Sleep With the Devil (KookV version)

Story by Santhy Agatha

Rated : M

Cast :

Kim Taehyung as Lana

Jeon Jungkook as Mikail Reveno

Kim Namjoon as Norman

Warning : ini YAOI dan bukan GS, M-preg, typo(s).

...

a/n : Seperti yang tertera di atas, semua isi cerita ini adalah milik kak Santhy Agatha. Saya hanya meremake cerita ini dengan tambahan/pengurangan beberapa kata agar lebih cocok dengan tema yaoi-nya. Mohon maaf kalau ada beberapa kata yang tidak teredit. Intinya, saya cuma mau memuaskan para KookV shipper yang barangkali ingin membaca remake novel ini versi KookV-nya.

...

BAB 2

Perjalanan itu terasa menyiksa dan panjang. Tubuh Taehyung dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Jungkook ke bagasi dan dikunci dari luar.

Taehyung berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhrnya ia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang semakin menipis, Taehyung terdiam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya?

Lama sekali Taehyung menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat. Terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti.

Suara pintu mobil dibanting. Dan syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Taehyung bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur. Ah ya Tuhan, semoga semudah itu. Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.

"Kim Taehyung," itu suara Jungkook dan lelaki itu memanggil namanya.

Wajah Taehyung langsung pucat pasi. Lelaki itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!

"Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak," ada seberkas senyum di suara Jungkook. Kurang ajar. Lelaki itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya! "Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak ramah. Kusarankan kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh."

Rumah Jeon Jungkook. Taehyung memejamkan matanya frustrasi. Dari informasi yang ia dapatkan, rumah Jungkook terletak di atas tanah yang begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal Jungkook. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan Jungkook. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin Jungkook.

"Bagaimana Taehyung? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang," suara Jungkook di luar menyadarkan Taehyung dari lamunannya.

"Kenapa kau membawaku kemari?" gumam Taehyung penuh keberanian.

Terdengar suara Jungkook terkekeh di luar sana, "menurutmu kenapa, Taehyung? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?" suara Jungkook terdengar dekat, "kau sudah bermain api," bisiknya, "sekarang saatnya kau untuk terbakar."

Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Taehyung belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Di belakang Jungkook yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, Taehyung tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau Taehyung berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka.

Jungkook mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk, "silahkan Tuan Puteri, biarkan aku membantumu keluar," gumamnya mengejek.

Taehyung menatap tangan itu lalu menggeram marah. Kurang ajar sekali iblis yang satu ini!

Dengan marah, ditepiskannya tangan Jungkook dan ia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat dalam ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo.

Akhirnya Taehyung berhasil keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya.

Jungkook mengamati Taehyung dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya, "mari, silahkan masuk. Selamat datang di rumahku."

Setengah memaksa lelaki itu mencengkeram lengan Taehyung yang kaku lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Bagian depan ruang tamu Jungkook sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.

Jungkook membawa Taehyung menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki tangga. Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih.

"Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang," gumam Jungkook datar.

Taehyung membelalakkan mata, marah pada Jungkook, "atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal dimana? Aku mau pulang!"

Bibir Jungkook masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak. Mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin.

"Kau tidak bisa pulang. Sekarang, ini adalah rumahmu. Bersamaku."

Dengan cepat lelaki itu merengkuh pundak Taehyung, dan detik itu Taehyung menyadari bahwa lelaki itu akan menciumnya. Secepat mungkin ia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Jungkook hanya mendarat di pelipisnya.

Cengkeraman Jungkook di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan.

"Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satu-satunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau... Mati," dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam, Jungkook membuka pintu putih itu, dan mendorong Taehyung masuk lalu menguncinya dari luar. Meninggalkan Taehyung yang memukul-mukul dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.

.

"Menurutmu, apakah dia sudah siap untukku?" Jungkook mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa di dalam kamarnya. Hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, lelaki itu menyesap anggurnya, lalu menatap Kim Namjoon, pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri di depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.

"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada Anda, tetapi siap membunuh Anda. Tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian."

Jungkook tersenyum tipis mendengar jawaban dari Namjoon, "ya, tatapan matanya membara, penuh kebencian," Jungkook menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya, "tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini."

"Ya, saya tahu," jawab Namjoon tenang, "apakah Anda akan memaksanya...?"

"Aku tidak suka memaksa, kau tentu tahu."

Jungkook terbiasa dikelilingi oleh banyak orang yang menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorangpun yang mampu menolak pesona Jeon Jungkook. Dengan rambut hitam legam, mata sehitam malam dan wajah aristrokatnya, hampir bisa dikatakan sempurna seperti malaikat... Kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam, menakutkan. Jungkook bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.

"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela."

Tentu saja. Gumam Namjoon dalam hati. Kata-kata Jungkook bagaikan perintah baginya.

.

Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk keras, dan tidak bisa digunakan untuk main-main. Namjoon mengamati bubuk putih dalam wadah kecil didepannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif. Dan kalau lelaki itu meminumnya, maka dia akan menyerah pada Jungkook, dan menyenangkan tuannya.

Dengan gerakan pelan yang penuh perhitungan, Namjoon mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman yang akan disajikan pada Taehyung.

Obat ini akan membuat siapapun yang meminumnya tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, lelaki itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Namjoon yakin, Taehyung akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.

Malam ini lelaki itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku. Namjoon tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.

.

Sudah hampir satu jam Taehyung dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, disemua furniture-nya. Kamar ini dibuat untuk para tamu spesial Jungkook, dan Taehyung merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Jungkook yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini.

Salah seorang pengawal Jungkook yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apa-apa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar.

Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, Taehyung mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu.

Perutnya keroncongan, dan ia merasa haus. Ia belum makan sejak tadi siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Jeon Jungkook, dan sekarang ia kena batunya.

Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih hangat.

Mungkin jika aku mengintip sedikit apa makanannya... tidak! Taehyung menghardik dirinya sendiri dalam hati. Ia tidak akan makan, lebih baik ia mati kelaparan daripada harus menyerah pada kekuasaan Jeon Jungkook.

Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa. Taehyung melirik haus pada minuman di atas nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda.

Akhirnya Taehyung menyerah. Ia haus sampai terasa akan pingsan, dan ia harus minum, kalau tidak ia mungkin akan benar-benar pingsan. Taehyung tidak boleh pingsan, ia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.

Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya.

Tanpa sadar segelas minuman itu tandas sudah diminumnya, Taehyung meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah. Tapi bagaimanapun juga ia tidak menyesal. Ia merasa lebih baik. Sekarang ia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini.

Mata Taehyung berputar, ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana, yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Taehyung bisa mencari cara keluar dari sana.

Dengan hati-hati Taehyung melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa. Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat. Lagipula Taehyung baru menyadari bahwa ia berada di lantai dua, kalaupun ia bisa membuka jendela itu, ia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.

Taehyung mencoba berpikir, ia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan. Dengan cepat ia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung. Entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar... Kepanasan...

Ada apa ini? Taehyung meraba dahinya sendiri, terasa ia demam? Napas Taehyung terengah, semuanya terasa panas... terasa panas... Taehyung sangat butuh...

.

Jungkook membuka pintu kamar tempat Taehyung dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Jungkook tidak mengharapkan Taehyung masih bangun.

Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata Jungkook menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis.

Dasar keras kepala. Geram Jungkook dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam Jungkook dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Dia tidak tahu bahwa Jungkook akan menggunakan segala cara untuk membuat Taehyung menyerah padanya...

Gerakan gemerisik di ranjang membuat Jungkook menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Jungkook melihat Taehyung terbaring di sana, gelisah. Lelaki itu belum tidur rupanya... Dan dia tampak... tidak tenang.

Ingin tahu, Jungkook pun mendekat, dan menemukan Taehyung berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan.

"Tolong... panas..." suara Taehyung mendesah, serak seperti kesakitan.

Mengernyitkan keningnya, Jungkook duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Taehyung, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Jungkook makin dalam, lalu kenapa lelaki ini bilang kalau dia kepanasan?

"Kau mau minum?" dengan cekatan Jungkook mengambil gelas air di meja pinggir ranjang, "kesini, biarkan aku membantumu minum."

Jungkook bangkit dan mengangkat tubuh Taehyung, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Taehyung menggayut lemah di lengannya, dan napas lelaki itu terengah.

"Panas... Tolong... panas sekali..." Sekali lagi Taehyung mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa.

Jungkook meminumkan air itu kepada Taehyung, dan dengan rakus Taehyung menyesap air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan ia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.

Pasti ada sesuatu... Jangan-jangan...

Jungkook memundurkan tubuh Taehyung yang bersandar padanya, supaya ia bisa mengamati Taehyung dengan jelas.

Wajah Taehyung merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan... Jangan-jangan...

Dengan cepat Jungkook membaringkan Taehyung di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya, dan berteriak.

"Namjoon!"

Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, Namjoon muncul di depan Jungkook.

"Ya, Tuan?"

"Kau campurkan apa ke dalam minumannya Taehyung?"

Namjoon sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi, "Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa."

Wajah Jungkook mengeras, "ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalat siapapun dalam pengaruh obat. Kau melakukannya sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah, aku bisa menghukummu."

Namjoon tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Jungkook, "Anda memerintahkan saya untuk membuat laki-laki itu menyerah. Dia sangat membenci Anda, dan pasti akan berontak mati-matian. Obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah," Namjoon menatap mata Jungkook, "Anda bisa meninggalkan kamar ini kalau Anda tidak ingin memanfaatkannya."

"Dia kesakitan, kau tahu itu," geram Jungkook marah.

Namjoon mengangkat bahunya, "Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah Anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut."

"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"

"Dosis biasa Tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya."

"Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau bisa juga sepanjang malam?"

"Ini bisa berlangsung selama Anda ingin bersenang-senang, Tuan."

Jungkook terdiam. Kata-kata Namjoon terasa begitu menggoda.

.

Jungkook kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat Taehyung kembali.

Taehyung masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika Jungkook duduk di atas ranjang. Taehyung menatap Jungkook dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.

"Aku sakit... tubuhku... panas..."

Jungkook tersenyum dengan kelembutan yang aneh. Taehyung benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Taehyung dari kesakitannya. Dan Taehyung membutuhkan Jungkook untuk itu.

Jungkook mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir milik Taehyung, mendapati mata Taehyung membelalak kaget. Jungkook tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.

"Kau tidak menyukainya?" bisik Jungkook lembut.

Taehyung menatap Jungkook, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus, "aku... apa yang terjadi pada tubuhku?"

Jungkook mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya pada pipi Taehyung, membuat tubuh lelaki itu bergetar.

"Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat kedalam air yang kau minum..."

"Obat...? Apakah aku diracuni?"

"Itu bukan racun, Taehyung. Obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan."

Taehyung butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Jungkook, sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi Jungkook.

Tetapi Jungkook merengkuh tubuh Taehyung lagi dan berbisik lembut di telinganya.

"Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu," sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Taehyung.

Erangan Taehyung ketika merasakan jemari Jungkook menyentuhnya terdengar begitu menderita, "terlalu sensitif, Sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera, bukan?" Tangan Jungkook bergerak ke pusat gairah Taehyung.

"Tidak!" Taehyung mencoba berteriak dan mencengkeram lengan Jungkook, "jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"

"Ini satu-satunya cara agar kau tidak kesakitan lagi, Sayang," suara Jungkook terdengar sedikit parau, "biarkan aku membantumu."

Taehyung mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan Jungkook. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Taehyung membutuhkan jemari Jungkook... Ia membutuhkan...

"Aku akan menolongmu, Taehyung. Tetapi kau juga harus menolongku. Aku juga butuh pelepasan sendiri. Lihat aku, Taehyung, lihatlah tubuhku."

Jungkook membuka jubah sutra hitamnya, dan tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Napas Taehyung tercekat ketika melihat bukti gairah Jungkook yang begitu keras.

"Gunakan diriku, Taehyung. Biarkan aku merasakan tubuhku ada di dalam tubuhmu dan menyembuhkanmu."

Kata-kata itu adalah satu-satunya kata yang mirip dengan permintaan yang pernah Jungkook gunakan pada banyak kekasihnya, dan hanya ia lakukan kepada Taehyung. Jungkook melakukannya karena ia sangat bergairah kepada Taehyung, ia amat sangat bergairah, dan Taehyung tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya.

Tubuh Jungkook sudah menindih Taehyung, dan lelaki itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Jungkook menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh Taehyung dibawahnya. Jungkook menunduk dan mencicipi bibir Taehyung yang begitu menggoda dan menggairahkan, bibir itu begitu manis dan lembut.

"Tenang sayang, aku mungkin akan menyakitimu," Jungkook menahan pinggul Taehyung dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang. Taehyung sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu, "tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan."

Detik itu juga Jungkook mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Taehyung. Hati-Hati. Jungkook menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Taehyung.

Hati-hati, lelaki ini masih belum dijamah oleh siapapun. Jungkook mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Jungkook memasukinya, dan Jungkook mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Kim Taehyung adalah miliknya!

*TBC*

Mind to review?

Argh! sebenarnya agak bingung dengan scene 'penghalang itu ada', karena disinikan si Taetae cowok, dan dia tidak punya penghalang apapun. Tapi ya sudahlah, semoga aja gak ada yang bingung, tapi kalau mau kasih saran/kritik silahkan sampaikan dikotak review.

Saya gak nyangka bakal ada yang minat sama ff ini, dan banyak banget ternyata dan saya sangat terharu.

Maksih buat yang udah nyempetin waktu buat baca, ngereview, ngefav, ngefollow ff ini, saya sangat berterimakasih, karena kalian ff ini masih lanjut, jangan bosen baca sama ngereview lagi yaa!