Chapter 2 akhirnya saya publish!
Gomen kalau update nya lama banget. Soalnya saya mesti memeras otak saya yang mendung supaya bisa menjadi pelangi dan memberi inspirasi bagi saya(walah…)
Dan juga tugas sekolah yang menumpuk tentunya.
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak atas review-reviewnya. Saya senang sekali ada membaca dan me-review cerita saya. Saya juga berterima kasih atas saran-saran dan pendapat yang saya terima di email saya. Gomen, saya tidak bisa menyebutkan satu-per satu (soalnya saya mudah lupa! Hehehe…..)
Saya juga menerima kritik dan flame supaya saya bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan saya.
Okeh! Langsung saja!
.
.
.
.
Summary : Naruto dan teman-temannya telah memenangkan perang shinobi ke 4. Tapi karena alasan tertentu para petinggi desa, nyawa Naruto dalam bahaya. Bagaimana Naruto menghadapinya? Dan bagaimana kisah cintanya?
Warning : OOC , GAJE , ceritanya sangat berbeda dari kemungkinan yang sebenarnya , alur semrawut.
Rate : T
Pairing
NaruSaku
Get Ready…..
Set…
Here We Go!...
I Wish You Happy
By : El Corona
Chapter 2 : Just Friends ?
Terlihat seorang perempuan sedang mengamati ukiran wajah para Hokage yang ada di tebing. Hokage merupakan ninja yang berjuang untuk desa Konoha walaupun nyawa taruhannya. Jasa para Hokage dilambangkan dengan ukiran wajah mereka yang dibuat agar semua orang di desa tetap mengenang jasa mereka.
"Kak Tsunade" panggil seorang perempuan berambut hitam sedang menggendong babi.
"Ada apa Shizune?" pandangan perempuan itu tidak beralih dari semula.
"Apakah kita tetap akan melaksanakan misi itu? Apakah ini tidak terlalu berbahaya bagi Dia?" Tanya wanita bernama Shizune itu.
"…" Tsunade diam hanya menyiratkan tatapan kosong. Tapi beberapa saat kemudian seulas senyum tampak di bibirnya.
" Kau tahu Shizune?"Tanya sang hokage kelima itu kepada asistennya.
"…..?" Shizune terlihat bingung.
"Aku telah lama hidup dalam pertempuran berdarah yang menyebabkan banyak sekali penderitaan dan kematian. Aku telah melihat banyak darah dari korban yang berjatuhan."
Ucapnya lirih.
"Dari semua pertempuran yang aku jalani, aku telah banyak melihat ninja-ninja hebat bertarung. Dari sekian banyaknya ninja-ninja hebat itu aku telah melihat sosok ninja sejati dalam diri Jiraiya dan Minato". Menurut Tsunade, kedua orang itu merupakan ninja terhebat yang pernah dia temui.
"Dan suatu saat, pasti ada ninja lain yang akan melampaui mereka". Tsunade lalu menoleh kepada Shizune dan dengan mantap berkata…
"Aku yakin hanya Naruto yang bisa melakukannya!".
Shizune pun tersenyum mendengar perkataan seniornya tersebut. Ya Tsunade, Jiraiya dan Minato memang menaruh harapan mereka pada Naruto. Mereka yakin suatu saat Naruto akan menjadi pembawa kedamaian bagi seluruh dunia.
.
.
.
.
Sementara itu di kedai ramen…
"Jadi Sasuke sudah menjadi ANBU?" Tanya Naruto kepada senseinya.
"Begitulah" kata senseinya yang berambut silver itu yang makan sambil membaca buku kesayangannya.
"Jadi tidak heran kau tidak akan melihatnya beberapa hari ini. Karena misi ANBU biasanya memakan waktu lama" gurunya itu menjelaskan panjang lebar.
Naruto masih asyik menyeruput ramen kesukaannya.
"Sayang sekali…."
"Kau tahu Naruto?" senseinya itu memecah keheningan.
"Apa?" Tanya Naruto.
"Semenjak kau pergi dari desa Sakura sering menanyakan kabarmu"
"Eh ….. benarkah?" wajah Naruto mulai memerah. 'Sakura-chan menanyakan kabarku. Apa aku tidak salah dengar?'.
"Bukankah sekarang sudah ada Sasuke di sisinya. Kenapa dia masih mengkhawatirkan aku?"
"Kau salah Naruto". perkataan Kakashi membuat Naruto penasaran.
"Selama ini yang dipikirkannya hanya kau. Selama Sasuke menjadi missing-nin kau selalu ada untuknya. Dan tanpa kau sadari, sebenarnya dia me…..".
"Baiklah-baiklah….. sudah cukup!" potong Naruto. Naruto malah semakin bingung dengan apa yang baru saja didengarnya.
'Bukankah sakura-chan menyukai sasuke sejak masih di akademi? Bagaimana mungkin dia melupakan cinta seumur hidupnya dalam waktu yang sangat singkat?' berbagai spekulasi berkecamuk dalam pikiran Naruto.
Kakashi yang mengerti apa yang dipikirkan muridnya itu hanya tersenyum simpul.
'Masa muda memang menyenangkan' batinnya.
.
.
.
.
Ckling
"Selamat datang!" ucap seorang gadis berambut pirang pucat yang dikuncir kuda.
"Hai ,Ino" Sapa seorang gadis berambut merah muda sebahu yang tidak lain adalah Sakura.
"Oh, Sakura. Tumben kau kemari. Ada apa?". Sakura memang jarang mengunjungi toko bunga Ino. Sakura memang disibukkan dengan kegiatan di rumah sakit.
"Aku hanya ingin beli bunga" jawabnya.
"Kau mau bunga apa?" Tanya Ino.
"Mm…. menurutmu apa yang cocok untuk diletakkan di rumah sakit?"
"Sebentar ya….." Ino mencari bunga yang cocok dengan permintaan Sakura. .
"Ini …..". kata Ino sambil membawa bunga lavender.
"Hm… bagus juga. Aku beli dua buket". Lalu Ino dengan terampil membungkus bunga itu.
"Hey, Sakura apa kau sudah bertemu dengan Naruto?"kata Ino membuka percakapan.
"Oh. Aku sudah bertemu dengannya kemarin" jawab Sakura. Mendengar nama itu Sakura tersenyum dan wajahnya memerah.
"Bagaimana menurutmu Sakura?" Tanya Ino dengan ekspresi centilnya.
"Apanya?" Sakura pura-pura tidak mengerti.
"Ya ampun Sakura. Apa kau tidak lihat betapa tampannya Naruto sekarang!Rasanya aku ingin meledak ketika melihat senyumnya yang mempesona itu. Kya!". Ino nerocos tanpa henti.
"Iya , aku juga tahu itu Ino –pig!" Sakura merasa sebal dengan sahabatnya itu.
"Eh Sakura kenapa kau marah? Apa jangan-jangan….." Ino mulai tersenyum iblis. Sakura merasakan firasat buruk apabila sahabatnya itu menyeringai seperti itu. "kau menyukainya?" kata Ino tanpa dosa.
"Eh… siapa bilang?" Sakura memalingkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tidah terlihat.
"Hehe…kau tidak bisa membohongiku Sakura." Kata Ino sambil menyerahkan bunga pesanan Sakura.
"Tapi kalau kau ingin mendapatkan Naruto kau harus cepat. Soalnya aku dengar hampir seluruh gadis di desa naksir padanya lho". Ino menggoda Sakura tanpa henti.
"Itu bukan urusanku!" Sakura mulai terpancing. Ino tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau begitu Naruto untukku saja ya!" celetuk Ino.
" Hei Ino, kau kan sudah punya Sai. Mau dibawa kemana pacarmu itu?" balas Sakura.
Sambil meninggalkan toko bunga Ino.
'Dasar Sakura. Jalan pikirannya mudah ditebak' batin Ino sambil geleng-geleng kepala.
.
.
.
.
Sakura POV
Hampir saja aku ketahuan di depan Ino!
Aku tak meragukan kemampuan Ino dalam soal percintaan. Kalau saja tadi aku tidak segera pergi, mungkin akan lebih berbahaya. Bisa-bisa berita bahwa aku menyukai Naruto tersebar sampai pelosok Negara Hi. Kalau sampai terjadi mau di taruh dimana mukaku!.
Hari sudah mulai senja. Tampak anak-anak berlarian di jalan-jalan. Pasti mereka adalah murid-murid akademi yang akan pulang ke rumahnya. Jadi teringat saat masih belajar di akademi.
Saat itu biasanya setelah belajar di akademi aku pulang dengan Ino. Biasanya kami mampir dulu ke taman untuk bermain ayunan, membeli es krim dan bercanda. Tak terasa waktu semakin berlalu.
Aku pun sebenarnya ingin pulang karena lelah, tapi entah mengapa cuaca sore ini tampak sangat indah. Sayang sekali untuk dilewatkan. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang tenang untuk menikmati panorama sore ini.
Tapi saat aku melintas di dekat hutan aku mendengar sebuah suara seperti seorang bertarung. Aku pun mencari sumber suara itu, dan ternyata itu adalah NARUTO!
"Hyaa…." Naruto berlatih sangat keras. Bisa dipastikan karena tubuhnya kelihatan sangat kelelahan.
"Sial ! aku belum bisa menyempurnakan jurus ini!" Kata naruto sambil menyandarkan badannya di sebuah pohon karena saking lelahnya.
Aku hanya memandanginya dari jauh. Terlihat keringat menuruni garis rahangnya. Rambut kuningnya pun telah basah oleh keringat. Tak sengaja aku menginjak semak-semak yang menyebabkan aku ketahuan.
"Siapa di sana!" dia curiga dan mulai memasang kuda-kuda. Aku pun mulai keluar dari persembunyianku.
"Eh….. Ohayou Sakura-chan!" sapanya sambil tersenyum. Aku pun menghampirinya.
"Kenapa kau berlatih sampai sekeras ini Naruto? Kau bisa sakit baka!". Ucapku kesal tapi khawatir. Dia hanya mengerutkan dahinya. Pasti dia berlatih dari tadi pagi
"Ternyata kau mengkhawatirkanku ya" ucapnya pede tapi dengan nada agak jahil.
Dia pun akhirnya istirahat dan mengajakku untuk melihat langit sore bersama di tepi danau di hutan. Sungguh aku merasa nyaman berada didekatnya. Dia mulai bercerita tentang perjalanannya selama 3 tahun. Aku pun hanya menjadi pendengar setia. Tanpa kusadari aku terus memandangi wajahnya yang terlihat ceria itu.
" Jadi bagaimana hubunganmu dengan Sasuke?" . Pertanyannya itu sukses membuyarkan lamunanku. Tenggorokanku seperti tersumbat. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Perasaan inilah yang sampai saat ini masih membuatku bingung. Apakah aku mencintai Naruto atau Sasuke.
"Kami hanya sebatas teman biasa" ucapku lirih.
" Oh..." Naruto hanya ber-oh ria. Mata birunya masih memandang danau yang tenang.
"Kau tahu Sakura-chan. Sebagai sahabat aku akan selalu mendukungmu" Naruto tersenyum lebar ke arahku sambil mengangkat jempolnya.
Seharusnya aku senang karena sahabatku selalu mendukungku bukan?Tapi kenapa saat dia berkata 'sahabat' ada sebagian kecil hatiku yang merasa kecewa.
Kenapa Naruto?Kenapa kau hanya menganggapku sebagai 'sahabat'. Apa kau tidak menyadari perasaanku saat ini? Aku merasa kaulah yang selalu membuatku bersemangat, membuatku ceria, dan menghiburku saat aku sedih. Dulu kau bilang kalau kau mencintaiku.
Apakah hatimu masih seperti dulu?
.
.
.
.
.
.
Chapter 2 selesai!
Mungkin ada yang bertanya bagaimana bisa Naruto dalam bahaya? Jawabannya adalah…
Stay tune! Karena saya akan menjawabnya di chap berikutnya.
Saya mengharapkan para readers berbaik hati kepada fic saya yang satu ini….
Read n Review Please….
