Jam pelajaran ini hampir berakhir, dan Kuroko sama sekali tidak merasa diperhatikan oleh guru angkuh di depan sana.

Memang sih, sejak dulu hawa keberadaannya setipis hantu. Tapi bukankah Akashi Seijuurou itu orang yang peka? Apalagi kalau menyangkut Kuroko Tetsuya seorang?

Huh, bukannya ia mau minta diperhatikan. Tapi rasanya menyebalkan juga kalau seperti ini terus.

Tak lama, terdengar bunyi bel pertanda istirahat. Akashi menghentikan menutup bukunya. "Ya, sampai di sini dulu, kalau ada yang masih belum kalian mengerti tentang integral, kalian bisa tanyakan langsung ke saya." ucapnya.

Si merah berjalan keluar ruangan. Para murid-muridnya sudah mulai riweh, mengobrol akan hal-hal sepele, namun tidak dengan Kuroko.

Sebuah penghapus karet ia ambil, kemudian dileparkan langsung ke kepala gurunya itu.

"Aw! Siapa yang berani melempar ini?!" tanya Akashi dengan nada tinggi yang mampu membuat kelas itu hening lagi.

Dengan bangga, Kuroko di belakang sana mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Para anggota kelompok pelangi menelan saliva mereka masing-masing, tak percaya akan apa yang dilakukan oleh makhluk mungil biru itu.

"Aku, Akashi-sensei." Ucap Kuroko lantang.

Akashi menghembuskan napas sebentar, kemudian melanjutkan perjalanannya, mengabaikan entitas si biru.

Jengah karena masih diabaikan, kali ini mimpi yang selalu Kuroko idam-idamkan, terkabul.

Salah satu sepatu Kuroko Tetsuya, mendarat dengan selamat di paras tampan Akashi Seijuurou.

.

.

Still Hate

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadotoshi

Story © Hanyo4

AkaKuro, Harem!Kuro, MayuNiji.

[2/3]

Warn : Ini adalah ff sequel. Silahkan baca Math and You! Terlebih dahulu agar paham jalan cerita sebelumnya :")))) banyak typo bececeran, Minor OC, dan OOC yang tidak bisa ditolerir demi kebutuhan cerita! So, don't push your self to read! Just enjoy it ^^

.

.

Sebuah plester kecil disematkan di hidung yang masih merah.

Kuroko jadi merasa agak menyesal karena telah melakukan sebuah tindak kekerasan.

Ah, bagaimana kalau setelah ini ia dilaporkan ke pihak berwajib dan dijebloskan ke penjara? Nanti ia jadi tak bisa menikmati minuman favoritnya setiap hari dong?

"Jadi," Akashi malas menatap Kuroko, ia pura-pura sibuk mengamati luka di wajahnya melalui cermin di UKS. "Ada apa?"

Kuroko tertunduk, memandang sepasang kakinya yang hanya berbalutkan kaus kaki di sebelah kiri, dan sebuah sepatu di kaki kanan. "Sensei marah?"

Tubuh gagah diputar, menghadapi murid yang nyalinya sedang menciut. "Tentulah aku marah, Tetsuya! Kau sudah meleparku pakai sepatu sampai mimisan begini!"

"Tapi sensei duluan yang salah! Sok-sokan mengabaikanku!" Kuroko tidak mau disalahkan sepihak. Bagaimana pun juga, yang mulaikan Akashi. Bukan salahnya toh jika ia mengajukan protes meskipun caranya agak kasar?

"Oh, jadi sekarang kamu minta diperhatikan?" sebuah seringaian mengembang.

"Bukan begitu! Jangan salah paham, dengar dulu ya, Akashi-sen—"

"Lalu apa?"

Kuroko diam. Ia bingung bagaimana mengungkapkannya. Azurenya berkeliling, mencari inspirasi.

"Hmm?" Akashi di depan sana berdiri sambil menunggu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Ish. Sensei jangan kepedean dulu ya. Bukannya aku minta diperhatikan! Tapi aku rasa sensei itu…," Kuroko masih terus mencari kata yang tepat. "pilih kasih!"

Kening si merah berkerut ke dalam. "Pilih kasih bagaimana? Seharusnya kau bersyukur karena aku tidak langsung lari ke ruangan BP dan meminta guru itu untuk mengetik surat panggilan ke orang tuamu, setelah kau melemparku dengan sepatu tadi."

"Ya makanya kalau dipanggil, harusnya sensei langsung menyahut!"

"Kapan kau memanggiku, hah? Yang ada kau tadi menimpukku pakai penghapus!"

Kuroko berdecak kesal. Ia pasti akan selalu kalah kalau berdebat dengan iblis yang satu ini!

Tangan kanan menyisir helaian palsu yang mengganggu pemandangan. Ia bingung, masih saja orang itu bersikap keren padahal sudah dipermalukan di depan kelasnya tadi! Apa jangan-jangan, urat malu orang ini sudah putus dari dulu?

"Aku tidak akan meminta maaf. Itu semua karena sensei."ucapnya lirih lalu melenggang pergi dari ruangan itu.

Akashi menghembuskan napas berat. "Dasar tsundere."

.

.

Kuroko baru saja keluar dari ruang UKS dan berjalan beberapa langkah. Namun pemuda itu dikejutkan dengan kehadiran kelompok pelangi yang tiba-tiba memeluknya entah dari mana.

"Tetsu! Kau tidak apa-apakan?!" tanya Aomine khawatir.

"Jangan cari mati seperti itu lagi nanodayo! Bukannya aku peduli atau apa, tapi bisa saja iblis itu menghukummu seperti dulu lagi!"

"Benar, Kurokocchi! Jantungku serasa mau lepas saat Kurokocchi melemparnya pakai penghapus ssu. Masih untung yang itu diabaikan, eh malah dilempar lagi pakai sepatu."

"Kuro-chin nekat juga ya~" Murasakibara menyodorkan snacknya tepat ke depan Kuroko, namun Kuroko menolaknya lagi karena sama sekali tidak merasa minat.

Sambil berjalan santai—dengan rombongan pelangi di belakangnya, Kuroko menatap sekitar. Banyak murid-murid yang memandangnya takjub. Seolah-olah Kuroko adalah protagonist sebuah drama korea yang dikelilingi oleh kumpulan lelaki tampan.

"Kau seperti impian para gadis-gadis itu, Tetsu." Jari telunjuk Aomine mangarah tepat ke kumpulan para wanita yang terbuai akan delusi mereka masing-masing.

Samar-samar, Kuroko dapat mendengar kicauan kelompok fangirl itu seperti,

Kyaaa, Tetsuya-sama uke sekali.

Iya dia cantik sampai-sampai aku ragu, sepertinya Dewa salah menentukan gendernya!

Ya ampun, anak kelas F enak ya, bisa bertemu dengan para pangeran sekolah setiap hari dan bisa menyaksikan secara langsung kemesraan Akashi-sensei dan Tetsuya-sama!

Untung saja hati Kuroko sudah kebal. Ya, iya sih ia memang pernah memproklamirkan dirinya sendiri bahwa orientasi seksualnya 'belok'. Tapi kok sepertinya heboh sekali ya reaksi orang-orang? Apalagi setelah setan mata belang itu datang. Tiba-tiba rasanya seperti ada sebuah fanbase yang berdiri kokoh, yang berisikan para delusi murid fujodan di sekolah ini.

Kuroko ngerem mendadak, para pengikutnya langsung mengikuti.

Sepasang azure tidak sengaja menemui dua kepala yang tak asing.

"Nii-san, Shuuzo-nii! Punya waktu sebentar?" Kuroko berlari menghampiri mereka saat keduanya melintas di lorong. Tampang stoic berubah drastis plus efek bling-bling di sekeliling.

Dan dalam sekejap, delusi kumpulan fujodan di sana berubah dari putri setengah bidadari yang dikeliling pangeran sekolah, menjadi gadis SMA yang sedang mendekati dua om-om mesum.

.

.

Bola orange memantul melawan gravitasi bumi.

Lengan kemeja putih ia gulung hingga setengah, simpul dasi sudah melonggar meskipun benda itu masih mengalung di leher.

Tetes demi tetes keringat berjatuhan. Napasnya sudah terengah-engah, namun matanya sama sekali tidak lepas pada satu objek di depan sana, ring basket.

Akashi bahkan seolah menghiraukan sakit di pangkal hidungnya.

Yang ia butuhkan sekarang adalah pelepas stress. Stress yang dibuat oleh Kuroko Tetsuya, muridnya.

Huh, memang dasar bocah bebal yang manja. Akashi jadi tidak tahu kenapa emosinya jadi naik turun seperti ini? Kemarin, mereka habis apaan sih? Kok rasanya ia jadi kesal dengan makhluk biru itu?

Berdebat soal makanan kah?

Atau soal seragam Kuroko?

Tunggu,

Kok ia jadi lupa kemarin marah karena apa?

Kalau tentang option kedua sih, ia bisa mengakui kesalahannya—mengubah makhluk ciptaan Tuhan yang hampir sempurna, menjadi lebih sempurna lagi.

Ya wajar saja sih kalau Kuroko marah karena merasa harga dirinya terinjak-injak. Tapi kenapa tidak protes dari dulu? Ini kan sudah hampir dua minggu ia berpakaian seperti itu! (Akashi selalu mengabaikan fakta bahwa Kuroko memusuhinya habis-habisan karena hal tersebut.)

Bola kembali bergulir.

Sesaat di tangan kiri, sesaat di tangan kanan. Kemudian langsung ditembak dari ujung lapangan ke ring di depan sana.

Jangan remehkan soal kemampuan bermain basket yang dimiliki Akashi. Meskipun bertubuh agak pendek dan hampir dua tahun lebih ia tidak menyentuh bola memantul itu, namun bakatnya sama sekali tak karatan. Masih sama seperti dulu ketika ia bermain dengan Mayuzumi ataupun Nijimura.

Tembakkan lambung yang ia lakukan sangat sempurna. Si bundar itu sama sekali tidak menyentuh cincin besi yang mengitarinya.

Akashi tersenyum sesaat dan menghapus peluh di dahinya.

Ah, sudah lama ia tak merasa sebebas ini. Keluar sesaat hanya untuk memainkan hobi lamanya—selain bermain shougi sendiri. Ya meskipun yang ia lakukan hanya bermain basket, sendirian.

Merasa bosan, Akashi menghentikan aktivitasnya. Dan memilih untuk pulang dan mengistirahatkan sekujur tubuhnya—hatinya juga kalau bisa.

Bola yang sempat menembus lubang ring dengan sempurna dibiarkan menggelinding begitu saja. Padahal sore tadi klub basket sudah merapikan lapangan ini. Tapi Akashi malah menggunakannya seenak hati pada malam hari ketika sekolahan sudah sepi. Dasar tuan muda sok absolut.

Si pemuda merah berjalan mendekati jasnya yang terletak di pojok ruangan. Namun kening mengkerut begitu menemukan objek ganjil yang terletak di dekat pakaiannya itu.

Sebuah kotak berbungkus kado merah dengan pita biru muda.

Aneh sekali. Sejak kapan benda itu ada di sini? Perasaan tadi tidak ada. Atau jangan-jangan ada anak basket yang barangnya ketinggalan? Atau memang ada yang sengaja menaruhnya di sana ketika ia sedang sibuk tadi?

Akashi mengocoknya dengan hati-hati, takut objek asing itu berisi benda berbahaya.

Satu alis menanjak naik, Akashi dikuasai oleh rasa penasaran yang sedang menyerbunya. Tangan kanan membuka tutup kotaknya.

Sebuah senyum tulus terulas.

Akashi tahu siapa yang memberinya benda ini.

Benda yang kata orang sangat menggambarkan dirinya,

Sebuah gunting berwarna merah.

.

.

Kagami mengendus kesal. Padahal tadi si biru ini mengajaknya ke kedai Majiba. Tapi kok sekarang malah berakhir di toko buku seberang restoran cepat saji favoritnya? Sudah hampir satu jam mereka ada di tempat itu dan hanya berdiam diri di rak yang sama, rak alat tulis kantor.

"Cepatlah, Kuroko. Aku lapar. Katanya kau hanya mau beli satu barang. Tapi kok milihnya lama banget. Seperti peremupuan yang kebingungan yang mau beli baju apa."

Kuroko melirik sinis macam di sampingnya. "Maaf saja kalau aku lama, Kagami-kun."

Kagami menelan saliva,"Memangnya kau mau beli apaan?" tanyanya hati-hati takut menyinggung perasaan pujaan hatinya ini.

"Yang pasti bukan baju perempuan." Gumam Kuroko cuek yang malah menambah rasa bersalah pada benak Kagami.

Duh, makhluk biru kecil satu ini mulutnya memang kadang setajam belati ya.

"Ya kalau mau beli baju mah, bukan di sini, Kuroko."

Tubuh mungil diputar menghadap si alis cabang. Kagami salah tingkah, takut lawannya ini kembali baper karena ucapannya.

"Bagus yang mana? Ini atau ini?" Kuroko menunjukkan dua benda sama dengan warna yang sama pula. Alis Kagami terangkat, bingung mau pilih yang mana padahal keduanya sama saja.

"Bedanya… apa, Kuroko?"

Pipi putih pucat dikembungkan oleh si empunya. "Kau tidak lihat. Kagami-kun? Harganya beda lima yen!"

Bagaimana bisa si alis cabang tahu harganya kalau yang ditunjukkan kepadanya hanya barangnya? Ya Tuhan, sepertinya makhluk setengah perempuan ini hampir matang untuk menjadi perempuan seutuhnya. Hal sepele seperti ini saja dipermasalahkan.

Jari telunjuk menggaruk pipi yang tak gatal. "Kurasa bagusan yang… kanan." Jawab Kagami ragu.

Kuroko mengamati gunting yang ada di tangan kanannya. "Hmm… aku juga berpikir begitu sih tadi. Baiklah, aku akan pilih yang ini." Gunting di tangan kiri diacungkan tinggi-tinggi.

Demi pencipta cheese burger dan ring basket! Kuroko Tetsuya, kau sudah terlalu mahir untuk sekedar menjadi wanita jadi-jadian. Kagami membatin miris.

.

.

Kediaman Mayuzumi gempar.

Nyonya besar yang konon telah minggat bertahun-tahun serta mengubah marganya, Kuroko Tetsuko, datang berkunjung.

Koper-koper besar berjajar rapih di depan pintu masuk. Para pelayan kepayahan mengurus barang bawaan wanita agak nyentrik ini. Pasalnya ia datang tiba-tiba. Tanpa memberi kabar sama sekali. Untung saja tuan besar pemilik rumah sedang dinas ke negeri tetangga, kalau tidak, perang dunia ketiga bisa pecah di rumah itu.

Tapi sebenarnya, bukan perang dunia ketiga yang ditakutkan oleh seorang Kuroko Tetsuya. Dari kecil ia sudah terbiasa melihat keramik-keramik berharga jutaan yen melayang tak tentu arah.

Yang sangat mengganggunya saat ini ialah, ibunya yang memergokinya sedang berpakaian layaknya gadis SMA.

Jantung Kuroko serasa lepas begitu melihat wanita setengah abad yang tampangnya masih seperti setengah dari umurnya—entah itu karena perawatan atau memang karena gen keluarga Kuroko yang seperti titisan bidadari di langit.

"TET-CHAN?!" tanya Tetsuko tak percaya saat melihat penampilan baru putra bungsunya.

Tubuh Kuroko terpaku. Mulutnya terbuka lebar. Jalan untuk kembali rasanya sudah sirna. Ah, gara-gara perjanjian sepihak yang konyol ini, bisa-bisa Kuroko dicoret dari kartu keluarganya. Padahal, selama ini lancar-lancar saja karena ayahnya jarang berada di rumah.

Tetsuko mengambil langkah maju, mendekati anaknya.

Kepala berhelai biru langit sebahu menengok kanan-kiri risih, mencari pertolongan lewat gerakan tubuh. Namun naas, tak ada yang menotisnya. Kuroko seolah dipaksa menyerah begitu sadar wanita itu sudah berada tepat di hadapannya.

"O—okaa-san… aku bisa jelaskan…" cicitnya.

Tetsuko mencengkram pundak anaknya. "ASTAGA TET-CHAN APA YANG TERJADI PADAMU? KATAKAN PADA KAA-SAN APA INI ULAH KAKAKMU YANG JONES ITU?!"

"Okaa-san, Nii-san kan mau menikah bulan depan."

"LALU ULAH SIAPA INI? SIAPA YANG BERANI-BERANINYA MENGUBAH KAU KE WUJUD ASLIMU?!"

Ok, biarkan separuh ruh milik Kuroko terbang meninggalkan raganya.

.

.

Kuroko heran. Tidak kakaknya, tidak Akashi, maupun ibunya sekalipun, semuanya sama saja. Mendukung Kuroko untuk menjadi perempuan sepenuhnya.

Hei! Apa mereka tidak ingat kalau Kuroko lahir dengan bola di selangkangan? Bukan dua bola di depan dada?

Dan si biru muda ini hanya bisa menghembuskan napas berat setelah sang ibu menyeretnya langsung ke salah satu butik kepercayaannya, tanpa sempat ia berganti pakaian 'normal' terlebih dahulu.

'Tet-chan, kaa-san tidak tahu kalau kamu punya fetish seperti ini.' Begitu ibunya beberapa saat yang lalu.

Oh Tuhan, Kuroko salah apa sih? Kenapa ujian yang Kau berikan kepadanya sangat berat seperti ini? Apa benar, dulu kau salah menentukan gender untuk nominasi titisan bidadari ini?

"Tet-chan, kau mau pakai yang mana? Yang ini atau yang ini?" Kuroko Tetsuko menunjukkan dua buah dress berbeda model ke hadapan putra bungsunya. Iya, putra yang diakui sebagai putrinya.

Kuroko merasa déjà vu. "Err… yang kanan?"

Ibunya melirik sekilas dress yang dipegang oleh tangan kanannya. "Pilihan bagus," wanita itu memasang tampang berpikir. "Kaa-san tidak tahu kalau kau punya selera fashion yang baik."

DEMI TUHAN! JIKA MENGUBAH GENDER KUROKO TETSUYA MENJADI WANITA ADALAH PILIHAN TERBAIK, MAKA LAKUKANLAH HAL ITU SEKARANG JUGA!

Satu jam, dua jam menunggu, ibunnya tak kunjung selesai memilah-milah baju di butik itu. seandainya Kuroko Tetsuko bukan pelanggan vvvip, sudah dipastikan ia dan anaknya akan didepak keluar karena telah membuat para pekerjanya lembur berjamaah.

Sekilas, sepasang azure jernih melirik jam di dinding. Jarum jam panjang tepat mengarah ke angka duabelas, sementara jam pendeknya berada di angka sepuluh. Kuroko merutuki kecerobohannya karena lupa membawa alat komunikasi canggih miliknya pribadi—handphone tentunya. Memang apalagi?

"Okaa-san, ayo pulang. Ada pr yang harus kukerjakan." Rengek si mungil dengan memasang wajah memelas.

"Tet-chan jangan manja. Dikerjakan nanti pagi kan bisa."

"Kalau nanti pagi dikerjakannya, berangkat sekolahnya bagaima—"

"Besok kan sabtu, Kuroko Tetsuya."

Glek!

Ok, mengganggu wanita yang sedang khusyuk berbelanja adalah haram hukumnya. Karena apa? Demi segala dewa yang ada di langit, Kuroko bersumpah barusan ia melihat singa lapar di dalam ibunya. Bahkan tampang psikopat milik guru matematikanya saja kalah jauh dengan tampang ibunya tadi.

Entah berapa lama ia menunggu, yang pasti saat pagi datang, ia menemukan dirinya bangun di kamar tidurnya sendiri, lengkap dengan piyama tidur bergambar gelas vanilla shake.

Ah, mungkin semalam kakaknya datang menjemput mereka dan menggantikan pakaiannya.

Atau mungkin tidak.

.

.

"Pagi, darling."

Mungkin kemarin Kuroko agak amnesia atau mungkin terlalu banyak pikiran hingga tak menyadari bahwa butik yang ia dan ibunya singgahi adalah salah satu butik milik Akashi corp.

Iya, Akashi yang itu lho.

"Kemarin, nak Seijuurou ini yang mengantar kita pulang, Tet-chan. Kakakmu ada panggilan dinas mendadak di kota sebelah makanya tidak bisa jemput. Kaa-san, tidak tahu kalau kau kenal dengan anak tunggalnya keluarga Akashi." Di sebrang sana, sang ibu malah anteng menyantap sandwich tuna yang disajikan.

Kuroko yang masih belum berganti baju—well, ia tetap nampak awesome dengan piyama bergambar gelas milkshake itu, rasanya Akashi jadi ingin memberikan si mungil milkshake premium miliknya—duduk dengan muka ditekuk.

Oh wow. Dari ribuan butik di kota ini, kenapa harus butik milik sensei yang okaa-san pilih.

"Tetsuya adalah anak didikku, Kuroko-san. Aku dan Chihiro-senpai dulu bersekolah di SMA yang sama. Jadi bisa dibilang, kami agak akrab."

Akrab ndasmu! Dan kapan kau pernah memanggil nii-san dengan sebutan Chihiro-senpai? Batin Kuroko gondok.

"Benarkah?" tanya Tetsuko agak terkejut."Wah, dunia ini sungguh sempit ya. Tapi ngomong-ngomong nak Seijuurou, kenapa kau memutuskan untuk jadi guru di saat kau bisa memegang jabatan tertinggi di perusahaan keluargamu?"

Kuroko dapat memperhatikan gurunya itu mengubah sedikit posisi duduknya. Mungkin ia agak jengah kalau ditanya dengan topik ini.

"Jadi guru itu… bisa dibilang adalah cita-citaku sejak kecil, Kuroko-san. Untungnya saat dewasa, otou-sama tidak menentang cita-citaku ini. Ya meskipun ada saatnya nanti aku harus memprioritaskan perrusahaan ketimbang mengajar. Mungkin terdengar egois, tapi ini adalah salah satu syarat yang harus aku lakukan. Jika perusahaan berada di ambang bahaya, mau tidak mau aku harus berhenti mengajar." Jelas Akashi dengan wajah kalem.

Entah kenapa setelah mendengar itu, hati Kuroko terasa sesak.

Akashi-sensei akan berhenti mengajar?

Lenggang sejenak, kecanggungan menguasai keadaan. Akashi berdeham demi memecahkan suasana tidak yang nyaman tersebut. "Tapi tenang saja, perusahaan saat ini sedang baik-baik saja. Tidak ada masalah serius yang bisa menjatuhkan harga saham kita." Ujarnya dengan bangga.

Tetsuko mengulum senyum tipis. Tangan kanannya meraih gelas berisi air putih lalu meminumnya sedikit. "Nak Seijuurou," panggil Tetsuko.

Akashi mendongkak, menatap paras anggun dari wanita berusia setengah abad lebih. "Ada apa, Kuroko-san?"

"Apa kau menyukai putra bungsuku?"

"UHUK UHUK UHUK." Si mungil tersedak roti lapis coklat santapannya. Bukannya membantu, Akashi malah tersenyum lebar. Huh, padahal pemuda itu duduk tepat di samping Kuroko. Setelah minum dan merasa agak mendingan, Kuroko melirik sinis pemuda rambut merah itu.

"Tentu, Kuroko-san. Siapa yang tidak terpana dengan malaikat yang satu ini?" Si merah mengedip manis. Kuroko pasang tampang jijik. Oh, mungkin ia butuh kantung muntahnya dengan segera.

"Apa kalian berniat untuk menyusul Chihiro dan Shuuzo?"

Tanpa ragu, Akashi menjawab. "Tentu saja Okaa-sa—" namun naas, omongannya terpotong setelah gulungan majalah basket sengaja dipukul di atas helaian merah.

Iya, Kuroko pelakunya.

.

.

Bak pembalap pro, Mayuzumi menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya.

Garis finishnya adalah kediaman keluarganya di pusat kota.

Andai sederet kalimat bak putusan Dewa itu tidak mampir di ponselnya beberapa saat lalu, Mayuzumi pasti masih duduk manis mendengarkan rapat para dewan itu.

Chihiro cepat pulang, adikmu sudah dilamar orang!

MENINGGALKAN ADIKNYA SENDIRI DENGAN SANG IBU KADANG BISA JADI MEMBAHAYAKAN!

APALAGI KALAU IBUNYA SUDAH BERTEMU DENGAN TITISAN IBLIS RAMBUT MERAH ITU!

Surai kelabu diacak kasar. Ok, adiknya baru dilamar. Belum menikah. Lagi pula Kuroko kan masih kelas tiga SMA. Belum legal ijab-kabul.

Tapi jelas bukan itu masalahnya!

KENAPA HARUS AKASHI?

DAN KENAPA AKASHI HARUS MEMILIH ADIKNYA YANG UNYU TIADA TARA?!

Sedan hitam itu melesat, membahayakan pengemudi yang lain. Tak elak sesekali terdengar sahutan klakson yang memekak di telinga. Iris Mayuzumi bahkan sempat menangkap beberapa mobil polisi dengan sirinenya yang menyala sedang mengejar di belakang.

Masa bodolah kalau ia melanggar aturan lalu lintas.

Urusan tilang-menilang masih bisa nanti. Yang penting keperjakaan adiknya terjaga!

.

.

Untung saja masih ada beberapa ilham yang Mayuzumi temui saat ia mengemudi tadi. Tinggal menekan sederet angka dan mengucapkan sebuah kalimat, dan taadaa~ pasukan aliansi nan kokoh pun terbentuk.

Dengan absennya si makhluk kelabu, para pelangi sedang rapat siaga di apartemen Kise.

"Sial kita kecolongan!" gerutu Aomine sambil mengacak kasar rambutnya.

"Percuma kalau kita menyingkirkan satu sekolah ssu! Final bossnya malah sampai di garis finish duluan."

Sambil membenarkan letak kacamatanya, Midorima mengangguk. "Kise benar. Kita terlalu fokus menuntas habiskan musuh-musuh kecil sampai lupa raja bosnya."

"Kukira Sensei dan Kuro-chin masih marahan. Ternyata sudah akur kembali toh~ menyusahkan saja~"

"Eh? Iya ssu! Bukannya kemarin Kurokocchi dan Akashi-sensei masih perang dingin? Kapan baikannya?"

Lenggang sejenak, masing-masing larut dalam konflik batinnya. Tak terkecuali Kagami. Ia jadi menyesal mengapa kemarin ia membantu pujaan hatinya untuk memilih hadiah rivalnya. Kalau kelompok pelangi tahu bagaimana kronologisnya, Kagami bisa-bisa di gantung terbalik di tengah lapangan dan dicap penghianat lagi. Jangan salah lho, kelompok pelangi itu beringas. Apalagi kalau sudah menyangkut Kuroko Tetsuya seorang.

"Bisa jadi itu cuman akal-akalan si guru sialan itu! Supaya Tetsu jatuh ke dalam pesonanya! Tetsu kan hatinya lembut dan polos."

"Spekulasi yang bagus nanodayo. Kuroko memang orangnya agak sensitif."

"Jadi, Akashi-sensei pura-pura marah kepada Kurokocchi supaya ia bisa langsung melamarnya begitu ssu?"

Midorima dan Aomine mengangguk.

Kagami tepuk jidat.

Oh Tuhan, kenapa teman-temannya ini jadi mendadak bodoh sih kalau menyangkut soal Kuroko?

"Ada apa Kagamicchi? Kau tahu sesuatu?" tanya Kise ketika ia melihat kelakuan Kagami tadi.

Si alis bergerak gelisah begitu seluruh mata beda warna hanya mengarah padanya.

"Tumben dari tadi kau anteng-anteng saja, Kagami. Tahu akan sesuatu?" Aomine bertanya dengan nada suara yang mampu membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Ah, dan jangan lupakan senyum ambigu bak preman pasar itu! Tinggal doakan saja semoga Kagami bisa tidur nyenyak malam ini.

Kagami menggeleng cepat. "Siapa tahu Akashi belum melamar Kuroko. Sebelum hal itu terjadi, ada baiknya kita mencegahnya. Lagipula, tumben sekali kepala sekolah minta bantuan ke kita. Pasti ada apa-apanya. Kalian memang tidak ingat kalau dia juga menentang keberadaan kita?"

Niatnya sih hanya mau berkilah. Tapi ia malah mengkambing hitamkan Mayuzumi sekarang. Ya tapi tak apalah, yang penting dirinya selamat.

"Coba aku tanya Kuro-chin dulu." Murasakibara merogoh ponselnya kemudian menhubungi makhluk biru mungil yang ada di seberang sana.

Suasana ruangan menjadi kian menegang seiring terdengarnya nada sambung.

"Halo, Murasakibara-kun ada apa ya?" tanya Kuroko via telepon.

"Ano, Kuro-chin. Apa benar sekarang kau sedang dilamar Akashi-sensei?" Murasakibara langsung bertanya to the point.

Hening kemudian, kelompok pelangi sudah ketar-ketir. Takut pujaan hatinya akan menjawab iya.

"Siapa yang bilang, Murasakibara-kun?"

"Kakakmu."

Greget, Kise langsung menyambar ponsel milik Murasakibara. "Kurokocchi, jadi kau beneran dilamar Akashi-sensei ssu?" tanyanya dengan nada bergetar.

"Kise-kun? Ah bukan begitu ceritanya. Aku tidak dilamar. Eh ngomong-ngomong kenapa ada Kise-kun juga? Kalian sedang kumpul?"

Seluruh orang di ruangan itu menghembuskan napas lega.

"Kami lagi rapat daru—AW! Aominecchi jangan cubit lenganku!"

Dengan sigap, Aomine mengambil ponsel pintar dari tangan Kise. "Tadi kami kebetulan bertemu, Tetsu."

"Eh? Ada Aomine-kun juga?"

"Ah, iya Tetsu. Sepertinya baterai ponsel milik Murasakibara sudah habis hahaha. Jaa!" tombol akhiri ia tekan dan cepat-cepat ponsel pintar itu di daya matikan demi kententraman jiwa. Sepasang iris navy lalu mengarah ke entitas kuning di sebelahnya. "Baka! Jangan sampai Tetsu tahu kalau kita sedang kumpul bersama! Bisa jadi di sebelahnya ada guru sialan itu!"

"Jadi…," si rambut lumut menatap satu persatu kawan seperjuangannya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Kalau menurutku, langsung saja sabotase!" usul Kagami semangat.

"Kalau Kurokocchi yang malah jadi sasaran amarahnya lagi bagaimana?"

Kagami memandang Kise mantap. "Berarti dia pecundang! Beraninya ngincar anak bawang. Kalau dari jumlah mah, kita pasti menang!"

Aomine mengangguk. "Kita pakai cara lama lagi? Pasang jebakan batman di kelas?"

"Err… kalau kayak biasa, sepertinya sudah terlalu mainstream ssu. Kalau Akashi-sensei bisa menghindarinya, nanti malah jadi sia-sia. Bisa diupgrade tidak? Demi kesucian Kurokocchi!"

Ibu jari dan telunjuk yang dibebat perban putih, menjepit dagu. "Akan kupikirkan nanodayo. Siapa saja yang ikut dalam rencana ini?"

"Aku/Aku ssu!" kelompok pelangi menjawab serentak.

Tak lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Kagami. Sang pemilik langsung membuka pesan tersebut dan membacanya.

[From: Mayuzumi Chihiro

To : Kagami Taiga

Subject : -

Sertakan aku jika kalian merencanakan sesuatu.]

Oh wow. Sepertinya kali ini aliansi mereka akan sangat kuat dengan bergabungnya salah satu petinggi sekolah di kelompoknya.

Tapi ngomong-ngomong, dari mana Mayuzumi tahu kalau mereka akan melakukan suatu hal?

.

.

Pasukan pengejar tersangka kebut-kebutan langsung mundur begitu melihat target mereka masuk ke dalam kediaman super megah.

Bukannya kebal hukum sih. Tapi mereka malas cari perkara dengan para makhluk berduit itu. Jangan ah, nanti bisa tenar macam pelaku peracun es kopi Vietnam dari negeri sebrang.

Diparkirkan secara asal-asalan, Mayuzumi langsung menerobos pintu kayu jati berdaun dua.

"Tetsuya!" teriaknya panik.

Di depan TV layar besar, si mungil yang sedang dituju sedang duduk manis sambil menyedot minuman favoritnya. Sepasang azure memandang sang kakak dengan alis berkerut. "Ada apa nii-san? Kenapa panik sekali?"

Langkah besar diambil oleh si sulung. Kedua tangan langsung mencengkram pundak adiknya. "Kau tidak sedang dilamar Akashi kan?"

Kuroko gagal paham situasi ini, makanya dengan polos ia menggeleng.

"Syukurlah…" cengkraman Mayuzumi mengendur. Dengan lunglai, ia duduk menyadar tepat di sebelah adiknya.

"Katanya baru sore nanti selesainya. Kenapa sekarang sudah pulang, hah?" Suara lain menyahut dari belakang. Nijimura baru saja keluar dari dapur. Ia masih menggunakan apron masak. Namun pemandangan yang nampak biasa bagi orang lain, terlihat begitu istimewa di mata Mayuzumi.

"Monyong? Ngapain kau ada di sini?" tanya Mayuzumi bingung setelah sempat terpana sesaat.

"Ibumu kan datang. Masa iya aku mau menjadi menantu kurang ajar yang tidak perhatian ke calon mertua? Ya mumpung hari ini sedang lowong, jadi main saja deh ke sini. Lumayan, sekalian cari-cari perhatian." Jawabnya jujur.

Tanpa bangkit dari posisi duduknya, Mayuzumi kembali bertanya, "Tadi Akashi ke sini?"

Nijimura mengangguk. "Sebentar doang sepertinya. Aku datang dia sudah tidak ada. Katanya sih diusir sama orang yang duduk di sampingmu itu." jari telunjuk mengarah tepat ke entitas biru yang masih setia memunggunginya.

"Kupingku masih sangat normal, Shuuzo-nii. Kalau mau main sindir-sindiran, mending di depan muka saja biar tidak ada salah paham." Sedikit jengah, Kuroko berucap dengan nada datarnya.

"Diusir? Kenapa? Apa dia melakukan tindakan asusila terhadapmu, Tetsuya?" tanya Mayuzumi khawatir.

Kuroko berdecak kesal. "Nii-san kepo ih." Pemuda yang masih setia dengan piyama bergambar gelas milkshake ittu bangkit dan berjalan menuju tangga. Mungkin ia ingin kembali ke kamar agak tak dirusuhi oleh kakaknya yang super menyebalkan—tapi sayang ini.

Nijimura langsung merampas posisi yang ditinggalkan Kuroko.

"Ibuku ada di mana?"

"Di dapur. Sedang eksperimen dengan koki di sana."

Mayuzumi mengangguk maklum.

Pernah dengar pepatah tidak ada manusia yang sempurna? Kuroko Tetsuko lah salah satu contohnya. Walaupun pintar, berpenampilan memukau, dan memilii dua buah hati yang tumbuh menjadi dua pemuda yang dapat diandalkan. Tapi Tetsuko sama sekali tidak pandai akan urusan dapur. Untung saja keluarganya bercukupan. Kalau tidak bisa sengsara suaminya nanti—ya walau pada akhirnya lelaki setengah beruntung itu tetap sengsara hingga rela mengakhiri janji suci mereka.

"Ngomong-ngomong… kenapa kau pulang cepat? Tunggu biar kutebak, kau… meninggalkan rapat itu?" tanya Nijimura.

Mayuzumi mengangguk.

"Demi Tetsuya?"

Anggukan lagi sebagai jawaban.

"Karena Akashi datang ke sini?"

Sebelum Mayuzumi selesai mengangguk, Nijimura mengunci leher kekasihnya itu dengan jurus andalannya.

Dasar calon suami tidak bertanggung jawab!

.

.

Demi Tuhan, baru kali ini Nijimura menyaksikan bagaimana sisa-sisa dari perang dunia ketiga secara langsung.

Makan siang bersama di kediaman kekasihnya hari ini, sama sekali tidak menyisakan kenangan bagus semenjak suapan pertama. Nijimura langsung merasa kenyang begitu aura mencekan menguasai ruang makan ini.

Kedatangan sang kepala keluarga, Mayuzumi Kazuto, membuat genderang perang kembali ditabuh. Sebenarnya sih, kalau hati kecilnya ditanya, ia masih sayang dengan mantan istri yang kini sedang makan tepat di hadapannya. Tapi egonya sama sekali tak mengijinkan. Ya, semacam tsudere itu lah.

"Jadi, untuk apa kau datang ke sini?" tanya pria paruh baya itu.

Tetsuko mengelap mulutnya dengan menggunakan serbet. "Menjengguk kedua putraku lah. Memangnya apalagi? Jangan kira hak asuh atas Tetsuya jatuh kepadamu ya. Kalau bukan karena ia yang memohon sampai mogok makan tiga hari tiga malam, aku juga enggan mengizinkannya sekolah di sini."

Nijimura heran bagaimana dua kakak-beradik itu masih bisa menyantap makanannya dengan tenang. Padahal, melirik makanannya saja, ia sudah malas. Perutnya serasa melilit.

"Kudengar kau menjodohkan Tetsuya dengan pewaris tunggal Akashi corp. itu?"

"UHUK!" Mayuzumi tersedak. Matanya langsung melirik sinis ke arah sang adik. Cepat-cepat, segelas air disuguhkan Nijimura ke hadapan kekasihnya. "Kenapa okaa-san menjodohkan Tetsuya dengan Akashi? Aku pokoknya menolak! Akashi tidak cocok untuk Tetsuya!" ujarnya agak emosi.

"Siapa juga yang mau dijodohkan dengan guru mesum itu, nii-san."

Satu-satunya wanita di ruangan itu mengulas senyum penuh arti. "Seijuurou bilang kemarin kau sampai memberinya hadiah supaya dimaafkan, Tetsuya." Tentu saja Tetsuko sengaja menambah bensin dalan kobaran api.

"KAU MEMBERI AKASHI HADIAH?!" Mayuzumi kini berada di puncak emosinya. Awas saja kalau ia sampai bertemu dengan setan kepala merah itu. huh, pulang-pulang bisa tinggal nama.

Pipi si mungil dikembungkan, kesal. "Itu ide Shuuzo-nii!" permasalahan dilempar ke pemuda surai arang.

"Ih kok aku?!"

"Katanya, 'lempar saja benda kesayangannya. Nanti juga jinak lagi' begitu." Ucap Kuroko sambil menirukan gaya bicara Nijimura.

"Terus, kau ngasihnya dilempar seperti kata-kataku?"

Seketika, nyali Kuroko menciut. "Ya tidak sih, aku bungkus pakai kotak terus kutaruh diam-diam di dekat bajunya."

"EHH—KOK MALAH AKU YANG SALAH?" Nijimura bergerak gelisah begitu Mayuzumi menghadiahinya tatapan maut.

"Tentu saja! Teganya kau menodai Tetsuyaku yang polos!"

Tetsuko menghembuskan napas panjang sesaat. "Sudah-sudah, Chi-chan, sifatmu dari kecil belum berubah juga ya. Tet-chan kan sudah besar, ya wajarlah kalau ia sudah bertemu dengan tambatan hatiny—"

"TAPI KENAPA HARUS AKASHI YANG ITU, KAA-SAN?!"

"Ya kalau itu pilihannya Tet-chan sendiri memangnya kenapa? Lagi juga ia dari keluarga yang baik-baik. Lumayan kan kalau anak kesayangan kaa-san jadi nyonya besar Akashi. Tujuh turunan bisa mandi susu mulu supaya awet muda."

"Aku dan Akashi-sensei tidak ada hubungan apa-apa, kaa-san. Jangan membesar-besarkan hal sepele deh." Ujar Kuroko malas sambil merotasi kedua bola matanya.

Sang ayah hanya diam di atas kursinya. Huh, ia selalu saja ketinggalan berita. Kalah saing dengan mantan istrinya yang selalu up to date.

Sama seperti minggu kemarin, ketika pada akhirnya ia dan Tetsuko berebut saham hanya karena tinggal satu slot yang tersisa. Seandainya ia tahu kalau harga saham itu lagi bagus lebih cepat, maka perang dingin yang entah untuk keberapakalinya, mungkin takkan ada untuk saat ini.

"Kalau Tet-chan nanti menikah dengan penerus Akashi corp. perusahaan Kuroko akan makmur lho, sayang. Aliansi kita jadi kuat. Tidak seperti perusahaan milik kakek tua di ujung sana." Sindiir Tetsuko.

"Kaa-san, jangan sindir-menyindir deh. Aku kan juga kena jadinya." Ucap Mayuzumi agak risih.

Tetsuko hanya tertawa renyah. "Chi-chan, pintu perusahaan Kuroko masih terbuka lebar untuk kamu kok."

Ok, biarkan emosi Mayuzumi Kazuto meledak sekarang. "Jangan, Chihiro. Kamu itu laki-laki, tidak usah masuk ke dalam dunia mode seperti wanita. Lagipula, kemarin kan kita sudah melebarkan sayap ke China. Mubazir kalau lepas jabatan demi perusahaan kecil."

"Oh, jadi kau bilang perusahaan keluargaku kecil hah?" nada Tetsuko meninggi satu oktaf.

Kazuto menyeringai remeh. "Memang benar begitu kan?"

Wanita setengah abad itu awalnya hanya merapalkan cacian tidak jelas. Namun perlahan, benda-benda abstrak mulai bertebrangan. Demi menyelamatkan nyawa, Nijimura mengungsikan tubuhnya ke bawah meja makan. Ia heran, bagaimana dua kakak-beradik itu bisa tahan di situasi seperti ini. Namun ketika ia melirik ke arah tempat duduk Mayuzumi dan Kuroko, irisnya membola.

Ah, iya benar. Mayuzumi dan Kuroko sangat bisa melakukan misdirection mereka untuk kabur dari kekacauan ini.

.

.

"Tetsuya," panggil Mayuzumi ketika keduanya mengungsikan diri ke halaman belakang. Kuroko yang sekarang sibuk dengan ponselnya hanya bisa mengangguk, menggantikan jawaban verbal. "Apa benar kau suka Akashi?"

Si biru menghela napas panjang. "Nii-san percaya kata-kata okaa-san?"

"Bukan itu maksudku!" helaian kelabu diacak kasar. "Aku serius, Tetsuya. Dan berhenti menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga."

Kuroko mematikan ponselnya kemudian memasukannya ke dalam saku celana. "Tidak tahu. Ada saat aku kesal setengah mati sampai ingin mendepaknya keluar dari sekolah. Ada juga saat dimana…"

"Dimana?" tanya Mayuzumi penasaran.

Sepasang azure itu menerawang jauh ke atas langit cerah. "Saat dimana aku ingin melempar wajahnya dengan sepatuku lagi, nii-san."

Mayuzumi tepuk jidat.

Sungguh, adiknya ini terlalu polos atau memang bodoh sih? Ya, iya sih, Mayuzumi juga ingin melakukan hal itu untuk Akashi. TAPI BUKAN INI PERMASALAHANNYA!

Kuroko yang benar-benar menyukai Akashi adalah kiamat bagi Mayuzumi.

"Tapi…" ucapan Kuroko membuyarkan lamunan Mayuzumi.

"Tapi?"

Kuroko memasang tampang berpikir. "Akashi-sensei memang tampan sih. Penerus Akashi corp. pula. Aku jadi ingin seperti dia. Eh? Nii-san?"

Kosong sudah raga Mayuzumi.

.

.

Waktu terasa cepat jika kita menikmatinya. Sama seperti Kuroko yang sangat menikmati akhir pekan tenangnya. Rasanya baru tadi ia memejamkan mata, dan kini, alarm hari senin menyapa gendang telinga. Kalau tidak sayang barang mah, sudah dari tadi ia melempar benda keparat itu. Kasurnya saja masih belum mau ditinggal pergi.

Meski agak terpaksa, Kuroko bangkit dari habitatnya dan merenggangkan seluruh tubuhnya. Setelah bersiap memakai seragam, si kecil turun menuju ruang makan.

Ibunya sudah pulang dari kemarin malam, hanya tersisa sang ayah dan kakaknya di atas meja itu. Namun,

"ASTAGA, TETSUYA! KAU KENAPA?"

Oh iya. Baru kali ini ayahnya melihat penampilan baru Kuroko.

.

.

Kelompok pelangi minus ratu haremnya, mengendap diam-diam ke ruang guru dimana kursi Akashi berada. Mereka bangun dan berangkat sangat pagi untuk menyiapkan hal ini. Beruntung, Mayuzumi sempat mengirimkan kunci duplikat ruangan itu dengan syarat, mereka tidak boleh melakukan hal yang aneh-aneh terkecuali di bangku musuh abadi mereka itu.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Kagami begitu melihat kawan-kawannya sudah dilengkapi dengan peralatan perang.

"Aku akan menaruh tikus dan serangga-serangga ini di lokernya." dengan bangga, Aomine memamerkan peliharaan-peliharaan kecilnya.

Kise menunjukkan raut jijiknya. Si pirang memilih untuk bersembunyi dibalik punggung kokoh Murasakibara agar tidak dijahili Aomine. "Ew, jangan dekat-dekat denganku, Aominecchi!"

Midorima membenarkan letak kacamatanya. "Hmph, aku akan mempereteli bangkunya. Jadi kalau ia duduk, benda ini akan runtuh nanodayo."

"Lah? Bukannya itu sudah pernah ssu?"

Sebuah senyuman dikulum pemuda bersurai lumut itu. "kalau kemarin kan hanya kakinya yang digergaji. Kalau sekarang, semuanya. Tapi tenang saja, benda ini tidak akan hancur sebelum ada yang menduduki."

Kise mengangguk paham. "Kalau Murasakibaracchi?"

"Hmm… aku? Aku hanya akan mengolesi seluruh mejanya dengan gula cair ini~"

"Wow, inovasi baru, Murasakibara!" puji Kagami polos.

Aomine merotasi matanya. "Memang kalau kau apa?"

Si alis cabang mengeluarkan benda-benda itu dari tas sekolahnya. Kelompok pelangi lainnya hanya bisa telan ludah. Temannya ini, serius tidak akan melakukan tindak kekerasan kan? Benda serupa—atau bahkan persis diletakkan di atas meja. Kagami mulai menancapkan benda itu satu persatu.

Sebuah gunting merah persis dengan apa yang dibeli oleh Kuroko tempo hari.

"Setidaknya aku akan memberikannya sedikit teror." Ujarnya santai.

Yang lainnya mengangguk kaku. Di balik tampang polos Kagami, ternyata ada jiwa yandere yang tersembunyi. Sama seperti merah yang satu lagi.

.

.

Ketika Kuroko sampai di sekolah, mereka sudah duduk anteng di kursi masing-masing.

"Ohayou, Kurokocchi!" seperti biasa, Kise mencoba untuk memeluk Kuroko. Namun sang target selalu bisa menghindar dengan jurus andalannya.

"Kuroko mau ke Majiba pulang sekolah nanti?" tawar Kagami seperti biasa juga.

Kuroko mengangguk. "Boleh, lagipula aku sedang kosong sore ini."

"Aku ikut!" timpal Aomine

"Hmph, aku ikut juga nodayo."

"Hee~ sepertinya aku juga mau coba cheese burgernya~"

Meskipun seorang observan, Kuroko itu polos dan lugu. Hingga tak menyadari sisi kelam kawan-kawannya ini.

Ya, biarlah.

Lagi pula kalau Akashi merana, dirinya juga akan ikut senang.


To Be Continued


Pada akhirnya saya gak bisa ngeskip cerita ini kejauhan :'( /pundung di pojokkan

Iya progresnya masih benci-banci-sayang lho. bisa dibilang slow plot bisa juga nggak sih /plak

btw saya ga tau kapan up chap terakhirnya :'D mengingat september nanti saya udah mulai ke rutinitas kuliah saya, sepertinya untuk sementara saya akan hiatus demi meningkatkan ipk :"))))

Jangan ditutup dulu. ada omakenya di bawah :'D

Balasan Review "

MayuyuzumiAsari Ih kamu masa belum baca udah ngereview May xD www semoga suka momen madesu-monyongnya :'))) Shinju Hatsune Masa sh baper? :'( kan tagnya humor pi :"))) Shouraichi Rein Kuroko harus dilindungi meskipun mereka jadi penjahat /hush xD ini lanjutannya, semoga suka xD Siscarilia iya sis tadinya mau OS tapi kepanjangan. ya sudah, aku jadiin mc www xD ini lanjutannya semoga suka xD Lisette Lykouleon iya, aturan tetsuya terlahir sebagai wanita :'( kenapa dia harus punya batang sih Dx /plak Daisy Uchiha ini udah di up neng :"))) semoga eneng suka /plak. Tetsuya masih agak tsundere soalnya. susah dijinakkin /hush. semoga suka xD BlueSky Shin Akashi henshin dong jadi kamen rider? /ga gt. Akashi g berubah kok :")) cuman labil aja Daehoney iya xD ada sequelnya ini kak xD abisan sayang ditamatin /heh. Iya, soalnya kalau dimanjain, Kurokonya nanti jadi makin bebal :"))) semoga suka chap yg ini ~ siucchi you know what I feel bro :") arudachan ini... humor kok aru xD jangan ketipu sm anuannya /heh iya utang banyak nih :") semoga bisa dituntasin semuanya hehehe

So minna,

mind to review? :'D


Omake

"SEJAK KAPAN KAU PAKAI BAJU PEREMPUAN BEGINI? APA CHIHIRO YANG MENYURUHMU?" seru ayahnya heboh.

Kuroko hanya bisa merotasi sepasang azurenya. "Bukan nii-san pelakunya, otou-san. Ya walaupun aku yakin nii-san juga ikut berkontribusi."

"Lalu siapa?! Siapa yang berani-beraninya mengubah anak kesayanga tou-san jadi sosok sesempurna ini?"

Hembusan napas kecil terdengar. Sabar Tetsuya, bagaimana pun juga ia adalah orang tuamu. Batin Kuroko.

"Ini hanya perjanjian konyol yang dilakukan Akashi-sensei karena nilaiku agak jeblok. Tenang saja, tou-san. Aku akan kembali normal lagi nanti."

Mayuzumi Kazuto malah menunjukkan raut kecewa setelah Kuroko mengatakan hal tersebut. Sungguh, memiliki anak perempuan adalah impiannya sejak dulu.

Padahal saat Tetsuko hamil anak kedua mereka, hasil USG menunjukkan bahwa janinnya berkelamin perempuan. Tapi kok pas lahir malah pemuda cantik yang bikin om-om belok sih?

Rasanya ia jadi ingin tertawa miris.

"Kau boleh kok berpakaian seperti itu setiap saat." Ucap ayahnya monoton.

Dan beruntung, Kuroko tidak tersedak susu vanilla yang sedang diminumnya.