidak karuan.
'Ingatkan aku untuk benar-benar pergi periksa ke dokter.'
"Kau tidak pulang?" Tanya sebuah suara baritone membuat jantung Sakura semakin berdegup kencang. Siapa lagi pemilik suara itu selain Sasuke, tentu saja kan hanya mereka berdua yang berada di kelas sekarang.
"Eh? Ehmm... aku menunggumu." Jawab Sakura pelan. Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Kau menungguku? Untuk?" Tanya Sasuke lagi. Sakura menarik nafas panjang.
"Ada yang ingin ku katakan padamu. Aku mau berterima kasih karena telah menolongku tadi." Jawab Sakura dengan wajah yang sudah pasti merona. Entah sejak kapan wajahnya tidak pernah berhenti merona saat dekat dengan pemuda itu. Padahal mereka baru bertemu tadi.
"Hn. Tidak masalah." Jawab Sasuke singkat dengan senyum kecil menghiasi wajahnya. Dia merasa bahwa ada sebuah perasaan hangat yang tiba-tiba merasuki dadanya.
"Kita baru bertemu hari ini, tapi kau sudah banyak menolongku. Apa kau ingin aku melakukan sesuatu untuk membalas kebaikanmu?" Tanya Sakura yang merasa tidak enak.
"Hn, bukankah kau sudah janji akan membuatkanku makan siang mulai besok? Ku pikir itu sudah cukup. Kau akan membuatkan ku makan siang sebanyak pintu yang kita lewati bukan? Jadi kau akan membuatkanku makan siang sebanyak 30 kali bukan, itu berarti selama satu bulan penuh" Jawab Sasuke panjang lebar membuat Sakura mengingat kembali tentang perjanjian yang mereka lakukan tadi. Sakura mengembungkan pipinya.
"Aku sendiri tidak mengerti kenapa pintunya bisa sebanyak itu. " Ucap Sakura kesal. "Tapi aku rasa, itu belum cukup, apa ada yang masih kau inginkan?"
Sasuke terdiam sejenak. Gadis dihadapannya ini benar-benar berlebihan dalam hal membalas budi. Bukannaya gadis itu merasa kesal ketika dirinya yang meminta imbalan? Gadis yang unik.
"Baikalah, kalau begitu mulai sekarang kau panggil aku Sasuke-kun, mengerti?" Jawab Sasuke sambil menyeringai kecil.
"A..apa? Aku harus memanggilmu begitu?" Tanya Sakura denngan wajah memerah.
"Hn? Kau tidak mau?" Tanya Sasuke lagi. Sakura meneguk ludahnya lalu mengeleng.
"Wakatta, mulai sekarang aku akan memanggilmu Sasuke-kun." Ucap sakura dengan senyum manisnya, membuat wajah Sasuke sedikit merona melihatnya. Dengan segera dia memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu, ayo pulang." Ucap Sasuke seraya berjalan pelan meninggalkan ruang kelas. Sakura mengangguk dan mengikuti Sasuke.
"Aku akan mengantarmu, jadi cepatlah." Sahut Sasuke. Sakura menatapnya heran.
"Kau menyuruh Hinata untuk memberi tahu kedua kakakmua agar pulang duluan, bukan? Lagi pula apa kau berani pulang sendiri?" Tanya Sasuke. Sakura terdiam. Sasuke tahu? Jadi sejak tadi Sasuke terus memperhatikannya?
Deg..deg..deg..
Jantung Sakura berdegup kencang lagi. Dadanya terasa sangat sesak, namun rasa sesak ini begitu menyenangkan baginya, perutnya juga terasa aneh, seperti kumpulan kupu-kupu berterbangan didalamnya.
"Ini aneh! Jangan-jangan aku benar-benar mengidap suatu penyakit. Apakah ini parah?" Gumam Sakura pelan. Sasuke yang melihatnya mengangkat sebelah alisnya.
"Kau kenapa? Ayo!" Sasuke kemudian menarik tangan Sakura dan pergi menuju kearah mobilnya yang terparkir sendirian di tempat parkir. Sakura menatap tangannya yang sedang digenggam oleh Sasuke dengan tatapan lembut. Perlahan senyum manis menghiasi wajahnya.
"Oh iya, Sasuke-kun, bisakah kita mampir sebentar di Rumah Sakit? Ada yang ingin kupastikan."
TBC
Jangan bunuh akuuu! w
Aku mintah maaf yang sebesar-sebarnya buat keterlambatan fict ini! XD
Ini semua dikarenakan aku haru menghadapi Ulangan Semester Genap =3=
Maaf kalau masih banyak typo, bahasa aneh, etc...
Aku sangat berterima kasih kepada yang sudah me-review, mem-follow, dan mem-favorite kan fict ini. Aku jadi makin semangat ^^v hehehe
Thanks For
Guest, , , Manda Vvdenarint,
Gadiezt Uchiha, azizaznr, Dewi531,An Style
Gomen kalau ada yang salah dalam penulisan nama ^^v
Akhir kata
R
E
V
I
E
W
Please XD
