Disclaimer : Bleach belongs to Tite Kubo
This story is inspired by xxxholic
xxxholic belongs to CLAMP
Warning : AU, OOC
Genre : Drama, Supranatural, Romance, Adventure
Part 2 : You are mine.
"Kali ini apa yang telah anda lakukan, Gin-sama?" desis pria berambut kuning. Mata birunya menangkap pemandangan Gin sedang memeluk gadis yang tadi baru datang ke toko mereka, toko Gin tepatnya. Gadis itu terkulai lemas di pelukan Gin, dengan kepala menyandar pada dadanya.
"Nee, Kira-kun, kata-katamu seolah-olah menuduhku berperilaku sama dengan para pemabuk di Ginza," sungut Gin. Pandangannya beralih pada gadis dalam pelukannya.
"Dia hanya terkejut melihat wajahku yang terlalu dekat. Aku rasa dia tidak terbiasa," ujar Gin pelan.
"Jadi anda mengakui kalau wajah anda tidak biasa? Atau mengakui kalau dia tidak terbiasa melihat wajah seperti wajah anda?" tanya pelayan Gin yang satunya. Pertanyaan itu sukses membuat Gin tersenyum selebar-lebarnya.
"Aku tidak akan menanyakan pertanyaan itu kalau jadi kau, Ulquiorra-kun."
Ulquiorra mengangguk, tetap dengan wajah datarnya. Disengat dengan sindiran atau peringatan macam apapun, Ulquiorra tetap bergeming dengan ekspresi seperti itu.
Gin kembali memandangi wajah Rukia. Wajah polos itu terlihat lelah, tapi juga menggoda untuk dibelai. Seperti waktu kita melihat bayi yang polos sedang terlelap.
"Biarkan dia istirahat. Hari ini sangat melelahkan untuknya," putus Gin.
"Dan...dimana dia akan tidur?" tanya Kira curiga.
Gin mendecakkan lidah, "Kau sudah mirip seorang ibu mertua, Kira-kun. Cerewet sekali," sungut Gin. Tapi sesaat kemudian wajahnya yang bersungut-sungut itu kembali cerah seperti bunga sakura putih yang mekar.
"Tentu saja di sini," jawab Gin.
"Tidak boleh!" bantah Kira tegas.
"Eeeh?"
"Gadis ini akan kami bawa ke tempat yang aman," tandas Kira. Dia hendak merebut Rukia, tapi dengan sigap Gin menepis tangannya. Tubuh ringan Rukia tetap terkulai nyaman dalam pelukan Gin.
"Gadis ini akan tetap bersamaku. Kalian bersiap saja kalau-kalau ada pelanggan lain yang datang."
Roman muka Gin terlihat serius waktu mengatakan ini, membuat Kira menghela napas. Terkadang menghadapi Gin seperti menghadapi anak kecil. Apalagi kalau sudah mendapat mainan baru seperti ini. Tapi kali ini lain. Mainan baru Gin tidak akan dipermasalahkan kalau bukan berupa seorang gadis.
Dengan bersungut Kira berbalik dan meninggalkan Gin. Ulquiorra mengikuti tanpa banyak protes di belakang. Kedua pelayan toko itu berlalu diiringi lambaian tangan Gin yang menyeringai puas.
Ulquiorra melirik sang majikan yang menyeringai dengan seorang gadis dalam pelukannya.
"Gin-sama, lebih baik kami carikan kau seorang istri."
Ucapan Ulquiorra itu membuat Gin sampai pada kesimpulan kalau kedua pelayannya itu benar-benar berkepribadian merepotkan.
.
.
.
Gelap. Perlahan Rukia merasa bahwa sekelilingnya gelap sekalipun matanya telah terbuka. Dan apa ini? Kenapa bagian pinggangnya terasa seakan ada yang mengunci?
Tangan dan kakinya bisa bergerak bebas, tapi sesuatu di pinggangnya menahan tubuhnya agar tetap terbaring. Pertanyaan Rukia segera terjawab karena sedetik kemudian lampu di ruangan itu secara ajaib menyala.
Dia masih berada di ruangan tadi. Dan tempatnya tidur adalah sofa yang tadi diduduki oleh...lelaki itu.
Mendadak Rukia merasa jantungnya berakrobat jungkir-balik. Lelaki itu sekarang sedang tidur di sampingnya, dengan tanganya memeluk pinggang Rukia. Dengan panik Rukia segera mendorong lengan yang menindih perutnya. Sama seperti yang menimpa kakinya tadi, tangan pria tersebut sekuat batu mengunci pinggangnya. Menahan posisinya tetap seperti sekarang.
"Ugh...berat... Minggir, rubah sialaaan," desis Rukia seraya mendorong tangan lelaki itu kuat-kuat. Hasilnya masih nol besar. Lengan itu tak bergeser seinci pun. Rukia jadi semakin yakin bahwa pasti pria di sampingnyalah yang membuat kakinya berjalan sendiri ke toko ini.
Rukia masih bersikeras melepaskan diri dari lengan si pemeluk pinggangnya. Muka putih mulusnya sampai kemerahan karena mendorong lengan yang tak kunjung bergerak itu.
Putus asa dengan usahanya, Rukia merebahkan diri di sofa beludru merah yang ia tiduri. Ia berusaha menenangkan napasnya yang terengah-engah. Diliriknya pria tadi. Masih tidur dengan posisi tengkurap.
Mau tak mau Rukia termangu dengan pemandangan yang disuguhkan lelaki di sebelahnya. Bibir yang senantiasa menyeringai seram itu kini hanya terkatup, serupa garis datar tipis. Rambutnya yang putih, menjuntai menutupi matanya yang tertidur. Mata Rukia menelusuri garis hidung yang lurus dari si pria, terus ke garis rahangnya yang tidak terlalu keras. Wajah pria itu tirus, serasi dengan bibirnya yang tipis dan hidungnya yang mancung. Dibalut kulit yang pucat, lelaki itu terlihat...rupawan.
Tiba-tiba saja Rukia merasa tergelitik untuk menyibak sejumput rambut perak yang menutup keningnya. Pelan-pelan...Rukia menyentuh rambut itu dengan ragu-ragu.
"Boo!"
"KYAAA!"
Pekikan Rukia bergaung di dalam ruangan. Rukia terlonjak ke bawah sofa akibat suara iseng yang familiar dengan telinganya beberapa jam terakhir ini. Rasa terkejutnya menggantikan kesadaran bahwa lengan si lelaki tidak lagi seberat batu, buktinya Rukia bisa terlonjak hingga jatuh.
"Ke-kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah bangun, siluman rubah!" bentak Rukia gugup.
"Nee, siluman rubah? Jangan asal memanggilku dengan sebutan tidak elit begitu. Aku juga punya nama, Rukia-chan. Namaku Ichimaru Gin. Tapi kau bisa memanggilku..." Gin tampak berpikir sejenak. Dia mengusap-usap dagunya dengan penuh pertimbangan.
"...anata," putus Gin sambil mencoba tersenyum manis. Tentu saja di mata Rukia senyum Gin tetap tidak terlihat manis. Gadis itu memegang dadanya karena jantung yang melompat-lompat tak terkendali.
'Apapun yang kupikirkan tentangnya tadi, tidak jadi. Big no no!' pikir Rukia geram. Kalau lama-lama di tempat ini Rukia bisa positif terkena penyakit jantung. Gadis itu bergegas bangkit dan berlari ke arah pintu keluar.
Dengan sekuat tenaga Rukia menggeser pintunya, namun langkahnya terhenti oleh suara di belakangnya.
"Selama kau masih memiliki keinginan yang kuat, akan ada benang merah yang mengikatmu padaku, Rukia-chan."
Rukia menoleh ragu-ragu, "Aku tidak punya keinginan apa pun," jawab Rukia.
Gin tersenyum, "Kau hanya belum tahu apa keinginanmu. Dan selama kau belum tahu apa keinginanmu, kau akan datang ke toko ini. Dan selama itu pula, kau akan menjadi milikku. Untuk membayar harga keinginanmu nanti..."
Dengan wajah diselimuti ketakutan Rukia berbalik menghadap Gin. Kalau Gin bisa memaksanya berlari ke tokonya di luar kemauan Rukia, maka Rukia tidak punya harapan untuk menghindar.
Tangan gadis itu gemetar mencengkeram kerah seragam di dada mungilnya dengan ketakutan.
"Mi-milikmu? Apa maksudmu? A-apa kau..." Rukia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Sedangkan Gin hanya memandangi Rukia dengan dahi berkerut. Namun saat melihat pose Rukia yang seperti sedang terdesak oleh om-om jahat, Gin langsung mengerti dengan apa yang melintas di kepala gadis itu.
"Rukia-chan, kalau Kira-kun melihatmu seperti itu, bisa-bisa aku benar-benar divonis punya kelakuan menyimpang seperti para pemabuk di Ginza," kata Gin sambil menggaruk belakang lehernya. "Maksud dari kata-kataku adalah kau akan menjadi milikku, pegawaiku, dan bekerja di toko ini sebagai kompensasi keinginanmu. Jadi jangan berpikir aneh-aneh, ya. Kalaupun aku berkelakuan menyimpang, aku juga akan memilih wanita yang tidak memakai Chappy sebagai motif pakaian dalamnya."
Pernyataan menohok hati dari Gin kembali membuat ubun-ubun Rukia mendidih. Wajahnya merah padam akibat aliran darah dan emosi yang tiba-tiba meluap ke kepalanya.
"Jangan bawa-bawa motif celana dalam, baka! Dan siapa juga yang mau menjadi pegawaimu! Aku tidak akan kembali ke sini! Tidak akan pernah!"
Rupanya perilaku Gin yang menyebalkan membuat ketakutan Rukia kepadanya runtuh. Sayang, gadis itu tidak berminat beramah-tamah dengannya. Bagaikan burung yang baru lepas dari kandang ular, Rukia melesat keluar.
Kelegaan membanjiri dada Rukia begitu kakinya menapak luar pagar pembatas toko tersebut.
Gadis itu segera berlari menuju ke halte bus untuk pulang. Tanpa bisa Rukia tahan, dia melirik ke bangunan serba putih yang ia tinggalkan itu.
'Ichimaru Gin...orang yang aneh.'
.
.
.
Manusia adalah makhluk yang unik. Dan hati serta pikirannya, bekerja dengan cara yang sama uniknya. Semakin seseorang berusaha melupakan sesuatu, semakin kuat ingatan itu mengakar.
Malam gelap melingkupi langit di luar kamar Rukia. Sudah berkali-kali gadis itu berusaha tidur, tapi tidak bisa. Karena yang terlihat di kegelapan saat Rukia menutup mata, hanyalah selembar sutera hitam dengan motif bunga marigold putih terlukis di atasnya.
.
.
.
"AKU-TIDAK-MAU-PERGIIII!" teriak Rukia. Tangannya memeluk tiang listrik. Persis seperti beberapa hari yang lalu ketika kakinya punya kemampuan berjalan dan berlari di luar kehendaknya.
Bedanya kali ini ada orang yang melihatnya. Dan dengan kondisi Rukia yang berteriak-teriak sembari memeluk tiang listrik itu, otomatis orang-orang yang lalu lalang mendapat tontonan gratis di sepanjang jalan.
Bunga sakura yang melayang pun tidak ada. Jadi tinggal Rukia yang bertingkah anehlah satu-satunya keanehan di siang menjelang sore itu.
"Cukup! Aku tidak mau jadi pekerja gratisan!"
Ya. Rukia merasa muak. Benar kata Gin, selama Rukia tidak tahu apa harapannya, Rukia akan selalu datang ke toko di mana Gin berada. Namun tentu saja itu di luar keinginan Rukia. Kakinyalah yang memaksanya berlari ke arah yang akhir-akhir ini di bencinya.
Mulanya Rukia membiarkan saja, karena ia tidak mungkin bisa melakukan perlawanan di hadapan berpasang-pasang mata yang berkeliaran di jalan. Sesampainya ia di toko itu, yang ditemuinya hanyalah Gin yang menyuruhnya melakukan ini itu. Rukia di sana terpaksa harus bersih-bersih, memasak dengan berbagai kombinasi menu yang tidak masuk akal, ataupun hanya untuk jadi korban keisengan Gin. Dan sebelum ia diijinkan pulang, ia tidak bisa menginjakkan kaki keluar toko.
Akibatnya, Rukia selalu pulang terlambat. Jadwal belajarnya juga kacau selama beberapa hari ini. Dan yang paling disesalinya adalah nii-sama-nya melihat Rukia dengan pandangan menuduh. Seumur-umur baru kali ini Rukia mendapat perhatian dari Byakuya. Tapi tentu saja bukan perhatian semacam ini yang Rukia inginkan.
Byakuya menyangka bahwa Rukia sengaja membuat ulah karena tidak menghargai apa yang ia lakukan selama ini. Tentu saja Rukia tidak bisa mengemukakan alasan apapun sebab tidak mungkin dia dengan entengnya mengatakan bahwa kakinya berlari sendiri ke arah toko magis milik lelaki berwajah bengis. Dia juga tidak tega untuk berbohong pada nii-sama-nya.
Untunglah Byakuya tidak memaksanya menjelaskan, jadi dia menginggalkan Rukia untuk merenung di kamar.
Semua kekacauan ini gara-gara majikan yang tidak mengindahkan peraturan serikat pekerja yang bernama Ichimaru Gin.
"Lihat saja, Gin! Apa kau bisa melawan tiang listrik," desis Rukia geram. Tangannya mempererat pelukannya pada tiang listrik yang berdiri kokoh.
Tepat saat Rukia menyelesaikan perkataannya, suara retakan yang sama sekali tidak merdu terdengar oleh Rukia. Retakan itu melebar dengan kecepatan yang membuat bola mata Rukia membulat.
"Tidak mungkin..."
Retakan tiang listrik itu, entah mengapa terlihat seperti seringaian Gin. Lebar dan membuat jantung berpacu dalam sensasi yang sama sekali tidak menyenangkan. Dia seakan menyeringai menantang Rukia memilih, tetap bergayut pada tiang listrik hingga tiang itu patah dan membuat seisi kota mati lampu, atau pergi ke toko Gin.
Rukia mengeluhkan pelajaran kewarganegaraan yang selalu mengajarkan untuk mengedepankan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan diri sendiri. Dikendurkannya pelukannya pada tiang listrik. Dan kakinya berlari kembali seperti kesetanan.
.
.
.
"Okaeri," duet suara Kira dan Ulquiorra yang menyambut Rukia begitu menginjakkan kaki di toko, membuat empat buah siku-siku muncul di dahi sang gadis.
"Kenapa 'okaeri'?" protes Rukia.
"Rukia-chan kan sudah jadi bagian dari toko ini."
Ini dia, suara manis yang terdengar pahit bagi telinga Rukia.
Gin muncul seraya membawa pipa panjang yang dikenali sebagai pipa rokok. Posturnya yang tinggi kurus menyandar pada dinding kayu, dan tak lupa, senyumnya tersungging untuk Rukia.
"Tidak, terima kasih," kata Rukia judes. "Aku ke sini bukan karena keinginanku. Dan maaf-maaf saja, aku tidak tertarik bergabung dengan toko ini," kata Rukia serius. "Jangan pura-pura tidak tahu kalau aku terpaksa datang ke mari."
Kira dan Ulquiorra berpandangan.
"Kalau begitu tolong bantu kami membersihkan gudang," pinta Ulquiorra. Cuek.
.
.
.
"Kenapa aku mau melakukan ini?" rintih Rukia.
Seragam gadis itu sudah dilapisi celemek putih. Di kepala Rukia nangkring penutup kepala yang sama putihnya dengan celemek yang ia pakai, sepertinya sepaket. Dan tangannya, memegang sebuah kemonceng yang menari-nari di atas tumpukan rak-rak tua. Saat ini Rukia sedang berkostum sebagai 'pelayan pembersih gudang'.
"Gudang ini sudah berapa abad tidak dibersihkan, Kira-kun?" tanya Rukia di sela-sela batuknya. Tentunya ia cuma main-main saja memakai kata 'abad' dalam pertanyaannya.
Kira yang sedang membersihkan guci dan benda antik mengangkat bahu.
"Entahlah. Satu...dua abad, mungkin?"
Rukia menoleh pada Kira, "Jangan bercanda, Kira-kun," sungut Rukia. Sambil bergidik ngeri Rukia memperhatikan debu-debu tebal itu hampir mengubur semua barang yang ada di sana. "Apa pemilik toko sebelumnya tidak pernah melakukan pembersihan?"
Kira tersenyum.
"Apa maksudmu? Gin-sama adalah pendiri toko ini. Dia adalah pemiliknya sejak awal."
Rukia berusaha mengacuhkan ucapan Kira, karena tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri, menjalarkan sensasi aneh dan dingin mendengar ucapannya. Dan Kira, di mata Rukia, tidak terlihat seperti sedang bercanda.
Sejak kedatangan Rukia pertama kali, toko ini bagaikan diselimuti kabut tebal yang tidak bisa ditembus nalar oleh Rukia. Sangat misterius. Setiap ia sendirian, rasanya selalu ada yang mengawasi. Perasaan itu terasa terlalu nyata untuk dianggap sebagai prasangka maupun ketakutan.
Dia luar itu, pemilik toko inilah yang paling ganjil. Selain memiliki selera berbusana yang aneh dan menurut Rukia lebay, Gin memiliki kemampuan yang membuat Rukia bingung. Beberapa kali Rukia memperhatikan ketika Gin menghadapi pelanggan. Pria itu seolah telah mengetahui apa yang telah terjadi, tapi sering memberikan solusi yang menurut Rukia tidak masuk akal untuk mengatasi masalah kliennya. Dan yang membuatnya makin mengernyitkan dahi adalah kompensasi yang diminta Gin. Terkadang Gin meminta hal yang tidak sebanding dengan masalah pelanggan. Baik itu terlalu tinggi ataupun terlalu rendah nilainya. Entah apa yang menjadi parameternya menilai sesuatu, yang jelas bukan uang.
Rukia masih mengibas-ngibaskan kemonceng yang ia pegang. Seringnya ia mengelap paksa rak-rak tua itu karena debunya luar biasa membandel.
Bersih-bersih ini sungguh menyita waktu. Di gudang bawah tanah itu Rukia tidak bisa memperhatikan jalannya hari. Pikiran Rukia tidak bisa tercurah seratus persen pada aktifitas yang ia lakukan. Otaknya dihantui oleh bayangan Byakuya yang tidak suka dengan sikapnya.
'Penjelasan macam apa yang bisa kukatakan pada nii-sama?' keluhnya dalam hati.
Hari baru menjelang malam ketika Rukia, Kira dan Ulquiorra selesai membersihkan seperempat bagian gudang. Peluh menetes di kening Rukia. Debu menempel di wajah putihnya, coreng-moreng mendekati hitam seperti arang.
Dengan letih Rukia menapaki tangga bawah tanah menuju ke atas, hanya untuk kembali melihat pemilik toko yang membuat dadanya sesak karena sebal setengah mati.
"Nee, Rukia-chan, kenapa gudang tidak dibersihkan semua?" tanyanya tanpa dosa.
"Salah sendiri tidak pernah bersih-bersih! Debunya menempel, tau! Sudah bagus kami bisa membersihkan sampai sebanyak itu," omel Rukia.
Gin kembali nyengir. Didekatinya Rukia yang belepotan debu tebal dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Jangan cemberut, Rukia-chan, nanti wajahmu tidak imut lagi," Gin menjentikkan jarinya ke hidung Rukia. Gadis itu hanya mendengus kesal.
"Urusanku di sini sudah selesai. Aku tidak akan datang ke toko ini lagi. Dan kuminta kau mencabut mantra apapun yang kau gunakan untuk mengikat kakiku. Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku," suara Rukia berubah serius.
Sayangnya, keseriusan yang sama tidak tampak di wajah Gin. Pria itu hanya menelengkan kepalanya. Dengan lengan kimono biru lautnya, dia membersihkan debu di pipi Rukia.
"Hontou ka?" ujarnya lembut. "Kita lihat saja nanti."
Urat-urat kesabaran Rukia hampir putus. Ditepisnya tangan Gin dengan kasar. Gadis itu lalu mengambil tas sekolahnya dan berderap meninggalkan toko.
"Aku tidak mengikatmu dengan mantera apapun, Rukia-chan," cetus Gin ketika Rukia berjalan keluar pintu depan. Gadis itu tidak menghiraukannya. Baginya, urusannya dengan Gin dan tokonya selesai saat itu juga. Harus.
.
.
.
Tubuh Rukia ambruk, terjatuh pasrah di atas kasurnya yang empuk dan hangat. Dengan tangan terentang Rukia berbaring. Rasanya menyenangkan sekali. Setelah kerja rodinya yang membuat lengan dan bahunya pegal, tidak ada yang diinginkan Rukia selain mandi air hangat lalu menikmati kelembutan kasurnya hingga jatuh tertidur.
Keletihan otot-ototnya membuat Rukia segera terlelap. Ia sudah setengah jalan menuju alam mimpi ketika dering telepon genggamnya membuatnya kembali tersentak bangun.
"Hhh...siapa sih yang telepon malam-malam begini?" keluh Rukia.
Telepon genggamnya bergerak-gerak di atas meja akibat getarannya, meminta Rukia segera menerima siapapun yang menelpon.
Sebuah nomor tidak dikenal terpampang di layar ponsel. Rukia berdecak, lalu memencet tombol hijau ponselnya.
"Moshi-moshi," sapa Rukia, berusaha tidak terdengar mengantuk.
"Rukia-chan," orang di belakang telepon menyapa balik dengan ceria.
"Siapa i...ni," pertanyaan Rukia berubah menjadi geraman sinis menyadari pemilik suara ringan dan santai yang menyapa telinganya.
"Gin?" tanya Rukia memastikan dengan nada tidak ramah. Terdengar suara tawa di seberang telepon.
"Wah, hebat sekali, Rukia-chan. Kau bisa mengenali suaraku dengan hanya mendengarku berbicara sekali. Padahal suara orang di telepon sering berubah lho."
"Dari mana kau tahu nomorku?"
"Tentu saja aku tahu. Aku kan pemilik toko harapan. Sudah tugasku untuk tahu hal-hal seperti itu."
"Itu lagi. Mau apa telepon malam-malam?" gerutu Rukia.
"Nee, hanya perasaanku atau memang hawa malam ini sangat dingin ya?"
"Aku matikan, nih."
"Eeee, matte," seru Gin. Rukia diam sejenak, menunggu apa yang akan dikatakan pemilik toko itu.
"Ada satu hal yang tidak boleh kau lakukan malam ini," suara Gin berubah serius. "Yaitu menunjukkan rasa takutmu. Kau tidak boleh gemetar atau mundur."
"Ha?"
"Yang harus kau lakukan adalah berjalan ke depan," lanjut Gin. Dahi Rukia berkerut. Apa Gin sedang mengajarinya bermain kata-kata mutiara?
"Kau menelponku malam-malam hanya untuk mengatakan itu?"
"Jangan lupakan kata-kataku ini, Rukia-chan."
"Memangnya kenapa? Oi, Gin?" Rukia menjauhkan ponselnya. Sambungan telepon telah diputus oleh Gin.
"Apa maksudnya? Laki-laki aneh," sungut Rukia heran. Namun gadis itu tidaklah lama tenggelam dalam keheranannya. Tubuhnya rebah kembali. Menikmati tidur yang tertunda.
Malam bergulir tanpa terasa. Hujan deras di luar mengakibatkan penghuni mansion Kuchiki terlelap semakin dalam di dalam tidurnya.
Rukia berguling ke kiri. Sensasi haus di lehernya menyebabkannya terbangun. Gadis itu mengucek matanya. Diliriknya jam yang ada di meja, ternyata masih jam dua pagi. Rukia berjalan menuju dispenser di pojok kamarnya. Kerongkongannya sungguh terasa kering. Namun sayang, dispenser itu kosong. Rukia memencet-mencetnya dengan putus asa. Tentu saja airnya tidak akan keluar walau dipencet sekeras apapun.
Akhirnya Rukia memutuskan untuk pergi ke bawah, ke dapur. Koridor sepekat malam menyambut Rukia begitu ia menjejakkan kaki di luar kamar. Lorong-lorong yang dihiasi oleh lampu-lampu kristal mewah kini gelap. Hawa dingin berputar-putar. Rumah ini seakan mati. Hanya terdengar batang pohon sakura mengetuk-ngetuk jendela. Bayangan gelapnya menari tidak karuan terkena hempasan air hujan dan angin kencang. Dalam imajinasi liar seseorang, bayangan itu akan terlihat seperti zombi-zombi sempoyongan yang memaksa masuk ke mansion.
Rukia menelan ludah, "Tenang, Rukia," bisiknya pada dirinya sendiri. "Tidak ada apa-apa di sini," hiburnya. Suaranya agak bergetar, tidak meyakinkan.
Langkah cepat-cepat Rukia teredam karpet tebal yang membentang di koridor menuhu tangga. Namun karpet tebal itu tidak bisa meredam hembusan hawa dingin yang membuat tengkuk gadis itu kaku. Bulu kuduknya mengejang dari tadi.
"Hampir sampai, Rukia. Benar, kan? Tidak ada apa-apa. Tidak ada hantu. Ataupun siluman. Semuanya-"
"-aman..."
Mendadak langkah Rukia berhenti mendengar suara anak kecil yang menyambung ucapannya. Di hadapannya berdiri sambil menunduk seorang bocah laki-laki. Usianya mungkin sekitar tujuh tahun.
Tangan Rukia mengepal karena sadar bahwa di mansion itu tidak ada anak lelaki seumuran bocah itu. Dia bukan anak siapapun. Dan dia bukan Kuchiki.
Bau busuk menguar dari arah anak itu. Pelupuk mata Rukia berair menahan perutnya yang bergolak seperti hendak muntah. Dia, bocah itu, bukan manusia.
Bocah itu mengangkat kepalanya. Bersih pucat. Matanya memandangi Rukia tanpa kedip.
"Nee-san, onegai..." bisiknya masih dengan suara yang bisa didengar Rukia.
Tangan bocah itu menggapai, sorot matanya terlihat sedih. Namun Rukia tidak bisa merasa iba. Kaki gemetarnya tidak juga mau bergerak. Gigi Rukia gemeletuk menahan takut. Jantungnya menggedor-gedor seperti meminta keluar.
'Bergeraklah. Kumohon, kaki. Bergeraklah,' iba Rukia dalam hati.
Anak itu makin mendekat, menggapai-gapai Rukia dengan sorot mata sedihnya. Rukia tidak tahu kenapa bocah tersebut terlihat sedih, tapi dia tidak mau terlibat dengan urusan apapun dengan hantu itu.
Dengan sekuat tenaga Rukia berusaha menggeser kakinya. Hatinya berteriak-teriak kalut, menyuruh organ tubuhnya bergerak. Kemana saja. Asalkan tidak di sini. Asalkan jauh dari sini.
Dapat!
Kaki Rukia bergerak mundur. Gadis itu segera berbalik ketika dilihatnya anak yang sama telah berada di belakang Rukia, mencegat gadis itu dengan matanya yang tidak lagi sedih, tapi terbelalak senang. Raut mukanya juga bukan raut wajah bocah, melainkan raut wajah wanita tua yang tertawa-tawa.
Air liur hantu itu menetes. Dia mengucapkan kata-kata terakhir sebelum menerkam jatuh Rukia, "Onegai..."
Yang bisa didengar hanyalah lolongan ketakutan Rukia yang bergema di mansion megah itu.
.
.
.
'Perih...kenapa napasku jadi perih?' rintih Rukia. Namun rintihan itu tidak keluar, karena ketika ia membuka mulutnya, air menggelontor masuk ke kerongkongannya. Gelembung-gelembung udara dari mulutnya bertukar dengan air yang masuk itu, menambah sesak dada Rukia.
'Tolong aku...' rintih pikiran Rukia.
Rukia hanya bisa menggeliat kesakitan dan membuat gerakan tak berarti. Tangan dan kakinya terikat, terkunci mati. Dan energinya seolah terhisap entah kemana. Rukia merasa lemas luar biasa. Gendang telinganya terasa perih, sama seperti matanya yang hanya bisa melihat samar-samar ke permukaan air. Rambutnya melayang-layang tanpa beban di dalam air keruh itu. Dan paru-parunya tidak lagi bisa menahan sesak. Kulitnya terasa kebas akibat dinginnya air. Dan kesadarannya hanya membuat rasa sakit yang ia rasakan semakin berlipat. Paru-parunya tidak kuat menahan beban kekurangan oksigen. Dan rasanya sesak, mencekik. Air mata Rukia menyatu dengan keruhnya air.
'Tolong aku! Siapapun!' jerit Rukia dalam hati.
Ketakutan melingkupi Rukia. Ia tidak mau mati. Ia tidak ingin mati begini. Tidak sekarang. Sesulit apapun hidupnya, ia tidak mau mati sekarang. Tidak dengan cara menyakitkan seperti ini. Tidak. Tidak. Rukia sudah tidak tahu lagi harus merasa takut, sedih, putus asa, atau kesakitan.
Bayangan permukaan air yang meneruskan kegelapan malam tertanggkap oleh mata Rukia. Gadis itu telah diam. Tubuhnya tidak bisa berusaha lepas dari ikatan apapun yang mengikat tubuhnya.
Ia menyerah.
Pelan-pelan mata gadis itu tertutup, menampilkan kepekatan yang membuat Rukia semakin jatuh. Dalam keputusasaan. Dalam lorong kematian yang menjemput...
'Jangan mati, Rukia-chan...'
.
.
.
Dada Rukia terasa mau pecah ketika ia menyemburkan air yang memenuhi kerongkongan dan perutnya. Gadis itu lalu terbatuk sangat keras, mengeluarkan sisa air dan rerumputan yang menempel di langit-langit mulut.
Rukia terengah-engah, menghirup sebanyak mungkin oksigen. Paru-parunya dengan serakah meraup suplai udara segar yang disediakan ruangan itu. Dan sebuah telapak tangan mengusap punggung Rukia dengan lembut. Tubuh dinginnya telah terbalut oleh pakaian kering dan hangat.
Sebuah kesadaran menohok Rukia. Ia sedang ada di kamarnya. Dengan Gin.
"Apa...apa yang terjadi?" tanya Rukia terengah.
"Kau tenggelam," jawab Gin datar.
Rukia menggeleng, "Tidak. Aku ada di ruangan ini. Lalu aku haus, dan keluar kamar. Lalu..." Rukia tercekat mengingat bocah berwajah paling menakutkan yang pernah ia lihat. "Lalu..."
"Kau bertemu 'dia'," jelas Gin. Rukia menatap tidak mengerti pada Gin. Kenapa Gin tahu apa yang telah terjadi? Tapi Rukia merasa jika ia menanyakannya pada pria itu sekarang, Gin pasti akan menjawab dengan jawaban seperti biasanya.
"Dia adalah hantu yang suka menghisap daya hidup," jelas Gin lebih lanjut. "Dia tertarik dengan keinginanmu. Dengan jiwamu. Dia menghisap energimu dan mengikat tubuhmu dengan rambutnya sebelum melemparmu ke dalam kolam di rumah tua di dekat sini," Gin mengusapkan handuk di kepala Rukia dengan perlahan. Disingkirkannya rambut basah Rukia yang menempel di dahinya.
Rukia menatap Gin dengan penuh ketakutan, tidak menyangka bahwa hantu itu akan berbuat di luar akal sehat yang Rukia punya. Badan Rukia kembali menggigil, ia bergelung memeluk lututnya, "Aku...aku tidak punya...keinginan,"
"Tentu saja kau punya, Rukia-chan. Aku tidak akan berdebat tentang masalah itu sekarang. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau lupa apa yang kukatakan sebelumnya?" tanya Gin dingin.
"Kata-katamu?"
Gin menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Rukia, "Yang aku bilang beberapa jam sebelumnya. Agar kau tidak menunjukkan rasa takut, agar kau tetap maju. Itu bukan kata-kata mutiara. Maksudku adalah agar kau tetap maju sekalipun bocah hantu itu menghadangmu. Hantu semacam itu takut pada orang dengan kepercayaan diri yang kuat. Kalau kau menuruti kata-kataku, kau tidak akan mengalami kesulitan seperti ini," jelas Gin datar. Lelaki itu berkata seolah bisa mengerti pikiran Rukia waktu menerima teleponnya.
"Ba-bagaimana aku tahu kalau itu untuk mengusir hantu! Lagipula, siapa juga yang tidak akan takut kalau mereka ada di tempatku waktu itu!" kilah Rukia.
"Apa kau hanya bisa menyalahkan orang lain untuk kecerobohanmu sendiri, Rukia-chan?" tanya Gin dingin. Bibirnya terkatup kaku. Gin tampak sangat serius dan berbeda dari pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
Mendengar perataan Gin, Rukia hanya bisa bungkam.
"Keadaan seperti itu bisa terulang. Munculnya hantu-hantu itu tidak akan berhenti. Tapi untuk aku datang tepat waktu, aku rasa hal itu yang tidak akan terjadi dua kali," lanjut Gin.
"Apa maksudmu?" tanya Rukia terkejut.
"Hantu-hantu itu tertarik dengan orang sepertimu. Orang yang memiliki keinginan yang sangat kuat. Tapi lemah. Kau tidak tahu apa-apa tentang mereka. Kau tidak akan berdaya dengan kekuatan mereka. Sebelum kau menyadari apapun, kau akan mati."
Rukia diam dengan mata terbelalak. Kepalanya pening menghadapi masa depan yang terikat dengan hantu-hantu itu. Berarti...akan ada banyak hantu semacam itu yang akan mendatanginya.
"Bagaimana aku bisa menghindari mereka?" tanya Rukia putus asa. Kepalanya mendongak menatap Gin. Pria itu membalas tatapan ketakutan Rukia dengan senyum lebarnya.
"Tentu saja dengan datang ke tokoku, Rukia-chan. Dan kau tinggal menjadi milikku," jawab Gin. Jemari panjangnya meraih dagu Rukia.
Jawaban ini tidak memuaskan Rukia. Ia masih tidak bisa mempercayai mata itu, senyum itu, dan terlebih lagi pemiliknya.
"Aku tidak ingin menjadi pelayanmu."
Gin tersenyum, "Kau tidak dalam posisi bisa menawar saat ini, Rukia-chan. Akulah yang menyelamatkanmu. Dan sudah sewajarnya aku meminta kompensasi dari usaha yang kulakukan."
"Tapi aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku," bantah Rukia lagi.
"Benarkah? Apakah kau benar-benar tidak minta tolong? Tentu saja kau memintanya. Hanya saja tidak secara langsung."
Rukia terkesiap. 'Tolong aku! Siapapun!'
Ya. Itu adalah jeritan hati Rukia saat di dalam kolam. Dan 'siapapun' itu ternyata menjelma menjadi sebuah nama : Gin.
Rukia semakin erat memeluk lututnya. Rasa sesal menyelusup di hatinya. Kenapa? Kenapa seluruh hidupnya penuh dengan hutang budi yang mengikatnya? Dengan Kuchiki. Dengan Byakuya. Dengan Gin...
Rukia tidak menginginkan hutang budi itu. Ia tidak mau terikat lagi dengan beban moral untuk tunduk pada siapapun. Rasa sesal itu berubah menjadi rasa perih yang menusuk dada. Dengan tidak berdaya, Rukia makin tenggelam dalam dekapannya sendiri.
Gin meraih wajah mungil gadis itu kembali. Diusapnya pipi Rukia dengan lembut.
"Sebelum kau jatuh ke dalam fase mengasihani diri sendiri, Rukia-chan, aku ingin kau mendengarkan kata-kataku," bisik Gin. "Aku adalah pemilik toko harapan. Aku tidak melakukan semuanya dengan gratis. Pertolonganku ini ada harganya. Dan kau harus menjadi pelayanku, sebagai bayaran atas pertolonganku dan atas keinginanmu yang belum terwujud. Jika kau membenci keadaanmu yang terbelit dengan hutang budi pada banyak orang, maka ubahlah hal itu hingga kau bisa berdiri sendiri. Tapi sebelum kau bisa mengubah keadaanmu, datanglah ke tokoku. Belajarlah menjadi orang yang kau inginkan disana. Itu adalah tempatmu, karena kau adalah milikku. Dan sebagai kompensasi tidak langsung dari kerja kerasmu, kau akan belajar menghadapi predatormu."
Kata-kata Gin meluncur dingin di telinga Rukia. Semenjak pertemuan mereka, tidak pernah Rukia melihat Gin seperti ini. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi dalam hati, Rukia merasa bahwa kata-kata Gin adalah benar. Lagi-lagi Gin berkata seolah bisa membaca pikiran Rukia.
"Lagipula, tidak ada yang tersisa di sini untukmu, Rukia-chan. Jadi apa ruginya menghabiskan satu dua jam di tempatku?" lanjut Gin seraya tersenyum.
Tidak ada lagi alasan Rukia untuk menolak. Namun rasa tidak nyaman masih tertinggal di dadanya. Entah apa itu. Entah apa yang akan terjadi di depan. Ketidakpastian ini menggelayuti pikirannya, menjadi beban baru yang harus dipikul. Tapi...untuk memutuskan semua sekarang, bukanlah hal yang dirasa mudah.
"Begitu rupanya," bisik Rukia. "Kalau begitu, aku rasa aku tidak bisa lagi menghindar," lanjut Rukia dengan suara lemah. "Baiklah. Aku akan-"
"Ssshhh," Gin menekan lembut bibir Rukia dengan jarinya. Ujung ibu jarinya menelusuri bibir bawah Rukia yang putih pucat. "Kau terlalu lelah. Jawabannya bisa kau berikan besok. Sekarang tidurlah, Rukia-chan."
Kata terakhir Gin bagaikan mantra penidur. Kelopak mata Rukia terasa berat. Hati dan tubuhnya yang letih, seakan tidak memiliki energi untuk membantah kata-kata Gin.
"Aku... tidak..." gumam Rukia sebelum akhirnya rebah dalam pelukan Gin. Perlahan Rukia terbuai dengan rayuan kantuk. Akhirnya, gadis mungil nan rapuh itu tidak bisa menahan dirinya yang jatuh makin dalam ke dunia mimpi.
"Tidurlah dengan tenang, Rukia-chan. Aku akan bersamamu, hingga akhir..."
To Be Continued
GLOSARIUM :
Anata : semacam panggilan sayang
Okaeri : selamat datang kembali
Hontou ka? : benarkah?
Moshi-moshi : hallo, yah mirip seperti itulah hehehe
Matte : tunggu
Onee-san : kakak (perempuan)
Onegai : tolonglah
Chibinotes : still not good, eh? aih, semoga bisa chibi perbaiki.
Yosh. Hope you'll like itu. Last, please review and sarannya ya, minna ^^
arigatou
