Sebelumnya saya banyak berterima kepada smua yang ngereview.
Dan saya juga minta maaf kalo memang bahasanya agak gak enak TT^TT tapi memang ini yang bisa saya lakukan. Saya akan mencoba untuk lebih baik lagi.
Btw, ada yang bilang mirip ceritanya Heavenly hockey club..
SUMPAH! Saya juga baru nyadar pas baca reviews kalo fic buatan saya ini latarnya memang agak sama dengan Hockey club.
=.= baru sadar dan saya ga niat bikin cerita yang sama. Soalnya saya juga suka sama manga tersebut.
Yah sudahlah..mau bagaimana lagi..saya sudah pasrah
Btw disini Sasu dan Hinata saya bikin agak OOC =.= gak apa-apa ya, karena sebenarnya saya pengen bikin image si angkuh *Sasuke* jadi rada jelek.
Silahkan~
"Kau."
"…em.."
Kedua orang itu saling menatap dengan memasang wajah yang maupun Hinata tidak percaya mereka berdua bertemu untuk yang kedua kalinya, dan yang parahnya mereka itu sudah bertunangan.
"Nah Sasuke, bagaimana? Cantikan pilihan ku ini?" Fugaku merangkul badan Sasuke yang masih tercengang. Sedangkan Mikoto, sepertinya dia senang dengan keberadaan Hinata.
"Hahaha, kau bisa saja memang sih, Istriku kan cantik. Wah, anakmu sudah besar ya? Dan dia tampan juga." jawab Hiashi.
"Ya begitulah, nah Sasuke, bagaimana kalau kau sekarang berjalan-jalan dengan calon istrimu ini di taman.?" Fugaku mendorong Sasuke kearah Hinata, tapi Sasuke menahan dorongannya seakan-akan tidak mau.
"Taman mana?" tanya Sasuke kesal.
"Taman mana lagi? Rumah kita tamannya besar kan?" oh Fugaku, ternyata sifat sombong Sasuke berasal darimu.
"Oke, hey emm..Hinata-san temani aku ke taman, mau?" tanya Sasuke ogah-ogahan.
"I-iya."
…..**************************…
"Aku tidak menyangka kalau calonku itu kau." Sasuke memulai obrolannya dengan Hinata.
"Sa-saya juga tidak menyangka." Hinata berjalan di belakang Sasuke sambil menundukan kepalanya.
"Kau menerimanya?" Sasuke berbalik kearah Hinata.
"A-aku tidak bisa menolak permintaan Ayah." jawab Hinata malu-malu. Jujur saja, sebenarnya Hinata senang saat dia tahu pria yang akan menjadi suaminya adalah Sasuke.
"Hmm,kita belum berkenalan. Aku Sasuke dan kau?"
"A-aku Hinata."
"Hinata ya? Berapa usiamu?"
"Aku 18 tahun."
"Wah, calon istriku masih anak-anak rupanya, ahaha!" Sasuke tertawa kecil dan itu membuat Hinata sedikit kesal.
"Memangnya Sa-sasuke sendiri berapa?"
"Aku sih sudah dewasa! Aku 25 tahun." Sasuke mulai memamerkan keangkuhannya lagi. Kedewasaan tidak dilihat dari umur seseorang.
"Oh." Hinata kembali menunduk.
"Kau tidak kuliah?" Sasuke duduk disebuat kursi kayu yang menghadap ke sebuah kolam air mancur yang dihinggapi burung-burung kecil.
"Saya langsung kerja, mau bantu Oto-san cari uang." Hinata menghampiri Sasuke dan duduk di sebelahnya agak jauh.
"Seberapa susah sih keadaan keluargamu sampai-sampai kau tidak kuliah?"
"A-apa?" Hinata agak sedikit merasa dihina.
"Ya, kau tahu, aku ini kaya, dan kau ini miskin. Mungkin saja ini salah satu strategi ayahmu untuk memperbaiki kehidupannya."
ucap Sasuke mulai menhina keluarga Hinata.
"Ma-maaf kan saya kalau saya hanya orang miskin. Tapi sumpah demi Tuhan, saya dan ayah saya tidak ada maksud u-untuk mengambil harta atau uang anda. Sa-saya hanya menuruti apa keinginan ayah saja, dan ayah hanya menepati janjinya dengan ayah anda."
"Heh, tentu saja kau tidak akan mengaku. Kau itu cantik tapi hatimu busuk. Jangan-jangan sebenarnya kau sudah tahu tentang aku dan sengaja menyebrang supaya dapat perhatian dariku." Sasuke menatap wajah Hinata denagan tatapan yang sangat tidak enak, dan tentu saja kata-katanya membuat Hinata sangat sakit hati.
"A-anda benar-benar kejam, anda mengatakan bahwa anda su-sudah dewasa, tapi yang sa-saya lihat hanyalah sikap angkuh dari anda. Kalau anda tidak ingin menikah dengan saya, anda boleh untuk me-menolaknya. Sa-saya benar-benar berterima kasih.
Hinata pergi meninggalkan Sasuke yang dari tadi masih memandang jijik pada Hinata. Dengan tergesa-gesa Hinata mengelap air yang keluar dari matanya, dia tidak mau Ayahnya tahu kalau dia menangis.
….******************….
"Nah, anak-anak kami sudah menetapkan hari pernikahan kalian." Fugaku langsung ke topic pembicaraan saat Hinata dan Sasuke kembali.
"A-ayah sebenarnya aku.."
"Apa Sasuke? Kau tidak sabar ya? Tenang saja, pernikahan kalian akan diadakan besok lusa."
"A-apa? Bukankah itu terlalu cepat?" Sasuke tidak percaya dengan apa yang ia dengar, begitu pula dengan Hinata,dia hanya bisa menutup mulutnya.
"Keputusanku dah Hiashi sudah bulat! Kami akan menikahkan kalian besok lusa, tidak ada tapi-tapi."
…..
New Message
From
Sasuke
"Hey dobe, aku akan menikah besok lusa."
Reply?
Yes
New Message
From
Naruto
"Serius? Kok bisa? Kan kamu itu ga ada pacar?"
Reply?
Yes
"Gak tahu lah! Pusing!"
…
"Selamat atas pernikahan kalian! Istrimu cantik!"
"Terima kasih ya Kiba"
"Selamat ya Hina-chan, suami mu benar-benar tampan!"
"Ya, terima kasih Ten ten nee-san."
…
"Sasuke! Aku sudah memesan Hotel yang mewah dan Romantis untukmu dan istrimu, nikmatilah dan jangan buat aku kecewa!"
Fugaku dengan semangatnya menunjukan rasa bahagianya, karena putra keduanya kini sudah tidak melajang lagi.
"Nikmati bagaimana Oto-san?" Sasuke Sweatdrop.
"Nikmati sajalah! Bodoh sekali kau!" Fugaku menjitak kepala sasuke di depan banyak orang dan itu membuat Sasuke malu setengah mati.
"Hinata, jaga baik-baik suami mu ya? Dia itu masih seperti anak kecil." Mikoto memberikan pesan pada Hinata.
Hinata tersenyum dan mengangguk, tapi dia mencari seseorang yang menurutnya tidak terlihat dari selesainya acara pernikahan.
"Kau mencari siapa nak?" tanya Mikoto.
"Oto-san ada di mana? Aku tidak melihatnya."
"Oto-sanmu sudah pulang, katanya dia mau menangis sebanyak-banyaknya di rumah karena belum tega melepaskanmu.
"Oh begitu."
"Nah Sasuke! Sekarang juga bawa Istrimu ke kamar!" Fugaku dengan semangat 45nya segera memerintahkan Sasuke untuk membawa Hinata ke kamar hotel.
"Ayo Hinata."
"Eit! Kau harus menggendong dia!"
"Tapi kan?"
"Tidak ada tapi-tapi!"
Sasuke akhirnya menurut, dan dengan malu-malu Hinata pun mau di gendong ala bride style oleh sasuke.
Sesampainya di kamar.
"Dasar orang tua." Sasuke menggumam kesal.
"Sa-sasuke nii-san.."
"Apa?" Sasuke bertanya kepada Hinata yang masih memeluk lehernya.
"Bi-bisa turunkan aku?" Hinata dengan wajah merah padam memberanikan diri untuk berbicara.
"Ah iya." Sasuke lalu menurunkan Hinata dengan ragu-ragu? Dia sendiri tidak tahu.
"Sa-sasuke nii-san, a-anu aku boleh duluan mandi? Na-nanti aku siapkan airnya untukmu."
"Ah..i..iya." jawab Sasuke dengan gugup sambil melepaskan dasi dari kemejanya.
"Oh ya ampun, kenapa aku merasa panas?"
Hinata lalu masuk kedalam kamar mandi, dan dia hendak melepaskan gaun pengantinnya, tapi entah kenapa resletingnya tidak mau terbuka.
Sudah beberapa lama resleting itu ia paksa, tapi sepertinya tidak bisa terbuka. Lalu bagaimana caranya Hinata mandi?
"Sa-sasuke nii-san…" Hinata mengintip sedikit dari kamar mandi.
"Hmm?" balas sasuke yang sedang menunggu sambil menonton tv.
"Re-resleting ga-gaunku tidak bisa di buka."
"A-apa? Kok ga bisa?" tanya Sasuke ikut-ikutan gugup.
Sasuke lalu menghampiri Hinata dan dengan ragu-ragu dia memegang resleting itu, entah kenapa dengan kekuatan Sasuke, resleting itu gampang terbuka, dan denga jelas terekspose punggung Hinata yang putih dan mulus itu membuat Sasuke semakin gugup.
Terus menerus dia tarik kebawah resleting tersebut sampai akhirnya Hinata sadar bajunya sudah terbuka hingga pinggangnya.
"Ni-nii-san, su,sudah. Sudah bisa di buka..makasih banyak." Hinata segera masuk ke kamar mandi sambil menutup badan bagian depannya dengan gaunnya.
"Ah iya." Sasuke segera membalikan badannya dan menutup wajahnya dengan satu tangannya. "Kenapa aku berbuat seperti itu, aku kan tidak punya perasaan apa-apa padanya. Sadar Sasuke, Sadar!"
Hinata akhirnya selesai dengan kegiatanya, lalu dia berpakaian. Dia pasang baju tidur berbahan tipis. Terlihat oleh Sasuke kaki mulus Hinata dan punggung Hinata. Sasuke tidak menyangka Gadis yang ia nikahi benar-benar cantik.
Hinata berjalan menuju kaca dan mulai mengeringkan rambut panjangnya yang terurai basah. Sungguh pemandangan yang langka untuk Sasuke. Perlahan Sasuke menghampiri Hinata yang masih mengeringkan rambutnya, dan setelah ia tepat berada di belakang Hinata, ia peluk pinggang Hinata dan menyentuh perutnya yang rata.
Hinata kaget dan dia berhenti melanjutkan kegiatannya.
"Sa-sa-sasuke nii-san.." Hinata merasa tidak nyaman atas pelakuan Sasuke, dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Sasuke.
Tapi Sasuke malah mempererat pelukannya dan malah menaruh dagunya di atas pundak Hinata. Hembusan nafas Sasuke sangat terasa di kulit Hinata dan itu membuat Hinata merasa nyaman tapi sedikit takut.
"Hinata…"
"I-iya?"
"Aku.."
"I-iya Nii-san?"
"Aku ingin…"
"A-apa?"
"Tidur denganmu, sekarang."
TBC
Huaaa TT^TT *beneran nangis*
Menurut kalian apa fic ini saya lanjutkan saja?
Saya takut fic saya membuat kalian terkena penyakit mengenaskan.
SEKALI LAGI SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH
