Hallo! Saya update lhoo. Makasih boanyaak dua orang yang mau ngeriview fic ini apalagi Trancy kita ketemu lagi :D haha. Mako-chan juga makasih banget dehh! Saya nggak tahu tanggapan kalian gimana. Jadi tolong review yak! Oh ya nama gurunya Gray itu sebenernya siapa sih? Ur apa Ul? -'. Yang tahu dan berbaik hati tolong kasih tahu ya, makasihh :)
Enjoy~
Lucy menyumpah lagi, kalau di hitung mungkin sudah ke 20 kalinya ia mengumpat. Tapi memang harus di lampiaskan, ini hari ke-5 hukumannya. 4 hari lalu dia sudah mengelap setengah dari semua buku yang ada di perpustakaan, membantu menyapu seperempat halaman belakang, dan membantu mencuci semua seprei bau dari asrama laki-laki. Tapi sepertinya nenek sihir itu tak puas sampai dengan seprei anak laki-laki (Lucy harus membersihkan semua 'noda' disana, ehm–termasuk jika mereka mimpi basah) nenek itu tetap menuntut untuk membersihkan kolam renang yang luasnya setengah dari lapangan rugby sebagai hukuman ke lima.
Brengsek.
"Wah, kau kasar juga!"
Lucy menoleh, melihat Natsu melambai padanya di tepi kolam. Dengan hati-hati, dia melangkah agar tak terpeleset oleh air kolam yang berceceran. Lucy sengaja bertelanjang kaki untuk lebih mudah membersihkan kolam yang sebenarnya tidak kotor ini.
"Aku akan membantumu!" seru Natsu bersemangat sekali, dia mulai menggulung lengan kemejanya.
Lucy tersenyum, dia hanya memandang Natsu yang mulai mengambil tongkat panjang dengan jaring pada ujungnya untuk memebersihkan daun-daun kering yang berguguran memenuhi permukaan kolam. Lucy mendongak merasa bahwa langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Sudah berapa lama dia disini? 1 jam? 2 jam? Tak masalah, sebenarnya. Toh dia rela membersihkan kolam ini sampai dini hari daripada mengurusi acara prom night.
Mendadak Lucy merasa wajahnya menjadi basah, dan seperti yang sudah di duganya, Natsu menyiprat-nyipratkan air kolam ke arahnya.
"Kapan sih kau dewasa?" sindir Lucy sambil berdecak pinggang. Natsu tampak tak mempedulikan perkataan Lucy dan terus saja bermain air. Lucy tersenyum, apapun yang dilakukannya dengan Natsu, pasti akan berakhir dengan kesenangan. Jadi Lucy memutuskan untuk mengambil ember penuh air di sebelahnya dan mengguyurkannya secara perlahan ke atas kepala Natsu.
"Hei!" seru Natsu marah. Tapi semua emosi yang mereka rasakan akan selalu berakhir pada rasa senang. Rasa sayang. Atau lebih tepat di sebut rasa saling ingin bersama.
Mereka menghabiskan setengah jam untuk bermain air seperti anak SD, Lucy tak bisa berhenti tertawa. Natsu Dragneel adalah orang terpolos yang pernah di temuinya. Maksudnya, dia benar-benar ekspresif. Tanpa ampun. Dia tidak pernah malu akan dirinya sendiri, dia memiliki kepercayaan diri selangit, selalu menunjukkan emosinya tanpa ba-bi-bu. Tapi itulah yang Lucy sukai dari Natsu, dia lelaki yang jujur. Mungkin benar kata orang-orang, bahwa orang Asia lebih cenderung bersikap seadanya.
Sejak Lucy pertama kali masuk SMA ini, dia agak minder karena status penyihir berdarah pengkhianat-nya. Tapi orang berambut pink ini mengajarinya sesuatu yang lain, sesuatu yang berbeda daripada menjadi seorang yang tak bisa menjadi dirinya sendiri. Yang jelas, dialah orang pertama yang menerima Lucy. Menerimanya sebagai teman seadanya.
Byuuur!
"Aaah!" seru Lucy kaget setengah mati ketika mendapati dirinya sudah basah kuyup. Lucy mengelap air kolam dari wajahnya, dia merengut melihat Natsu yang terkekeh jail dengan tangan masih terulur. Menjadikannya bukti kongkrit bahwa dialah yang baru saja mendorongnya ke kolam.
Lucy menembakkan air pada wajah Natsu, Natsu tertawa terbahak-bahak. Lucy tertawa pelan, dia mendengus kecil melihat tingkah laku Natsu.
Natsu menjulurkan tangannya, menawarkan bantuan.
Lucy memandang wajah Natsu, selalu nyengir. Dari dulu sampai sekarang, dia selalu nyengir. Ya… dari dulu, pikiran Lucy berpacu. Dia sudah memikirkan ini beratus kali, bahwa ini mungkin akan menjadi hal yang tak berani di pikirkannya.
"Kau mau menolongku lagi?" tanya Lucy sambil tersenyum tipis, sekaligus mencoba menjaga keseimbangan kakinya dalam air.
Natsu mengerutkan dahinya, "Apa?" balas Natsu tampak heran. Mereka terdiam sejenak, Lucy memandanganya secara intens. Dia hanya ingin memastikan, sebuah perasaan yang absurd yang kini mulai merambati setiap sel darahnya.
"Well, itu aneh," kata Natsu pada akhirnya. Menarik kembali tangannya yang terjulur, namun tetap menggantungkan lenganya di atas air. Lucy memberinya tak-ada-yang-aneh. Natsu mendengus, "Kenapa kau bertanya hal yang sudah pasti akan ku lakukan?"
Lucy merasa ada sesuatu dalam dadanya yang bergejolak ketika mendengar pernyataan tak penting ini. Dia memandang Natsu dengan mata yang lebar, sedangkan Natsu, masih seperti biasa. Dia nyengir. Original sekali.
"Kau benar," ucap Lucy lirih sambil menggerakkan kakinya untuk lebih mendekat pada Natsu yang berjongkok di tepi kolam. Natsu terus memandangnya, ya ampun. Ini adalah hal yang canggung, sangat bukan gaya mereka berdua.
"Tapi…" kata Lucy pelan, "Sampai kapan?" sambungnya, dia menatap mata Natsu yang sedikit membesar mendengar pertanyaannya. Lucy sendiri heran mengapa dia melontarkan pertanyaan yang sebenarnya bahkan tak ingin dia pikirkan. Tapi Lucy merasa dia harus memberanikan diri untuk bertanya, dia sadar, waktu mengubahnya. Mereka sudah kelas dua, dan kurang dari 3 bulan lagi mereka sudah mencapai tahun terakhir mereka di SMA ini. Jadi, seperti orang awam lainnya berpikir, Lucy berpikir, bahwa persahabatannya juga akan berubah. Kehidupannya akan berubah. Karena kedepannya, dia tahu, akan sangat sulit untuk bersama Natsu. Maka Lucy mengambil kesimpulan, dia harus mengambil antisipasi.
Natsu menggerakkan bola matanya ke arah lain terus menerus, Lucy hafal, bahwa laki-laki di depannya sedang berpikir. Hal yang jarang dilakukan seorang Natsu. Tapi setelah beberapa lama mereka tenggelam dalam keheningan, Lucy merasa menyesal telah mengatakan pertanyaan bodoh itu. Menyesaaal sekali, dia bahkan tidak tahu apakah yang dikatakannya ini antisipasi atau malah pernyataan perang.
Lucy memajmkan matanya rapat-rapat, berharap mendadak Natsu ikut menguap bersama angin kencang yang baru saja berhembus. Lama sekali dia menutup mata, tapi dia tidak peduli. Dia terlalu malu untuk membuka matanya.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya, Lucy membuka matanya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika yang menepuk bahunya bukanlah Natsu Dragneel.
Lucy mengerutkan dahinya, "Apa yang kau lakukan di sini?"
Gray menyeringai, "Apa yang kau lakukan di sini, honey?" balasnya.
Lucy memutar bola matanya. Yang benar saja. Lucy mencoba mengintip ke belakang bahu Gray, bayangan Natsu masih tersisa pada jalanan. Dan dengan jelas mereka bisa mendengar orang itu tertawa dan menggumamkan seperti 'Bye, Lucy~ *emotcium. Lucy yakin Natsu baru saja mengerjainya. Ha-ha. Sangat tidak lucu, namun sangat berguna pada situasi yang barusan mereka alami.
Lucy mengembalikan fokusnya pada Gray yang mengangkat bahu menanti jawaban. Lucy mengerucutkan bibirnya.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Lucy.
"Sejak kapan kau berendam dalam kolam seperti itu?"
"Berhentilah menirukanku, Gray," ujar Lucy jengah.
Gray terkekeh, Lucy memandangnya penuh ketidak percayaan.
"Kenapa kau memandangku seperti habis kuputuskan?" tanya Gray, dan dia dengan percaya dirinya memajukan wajahnya hingga tepat di hadapan Lucy.
Lucy mencoba mempertahankan kemarahan yang sebenarnya sudah mereda sejak beberapa hari yang lalu. Lucy mendengus meremehkan, "Tetap seperti biasa, Gray? Putus-nyambung adalah aktivitas regulermu," sindirnya dengan notasi tinggi.
Gray menaruh dagunya pada kedua lengannya, "Kau tahu aku tidak sepenuhnya seperti itu," ucap Gray pelan. Lucy memandangnya sok bingung, "Aaah~ benarkah? Tidak sepenuhnya? Jika tidak sepenuhnya saja sampai kau melupakan ujian sejarah kita, bagaimana nanti kalau sudah sepenuhnya?" tanya Lucy sambil menelungkupkan kedua telapak tanganya di depan dada. Menambah efek dramatis.
Gray menyipitkan matanya, "Jangan membuatku emosi, Luce."
Apa-apaan–––– apa dia bercanda? Siapa yang salah di sini? Lupakah dia? Lupakah Gray bahwa dialah yang selalu bermain?
"Seharusnya itu kata-kataku," kata Lucy penuh sarkasme.
"Tidak. Tidak. Kau dan aku…" Gray menjetikkan telunjukan ke arah Lucy dan dirinya sendiri bergantian, "Harus bicara,"
"Tidak, terimakasih."
Lucy mencoba naik dari dalam air, tangannya sudah siap mendorong untuk keluar kalau saja Gray tidak memegang pergelangan tangannya. Lucy berusaha melepaskan tangannya, tapi Gray sama sekali tak bergeming.
"Oh, please," runtuk Lucy agak marah.
Karena Gray sama sekali tak melepaskan pergelangannya sesentipun, Lucy mendapat ide lain. Dia menarik tangannya kencang, dan byuur! Gray ikut terjatuh di kolam renang. Gray megap-megap karena tidak siap. Lucy nyaris tertawa keras jika dia tidak ingat kalau sedang menjaga harga dirinya. Dia mengatupkan rapat-rapat mulutnya.
Gray mengelap wajahnya sendiri yang basah oleh air, "Pintar sekali. Kau punya bakat untuk menarik setiap orang ke dalam masalah," kata Gray ketus.
Lucy tergelak, dia tidak bisa menahan tawa ketika melihat seorang yang angkuh seperti Gray tercebur dengan bodohnya seperti ini. Lucy tertawa, mendadak kemarahannya kali ini menguap tersapu begitu saja oleh angin yang berhembus kencang untuk kedua kalinya. Dia masih terkekeh, ketika Gray menatapnya secara konsisten. Seakan Gray sudah merencanakan semua ini, dia memang berharap kalau Lucy akan tertawa.
"Apa kau senang? Apa itu cukup untuk membayar kesalahanku?" tanya Gray.
Lucy meredam kekehannya, dia berdehem pelan. "Kalau kau bisa membuat Porlyusica yang kecebur bodoh seperti tadi, aku akan memaafkanmu," jawab Lucy setengah bercanda.
"Ck!" gerutu Gray, dia tampak berusaha berpikir. "Apa yang harus kulakukan? Kau itu menakutkan, kau tidak sama dengan cewek-cewek lain," kata Gray kedengaran pasrah.
"Kau sadar itu? Aku memang kebal terhadap semua omonganmu–ah! Kenapa tidak kau coba? Kau belum pernah melakukannya padaku," sahut Lucy dengan kepercayaan diri yang tinggi. Lucy menyeringai menantang, dia tidak pernah kalah ataupun terpedaya dari Gray Fullbuster. Baginya, Gray hanyalah seorang Playboy yang kebetulan penyihir dan terjebak di kelompok yang sama dengannya. Dia hanyalah seorang teman yang labil. Dari dulu begitu, sama halnya dengan Natsu.
Gray menyipitkan matanya, dia membuka mulut. "Aku memang belum pernah mencobanya, kau tahu apa alasannya?" tanya Gray lirih, kentara jelas dia sedang dalam pergulatan batin yang membuat kebingungan. Perlahan, dia bergerak mendekati Lucy. Gelombang air kecil bisa di rasakan Lucy ketika Gray semakin mendekat. Lucy menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mempertahankan tanggung jawab atas perkataannya sendiri.
"Kenapa?" tanya Lucy, masih berusaha kedengaran menantang. Karena dia tahu, dia merasakan, Gray bergerak hingga berhenti tepat di hadapannya.
"Karena…" Gray mengulurkan tangannya, Lucy memandangnya penuh antisipasi. Tapi kemudian Gray menggunakan tangannya sendiri untuk membuka kemejanya yang sudah basah. Satu persatu kancing kemeja Gray dia lepas tanpa ada rasa canggung. Ya ampun, dia benar-benar mirip maniak.
Gray melempar sembarangan kemejanya, kini dada bidangnya terpampang jelas tepat beberapa senti dari pandangan Lucy. Mark Fairy Tailnya tercetak jelas pada salah satu abs-nya yang terbentuk sempurna. Lucy mengerutkan alisnya, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya Gray coba lakukan.
"Karena?" tanya Lucy, entah mengapa terkesan buru-buru.
Gray menyeringai, "Karena kau Lucy Heartfillia."
Hah? Oh, oke Lucy tahu itu. Hah?
Gray tersenyum melihat ekspresi Lucy. Lucy semakin bingung, Gray tidak pernah tersenyum seperti itu padanya. Biasanya dia menertawakan Lucy, tapi kenapa dia sekarang tersenyum? Jika ada seorang laki-laki setengah telanjang yang tersenyum di depanmu, apa yang harus kau lakukan? Apa yang harus di pikirkan?
"Maksudmu––––" Lucy terbelalak ketika Gray bergerak gesit, dia bahkan tak sempat berkedip maupun bergerak mundur. Lucy merasa pinggangnya ditarik mendekat, sangat dekat, ya ampun.
Gray menunduk untuk bisa berbisik di telinga Lucy, "Karena kau Lucy Heartfillia. Karena kau adalah Lucy, maka aku tak pernah mencobanya denganmu. Kau… begitu tak mungkin. Jadi jangan tanya atau menantangku," Gray menarik kepalanya kembali untuk menatap Lucy.
Mereka membuat kontak mata yang cukup lama, berusaha menyusuri masing-masing jalan pikiran absurd yang mulai menjalari otak kosong mereka. Lucy nyaris tak berkedip. Dia tidak bisa berkedip dalam keadaan seperti ini. "K-kenapa aku begitu tak mungkin?". Brengsek, jangan gagap. Lucy sendiri bingung menagapa dari sekian banyak pilihan kata mengihindar, dia malah menayakan hal yang manarik.
Gray menatapnya sebentar, kemudian dia memajukan wajahnya. "Terlalu banyak alasan untuk itu, kau tahu maksudku," bisik Gray. Lucy mencoba menekan dada Gray yang semakin bergerak maju.
"Hentikan," ujar Lucy, dia merasa ini berlebihan. Kedekatan ini, sungguh membuatnya merasa aneh. Ini benar-benar aneh, oke. Gray tidak pernah memperlakukannya seperti ini, sama sekali belum pernah. Jadi ini adalah hal baru, jangan salahkan Lucy ketika dia adalah yang kelihatan bego di sini.
"Bukankah kau yang bilang menginginkannya? Jangan plin-plan."
Bibir Gray bergerak pada telinganya, Lucy semakin menduduk. "Hentikan," kata Lucy sebisanya.
Tapi Gray seakan tak mau mendengar perkataannya, dia terus bermain. "Kau bilang kau kebal? Aku bahkan belum menggunakan seluruh kemampuanku," katanya seraya menelusuri leher Lucy yang basah.
"Oh ya? Sangat berpotensial," jawab Lucy tanpa dia menyesal telah mengatakannya.
Gray menyeringai, "Sudah kubilang jangan menantangku, miss."
Seakan tersengat aliran listrik, Lucy melebarkan matanya ketika dia merasa kulit punggungnya di sentuh. Dia tak ingat kapan Gray mulai menyusupkan tanganya ke dalam blus Lucy. Lucy menahan lengan Gray yang mulai bergerak pada punggungnya. Gray menatapnya. Mereka saling bertatap, jujur, Lucy tak tahu harus berkata apa. Dia terlalu kaget, sangat takjub malah. Dia tidak pernah mengira sekalipun, Gray berani melakukan ini. Maksud Lucy, hei! Dia dalah Gray Fullbuster. Dia… dia tidak pernah mempermainkan Lucy seperti ini. Dia tidak pernah, atau sebenarnya tidak berani? Bagai baru saja mendapat bolam lampu di atas kepala, Lucy merasa ini ada kaitannya dengan 'Kau begitu tak mungkin' yang Gray katakan tadi. Tapi kenapa tak mungkin? 'Terlalu banyak alasan untuk itu'. Oh yeah. Jika dipikirkan dengan mantab, memang terlalu banyak alasan. Salah satunya adalah, mungkin karena mereka teman.
Lucy kembali tersadar ketika kulit wajahnya terasa hangat. Napas Gray, dia begitu dekat. Lucy tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Gray semakin mendekatkan wajahnya, napasnya mereka memburu. Lebih parahnya, Lucy bahkan tidak berusaha untuk mundur. Dia hanya… ikut terhanyut. Atau sebenarnya dia hanya terkena efek sinar matahari yang kini mulai tenggelam. Lucy rasa tidak.
Gray memegang pipinya, dan mereka akan melakukan hal yang sangat tidak mungkin kalau saja–––
"Apa aku mengganggu?"
Lucy bergerak mundur, refleks. Tapi lengan Gray tidak mengijinkannya, malah menariknya semakin dekat. Mereka berdua menoleh, di pinggir kolam. Seorang pria berdiri tegap, Lucy menyipitkan matanya karena orang itu hanya terkesan seperti sebuah siluet oleh sinar mentari menyorotnya dari belakang, dia merasa tidak pernah melihat orang itu.
"Siapa–––oh," kata Gray setelah orang itu melangkah maju. "Hola hermano!" seru Gray ketus memamerkan sedikit kepiwaian bahasa Spanyol yang tak sengaja di dengarnya ketika di toilet seminggu lalu.
Lucy mengingat orang ini, dia anak baru itu. "Jellal Fernandes?" tanya Lucy memastikan.
Jellal tersenyum, "Seperti kataku, apa aku menginterupsi kegiatan kalian?"
Lucy tersentak, dan langsung membebaskan dirinya dari Gray yang ternyata sama-sama kaget atas apa yang dilakukannya. Hah!? Apa itu? Dia kaget sendiri? Jadi apa maksudnya tadi?
"Tidak, tidak, tidak. Terimakasih atas interupsimu barusan, sungguh sangat membantu," ujar Lucy sambil berenang pelan ke tepi kolam, Jellal mengulurkan tangannya menawarkan bantuan. Lucy menerimanya dan segera keluar dari kolan renang dengan keadaan basah dari atas sampai bawah. Dia merasa begitu keluar dari air kulitnya mendadak beku. Dingin sekali, mengingat ternyata matahari sudah tenggelam.
"Hei brengsek, lihat apa kau?" tanya Gray tiba-tiba. Lucy menoleh dan Gray sedang berusaha naik dari air dengan tajam yang diarahkan pada Jellal. Lucy mengikuti pandangan Gray, dan sekejap dia tahu bahwa Jellal tengah memandang tubuh Lucy tadi. Reaksinya lambat, bahkan Gray bereaksi lebih cepat dengan berdiri tepat di hadapan Jellal, berusaha menutupi tubuh Lucy.
Jellal tersenyum, kemudian dia melepaskan jaket hitam yang tadi di pakainya. Kemudian setelah menyenggol Gray supaya menggir, dia menutupi seragam Lucy yang menerawang dengan jaketnya. Lucy menatapnya bingung, well, dia ternyata baik sama seperti tampangnya yang tampan.
"Thanks," ucap Lucy sembari tersenyum singkat.
Jellal membalas senyumannya, kemudian dia berpaling pada Gray "Bisa aku bicara empat mata dengannya?" tanya Jellal sambil menunjuk Lucy dan dirinya sendiri.
Gray membuka mulut untuk berbicara, tapi kemudian dia kelihatan berpikir keras. Dia melirik Lucy sekilas, "Well, itu hakmu."
Lucy agak terkejut karena biasanya Gray itu semacam tipe aku-juga-harus-tahu seperti teman-temannya yang lain, melihatnya begini jadi agak membingungkan. Hanya sekedar membingungkan atau ada perasaan lain? Hah, memangnya apa yang Lucy harapkan.
Gray berjalan pergi begitu saja, tanpa menoleh lagi pada Lucy. Brengsek. Lucy tahu ini akan terjadi, dia hanya mempermainkannya.
"Lucy?" panggil Jellal sambil menepuk bahunya.
"Ah, ya?"
Tiba-tiba lampu-lampu tinggi di sekitar kolam menyala terang. Hari sudah malam, sayup-sayup terdengar bunyi suara burung hantu yang rutin terdengar di sekolah ini. Angin berhembus semakin kencang, menyiksa kulit Lucy yang semakin terasa membeku.
Sepertinya Jellal menyadari tubuh Lucy menggigil, dia tersenyum. Lagi. "Aku tidak akan lama kalau begitu, hanya… aku harap kau bisa datang ke menara tertinggi saat malam prom night," ujarnya terdengar memohon.
"Memangnya mau apa?"
"Aku butuh penyihir bintang sepertimu saat itu tiba, kau tahu. Singkatnya, sebenarnya aku ingin mengumpulkan para penyihir bintang di sekolah ini dan merencanakan sesuatu yang hebat," katanya.
Lucy mengangkat alis sebagai isyarat bertanya, bibirnya mulai bergetar karena kedinginan. Kalau saja Jellal tak setampan ini, dia tidak mau mengorbankan tubuhnya yang kedinginan basah kuyup seperti ini hanya untuk mendengarkan permintaan bodohnya.
"Hmm, lihat. Aku dengar sekolah ini adalah sekolah yang tingkat diskriminasinya paling tinggi bagi para penyihir oleh manusia biasa di Inggris. Aku dari Spanyol dan keadaan di sana tak separah di sini, jadi, aku berpikir untuk menggunakan kalian untuk membuat pertunjukkan sihir––jangan tertawa. Soalnya, sihir bintang adalah sihir yang paling indah menurutku. Apakah kau pernah berpikir sekalipun tentang hal ini? Maksudku para manusia hanya menyimpan satu perasaan dari 1000 tahun lalu yaitu luka. Mereka terluka karena kalah, jadi mereka menyimpan dendam. Dan dendam terkadang membawa ketakutan. Mereka takut pada kita karena kita pernah menang dari mereka tapi kita malah mendapat perlakuan rasial dari mereka…"
"Tunggu," potong Lucy cepat. "Aku tak tahu arah tujuan pembicaraan ini," sambung Lucy dengan dahi berkerut. Benar baru kali ini ada penyihir muda 18 tahun yang mengurusi sejarah, dan Lucy bisa melihat kata-katanya barusan menyimpan sebuah nada ambisi.
Jellal tampak terbengong, kemudian dia mengambil napas panjang dan tersenyum. "Pada intinya, aku ingin menunjukkan kalau sihir tak seburuk itu."
Mata Lucy menyipit menatap Jellal, tapi dia juga tak menutupi senyumnya baru saja mengembang. Kejadian ini, kata-kata Jellal berusan mengingatkannya pada awal dia masuk SMA. Berkata pada Natsu dan Erza bahwa dia ingin menunjukkan bahwa penyihir bukanlah suatu penyakit menjijikkan. Lucy mengatakan hal yang sama persis seperti yang Jellal katakan tadi dan dia dijadiakan bahan lelucon selama seminggu penuh.
"Kenapa?" tanya Jellal masih dengan tersenyum.
"Haha, aku seperti sedang melihat diriku sendiri saat ini. Mm, hampir 2 tahun yang lalu aku juga pernah berkata seperti itu."
"Apa itu artinya kau setuju?" tanya Jellal berusaha menutupi nada gairahnya.
Lucy memandangnya dari atas sampai bawah, menilai. Dia kelihatan baik, dia rapi, dia kekar. Sungguh cowok idaman.
Lucy tersenyum agak licik, "Okee. Kalau ini berhasil karena aku sudah membantumu, aku ingin dapat imbalan."
"As your wish, babe."
"Jadian lagi dengan Erza. Aku tahu kau mantannya waktu kecil."
Priiiit!
Duuug!
Gray mengerang ketika bahunya diterjang keras-keras. Mereka sedang latihan rugby untuk turnamen musim gugur sekaligus memeriahkan kelulusan kakak kelas. Dia berusaha bertahan mendorong bahu Laxus yang bertampang garang. "Oh man! Ini cuma latihan!" seru Gray keras-keras berusaha agar tim Laxus mendengarnya. Laxus hanya menyeringai, ya ampun. Jangan pernah membuat Gray emosi, dia mendorong lebih keras agar orang besar itu terdorong kembali.
"Shit! Kau ini sebenarnya ngapain sih, Natsu!?" teriak Gray keras sekali. Berharap Natsu mendengarnya walaupun orang itu sedang berusaha berlari sambil membawa bola menuju garis gawang.
Gray mendelik ketika kakinya terasa seperti barusaja ditusuk paku raksasa.
"Kau menginjak kakiku, brengsek!" raung Gray murka merasa jari-jari kakinya bisa patah kapan saja. Laxus memang sepertinya tidak sadar kalau kaki gajahnya menginjak kaki Gray, dia cuma nyengir tanda minta maaf. Gray melirik ke kanan dan kirinya, hanya tinggal dia dan Laxus yang masih berkutat dengan peraduan fisik ini. Dia berusaha sekeras dia bisa, dan akhirnya Gray berhasil mendorong bahu Laxus menjauh kemudian dia segera berlari untuk bergabung dengan rekan satu tim-nya yang berusaha membantu Natsu membawa bola ke garis gawang lawan.
Natsu kena tekel dan dia terjatuh keras, walau orang itu masih sanggup menahan bobot tubuhnya dengan kedua lutut. Tapi bola terlepas dan untung saja Gajeel berhasil membawanya, dia dihadang banyak orang. Gray bersiul, lalu Gajeel mengoperinya bola elips tersebut. Gray berlari secepat angin, bahkan lebih cepat. Tak ada hal yang lebih baik di lakukannya selain berlari. Dia nyaris mencapai garis gawang ketika tubuh besar Laxus membentang seperti tembok di hadapannya. Shit! Gray segera melempar bola pada Elfman dan seketika itu Laxus beralih darinya. Gray baru saja akan berlari ketika…
Duoogg!
Gray nyaris berguling jatuh kalau saja dia tak berpegangan pada bahu yang barusaja menghantamnya luar biasa keras. Dia menunduk kesakitan saat masih dirasanya jari-jari kaki kirinya berdenyut cepat. Dia mengangkat alis, "Apa kau buta!? Aku tidak membawa bola!" seru Gray murka saat dia sadar siapa yang menubruknya.
Lyon menyeringai menakutkan, "Yeah, tapi kau membawa lari cewekku!" balasnya garang. Lyon berusaha menjatuhkannya, tanpa sengaja dia menginjak kaki Gray yang masih serasa dilindas traktor.
"Fuuuuuck!" Sakit. Sekali.
Duuuk!
Selanjutnya adalah rasa pening dan sakit menjalari tubuhnya, ketika antara kepalan tangan saling beradu. Dia sudah tak peduli lagi dengan latihan rugby ini. Yang jelas adalah Gray ingin melampiaskan segala sakit yang diterimanya pada jari kaki yang rasanya sekarang berubah menjadi seperti digiling pada penggilingan daging. Sakiit sekali. Dan Lyon harus merasakan itu. Jadi mereka saling tonjok hingga mata hampir berkunang-kunang dan merasa dikelilingi bintang-bintang di sekitar kepalamu.
Gray meludahkan sedikit darah amis yang keluar dai sudut bibirnya. Dia melihat pipi Lyon memar berdarah. Itu tidak cukup. Gray menggelengkan kepalanya mengembalikan kesadaran dan kekuatannya sebelum maju lagi untuk menghabisi orang gila itu kalau saja bahunya tak ditarik mundur oleh seseorang.
Seseorang meniupkan peluit sebagai tanda permainan harus di hentikan.
"Ada apa sih!?" seru Natsu sambil mengguncangkan bahunya.
Gray berusaha melepaskan diri dari Natsu, dia memandang Lyon sesinis mungkin. "Tanya orang sinting itu!" serunya sambil menunjuk Lyon yang sama-sama masih belum merasa puas.
"Benarkah? Boleh kukatakan!?" sahut Lyon dengan seringai yang menyebalkan.
"Apa maksudmu–––"
"Kau sudah bercinta dengan cewekku dua kali dalam seminggu kemarin, sialan!"
Gray terperangah. Mendadak atmosfir pada lapangan rumput ini menjadi tak enak. Angin yang tadinya hanya berhembus kencang setiap sepuluh detik, kini malah membawa titik-titik air sebagai kawannya. Hujan mulai turun membasahi mereka. Sebagian anak-anak yang tak ingin tahu, cuek meninggalkan lapangan yang mulai basah tergenang air. Keringat yang tadinya lengket kini mulai bercampur dengan air hujan yang mengalir membasahi wajah Gray.
"Bajingan," ucap Gray.
"Berkacalah, Fullbuster. Dari dulu kau hanya bisa bermian-main, bahkan dengan milik orang lain."
"Tutup mulutmu."
"Bahkan Ur tidak pernah suka sifatmu yang seperti itu–––"
Duug! Dug! dug!
"Hentikan, Gray!" samar-samar Gray bisa mendengar Natsu meneriakinya di sela-sela suara benturan antara tulang dengan tulang itu. Gray memukul Lyon berulang kali hingga dia mungkin berhasil mematahkan hidung orang itu kalau Lyon tak segera bangkit dan melakukan serangan balasan. Bibir Gray yang tadinya hanya lecet kini jadi sobek. Campuran antara rasa perih beradaptasi dengan air hujan membuat luka itu nyeri berkali-kali lipat.
"Jangan mendekati Juvia lagi, asshole," peringat Lyon sembari tetap memukuli Gray.
"Oh, benar-benar susah. Kau tahu, maksudku dia terlalu hot untuk tak di dekati," balas Gray dengan seringai yang aneh karena bibirnya sobek.
"Brengsek!" seru Lyon murka, "Kau tidak pernah dewasa. Kau selalu merebut wanita di kehidupanku, kehidupan kita!"
Gray menyipitkan matanya terkena percikan darah saat Lyon meneriaki tepat di depan wajahnya.
"Sampai kapan kau terus membuatku jengkel, Gray!? Kau sampah tak berguna, kenapa Ur selalu membelamu. Kenapa Ur selalu berkorban untukmu. Kenapa dia harus mati karenamu!?"
Gray melotot, dan detik itu juga dia merasa tak dapat mengendalikan perasaan yang dikuburnya jauh dalam hati. Itu bukan salahnya! Itu bukan salahnya! Itu bukan salahnya!
Jrooot!
Gray telah melakukannya, dia telah melakukannya. Sebuah panah dari es telah melesat menggesek sisi kiri perut Lyon hingga berdarah. Gray ngosh-ngoshan masih dipegangnya busuk dari es itu. Lyon terpental agak jauh, tapi dia adalah penyihir yang kuat. Sambil menahan luka di perutnya, dia masih bisa maju untuk membalas lukanya.
Gray harus menggunakan Ice Shell. Dia harus mengakhiri perselisihan yang berlangsung bertahun-tahun ini.
Sinar kebiruan sudah mengumpul pada kedua tangan Gray, dia bersiap. Lyon juga sudah murka.
"Behenti, idioooot!"
Mereka berhenti bergerak merasakan sebuah raksasa muncul di antara mereka. Saat itu Gray sadar, dia telah melakukan kesalahan. Dia telah menunjukkan sihirnya. Tentu, kepala sekolah tercintanya tak akan tinggal diam. Itu terbukti saat Makarov menguliahi mereka sambil marah-marah di tengah lapangan dan di tonton oleh hampir seluruh sekolah.
Malamnya Gray mendamprat siap saja yang berani menanyainya tau hanya sekedar meliriknya dengan pandangan menyebalkan. Dia tak peduli bagaimana para manusia mengatainya karena telah melukai Lyon, dan mendengar perkataan Lyon bahwa Gray kini bukan sekedar Playoboy kelas teri. Gray kini dicap sebagai Playoboy sejati. Cassanova.
"Kau taruh matamu di mana?" semprot Gray ketika salah satu anak kelas satu tak sengaja menyenggolnya ketika berjalan melewati koridor utama setelah makan malam.
Anak lelaki itu tampak akan minta maaf tapi saat dia sadar yang di senggolnya adalah Gray, pancaran matanya berubah menjadi merendahkan.
Gray tak gentar, dia memandang anak itu penuh kebencian yang memuncak walau tak ada 5 menit dia baru bertemu. "Apa yang kau lihat?" tanya Gray penuh sarkasme. Penuh intimidasi. Penuh…frustasi.
Anak itu tampak sedetik ketakutan, kemudian berlalu pergi dengan berbisik pada teman-teman ingusannya.
Gray melanjutkan perjalanannya, dia melempar pandangan marah pada siapapun sampai dia tiba di asrama lelaki. Rumahnya.
Gray membuka pintu agak kasar, kemarahannya belum mereda. Ketika itu tiga set mata langsung menatapnya. Entah mengapa Gray tidak keberatan dengan tatapan mata yang kali ini, mendadak beban pikirannya terangkat sedikit dari pundaknya.
"Hei, bro," sapa Elfman agak canggung. Gray dapat merasakan dia berhati-hati pada perkataanya.
Gray berjalan gontai setelah menutup pintu, menuju ke jendela yang masih terbuka lebar-lebar. Udara dinginnya malam menyeruak ke seluruh ruangan. Gray yang tadinya akan menutup jendela, mengurungkan niatnya karena dia merasa udara malam mungkin bisa mendinginkan pikirannya. Kamar mereka ada di lantai paling atas dari 5 lantai asrama laki-laki. Jauh berbeda dengan kastil sekolah mereka yang kuno dan tua, asrama ini jauh lebih modern dan nyaman. Tapi ranjang mereka masih dua tingkat. Natsu di atas dan Gray mendapat kasur bawah.
"Santai saja, aku sudah capek marah-marah," kata Gray sambil memandang keluar jendela. Merasakan angin malam yang berhembus melewatinya, dan memandang padang ilalang sunyi tepat membentang sepanjang sekolah sampai asrama mereka.
Natsu menepuk bahunya, mulutnya menggembung penuh lasagna karena Gray bisa melihat lelehan saus di ujung mulutnya. "Kau keren tadi!" serunya.
Gray mengangkat alis, kemudian dia sadar bahwa yang berkata adalah Natsu Dragneel. Orang ter-tidak-peduli-situasi-apapun-asal-senang. Dia tipe yang menyenangkan sekaligus peduli pada teman-temannya. Gray tersenyum, benar teman adalah hal yang paling dibutuhkannya saat ini.
"Thanks," ucap Gray tulus.
"Hehh, aku tidak pernah melihatmu mellow begitu. Lagipula aku penasaran kau sudah melakukan 2 kali dalam seminggu benar atau tidak?" tanya Gajeel tiba-tiba tampak penasaran sekali.
Gray melotot padanya, rahasia yang disimpannya setahun terakhir ini akhirnya terkuak juga. Lyon brengsek, Juvia sialan berani sekali dia berkata pada Lyon. Gray hanya… tidak ingin membuat teman-temannya tahu. Kini seluruh sekolah tahu jati dirinya.
"Hahaha, liat mukanya. Seperti orang sembelit. Santai dong Gray," kata Natsu sambil terkekeh. Dia merangkul Gray dan menariknya ke tengah ruangan yang penuh dengan kartu remi dan makanan.
Gray melirik Natsu, "Apa? Aku tahu kau orang yang mesum melihat kebiasaanmu tidak pakai baju dari dulu," jawab Natsu tanpa ada pertanyaan. Dia nyengir.
Gray mendengus, tapi kemudian tersenyum. Reaksi temannya tidak buruk. Mendadak Gray merasa bebannya berkurang lebih banyak. Dia mentap Natsu dengan pandangan seperti biasanya kali ini, santai. "Makanlah! Kami tahu kau tidak menguyah sedikitpun di kantin tadi," kata Natsu sambil menyodorkan bebek panggang hangat di depan hidungnya.
Gray merasa malam itu dia tanpa beban, makan bebek panggang, bermain kartu dan menghabiskan 5 kaleng bir. Bagian paling baik adalah dia menghabiskan semua itu dengan teman-temannya, orang-orang yang percaya padanya. Apalagi teman-temannya tidak menanyakan sama sekali masa lalu Gray dan Lyon yang agak kelam.
...
Gray berdiri di sini sekarang, dia tidak benar-benar menyadari padang ilalang ini begitu luas dan enak dipandang sebelum dia memperhatikannya dari kamar asrama. Dia tidak tahu apa yang dipikirkannya, dia hanya merasa butuh waktu dan ruang untuk sendirian. Memang menyenangkan menghabiskan waktu dengan teman-teman, namun tak selamanya kehadiran mereka benar-benar bisa mengangkat semua masalahmu. Pasti ada satu yang tak ingin kau ceritakan.
Gray duduk di satu-satunya pohon yang sangat besar di sini. Daunnya mulai menguning, angin musim panas sudah hampir berlalu berganti dengan datangnya hawa musim gugur yang sebentar lagi tiba. Tempat pohon itu agak tinggi, hampir di bukit ilalang. Gray meneguk kaleng bir ke-8 hari ini. Tapi dia sama sekali belum mabuk, walau kepalanya agak pusing.
Dia memandang pemandangan yang menakjubkan, walau malam belum larut, tapi langit yang tadinya mendung kini berubah menjadi ribuan bintang yang menyebar ke seluruh langit. Lapangan ini begitu luas, tak berujung. Gray tidak benar-benar tahu ada tempat setenang ini di dekatnya selama hampir 2 tahun sekolah di sini.
Dia meneguk bir-nya lagi, berharap bir itu bisa menghilangkan air mata yang menggenang di pelupuk matanya kini. Brengsek. Dia selalu jadi melankolis kalau berada di tempat sepi sendirian. Pikirannya mendadak penuh lagi, hal-hal yang tak ingin diingatnya, kembali datang. Hitam dan putih masa lalunya, dengan Ur, atau dengan Lyon selalu berhasil membuatnya menangis. Kenapa Gray tidak bisa menghentikan mimpi buruk itu? Apa memang semua adalah kesalahan Gray?
Gray menitikkan air mata, dia memang sampah. Lyon benar. Dia memang benar tentang Gray.
"Apa ini?"
Gray tersentak. Secepat kilat dia menghapus air matanya, alasan pertama adalah karena refleks kaget, dan alasan kedua adalah yang datang ialah Lucy Heartfillia.
Oh, jangan dia.
Atau Gray akan semakin mellow.
TBC
