Disclaimer : Naruto© Masashi Kishimoto

Story : Legal atau Ilegal?blue atarashii

Pair : (?)

Warning : Aneh, gila, jelek, typo kayak debu (baca: udah banyak, ngeganggu lagi! HACHIUW!), tapi sempet-sempetin buat read and review ya :D Sebelum itu maaf mengecewakan yaa… Saya masih newbie, masih butuh saran…

Oke, ENJOY READ!

"Aku tahu…"

"…dari Ibumu" Sakura tertegun. Ia tertawa kecil. Ibu? Bagaimana Naruto bisa mengenal Ibunya? Sementara Naruto sendiri malah nyengir tidak jelas. Sakura segera bertanya.

"Darimana kau tahu Ibuku?" Naruto diam, ia terlihat serius. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah matahari yang sudah hampir terbenam. Bibirnya terkatup rapat. Suara angin semilir yang terdengar menampakkan keheningan mereka. Tiba-tiba Naruto menatap Sakura, kemudian menyeringai kecil.

"Err… Pokoknya pernah, jangan tanya lagi!" Sakura menutup mulutnya lalu mencibir, Ia yakin Naruto pasti berbohong. Gadis itu memiliki ide jahil, sekarang gantian Sakura yang menyeringai.

"Hei, memangnya ciri-ciri Ibuku seperti apa KALAU kau benar-benar tahu Ibuku?" Dengan penekanan di kata kalau, Sakura merasa ia akan menang. SKAK MAT! Naruto terdiam, Sakura benar-benar yakin ia yang akan menang! Sementara Naruto mengangguk-angguk tidak jelas.

"Ibumu itu… Ia tinggi proporsional, errr… Rambutnya merah muda sama sepertimu, matanya hazel… Kemudian ia… Cantik? B-benar kan?" Naruto takut-takut Sakura langsung menertawainya. Tapi respon Sakura malah bertolak belakang dengan pikirannya. Ia mengangguk-angguk lalu tersenyum bangga, entah bangga karena apa. Sementara Naruto melongo, sebenarnya ia menyebutkan karakteristik wanita yang mobilnya ditabrak Naruto dari belakang saat sedang uring-uringan karena Ibunya kemarin. Hei, bayangkan saja! Masa masih belom mau pacaran dipaksa? Siapa yang terima? Ayam aja sampek shalat kalau ada yang mau digituin! Yay! Sekarang Naruto mulai bertanya-tanya: Berapa banyak gadis pink di dunia ini? Apa setiap gadis pink memiliki karakteristik yang mirip? Aaah… Naruto teringat Ibunya lagi… Jika semua gadis pink seperti itu, lebih baik tidak perlu ada gadis pink di dunia ini!

Kemudian mereka saling berbincang sampai tidak sadar jikalau senja bergulir meredupkan cahayanya. Mengatupkannya di ufuk barat, membiarkankedua insan yang masih bersenda-gurau itu melirik barang sekilas cahayanya. "Hahaha! Jadi kau kecelakaan itu karena Onii-chan mu menyetir ugal-ugalan? Kenapa ugal-ugalan begitu? Apa ada masalah?" Naruto bertanya dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Sakura mulai bercerita dengan antusiasinya. Sakura menarik napas berat kemudian menampakkan muka asam bertekuk sepuluhnya.

"Begini… Saat aku pulang ke rumah, tiba-tiba saja dia memaksaku untuk ikut dengannya ke rumah sakit. Katanya saat ujian KO-ASS, ada pasien pirang kucir empat yang meminta Vaksin Booster Hepatitis A. Nii-chan salah menyuntikkan vaksin itu dengan obat bius dalam dosis yang tinggi. Bodoh sekali dia. Sampai saat itu pasien pirang kucir empat itu belum bangun juga. Jadi aku menemani Kakakku ke rumah sakit untuk melihat keadaannya. Tapi di jalan dia menyetir dengan kecepatan dewa, saat menginjak rem, mobil tidak bisa berhenti. Kuncinya macet, tidak bisa dicabut. Aku dan Kakak loncat keluar dari mobil. Sial, aku jatuh di aspal dan terguling-guling. Untung saja jalanan tidak ramai. Sedangkan dia jatuh di pelataran rumah orang yang berumput. Menyenangkan sekali"

Sakura mengakhiri ceritanya dengan cibiran dan dengusan. Kalau ingat-ingat kejadian itu, Sakura benar-benar ingin membunuh Sasori yang baru sekitar dua bulan yang lalu tinggal seatap dengannya setelah sepuluh tahun tinggal di Indonesia.

Naruto tertawa terbahak, Sakura semakin manyun. Mereka berdua saling melempar ejekan saat itu.

"Sakura!" Sahut seseorang dari belakang mereka. Ia terlihat letih, bahkan masih mengenakan seragam sekolah yang berubah kucel. "Sasuke? Kenapa kemari?" Sakura berdiri dan menghampiri lelaki yang tampak kacau itu dengan susah payah. Naruto tercekat mendengar nama itu. Ia menunduk dan mendecih. Sasuke sedikit mencuri pandang ke lelaki yang terduduk dengan sok kerennya di bangku. Lelaki itu berdiri, ia menyunggingkan seringai liciknya. Tapi hanya sebentar, seringai licik itu berganti dengan cengiran lebar.

"Senang bertemu denganmu lagi, Teme! Ternyata kita sudah ditakdirkan untuk bertemu lagi, ya" Naruto berdiri dan mengikuti jejak Sakura menghampiri Sasuke.

"K-kau…" Sasuke berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya berat. Menghiraukan ucapan lelaki jabrik di hadapannya adalah salah satu hal mahal baginya. Sakura tersenyum. "Kalian sudah saling kenal ya?"

"Tentu saja! Dia itu sahabatku sejak SMP! Tapi dia malah pindah ke sekolah Internasional. Jadi kita berpisah. Ya kan, Teme?" Naruto mengenang masa lalunya, rekaan gambar hidupnya yang berputar layaknya film itu telah benar-benar membuatnya jemu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha kembali ke dunia nyata. Ke alam-nya yang semula.

"Ayo Sakura, kita pulang" Suara Sasuke yang saat itu terdengar serak membuyarkan keheningan. Sakura menggeleng pelan. "Nanti saja. Kau tunggu disini, ya?" Sasuke mendesah panjang.

"Ibumu mengkhawatirkanmu. Lagipula aku lelah, kau tahu dari tadi aku mencarimu tapi…" Ia melirik Naruto pelan kemudian diam. Ia baru sadar kalau dari tadi tidak bernapas. "Ehm, tidak ada yang bisa menjemputmu. Deidara-nii ada di rumahmu sekarang. Semuanya sibuk" Entah kenapa ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sasuke berusaha mengabaikannya dan selepas ini ia berjanji pada dirinya sendiri akan mampir membeli jus tomat dingin, berinisiatif untuk melegakan tenggorokannya yang sepertinya terkena radang. "Aku bisa mengantarkannya pulang" Naruto menyela dengan enaknya. Sementara Sasuke sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terlalu lelah. Angin berhembus kencang, Sasuke menyapu rambutnya yang sudah kacau menjadi tambah kacau. Tanpa berkata apa-apa melainkan hanya menoleh pada Naruto barang sedetik, ia berbalik dan menuruni tangga. Langkah kakinya masih terdengar walaupun semakin lama semakin lirih dan pada akhirnya terhempas oleh angin.

Naruto kemudian berbalik ke bangku dan duduk. Sekali lagi, ia menunduk dan menyeringai penuh arti "Kau benar-benar akan mengantarkanku pulang?" Suara halus itu membangunkannya dari angan-angan yang menjemukan baginya. "Oh… Y-ya, tentu saja" Jawabnya lalu diam. Hening, Sakura juga bingung kenapa Naruto tiba-tiba diam begitu. Tapi ia lebih memilih diam juga daripada takut merusak suasana hatinya dan terkena semprotan maut seperti tadi pagi. Namun akhirnya Naruto membuka mulutnya juga.

"Dia masih saja dingin ya" Sakura menatap teman barunya bingung. Perkataan Naruto belum terlalu jelas untuknya. Namun sedetik kemudian Sakura mengerti apa maksudnya. "Tidak, dia baik… Baik sekali malah. Kadang aku sempat berpikir kalau dia adalah orang paling baik yang pernah kutemui. Bagaimana menurutmu?" Naruto tidak segera menjawab. Ia menahan senyum dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sasuke disini dapat menjadi bahan pembicaraan yang menyenangkan. "Dia hanya baik dengan orang yang disukainya" Sakura menolehkan kepalanya ke arah Naruto dengan cepat. Gerakan tiba-tiba itu membuat Naruto menjauh satu jengkal. "Apa maksudmu?"

"Em… Tidak, begini…" Naruto mencoba mencari jawaban yang akhirnya berujung karangan.
"… Maksudku, dia menganggapmu teman yang dekat dengannya… Ya, ya! Begitu maksudku hehe…" Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Berusaha menenangkan dirinya barang sejenak sampai gadis pink itu mundur.

Naruto mengangkat sebelah tangan. "Aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian berdua, sungguh" Selanya cepat saat melihat raut sedih pada wajah Sakura. Tapi kenapa harus sedih?

"Ah tidak… Aku… Hanya… Sasuke itu, mungkin ia merasa bertanggungjawab padaku. Orangtuaku dan Orangtuanya sudah berteman sejak lama. Ayah Sasuke adalah dokter kepala. Ibunya dokter spesialis jantung. Kalau ada sesuatu, kami pasti menghubungi Keluargannya. Biasanya Paman Fugaku, em maksudku Ayah Sasuke atau Ibu Sasuke sendiri yang datang. Sejak saat itu kami menjadi dekat…" Naruto terdiam, masih menunggu kata-kata Sakura yang selanjutnya. Karena kalimat gadis itu terlalu menggantung untuk telinganya.

"… Sebenarnya saat itu aku belum pernah tahu mana itu yang bernama Sasuke. Aku dan Ayah pernah tinggal di Indonesia selama sepuluh tahun. Ibu dan Sasori-nii tetap di Jepang. Ibu mempunyai penyakit jantung dan saat ada apa-apa Sasori-nii yang menghubungi Ibu Sasuke. Ayah di Indonesia selalu diberitahu oleh Ayah Sasuke mengenai perkembangan Ibu. Jadi tidak jarang aku mendengar nama kedua orangtua Sasuke disebut-sebut." Sakura menyandarkan punggungnya, mengangkat kepala dan menengadahkannya. Sakura meneruskan.

"… Kemudian sekitar satu tahun yang lalu Ayah berkata kalau ada yang akan menginap di rumah. Ternyata itu Sasuke, ia menginap selama enam bulan untuk pertukaran pelajar di Indonesia. Tapi programnya aneh, biaya menginap tidak diberi. Benar-benar aneh. Kasihan sekali Sasuke, dia sama sekali tidak bisa Bahasa Indonesia. Aku hampir setiap hari menertawainya, dia selalu bercerita kalau orang di sekelilingnya berbahasa Indonesia semua. Padahal pertukarannya di sekolah Internasional, tapi sama saja… Kasian sekali dia hahahah" Naruto terdiam, namun membuat catatan dalam hati. Koreksi, perbincangan mengenai Sasuke bukan menyenangkan lagi, ini hebat!

"Bagaimana kalau Sasuke menyukaimu, Sakura?"

"A-apa? Itu tidak mungkin… Dia bilang sudah menyukai seorang gadis. Dia cantik, pintar, dan hebat. Begitu katanya…" Naruto sedikit merasa bersalah telah menanyakan hal seperti itu pada Sakura, sekarang wajahnya terlihat sedih.

"Dulu, aku sering mengajaknya bermain… Tapi tetap saja, dia terlalu dingin. Aku bahkan menyeretnya dan memaksa dia untuk berkata ya. Dan itu sulit sekali. Lebih sulit daripada membangunkan Shikamaru. Dia sering bilang begini… Kau ilegal disentuh manusia manapun! Hah. Dia menyebalkan sekali. Padahal kalau bukan karena aku dia tidak akan bisa terkenal seperti itu kan! Dasar" Sakura tersenyum, kadang tertawa kecil. Kemudian mendongak dan bertanya.

"Kau memang ilegal disentuh manusia manapun, Naruto… Hahahha" Sakura mengangkat kedua telapak tangannya, menampakkan jari telunjuk dan tengahnya. Naruto mencibir masam.

"Kau sama saja dengannya! Biar kutunjukkan kalau aku legal saja disentuh manusia! Disana… Dibawah sana…" Naruto menunjuk-nunjuk sebuah pohon besar yang sedang bersemi dengan indahnya. Sakura melihat arah yang ditunjuk Naruto. Ia menaikkan alis. "… Ada pohon Tsubaki. Nanti kau ambil satu bunga dan hitunglah… Jika mahkotanya ganjil, maka itu ilegal. Tapi jika genap, itu legal" Sakura tertawa. Ia tidak pernah menyangka ada orang yang mau melakukan hal gila seperti ini. Ini permainan anak TK. Tapi Sakura akhirnya mengangguk juga. "Baiklah… Kalau begitu biar aku saja yang mengambilnya, supaya aku tahu kau tidak curang" Ia mengulurkan lidahnya. Tiba-tiba Naruto mengangkat kedua tangannya sambil menatap Sakura acuh tak acuh.

"Baiklah-baiklah aku kalah denganmu..." Ia menurunkan kedua tangannya. "Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak curang?"

Sakura mengerjapkan matanya. Masih diam. "Ehm, bagaimana kalau kau yang ambil, tapi matamu kututup? Adil bukan?" Sahut Naruto sebelum Sakura sempat bereaksi. Sakura membuka mulutnya namun didahului Naruto. "A-a… Tidak ada protes, aku tidak menerima penolakan" Akhirnya Sakura merasa kalah, melawan lelaki jabrik di sampingnya ini sulit sekali. Terlalu menyebalkan untuknya. Sementara Sakura yang masih berpikir dalam hati, Naruto terus memutar otak apa yang terjadi saat ini. Hampir satu tahun ia tidak bertemu dengan Sasuke dan tiba-tiba bertemu dengannya dengan hal menarik seperti ini. Naruto semakin penasaran, dan berkali-kali memutar otak. Entah penasaran karena apa. Walaupun penasaran begitu, Naruto merasa tertarik untuk melihat lebih jauh.

Sakura mengangkat sebelah tangannya. Berniat menutupi matanya. "Waa… Terang sekali, aduh" Naruto menoleh. Ia tersenyum dan melihat ke depan. Memang terang, tapi indah.

"Err… Naruto… Bisa kita pulang sekarang? Sudah mulai gelap…" Sakura tidak ingin menjelaskan lebih. Menurutnya sungguh memalukan bila ia mengatakan pada lelaki di sampingnya kalau dia takut gelap. Ia bahkan pernah menangis saat lampu mati dan Sasuke yang menemaninya sampai lampu kembali nyala. Itu sungguh memalukan, ia pasti di ejek mati-matian oleh Naruto kalau sampai lelaki itu tahu.

"Kenapa? Mataharinya belum terbenam penuh"

"E… Itu… Supaya nanti… Tidak sampai rumah terlalu lama, hehe" Naruto mengangkat alisnya, tapi toh kemudian ia mengangguk juga. Mereka berdua lalu membuat perjanjian mengenai menang-kalah legal-ilegal itu. Yang menang akan dituruti tiga permintaannya oleh yang kalah. Tapi tidak boleh meminta permintaan yang membuat jumlah permintaan itu menjadi bertambah. Cukup tiga, tidak boleh lebih… Kurang? Terserah, itu tidak apa-apa.

"Hey, JABRIK! Tunggu aku!" Terseok, ia membutuhkan tenaga besar untuk berjalan. Kenapa ia tidak memakai kursi roda saja? Kan lebih praktis! Tapi memakai kursi roda ternyata tidak seenak yang dia pikirkan. Koreksi, memakai kursi roda sedikit tidak nyaman baginya.

Naruto berbalik. Ia menepuk dahinya lalu segera menghampiri Sakura. Naruto berbalik lagi saat sudah ada di hadapan gadis itu, ia berjongkok, hanya diam.

"Apa yang kau lakukan?" Sakura membuka mulut. Sementara langit sudah mulai gelap, ia memeluk dirinya sendiri, takut. Naruto menoleh. "Ayo naik" Katanya menunggu jawaban. Namun Sakura tidak lekas menjawab, hanya menampakkan wajahnya yang acuh tak acuh. "Tidak mau. Aku bisa berjalan sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu. Kau turun duluan saja" Naruto mendesah panjang. Ia berdiri kemudian berbalik.

"Baiklah, terserah kau. Yah, kau bisa berjalan sendiri dan tidak butuh bantuanku. Aku akan turun duluan"

Reflek Sakura menarik sebelah lengan Naruto."Eh… A-aku… Takut gelap…"

"Lalu?" Ia berbalik, bersedekap dan menatap lurus ke Sakura.

"Aku… Mau. Aku tidak bisa berjalan sendiri, lagi… Aku butuh bantuanmu. Jangan turun dulu" Naruto tersenyum puas, ia kembali berbalik dan berjongkok. Sakura memandang belakang lelaki itu takut-takut. Di satu sisi, hati kecilnya meneriakinya dengan tidak sopan. Sakura! Apa yang kau lakukan? Seumur-umur kau tidak pernah digendong lelaki manapun kecuali ayahmu! Bahkan Sasuke yang sangat kau cintai itu tidak pernah melakukannya!

Sementara di sisi lain, hati kecilnya menyemangatinya. Memangnya kau memiliki jalan lain? Kau naik tadi saja dibantu dengannya. Lagipula ini sudah malam, kau sendiri yang bilang kalau takut gelap, kan? Ayo cepat naik! Kesempatan tidak pernah datang dua kali!

Benar, Sakura sudah lama menyukai Sasuke. Dia bahkan sudah menunjukkan rasa suka-nya itu dengan cara yang berbeda-beda. Tapi hasil akhirnya, tidak ada respons. Kejam sekali dia. Dan Sasuke tidak pernah menggendongnya. Ia tidak boleh digendong laki-laki lain sebelum Sasuke yang menggendongnya! Namun pada akhirnya Sakura melingkarkan tangannya di leher Naruto. Ia menutup mata saat lelaki itu menggapai kedua kakinya dan berdiri. Dalam hati Sakura berpikir. Berapa berat badannya? Kenapa Naruto bisa sekuat itu menggendongnya? Ah akhirnya dia tidak mempedulikan itu.

Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di bawah, sudah tepat di depan pohon Tsubaki. Naruto memang tidak berinisiatif untuk memberitahu gadis itu. Ia pikir Sakura pasti sudah tahu, gadis itu pasti bisa mengetahui kalau ia sudah tidak berjalan lagi. Perbedaan antara melakukan kegiatan atau tidak berbeda bukan? Lagipula lampu masih menyala, dia pasti bisa melihat kan? Namun nyatanya Sakura belum turun juga.

Naruto memutuskan untuk membuka mulutnya. "Kita sudah sampai" Sakura membuka kedua matanya yang mengatup dari tadi dan terus memikirkan Sasuke walaupun masalah gendong-menggendong itu sudah tidak dipikirkan lagi olehnya. "Hoh… Sudah? Em, baiklah aku turun"

Sakura melanjutkan. "Kita sudah lama sampai?" Naruto mengangkat kedua alisnya, ia menggerutu dalam hati. Rupanya gadis ini tidak tahu, dasar bodoh.

"Tidak, baru saja" Ia menampakkan seringai-nya lebar-lebar. "Baguslah kalau begitu. Karena dari tadi aku menutup mata dan memikirkan sesuatu. Jadi aku tidak tahu kalau… Ah lupakan" Sakura mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di udara.

"Baiklah, aku akan menutup matamu sekarang… Kau ambil ya!" Sakura mengangguk, Naruto segera berdiri di belakang gadis itu, menutup kedua mata Sakura dengan kedua tangannya. Setelah diambil, Sakura menghitungnya.

"Satu… Dua…" Setelah sekian lama melucuti mahkota bunga…

"Dua puluh…" Naruto bersorak senang. Itu berarti dia bisa mengucapkan tiga permintaan kepada Sakura, kan? Hah, permainan ini menyenangkan sekali!

"Satu…"

"Apa?" Naruto berhenti bersorak, ia mendekat pada tangan Sakura yang menggenggam mahkota bunga Tsubaki. Ia menghitungnya dengan hati-hati. Dua puluh satu… Apa? Dia kalah? "Permintaan pertama…"

Sakura terlihat berpikir, padahal ia tidak sepenuhnya berpikir. Ia tidak suka menyiksa orang jadi tidak perlu permintaan yang muluk-muluk bukan?

"Jangan memanggilku Sakura-san, Haruno-chan, atau apalah itu. Panggil aku Sakura-chan selama dua bulan… Bagaimana?" Naruto tentu saja mengangguk. Itu terlalu mudah untuknya. Kalau jadi dia, Naruto akan meminta yang aneh-aneh… Seperti 'traktir aku jajan selama satu bulan' atau sebangsanya.

"Kedua… Panggil aku Tuan Puteri hari ini" Sakura sedikit tidak yakin dengan permintaannya yang kedua. Ah apa yang dia pikirkan? Ini kan hanya permainan. Sakura bersedekap dan menatap lurus Naruto. Bersikap seolah menantang. "Itu mudah, Tuan Puteri" Sakura tersenyum, ia senang. Entah karena apa, ia hanya senang.

"Permintaan ketiga lain waktu saja ya? Aku lelah…" Sakura menguap lebar, Naruto tahu saja itu hanya menguap buatan. Sakura mungkin terlalu gugup, atau terlalu senang. Sekarang dia tidak bisa berpikir, dia butuh tidur. Naruto berjongkok lagi di hadapan Sakura. "Ayo naik lagi, Tuan Puteri" Suaranya begitu halus, mungkin ia akan diterima langsung sebagai penyiar atau sebangsanya. Suaranya benar-benar bisa menentramkan hati Sakura. Aaah apa yang dia pikirkan?

"Terimakasih, Pangeran" Sakura segera melingkarkan tangannya pada leher Naruto. Sekarang ia dapat mencium aroma laki-laki itu. Tadi dia terlalu gugup, ia benar-benar hampir tidak bernapas pada saat Naruto menggendongnya pertama kali. Dan itu adalah saat pertama Sakura digendong lelaki selain Ayahnya. Aroma jeruk, tapi tidak menyengat. Sakura menyukai aroma itu, ia mengeratkan pegangannya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Naruto. Entah kenapa ia ingin mencium aroma itu lagi dan lagi. Ia merasa aneh hari ini. Apa yang terjadi dengannya?

Sementara Naruto berjalan dengan santai, seolah beban di belakangnya hanya seringan bulu. Ia tersenyum licik di balik wajahnya yang terlihat akrab.

"Aku akan membantumu turun" Naruto melepas sabuk pengamannya, ia membuka pintunya dan berputar membuka pintu sebelah. Membantu seorang gadis yang dari pagi tadi berinteraksi dengannya. Menurutnya gadis itu terlalu lugu, masih belum bisa membedakan karakteristik orang. Dasar bodoh.

Pikirnya dalam hati sembari masih membantu Sakura masuk ke rumahnya.

"Kau baru pulang?" Lelaki dengan gaya rambut aneh –mencuat ke belakang– tiba-tiba saja muncul. Ia terlihat dingin, sekilas orang yang melihatnya akan mengira kalau dirinya adalah orang jahat. Namun dia lebih dari orang baik.

"Sasuke? Bukankah kau bilang lelah?" Sakura mendongak. Ia dapat melihat Sasuke berdiri mematung memandanginya. Namun aksi patungnya sekejap hilang, ia menghampiri Sakura dan Naruto. Sementara Sasuke yang masih menampakkan wajah dinginnya, Naruto menyeringai lebar. "Bertemu lagi, Sasuke"

"Aku yang akan membantunya" Ia segera menyingkirkan tangan Naruto dan membantu Sakura masuk. Naruto kembali tersenyum licik. Kemudian berteriak sebelum akhirnya lenyap dari pandangan Sakura dan Sasuke. "Daah, Tuan Puteriku~"

Sakura tersenyum senang dan melambai. Sasuke kembali termenung. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Mudah-mudahan dugaannya tidak benar. Ia menghala napas panjang dan kembali menggiring Sakura masuk. Di dalam rumah ternyata ramai, bahkan Sasori dan Deidara berteriak-teriak sejadinya. "SAKURAAA~" Sasori menghambur memeluk Sakura. Sasuke jadi terasingkan akibat ulahnya.

"Kau sudah pulang ya? Siapa tadi yang mengantarkanmu pulang?" Deidara ikut memeluknya. Sakura mengangkat alis dengan pertanyaan Deidara. Baru datang saja sudah tanya yang aneh-aneh.

"Dia hanya teman baru. Kenapa?" Sakura balik bertanya. Sasori tertawa geli. Ia memasang wajah sok berpikir kelas ala profesor yang ketinggalan jaman. "Hmm… Kupikir… Dia pacarmu. Habis kelihatannya seperti itu! Hah, penampilan luar memang mudah menipu mata dalam sekejap"

"Yaa… Itu benar, tapi sebaiknya jangan bicara seperti itu disini. Ada yang hatinya terpanggang… Ouch, panas!" Deidara mengibas-ngibaskan tangannya, membayangkan ada api berkobar di sekeliling tubuhnya. Sakura tampak bingung. "Apa maksudmu hatinya terpanggang? Siapa yang hatinya terpanggang?"

"Jangan dengarkan mereka. Kau lusuh begini, cepat mandi. Ibumu menunggu dari tadi" Sasuke menarik lengan Sakura dan mendorongnya pergi. Ia menghela napas panjang dan berat. Ia berbalik dan berjalan pelan. Kedua tangannya dimaskukkan ke dalam saku celana.

"Hei, yang menunggu itu Ibu atau kau, Sasuke?" Sasori menggodanya. "Haha, kau mendapat lampu merah, Saskey~" Deidara ikut-ikutan menggodanya. Sasuke melanjutkan aksi jalannya tanpa menghiraukan kedua orang yang benar-benar mengusik telinganya.

"Hei mau kemana kau? Kau belum menjelaskan kepadsa kami!" Sasuke menghentikan langkahnya. Ia menengadahkan kepalanya. Menghembuskan napasnya yang sungguh terasa berat.

"Aku mengenalnya…"

"Apa?" Seperti anggota cheerleaders yang berseru memamerkan nama tim mereka, Sasori dan Deidara berteriak kencang dengan kompak.

"Dia temanku, bukan… Bisa dibilang dia sahabatku sejak SMP. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya hampir satu tahun sejak insiden itu. Aku tidak tahu apa-apa, kenapa dia terus menyalahkanku? Dia memang bodoh"

TBC

Wawawawa masih berani aja aku update, nggak apalah mengisi keisengan. Maaf chapter ini mengecewakan *nunduk nunduk*

Buat yang udah review chapter kemaren terimakasih ya :D

Baik deh, peluk cium muah *apaan lebay banget lu

Yaudah…

Ini aku bales review yang ngg login ya… Yang login udah dibales kan?

Buat NaruSaku Believer

Aduh, jujur aku nggak pernah bisa bikin cerita romantis hehe. Tapi diusahain dulu ya…
Thanks udah review

Buat Abertus Namikaze

Makasih ya udah review baik deh… Updatenya masuk listrik nggak tuh? Hehe maaf ya

Buat Rui-chan

Thanks ya udah review Kamu juga keep write ya…

Kalo aku minta review lagi boleh nggak? Butuh saran nih… Review ya! Ditunggu :D