Title: 15

Author: CLA

Rated: T

Genre: Romance, etc.

Pair: Donghae & Eunhyuk from Super Junior

Disclaimer: I own the story. God own the casts. I just borrow their name.

Warning: BL, OOC, Typos, EYD, Daddy!Hyuk (karena mommy Hyuk atau daddy Hae terlalu mainstream), etc.

Notes: yang sering baca ff cla pasti tau, chap 1 itu selalu sucks karena first meeting jadi... /kabur

.

15 October 2000
Gyeonggi, South Korea

Lee Hyukjae, seorang laki-laki berusia 17 tahun menatap hasil jerih payahnya. Ia mengangkat sebuah keranjang yang tak terlalu besar namun juga tak terlalu kecil dan membawanya untuk dicuci. Sesekali ia terdiam, terhanyut dalam lamunan dan menatap matahari yang bersinar jauh lebih terik dari hari-hari biasanya.

"Eomma, appa. Hari ini kalian ingin menghiburku ya?" ucapnya lalu tertawa pelan. "Mulai bulan depan aku sudah harus meninggalkan tempat ini dan beradaptasi dengan lingkungan baru di Seoul. Aku yakin kalian mendukungku dari atas sana."

Kuliah teknik di Seoul merupakan impiannya. Betapa bahagianya ia membayangkan senyum bangga kedua orangtuanya atas beasiswa yang didapati dirinya. Lee Hyukjae si anak nakal dan tak peduli nilai kini telah menjadi siswa yang baik dan berprestasi.

Hyukjae melangkahkan kakinya untuk bertemu bibi Kwon. Seseorang yang telah membantunya untuk hidup 3 tahun belakangan, yang telah membiayai pendidikannya, memberinya makan dan tempat tinggal walaupun hanya beprofesi sebagai pedagang sayur. Ia tersenyum puas memberikan keranjang penuh sayur berhiaskan tanah itu kepada bibi Kwon. Membantunya merupakan hobi seorang Lee Hyukjae, sebagai rasa terima kasihnya karena telah menghidupi Hyukjae selama 3 tahun terakhir.

"Aku tak menyangka bulan depan kau sudah akan meninggalkan tempat ini." Hyukjae tersenyum menanggapi ucapan bibi Kwon.

"Kau sudah dewasa Hyuk-ah. Jangan jadi anak cengeng lagi. Perhatikan dirimu baik-baik. Menjadi laki-laki harus kuat." lanjutnya. Rasanya baru kemarin ia menemani Hyukjae yang menangis tersedu-sedu di pemakaman dan sekarang bocah ini sudah akan meninggalkannya untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi di ibukota sana.

"Jangan mengucapkannya sekarang seakan besok aku sudah pergi ahjumma. Simpan saja untuk bulan depan." Bibi Kwon menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Diberikannya Hyukjae sayur-sayuran yang masih segar untuk dibawa ke pasar, tak lupa susu stroberi kesukaan Hyukjae seperti hari-hari sebelumnya.

"Nah. Pergilah. Ahjumma menyusul belakangan."

"Ne."

.

.

.

.

15 December 2000
Seoul, South Korea

Dering ponsel beserta getarannya membangunkan Hyukjae dari acara tidur siangnya. Sudah cukup Hyukjae kekurangan tidur karena diajak keliling Seoul oleh teman-teman barunya kemarin dan kali ini saat seharusnya ia bisa dengan tenangnya menelusuri pulau kapuk, sesuatu bernamakan ponsel mengacaukan segalanya. Betapa ingin ia melempar benda mungil itu keluar jendela kalau saja harga tak berbicara.

"Yeobose-"

"Hyuk-ah! Ini Lee Hyukjae kan? Ini Kwon ahjumma! Masih ingatkan?"

Hyukjae membulatkan matanya. Seketika rasa malasnya menghilang, tergantikan dengan perasaan bahagia yang membuncah. Ia menengkurapkan dirinya di kasur dan menumpukan dagunya di bantal kepala.

"Tentu saja! Kita kan berpisah belum terlalu lama! Ahjumma kemana sih? Hyukkie telefon dan hampiri ke rumah tapi tidak pernah ada!" Hyukjae mengerucutkan bibirnya walaupun tak terlihat oleh bibi Kwon.

"Kau berkunjung ke rumah? Ah. Mian tidak mengabarimu. Selang berapa minggu sejak kau ke Seoul, ada yang mengajak ahjumma kerja di USA. Tentu saja tidak akan bisa kutolak!"

"MWO?! USA?! Ah ahjumma beruntung sekali~ Hyukkie juga mau ikut!" Hyukjae merajuk, membuat si penelfon tertawa kecil di seberang sana.

"Hei! Hentikan rajukanmu! Sifat anak kecilmu keluar lagi tuh!" ledek bibi Kwon. "Ah, Hyuk. Ada kabar buruk. Eum... Mungkin... mungkin untuk seterusnya kita tidak bisa berhubungan lagi."

"Huh?"

"Eung... Untuk selamanya ahjumma akan menetap di USA. Ahjumma rasa Hyukkie perlu dilepas... Hyukkie harus bisa hidup tanpa ahjumma. Kumohon Hyuk... Jangan marah ya?"

Pandangan Hyukjae mendadak hampa. Senyumannya yang lebar berganti menjadi datar. Ia terdiam mendengar kabar ini sementara Kwon ahjumma diseberang sana masih menunggu.

"Hyuk?"

"A-ah! Kalau memang itu keputusan ahjumma tidak apa-apa kok! Nanti kalau Hyukkie sudah punya banyak uang, Hyukkie pasti akan menyusul kesana!"

"Baiklah. Ahjumma akan menunggu saat-saat kau menjadi orang kaya nanti hahaha. Tapi pastikan kau ke rumah di Gyeonggi dulu seminggu sebelum menyusulku ne? Ada barangmu yang tertinggal disana. Kutitipkan ke tetangga sebelah. Ingat! Kau tidak boleh kembali ke Gyeonggi sekarang! Kau harus rajin belajar di Seoul. Kalau sampai ketahuan kumarahi loh!" candanya. Hyukjae hanya memasang tawa palsu.

"Ah. Mian Hyuk. Ahjumma harus pergi dulu ne? Bye."

Belum sempat Hyukjae menyahuti, sambungan telah terputus. Hyukjae membenamkan kepalanya di bantal dan membiarkan air matanya menetes sebebas-bebasnya.

"Bagaimana aku bisa hidup sendirian seperti ini?"

.

.

.

.

15 May 2001
Seoul, South Korea

Hyukjae menepuk-nepuk pipinya sendiri di depan cermin. Entah berapa minggu telah berlalu sejak ia masuk kuliah dan disarankan si fashionista di kelas, Jiyong untuk mengganti gaya rambut. Katanya mengganti gaya rambut dapat membuat diri kita menjadi lebih segar, lebih keren, lebih muda, dan lebih-lebih lainnya. Namun apa yang dirasakan Hyukjae sepertinya tak sebanding dengan apa yang diucapankan oleh Jiyong.

Berhubung kampus libur seminggu, Hyukjae yang tidak ada kerjaan iseng berkunjung ke salon dan meminta potongan rambut yang terkesan manly namun berkat kesoktahuan si tante salon, Hyukjae harus rela untuk melambaikan tangan pada potongan rambut manly.

"Kenapa wajahku jadi manis begini..." gerutunya kesal. Tingkat kemanisannya yang –menurutnya- melebihi kemanisan anak perempuan benar-benar mengganggunya. Ia takut diledek saat ke kampus minggu depan. Karena itulah sekarang tangan kanannya sudah siap-siap memegang gunting sementara tangan kirinya mengangkat poninya sendiri. Saat gunting itu hampir memotong poninya, ia kembali menggerutu.

"Hah. Nanti kalau malah semakin aneh atau manis bagaimana?"

Hyukjae melempar gunting itu sembarang arah dengan pasrah, keluar kamar mandi, dan melompat ke kasur, berguling-guling di atasnya.

"Hah. Mungkin aku memang sudah ditakdirkan jadi manis begini." pujinya pada diri sendiri. Ia memegang ponselnya, mengutak-ngatiknya sebentar sebelum akhirnya meletakkannya sembarang dan memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.

TOK TOK TOK

Hyukjae mengerutkan alisnya kesal.

TOK TOK TOK

'Siapa sih yang berkunjung malam begini?'

TOK TOK TOK

'Apa jangan-jangan anak tetangga itu lagi?'

TOK TOK TOK

"Iya, iya! Tunggu sebentar!"

Dengan malas Hyukjae turun dari kasur dengan wajah kusut dan menuju pintu utama. Suara ketukan itu sudah terhenti semenjak Hyukjae menjawab (dengan ketusnya). Dikarenakan rasa malas Hyukjae ditambah dengan mood-nya yang agak jelek, Hyukjae tidak bertanya dahulu siapa yang berkunjung dan langsung membukakan pintu.

Kosong.

Hyukjae menoleh kekiri dan kanan namun tak menemukan apa-apa.

"Hei! Siapa yang mengetuk pintu ku?"

Tak ada yang menjawab.

Hyukjae menghela nafas.

'Mungkin memang anak tetangga yang usil itu lagi.'

Hyukjae menghela nafas dan hendak kembali menutup pintu, namun adanya sesuatu yang terasa mengganjal kakinya membuatnya terdiam sebentar. Hyukjae merasakannya. Sesuatu yang hangat, agak ringan dan... bergerak.

Hyukjae yang kaget langsung sedikit menarik kakinya refleks dan semakin terkaget saat melihat apa yang masih menggantung di kakinya.

Disana, seorang bayi gemetar.

Meurut logika Hyukjae, anak ini memeluk kakinya dan hampir terjatuh saat Hyukjae menarik kakinya karena kaget tadi. Anak ini bertahan di kakinya dan tidak terjatuh. Tapi mungkin dia... kaget.

Kaget?

ASTAGA!

Hyukjae langsung menggendong anak kecil yang sudah berkaca-kaca itu sebelum menangis keras. Ia menepuk-nepuk punggungnya, mengelus-ngelus, mencoba menenangkannya. Hyukjae sangat ingat kalau anak kecil tidak boleh terkaget. Pernah dulu Hyukjae iseng mengagetkan keponakan bibi Kwon dan alhasil ia harus bertanggung jawab menenangkan keponakan bibi Kwon yang menangis itu lebih dari 10 menit.

"Astaga. Ini anak siapa?" gerutu Hyukjae, masih menggendong anak itu kesana kemari. Anak itu menangis dalam gendongan Hyukjae, membuat Hyukjae semakin pusing.

Hyukjae kembali melongokkan kepalanya keluar apartemennya, siapa tau orang tua anak ini sedang bermain petak umpet, dan tak menemukan apapun atau siapapun selain 2 tumpuk kardus yang tersandar di sisi kiri temboknya.

"Kenapa aku tidak sadar ada kardus disitu?"

Hyukjae ingin mengambil kardus itu namun rasanya tak mungkin bisa Hyukjae lakukan sambil mengendong anak yang sedang menangis ini.

Hyukjae menghela nafas. Dia cepat-cepat memasuki kamarnya sendiri dan menaruh anak kecil itu di sisi ranjang yang bersebelahan dengan tembok. Hyukjae mengambil salah satu boneka pemberian teman-teman SMA-nya dan memberikannya kepada anak itu untuk di peluk. Hyukjae menatap pintu dan anak itu bergantian. Jujur, ia khawatir untuk meninggalkan anak itu sendirian. Ia takut anak itu terjatuh. Dan dalam hitungan detik Hyukjae berlari keluar dan membawa kardus itu ke dalam kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu apartemennya.

"Huh? Kau menyukai boneka itu?" tanya Hyukjae, melihat anak itu benar-benar berhenti menangis dan malah menggesek-gesekkan wajahnya gemas ke boneka panda yang ia peluk. Hyukjae mengendikkan bahu. Syukurlah kalau anak itu berhenti menangis.

Hyukjae membuka kardus itu perlahan dan menemukan surat sebagai temuan utamanya. Ia juga melihat adanya pakaian serta beberapa mainan yang sudah agak rusak di dalamnya.

Hyukjae-ah! Ingat aku? Maaf aku meninggalkan anak ini di depan rumahmu. Hari ini usianya tepat di bulan ke tujuh. Dia baru belajar untuk duduk karena itu kau tidak perlu terlalu khawatir dia jatuh.Aku merasa tidak punya muka untuk bertemu denganmu, karena itu aku berencana untuk mengetuk pintu rumahmu dan meninggalkan anak itu di depannya. Sebenarnya rasanya berat untuk meninggalkan anak itu, tapi aku dan tunanganku merasa keberatan untuk menjaganya karena itu kuputuskan untuk mengembalikan anak ini ke ayah kandungnya. Kau boleh tes DNA kalau tidak percaya.Namanya Donghae. Itu nama yang diberikan temanku untuknya. Terserah kau mau memakai marga siapa. Aku menaruh seluruh barang miliknya di dalam. Aku tidak tau mau mengucapkan apalagi selain maaf dan... semangat!-you know who ;)-

Kalau saja wanita itu ada disini, Hyukjae memastikan untuk mencekiknya. Semangat kepalanya! Dasar wanita gila. Melakukan apapun seenaknya. Kalau saja Hyukjae bukan orang yang hidup pas-pas an, pasti wanita itu ia laporkan ke pengadilan.

Namun sepertinya Hyukjae memang tak punya pilihan.

Hyukjae duduk berhadapan dengan anak itu dan mengambilkan beberapa boneka lain untuk diberikan kepadanya. Anak itu terlihat senang dan mengambil boneka yang menurutnya menarik, namun tak melepaskan boneka panda yang Hyukjae pertama berikan kepadanya. Hyukjae menatap anak itu lama dengan iba.

"Hei, namamu Donghae ya?" Hyukjae bertanya walaupun sebenarnya percuma, "Kasihan ya. Anak polos yang tak mengerti apa-apa sepertimu harus ditelantarkan oleh ibumu sendiri." gumamnya.

Hyukjae terus menatap anak itu. Matanya yang besar dan bibirnya yang tipis membuat Hyukjae gemas. Benar-benar tidak mirip sama sekali dengan ibunya. Dan Hyukjae harap anak ini benar-benar tidak memiliki kemiripan apapun dengan ibunya.

Hyukjae rasa ia tidak perlu mengabari bibi Kwon tentang hal ini. Merepotkan sih menjaga anak kecil dengan hidup pas-pasan apalagi Hyukjae baru kuliah, tapi kalau bibi Kwon tau bisa-bisa dia syok dan khawatir berlebihan. Seperti saat tau Hyukjae dilecehkan si ibu dari anak ini.

Oh God. Betapa inginnya Hyukjae menghapuskan darah wanita itu dari anak di hadapannya ini.

"Hei Donghae. Sekarang margamu Lee ya? Namamu jadi Lee Donghae. Kau tidak takut dengan orang asing? Kurasa tidak. Ah iya. Aku adalah appa-mu. Namaku Lee Hyukjae. Mulai sekarang kita akan hidup bersama." Hyukjae mencoba berkomunikasi dengan Donghae dan menggendong anak manis itu. Donghae sendiri meracau tidak jelas walaupun hanya kata 'Ah! Ah!' yang bisa diucapkannya.

Hyukjae menatap jam. Pukul 9 malam lebih dan itu berarti sudah jadwalnya anak kecil harus tidur. Ia membaringkan Donghae, dan ikut berbaring di sebelahnya.

"Ah!"

Donghae memprotes begitu Hyukjae menarik boneka dari pelukannya. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca, bibirnya mulai gemetar, dan ia mencoba meraih boneka itu. Hyukjae yang melihatnya mau tidak mau mengembalikan boneka itu ke Donghae dan Donghae terlihat sangat senang, bahkan sampai tertawa. Hyukjae refleks ikut tertawa -gemas- sebelum akhirnya menidurkan Donghae dalam pelukannya.

Lupakan tentang gaya rambut. Lupakan tentang siapa ibu anak ini. Karena mulai esok, Hyukjae akan memulai hidup baru dan harus merelakan sebagian boneka dan uang jajannya untuk mengurus Donghae.

Dan satu hal yang terpenting...

Hyukjae tak jadi hidup sendiri.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author's Territory:

Jadi kemaren itu data cla ttg ff ini ga sengaja keapus semua temans -_- cla mau nangis gila. Terus sekarang cla ngebut deh. Kalian mau chap depan ada baby hae dulu atau langsung ke inti masalah aja?

Thanks to reviewers:

haehyuklee | Guest | minmi arakida | Cho Kyura | Nenglovehae | MingMin | myfishychovy | Cho eunhae | lee ikan | Amanddhharu0522 | Asha lightyagamikun | kim hyun soo | pumpkinsparkyumin | Ressijewelll | aiyu kie | J. Clou | bluerissing | maria8 | love haehyuk | haehyukkie | nvyptr | niknukss | Qhia503 | lyndaariezz | dekdess

Thanks bagi yang fav, follow, review, visitors maupun readers!

See you~