LOVE AT BAKERY chap. 2
Eh, siapa? Suara ini kalau tidak salah…
"Ini, ambilah. Sisa roti hari ini tidak banyak. Maaf kalau aku mengasihnya sedikit."
Shinichi!
"Eh, tidak usah. Aku bisa makan diluar kok…"
"Hujan begini masih bisa makan diluar? Udaranya cukup dingin. Aku akan menghidupkan pemanas. Tunggulah. Aku akan menyiapkan sesuatu."
Menyiapkan sesuatu? Tunggu, kemana Sonoko, Aoko dan Kaito? Kok aku tidak melihat mereka lewat pintu depan?
"Hey, duduklah." katanya sambil menatapku. Ia sedang duduk di kursi pelanggan dekat kasir. Tangan kananya menopang dagu sementara tangan kirinya menuangkah teh ke dalam cangkir.
"Kau… Untuk apa membawakan roti lagi. Tadi kau sudah memberikannya padaku."
"Siapa bilang roti ini untukmu. Ini untukku." jawabnya sambil mengunyah dengan muka polos. Aku sweatdrop.
"Kenapa kau ingin bekerja di bakery ini? Bakery ini tidak istimewa. Biasa saja."
"Apa? Tidak istimewa? Ini kan punyamu. Bisa-bisanya kau menganggapnya tidak istimewa." kataku dengan nada suara yang agak ditinggikan.
"Ini punya orang tuaku. Orang tuaku adalah chef terkenal. Tidak ada yang tidak tahu pasangan chef Kudo."
"Terus, ada apa dengan orang tuamu?" aku menghirup teh yang dituangkannya tadi.
"Mereka tidak apa-apa. Mereka cuma pergi keluar negeri untuk belajar kembali. Kalau mereka itu chef, seharusnya mereka bisa buka restoran. Tapi anehnya, mereka malah membuka kedai roti ini. Mereka juga cuma mengajarkan aku dan Kaito cara membuat roti.
"Awalnya, aku menolak tapi Kaito justru tertarik. Ketertarikannya itu akhirnya menular padaku. Setelah merasakan bangku SMA selama setahun, aku dan Kaito memutuskan untuk mengurus bakery ini dan berhenti sekolah."
Sejenak aku berpikir, apa orang tuanya tidak keberatan dia berhenti sekolah? Orang tuanya seperti apa ya membiarkan anak-anaknya berhenti sekolah dan menjalankan bisnis di usia yang masih sangat muda.
"Lalu, bagaimana kau bisa mempekerjakan Aoko dan Sonoko itu?" Sekarang giliranku yang menuangkan teh untuknya.
"Waktu SMA, Kaito bertemu dengan Aoko. Entah bagaimana, mereka jadi dekat. Mungkin sejak itu mereka pacaran. Aoko juga tidak keberatan dengan keputusan Kaito berhenti sekolah. Malah mendukungnya. Aoko sudah seperti kakak bagiku. Dialah yang membantu usaha ini sedikit demi sedikit maju.
"Kalau Sonoko itu aku. Makoto adalah temanku. Dia sering membawanya kesini. Karena Sonoko suka dengan suasana toko ini, lama-lama Sonoko jadi tertarik. Akhirnya, Makoto pindah dan melanjutkan studynya di Kanada. Makoto juga sering berpesan padaku agar menjaga Sonoko. Makoto agak khawatir." Tiba-tiba Shinichi tersenyum. "Ya begitulah."
Sulit dipercaya. Aku baru bertemu dengannya 12 jam yang lalu dan dengan santainya ia menceritakan tentang keluarganya padaku, orang baru ini. Dingin, sulit bergaul, aku rasa tidak seperti itu.
"Sepertinya hujannya sudah agak reda. Ayo. Kuantar kau pulang."
"Tidak usah. Apartemenku dekat kok."
"Tidak baik perempuan jalan sendiri malam-malam. Apalagi hujan begini. Berusahalah untuk tidak menolak kebaikan dari orang."
Aku tidak bisa menolak. Orang ini langsung menarikku keluar. Sempat canggung saat kami menyusuri jalan menuju apartemenku. Shinichi asyik tenggelam dalam lamunannya.
"Shinichi, ini apartemenku. Terima kasih sudah mengantarku pulang."
Shinichi tidak mengatakan apa pun. Ia seperti melamun melihat apartemenku. Wajahnya datar tapi tiba-tiba cemberut. Perubahan ekspresinya itu membuatku bingung.
"Kau…tinggal di apartemen ini? Kok bisa?" katanya mengejekku.
"Suka suka aku dong. Memangnya kenapa?" orang ini benar-benar menyebalkan.
"Tidak…" katanya sambil berpaling. "Sudah ya."
Friday, 10
Normal POV
Ran terbangun begitu mendengar sesuatu dari dapur, sepertinya seseorang mengutak-atik dapur. Ini baru jam 6. Ia kembali berniat tidur tapi tiba-tiba ia sadar kalau ia tinggal sendiri. Siapa? Jangan-jangan maling. Ran mengendap-ngendap ke dapur. Kalau ini perbuatan maling, ia sudah siap dengan sapu yang dibawanya. Yak! Itu dia.
"Pencurii!"
"Oh, tunggu."
Ai! Kenapa? Ran kaget dan langsung meminta maaf. Untung sapu tadi tidak mendarat ke wajah Ai.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah membunyikan bel tapi tidak ada jawaban. Makanya aku masuk dengan memakai kunci cadangan ini." Ai tertawa.
"Maaf sekali Ai. Semalam aku lelah sekali."
"Sudahlah. Niatku sebenarnya ingin membuatkanmu sarapan. Aku lihat, semalam kau pulang diantar seseorang. Kau terlihat lelah, jadi aku berpikir membuatkanmu sarapan esoknya."
"Hoo. Hmm. Bau apa ini? Baum manis yang dicampur sesuatu. Kau membuat sesuatu?"
"Sepertinya sudah masak. Tunggulah." Ai berdiri lalu berjalan menuju dapur. Ran sangat senang karena tidak menyangka Ai akan datang ke kamarnya untuk membuatkan sarapan.
"Silakan." kata Ai menaruh sarapan diatas meja.
"Wahh. Apa ini? Seperti breat soup?" Ran mecongkel roti yang diatasnya dengan sendok.
"Ya. Dibawahnya ada rebusan makanan. Aku lihat di kulkasmu ada beberapa roti dan rebusan makanan, jadi aku campurkan saja."
"Kau ternyata pintar masak ya…"
Ai hanya tersenyum. Mungkin orang inilah yang ia cari untuk dijadikan temannya. Ia belum pernah menemukan gadis sebaik ini sebelumnya.
Setelah Ai pulang, Ran buru-buru mandi. Ia harus ada di bakery jam 8 ini. Tadi malam, Shinichi menyuruhnya datang besok jam 8. Ran menolak tapi Shinichi tetap menyuruhnya datang jam 8.
Ran sudah siap. Ia tinggal mengunci kamarnya dan pergi ke bakery. Ia sempat bertemu Ai digerbang dan menyapanya. Bakery tempat ia bekerja berada di distrik 1. Distrik 1 terkenal dengan toko-tokonya yang menjual barang kebutuhan dengan kualitas bagus dengan harga murah. Ran sudah memikirkan tempat-tempat yang akan ia kunjungi di Tokyo. Saking senangnya, ia lupa sudah melewati distrik 1 dan berbalik arah menuju bakery.
"Delis…bakery? Spertinya ini bahasa Eropa. Ada huruf e, o, u, dan… x?" Ran baru sadar kalau nama bakery ini sedikit aneh. Ia tidak tahu bahasa Perancis dan cara bacanya. Apa mungkin orang tua Shinichi yang memberikan nama ini, pikir Ran.
Karena Ran datang jam 8, ia tidak berani lewat pintu depan. Ia memilih masuk lewat pintu belakang karena malu pada pengunjung yang datang. Untunglah pintu belakang tidak dikunci. Ia buru-buru masuk ke kamar ganti dan segera berganti pakaian.
Tanpa sadar ia berjalan mengendap-ngendap. Tidak, aku tidak boleh takut. Bersikaplah seperti biasanya, kata Ran dalam hati. Ia berjalan menuju meja kasir dengan air muka yang dibuat biasa-bisa saja.
"Ran? Kau datang? Oh, syukurlah…"
"Maaf Sonoko. Aku datangnya telat." Tanpa basa-basi Ran langsung membungkus roti pelanggan.
"Huf, aku pikir kau sakit gara-gara kehujanan semalam," Sonoko memberikan bon pada pelanggan, "Terima kasih, silahkan datang kembali." katanya pada pelanggan terakhir.
"Tidak, aku tidak apa-apa kok."
"Tapi, untung kau bisa masuk lewat pintu belakang. Soalnya, pintu belakang selalu dikunci Shin dan baru dibuka saat toko tutup. Tapi, aku heran dengannya tadi pagi."
"Memangnya ada apa?" Ran terlihat penasaran.
"Sebelum toko buka, aku mau beli susu dan onigiri di minimarket di seberang sana. Aku selalu lewat pintu depan tapi pintunya terkunci. Lalu, terpaksa aku lewat pintu belakang. Begitu kubuka ternyata tidak dikunci. Aku pikir mungkin Shin lupa. Setelah kembali dari minimarket, aku bertemu dengannya di pintu belakang. Saat kutanya kenapa tidak dikunci, di malah bilang…
"Tidak. Itu sengaja. Soalnya semalam hujan."
"Aku tidak mengerti maksudnya. Berkali-kali kutanya, ia hanya menjawab itu-itu saja. Mau hujan, salju, panas, apalah itu, ia tidak biasanya begitu. Mencurigakan sekali…"
Ran yang mendengar itu juga tidak mengerti maksudnya. Entah kenapa, ia bisa mengerti kenapa Shinichi menyuruhnya datang jam 8.
XXXXXXXXXX
Sudah jam 12 siang. Saatnya istirahat. Jam 1 nanti toko akan buka kembali. Kesempatan satu jam ini digunakan Ran untuk jalan-jalan disekitar pertokoan distrik 1. Dan lagi perutnya sudah lapar. Awalnya Kaito mengajaknya makan bersama Aoko, Sonoko, dan Shinichi tapi Ran menolak. Kaito yang mendengarnya bisa mengerti.
Ran mulai berjalan ke arah utara. Kalau ia ke utara, ia akan berada di distrik 2. Ran mengunjungi satu-satu toko yang ada di distrik 1. Ran merasa beruntung dan berterima kasih pada dirinya sendiri karena keputusannya pindah ke Tokyo. Karena perut tak bisa dikompromi, Ran berhenti di salah satu restoran di distrik 2.
Restoran itu bergaya Eropa. Dekorasinya ditata sedemikian rupa dengan restoran-restoran Eropa umumnya. Uniknya, disetiap meja terdapat benda yang biasa disebut ramalan celeng. Tinggal masukan koin dan putar menurut zodiak.
Seorang pelayan datang membawa daftar menu. Melihat menunya, Ran semakin ingin mencicipi satu-satu makanan disini.
"Steak dadu." akhirnya Ran bicara.
Pelayan itu tersenyum sambil membawa daftar menu. Sambil menunggu, Ran membalas email dari Kazuha. Belum sempat ia meng-klik tanda 'send' handphone Ran berbunyi.
"Halo?"
"Ran! Oh, syukurlah. Bagaimana keadaanmu disana? Apakah Tokyo menyenangkan?"
"Kazuha! Tentu! Kau tahu, bakery tempatku bekerja orangnya ramah dan menyenangkan."
"Oh..syukurlah. Hey, kenapa kau tidak balas emailku? Kau lupa padaku?"
"Oh, gomen. Pertama kali aku masuk kerja, aku sudah dihadapkan segunung tugas. Kerja di bakery ternyata melelahkan. Disini aku punya teman baru. Kalau kau kesini, aku janji akan memperkenalkannya. Eh, bagaimana dengan Heiji?"
"Hah! Untuk apa kau menanyakan orang bodoh yang benar-benar tidak peka pada perasaan seseorang. Heiji baik-baik saja. Begitu tahu kau pindah, dia malah memarahiku karena aku tidak memberitahunya. Dan imbasnya, dia membuat kesepakatan padaku untuk membersihkan rumahmu sebulan sekali."
"Benarkah? Tidak usah…"
"Kalau kau mau protes, protes saja pada temanmu itu. Tapi, sebenarnya…aku senang sih."
"Hahaha. Aku tahu kau memang tidak bisa membenci Heiji. Apa ada hal khusus diantara kalian saat aku pergi?"
"Ti, tidak ! Sudahlah, aku jadi tidak mood membicarakannya. Oya, sekarang kau dimana?"
"Aku lagi makan siang di sebuah restoran."
"Sendirian?"
"Umm.." Seorang pelayan yang lain mengantarkan pesanan Ran. "Ya, begitulah."
"Apa teman-temanmu tidak suka padamu?"
"Tidak-tidak. Mereka malah mengajak makan siang bareng, tapi aku tolak. Sejak pertama datang ke Tokyo, aku belum pernah berkeliling, jadinya hari ini aku berkeliling disekitar distrik 1."
"Benarkah Ran? Baiklah, maaf sudah mengganggu acara makan siangmu. Lain kali kutelpon lagi. Dah!"
XXXXXXXX
"Ran, tidak apa kau sendirian?" tanya Kaito.
"Ya. Santai saja. Lagipula tadi pagi aku datangnya telat." Ran berusaha membuat nada bicaranya sesantai mungkin. Padahal dalam benaknya, ia paling takut sendirian apalagi sudah malam begini.
"Kalau lelah tinggalkan saja dan pulang. Nanti aku suruh Aoko yang menyelesaikannya besok pagi."
"Sudahlah. Aku bilang tidak apa. Jangan batalkan kencan hari ini dengan Aoko dan jangan membuatnya lelah." Ran mendorong Kaito ke pintu belakang.
Pertama di benaknya, ia ingin menolak semacam piket malam hari ini. Tapi karena tadi pagi ia datang terlambat dan itupun disuruh Shinichi, ia merasa berhutang budi dan menerima piket ini.
Sonoko yang harusnya membantu mendadak tidak bisa karena ibunya sedang jatuh sakit. Shinichi pulang duluan karena capek. Sedangkan Kaito-Aoko, kita bisa tebak apa yang dilakukan sepasang anak muda di akhir pekan begini.
Ia berniat memanggil Ai untuk menemaninya tapi ia tidak berani. Seandainya ada Shinichi saja disini, mungkin dia tidak akan setakut dan gelisan begini. Selesai merapikan rak-rak tempat menaruh roti, Ran bergegas ke kamar ganti. Setelah semuanya beres dan sempurna, Ran mengambil tasnya dan mengunci pintu belakang.
Saat di perjalanan pulang, ia teringat sesuatu. Ia berniat membeli bahan makanan malam ini. Ai-san pasti belum makan, pikir Ran. Akhirnya, Ran memutar balik dan pergi ke swalayan di distrik 2.
Ran hanya membeli bumbu instan, buah, susu, jus, dan biskuit. Seandainya ada Kazuha dan Heiji di apartemen, ia tak perlu berbelanja seperti ini. Mereka berdua pandai mengolah makanan walaupun tanpa bumbu. Ran mendapat ide dan langsung megirim e-mail ke Kazuha.
XXXXXXXXX
Inikah jalan yang aku lewati tadi? Ran mulai panik ketika ia tahu ia lupa jalan pulang. Ini distrik 2 dan ia tidak tahu dimana jalan menuju distrik 1. Ran terus berjalan menggunakan feelingnya yang tidak beres saat ini. Seandainya Ran tahu, ini bukanlah jalan menuju distrik 1 tapi menuju ke suatu tempat yang menjauhkannya dari distrik 1.
Berkali-kali ia selalu menemukan jalan yang sama. Jalan yang tidak menuntunnya ke distrik 1. Pikirannya tambah tidak beres dan ia pun berjalan ke arah yang benar-benar salah. Sekarang, ia berada di persimpangan lampu merah yang tidak begitu ramai. Kenapa terlalu banyak distrik di Tokyo, sih? katanya menghentakkan kaki ke tanah.
Karena kesal Ran semakin jauh berjalan. Ia ingin minta tolong tapi pada siapa. Semua orang disini sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sampai akhirnya ada sekumpulan pria yang tidak benar-benar sibuk dengan diri mereka masing-masing.
"Hey cantik kau mau kemana?" orang itu berseru ke arah Ran. Teman-teman pria itu menoleh ke arah Ran. Ran yakin ini pasti jalan maut baginya.
"Hey!" pria itu berteriak.
Ran mundur beberapa langkah lalu berjalan membelakangi pria-pria itu. Ia semakin mempercepat jalannya. Ini buruk, batinnya.
Ran berusaha melewati jalan yang banyak kerumunan orang. Tapi ia selalu berakhir di jalan yang kumuh dan agak sepi.
"Kenapa kau lari?" seru pria yang tadi. Pria itu sekitar 15 meter di belakang Ran. Ran berusaha mengecoh pria itu dengan berjalan lurus.
Ketika ia menemukan jalan kecil, ia segera berlari. Ia bisa melihat gemerlap lampu diujung jalan itu.
"Kau mau lari?" tiba-tiba pria itu sudah di depannya. Ran mundur beberapa langkah. Lututnya berkeringat dan pergelangan kakinya sakit.
Ternyata teman-teman pria itu sudah berjejer di belakang Ran. Ran dijebak. Mereka menatap Ran seakan ingin memakan dan menghisap darah Ran layaknya vampir.
"Seorang gadis tidak baik berjalan sendirian malam-malam begini." Pria itu mencoba memegang rambut Ran, tapi Ran segera menepisnya.
"Jangan sentuh aku." kata Ran dingin.
"Kau berani pada kami?" teman pria itu mengancam.
"Mau apa kalian?" Napas Ran memburu. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia sudah siap lari walaupun kaki kirinya terkilir. Bila tidak, ia akan menghajar orang-orang bau ini dengan jurus karate yang dipelajarinya setahun yang lalu.
"Gadis ini…" salah satu teman pria itu geram dan mencengkram tangan Ran.
Belum sempat Ran mengeluarkan jurus karatenya, dari ujung jalan di belakang Ran terlihat samar-samar lampu. Seperti lampu spotlight yang berjalan, lampu itu kian dekat dengan Ran dan orang-orang jahat itu. Lampu itu makin dekat dan diiringi suara deru kendaraan.
Saat semua perhatian tertuju pada kendaraan itu Ran menggigit tangan pria itu dan lari menuju arah datangnya cahaya spotlight itu. Kalau ini adalah teman-teman pria itu, habislah Ran. Ran benar-benar sudah pasrah.
Motor itu terus melaju hingga menabrak pria itu dan teman-temannya. Beberapa diantaranya tersungkur dan bibir mereka sobek juga kaki mereka terkilir.
"Naik." kata seseorang yang mengemudi motor itu pada Ran.
Ran yang tidak fokus langsung menuruti perintah orang yang menolongnya itu. Ia segera naik ke motor dan memakai helm.
"Pegangan yang erat."
Ran mengangguk dan memeluk erat tubuh orang itu. Motor itu mundur kemudian melaju kedepan kearah pertokoan kecil di depannya, lalu menghilang.
XXXXXXXXX
Ran POV
Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang kurasakan di pergelangan kakiku saat aku disuruh orang ini naik ke motornya. Sekejap, jantungku yang rasanya ditekan tadi kini hilang begitu saja. Siapa pun orang yang telah menolongku ini, aku hanya bisa berterima kasih.
Orang ini… siapa? Kenapa aku merasa aku ditolong oleh seseorang yang kukenal. Wajahnya tidak keliatan karena memakai helm berwarna hitam. Postur tubuhnya terlihat kekar karena memakai jaket kulit hitam. Sepertinya pria berumur 30 tahunan.
Aku baru sadar beberapa kantung belanjaanku ada yang hilang. Pasti karena aku panik dan jatuh tadi.
Tiba-tiba aku merasa pusing. Rasa kantuk tidak bisa kutahan lagi. Aku berusaha membuka mataku tapi kantuk melawan segalanya. Lagipula, punggung orang ini terlalu nyaman untuk didekap. Karena takut jatuh aku mengeratkan dekapanku. Sesaat aku mencium bau manis dari punggung orang ini. Saat mencoba mengingatnya, kepalaku rasanya tambah sakit dan tiba-tiba pandanganku gelap.
