Title

The Cursed Souls

Length

Chaptered

Rating

PG 15

Genre

Mystery, Horror (not really), School life, Slight comedy

Author

dandanies

Characters :

EXO

Oh Haerin

Kim Sohyun

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

(Chapter 1)

Saat – saat paling menyebalkan dalam hidupku adalah menunggu bis. Aku melihat sekelilingku dan melihat beberapa orang berjas dan anak kecil dipangkuan ibunya duduk di bangku halte. Aku melihat jam di tanganku yang masih menujukkan pukul 06.15. Gila.

"Haerin! Bangunlah ini sudah jam 5 pagi! hari ini hari pertama di sekolah barumu!"

Yeah, sekolah baru. Sekolah itu hanya berjarak 5 menit dari rumahku dengan bis. Ugh, kenapa tidak ibuku saja yang berangkat sekolah? Rasanya ingin kembali ke kasur empukku. Aku duduk di bangku yang sudah kosong lalu menundukkan kepalaku. Rasa kantuk yang tak tertahankan menang sudah.

Hawa dingin tiba – tiba menampar wajahku pelan. Huh? Bukannya ini musim panas? Berlahan aku membuka mata yang kupejapkan beberapa menit itu.

Tip

Tip

Aneh. Kenapa semua terlihat hitam putih? Aku mengerjap beberapa kali dan melihat rok sekolahku yang seharusnya berwarna merah. Corak kotak - kotak perseginya terlihat abu –abu dan warna merah yang seharusnya mewarnai garis – garis horizontalnya sekarang terlihat gelap. Bagaimana bisa tidur singkat membuatku menjadi buta warna?

Aku melihat ke sekitarku. Tidak ada orang. Semua terasa seperti sedang terhenti dari waktu. Aku melihat ke tanganku yang ku remas – remas, memastikan kalau aku masih sadar.

Aneh.

Apa – apaan ini? Apa aku tertinggal bis?

Duuuuuuuuuun

Suara bis berhenti di samping kanan memberiku sedikit rasa lega. Setidaknya ada sesuatu yang terlihat hidup disini. Aku melihat jamku lagi. Jam menunjukkan pukul 07.00. Hah, tidak mungkin. Ini pasti hanya khayalanku saja.

Atau… mimpi?

Perasaan lega yang berlebihan langsung menyeruak ke sekujur tubuhku.

Iya, ini mimpi. Aku ingat pernah mengalami mimpi serupa, hanya saja lebih… tenang dan tentu saja tidak terjadi pada saat aku akan berangkat sekolah. Lucid dream, temanku bilang, walaupun di pikiranku seharusnya tidak terasa seperti ini. Karena aku di luar ruangan aku tidak ingin macam – macam.

Aku duduk di sana dan melihat orang – orang keluar masuk bis. Entah kenapa aku tidak menyegerakan diri untuk ikut masuk ke dalam bis. Lalu ada sesuatu yang menangkap perhatianku.

Segerombolan murid berjalan menuju bis dengan seragam-

Eh, seragamnya?

Celana garis kotak – kotak milik mereka terlihat sama dengan rokku. Walaupun aku tidak yakin dengan warnanya, logo di jas di salah satu dari mereka (beberapa ada yang menggantinya dengan hoodie dan jaket kulit) membuatku yakin mereka bersekolah di tempat yang sama denganku. Mana mungkin?

Mereka terlihat sangat nyata. Ugh persetan dengan mimpi, cowok – cowok ini terlihat tampan – tampan sekali.

Dengan sengaja aku memperhatikan mereka yang sudah sangat dekat dengan bis. Saat mengantri untuk masuk, salah satu dari mereka menatapku. Dengan rasa deg – degan aku melihat ke arah cowok itu dan dia tetap saja melihat ke arahku. Aaah aku tertangkap basah.

Dengan segera aku menundukkan kepala, berusaha menghindari tatapannya. Semakin lama tatapan cowok itu semakin berat di kepalaku. Apa dia berjalan kemari? Apa dia terlihat marah? Perasaan campur aduk membuatku risih dan salah tingkah. Tidak sengaja aku mendongakkan kepala dan-

Deg!

Mataku terbelalak saat melihat mereka semua melihat ke arahku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. Sedetik kemudian mereka menatap lurus ke bis seakan – akan tidak menyadari tatapanku tadi. Yah, aku bersyukur mereka melakukan hal itu. Dengan arah mata tetap pada mereka, aku melihat satu tangan melambai.

Ke arahku.

Tidak menyangka warna hitam putih ini tidak mengaburkan pandanganku juga. Karena aku sangat mengharapkan hal itu sekarang.

Cowok yang aku sadari dari awal sudah menatap ke arahku itu melambaikan tangannya (dengan terlalu antusias). Ah, cute. Sebelum aku meresponnya, dia segera masuk ke dalam bis. Dan halte pun kembali hening.

Uuuh.. ini beneran mimpi kan? Karena aku baru saja melewatkan bus terakhir pagi ini.

Aku menunduk lagi. Sekarang apa?

DUUUUUUUUUUUUUNN!

"AAAH!"

Bunyi bis berhenti di depanku membuatku tersentak bangun. Ada beberapa orang berdiri di sekitar tempat dudukku, sepertinya tidak mendengar suara memalukan yang keluar dari tenggorokkanku barusan. Dengan wajah memanas karena malu aku masuk ke dalam bus. Syukurlah mataku kembali menjadi normal. Aku berdiri di dekat pintu bus dan berpegangan tiang di sampingku. Mataku melirik cepat jam di tangan kananku.

Rasa ingin bunuh diri sangat kuat di setiap sel badanku.

Sekarang pukul 07.00

Ibu akan membunuhku nanti.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~The Cursed Souls~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

.

.

.

.

.

.

"Ayo lah, Pak… Ijinkan saya masuk!" Teriakku memohon di antara jeruji besi (Pagar sekolah) kepada pak satpam di dalam.

"Sudahlah, pulang saja sana! Kamu seharusnya tau kan masuk sekolah jam berapa?" ucap Pak JunGu (aku melihatnya di papan nama kecil di dada kanannya) kesal. Apakah ini pertama kalinya menghadapi murid telat? Aishh menyusahkan sekali.

"Assh.. kan saya tadi sudah bilang pak. Saya murid baru. Sekolah lama saya masuk pukul 8 dan-"

"Iya Jungu, biarkan ia masuk. Lagipula jam pelajaran baru akan di mulai 15 menit lagi." Seseorang berbicara di belakangku.

Aku terkejut dan melihat ke belakang. Kulihat seorang pria dengan setelan kemeja yang terlihat sangat mahal itu berjalan ke arah berdiriku. Tangan kirinya membawa briefcase coklat yang senada dengan sepatunya.

"Tapi Mr. Park-"

"Dia akan masuk denganku nanti. Dan saya perlu memberikan beberapa informasi kepada Nona Oh agar ia lebih paham dengan peraturan sekolah kita. Bukankah begitu Oh?"Suara hangatnya entah kenapa terdengar sedikit mengancam.

"Ha-ha.. iya Mr. Park." Aku menundukkan kepala kepadanya. Huft… setidaknya ia menyalamatkanku dari pak JunGu. Dan ibuku.

~o~

"Jadi, Miss Oh. Aku menyelamatkanmu pagi ini." Ucapnya sambil menaruh briefcasenya secara berlahan di mejanya. Aku berdiri di depan mejanya, menganggukkan kepalaku beberapa kali dan membungkuk hormat lagi.

"Iya, Mr. Park. Terimakasih, aku berjanji hal itu tidak akan terjadi lagi." Wow, Oh Haerin. Bahasamu bagus sekali. Aku hampir saja menertawai diriku jika sekarang aku tidak berada di depan Mr. Park. Tag nama di meja tertuliskan :

Park Hae Jun

Vice President

Hmmm ya benar saja. Sekarang aku tidak harus ke bk untuk mengurus surat ijin masukku. Mungkin surat pengeluaranku akan dibuat begitu aku keluar dari ruangan. Suara tertawa hangat terdengar dari arah depan tempatku berdiri. Aku mendongak dan melihat Mr. Park duduk di kursinya dengan wajah sumringah, bersandar santai di kursinya.

"Kau tidak perlu setakut itu Oh Haerin. Aku tidak akan mengeluarkanmu dari sekolah ini. Sudah cukup banyak yang mengantri untuk hal itu, hahahah…" Candanya. Sungguh jika ia tidak mengucapkan kata "mengeluarkanmu" aku akan tertawa bersamanya. Apa mungkin dia pembaca pikiran?

"Tapi saya memang akan memberimu beberapa informasi disini." Ucapnya, kembali ke sisi profesionalnya. Ia membuka briefcasenya dan memberiku beberapa lembar kertas.

"Ehm.. untuk jaga – jaga, kalau saja nanti kamu lupa lagi tentang kebijakan sekolah." Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya.

Yah, sebenarnya aku sudah menghapal segala macam peraturan sekolah, yang mungkin berbeda dengan sekolahku yang lama. (thanks to my mom)

Sekolah Menengah Atas Chansung… hmm…

Pertama, siswa diharapkan untuk datang tepat sebelum pukul 7 pagi. Jika lebih akan diberi sanksi…huh? 50 POIN?! Well.. aku enggak tahu menahu tentang poin poin ini sebelumnya. Memang kita akan mendapat kelas tambahan di akhir jam sekolah, tapi untuk poin? Pssh.. memang ini sekolah dasar? Murid tidak akan takut dengan poin poin yang ditulis di rapot akhir semester mereka hanya karena telat.

Kedua, siswa diwajibkan memakai seragam sekolah sesuai prosedur yang telah diinformasikan sebelumnya.

Ketiga, wajib taat dengan guru. (yea, right)

Keempat, siswa-

"Kamu bisa membaca peraturan – peraturan itu saat menuju kelasmu Oh Haerin. Lima menit lagi kelas akan dimulai. Now if you excuse me…" Mr. Park berdiri dari kursinya dan meninggalkan aku di tengah – tengah ruangannya.

Jalan menuju kelasku dari ruangan Mr. Park terasa sangat jauh. Aku melihat sekelilingku sambil berjalan sesuai peta. Ya, peta. Sma ChanSung adalah salah satu sekolah terbesar dan tertua di daerah tempat tinggalku. Memiki 4 bangunan utama yang sangat besar disertai puluhan lorong yang bisa membuatmu tersesat mendorong anggota OSIS dan guru untuk membuat sebuah peta yang setidaknya membuat kita tahu kemana kita berjalan.

Setelah berjalan melewati beberapa koridor, AKHIRNYA aku menemukan kelasku. Huft, butuh sekitar 3 menit untuk sampai ke kelasku (yah, dengan kaki – kaki cebol ini,). Sampai di depan pintu kelas aku melirik ke dalam. Oh, belom ada gurunya. Aku berdiri di luar sebentar untuk menenangkan diriku dari petualangan pendek menuju kelasku ini.

Aissh.. aku baru ingat. Kelas baru. Berarti aku harus memperkenalkan diri dulu? Aku... bukan penggemar perhatian. Berbicara di depan umum sungguh bukan sesuatu yang aku harapkan terjadi di hidupku. Demam panggung, Haerin. Tenang Haerin, tenang… semua akan baik baik saja

Jangan panik, jangan panik, jangan pa-

"Oh, kau pasti murid baru ya?"

Gleg

"E-eh?" Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang guru berdiri di sana, tersenyum dengan ramah.

"Iya, kamu pasti murid baru yang tadi masuk bersama Mr. Park kan.."

Terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

"I-iya, Ssaem.." Kataku menggantung. Sungguh dia terlihat sangat cantik. Apakah semua guru disini berkelas?

"Nama saya Im Gura, Saya guru biologi untuk kelasmu." Ucapnya ringan.

"Baiklah, ayo masuk." Kami pun masuk sebelum aku membalas ucapannya.

Masuk ke ruangan kelas saja sudah membuat kepalaku pening. Kelasnya terlihat sangat rapi dengan jendela yang memenuhi satu sisi ruangan, membuat kelas sangat terang walaupun lampu tidak dinyalakan. Meja kursi dibuat berpasangan dan kuhitung cepat hanya ada sekitar 32 kursi disana. Ada pijakan yang di depan kelas yang membuatnya sedikit lebih tinggi dari sekitarnya. Hah, membuatku semakin gugup saja.

"Selamat pagi anak – anak,"

"Selamat pagi, Guru Im!"

"Kelas kalian mendapat murid baru hari ini." Terdengar bisik – bisik yang membuatku ingin pulang lagi. Guru Im mempersilahkanku untuk memperkenalkan diri dan murid lainnya pun mulai tenang.

"H-Halo-" (Harus ya gagap gini?)

"Ehm.. halo semuanya." Aku membungkukkan badan.

"Nama saya Oh Haerin." Aku bisa mendengar suaraku sendiri yang sangat tipis dan gemetar. Kaaaaaaan…

Perasaan maluku bertambah saat tidak ada murid yang berbicara. Kelas begitu hening setelah aku memperkenalkan diri. Uhh? Kenapa? Mereka sungguh terdiam. Aku menoleh ke arah Guru Im dan ia pun hanya duduk disitu, terlihat membeku walaupun matanya berkedip beberapa kali sebelum menaruh penanya kembali.

"Oh Haerin?" tanyanya seakan ia baru saja belajar mengeja. Apakah ia berusaha memastikan namaku?

"Iya, ssaem. Nama saya Oh Haerin." Ucapku lebih jelas sekarang. Mungkin mereka tidak mendengarku dengan baik. Atau aku yang salah mengucapkan namaku? Ugh.. aku terlalu gugup untuk mengontrol lidahku sendiri.

Guru Im terlihat seperti memikirkan sesuatu yang-, heeey ayolah biarkan aku duduk. Apakah namaku se aneh itu jadi dia maragukannya? Namaku jelas baik – baik saja.

"Baiklah, Haerin. Silahkan duduk."

Mataku menyapu seluruh ruangan. Hmm.. sepertinya hanya barisan paling belakang yang tersisa. 3 bangku di barisan paling belakang kosong. Tersisa 2 pasang meja dengan salah satunya berisi satu siswa. Rambut pirangnya terlihat sedikit berantakan dengan mata besarnya dia terlihat… cute. Tempat duduk yang kosong juga dekat jendela, tempat yang pas untuk melamun, hehe.

Aku pun menuju meja tersebut. Setidaknya aku memiliki teman sebangku.

"ah… sungguh?!"

"Eh iya! Omo.. apa kita tidak memberitahunya?"

"Aiisshh, seharusnya dia sudah tau hal itu."

"Oh.. kasian."

Apakah mereka sedang membicarakanku?

Memberitahu apa? Kasihan?

Aku melihat lurus ke tempat kosong di samping siswa itu. Yah, mengapa mereka mengasihaniku jika aku akan duduk dengan siswa tampan seperti itu?

Tempat dudukku terhalang olehnya. Aku berhenti di samping kursi siswa tersebut, yang masih menatap keluar ruangan. Aku mulai berpikir jika dia memang tidak menghiraukanku sama sekali.

"Perm-"

"Haerin, segeralah duduk. Kenapa kamu berdiri disitu?" Guru Im terlihat tidak sabar. Kok, jadi aku yang disalahin? Kan siswa ini yang tidak mau berdiri dari tempatnya. Aku mendengus pelan, dan sepertinya seruan Guru Im mempengaruhi murid di depanku. Dia mendongak lalu melihat ke arahku. Rambutnya yang dicat pirang itu terlihat sangat cocok dengan kulit pucatnya. Ia memiliki mata yang… dalam?

Ah apa – apaan aku. Murid itu menatapku seperti melihat hantu. Matanya terbelalak meminta penjelasan. Bukannya seharusnya aku yang bingung? Aneh. Atau mungkin karena ini mereka kasihan padaku?

Karena ia tidak segera berdiri, aku menyelip dari belakang kursinya yang cukup untuk badanku, tentu saja dengan tas yang ku taruh di sebelahnya dahulu. Aku duduk dengan sedikit kesal. Semua murid sudah kembali menghadap papan tulis dan Guru Im menatapku dengan pandangan bingung. Kenapa?

Ia kembali ke papan lalu menjelaskan materi. Aku mengambil bukuku dari tas dan sedikit melirik ke cowok di sampingku. Ia sekarang menatap ke Guru Im dan tidak mengeluarkan buku. Aku bahkan tidak melihat tasnya. Huh? Bukankah murid ChanSung terbilang rajin? Kenapa dia terlihat begitu-

"Bisakah matamu berhenti melakukan itu?"

….cuek?

"Ya?"

"Matamu melihat ke aku." What..?

"Trus?" Kebingungannya membuatku bingung.

Kulihat ia menghela napasnya cukup keras. Aku heran Guru Im belum memarahinya.

"Bukankah seharusnya mata itu-" ia menujuk ke mukaku

"Melihat ke sana?" aku mengikuti gerakan jarinya ke depan.

"o-oh…" Aku linglung. Oh, tentu. Ke depan. Iya.

Aku segera mengambil tempat alat tulisku lalu menulis apa yang Guru Im tulis di papan. Wajahku memanas karena kejadian barusan. Aku baru saja ketahuan menatap wajah manisnya. Huh manis? Apa – apaan.

"Kamu juga seharusnya ngeliat ke depan." Gumamku. Setidaknya aku membalas ucapannya. Sungguh dia sudah membuatku kesal dengan sikap sok cool nya itu. Apa dia jenius? Terlalu pintar sehingga buku aja nggak perlu bawa?

Aku terus menunduk dan mencatat, tetapi rasanya mata bulatnya masih tertuju padaku. Aku melihat ke arahnya lagi dan wooah muka tampan nan pucatnya itu sangat indah- eh apa? Aku membalas tatapan (lagi -lagi) kagetnya dengan ekspresi yang sekuat tenaga kuusahakan datar. Sungguh bibir pink nya itu terlihat cantik seka-

"Apa?" Tanyaku sebelum otakku bertambah gila.

"Bukankah seharusnya mata itu-" kutunjuk wajah cantiknya.

"Menatap ke sana?" Tidak sepertiku tadi, ia sepertinya tidak menghiraukan tanganku.

"ka-kamu…" ucapnya sedikit panik. Hah? Aku kenapa?

"Kamu berbicara denganku?"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~The Cursed Souls~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara bel telah berbunyi menandakan jam istirahat.

Aku berjalan ke kantin (tanpa peta. Itu akan sangat memalukan) dan memikirkan ucapan si pirang tadi. Pfft.. tentu saja aku berbicara dengannya. Aneh. Dia bahkan tidak bergeming sama sekali saat aku memintanya untuk berdiri, membiarkan aku keluar dari meja kami. Ia malah berbisik "Sshh! Jangan berbicara terlalu keras!" lalu berdiri dari tempatnya secara berlahan. Sekali lagi, aneh.

Sungguh dia membuatku sangat bingung. Wajah tampannya itu sangat mengagumkan tetapi sifat anehnya itu yang membuatku geleng – geleng kepala. Dan juga aku belum tau namanya karena sifat aneh dan lucunya itu membuatku susah berbicara dengannya.

"Chansung Highschool. Salah satu sekolah ternama di kota kita. Fasilitasnya bagus, murid- muridnya pintar, guru yang baik dan tegas, tetapi tentu saja kamu harus menjaga nilaimu cukup tinggi untuk bisa menikmati semua itu. Eh iya, katanya sih di Chansung pernah ada kasus yang cukup mengerikan (suaraku terkesiap dengan sangat berlebihan), ah tapi intinya sekolah barumu top banget!"

Ahh.. andai saja Mira bersamaku disini. Ia pasti sangat senang. Ucapannya saat itu memang sangat benar. Sampai saat ini semua hal (kecuali si pirang tentu saja) sangat sesuai dengan ekspetasiku. Dan benar saja.

Saat aku memasuki pintu kantin yang seperti restauran, di dalamnya sangat… bagus. Makanan disajikan dengan baik, para siswa mengambil sendiri seluruh makanan mereka (di sekolahku dulu, kami langsung diberi 1 paket dan tidak boleh tambah yang lain). Waaah.

"Minggir." Suara berbisik di belakangku membuatku merinding. Aku menoleh ke belakang. Cowok itu berdiri sangat dekat membuatku harus mundur. Ekspresi congkaknya membuatku kesal.

"yah!" teriakku kesal. Aku tidak bisa mengucapkan apa – apa. Wajahnya terlihat terkejut lalu tersenyum miring. Iih.

"Jalan ini bukan milikmu, nona." Suara tenornya dan wajahnya benar – benar-

"Ini juga bukan milikmu." Ucapku kesal. Eh sok tau nggak aku? Siapa tahu seperti di drama, dia bisa saja pemiliki tempat ini? Tidak menunggunya menjawab, aku berbalik badan lalu berjalan menuju antrian. Sungguh menjengkelkan.

Setelah aku mengambil makananku, aku mencari tempat kosong. Chansung tidak memiliki banyak murid SMA sehingga kantin pun tidak terlalu luas. Mereka memiliki kursi – kursi yang tertata seperti di restoran di dalam ruangan dan bangku – bangku ala rekreasi di luar ruangan kantin. Beberapa meja di dalam ruangan kosong jadi aku menuju meja kosong untuk berempat di sudut yang sedikit sepi. Wah, kemana si pirang? Apa dia tidak makan? Aku melihat ke sekeliling ruangan. Setelah kulihat – lihat ternyata banyak juga yang mewarnai rambut mereka. Mungkin mewarnai rambutku biru gelap akan sangat-

"HAI!"

"AAh!" nampanku hampir terjatuh jika saja cewek di depanku ini menyapa lebih keras.

"Eh.. hehe. Maaf." Ucapnya sedikit lugu. Hmmm.. siapa dia? Aku tidak melihatnya di kelasku tadi.

"Namaku Kim Sohyun. Senang bertemu denganmu!" ucapnya sedikit terlalu ceria untukku. Aku tersenyum kecil lalu menjabat tangannya.

"Aku Oh Haerin, senang bertemu denganmu." Kuamati wajah kecilnya yang sedikit tercenggang. Lagi – lagi karena namaku ya? Sepertinya aku harus belajar mengeja namaku dengan baik lagi. Setelah menarik tangan kami masing – masing, Sohyun membenarkan rambut kemerahan di depan matanya.

"E-eh iya. Mmmm.." dia melihat sekeliling. Sepertinya, gugup?

Dengan tidak sengaja mataku tertuju ke meja yang akan kutuju tadi. Seorang cowok mendudukinya. Hmmph bagus. Dengan percaya diri-nya (dan kesal karena meja itu sudah diduduki orang lain) aku menuju meja itu.

"Ayo, Sohyun. Duduk disana." Rasanya jahat sekali jika aku langsung saja meninggalkannya.

"O-oh tentu." Ia mengikuti di belakangku. Saat aku sudah di dekat meja itu Sohyun menarik tanganku.

"Haerin, kenapa duduk disitu?" ucapnya sedikit berbisik.

"Emang kenapa?" apakah dia takut menganggu cowok yang membelakangi kami itu?

Sohyun melirik sebentar ke arah meja lalu menghela napas. Ada apa dengan orang – orang ini dan helaan napas?

"mm.." ia menggigit bibir bawahnya.

"Udahlah, nggak papa. Ayo." (Cowok ini juga nggak peduli) Aku duduk di sebelah cowok itu dan Sohyun di depanku.

Saat kami mulai melahap makanan kami, aku melihat cowok di sebelahku hanya duduk dan tidak menyentuh makanannya sedikit pun. Aku berdeham dan dia juga tidak menoleh ke samping. Kenapa? Dia takut denganku? Heh, aneh – aneh saja aku.

"hey, makanan itu nggak akan terbang ke mulutmu gitu aja tau." Ucapku yang kusadari sedikit kasar. Aiishh.. kebiasaan lamaku tidak bisa dihindari.

Cowok berambut hitam kelam (finally, ada yang terlihat normal di sekolah ini) itu sedikit tersentak dengan ucapanku. Wah, pangeran kecil kita sadar dari lamunannya sekarang. Dia hanya diam saja dan aku sedikit kecewa dia tidak membalas ucapanku.

"uh.. sorry Haerin. Aku lagi ngelihat web sekolah nih." jawaban Sohyun ingin membuatku tertawa. Tapi daripada aku malu sendiri tidak dihiraukan oleh cowok di sampingku ini, lebih baik Sohyun mengira aku berbicara dengannya. Anyway.. web sekolah?

"Web sekolah itu tempat buat ngeliat semua kegiatan sekolah, dari yang pengumuman – pengumuman penting, sampe gossip – gossip terkini.. Ada kamu disini. 'Murid baru dipertengahan tahun pelajaran'-"

Wah, sepertinya orang – orang di sekolah ini bisa membaca pikiran. Aku terus berbicara dengan Sohyun. Ternyata dia adalah salah satu wakil ketua OSIS disini. Jelas saja. Walaupun rambut berponinya di cat merah maroon dan dibuat ikal, ia termasuk siswa pilihan sekolah. Ia berbicara banyak tentang sekolah.

Setelah kami selesai makan, Sohyun berdiri dan membuang sisa makanannya di tempat sampah.

Sekarang aku sendiri dengan si pangeran kecil.

Aku melihat ke arahnya dan sepertinya ia memakan separuh dari makanannya. Merasakan pandanganku, ia berhenti memainkan makanannya. Yah, at least dia memakannya.

"Mmm.. terimakasih sudah membolehkan kami duduk sini. Namamu siapa?" Ucapku sedikit malu. Sungguh rasa tidak enakku baru datang setelah Sohyun berdiri.

Ia sedikit tersentak lalu melihat ke arahku. Wow. Matanya lebih bulat dan besar daripada si pirang. Mukanya terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Dia terlihat sang-

"Kamu berbicara denganku?"

Oke, rasanya déjà vu.

"Oh, enggak. Aku bicara sama kursimu. Halo kursi, bagaimana makanannya?" ucapku sebelum memutar bola mataku.

"Iyalah aku berbicara denganmu. Siapa lagi?" ucapku sedikit geram. Kenapa cowok – cowok ganteng ini otaknya kurang anu sih?

Ia menunduk dan poninya menutupi ekspresinya.

"Kyungsoo." Ucapnya dengan suara kecil lalu berdiri dengan hati – hati dan pergi. Well, senang bertemu denganmu pangeran kecil Kyungsoo.

Sohyun mengajakku berjalan – jalan di sekitar gedung – gedung sekolah dan kembali bercerita tentang sekolah dan isinya. Sekolah ini terlihat sangat tua, tetapi hal itu tidak menghambat kemajuan teknologi dan fasilitasnya. Sepertinya si pemilik sekolah sangat menyukai kesan tua dan teduh sekolah ini sehingga enggan untuk merenovasinya terlalu jauh, selain membenarkan hal – hal yang rusak.

Bahkan ada beberapa ruangan gedung yang sudah tidak digunakan, tetapi masih berada disana. Aku heran kenapa mereka tidak merenovasinya menjadi lebih berguna. Kan mereka bisa menghemat tempat lebih banyak.

"Jadi.. kamu masih belum tau banyak tentang sekolah barumu ini, Haerin?" ucap Sohyun terdengar sedikit ragu. Mungkin itu hanya caranya berbicara. Kuperhatikan dari tadi ia berbicara dengan anda yang malu – malu dan ragu. Tidak seperti saat tadi ia menyapaku di kantin.

"Mhmm.. nggak banyak sih. Aku cuman tau dari temanku, dia sangat menyukai sekolah ini. Fasilitasnya bagus, siswa dan guru yang baik,-"

Aah aku baru ingat itu.

"Kasus, Sohyun." Sohyun menghentikan langkahnya. Akupun mengikutinya.

"A-ah… kenapa dengan itu?" Ucapnya lagi, dengan ragu. Aku heran bagaimana ia bisa langsung mengerti padahal aku hanya menyebutkan satu kata.

"Temanku bilang kasusnya, cukup serius, iya?" ucapku lebih pelan. Mungkin hal ini tidak boleh dibicarakan. Siapa tau?

"Mmmm.. iya." Sohyun mengangguk.

"Apa yang terjadi?"

"Kasus ini terjadi sudah lama sekali, mungkin beberapa dekade yang lalu."

Kami berjalan ke taman belakang kelasku lalu duduk di salah satu bangku. Aku melihat dua siswa berlari – larian di depan kami. Umur berapa mereka? Sepuluh?

"Sebenernya kasus itu nggak besar – besar banget. Cuman, para murid itu… mereka meninggal dengan janggal. Beberapa ada yang meninggal karena kecelakaan, kebanyakan kecelakaan tunggal dan yang lain… meninggal begitu saja." Ucapnya sedikit berbisik dengan mata terlihat kosong. Cara berbicaranya mengingatkanku pada nenekku yang sedang menceritakan kisah mengerikan di jamannya dulu. Yah sebenarnya memang terdengar biasa saja. Sebuah grup meninggal secara tiba – tiba. Aku ingin tertawa melihat ekspresi wajah Sohyun jika saja perasaan aneh di dadaku tidak datang. Aku menangkap suaraku yang tertelan lalu bertanya padanya.

"Apakah tidak ada saksi mata? Maksudku, jadi kasus ini tentang mereka mati satu persatu –(perasaan dingin menjalar ke seluruh tubuhku)- dan tidak ada sebabnya?" mataku melirik 2 cowok yang daritadi bercanda tawa di depan kami. Apakah Sohyun tidak merasa terganggu dengan 2 cowok dungu itu?

"Banyak yang bilang itu karma mereka, Haerin. Katanya sih mereka adalah siswa siswa bandel disini. Dalam artian memang benar – benar sangat nakal. Tapi wajah tampan dan otak jenius mereka itu tidak ada tandingannya." Sohyun mendengus seakan ia merasakan kenakalan mereka.

"Bahkan beberapa dari mereka adalah murid pilihan sekolah di tahun – tahun mereka. Sifat mereka tidak ada bandingannya jika otak mereka sudah berkerja. Dan wajah tampan… ugh." Lanjutnya sedikit jengkel. Well… anak nakal yang semena - mena tapi bisa selamat dari semua ujian mematikan sekolah. Siapa yang tidak mau menjadi mereka?

"Berapa banyak sih?"

"Hmmm… Sembilan orang." Pfftt.. apakah mereka member boyband?

"Lalu di tahun berikutnya bertambah 3 orang. Jadi 12 orang." Waah… benar benar sebuah boybad sepertinya.

"Mereka sangat – sangat tampan, kamu bisa mengeceknya di perpustakaan. Ada buku siswa di sana. Tapi iyasih mereka memang terlihat sedikit bandel, dari tampang mereka tetapi aaargh siapa yang nggak mau punya pacar ganteng, kaya, plus sedikit nakal kan tidak masalah…" ucapnya sambil mendengus. Kenapa Sohyun terlihat frustasi? Hahaha, ada – ada saja.

"Bagaimana kamu tau semua itu, Sohyun. Maksudku, mereka bahkan ada dan meninggal sebelum kita lahir. Sifat – sifat dan segala macamnya.."

"Percaya tidak kalau aku bilang ada buku tentang mereka?" Hah?

"Seperti.. buku biografi?" Sohyun mengangguk.

"Whaaat?" Mereka ini memang benar – benar artis boyband terkenal ya…

"Para anggota OSIS wajib membaca sejarah tentang sekolah dengan baik. Termasuk sejarah mereka. Kadang ngeri juga sih. Kudengar, banyak murid yang indigo melihat mereka di beberapa tempat di sekolah." Ketidaktertarikanku dan kurang percaya dengan cerita – cerita horror seperti ini membuatku ingin tertawa. Tetapi di sisi lain aku sedikit takut jika nanti… mereka mengganggu. Itu mengerikan.

"jadi.. apa yang terjadi?" Tanyaku. Aku masih bingung dengan segala masalah pembunuhan ini. Eh.. pembunuhan?

"Anggota termuda mereka adalah yang paling normal. Dia benar – benar ramah, pintar dan jangan lupa wajah tampannya itu. Ceritanya dimulai saat ada seorang murid cewek pendiam dan dingin yang suka sama dia. Cewek itu-"

RIIIIIIIIIIIIING!

Suara bel memutus ucapan Sohyun. Kami pun berdiri dan hendak menuju kelas masing – masing.

"Nanti aku lanjutin ceritanya waktu pulang aja ya. Kita kan satu perumahan. (eh, dari mana dia tau?)" Aku hanya menganggukkan kepala.

"Oh tapi nanti ada rapat sebentar."

"Iya, aku nanti nunggu di kantin. Oke?"

"Oke!"

Aku pun menuju kelasku. Wah, aku benar – benar tidak melihat-

"Haerin!" Aku menoleh ke belakang.

"Kelasmu yang itu?" Tanya Sohyun dengan tangan menunjuk ke kelasku. Aku pun mengangguk.

"Oh, aku mendengar salah satu dari mereka ada disana." Ucap Sohyun santai. Terlalu santai untuk kata – katanya.

Gleg

Hawa dingin menyentuh tengkuk leherku.

"di-dimana?" Bukankah tadi kubilang aku tidak percaya… hantu?

"Belakang. Di dekat jendela."

Di dekat jendela…

Di dekat jendela…

Di dekat jendela…

Uuuh… okay?

Saat aku masuk ke kelas, si pirang sudah berada di kursinya. Apakah dia tidak makan? Oh mungkin saja dia makan tetapi langsung menuju kelas. Eh, kenapa aku yang bingung? Makan atau tidak kan urusan dia.

Saat melihat aku menuju bangku, ia menatapku sebentar. Kenapa lagi? Sebelum aku sampai ke meja kami dia sedikit terkesiap lalu berdiri dengan berlahan. Sedikit menundukkan kepalaku, aku duduk. Si pirang selalu terlihat sangat hati – hati dengan semua apa yang dia lakukan. Aku heran. Ia selalu melakukan halnya dalam diam.

Saat ia duduk, aku mulai memikirkan mmm... hantu?

Iya, hantu itu. Mungkin dia sedang duduk di aku sekarang.

Atau di si pirang. Aku menoleh ke si pir-

Oke aku harus tanya namanya sekarang. Dan mengobrol. Mungkin dia tau tentang kasus yang entah kenapa aku jadi tertarik untuk mendengarnya.

"Hey, pirang. Aku pingin tau- eh kenapa melihatku seperti itu?" mata bersinar (ew, what?)-nya melihat ke aku seperti dia melihat hantu atau semacamnya. Eh, hantu?

"M-maaf. Aku jarang diajak bicara." Ucapnya lirih dengan senyum yang gugup. Hmm.. sepertinya memang ia selalu berbicara bisik – bisik.

"Hah? Pfft… tenang saja, sekarang kamu memiliki teman sebangku untuk diajak berbicara." Aku tertawa mendengar suaraku yang kubuat selirih miliknya. Well, si pirang ternyata seorang pemalu.

Dia menggumamkan sesuatu yang tidak dapat kudengar.

"Mmm.. iya. Namaku Luhan. Jadi berhenti memanggilku pirang."

Oh… Luhan. Hmmm nama yang aneh. Dia pasti-

"Aku dari Cina, makanya namaku seperti itu." Dia berbicara dengan bahasa lampau, mungkin sekarang dia orang korea?

"Jadi sekarang kamu orang korea?"

Ia terlihat berpikir sejenak. Apa dia tidak tau aku berbicara apa?

"Uuh.. i-iya. Sekarang korea." Caranya berbicara sangat lucu. Mungkin dia sangat baru dengan bahasa korea. Tunggu, kenapa dia jadi pemalu seperti ini?

"Oh.." aku nggak tau mau ngomong apa lagi. Aku melihat keluar jendela dan melihat 2 cowok di taman itu masih disana. Sekarang mereka duduk di bangku dan yang satu, dengan rambut hitam dan matanya yang sipit itu berbicara dengan antusias sementara yang satu dengan wajah yang baru kusadari sangat tampan itu mendengarkannya sambil tersenyum kecil. Apa tidak ada yang melihat mereka?

"Murid – murid di sekolahmu itu juga ganteng – ganteng plus cantik lho,"

Yeah, benar juga ucapan Mira.

"Haerin, gurunya datang." Aku hampir lupa kalau ada Luhan di sebelahku. Aku berhenti menatap 2 siswa di luar lalu mengeluarkan bukuku.

"Kamu, yang di pojok belakang." Aku mendongak mendengar suara Guru Kim. Beliau duduk di kursinya dengan buku di hadapannya.

"Saya, ssaem?" tanyaku ragu. Kudengar suara dengusan yang dibuat – buat.

"Yah, tentu. Apa aku memanggil yang disebelahmu?" Aku merasa Luhan terpaku setelah Guru Kim mengucapkannya.

"Tolong kerjakan soal nomor 2, di papan tulis." Ucapnya cepat. Huh, judes sekali. Saat aku hendak berdiri Luhan menahanku.

"Eh, tunggu." Luhan meraih bolpen dan menuliskan sesuatu dengan cepat di meja. Aneh, seharusnya ia menulisnya di buku saja.

"Ini cara mengerjakan yang ia inginkan. Kerjakan setidaknya mirip seperti ini, dia akan langsung membiarkanmu duduk kembali." Ucapnya lagi – lagi dengan suara kecilnya. Aku membaca jawaban di meja dengan cepat lalu berusaha mengingatnya. Setelah itu aku mengisyaratkan Luhan untuk berdiri, memberiku jalan untuk ke depan.

Kreeeak

Saat aku hendak berdiri, Luhan terlihat terpaku di tempatnya. Matanya membelalak dan begitu juga murid di sekitar kami, menatap ke arahku.

Menjadi pusat perhatian bukan hal bisa kuhadapi dengan baik di dunia ini, jadi sekarang... apa?

"Kerjakan saja soalnya Haerin…" suara Luhan terdengar sangat samar di telingaku. Aku berdeham, menghilangkan gumpalan rasa gugup di tenggorokanku dan maju ke depan.

Suara spidol berdecit di papan membuatku gugup. Aku menghapal jawaban yang Luhan tulis di meja layaknya mantra. Menghapal adalah hal kecil untukku, tetapi dengan keheningan kelas yang terdengar lebih keras dari detakkan jantungku membuatku ingin sekali meleleh dan teresap ke dalam bumi.

Saat aku selesai menulis jawaban di papan, aku berbalik dan melihat beberapa murid masih memperhatikan Luhan dengan wajah yang was – was. Hal tersebut membuatku mengernyit heran. Luhan duduk tenang dengan mata tertuju ke arah papan, seakan – akan tatapan para murid itu tidak ada. Aku berdeham cukup keras untuk merebut kembali perhatian Guru Kim.

"Hmm… bagus Nona Oh. Silahkan duduk kembali." Ucapnya setelah melihat sekilas jawabanku. Napas lega keluar dari mulutku dan aku dengan cepat duduk ke kursiku kembali. Kelas pun kembali normal. Ada apa ini? Perasaan aneh dan bingung menyeruak di seluruh badanku.

Aku melihat ke arah Luhan dan dia hanya diam saja. Matanya menatap ke arah Guru Kim dengan perhatian penuh. Mungkin dia si jenius yang tidak diinginkan kelas. Otakku tidak dapat menemukan titik asal kebingunganku. Tatapan para murid yang seakan – akan takut kepada Luhan, hingga jawaban yang sudah kuhapus dari meja.

"Hey, Haerin." Suara lembut dari depanku membuat lamunanku terpotong. Pelajaran Guru Kim sudah selesai dan Luhan tidak mengatakan apapun setelah itu.

Aku tersenyum kecil ke arah Yerin. Mata kecilnya melirik ke arah Luhan sekilas, lalu menatapku dengan sopan.

"uuhh.. hai?" balasku sedikit linglung. Yerin menggigit bibir bawahnya, terlihat gugup.

"Apakah kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh?" Ucapnya sedikit berbisik.

"Iya…" ucapku sedikit menggantung. Dengan semua kebingunganku, tentu saja ada yang aneh. Yerin menghela napas, seakan berusaha bersabar akan sesuatu.

"Mmmm… semoga kamu tidak terlalu terganggu dengan itu." Senyumnya terlihat sedikit tertekan, lalu ia kembali menghadap ke depan karena Mrs. Jung masuk ke dalam kelas.

Bolehkah aku membuat kesimpulan? Murid – murid ini tidak menyukai Luhan, entah kenapa. Mereka sangat tidak menyukainya sampai – sampai semua yang Luhan lakukan membuat mereka resah. Tapi kenapa?

Mrs. Jung sangat membosankan. Ia membaca buku teks seperti membaca dongeng untuk kami. Aku melihat keluar jendela dengan malas. Eh, dua cowok itu lagi? Bagaimana bisa mereka di luar seperti itu tanpa menerima teguran? Mereka duduk di bangku panjang, berhadapan. Salah satu berambut hitam dengan mata kucingnya berbicara dengan antusias sementara satunya lagi dengan warna rambut yang hampir sama dengan Luhan mendengarkannya dengan baik.

"Itu Tao dan Kris." Suara tenang Luhan terkadang membuatku merinding.

"Kenal mereka?"

"Teman – temanku. Kami satu… lingkaran."

"Pssh.. geng?" Luhan tertawa kecil mendengarku.

"yah.. bisa dibilang seperti itu. Mereka jarang ikut pelajaran."

"oh…" tidak tahu harus bilang apa. Jadi dia memang berteman dengan orang – orang seperti ini?

Jam pelajaran telah usai. Aku membereskan bukuku dan duduk diam di kursiku. Banyak hal terjadi hari ini. Luhan, Sohyun, dan Kyungsoo. Entah kenapa aku ingin bertemu si kecil itu lagi. Setidaknya aku menambah teman hari ini. Aku harus menunggu Sohyun sekarang. Aku melihat Luhan yang dengan enggan bangun dari tidurnya lalu berdiri.

"Ahh... Sudah pulang ya?" aku mengangguk. Masih banyak hal yang aku ingin tau dari Luhan. Sifatnya yang selalu hati –hati dan tenang itu terlihat sedikit terpaksakan. Mungkin itu bukan sifat aslinya? Lagi – lagi dengan sikap agak linglungnya yang aneh tapu lucu itu membuatku ingin tahu lebih.

Kami berdiri lalu berjalan ke pintu kelas. Kelas sudah kosong beberapa saat lalu. Aku tidak berani membangunkan Luhan karena dia terlihat nyenyak sekali tadi. Lagipula aku tidak keberatan melihat baby face-nya yang sangat lucu itu.

"A-ah!" Aku tersentak lalu melihat ke Luhan yang matanya terbelalak.

"Apa? Kenapa, Lu?" tanyaku sedikit panik. Teriakannya terdengar kesakitan sehingga aku melihat ke sekujur tubuhnya. Mungkin dia terluka. Luhan menggelengkan kepalanya.

"Ti-tidak apa – apa." Dia menggaruk kepalanya lalu tersenyum malu.

"Aku…teringat sesuatu." Ucapnya sedikit teralihkan. Ia melihat ke belakangku lalu kembali.

"Kamu duluan saja Haerin." Senyumnya berganti lembut. Aku mengangguk lalu keluar menuju kantin.

Kantin pun terlihat sepi. Menyapukan mata ke sepenjuru ruangan, aku menemukan kepala berambut hitam di tempat yang sama. Pangeran Kyungsoo.

Entah aku sedikit geli saat memanggilnya seperti itu. Hanya saja, postur badan nya sangat mengingatkanku tentang pangeran kecil dan manja di buku cerita adikku.

"Hai, Kyungsoo." Sapaku pelan. Ia terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum.

"Hai." Singkat dan cepat.

"Kenapa disini sendirian?" Tanyaku sambil mengambil duduk di depannya.

"Aku… menunggu temanku." Dia berbohong. Kadang aku membenci otakku saat ia terlalu observant dan mengambil keputusannya sendiri. Kyungsoo menatapku lalu dengan cepat sorot matanya berubah, seakan merasakan keraguanku.

"Aku benar – benar sedang menunggu temanku." Ucapnya lirih. Aku tertawa.

"Ahahaha… iya – iya. Mmm.. apakah ini kencan? Kalau iya aku akan pergi sekarang-"

"Tidak! Temanku ini cowok." potongnya cepat. Matanya yang besar terbelalak dan wajahnya memerah. Ahh.. lucu sekali. Aku kembali tertawa melihat ekspresinya.

"Pfftt, oke oke. Aku bercanda, Soo." Wow, aku bahkan berani memanggilnya seperti itu.

"Kyung?" Aku mendongak mendengar suara yang kuingat sebagai gangguan.

"Yah!" suara cemprengnya terdengar menjengkelkan di telingaku. Dia cowok yang tadi menegurku di kantin.

"Jadi.. kalian kenal satu sama lain?" suara berat dan lembuntnya terdengar seperti terkejut.

"Tidak." Kami membalas bersamaan. iih, menjengkelkan. Ah, mukanya sungguh-

"Kau mengenalnya, Kyung?" Tanya cowok itu dengan nada yang mengejek.

"Hey!" sanggahku.

"Oke – oke. Cukup." Kyungsoo terlihat frustasi. Mungkin si cempreng ini memang menjengkelkan untuk semua orang.

"Jadi ini temanmu, Soo?" Kyungsoo mengangkat bahunya singkat.

"Namanya Kim Jongdae-"

"Chen. Panggil saja Chen." Suara tenornya menjadi sedikit bersahabat. Wajah congkaknya tadi pagi berubah menjadi senyuman manis.

"Aku Haerin." Aku mengulurkan tanganku padanya. Ia mengambilnya dengan sedikit terlalu antusias. Aku tertawa kecil.

"Hanya Haerin?"

"Oh Haerin." Daaaan wajah itu lagi. Senyum Chen sedikit berkurang saat mendengarnya. Entah itu bertanda bagus atau sebaliknya.

Setelah itu aku memperhatikan pembicaraan mereka. Kyungsoo memarahinya karena telat dan membuatnya menunggu sementara Chen-

"Hey, ayolah. Kita sudah terlatih menunggu." Ew, cheesy.

Kyungsoo memutar bola matanya dan terlihat sangat jengkel. Aku tertawa kecil saat mereka kembali berdebat untuk hal yang tidak penting.

"Ketawain apa kamu?" Saat aku mendongak, Sohyun merampas botol minum yang tadi aku beli dan minum seperti orang yang dehidrasi. Dimana Sohyun yang pemalu tadi pagi?

"Oh, Sohyun?" Sohyun mendengus.

"Ahhh para kakak kelas itu menjengkelkan sekali. Maaf Haerin, kamu harus menunggu lama." Aku mengecek jamku dan benar saja. Aku telah duduk disini selama satu setengah jam.

"Dan ini bukunya." Ia menaruh buku dihadapanku.

"Apa ini?" aku bisa merasakan debu di cover nya.

"Yah, sepertinya kamu sangat ingin tau tentang mereka. Jadi aku bawakan bukunya saja. Nanti akan kuceritakan garis besarnya saja." Ucapnya malas. Bukankah anggota OSIS yang boleh membacanya?

Aku pun berdiri lalu menyusul Sohyun yang berjalan lebih dulu sambil melambai ke Kyungsoo dan Chen yang terdiam hingga Sohyun pergi. Ada – ada saja mereka.

Koridor sekolah pun cukup sepi. Sohyun berjalan sedikit di depanku dan aku melihat – lihat taman – taman di samping kanan dan kiri koridor. Lampu juga sudah mulai dinyalakan karena sekolah ini terlihat lumayan gelap walaupun ini masih pukul 4 sore. Lampu kuning yang terang membuat gedung sekolah terlihat sedikit-

Ttakk!

Aku melihat ke bawah dan ada kacamata yang tiba – tiba saja terjatuh di depanku. ah… syukurlah aku melihatnya. Aku kaget saat ada orang yang membungkuk di depanku, mengambil kacamata yang terlihat baik – baik saja walaupun sudah jatuh sangat keras tadi. Sepertinya kacamata berkualitas tinggi.

Saat orang itu mendongak, hal pertama yang aku lihat darinya adalah rambut. Rambut cowok di depanku berwarna ash grey yang sangat langka untuk murid SMA. Apa dia seorang idol?

"Maaf, tidak sengaja." Suaranya yang sangat berat mengejutkanku. Senyumnya yang sangat… lucu, suara berat, ash grey, dan tinggi badan yang membuatku terintimidasi. Benar – benar-

"Oi Haerin!" Lamunanku terhenti oleh teriakan Sohyun. Aku melihat sekeliling. Cowok itu sudah pergi.

"Eh beneran, kenapa sih tadi kok ketawa – ketawa?" Sohyun bertanya saat kami menunggu bus di halte. Aku kembali tersenyum saat mengingat duo cutie itu. Eh, Chen? Cutie? Ew, no.

"Tuh kan senyum – senyum." Aku hanya menggelengkan kepala.

"Nggak papa, So. Tadi itu mereka lucu banget."

"Mereka siapa?" Sohyun mengernyitkan dahi. Mungkin dia terlalu lelah untuk menyadari dua cowok di depanku tadi. Saat aku ingin menjawab, bisnya datang.

Setelah turun dari bis, kami berjalan ke perumahan kami yang lumayan jaraknya dari halte.

"Ceritanya itu dimulai saat ada murid baru di sekolah kita." Hah? Cerita apa?

"Kasus itu Haerin." Aku mulai terbiasa dengan keahlian Sohyun dalam membaca pikiran.

"Ohh..."

"Namanya Jessica Jung. Dia terkenal karena otak pintarnya dan paras cantik seperti Barbie. Tetapi katanya dia tidak memiliki teman." Kami tiba di gerbang perumahan, lalu menyapa pak satpam dan menuju arah rumahku.

"Menurutku sih, dengan sifatnya ia memang tidak mau punya." Jelas Sohyun.

"Apakah dia cewek yang-"

"Enggak nakal Haerin. Hanya saja pendiam." Putus Sohyun.

"Lalu?"

"Suatu saat, ada murid cowok yang mau deketin dia. Dia anggota geng yang nakal itu." Well… aku belum melihat sisi pentingnya disini. Apa hubungannya cerita cinta seperti itu dengan meninggalnya mereka?

"Siapa?"

"Namanya-"

Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!

Suara mendengung cukup keras memasuki kepalaku. Aku memegangi kepalaku dan sakit kepala yang tiba – tiba datang membuatku berhenti berjalan. Suara dengungan semakin keras dan kepalaku menjadi sakit sekali. Kenapa ini?

Aku kehilangan kendali badanku dan terjatuh di jalan beraspal yang keras. Aku membuka mata dan semuanya terlihat kabur. Terlihat siluet Sohyun dan seseorang di belakangnya. Tenggorokanku mengering dan membuatku terbatuk – batuk. Aku merasakan tangan dingin Sohyun menggoncang – goncang bahuku.

"So-Sohyun…" suaraku terdengar serak.

Pandanganku tertutupi sinar putih yang membuat mataku sakit lalu….

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

gelap

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author POV

Ugh… dimana aku?

Haerin mengerjapkan matanya. Tangannya terasa berat di samping kanan kirinya. Ia melihat lurus ke langit – langit putih, kepalanya pun tidak bisa digerakkan dan rasa pening masih menjalari kepalanya. Haerin melihat ke arah bawah, sebisa mungkin mengangkat kepalanya tetapi tidak membuahkan hasil.

Hal pertama yang ia sadari adalah ia tidak sendirian. Nalurinya merasakan seseorang berada di tempat aneh ini bersamanya. Mulutnya pun seperti terbungkam dengan kain yang tak terlihat.

"MMMMHHHMMMMM!" SOHYUN!

Matanya melihat pergerakan di samping kanan.

Merah.

Gaun merah selutut membalut tubuh wanita berambut hitam legam yang berdiri beberapa meter darinya.

"Haerin…" suara itu terdengar sangat lembut dan samar.

"Hmmmhhmmm?" Siapa kamu?

Rasa panik mulai menjalari badannya saat wanita cantik itu tersenyum dengan janggal disana. Bibir tipisnya tertarik lebar di wajah cantiknya. Haerin terbelalak melihat senyum itu yang bahkan Chen sepertinya tidak bisa melakukannya.

"Hah… Syukurlah aku menghentikannya tepat waktu." Suara kecil itu terdengar di kepalanya. Haerin mengkerutkan keningnya, bingung. Perasaan campur aduk di dadanya terasa sangat melelahkan.

"Jika kamu mengetahuinya, maka permainan ini tidak akan menyenangkan lagi." Cekikikan keras beserta bergeraknya wanita itu menjauhinya membuat jantung Haerin berdegup kencang.

"HHMMMHHHMMMMHHMMM!"

Teriakan terbungkan Haerin tidak membuat wanita itu berhenti, ia menjauh dan hilang dari pandangan. Badannya yang terasa seperti tertindih dinding besar itu terasa pilu dan membuatnya ingin menangis.

Kenapa aku ini?

Suara merdu tiba tiba memasuki telinganya. Siapa?

Suara itu sangat indah, hingga membuat Haerin kehilangan rasa paniknya. Sedikit. Setidaknya ada orang lain disini.

"Mereka telah hilang. Masih ada satu bunga yang telah layu. Selamatkan… Selamatkan…"

"HAERIIIIIIIIIIIIIN!"

"AAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!"

"Haerin!"

Tangan seseorang mengguncang – guncang bahunya. Haerin membuka matanya dan melihat sekitar.

Ini bukan kamarku.

Napasnya tersenggal – senggal dan keringat membanjiri keningnya. Lalu terasa tangan yang dingin memeluknya dari samping.

"Sshhh.. hey tidak apa – apa. Kamu di kamarku, Haerin." Ucap Sohyun berusaha menenangkan teman barunya yang terlihat sangat berantakan itu. Haerin menoleh ke samping lalu Menyentuh tangan dingin Sohyun.

"Kenapa aku? Apa yang terjadi?"

"Kamu tadi tiba – tiba teriak sangat keras lalu pingsan. Aku sangat khawatir kamu kesurupan atau semacamnya tetapi aku hanya membawamu kesini karena aku nggak tau rumahmu. Tetangga kita membantuku membawamu kesini. Aku menghubungi orang tuamu –maaf lancang membuka hpmu tapi ini emergency- dan mereka mengatakan kalau kamu disini saja karena tidak ada orang di rumah. Dan barusan saja kamu teriak – teriak lagi lalu bangun tiba – tiba." Jelas Sohyun dalam sekali bicara. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Haerin.

Haerin menghela napas panjang.

"Rasanya seperti berjam – jam aku tidak sadar." Dan mimpi buruk itu terasa sangat lama. Jadi tadi Sohyun mendengar teriakanku? Pikir Haerin. Ia tidak mau mengingat – ingat mimpi mengerikan yang barusan terjadi. Sohyun terus menatapnya dengan pandangan khawatir.

"Kamu sungguh tidak apa – apa sekarang?" Haerin menarik napas dalam lalu melepasnya. Ia mengangguk. Sohyun menghela napas lega.

"Baiklah, sekarang mandi dulu sana. Ibuku menyiapkan makan malam sekarang. Lalu ayo kita makan." Haerin berterimakasih kepada Sohyun lalu bergegas ke kamar mandi. Kemeja seragamnya terasa sangat lengket. Ew.

Malam itu Haerin meminjam baju santai milik SOhyun dan setelah makan bersama ibu Sohyun (yang Haerin pikri adalah kakaknya, karena kecantikan dan wajah awet mudanya membuat Ibu Sohyun terlihat seperti duplikat yang lebih tua.) ia pulang dengan perasaan yang sudah tenang.

"kamu yakin nggak papa pulang sendiri?"

"Iya, So. Nggak papa. Lagian rumahku berjarak 3 rumah dari sini. Terimakasih untuk makan malamnya, tante!" Ibu Sohyun memberikan senyuman hangatnya.

Setelah berpamitan pulang ia pun bergegas ke rumahnya. Dengan mimpi seperti itu ia tidak berani berada di luar lama – lama.

Sampai di rumah, ia menengok ke kamar adiknya, Haejin. Adik laki – lakinya itu sedang bermain game di kamarnya. Setelah itu ia masuk ke kamarnya, mengganti baju lalu menuju kasurnya. Menghela napas, ia pun berharap untuk mimpi itu tidak kembali malam ini. Entah kenapa mimpi aneh itu membuatnya capek setengah mati. Buku yang diberikan Sohyun pun tidak terusik di mejanya.

Aaah… akhirnya.

To be continued.