Disclaimer:

Vocaloid yang bukan punya saya

Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya

Ceritanya punya saya, selalu


Warning:

OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, ancur, de el el


Fic ini dibuat untuk memenuhi request YamiRei28~

Fic pertama Rey yang memunculkan Teiru XD

Selamat membaca! XD


Aku dan Kamu

A TeiruxRin story

by reynyah

Chapter II – Teiru yang Sesungguhnya


Rin POV


Tidak terasa, sudah satu minggu sejak kedatangan Teiru ke sekolah. Sudah satu minggu pula dia menjadi orang yang mengisi bangku kosong di hadapanku dan sudah seminggu pula dia jadi tamu langganan di rumahku. Setiap pulang sekolah, dia selalu mengajakku pulang bersama dan memintaku mengundangnya ke rumah. Sebenarnya tanpa diminta pun aku memang akan mengundangnya.

Kadang Len tiba di rumah lebih dulu dariku, kadang juga tidak. Jadi, kadang aku dan Teiru hanya berdua di rumah, kadang ada Len menemani kami. Saat kami hanya berdua di rumah, biasanya aku akan mengajak Teiru menonton film bersama sampai Len pulang.

Oh ya, ngomong-ngomong soal Lenka dan kedua orang tuaku, kini mereka bertiga ada di Kagoshima, masih mengurus Baasan. Kaasan tahu aku tidak akan sanggup mengurus Lenka sendiri, jadi Kaasan kembali ke sini beberapa hari lalu dan membawa Lenka ke Kagoshima. Satu hal sederhana yang cukup membuatku dan Len kegirangan selama satu malam.

Hehe, jujur saja, aku malas merawat Lenka yang hobi merengek.

Ah, siang ini, aku sedang memakan bento-ku di kelas bersama Teiru. Lagi-lagi, bento mengingatkanku pada sosok kecil bersurai abu-abu yang berlarian ke seluruh penjuru sekolah dengan riang sembari melupakan bento-nya yang ia letakkan di mana-mana. Lagi-lagi, bento mengingatkanku pada sosok kecil bersurai kuning madu dengan bando telinga kelinci putih yang sibuk mengejar sosok kecil bersurai abu-abu tadi sambil membawa bento yang ditinggalkannya. Dua sosok itu adalah Teiru dan aku, semasa SD.

"Hei, Rin."

Aku mendongak, mengalihkan tatapan dari bento-ku yang rupanya sejak tadi belum kumakan. "Ah, ada apa, Teiru?"

"Sepulang sekolah nanti aku boleh main ke rumahmu lagi, kan?"

Aku tertawa kecil. "Boleh," jawabku sambil mengangguk. "Biasanya juga begitu, kan? Gak usah ngerasa sungkan gitu, dong."

Teiru terkekeh. "Tapi... nanti Len ada di rumah, gak?"

Aku memiringkan kepalaku. "Kayaknya nggak," jawabku setengah ragu. "Pertandingan udah dekat... kayaknya dia bakal sibuk latihan, tapi aku gak yakin." Aku menghela napas. "Nanti aku coba tanya dia lagi."

"Oke," balas Teiru. "Ngomong-ngomong itu bento-nya gak dimakan? Buat aku aja, ya?"

Cepat-cepat aku menjauhkan bento-ku dari Teiru sebelum dia dapat menggapainya. "Enak aja! Aku juga lapar, tau!"

Teiru terkikik geli. Bukannya menjauh dariku, dia justru menambah kadar keisengannya. Dia berusaha menggapai kotak bento-ku, membuatku makin mundur dan mundur (padahal aku masih duduk di kursi).

Beberapa detik kemudian aku tidak lagi merasakan ubin di bawah kakiku.


Normal POV


Rin terus mundur hingga kursi yang tengah ia duduki tidak lagi bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Kursi itu terjungkir ke belakang, bersama dengan Rin yang duduk di atasnya. Teiru yang terkejut buru-buru menghampiri Rin dan—untung saja—kepala Rin tidak terluka, hanya tangannya yang sedikit merah karena tertimpa badannya sendiri. Teiru segera membantu Rin. Dia menggendong Rin, ala bridal style—yang langsung membuat pipi Rin merah—lalu membawa Rin ke ruang kesehatan. Beruntungnya mereka, jarak antara kelas mereka dengan ruang kesehatan hanya dua puluh meter. Lebih beruntungnya lagi, tidak ada murid di sekitar kelas mereka yang dapat melihat mereka dengan pose seperti itu.

"Teiru... turunin aku, dong..." pinta Rin masih dengan wajah merona. "Ma-malu, nih..."

"Sepi begini, siapa yang bakal liat?"

Rin mendesah. "Tembok juga punya mata dan telinga."

"Ya udah, aku turunin—" ucap Teiru. "—di ruang kesehatan."

Rin mendengus. "Itu sama aja bohong."

"Kamu cuma minta diturunin, kan?" balas Teiru. "Gak usah banyak protes deh, badan sakit-sakit aja cerewet."

"Aku cuma sakit di tangan, kok!" Rin membela dirinya, tidak mau dianggap lemah oleh Teiru.

"Nah." Teiru menurunkan badan Rin dari gendongannya. "Aku turunin, kan?"

Rin mendengus lagi. Dia berjalan memasuki ruang kesehatan—diikuti Teiru, tentunya—dan menyadari bahwa di dalam tidak ada siapa-siapa. Baik dokter, siswa-siswi klub medis, maupun siswa-siswi yang tengah tidur di ranjang, semuanya tidak ada di sana. Rin mendesah. Akhirnya, ia berjalan menghampiri kotak P3K di atas meja dokter lalu mengobati lukanya sendiri.

"Eh, emangnya boleh pakai obat sendiri?" tanya Teiru sambil duduk di samping Rin.

"Boleh asal tau cara pakainya," jawab Rin sambil meletakkan es batu di atas memarnya.

"Emangnya kamu tau?"

Rin mengangguk. "Tau, dong."

"Gimana bisa?"

"Dulu aku anggota klub medis."

"Kenapa sekarang udahan?"

"Soalnya aku udah kelas tiga."

Teiru hanya ber-oh ria sembari memerhatikan Rin yang kini tengah mengoleskan gel kental pada memarnya. Setelah itu, Rin memasukkan kembali obat-obat yang sudah selesai ia gunakan ke dalam kotak P3K, menutup kotak itu, lalu berdiri. Dia menatap Teiru. "Mau ke kelas lagi, gak?"

Teiru balik menatap Rin heran. "Ngapain?"

"Emangnya kamu mau menetap di sini? Sebentar lagi bel bunyi."

Teiru mengangguk lalu mengikuti Rin ke kelas mereka. Dan benar saja kata Rin, ketika mereka berdua baru menginjakkan kaki mereka di luar ruang kesehatan, bel masuk berbunyi.


Teiru POV


Huft, akhirnya pelajaran hari ini berakhir juga.

"Teiru, Teiru," panggil Rin yang ada di hadapanku setelah guru sejarah kami keluar. "Kamu jadi main ke rumahku atau nggak?"

Aku mengerutkan dahi. "Jadi, dong. Kenapa? Orang tuamu pulang?"

Di luar dugaanku, Rin menggeleng. "Cuma memastikan."

"Oke," balasku santai. "Kita mau ngapain sore ini? Nonton film lagi? Atau kamu mau buat kue terus aku ganggu?"

Rin tertawa. "Dasar iseng," balasnya. "Mungkin lebih baik kalo kita ngerjain PR sama-sama dulu sebelum aku bikin kue, kamu ganggu aku, atau kita nonton film."

"PR, ya?" balasku sambil berpikir sejenak. "Dengar-dengar, kamu juara kelas."

"Frasenya lebay, deh," komentar Rin, mengekori komentarku ketika kami pertama bertemu di kelas ini minggu lalu. "Aku gak sehebat itu, Teiru. Aku emang peringkat pertama di kelas, tapi bukan juara kelas."

"Loh? Apa bedanya?"

"Gak penting, udahlah," balasnya sambil mengibaskan tangannya. "Pulang, yuk."

Maka dengan dua kata dari Rin itu, aku dan dia berjalan keluar dari kelas, menyusuri koridor sekolah yang dipenuhi puluhan pasangan—untungnya tidak sedang melakukan hal-hal memuakkan—sampai akhirnya kami tiba di gerbang sekolah. Di sana, aku melihat Kagamine Len sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke tembok, sedang mengobrol dengan seorang gadis berambut abu-abu keperakan sepertiku.

"Neechan!" panggil Len. "Mau pulang?"

Rin mengangguk. "Kenapa?"

"Aku gak bisa," jawab Len. "Ada latihan dan pengaturan strategi sampai jam enam. Nanti aku pulang paling telat jam tujuh, ya."

Rin mengangguk lagi. "Halo, Tei," sapa Rin pada gadis di samping Len sambil tersenyum.

"Konnichiwa, Rin-senpai," balas gadis yang dipanggil Tei itu sambil membungkuk di depan Rin.

Rin tertawa lalu menepuk bahu gadis itu. "Kamu gak perlu formal begitu sama aku, panggil aja Rin-nee," balas Rin kelihatan geli. "Aku kan, bakal jadi kakak iparmu di masa yang akan datang."

Wajah Len dan Tei sontak memerah. "Neechan!" tegur Len.

"Len? Apa kataku soal panggilan?"

"Ah..." Len menggaruk leher belakangnya. "Onee-sama, jangan bilang gitu sama Tei," ucap Len dengan wajah kesal. "Tuh, muka Tei sampai kayak kepiting rebus gitu."

Tei menatap Len sebal lalu memukul pemuda itu. Yang dipukul hanya tertawa-tawa geli. Tei menatap Rin lalu berkata, "Oke, mulai sekarang aku panggil pakai 'nee' ya, Rin-sen—eh, Rin-nee."

Rin tersenyum. "Oh ya, Tei," lanjutnya lagi. Dia menarik tanganku agar mendekatinya. "Ini temanku, teman Len juga. Namanya Teiru."

"Konnichiwa, Teiru-senpai," ucap Tei sambil lagi-lagi membungkuk.

"Dan kamu juga gak perlu formal sama dia," jelas Rin lagi. "Ya udah, aku sama Teiru pulang dulu. Tei mau nunggu Len selesai latihan?"

Tei tersenyum dan mengangguk kecil.

"Pacar Len?" tanyaku penasaran setelah aku dan Rin sudah berjalan meninggalkan sekolah. Kini, kami hanya tinggal seperempat jalan menuju rumah keluarga Kagamine.

Rin tertawa. "Aku gak tau hubungan mereka teman atau pacar," aku Rin. "Yang jelas, Len emang suka sama Tei."

Aku manggut-manggut. "Oh ya, kita jadi ngerjain PR bareng, kan? Otakku agak korslet hari ini."

Rin tertawa lagi. "Korslet? Seorang Sukone Teiru otaknya korslet?" balasnya masih tertawa. "Gak mungkin. Aku udah kenal kamu cukup lama untuk tahu kalo otakmu korslet, itu artinya kamu lagi dalam mode paling jenius dari semua mode yang ada dalam otakmu."

Aku menaikkan alisku lalu tertawa. "Mode jenius?"

Rin mengangguk. "Oh, kita sampai," ucap Rin sambil membuka pagarnya lalu membuka pintu rumahnya. Setelah melepas sepatu kami di genkan dan menggantinya dengan sandal rumah, Rin mempersilakan aku untuk duduk di ruang tamu sementara dirinya bergegas menuju dapur, menyiapkan makanan ringan untukku dan dia.

"Mau masak?" tanyaku pada Rin.

Rin mengangguk.

"Ikut!" seruku sambil buru-buru berdiri.

"Emangnya kamu bisa?" tanya Rin sambil terus berjalan menuju dapur.

"Ikut ganggu maksudku."

Rin mendengus.


Normal POV


Rin sibuk dengan bahan-bahan kue yang tidak dikenali Teiru. Pokoknya, Teiru hanya mengenali peralatan yang ada di atas meja makan: cangkir, piring kecil, sendok teh, toples gula, dan tak lupa, teh. Rin sudah selesai membuat tehnya dan kini dia tengah sibuk berkutat dengan kue yang katanya adalah kue paling enak sepanjang masa. Meski Teiru berkata frase yang digunakan Rin terlalu berlebihan, tetapi Teiru memang berpendapat sama. Kue buatan Rin memang kue paling enak sepanjang masa. Selama ini, memang kue buatan Rin lah yang paling enak di lidah Teiru.

Teiru beranjak lalu berdiri di samping Rin, berniat mengajaknya mengobrol. "Sekarang kamu lagi apa?"

"Nyampur adonan," jawab Rin sambil terus mengaduk. "Kenapa?"

Teiru mendongak menatap langit-langit dapur. "Yah, aku mau bantu tapi aku gak tau harus bantu apa."

Rin tertawa. "Kamu cukup duduk manis dan nunggu kueku jadi, oke?"

"Hah, gak bisa," balas Teiru. "Mm... Rin."

"Apa?"

"Ada yang mau... aku omongin sama kamu."

Rin tertawa lagi. "Kalo mau ngomong, kamu tinggal ngomong kok, Teiru. Kenapa jadi canggung gitu di depan aku?"

"Soalnya... ini beda, Rin."

"Oke," balas Rin sambil mengalihkan pandangannya dari mangkuk adonan ke mata Teiru. "Jadi, kamu mau bilang apa?"

Teiru berdeham. "Kita... udah seminggu kenal lagi, ya?"

Rin memiringkan kepalanya. "Iya."

"Aku udah seminggu berturut-turut main ke rumahmu, ya?"

"Iya."

"Mm..." Teiru diam sejenak. "Jadi... wajar gak, kalo aku suka kamu?"

Rin tersenyum. "Wajar dong," jawabnya. "Kalo kamu gak suka aku, kenapa kamu terus-terusan datang ke sini?" tanya Rin dengan senyum. "Lagian, kita kan, mau menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan datang ke rumah teman, iya kan?"

Teiru memejamkan matanya bingung. Rin salah mengartikan perasaannya. Yang Teiru maksud adalah suka bukan sebagai teman, sahabat, atau apapun yang semacam itu. Maksud Teiru adalah suka sebagai lebih dari sahabat, sebut saja sebagai 'perempuan'.

"Maksudku bukan itu..." ucap Teiru bingung. "Bukankah aneh kalau aku... jatuh cinta pada seseorang yang aku lupakan, di masa lalu selalu ada untukku, dan aku baru mengenalnya kembali selama satu minggu?"

Mata Rin membelalak. "Jadi... maksudmu—"

"Aku cinta padamu, Rin."

Rin diam, tidak bisa berkata-kata.

"Aku cinta padamu sungguh-sungguh, sejak pertama kali bertemu denganmu," lanjut Teiru sambil menarik tangan Rin dan menggenggamnya. "Dan aku tidak mungkin membohongi perasaanku sendiri, bukan?"

Rin menunduk, membiarkan rona merah menghiasi wajahnya. Dan akhirnya bagi Rin, satu dari sekian banyak mimpinya terwujud.

Teiru mencintaiku.


FIN!


Aduh, abal banget ini fic XD

YamiRei28, maafkan Rey kalo fic-nya gak memuaskan... begitu pula untuk semua yang udah baca fic ini, maaf kalo ceritanya gak jelas atau terlalu bertele-tele atau apalah u_u

Akhir kata,

silakan isi kolom review!