Maaf baru bisa update sekarang, maaf membuat senpai sekalian menunggu lama. Chapie dua ini melenceng jauh dari ide awal, soalnya ide sebelumnya menghilang gitu aja. Makasih buat yang sudah mereview dan membaca fic super abal ini. Semoga nggak kecewa setelah baca chapie kedua ini, hehe.. Yosha, happy reading all, and don't forget for review, hehe...
# # # # #
Bukan Uke Biasa by Fu For Fujoshi
Naruto by.. Masashi Kishimoto
Pair: NaruSasu, NejiGaa, KakaIta, SuiSai, dan pair-pair tak terduga lainnya.
Warn: BL/Sho-ai, AU, OOC, Abal, yaoi, lemon, lime, NC-17, dll. Yang dicetak miring itu artinya flashback.
'...' mine
"..." talk
# # ## #
Putih. Warna itulah yang tertangkap oleh sepasang bola mata obisdian yang baru saja membuka mata. Pandangannya yang tadinya nampak samar kini dapat melihat sempurna.
"Sasuke." Lelaki berkulit putih susu itu menggulirkan bola matanya ke kanan, mencari tau sosok yang baru saja memanggil namanya.
"Aniki..." bisiknya lemah. Lelaki yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan Sasuke itu tersenyum bahagia sekaligus lega, melihat adiknya sudah sadar. Dikecupnya bibir dan kening adiknya singkat sebagai ungkapan kebahagiaan, "Syukurlah kau sudah sadar Sasuke, aku khawatir sekali," pria bernama Itachi itu mengusap puncak kepala Sasuke. Meski air wajahnya masih terlihat cemas, ia tak dapat memungkiri, jika ia mulai lega melihat satu-satunya adik yang ia sayangi sudah membuka mata.
"Apa.. yang terjadi?.." tanya Sasuke dengan nada terbata. Tubuhnya terasa begitu lelah dan lemah.
Itachi yang duduk di samping ranjang Sasuke menjelaskan, "Kau sempat menghilang selama beberapa waktu. Aku dan yang lain terus berusaha mencarimu dengan dibantu pihak kepolisian. Dua hari kemudian, petugas menemukanmu pingsan di tepi sungai dengan keadaan memprihatikan..." Itachi membuang nafas, sekaligus untuk memberi jeda untuk kalimat yang akan ia lontarkan selanjutnya, "Kau tidak sadarkan diri selama beberapa hari, aku takut terjadi sesuatu padamu 'Suke," Itachi meremas punggung tangan adiknya lembut.
Melihat sang kakak menjadi sedih karenanya, Sasuke berkata, "Maaf.. sudah membuatmu cemas." Itachi tersenyum simpul menatap wajah adik yang paling ia sayangi.
"Sasuke, aku panggilkan dokter dulu ya. Istirahat saja dulu, sebentar lagi Naruto pasti datang," ia memberikan kecupan di poni Sasuke sebelum melenggang keluar kamar rawat Sasuke.
.
.
.
Onyx Sasuke menatap langit-langit kamar tempat ia dirawat. Pikirannya menerawang, ingatan tentang kejadian dua minggu lalu, menari-nari dalam otaknya. Seakan me-reka ulang semua yang terjadi padanya. Tanpa terlewat secuil bagianpun...
Flash Back...
Kepala Sasuke bergerak-gerak, seluruh pandagangnnya menghitam karena terhalangi selembar kain penutup mata. Tubuhnya bergetar karena hawa dingin yang menguar dari AC ruangan tempatnya berada. Ia berusaha bangun, tapi ia menyadari jika borgol yang terpasang pada kedua pergelangan tangan dan kakinya telah mengunci semua gerakannya.
"Sudah sadar rupanya?" Ia menajamkan pendengarannya, begitu gendang telinganya menangkap suara asing yang terdengar mendesis.
"Siapa kau?" tanya Sasuke angkuh. Tak ada jawaban, hanya ketukan sepatu orang itu saja yang terdengar berdentum pelan di atas lantai.
"Bicara angkuh, dan tak gentar sedikitpun.. kau memang dari Uchiha ya?" lelaki itu, mendekati Sasuke. Jari-jari berkulit seputih mayat itu, bergerak untuk menyapu bibir ranum Sasuke.
"Ennh.." Sasuke menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tidak sudi jika, bibir merah miliknya disentuh oleh jari-jari dingin orang yang sama sekali tidak ia kenal.
"Jangan berani-berani menyentuhku, dasar Brengsek!" sergah Sasuke. Pria berumur setengah abad itu menyeringai, tak percaya jika dalam keadaan seperti itu, Uchiha masih bisa berbicara penuh rasa percaya diri begitu.
"Akh.." Sasuke merintih, rahangnya sakit saat Orochimaru mencengkram kedua sisi pipinya dengan kuat. Membuat wajahnya harus terangkat beberapa inchi ke atas, mendekat dengan wajah Orochimaru. "Kau, memang anaknya.." desis Orochimaru.
"Apha.. mhauhmu?" tanya Sasuke susah payah. Lagi-lagi, Ororchimaru tak menjawab, ia lebih suka menjilat peluh yang membasahi pipi halus Sasuke. Membuat Sasuke geli dan jijik.
"ahhh.. aagghh..." Sasuke mengerang, merasakan tangan Orochimaru yang bebas meremas kesejatiannya. Memijat pelan, kemudian makin cepat membuat kesejatiannya menegang keras. "Ahhh.. ennhhh..." Sasuke menggelepar panik.
"Nikmat sayang?" tanya Orochimaru.
"Henntiikan.. nnhh.. kkhhh..." Sasuke mengerang, tidak tahan merasa nikmat yang menjalari tubuhnya yang mulai memanas. Orochimaru tak peduli, ia terus memompa milik Sasuke, tangannya yang sedaritadi mencengram kedua sisi pipi Sasuke kini sedang meraba dan menekan-nekan nipple Sasuke, "haa... aahh... AAARGHH.." Sasuke menjerit merasakan sesuatu yang besar menembus lubang rectumnya. "Mmhh.. sakkitt.. kkhh.. nngghh.." ia merintih, sesuatu itu makin menembus lubang sempitnya yang sudah mengeluarkan tetes demi tetes cairan merah.
"Tumben merasa kesakitan? Bukankah kau selalu menikmati saat rectummu ditembus oleh milik kekasih-kekasihmu Uchiha Sasuke?" tanya Orochimaru yang makin mendorong masuk sex toys ke dalam tubuh Sasuke, tanpa menghentikan pijatan-pijatan pada kejantanan remaja itu.
"Henntikkann.. kkh.. ennghh.. sakkittt..." mohon Sasuke disela isaknya. Nafasnya makin memburu, kepalanya terasa sakit merasakan semua yang sedang dia alami. Ia menggeliat liar. Penglihatannya mulai berkunang-kunang.
"mmphh.. ennhh.. aaghh..." Sasuke melenguh, ia ejakulasi. Cairan putih miliknya menyemprot deras. "ahh.. aah.. ugh.." belum sempat ia dapat mengatur deru nafasnya. Ia beberapa titik tersensitif di tubuhnya ditusuk oleh sesuatu yang lancip menyerupai jarum suntik.
"Apa.. ahh.. yang kau lakukan?.."
Orochimaru yang sedang mengisi cairan ke dalam jarum suntiknya, menjawab, "Memberimu sedikit 'sentuhan' akhir, Uchiha-kun. Sebagai kenang-kenangan sebelum mengembalikanmu pada kakak dan kekasihmu." Ia menusukkan jarum suntiknya di dada Sasuke, kanan dan kiri secara bergantian. Sasuke tak tahan lagi, merasa 'sesuatu' yang tak dapat ia ungkapkan menjalar ditubuhnya. Cairan yang disuntikkan oleh Orochimaru itu seperti membakarnya. Ia hanya dapat terisak pelan. Berharap Orochimaru berhenti menjadi tubuhnya sebagai eksperimen.
'Naru.. Aniki.. Siapapun, tolong aku..' harapnya sebelum gelap kembali menghampirinya.
._._. X ._._.
Sasuke terbangun, kini bukan warna hitam pekat yang menyambutnya. Melainkan warna putih dari langit-langit kamar. Kedua tangan dan kakinya bebas, karena tidak ada rantai-rantai besi yang membelenggu geraknya. Sasuke memijit pelipisnya, rasa pening di kepalanya mengaburkan penglihatannya
"emmhh... aahh..." ia bangkit dari tidurnya. Ia mengamati tubuhnya sendiri. Polos. Tak ada seutas benangpun yang menempel dalam tubuhnya. Lalu, diedarkan pandangannya untuk mengamati tempatnya berada sekarang. Sebuah kamar yang tak terlalu luas yang kosong melompong tanpa perabotan. Bahkan ia sendiri baru sadar jika tidur di atas lantai keramik.
"Aku... harus keluar..." tekatnya seraya berjalan ke arah pintu. Meski langkahnya tertatih karena nyeri di tubuh bagian bawahnya. Diputarnya kenop pintu. Sekali, dua kali, tiga kali. Pintu itu tetap tak terbuka. Panik. Ia khawatir dan ketakutan. Ia makin mempercepat memutar kenop pintu, walau hasilnya nihil. Saat ia mulai menyerah, ia terdengar suara gemerincing dari balik pintu. Lega dan takut menjadi satu dalam dirinya. Ia mundur beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak.
Ckleek
Kriiiett
Dibalik pintu oak yang berderit itu, menyembul dua sosok pria berbedan kekar. Pria pertama berkulit putih, dengan bentuk tubuh yang lebih gempal dan besar. Pria yang kedua berkulit lebih gelap, rambut hitam yang dikuncir ke atas. Sambil membawa seutas tali tambang keduanya menyeringai dan berjalan menghampiri Sasuke yang bediri dipojok ruangan dengan ketakutan. Sasuke menelan ludah panik. Apalagi kedua lelaki itu makin mendekatinya. Tak ada cela lagi, Sasuke terkepung diantar dinding beton dan dua pria kekar. Belum sempat ia melawan, dengan memberi gertakkan, mulutnya sudah dibekap oleh selembar saputangan yang agak lembab dan berbau aneh. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Sasuke terhuyung ke depan karena lemas.
.
.
.
.
.
"Sasuke..."
"ah?" Sasuke terhentak dari kenangan terburuknya, begitu pemuda berambut kuning menyala menepuk pundaknya.
"Naruto?"
"Syukurlah kau sudah sadar 'Suke.." Naruto memeluk tubuh Sasuke yang memang lebih kecil darinya. Diciuminya leher jenjang Sasuke, meski aroma obat-obatan serta antiseptik menusuk indra penciumannya, Naruto tak peduli. Ia bahagia, Sasukenya sudah membuka mata. Ia senang dapat mendengar suara khasnya. Karena Naruto sangat merindukan Uchiha Sasuke.
"Aku rindu sekali padamu," bocah maniak ramen itu mengecupi punggung tangan Sasuke yang bebas dari selang infus. "Aku sangat khawatir, sampai tidak bisa tidur karena kau menghilang."
"Aku juga rindu padamu, Dobe," dengan lemah Sasuke membalas. "Kau tau, saat aku bersama orang itu, aku sangat berharap jika kau datang menyelamatkanku..." ujar si raven, pandangan matanya nampak sedang menerawang.
"Tapi aku tidak bisa membebaskanmu, aku tidak dapat menyelamatkanmu penjahat itu," dengan penuh sesal, Naruto membalas ucapan kekasihnya."Aku tidak dapat berbuat banyak, aku payah sekali 'Suke.." wajahnya tertunduk, gurat kekecewaan tercetak jelas di wajahnya.
Sasuke menarik jemari Naruto yang sedang menggengam erat tangannya, "Kau sudah menyelamatkanku secara tidak langsung, Dobe. Berkat kata-kata yang pernah kau ucapkan padaku dulu, aku jadi punya semangat untuk melarikan diri dari sana," kini Sasukelah yang sibuk menciumi punggung tangan Naruto. "Kalau tidak teringat padamu, mungkin aku sudah putus asa saat itu juga.." nada bicaranya mulai terdengar tertahan, dan sedikit serak. Memori tentang hari dimana ia hendak melarikan diri dari Orochimaru kembali memenuhi otaknya. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali melupakan itu semua. Tanpa ada satupun yang tersisa dalam ingatannya.
"Aku janji akan lebih menjagamu Sasuke," ikrar Naruto. Sasuke hanya tersenyyum lembut saat itu.
.
.
.
.
.
Dua minggu berlalu, Sasuke sudah kembali ke rumahnya, bersekolah dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Hanya saja...
._._. X ._._.
"Ukh.. ahh.. hooghhh.. ennhh..." Tubuh polos yang diguyur jutaan jarum air dari atas shower itu mengejang saat sarinya menyembur dan keluar hingga mengotori dinding kamar mandinya. Sesaat kemudian, pemuda berkulit putih itu jatuh terduduk, wajahnya memerah dengan nafas yang belum teratur. Matanya terpejam, tubuhnya yang basah tersandar lemas di dinding keramik. Ia baru saja ejakulasi karena ulahnya sendiri. Yah, Uchiha Sasuke. Entah kenapa ia yang sekarang menjadi sering kegerahan saat malam menjelang, seluruh tubuhnya terasa begitu panas, dan beberapa titik tersensitifnya entah mengapa terasa geli seperti digelitik. Jika ia sudah tak tahan dengan rasa gerahnya, maka tak jarang ia akan membasuh sekujur tubuhnya yang lengket oleh keringat dengan mandi, meski saat tengah malam, tepat seperti malam ini. Tapi, malam ini Sasuke merasa gairah bercintanya lebih liar dari yang biasanya, tapi karena para pasangannya sedang sibuk bergelung dengan pasangan mereka yang lain, dengan terpaksa Sasuke harus 'melakukan'nya sendiri. Mulai membayangkan saat-saat ia 'bercinta' dengan Naruto hingga membuatnya ereksi, lalu mulai memijat dan memompa kesejatian, sampai tiba saat miliknya yang tergolong imut itu menyemprotkan cairannya.
"haahh... haahhh..." Sasuke berusaha bangkit, ia yakin jika sedikit lebih lamaberada dalam guyuran air shower, dapat membuatnya jatuh sakit. Tpsi bsru sebentar ia dapat berdiri tegap, entah kenapa kedua lututnya yang terasa lemas membuat badannya yang basah menjadi limbung. Hampir jatuh jika seandainya tidak ada sepasang lengan besar bewarna kontras dengan kulitnya yang putih menopang tubuhnya.
"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Dengan sudut matanya, Sauke melirik ke arah pemilik suara serak yang sedang mendekap pinggulnya.
"Naruto, kenapa kau ada disini?" bukannya menjawab pertanyaan pemuda berambut kuning itu, Sasuke malah balik bertanya. "Seharusnya kau bersama kakak 'kan?"
Naruto yang sibuk menahan seluruh berat badan Sasuke dengan tubuhnya di bawah tetesan air, menjawab, "Aku langsung kesini begitu selesai 'bermain' dengan kakakmu," iris birunya tengah mengamati wajah kelelahan Sang Uke, yang sedang menyandar kepalanya di pundak. Sempat menelan ludah saat bola matanya melihat bibir merah Sasuke, serta semburat pink yang tercetak jelas di wajah tampannya.
"Kau itu, sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah berejakulasi tanpa aku atau yang lain, apalagi melakukannya di kamar mandi saat tengah malam! Coba bayangkan kalau kau yang sedang lemas jatuh terpeleset, bisa bahayakan?" omel Naruto pada Sasuke yang masih memejamkan mata.
"Aku tidak mau menganggu kalian, lagipula, sekarang aku hanya ingin melakukan 'itu' denganmu Naru.. aku tidak mau dengan yang lain," desah Sasuke manja. Tersenyum, Naruto merasa senang mendengar pernyataan Ukenya yang luar biasa itu. "Lebih baik, kita mengeringkan diri sebelum ada yang sakit," ujar Naruto, mengingat sekujur tubuhnya yang sudah basah kuyup. Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke, Naruto segera memapah tubuh kekasihnya keluar dari dalam kamar mandi.
Usai saling mengeringkan diri, keduanya segera menghempaskan tubuh masing-masing di atas tempat tidur Sasuke yang luas. Dengan tetap tak memakai sehelai benangpun yang melindungi tubuh sempurna keduanya.
._._. X ._._.
"Ukh... mmnnhh.." Naruto mengerang dan mendesah tertahan. Ia yang sedang berendam di dalam bath tub berair hangat yang sudah di campur busa, sedang menengadah, dengan punggungnya yang ditopang oleh pinggiran bath tub. Wajahnya merona merasakan sensasi luar biasa saat lidah cekatan kekasihnya menjamah titik tersensitif di lehernya. Yah, saat ini Sasuke sedang menungging di antara dua paha Naruto, sibuk menghisap, menggigit lalu menjilati leher jenjang sang Seme. Seperti kucing yang disuguhi seekor ikan segar, Sasuke terus menandai leher Naruto dengan penuh nafsu.
"ennhh.. nikkmaattt.. 'Sukkehh.." desah Naruto saat Sasuke mengulum cuping telinganya.
"mmnnhh... nnhhhmm..." gumam sang Uke sambil memejamkan mata. Menghisap daun telinga Naruto, bagi Sasuke sama seperti mengulum 'sesuatu' yang menjadi kebanggaan Naruto.
"Ughh... enhh?" Sasuke menautkan alisnya kebingungan. Tiba-tiba saja, Naruto mendorong wajahnya hingga menjauh dari tubuh Naruto.
"Sudah cukup kau membuatku mabuk Sasuke!" ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Sasuke yang sedang merengut sebal.
"Tapi aku masih ingin memanjamu!" rengek Sasuke. Si pirang tersenyum tipis, lalu dengan lembut ia menarik pundak Sasuke hingga jatuh dalam pelukannya. Di dalam hangatnya air yang dipenuhi oleh busa-busa wangi, ia mendekap erat tubuh Sasuke. Ia menurunkan wajahnya sedikit, dan membenamkannya di ceruk leher Sasuke hanya untuk mengirup aroma kekasihnya yang harum.
"Ugh..." Sasuke melenguh saat tanpa aba-aba, jari telunjuk Naruto melesak masuk menembus liang sempitnya. "Ahh... ennhh..." jari kedua dan ketiga turut masuk, lalu berputar-putar, berniat sedikit membuat lubang itu menjadi lebih longgar.
"sshh.. akhh..." Sasuke mencengkram lengan Naruto, nikmat sekali saat jari-jari Naruto terus bergerak, sensasi hangat dari air yang terhisap masuk dalam lubangnya, makin membuat Sasuke melenguh dan menggeliat-geliat resah.
Ntah kenapa, tiba-tiba Naruto mendapat ide konyol yakni memasukkan gagang sikat gigi ke dalam lubang Sasuke, tidak hanya satu tapi lima sekaligus.
"Ohh... kkhhh... ahhh..." Sasuke mengerang, sakit saat benda itu menghujam titik terdalamnya. Terus bergerak maju mundur dengan mulus. "Ohh.. Ohhgggh.. akkh.." Sasuke terhentak, saat tiba-tiba Naruto menyodokkan benda itu terlalu dalam tepat ke dinding ke dinding kenikmatannya, membuat pandangannya memutih dan berkunang-kunang seketika.
"hhggnnn... ukh.. Ruttoohh..." Sasuke mengejang hebat, miliknya yang sedari tegang akhirnya mengeluarkan sarinya yang putih kental.
"ennhh..." hampir saja tubuh Sasuke merosot jatuh ke dalam air jika Naruto tidak menahannya.
"Bagaimana, aku hebatkan?" ujar Naruto. Tak ada jawaban berarti dari Sasuke, namun...
PLAK
"Ou..."
"Brengsek, kau mau membuat lubangku jebol, hah?" bentak Sasuke tiba-tiba. Naruto menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi,
"Sasuke, kau kenapa?" Tak ada jawaban karena Sasukenya keburu bangun dari bath tub dan meninggalkannya.
'Ada apa dengan Sasuke?' pikir Naruto keheranan.
._._. TBC ._._.
Tebak, apa yang terjadi ama Sasuke? Hum, oke-oke, mohon untuk review ya, not flame ok..
