[REMAKE] Sleep With The Devil by Santhy Agatha Chapter 2

Genre :: Romance

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa

baca novel Sleep With The Devil (Santhy Agatha). So, cerita ini

bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya.

Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). YAOI. M-PREG

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong, ini ff remake Sleep With The Devil KaiLu Ver ^^

Happy Reading!

Perjalanan itu terasa menyiksa dan panjang. Tubuh Luhan dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Kai ke bagasi dan dikunci dari luar.

Luhan berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhrnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang makin menipis, Luhan terdiam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya ?

Lama sekali Luhan menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat. Terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti.

Suara pintu mobil dibanting. Dan syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Luhan bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur. Ah ya Tuhan, semoga semudah itu.

Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.

"Luhan," itu suara Kai dan lelaki itu memanggil namanya.

Wajah Luhan langsung pucat pasi. Lelaki itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!

"Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak," Ada seberkas senyum di suara Kai. Kurang ajar. Lelaki itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!, "Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak ramah. Kusarankan kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh"

Rumah Kai. Luhan memejamkan matanya frustrasi. Dari informasi yang dia dapatkan, rumah Kai yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal Kai. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan Kai. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin Kai.

"Bagaimana Luhan? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang," suara Kai di luar menyadarkan Luhan dari lamunannya.

"Kenapa kau membawaku kemari?," gumam Luhan penuh keberanian.

Terdengar suara Kai terkekeh di luar sana, "Menurutmu kenapa Luhan? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?" Suara Kai terdengar dekat, "Kau sudah bermain api," bisiknya, "Sekarang saatnya kau untuk terbakar."

Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Luhan belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Di belakang Kai yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, Luhan tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau Luhan berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka. Kai mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk,

"Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar," gumamnya mengejek.

Luhan menatap tangan itu lalu menggeram marah. Kurang ajar sekali iblis yang satu ini!

Dengan marah, ditepiskannya tangan Kai dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo. Akhirnya Luhan berhasil berdiri keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya. Kai mengamati Luhan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,

"Mari, silahkan masuk. Selamat datang di rumahku,"

Setengah memaksa lelaki itu mencengkeram lengan Luhan yang kaku lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya. Bagian depan ruang tamu Kai sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.

Kai membawa Luhan menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki tangga. Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih,

"Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang," gumam Kai datar. Luhan membelalakkan mata, marah pada Kai,

"Atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal di mana. Aku mau pulang"

Bibir Kai masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak. Mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin,

"Kau tidak bisa pulang. Sekarang, ini adalah rumahmu. Bersamaku"

Dengan cepat lelaki itu merengkuh pundak Luhan, dan detik itu Luhan menyadari bahwa lelaki itu akan menciumnya. Secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Kai hanya mendarat di pelipisnya. Cengkeraman Kai di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan,

"Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satu-satunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau… Mati," dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam, Kai membuka pintu putih itu, dan mendorong Luhan masuk. Lalu menguncinya dari luar, meninggalkan Luhan yang menggedor-gedor dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.

"Menurutmu apakah dia sudah siap untukku?," Kai mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa di dalam kamarnya. Hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, lelaki itu menyesap anggurnya, lalu menatap Chanyeol, pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri di depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.

"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada Anda, tetapi siap membunuh anda. Tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian" Kai tersenyum tipis mendengar jawaban Chanyeol itu,

"Ya, tatapan matanya membakar, penuh kebencian.," Kai menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya, "Tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini"

"Ya saya tahu," jawab Chanyeol tenang, "Apakah Anda akan memaksanya…?"

"Aku tidak suka memaksa laki-laki ataupun perempuan, kau tentu tahu"

Kai terbiasa dikelilingi perempuan dan laki-laki cantik yang menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorang perempuan dan laki-laki cantik pun yang mampu menolak pesona Kim Kai. Dengan rambut hitam legam yang sedikit panjang mengena kerah, mata cokelat pucat dan wajah aristrokatnya hampir bisa dikatakan sempurna seperti malaikat… Kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam, menakutkan. Kai bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.

"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela" Tentu saja. Gumam Chanyeol dalam hati. Kata-kata Kai bagaikan perintah baginya.

Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk main- main. Chanyeol mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif. Dan kalau laki-laki cantik itu meminumnya, maka laki-laki itu akan menyerah pada Kai, dan menyenangkan tuannya.

Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Chanyeol mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman Luhan. Obat ini akan membuat laki-laki itu tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, laki-laki itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan.

Dan Chanyeol yakin, Luhan akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.

Malam ini laki-laki itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku.

Chanyeol tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.

Sudah hampir satu jam Luhan dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di semua furniture-nya. Kamar ini dibuat untuk laki-laki, dan Luhan merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Kai yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini.

Salah seorang pengawal Kai yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apaapa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar. Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, Luhan mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu.

Perutnya keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Kai, dan sekarang dia kena batunya.

Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih panas.

Mungkin jika aku mengintip sedikit apa makanannya…..tidak! Luhan menghardik dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus menyerah pada kekuasaan Kai.

Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa. Luhan melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda. Akhirnya Luhan menyerah. Dia haus sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan benar-benar pingsan. Luhan tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.

Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya. Tanpa sadar segelas minuman itu tandas sudah, Luhan meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah. Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini. Mata Luhan berputar, ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana, yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Luhan bisa mencari cara keluar dari sana.

Dengan hati-hati Luhan melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa. Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat. Lagipula Luhan baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua, kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.

Luhan mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan. Dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung. Entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya

menggelenyar…. Kepanasan…

Ada apa ini? Luhan meraba dahinya sendiri, terasa panas, Apakah dia demam? Napas Luhan terengah, semuanya terasa panas….. terasa panas… Luhan sangat butuh….

Kai membuka pintu kamar tempat Luhan dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Kai tidak mengharapkan Luhan masih bangun. Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata Kai menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis.

Laki-laki keras kepala. Geram Kai dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam Kai dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Dia tidak tahu bahwa Kai akan menggunakan segala cara untuk membuat Luhan menyerah padanya…

Gerakan gemerisik di ranjang membuat Kai menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Kai melihat Luhan terbaring di sana, gelisah. Pemuda itu belum tidur rupanya…. Dan dia tampak… tidak tenang.

Ingin tahu, Kai mendekat, dan menemukan Luhan berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan,

"Tolong…panas….," suara Luhan mendesah, serak seperti kesakitan.

Mengernyitkan keningnya, Kai duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Luhan, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Kai makin dalam, lalu kenapa pemuda ini bilang kalau dia kepanasan?

"Kau mau minum?," dengan cekatan Kai mengambil gelas air di meja pinggir ranjang, "Sini, aku bantu kau minum."

Kai bangkit dan mengangkat tubuh Luhan, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Luhan menggayut lemah di lengannya, dan napas pemuda itu terengah,

"Panas…. Tolong… panas sekali….," Sekali lagi Luhan mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa.

Kai meminumkan air itu kepada Luhan, dan dengan rakus Luhan menghirup air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.

Pasti ada sesuatu…. Jangan-jangan….

Kai memundurkan tubuh Luhan yang bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati Luhan dengan jelas. Wajah Luhan merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan…. Jangan-jangan…

Dengan cepat Kai membaringkan Luhan di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya, dan berteriak,

"Chanyeol!"

Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, Chanyeol muncul di depan Kai,

"Ya Tuan"

"Kau campurkan apa di minuman Luhan?"

Chanyeol sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi, "Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa" Wajah Kai mengeras, "Ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalat laki-laki dalam pengaruh obat. Kau melakukan sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu"

Chanyeol tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Kai, "Anda memerintahkan saya untuk membuat pemuda itu menyerah. Dia sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian. Obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah," Chanyeol menatap mata Kai, "Anda bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya"

"Dia kesakitan, kau tahu itu," geram Kai marah. Chanyeol mengangkat bahunya,

"Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah Anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut"

"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"

"Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya"

"Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau bisa juga sepanjang malam?"

"Ini bisa berlangsung selama Anda ingin bersenang-senang, Tuan" Kai terdiam. Kata-kata Chanyeol terasa begitu menggoda.

Kai kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat Luhan kembali.

Luhan masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika Kai duduk di ranjang. Luhan menatap Kai dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.

"Aku sakit….tubuhku… panas…"

Kai tersenyum dengan kelembutan yang aneh. Luhan benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Luhan dari kesakitannya. Dan Luhan membutuhkan Kai untuk itu.

Kai mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir Luhan, mendapati mata Luhan membelalak kaget. Kai tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.

"Kau tidak menyukainya?," bisik Kai lembut.

Luhan menatap Kai, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus,

"Aku… apa yang terjadi pada diriku?"

Kai mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya di pipi Luhan, membuat tubuh Luhan bergetar.

"Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu…"

"Obat…? Apakah aku diracuni?"

"Itu bukan racun Luhan, obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan"

Luhan butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Kai, sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi Kai. Tetapi Kai merengkuh Luhan lagi dan berbisik lembut di telinga Luhan,

"Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu," sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Luhan. Erangan Luhan ketika merasakan jemari Kai menyentuhnya terdengar begitu menderita, "Terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?," Tangan Kai bergerak ke pusat gairah Luhan.

"Tidak!," Luhan mencoba berteriak dan mencengkeram lengan Kai, "Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"

"Ini satu-satunya cara agar kau tidak kesakitan lagi, Sayang," suara Kai terdengar sedikit parau, "Biarkan aku membantumu"

Luhan mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan Kai. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Luhan membutuhkan jemari Kai itu…. Ia membutuhkan….

"Aku akan menolongmu Luhan, tapi kau juga harus menolongku. Aku juga butuh pelepasan sendiri. Lihat aku Luhan, lihatlah tubuhku" Kai membuka jubah sutra hitamnya, dan tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Dan napas Luhan tercekat ketika melihat bukti gairah Kai begitu keras.

"Gunakan diriku Luhan, biarkan aku merasakan tubuhku ada di dalam dirimu dan menyembuhkanmu,"

Kata-kata itu adalah satu-satunya kata yang mirip dengan permintaan yang pernah Kai gunakan pada perempuan dan laki-laki cantik, dan hanya dia lakukan kepada Luhan. Kai melakukannya karena dia sangat bergairah kepada Luhan, dia amat sangat bergairah, dan Luhan tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya.

Tubuh Kai sudah menindih Luhan, dan pemuda itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Kai menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh Luhan. Kai menunduk dan mencicipi bibir Luhan yang begitu menggoda dan menggairahkan, bibir itu begitu manis dan menggoda,

"Tenang sayang, aku mungkin akan menyakitimu," Kai menahan pinggul Luhan dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang. Luhan sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu, "Tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan"

Detik itu juga Kai mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Luhan. Hati-Hati. Kai menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Luhan.

Hati-hati, pemuda ini masih perjaka. Kai mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Kai memasukinya, dan Kai mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Luhan adalah miliknya!

TBC

Annyeong, chingudeul aku update lanjutannya :)

Pasti ada tau klo mengulang mengepost ff ini, soalnya yg sebelumnya dihapus dr pihak ffn'a

Makanya aku mengulang post chapter pertama..

Big Thanks to Review chingu :) mianhae klo tdk menyebutkan namanya satu-persatu #deepbow

Kamsahamnida chingu :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)