Modoranai ka

Modoranai ka?

Chapter 2

By Schia Kepanasan

Disclaimer : Sunrise. All hail sunrise! Makin berpihak ama fujoshi!! Hahahaha

Warning : Shonen-ai...ga ada yg 'terlalu' sih di chapter ini...SuzaxLulu, LuluxRollo (atau RolloxLulu? Yang manapun boleh lah...), SuzaxEuphie (euh...sebetulnya males juga sih ama pairing ini...). oh iya, sebelom baca ini ffic, harap ambil kipas atau apapun gitu yang berfungsi sebagai 'pendingin'...baca di dalem kulkas juga boleh. Daripada nanti panas sendiri n menghujat author.hahaha

A/N : Here it is, the second chapter! Thx 4 da reviews kawand smuah! Love u all.hahaha... btw, biarpun Suza uda 'kembali ke jalan yang bener' d R2 ep 21, tetep aja Suza uda bikin bgitu banyak ksalahan! Ga bakal gw maapin bgitu aja! Liad aja ntar, Suza...hehehehe (ktawa setan).

Sore ja, ikimashou!!

--

Suasana kelas itu begitu tenang. Semua orang sedang sibuk mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Semua, kecuali Lelouch Lamperogue dan Suzaku Kururugi.

Lelouch yang duduk di sudut kelas menatap langit dengan pandangan kosong. Tangan kanan menopang dagunya. Masih terbayang olehnya pertemuannya dengan Suzaku kemarin.

"Aku hanya mencintaimu, Lelouch!"

'Bullshit!', jerit Lelouch dalam hati. Kata-kata itu seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan. Tetapi, begitu kata-kata itu keluar dari mulut seorang Suzaku Kururugi, kata-kata itu akan menjadi tak berarti. Hampa.

Sudah cukup Lelouch mempercayai kata-kata indah penuh harapan itu. Pada akhirnya, ia selalu dikecewakan. Ia mengingat-ingat kembali saat-saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Suzaku mengkhianatinya dan malah menduakan cintanya dengan sepupu Lelouch sendiri, Euphimia.

Tanpa sadar, tangan Lelouch bergerak menulis sesuatu di atas buku catatannya. Dan saat ia tersadar, tiga buah huruf katakana sudah tertulis di atas kertas putih itu.

Su Za Ku

Lelouch terkejut sendiri melihat nama yang tertera di bukunya. Kenapa ia bisa menuliskan nama itu? Air mata tampak kembali terkumpul di bola mata violet itu. Siap untuk tumpah.

Dan dengan segera Lelouch menyobek kertas bertuliskan nama orang yang pernah ia cintai itu.

--

Suzaku menghela nafas panjang. Sudah sejak tadi ia memperhatikan sosok Lelouch dari sudut matanya. Penjelasan guru sama sekali tidak ia perhatikan. Persetan dengan semua itu. Matanya memandang Lelouch erat, mengawasi setiap gerak-geriknya.

"Kamu hanya mencariku sebagai pengganti Euphie! Pasti sehabis ini kamu akan mencari Euphie yang lainnya. Kallen, mungkin?"

Nafas panjang kembali terhembus. Sebegitu tak percayanya kah Lelouch pada dirinya?

Euphie memang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi, bukan berarti ia lantas mencari pengganti Euphie. Justru dengan kepergian Euphie, ia menjadi tersadar bahwa yang sesungguhnya ia cintai adalah Lelouch. Ia tidak berbohong pada Lelouch, paling tidak, ia tidak akan lagi berbohong pada Lelouch.

Apakah Suzaku tidak lagi mendapat kesempatan untuk kembali ke sisi Lelouch? Kembali menjadi 'ksatria berkuda putih' Lelouch? Ataukah hanya waktunya saja yang kurang tepat?

Suzaku menghembuskan nafas panjang kembali untuk ketiga kalinya. Sudut matanya menangkap sosok Lelouch yang sedang merobek kertas. Hati Suzaku bertanya-tanya mengapa kertas itu ia sobek? Untuk sesaat, Suzaku merasakan bahwa Lelouch akan menangis.

"Maafkan aku, Lelouch...Percayalah padaku..."

Suzaku hanya dapat berkata lirih sambil terus memperhatikan Lelouch...

--

Lelouch merasa bahwa air matanya tak terbendung lagi. Akhirnya, ia pun berdiri dari kursinya dan menghampiri guru di depan kelas.

"Sensei, saya rasa saya tidak begitu sehat. Boleh saya ke UKS?"

Si guru pun mengangguk dan berkata, "Pergilah. Wajahmu pucat."

Mendengar kata-kata gurunya, Suzaku spontan bangkit berdiri dan berkata, "Sensei, biar saya yang antarkan Lelouch ke UKS." 'Ini kesempatan!', batin Suzaku.

Tetapi, wajah Lelouch menjadi dingin. Tanpa menatap Suzaku, ia berjalan keluar dan berkata, "Tidak usah, aku bisa pergi sendiri."

Dan saat pintu itu tertutup, menghilangkan Lelouch dari pandangan Suzaku, Suzaku hanya bisa duduk diam dengan wajah sedih. Ia tidak tahu, bahwa di luar kelas sana, lautan air mata di bola violet itu tidaklah lagi tertahankan dan Lelouch menangis dalam diam...

--

"Nanti malam bisa datang kan?", tanya Lelouch sambil menggenggam handphone di tangan kirinya. Ia tersenyum cerah. Matanya menatap lembut box berwarna hijau dengan pita biru di tangan nya.

"Bisa kok, bisa. Kamu tenang saja.", terdengar suara riang Suzaku dari handphone Lelouch.

"Kalau begitu, jam 7 malam aku tunggu di tempat 'itu' ya."

"Oke. Sudah dulu ya. Bye. Love you forever.", kata Suzaku.

Lelouch tersenyum kecil dan wajahnya memerah. "...Love you too. Bye" dan ia pun menutup percakapan. Ia memandang box hijau itu sekali lagi dan memasukkannya ke saku.

'Hari ini aku akan datang lebih cepat.'

--

"Nii-san? Mau pergi ke mana?", tanya Rollo. Ia penasaran karena sedari tadi melihat Lelouch memilih-milih baju dari lemarinya. Padahal biasanya, baju yang Lelouch gunakan untuk pergi hanya baju yang itu-itu saja.

Lelouch tidak menjawab. Ia terlalu sibuk memilih-milih baju. Rollo yang makin penasaran dengan kelakuan aneh kakaknya pun mendekat. Tiba-tiba, Lelouch menghadap ke arah Rollo sambil menunjukkan sebuah kemeja putih panjang yang indah. Rollo sedikit tersipu malu ketika melihat sosok Lelouch yang hanya mengenakan handuk dari dekat.

"Menurutmu baju yang ini bagus tidak?"

Rollo yang kebingungan hanya melihat sekilas kemeja itu dan mengangguk. "Bagus kok. Tapi memangnya nii-san mau pergi ke mana?"

Lelouch tidak membalas dan hanya tersenyum. Dengan segera ia melepas handuk yang melingkar di pinggangnya lalu memakai kemeja itu dan celananya. Melihatnya, wajah Rollo bertambah merah dan dengan segera ia memalingkan wajahnya.

Kemeja loose putih yang agak transparan itu terlihat cocok sekali digunakan oleh Lelouch. Ditambah celana hitam ketat dan aksesoris dasi pita. Lelouch pun mengambil chocker –yang diberikan oleh Suzaku, dan mengenakannya. Rollo terkesima melihat penampilan kakaknya itu. Ia seakan-akan baru saja melihat penjelmaan seorang bidadari.

Tetapi, Rollo langsung sadar dari kekagumannya dan kembali bertanya, "Memangnya nii-san mau pergi dengan siapa? Mau kencan ya?", tanyanya iseng. Betapa kagetnya Rollo saat ia melihat Lelouch berhenti bergerak sekilas dan wajahnya tersipu merah. Tapi, dengan sigap Lelouch memasang kembali wajah cool khasnya.

"Ah, kamu ini. Bukan kencan kok. Ada-ada saja.", bantah Lelouch. Ia pun keluar dari kamar dan tersenyum pada Rollo, "Aku pergi dulu ya, Rollo. Hati-hati."

"Hati-hati di jalan...", kata Rollo sambil tersenyum memaksa. Dan saat Lelouch sudah berada di luar kamar, Rollo mengepalkan tangannya erat. Matanya menatap tajam ke arah pintu dan ekpresi marah bercampur cemburu terlihat jelas dari wajahnya...

--

Lelouch berlari terengah-engah di dalam gelapnya malam. Akhirnya ia pun sampai di tujuannya, taman Ashford Academy. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangan kirinya. 6.50 pm. Masih ada 10 menit sebelum janjinya dengan Suzaku. Ia menghela nafas lega dan mengeluarkan box hijau dari sakunya dengan perlahan-lahan. Ditatapnya box itu dengan penuh kelembutan.

Ya, hari ini, tepat 1 tahun yang lalu, di tempat ini, Suzaku menyatakan cintanya pada Lelouch, disaksikan oleh teman-teman sekelasnya. Lelouch masih ingat betapa bahagia-dan malu dirinya saat itu.

Lelouch melihat sekelilingnya, belum ada tanda-tanda bahwa Suzaku telah sampai. Ia hanya tersenyum dan bersandar ke pohon. Menunggu Suzaku datang.

--

1 jam telah berlalu. Lelouch telah lelah bersandar ke pohon dan Suzaku tidak kunjung datang.

"Aneh, tidak biasanya Suzaku terlambat."

Lelouch mulai cemas. Ia telah mencoba menelepon handphone Suzaku berkali-kali, tapi tampaknya handphone tersebut sedang dimatikan. Cemas menunggu Suzaku, muncul pikiran-pikiran yang tidak enak di kepala Lelouch.

'Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?', batin Lelouch. Ia makin gundah ketika lagi-lagi ia gagal menghubungi handphone Suzaku.

"Suzaku...di mana kamu?"

Di tengah-tengah kecemasannya, tiba-tiba saja Lelouch merasakan 'desakan' tertentu untuk 'membuang sesuatu'.

"Sial, kenapa harus di saat seperti ini sih? Toilet! Aku butuh toilet!", Lelouch pun dengan segera menuliskan memo dan menempelkannya di pohon terdekat.

'Suzaku, aku pergi ke toilet di club house dulu. Lelouch.'

Dan dengan segera Lelouch berlari ke arah Club House.

--

"hhh...lega...", ucap Lelouch begitu keluar dari toilet. Ia memutuskan untuk kembali ke taman dan berharap Suzaku telah datang. Tapi, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.

"Suzaku?", ya. Itu suara Suzaku. Tapi Lelouch tidak bisa menangkap apa yang Suzaku katakan. Lelouch pun dengan perlahan berjalan mendekati sumber suara tersebut dan akhirnya ia menangkap sosok punggung Suzaku di dalam sebuah ruangan di Club House.

Lelouch pun dengan senyum lembut mendekat dan menyapa Suzaku, "Suza-", tetapi, langkah dan suara Lelouch terhenti saat ia mendengar suara seorang perempuan dari dalam ruangan yang sama. Suara yang juga ia kenal.

Euphimia.

'Euphimia? Sedang apa dia di sini?', penasaran, Lelouch mencoba bersembunyi dan mengintip ke dalam ruangan. Ia melihat Suzaku dan Euphimia sedang bercakap-cakap di ruangan itu dan hatinya mencelos ketika ia melihat pemandangan itu.

Bibir Euphimia dan Suzaku bertemu.

Lelouch sangat terkejut. Otaknya tidak dapat mencerna apa yang baru saja ia lihat. Perlahan-lahan, kata-kata Suzaku dan Euphimia terdengar lebih jelas olehnya.

"Euphie..Aku mencintaimu.", kata Suzaku pelan.

"Tapi, bukankah kamu sekarang sedang bersama Lelouch?", dari nadanya, terdengar bahwa Euphie sangat terkejut.

"Aku...tidak. Aku hanya melihatnya sebagai sahabat. Selama ini aku salah. Mungkin aku hanya...terbawa nafsu...", kata Suzaku perlahan, tapi mantap.

Lelouch shock mendengar kata-kata tersebut. 'Aku hanya melihatnya sebagai sahabat.', apa maksudnya? Kenapa Suzaku berkata seperti itu?

'Tidak...tolong katakan kalau itu bohong. Tolong katakan dengan wajah penuh senyummu bahwa itu semua Cuma bercanda!', tanpa sadar, setetes air mata terjatuh dari mata Lelouch.

"Tapi...", kata Euphie ragu. Tiba-tiba, Suzaku memeluk Euphie erat.

"Euphie, aku mencintaimu. Biarkan aku menjadi ksatria berkuda putih mu."

Mata Lelouch terbelalak. Kata-kata itu... Ia kenal betul kata-kata itu. Itu adalah kata-kata yang Suzaku ucapkan 1 tahun yang lalu padanya. Kata-kata itu pula yang membuat hatinya yang dingin luluh. Dan kini...Suzaku mengatakannya pada orang lain? Tepat 1 tahun setelah ia menyatakan janjinya untuk terus mencintai Lelouch?

Dan saat bibir Suzaku dan Euphie kembali bertemu, Lelouch tidak dapat melihat lebih jauh lagi. Ia berlari menjauh dari Club House. Sejauh mungkin dari tempat itu. Hatinya seakan-akan ditusuk oleh sebilah pedang tajam. Sakit.

Lelouch terus berlari dan air mata terus menetes jatuh...

--

Lelouch terbaring lemas di atas kasurnya. Adegan antara Suzaku dan Euphie di Club House tadi terus terngiang di benaknya. Terus menerus tanpa henti menambahkan luka yang ada di hatinya.

"Kenapa, Suzaku...kenapa...kau begitu tega?"

Tiba-tiba, handphone Lelouch berbunyi, tampak sebuah pesan masuk.

From : Suzaku

Subject : Maaf!

Lelouch, maaf tadi aku tidak bisa datang. Ayahku tiba-tiba jatuh sakit. Aku harus merawatnya. Sekali lagi, aku minta maaf.

Love you always,

Suzaku

Sesaat setelah membaca pesan itu, Lelouch langsung membanting handphone nya keras-keras. Nafasnya terengah-engah. Air mata tak berhenti mengalir. Amarahnya meluap ketika ia membaca pesan penuh kebohongan itu. Tanpa sadar, ia memukul tembok di belakangnya hingga tangannya memerah. Ia tidak peduli bahwa tangannya terluka. Tidak ada luka fisik yang bisa mengalahkan luka hatinya saat itu.

Rollo, yang sejak tadi memperhatikan Lelouch dari luar kamar dengan rasa cemas berlari masuk ke dalam dan menghentikan Lelouch. Dengan sigap, ia menangkap tangan Lelouch.

"Nii-san!", jeritnya. Tapi Lelouch menepis tangan Rollo dengan keras dan berteriak,

"Minggir! Biarkan aku sendiri!", Lelouch menutupi wajahnya dengan tangannya yang memerah dan terluka. Rollo perih melihat kakak nya yang kuat menjadi lemah dan tak berdaya seperti itu.

"Nii-san!", Kali ini, Rollo menarik Lelouch ke dalam pelukannya, "Berhenti melukai dirimu sendiri...Ceritakanlah masalahmu padaku..."

Perlahan, Lelouch menjadi tenang saat merasakan Rollo mengelus-elus rambutnya lembut. Penuh kasih sayang.

Dan semalaman penuh, Lelouch menangis di pelukan Rollo, sambil menceritakan semua kejadian yang tadi ia alami.

--

"Nii-san, kau yakin mau ke sekolah?"

Lelouch tersenyum pahit ke arah Rollo. Matanya lebam karena menangis semalaman. Wajah cantiknya tampak lelah. Ia mengangguk pelan.

"Aku yakin. Hari ini aku akan menyelesaikan semua masalah yang ada.", Lelouch lalu mengambil tas sekolahnya dan berjalan keluar kamar sambil sebelumnya mengusap kepala Rollo dan tersenyum, "terima kasih."

Rollo tersipu malu. Dengan pelan dan lirih ia berkata, "Nii-san, apapun yang terjadi...Ingatlah bahwa nii-san akan selalu memiliki aku."

--

Ya, Lelouch telah menguatkan hatinya. Hari ini juga, ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Suzaku. Ia memandangi bangku Suzaku dengan tatapan yang tak terjelaskan. Ekspresi rindu, sayang, pahit, dan benci bercampur menjadi satu.

Lelouch duduk di bangkunya dan menunggu Suzaku datang. 10 menit, 30 menit, 1 jam. Suzaku tidak kunjung datang hingga pelajaran dimulai. Lelouch merasa sangat keheranan. Tidak biasanya pula Suzaku absen tanpa memberitahu Lelouch. Dan pertanyaan Lelouch terjawab, saat wali kelas mereka datang dan memberikan pengumuman...

"Semuanya, hari ini ada berita yang sangat disayangkan. Teman kalian, Kururugi Suzaku, mulai hari ini akan pindah sekolah ke Brittania. Ia akan belajar di sana. Mungkin ini sangat mendadak, tapi pihak sekolah juga baru tahu tadi malam."

Mendengarnya, Lelouch mendadak kaku. Matanya memandang bangku Suzaku kosong. Ia terdiam sementara teman-temannya saling berbisik menyayangkan kepergian Suzaku. Dan dengan spontan, Lelouch berdiri dan berteriak,

"Sensei! Kapan Suzaku akan berangkat ke Brittania?!"

"Yang ku dengar dia akan pergi dengan pesawat pukul 10 hari ini."

Lelouch melihat ke arah jam dinding di kelas. 9.10. Tanpa banyak pikir lagi, Lelouch menghampiri Rivalz dengan segera dan menyeret pemuda itu keluar kelas.

"Sensei, saya izin dulu. Saya baru ingat kalau ada tugas OSIS mendadak."

Wali kelas mereka hanya mengangguk bingung dan Lelouch keluar dari kelas tanpa mempedulikan protes Rivalz.

"He-hei, Lelouch! Ada apa ini?", tanya Rivalz bingung.

"Antarkan aku ke bandara dengan motormu. Sekarang juga.", kata Lelouch mantap. Terbayang sudah olehnya apa yang akan ia katakan dan perbuat pada Suzaku nanti. Yang pasti, ia tidak akan membiarkan Suzaku pergi tanpa mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya.

--

Suzaku menghela nafas panjang. Jam di dinding bandara menunjukkan pukul 9.20. Sudah saatnya ia masuk ke pesawat. Ia menengok ke belakang sebentar, mengharap melihat sosok Lelouch. Tetapi, ia berjalan menjauh dengan senyum pahit. Ia sudah tidak berhak bertemu dengan Lelouch lagi, setelah apa yang terjadi semalam...dengan Euphimia.

Dan saat Suzaku akan melangkah pergi, ia mendengar suara yang ia nantikan,

"Suzaku Kururugi!"

Benar saja, saat ia berbalik, Suzaku menemukan Lelouch berdiri terengah-engah. Tampak jelas sekali kalau ia dari tadi berlari agar sampai di bandara tepat waktu. Suzaku hanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Ia tidak berani memandang mata violet yang terbakar amarah itu.

Saat ia dan Lelouch sudah berdiri berhadap-hadapan, yang bisa ia katakan hanya, "Lelouch..."

Dan dalam sekejap, rasa perih tiba-tiba terasa di pipi kiri Suzaku. Lelouch menamparnya dengan keras. Mata violet yang penuh amarah itu kini kembali dibasahi air mata.

"Aku...Aku melihatmu tadi malam! Sungguh terlalu kamu Suzaku! Tepat di saat 1 tahun hubungan kita! Kau...Kau bahkan tidak berniat menjelaskan semuanya! Tidak, kau memang tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi! Semua sudah jelas. Kamu sudah mengkhianatiku, Suzaku!"

Melihat Suzaku yang hanya bisa diam dan melihat lantai dengan mata bersalah, Lelouch menjadi geram. Ia mengeluarkan box hijau dari dalam sakunya dan berteriak, "Lihat aku, Suzaku!", Lelouch melempar box itu ke arah Suzaku, "Padahal aku sudah bersusah payah mencarikan benda ini untukmu...Tapi tampaknya sudah tidak perlu lagi."

"Maaf...Lelouch...aku...aku memang mencintai Euphie..."

"Dan kau berniat untuk lari dan meninggalkan aku, hah?", jerit Lelouch. Sakit hatinya sudah sangat dalam. 'Britannia? Jadi, setelah ini dia akan tinggal di dekat Euphie di Britannia sana?!'

"...", Lelouch memungut kembali box hijau itu dan memasukkannya ke kantong. Ia berniat membakarnya saat kembali ke rumah.

"Kita berpisah Suzaku.", kata Lelouch dingin. Amarahnya mulai reda, walaupun air mata masih tersisa di matanya. "Jangan pernah kembali lagi ke sini. Berbahagialah dengan Euphie...dan jangan sakiti dia seperti kau menyakitiku."

"Selamat tinggal."

--

Bel pulang pun berdering, menyadarkan Suzaku dari lamunannya. Suzaku menatap ke bangku Lelouch yang kosong dengan pahit. Ia menyadari betapa bodoh dan kejamnya ia dulu. Tidak heran kalau Lelouch sulit memaafkannya.

Ia tidak berkata banyak saat itu. Tapi, justru karena itulah perasaan sakit Lelouch justru menjadi semakin besar. Kadang, diam bukanlah merupakan solusi terbaik. Ia kembali menghela nafas panjang. Entah untuk keberapa kalinya.

Tetapi, saat ia membereskan barang-barangnya, tiba-tiba Suzaku merasa ada yang memperhatikannya. Ia berbalik dan menemukan Rollo berdiri di pintu kelas.

"Suzaku Kururugi, bisa aku bicara denganmu sebentar?"

To Be Continued...

A/N : ...pas nulis ini ffic entah kenapa ada 'hasrat' dalam diri author untuk nendang Suzaku pake Lancelot. Semuanya, kalo mau hujat Suzaku, hujat aja. Ini ffic emang gw bikin sebagai sarana menghujat Suzaku kok. Hahahaha. Untung di ep 21 dia kembali k 'jalan yang benar'. Masih bisa sadar lo Suz? Hhh...author gondok sendiri nih! (langsung ngadem di bawah AC sambil kipas2).

Anyway, Read&Review yah!! Author tau seberapa sebel kalian ama Suzaku...udah hujat aja Suzakunya...hahaha (author esmosi sendiri).