HARAkiriFTCN =Shinhwan=
Present
A FnC Boys Fiction
(FT Island, CN Blue & Oh Wonbin Fiction)
The Tales of Rebellion
Part 2
XOXOXO
Awan merah di ufuk timur yang menandakan datangnya fajar mulai terbentuk. Namun malam terbilang belum selesai. Matahari belum menampakkan wajah untuk membagi sinarnya ke tanah Hwanin. Belum terlalu banyak aktifitas berarti yang terlihat seantero kerajaan. Dayang-dayang dapur istana dan beberapa dayang pendamping memang sudah memulai kegiatan harian mereka. Tetapi itu belum sepenuhnya bisa membuat suasana sunyi istana hilang.
Suasana pagi tenang itu pecah oleh suara derap kaki kuda yang berlari kencang membelah kabut. Siapa yang mengendarai kuda sepagi ini? Pertanyaan itu mungkin terlintas di benak orang-orang. Tapi bagi para penghuni istana selatan yang merupakan kediaman keluarga bangsawan tinggi Kang, itu adalah hal yang biasa. Tuan muda mereka, Kang Minhyuk memang memiliki kegemaran berkuda pagi-pagi. Alasannya sederhana. Udara pagi yang segar dan belum bercampur dengan debu dan asap bagus untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Selain itu, melihat matahari terbit dari sela-sela pegunungan merupakan suatu pemandangan yang menakjubkan.
Minhyuk menghentakkan tali kekang kudanya lebih keras. Angin pagi yang dingin menyapu wajahnya. Membuat pemilik tubuh jangkung itu semakin memicingkan mata yang dirasa pedih. Ia memang sudah memakai baju yang cukup hangat namun rasa dingin menusuk tetap saja menembus ke kulitnya. Kalau ia tidak sudah terbiasa berkuda sepagi ini, mungkin pulang nanti ia akan demam.
Gerbang istana telah terlewat, Minhyuk memelankan lari kudanya. Ia memandang ke ufuk timur di mana puncak gunung Hwanin yang tinggi menjulang terlihat. Langit merah masih menyisakan bintang fajar dan bulan purnama. Di sisi kaki gunung, sungai Yuan terbentang luas hingga samudra. Sungai besar yang membelah Hwanin menjadi dua bagian ini merupakan sungai utama untuk transportasi perdagangan antar wilayah bahkan antar negara.
Kang Minhyuk menghentikan kudanya tepat di bibir sungai. Bangsawan muda itu turun untuk meminum beberapa teguk air sungai yang jernih. Bibirnya mengulum senyum merasakan kesejukan menjalar melewati kerongkongannya. Ia membelai leher kuda coklat miliknya yang juga tengah ikut mencicipi kesegaran air sungai Yuan.
Penerus keluarga Kang itu terkejut ketika telinganya menangkap suara kecipak air tidak jauh dari tempatnya berada. Ia sontak menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati sesosok pemuda tengah berusaha memasukkan rakit ke dalam sungai. Keremangan fajar menutupi wajah sosok itu dari penglihatan Minhyuk. Penasaran, Minhyuk mendekat perlahan.
"Permis-!" sapaan lembut Minhyuk terhenti oleh teriakan melengking dari sosok misterius di depannya. Tali yang digunakan untuk jakar rakit yang berada di tangan sosok itu terjatuh sebelum sempat di tambatkan. Hal ini membuat rakit kecil itu terbawa arus sungai ke tengah. Si pemilik rakit yang belum menyadari rakitnya hanyut masih memegangi dada setelah sapaan kejutan tadi.
Kemudian kedua mata bertemu. Minhyuk menahan nafas setelah melihat dengan jelas siapa sosok di depannya ini. Wajah itu..
"Pyonsa Choi Minhwan.."
Selama beberapa saat, tidak ada satupun yang berbicara. Keduanya saling diam dengan pikiran kalut masing-masing. Minhyuk tidak tahu apa yang harus ia katakan selanjutnya. Ia bahkan tidak yakin apa sosok pyonsa yang diam-diam ia sukai ini mengenalinya. Dan hei, apa yang dilakukan Minhwan di tempat seperti ini pagi-pagi begini? Rakit, sungai, pagi-pagi, dan raut ketakutan yang tergambar jelas di wajah Minhwan sungguh bukan pertanda baik.
"Ba-bangsawan muda Kang! A-aku.." Minhwan menundukkan wajahnya takut-takut. Ia sudah ketahuan. Harus bagaimana sekarang?
Sikap ketakutan yang ditunjukkan Minhwan membuat Minhyuk sedih. Meski begitu, mendengar pemuda di depannya ini mengenalinya, sedikit memberikan kegembiraan kecil di hatinya.
"Kenapa? Kenapa kau ada di sini pagi-pagi begini?" Minhyuk bertanya hati-hati dan selembut mungkin. Ia tidak mau membuat pyonsa di hadapannya ini semakin ketakutan.
"A-aku hanya.. aku.." Minhwan mencoba menatap mata lembut milik bangsawan Kang ini. Ia sudah tertangkap basah. Rakit harapan ia satu-satunya telah hanyut. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya meminta bantuan. Dan sepertinya orang di depannya ini bisa dipercaya.
"Sebenarnya.."
XOXOXO
Minhwan mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang Minhyuk. Ia tidak mau terjatuh dari kuda dan mati konyol. Tubuh mungilnya yang hanya berbalut baju tipis tentu saja sangat tidak efektif melindungi dari keganasan dinginnya pagi. Sebagai bentuk adaptasi, ia secara spontan semakin mendekatkan badannya pada sumber panas yang berasal dari punggung bangsawan muda di depannya. Jika saja Minhwan tahu apa yang ia lakukan itu telah membuat semburat merah muncul di kedua pipi putih sang bangsawan Kang.
"Kita sudah sampai." Minhyuk menghentikan kudanya tepat di depan dermaga yang terlihat masih lengang. Belum banyak kapal yang berlayar. Sebagian besar masih tertambat dengan kuat ke dermaga. Minhwan segera turun dari kuda diikuti Minhyuk.
"Terimakasih sudah mengantarku sampai dermaga. Ugh.." Minhwan meletakkan tangannya ke belakang kepala. Suasana canggung kembali menyelimuti keduanya.
"Semoga perjalananmu lancar." Minhyuk mencoba mencairkan suasana.
"Iya. Tapi-!"
"Aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun kalau kau pergi. Bahkan meski komandan Pyonsa mengancam untuk memenggal kepalaku sekalipun." Keduanya saling tersenyum lalu tertawa untuk beberapa saat. Mereka sepertinya telah mengatasi krisis segan di antara keduanya.
"Aku pergi dulu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih." Minhwan membungkuk memberi hormat dan segera berlari kecil menuju salah satu kapal yang akan membawanya.
Minhyuk masih tetap berdiri di tempatnya sampai kapal yang membawa Minhwan meninggalkan dermaga.
'Aku rasa liburanku cukup. Aku harus segera kembali ke pulau Mahan, secepatnya.'
XOXOXO
Hongki menghempaskan diri ke kursi. Baru saja ia menyelesaikan tugasnya mengelap meja kedai. Tubuhnya begitu terasa letih setelah seharian bekerja tanpa henti. Pagi-pagi ia sudah pergi ke pasar untuk menjual kayu bakar. Dan setelah itu ia langsung bekerja menjadi pelayan di kedai.
Hongki menguap lebar-lebar lalu memijit lengannya bergantian. Sekarang mungkin sudah lewat waktu tengah malam. Wajar kalau matanya sudah tidak bisa dibuka lagi. Ia harus segera pulang dan tidur. Hongki kembali menguap. Ia meletakkan kain lap yang tadi digunakannya untuk berbenah. Tangannya kemudian digunakan untuk mencari-cari sesuatu yang ada di saku bajunya. Senyum kecil tercipta di bibir Hongki ketika ia mendapat apa yang ia cari dan segera dikeluarkan dari dalam saku kucelnya. Sebuah kertas. Atau lebih tepatnya lagi sebuah surat. Surat yang baru ia terima pagi ini. Hongki belum sempat membacanya. Sebenarnya ia begitu ingin segera membaca apa isi surat itu sesaat setelah surat tersebut berada di tangannya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa seenaknya membaca di saat bekerja. Hongki masih mencintai pekerjaannya sebagai pelayan kedai. Ia sungguh tak mau kehilangan itu hanya karena alasan kecil.
Pemilik wajah cantik itu segera mendekatkan dirinya ke lentera, membesarkan nyala apinya dan mulai membuka surat perlahan.
'Aku merindukanmu..'
Satu kalimat ia baca. Dan dadanya telah berdebar dengan kencang. Maka untaian kalimat-kalimat berikutnya yang penuh dengan kerinduan ia baca dengan senyum dan air mata mengalir.
'Bagaimana keadaanmu sekarang? Di suratmu yang terakhir, kau bilang kau telah bekerja di sebuah kedai. Ah, aku senang kau bisa berhenti susah payah mengambil kayu bakar di hutan. Kau harus lebih menjaga kesehatanmu, Hongki.'
Hongki tersenyum galau. Ia memang tidak bisa bilang pada Hyung-nya itu kalau dia sampai sekarang masih juga menekuni pekerjaan berat itu. Hongki sungguh tidak ingin membuat khawatir. Ia tahu semua kesulitan yang ia hadapi sekarang ini tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dihadapi Hyung-nya. Pemuda cantik itu mengambil nafas panjang dan kembali membaca suratnya.
'Dan bagaimana kabar bibi Jeon dan anak penjual bakpao itu? aku harap mereka baik-baik juga. Sungguh, aku benar-benar rindu dengan kalian semua. Bahkan aku juga merindukan paman penjual kimchi yang sering kita curi dagangannya itu.'
Kali ini Hongki tertawa kecil. Ia jadi mengingat bagaimana mereka bertiga dengan Seunghyun sering bermain kejar-kejaran dengan paman galak namun baik hati itu. Hongki kecil memang pembuat onar nomor satu di seantero Mahan.
'Ah, iya..'
'Aku belum menceritakan apa yang terjadi di ibukota. Kau tahu, baru-baru ini Pangeran muda Jaejin kembali membuat onar. Ia menyelundup masuk ke dalam pertemuan Pyonsa dan berhasil menggagalkannya. Ini menjadi bahan pembicaraan seluruh negeri hingga berhari-hari. Entah kenapa, kelakuan Pangeran muda benar-benar mengingatkanku padamu. Saking miripnya, kadang aku berpikir kalian itu bersaudara.'
Hongki tertawa untuk kedua kalinya. Entah kenapa iya selalu suka jika Hyung-nya itu menceritakan soal keluarga kerajaan dalam surat-suratnya. Hal itu membuat sesuatu yang jauh di dalam hatinya bergetar.
'Ada yang perlu aku ceritakan padamu. Tidak banyak yang tahu soal ini. tapi aku mohon kau berhati-hati sekarang.'
Hongki memiringkan kepalanya bingung. Penasaran, iya kembali melanjutkan membaca.
'Belakangan ini, kami para Pyonsa dituntut untuk berlatih militer lebih keras. Aku khawatir, sebentar lagi perang benar-benar akan memang masih desas-desus, tapi melihat kegiatan militer istana yang meningkat drastis, aku benar-benar jadi khawatir.'
"Mahan dekat sekali dengan perbatasan 3 kerajaan. Kalau benar nanti pecah perang, Mahan tentu akan terlibat juga. Ah, Hongki.. aku benar-benar ingin pulang sekarang.'
'Astaga, kenapa aku ini. Aku tidak seharusnya membuat kau khawatir. Tapi kau tenanglah.. Bukankah tujuanku menjadi Pyonsa adalah untuk melindungi pulau kecil kita itu? melindungimu dan bibi Jeon? Jadi tenanglah.. tidak akan ada yang bisa menyentuh kau dan Mahan selama aku masih hidup.'
'Aku rasa aku harus berhenti. Tintaku sudah habis. Hongki, sekali lagi.. jaga dirimu baik-baik.'
'Aku merindukanmu..'
'Yonghwa'
Hongki menggigit bibir, ancaman perang 3 kerajaan memang sudah ia dengar jauh sebelum ia membaca surat ini. Wilayah perbatasan selalu menjadi yang pertama tahu jika ada hal-hal yang berhubungan dengan masalah perebutan kekuasaan. Was-was itu sudah menjadi makanan sehari-hari masayarakat daerah perbatasan seperti Mahan. Jadi, bukan perang yang ditakuti Hongki, tetapi keselamatan Hyung tercintanya yang ia khawatirkan. Ia sungguh tidak bisa membayangkan harus menerima kepulangan Hyung-nya yang diantar dalam sebuah peti mati. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
'Hwanie-hyung..'
XOXOXO
"Hyung-nim, kami belum dapat menemukan pyonsa Choi. Kami sudah mencarinya ke seluruh penjuru istana, tetapi kami sama sekali tidak lihat tanda-tanda keberadaannya."
Yonghwa menghembuskan nafas panjang yang entah sejak kapan ia tahan. Minhwan menghilang sejak pagi, tidak ada yang tahu kemana perginya sepupu komandan mereka itu pergi. Ia yang memang ditunjuk sebagai Komandan sementara untuk menggantikan Komandan Jonghun sudah mengutus divisinya untuk berpencar melakukan pencarian. Tapi apa? Semua Pyonsa di divisinya selalu melaporkan hal yang sama. Mereka satupun tidak ada yang mengetahui dimana Minhwan berada. Bagaimana ia harus mempertanggungjawabkan ini? Satu minggu menjadi komandan pengganti dan ia sudah berhasil membuat adik sepupu kesayangan Komandan Choi menghilang. Yonghwa menyapu wajah penuh peluhnya dengan telapak tangan. Betapa ia merasa sangat malu sekarang ini.
"Teruslah mencari. Jika sampai tengah malam belum ada kemajuan, baru kita melaporkan hal ini ke komandan tertinggi."
"Baik, Hyung-nim!"
XOXOXO
Sepertinya tidak ada satu hal pun di istana yang bisa luput dari perhatian pangeran kedua. Lee Jungshin, pangeran yang menjadi tumpuhan harapan negara kedua setelah putra mahkota Lee Jonghyun. Usia yang masih belia tidak bisa membatasi pemuda dengan pembawaan tenang ini untuk mampu mengungguli kemampuan pakar-pakar politik negara bahkan panglima militer. Kecerdasannya sungguh pantas dibanggakan. Tidak heran jika Raja sering meminta bantuannya untuk mengatasi permasalahan negara. Dan sekarang, pangeran Jungshin tengah mencium sesuatu. Sesuatu yang sungguh berbahaya.
Ia tahu, istana dan tahta kerajaan setiap harinya selalu terancam. Istana memang penuh dengan seringala-serigala busuk yang siap kapan saja menyerang apabila diberi sedikit saja celah dan kesempatan. Jungshin menyadari itu sejak kecil. Sejak ia mengetahui rahasia besar yang ditutup-tutupi Permaisuri Han selama bertahun-tahun. Siapa sangka, wanita cantik penuh karisma dan ibu dari seorang Putra Mahkota yang hebat tidak lebih dari seorang wanita haus kekuasaan. Wanita yang sanggup melakukan apa saja untuk menyingkirkan batu sandungan di jalannya. Termasuk pada orang yang pernah menjadi teman baiknya sendiri.
Bukan hal yang mudah bagi Jungshin untuk menyembunyikan kenyataan ini selama hampir sepuluh tahun. Apalagi jika ia mengingat kedudukannya sekarang ini sebenarnya adalah hak orang lain. Ia juga sadar, bahwa kenapa ia sekarang menjadi pangeran kedua semata-mata untuk melindungi posisi kakaknya, Lee Jonghyun. Permaisuri Han terlalu takut untuk membiarkan posisi pangeran kedua didapatkan Jaejin yang tidak lain adalah putra dari adik Permaisuri Park. Mungkin dengan memberikan posisi pangeran kedua pada putra selir rendahan akan lebih bisa menjaga keselamatan posisi putranya sendiri. Ck, betapa wanita sungguh mengerikan.
"Kau ada di sini?"
Pertanyaan itu sempat membuat degup jantung Jungshin melonjak karena terkejut. Dia membalikkan tubuh dan mendapati kakaknya, Putra Mahkota Jonghyun.
"Aku hanya ingin bersantai sejenak menikmati suasana sore yang tenang."
"Tapi ini sudah malam, matahari sudah tenggelam sejak tadi." sang putra mahkota melemparkan tatapan penuh selidik pada adik tertuanya itu beberapa saat kemudian tertawa.
"Kenapa tertawa?" Jungshin yang tadinya merasa serba salah ketika ditatap penuh selidik oleh Jonghyun kini menjadi kesal juga.
"Aku hanya tidak menyangka seorang Lee Jungshin bisa membuat raut wajah aneh seperti itu juga," Jonghyun semakin keras tertawa. Seakan tidak peduli sama-sekali dengan para dayang dan kasim pendamping yang sekarang terlihat begitu bingung dan kaget.
"Yang mulia, harusnya anda tidak boleh tertawa seperti itu. Sungguh tidak sopan." Jungshin mencoba mengingatkan Hyung-nya. Biar bagaimanapun, reputasi harus tetap dijaga.
"Iya..iya.. aku mengerti." Jonghyung berusaha menghentikan tawanya, "aku masih harus menghadap permaisuri, aku pergi dulu."
Pangeran Jungshin membungkuk memberi hormat. Setelah dirasa rombongan putra mahkota telah menjauh, Jungshin menghembuskan nafas yang entah sejak kapan telah ia tahan.
XOXOXO
Jonghun mengelap peluh yang menghalangi pandangan matanya. Lengan bajunya sudah basah akibat terlalu sering ia gunakan untuk mengelap keringat. Beruntung hutan yang ia tuju sudah terlihat. Ia tidak menyangka pulau Mahan begitu luas. Sudah sejak pagi buta komandan Pyonsa itu berjalan dari penginapan dan ia baru sampai di tepi hutan tengah hari. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Andai saja ia bisa menyewa kuda di desa. Ah, tapi lagi-lagi itu tidak mungkin. Kuda terlalu mencolok untuk ukuran pengembara macam dia sekarang ini.
Tak mampu lagi berjalan, Jonghun akhirnya duduk bersandar pada sebuah pohon yang cukup besar. Kaki-kakinya sudah sangat berat untuk digerakkan. Perutnya lapar, membuat matanya berkunang-kunang. Komandan Pyonsa itu memejamkan mata. Tidur sebentar mungkin dapat memulihkan lagi tenaganya yang terkuras.
"Apa dia target kita?"
"Ya, Segera lakukan eksekusi. Tapi ingat! Lakukan dengan halus dan serapi mungkin."
"Baik!"
Dan kedua sosok yang tadinya bersembunyi di atas pohon, kini berjalan pelan mendekati tempat Jonghun tertidur. Sebuah belati kecil yang dilumuri racun telah digenggam ditangan, siap untuk ditusukkan.
XOXOXO
Seunghyun memandangi bakpao-bakpaonya yang masih belum laku. Pagi ini ia baru bisa menjual duapuluh buah saja. Masih banyak yang belum terjual. Pasar memang masih ramai, tapi ini sudah cukup siang, jarang yang mau membeli bakpao di siang hari. Pemuda itu terduduk lesu. Bagaimana ia bisa cepat membayar hutang kalau begini terus keadaannya. Kemarin, ia sudah bisa sedikit mengumpulkan uang, tapi kalau hari ini dagangannya tak juga laku, uang simpanannya kemarin bisa habis untuk membayar setoran hari ini.
"Haah.. hidup sungguh tidak adil.." Seunghyun menarik kain penutup kepala lalu mengacak-acak rambut kusutnya frustasi. "Hari ini benar-benar buruk, mana panas pula!" pemuda penjual bakpao itu kembali menggerutu. Kini ia menjadikan topinya sebagai kipas untuk sedikit membantu menurunkan panas tubuhnya yang meninggi. Ia baru berhenti membuat angin-anginan setelah dirasakan sebuah bayangan memayunginya dari terik matahari Hwanin. Seunghyun mendongakkan kepala. Matanya bertemu dengan sesosok pemuda pendek dengan wajah seimut bayi.
"Yah, kau mau beli?" Seunghyun mencoba bertanya pada pemuda yang sejak tadi masih melihat bakpao ayamnya sambil memegangi perut dengan tatapan lapar.
"Hei! Kau mendengarku?" Seunghyun menjentikkan jarinya di depan muka si pemuda lapar.
"Ah! Um.. ma-maaf.." pemuda manis itu menunduk dalam-dalam, meminta maaf. Hal ini tentu membuat Seunghyun semakin bingung. Apa lagi setelah itu si pemuda langsung berbalik pergi. Oh, tidak bisa. Tidak ada yang boleh mencampakkan bakpao-bakpao-nya setelah dengan terang-terangan menatap dengan pandangan lapar. Itu sama saja dengan penghinaan!
"Yah! Kau! Tunggu!" Seunghyun berlari mengejar si pemuda yang kini semakin berlari ketakutan setelah melihat Seunghyun mengikutinya. Tapi jangan panggil pemuda penjual bakpao itu Song Seunghyun kalau tidak bisa segera menangkap si pemuda pendek. Dengan sekali melangkah, ia sudah bisa memerangkap si pemuda ke dalam pelukannya.
"Kena kau!"
XOXOXO
Kuil Cheongsan terlihat begitu damai. Aura yang dikeluarkan tempat ini benar-benar menyejukkan. Mungkin karena memang hawa relegius yang dibangun ditempat ini begitu kuat, atau memang karena letaknya yang memang strategis. Bertempat di atas bukit yang bersebelahan dengan gunung Hwanin, dimana hulu sungai besar Yuan berada menjadikan Kuil Cheongsan bagaikan surga. Bagaimana mungkin tidak? Pemandangan di sana sungguh mempesona. Dewapun tidak akan menolak untuk tinggal ditempat seperti itu.
Park Yeoreum memejamkan mata, mencoba merasakan hembusan angin yang menyapu wajah cantiknya yang mulai termakan usia. Ah, tidak. Mantan wanita tertinggi di Hwanin itu masih tetap terlihat menawan. Malah kalau boleh dikata, ia semakin terlihat mempesona dengan keanggunan dan kedewasaannya yang terpancar sekarang.
"Yang mulia, anda harus masuk ke dalam. Udara di luar semakin dingin."
Park Yeoreum membuka mata dan menoleh pada dayang yang telah bertahun-tahun setia melayaninya. Seorang dayang berusia senja yang sudah sejak ia masuk ke dalam anggota kerajaan sebagai calon permaisuri selalu mengurusnya. Bahkan ketika ia harus dibuang dan diasingkan keluar istana, dayang satu inilah yang masih memilih berada di sisinya sampai mau menanggalkan baju dayang kebesaran yang selalu ia kenakan sejak kecil.
"Aku masih ingin duduk disini sebentar lagi, bukankah sore ini begitu indah, Bibi Nam?"
Dayang tua nan setia itu hanya bisa menghela nafas dan kembali mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang pada majikannya tersebut. Mengembalikan ketenangan sunyi yang tadi sempat terganggu.
"Bibi.."
"Iya yang mulia.."
"Apa Jaesoon sudah kembali?"
"Belum yang mulia."
Sejenak, Park Yeoreum terdiam. Kemudian, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri dayang Nam. "Bibi, tolong katakan apa yang aku mulai ini benar.." Mata yang tadi penuh ketenangan, kini terlihat begitu memilukan. Begitu besar kepedihan yang terpancar dari sana. Dari dalam hati yang gelap. Tanpa cahaya sedikitpun.
Dayang Nam membuka pelukannya. Menawarkan sandaran pada tubuh rapuh sang permaisuri terbuang. Wanita yang putra dan suaminya direnggut paksa beserta semua kehormatan dan harga dirinya. "Semoga ini untuk yang terbaik, Yang Mulia.. semoga.."
XOXOXO
"Jadi, kau tidak punya uang?"
Seunghyun menatap pemuda yang kini mengangguk malu-malu menjawab pertanyaannya.
"Tapi, kau kelaparan?"
Satu anggukan.
"Dan karena itu kau lari dari bakpao-bakpaoku?"
Kembali satu anggukan Seunghyun terima. Tapi kali ini dibarengi dengan suara-suara aneh yang berasal dari perut si pemuda.
"Maaf.. uhm.."
Seunghyun mengamati pemuda lapar berwajah imut di depannya yang sekarang terlihat salah tingkah sekaligus ketakutan. Betapa kasihan anak satu ini. Tapi kemudian jika- Argh! Seunghyun mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa malah jadi begini keadaannya.
"Untukmu!" Seunghyun menyodorkan bakpao ayam pada pemuda di depannya.
"Aku kan sudah bilang tidak punya uang. Aku bayar pakai apa?"
"Untuk sementara kau boleh makan dulu, besok kalau kau sudah punya uang kau bisa membayarku." Ah, dia benar-benar akan rugi hari ini.
"Benarkah?"
Wajah antusias si pemuda lapar hanya dibalas dengan anggukan lesu Seunghyun.
"Terima kasih… Terima kasih.. Terima kasih.."
Seunghyun tersenyum juga melihat bagaimana pemuda pendek itu membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih.
"Namamu?"
"Choi Minhwan!"
XOXOXO
Hongki memunguti ranting-ranting kayu kering sambil bernyanyi kecil. Musim gugur sudah dekat, banyak pohon yang menggugurkan rantingnya dan jatuh berserakan di tanah. Kalau di musim seperti ini ia tidak perlu susah-susah memanjat pohon dan menebang dahan. Lain halnya kalau masih musim semi. Karena itu ia lebih memilih untuk menjadi pemetik bunga liar ketika musim semi dan kembali menjadi penjual kayu bakar di musim yang lain.
"Harusnya aku mengajak si bodoh itu tadi, haish! Ranting-ranting sebanyak ini kalau tidak segera diambil pasti besok sudah basah dan tidak akan laku kalau dijual." Hongki terus menggerutu tidak jelas.
SRAK!
"Si-siapa di sana!" Hongki yang sudah menjatuhkan kayu-kayunya karena terkejut langsung berbalik ke arah datangnya suara. Ia mencari-cari ranting kayu yang cukup besar di sekitarnya dan mengambilnya untuk dijadikan pelindung.
"Siapa? Ja —!" Nafas pemuda cantik itu tercekat. Mata indahnya membelalak sempurna.
"To-tolong.."
BRUG!
Dan Hongki hanya bisa berdiri mematung melihat pemuda tampan yang baru ia temui kemarin tergeletak di tanah dengan perut yang bersimbah darah.
TBC
Mian sebelumnya, karena setelah lama gak updet hasilnya malah semakin kurang memuaskan… u.u
Untuk selanjutnya saya akan usahakan lebih baik.
Di chapter ini penuh dengan ke OOC-an dan pembangunan plot. Jadi saya benar-benar minta maaf kalau jadi begitu membosankan. #garuk2 kepala
Yosh! Saya minta komen-komennya! Review!
