Pagi hari di penghujung musim semi, Naruto duduk berselonjor kaki di ambang sebuah gang sempit. Dia sendirian melamun di situ sedangkan orang-orang yang lalu dan lalang hanya melewatinya begitu saja. Naruto yang malang, hanya akibat pengendalian emosinya yang di bawah rata-rata_ kini dia harus hidup menggelandang. Untungnya dia tidak menyesali apa yang sudah diperbuatnya, menghajar pemenang audisi nyanyi di tengah acara siaran langsung, sebab hanya kenangan kebodohannya itulah yang sanggup menghiburnya saat ini.

Sebenarnya, Naruto _yang anak kesayangan keluarga kaya raya_ bisa pulang kapan saja dia mau, seluruh anggota keluarganya pemaaf dan sangat menyayanginya, tapi Naruto yang keras kepala dan _entah sejak kapan_ berharga diri tinggi malah memilih menenggelamkan dirinya ke dalam kegelapan gang yang sempit, atau istilah lainya, kabur dari rumah.

Sebenarnya tidak hanya kabur, karena rasa malu yang besar, Naruto juga terdorong untuk menghilang dari dunia ini. Dia ingin pergi ke tepi jurang lalu melompat, pergi ke arah laut lalu tenggelam atau lari ke hutan lalu menghilang. Tapi semua itu tidak bisa dia lakukan. Sebab Naruto tidak mau mati sebelum jadi penyanyi terkenal. Jadilah Naruto digantung kegalauan dan hanya ditemani sedikit kepuasan menghajar orang yang sudah mengejeknya di tengah wawancara siaran langsung.

Namun lapar tetaplah lapar, Naruto _yang sudah kehilangan sepertiga berat badannya, terdiam sambil memandang langit biru. Di langit itu, Naruto menggambarkan berbagai macam makanan kesukaannya. Semangkuk ramen, segelas jus jeruk, roti isi, ayam goreng dan kemudian wajah-wajah para komentator acara kuliner.

"Ha ha ha, bodohnya..." Naruto menggumam dan memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang hangat. Sebentar lagi libur musim panas Jepang akan segera tiba, guguran sakura musim semi sudah tidak nampak lagi dan setelah pagi ini, siang yang terik akan segera memaksa Naruto mencari uang untuk membeli minuman dingin.

Whussshhh...

Angin bertiup membuka mata Naruto, _sehelai kelopak bunga sakura yang entah asalnya dari mana, hingap di ujung hidungnya. Sakura, Naruto sangat suka bunga sakura. Inilah salah satu alasan Naruto lebih memilih tinggal di Jepang, beda dengan saudara-saudaranya yang lain _yang memilih tinggal di Eropa.

Naruto mengambil sakura itu dari hidungnya lalu dia perhatikan dengan seksama. Ah, warna merah muda yang menawan, ini mungkin kelopak sakura terakhir yang Naruto bisa temukan tahun ini. Naruto bersiul-siul pelan dan tanpa sadar menyanyikan beberapa bait lagu yang pernah dia dengar di acara festival Hanami.

Di saat yang sama, _seorang Uchiha muda bertampang bapak, berjalan menyusuri trotoar dengan tampang sendu. Tadi malam, entah untuk yang keberapa kali, dia berakhir di meja bar setelah mendapat penolakan cinta yang ke sekian kali.

Sedihnya, terjebak dalam cinta besar yang hanya pada satu orang saja. Tidak bisa menghindari patah hati, tapi juga tidak bisa berpaling ke lain hati. Padahal musim semi tahun ini akan berakhir tapi semua usahanya tidak kunjung berbunga juga.

Sudah berapa lama Uchiha Itachi berjuang mengejar cintanya?

Itachi ingat ia sudah hampir setahun mengabaikan pekerjaan dan keluarga demi cinta. Namun, meski sudah membaca artikel tentang perusahaan agensi artisnya yang akan segera bangkrut, Itachi malah semakin tidak ingin kembali bekerja. Dia ingin cinta, bukan uang dan kesuksesan. Karena moto hidup Itachi adalah mengejar sukses demi kebahagiaan. Kalau uang tidak bisa menyuap pujaan hatinya, buat apa bekerja?

Sial, cinta membuat orang jadi bodoh...

Seperti kembang api di festifal musim panas,

Bunga matahari mekar berkilauan

Angin yang indah berhembus dan menyusup

Melewati yutaka warna angkasa yang menawan...

Eh?

Itachi mengerjap dan kembali pada kenyataan. Sayup-sayup dia mendengar alunan nyanyian yang menghangatkan hati. Nyanyian yang terbawa angin. Itachi mengikuti suara itu dan melihat punggung seorang gelandangan di depan gang.

Hangatnya...

Tiba-tiba Itachi ingin suara nyanyian itu didengar oleh adiknya juga, Uchiha Sasuke, tapi kemudian Itachi juga ingin semua orang mendengar suara kehangatan itu. Suara yang lembut dan hangat seperti matahari pagi di hari ini. Suara musim panas yang warnanya biru dan di penuhi bunga matahari.

Semangat Itachi tiba-tiba kembali, dia menyadari indahnya pagi ini dan ingin kembali bekerja untuk mempromosikan suara orang itu pada semua orang, agar didengar semua orang, agar membangkitkan semangat setiap orang.

Tap, tap, tap, tap...

Itachi berjalan cepat, nyaris berlari. Dia menghampiri si gelandangan pirang yang memikat dengan suara hangatnya. Namun angin yang tiba-tiba berhembus kencang membuat Itachi terpejam erat dan kehilangan orang itu di detik selanjutnya.

"Kemana dia?" Itachi berlari melongok ke dalam gang yang kosong, lalu melempar pandangan ke segala arah mencari orang itu. Sayangnya dia benar-benar menghilang _entah kemana_ layaknya makhluk yang tidak nyata, seperti kelopak bunga yang terbawa angin.

Namun semangat yang tertinggal di hati Itachi menyakinkannya bahwa orang itu nyata dan barusan duduk di depan gang ini. Itachi akan melakukan segala upaya agar bisa mencapai suara itu dan menyampaikannya pada semua orang sambil berteriak; Lihat! Siapa yang aku temukan!


Tsukasa no RayValle

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Voice Ultra Uta, Voice!


Hmmm...

Namaku, Namikaze Naruto.

Ng... karena suatu hal yang memalukan, kemarin siang aku dikirim ke rumah sakit.

Maa... mau bagaimana lagi, aku dihajar karateka sabuk hitam tepat di kepala. Lihat, lihat, aku babak belur, untung mukaku gak hancur. Coba kalau sampai hidungku patah, peluangku jadi penyanyi bakal makin tipis saja.

Chk, dasar memalukan, sudah bikin malu, kabur dari rumah, menggelandang, sekarang masuk rumah sakit. Mana tidak punya uang, ini rumah sakit besar mau dibayar pake apa? Yang kupunya cuma tubuhku ini, lebih lagi aku juga laki-laki, mana bisa aku bayar para dokter, suster-suster, kepala yayasan dan seluruh pegawai rumah sakit pakai keperjakaanku yang cuma satu.

Ok, ulang lagi. Jadi namaku Namikaze Naruto. Usiaku 17 tahun, golongan darah B, tinggi badan 177, Status pelajar home schooling, tidak punya prestasi khusus, tidak punya pekerjaan tetap, lalu cita-citaku ingin jadi penyanyi terkenal, kalau tidak bisa... jadi penyanyi terkenal atau yaa... jadi penyanyi terkenal sajalah.

Ok, kembali ke sini.

Jadi begini, aku terjebak di sini sejak kemarin dan rasanya...

Bosaaan!

Aku lebih suka gang di jalanan dari pada kamar rumah sakit. Mana nuansa kamarnya serba putih begini. Belum mati sudah berasa akhirat. Karena bosan aku putuskan berjalan ke sekitaran dan mengamati prilaku bermacam pasien.

Bruuk!

Tidak sengaja Naruto menyenggol bahu seorang laki-laki berpakaian putih. Sebenarnya cuma sekedar kena senggol, tapi mungkin karena orang itu belum sarapan dan tidak tidur seminggu belakangan, orang itu tersungkur di lantai lorong rumah sakit.

"Cih! Dokter, kalau jalan liat-liat, dong!" Naruto bersungut kesal tapi dia tetap membantu orang itu bangkit kembali.

"Maaf, aku sedang kurang sehat."

Naruto menautkan alis, ditiliknya orang itu atas bawah. Rambut merah gelap, wajah pucat, mata berkantung, bibir kering, jas putih, celana jeans dan sepatu kulit hitam. "Kau ini dokter, kan? Kok bisa-bisanya sakit. Kalau kondisi dokternya saja seperti ini, bagaimana pasiennya?"

Dokter tertunduk lemas, "Aku tahu, maafkan a... Hei, kau ini pasienku, kan? Sejak kapan kau bangun? Ayo, kembali ke kamarmu!"

"Ehh?" Naruto mempelototi si dokter dengan tatapan tidak percaya, nyawa dan cita-citanya ternyata dipertaruhkan di atas meja seorang dokter ngantuk yang sempoyongan. Tapi sebelum Naruto sempat berkata-kata lagi, dokter itu menyeret dan memaksanya masuk ke dalam kamar rawat.

"Berbaring sana..." suruhnya dengan lesu. Menyeret Naruto ternyata cukup memakan banyak tenaga. "Jangan coba-coba keluar kalau aku belum mengizinkanmu!" ancamnya sambil pergi dan mengunci kamar.

"EH! Tunggu!" Naruto menyambar kenop pintu lalu menggedor-gedor marah. Rumah sakit macam apa yang membiarkan dokter mengurung pasien sesukanya? "Apa yang kau lakukan, Sialan?! Buka! Buka! Buka! Ini bukan kamarku!"

"Cih! Brengsek!"

Naruto membentak marah dan menendang pintu, lalu menoleh dan melihat seorang remaja laki-laki beralis tebal seumuran dengannya tengah mendelik dari atas tempat tidur. "Che, bukan salahku, dokter itu yang melemparku ke sini!"

Pasien itu menggembungkan pipinya lalu membuang muka. Naruto pun semakin manyun dengan kesal. Harus bagaimana sekarang? Apa Naruto harus terus berdiri di situ sampai ada yang membukakan pintu? Mana suasananya gak enak begini.

"Aku Namikaze Naruto," Naruto berusaha melumerkan suasana, "Namamu, siapa?"

Pasien itu menoleh, mimik mukanya tampak lebih santai dari pada sebelumnya. Untunglah, pasien itu tidak sekeras yang Naruto kira. Kelihatanya dia cukup ramah, "Panggil saja Amaru," begitu jawabnya.

"Amaru?" Naruto mendekat ke sisi ranjang dan melihat kaki kiri Amaru digantung dan dibalut tebal-tebal. "Apa yang terjadi padamu? Kecelakaan, ya? Kalau aku masuk ke rumah sakit ini karena dihajar orang."

Amaru tertawa, siapa sangka senyuman pasien ini sangat manis dan renyah, "Ha ha ha, benarkah? Sebenarnya tidak kau bilang pun wajah bodohmu itu mengatakannya."

Naruto refleks meraba wajahnya sendiri. Apa bekas pukul masih terlihat jelas? Aduh, malunya.

"Kau benar, aku mengalami kecelakaan, tulang kakiku patah, dokter bilang butuh waktu agak lama sampai sembuh total. Aku sedih sekali," tutur Amaru lagi.

"Hmm..." Naruto mengambil kursi dan duduk sedekat mungkin dengan Amaru. "Kau ini atlet, ya? Pasti berat sekali, ya?"

Amaru menaikan satu alisnya, "Kenapa kau pikir aku ini atlet? Aku bukan atlet."

"Bukan?" Naruto menggaruk belakang kepalanya meski tidak gatal, "Tapi kau terlihat sesedih begitu. Aku pikir kau kehilangan masa depan atau cita-cita semacam itu."

Amaru mengerjap, "Kau lebih peka dari kelihatanya," gumamnya pelan. "Aku bukan atlet, aku penyanyi. Sebelum masuk ke sini, aku sedang di puncak-puncaknya, jangan bilang kau tidak pernah lihat aku tampil di TV."

Naruto terdiam. Orang ini penyanyi? Tampil di TV? Lalu karena kecelakaan kecil, cita-citanya kandas?

Bahkan setelah berhasil, banyak sekali hal yang bisa menjatuhkan seorang penyanyi. Setelah jatuh bangun berusaha dan menghabiskan kerja keras dan waktu yang tidak sedikit, kesalahan kecil menyapu semuanya dalam sekejap. Betapa sulitnya menjadi penyanyi terkenal.

"Tapi selain sedih, apa tidak ada hal lain yang tergambar di wajahku ini?" tanya Amaru. "Apa kau tidak melihat amarahku? Selain sedih aku juga marah."

Naruto menatap wajah Amaru lekat-lekat, "Tidak, aku tidak lihat kau marah..."

"Kau salah!" seru Amaru tiba-tiba. "Aku ini juga bisa marah!"

"Ok, sekarang kau marah."

"Kau tahu, aku ini anggota grup girlband. Jumlah kami semua lima orang. Rekan-rekanku itulah yang mencelakakanku sampai aku berakhir seperti ini."

"Rekan?" Naruto memandang tidak percaya, "Maksudmu temanmu? Kenapa?"

"Aku ini leader tim, posisi ini selalu mejadi rebutan di antara ka..."

"Bukan, maksudku bukan kenapa mereka mencelakakanmu, maksudku kenapa kau yakin sekali merekalah yang melakukan ini padamu. Mereka temanmu, kan?"

Amaru tertegun. Teman?

"Amaru," panggil Naruto. "Menurutku kau sama sekali tidak merasa marah, mungkin yang kau rasakan itu..." jeda seasaat, "hanya kekecewaan."

"Kecewa?" Amaru tertunduk. Naruto benar sekali, jauh dalam hatinya dia menyayangi rekan-rekan grupnya meskipun hubungan mereka tidak benar-benar bagus. Selama ini Amaru sangat mepercayai mereka hingga tidak sama sekali tidak menyangka mereka atau salah satu dari mereka mecelakakannya sedemikian rupa.

Tunggu!

Jika selama ini Amaru bisa mempercayai rekan-rekan grupnya, kenapa tiba-tiba sekarang ia yakin sekali merekalah yang berbuat demikian? Bahkan jika memang benar mereka iri padanya, kenapa bisa mereka tega melakukan hal ini. Setahu Amaru, meski rekan-rekannya bukan teman yang menyenangkan, Amaru yakin tidak satupun dari mereka yang sanggup berbuat kejam. Mereka semua gadis-gadis yang baik.

Pasti ada sesuatu yang terjadi. Jika benar insiden yang menimpanya disengaja seseorang, mungkin akan ada kecelakaan lain yang mengincar keselamatan rekan-rekanya itu.

"Aku harus segera kembali, mereka mungkin dalam bahaya," Amaru menggumam-gumam, "Terimakasih Naruto, kau sudah menyadarkanku!"

"Hah?" Naruto berusaha menangkap maksud Amaru, tidak lama kemudian dia tersenyum lebar.

"Tapi kau ini sungguh luar biasa. Bagaimana caranya kau bisa membaca perasaanku?"

Naruto menggaruk belakang kepalanya, keheranan sendiri, "Ya, soalnya terbaca jelas dimukamu. Aku ini memang luar biasa, sih, kadang aku juga kaget sendiri, ha ha ha."

"Hee," Amaru menilik Naruto dari bawah ke atas dari atas ke bawah, "Hei, umurmu berapa? Kau ini masih SMA, ya?"

"Yah, normalnya aku ini kelas 2 SMA."

"Aku pikir kau sangat manis, sayang sekali kau memotong rambutmu seperti itu."

Naruto tertawa, "Kalau melihat ini, kau pasti akan berhenti mengataiku manis," katanya sambil membuka baju dan memamerkan otot tubuhnya, Amaru pun sontak terkejut.

"Howaa! Ternyata kau laki-laki!"

"Ternyata? Jangan-jangan, dari tadi kau mengira aku ini perempuan? Sombong sekali, coba perlihatkan tubuhmu! Aku yakin tidak sebagus punyaku."

"Ba-Bakka!" Amaru memeluk dadanya panik sedikit rona merah juga mewarnai pipinya, "Jangan-jangan dari tadi kau pikir aku ini laki-laki?!"

Selama dirawat di rumah sakit Naruto menghabiskan waktunya berbincang bersama Amaru. Gadis yang tampak seperti laki-laki itu banyak sekali menceritakan pengalamannya sebagai penyanyi. Naruto juga mendengar suara nyanyian Amaru, meski suaranya seperti bocah laki-laki nyanyian Amaru sangat enak didengar.

Selain itu Naruto pernah melihat Amaru melepas syal yang selalu membungkus kepalanya dan menggerai rambutnya yang panjang. Naruto juga tidak sengaja pernah melihatnya berganti pakaian. Sejak saat itu Naruto tidak lagi meragukan jenis kelamin Amaru.

"Amaru perempuan sungguhan, dadanya besar," Naruto menggumam-gumam sambil berbaring santai di ranjang kamar rawatnya.

Besok Naruto sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Amaru dengan baik hati membayar semua tagihan Naruto selama ia dirawat. Dia juga memberi Naruto sebuah ponsel, mereka pun berjanji akan tetap saling menghubungi.

Amaru sungguh gadis yang baik. Setelah mengenalnya Naruto merasa sangat merindukan keluarga dan saudara-saudaranya. Mungkin inilah waktunya untuk melupakan semua harga diri dan kembali pulang. Meski selama ini mereka membebaskan pilihan Naruto dan tidak berusaha mencarinya, bukan berarti mereka tidak khawatir sama sekali.

Tok! Tok! Tok!

Naruto mendengar suara pintu diketuk lalu tanpa menunggu izin seorang perawat masuk dan menyampaikan pesan. Dia bilang, Amaru ingin bertemu sekarang juga.

"Ada apa?" Naruto menggumam-gumam lalu pergi menemui Amaru di kamarnya.

Malam itu bulan bersinar terang sekali, sinarnya menembus jendela menerangi ranjang rawat dengan cahaya yang temaram. Amaru terlihat berbeda dari biasanya, dia nampak tenang dan anggun dengan senyuman tipis di bibirnya. Sambil memandang bulan, Amaru mengenang masa lalu yang indah hingga kebahagiaan itu memantul gemerlap di permukaan matanya.

Merah merona di pipi Naruto. Dia jadi gugup sendiri. Naruto menggaruk-garuk kepala belakangnya meski tidak gatal. Ada apa ini? Kenapa suasananya temaram begini? Nyalain dong lampunya!

"Naruto," panggil Amaru tanpa menoleh. "Aku ada sebuah permintaan. Kalau kau menyanggupinya, aku akan berikan apapun yang kau mau."

Naruto terkekeh kecil lalu mengambil kursi dan duduk di dekat Amaru, "Kau bertingkah seperti sedang sekarat saja. Aku sih tidak ingin meminta apa-apa, tapi kau boleh meminta apapun," katanya sambil menempelkan pipi di atas tempat tidur.

"Aku..." Amaru menoleh, tampaknya dia sedikit kesulitan menyampaikan keinginannya tersebut tapi meski begitu keteguhan berkilat di matanya dengan penuh keberanian dan tatapan itu menabrak tepat di sepasang mata Naruto yang biru, "Naruto, aku mohon, jadilah perempuan!"

Dan sejak kejadian malam itu, Naruto berubah menjadi seorang perempuan. Dia berdandan, memakai rok pendek, dan berlenggok lincah menggoda seperti seekor rubah betina. Dengan tampilan yang membukakan mata para pria, Naruto dengan sabar mengantri audisi di sebuah karaoke murahan dekat stasiun kereta.

"Baiklah, selanjutnya!"

Akhirnya sebuah pintu ruang karaoke terbuka untuk Naruto, gadis yang awalnya seorang pemuda itu pun melonjak-lonjak kegirangan, "Yeiy, gilirankyuuh~!"

Di dalam ruang karaoke dua pria rupawan yang wajahnya sebelas-duabelas menunggu Naruto dengan gaya duduk yang angkuh. Mereka tampak sudah lelah karena tidak kunjung menemukan penyanyi yang mereka cari.

Melihat ekspresi keras di wajah mereka berdua, Naruto meneguk ludah dengan berat. Dari sekian audisi yang pernah Naruto ikuti, baru kali ini ia merasakan ketegangan yang begitu kuat, rasanya seperti sedang menghadapi dua pejabat tinggi militer jaman perang yang sedang memilih antara berkhianat atau seppuku.

"Aku Uchiha Itachi, ini rekanku Uchiha Sasuke. Sekarang perkenalkan dirimu!" suruh salah satu dari mereka yang terlihat lebih tua dari usianya.

"Namaku Naruko-chan, umurku tujuh belas, belum pernah punya pacar dan masih perawan," jawab Naruto centil.

Itachi tertawa kecil, sikap Naruto berhasil mencairkan suasana meski Naruto tidak bermaksud begitu, "Ulangi lagi, kali ini dengan benar."

"Namaku Uzumaki Naruko, sudah putus sekolah dan hidup sebatang kara. Tapi suer, aku belum pernah punya pacar dan masih..."

"Menyanyilah!" suruh Itachi menyela.

"Baiklah, aku akan menyanyikan Blue Bird dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hatiku. Aku sudah berlatih menghapal lagu ini berulang kali. Aku bahkan..."

"Apa kau gugup?" tanya Itachi lembut.

"Eh?"

"Kau menutupi kegugupanmu dengan berusaha bersikap ceria, aku jadi tidak bisa menahannya, kau manis sekali," Itachi menyodorkan segelas air putih, "kemari, duduk dan minumlah, tenangkan dirimu sejenak!"

Naruto menurut, dia duduk dengan cepat dan bernafas cepat-cepat kemudian minum dan kembali berusaha bernafas, "Aku merasa sesak," keluh Naruto.

"Tidak apa, tidak apa," Itachi menepuk-nepuk punggung Naruto berusaha sedikit meringankan kegugupannya.

"Terimakasih, ternyata kau baik," Naruto tersenyum lemah, "padahal orang-orang bilang kalian ini dua juri yang mengerikan sekali. Gara-gara mendengar itu aku gugup sekali sampai rasanya mau kencing di celana."

"Kencing?" baru kali ini Itachi mendengar seorang gadis menggunakan kata itu padanya.

"Yosh, aku sudah tidak gugup lagi!" Naruto melompat cepat ke tengah ruang karaoke. "Aku Uzumaki Naruko yang sangat, sangat, sangat, sangat ingin jadi penyanyi terkenal. Aku yakin kalian akan terkejut mendengarku bernyanyi."

"Bernyanyilah dengan semua kemampuanmu, kalau sampai aku tidak menyukainya, aku dengan senang hati akan menendangmu keluar."

Naruto terdiam sesaat, terpaku pada senyuman Itachi yang kini terlihat berbeda, "Boleh aku ke toilet sekarang?"

Setelah menyanyi.

Itachi dan Sasuke memandang Naruto dengan tatapan tidak percaya, suara gadis ini menulikan pendengaran mereka untuk sesaat. Sasuke yang berprofesi sebagai seorang komposer yakin karirnya akan segera berakhir jikalau dia sampai mendengar nyanyian Naruto lebih dari satu kali.

Apa-apaan gadis ini? Apa dia tidak pernah mendengar suara nyanyiannya sendiri? Sasuke bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan berang yang di tahan-tahan, barusan itu jika saja ia tidak punya kendali diri yang kuat, ia yakin akan membentaknya keluar sebelum selesai menyanyi.

"Kau punya kepercayaan diri yang tinggi," karena Itachi tidak kunjung membuka mulut _yang tidak salah lagi karena masih dalam kondisi syok_ Sasuke akhirnya angkat bicara, "aku yakin kau akan sangat sukses di bidang bakat yang lain. Datanglah lagi saat agensi kami membuka audisi bukan menyanyi. Sialakan, keluarlah!"

Naruto tertunduk dan menggeleng cepat, dia tidak mau beranjak sedikit pun dari situ, "Apa aku sejelek itu? Apa yang salah, nyanyianku atau suaraku? Tidak adakah cara agar aku bisa jadi penyanyi?"

"Bahkan dengan uang atau kehormatanmu, tidak ada yang akan berubah. Sekarang, keluarlah!"

Naruto mengepal erat kedua tangannya, lantas dengan sorot berapi-api dia berteriak, "Aku tidak akan pernah menyuap juri! Aku punya harga diri, aku tidak akan pernah berlutut mengemis pada siapapun!"

"Kalau begitu, keluarlah!"

Bruk!

Tiba-tiba Naruto bersujud, "Kumohon, biarkan aku jadi penyanyiiii... Aku akan berikan semua yang aku punyaaa, ambilah semuanya! Kalian pria sejati tidak mungkin mengabaikan tangisan seorang perempuan, kan? Huuuuweeeee... kumohon, kasihanilah akuuuu..."

Cih, keras kepala! Sasuke berdiri dengan kesal, ia menghampiri Naruto dan hendak melemparnya keluar ruangan, tapi sekejap sebelum Sasuke melangkah, Itachi berlari lebih dahulu pada Naruto. Dia meraih bahu dan mendudukan gadis itu lantas memeluknya dengan erat.

Adegan itu berlangsung dramatis dengan efek slow motion di beberpa bagian dan diulang tiga kali dari tiga arah pengambilan gambar yang berbeda.

"Kumuhon, serahkanlah dirimu padaku! Aku tidak akan pernah menyakiti atau pun mengecewakanmu. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan lembut dan membanjirimu dengan kasih sayang. Aku juga akan mengabulkan apapun yang kau inginkan."

"Itachi-san?"

Apa itu? Melihat betapa jantan cara Itachi memeluk Naruto, tidak sadar sebelah alis Sasuke berkedut. Ada apa dengan Itachi? Jangan bilang dia tergoda pada gadis macam ini. Menjijikan dan lebai sekali.

"Sasuke, hari ini cukup sampai di sini, kita sudah menemukan apa yang kita cari."

"Apa yang kita cari?" Sasuke menggeram, "Kau memungut seekor gagak dan menyebutnya apa yang kita cari?"

"Aku akan menjadikan Naruko seorang penyanyi terkenal, aku sungguh terkesan padanya."

Sasuke memandang tidak percaya, tatapannya beradu pandangan Itachi yang sangat bersungguh-sungguh, "Tidak, aku menolak keputusan tidak wajarmu dengan keras, Uchiha Itachi," Sasuke menentang tegas.

Ketegangan kembali tejadi. Jauh lebih terasa dari pada saat Naruto pertama masuk tadi. Itachi tetap bersikukuh demikian pula Sasuke, namun dalam suasana mencekam tersebut, dengan malu-malu Naruto menarik-narik kecil kerah kemeja Itachi. Itachi menoleh ke dalam pelukannya lalu Naruto membisikan sesuatu yang tidak bisa Sasuke dengar.

"Keputusanku sudah bulat!" tegas Itachi tiba-tiba.

"Bulat? Apa yang membulatkan keputusanmu itu, Sialan?!"

Dan begitulah caranya Naruto membuka jalan untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Dia dengan penuh kebanggaan terus berusaha sangat keras dan tidak segan melakukan cara apapun.