Chapter 2
Pagi itu, tepat pukul 10 aku tiba di stasiun Tokyo. Tak lama aku datang, aku melihat dari kejauhan Tachibana melambaikan tangannya dan bertemu denganku. Di stasiun ini sudah banyak orang, tapi si bodoh ini berani sekali memelukku.
"Sudah siap, Tezu?"
"Memangnya kita mau ke mana sih, Tachi?"
"Ke mana saja, asalkan itu bisa ditempuh oleh kereta. Aku sudah menyiapkan rute perjalanan yang menyenangkan."
"…"
"Kenapa?"
"Tidak, maksudku, apa yang kau inginkan dari mengajakku pergi?"
"Hanya ingin bersenang-senang denganmu, Tezu."
"…"
"Nanti saja kita bicarakan. Nah, kita akan bepergian menggunakan jalur Marunouchi. Kau bilang tidak ingin terlalu jauh khan?"
"Marunouchi? Berarti kita akan berakhir di Shinjuku?"
"Ya. Setelah itu kita akan memakai jalur yang sama, tapi nanti akan memutar ke utara. Kau mengerti khan maksudku?"
"Hm…yah, sedikit."
"OK. Kita jalan sekarang."
Aku sudah jarang bepergian naik kereta. Paling hanya untuk berangkat sekolah saja, dan itu pun tidak pernah terlibat dalam rute jauh seperti ini. Kalau akan pergi ke Shinjuku, biasanya aku naik mobil bersama keluargaku. Kadang naik bus kalau diajak teman-temanku. Dan sekarang, tidak berharap banyak dari perjalanan ini. Hari ini hari ulang tahunku, dia bahkan tidak mengucapkan selamat padaku. Apa dia ingin memberikan kejutan padaku dengan mengikuti perjalanan di atas kereta ini?
Setelah membeli tiket, kami hanya perlu menunggu sekitar 3 menit lalu kereta sudah datang. Tak kusangka hari Minggu pagi begini banyak sekali orang yang mau bepergian ke Shinjuku. Kota tersibuk setelah Tokyo itu sudah menjadi pusat keramaian sejak dulu. Ibaratnya, Shinjuku itu adalah ibukota distrik Tokyo.
"Tezu, jaga ponsel dan dompetmu."
"Hn."
"Habis ini kita berhenti di Ginza. Pasti di sana akan lebih banyak orang lagi."
"Apa kita akan pindah kereta, Tachi?"
"Tidak. Selama kita masih dalam jalur yang sama, kita tidak perlu pindah kereta. Tapi kau jangan jauh-jauh dariku, Tezu. Ini hari Minggu, aku yakin arus ke sana akan sangat padat."
~Ginza Railway Station~
Tak lama kemudian, kami tiba di Ginza. Benar kata Tachibana tadi, begitu banyak orang yang masuk sampai di gerbong kami pun sudah mulai padat. Aku sampai tidak bisa meluruskan kaki seperti awal naik di Tokyo tadi. Aku merasakan tangan Tachibana menggenggam tanganku erat.
"Kenapa, Tachi?"
"Ya?"
"Hm…maksudku, mengapa kau menggenggam tanganku?"
"Tidak mau?"
"Bu-bukan begitu. Bagaimana jika ada yang lihat?"
"Biarkan saja mereka melihat kita. Hanya genggaman tangan aku rasa tidak ada yang bermasalah dengan itu. Kecuali jika aku…" *deket2 Tezuka*
"Jangan macam-macam!" *dorong pipinya Tachibana*
~Yotsuya Railway Station~
Perjalanan kami kemudian melewati tiga stasiun kecil, sampai kemudian tiba di stasiun Yotsuya. Kami bisa bernafas sedikit karena banyak orang yang turun dan hendak transit di stasiun ini. Tapi ternyata banyak juga yang naik. Sampai Tachibana harus mengalah pada seorang nenek yang terlihat kesulitan menerobos desakkan penumpang kereta. Aku tidak tahu berapa lama lagi perjalanan berakhir di Shinjuku, tapi aku kasihan dengan Tachibana yang sekarang berdiri di depanku, sambil memegang tanganku.
"Temanmu baik sekali, Nak."
"…" *lirik si nenek*
"Kalian mau ke mana?"
"Ke Shinjuku. Obaa-san wa?"
"Aku akan terus ke Shibuya. Nanti ganti kereta lagi di Shinjuku."
"Obaa-san sendirian saja? Tidak ada anak atau cucu yang menemani?"
"Ada, tapi tadi kami terpisah di pintu masuk gerbong ini. Ah, itu dia! Kyosuke-kun, aku di sini!"
Nenek itu melambaikan tangan kepada seorang anak laki-laki bertopi hitam dan bertubuh pendek. Rasanya aku tidak asing dengan sosok itu. Di mana aku pernah melihatnya? Sesaat setelah aku memikir, aku terkejut tiba-tiba Tachibana berjengit kaget dan langsung memanggil nama anak bertopi tadi.
"Uchimura?"
"He? Tachibana-san? Sedang apa di sini?"
"Err…aku…aku…*lepas tangan Tezuka* sedang ada keperluan dengan Tezuka."
"Oh, Tezuka-san dari Seigaku? Ke mana kalian akan pergi?"
"Kami akan jalan-jalan ke Shin-*kaki diinjek Tezuka*"
"Mau mengunjungi nenekku di Shinjuku. Uchimura-kun sendiri?" *agak geram*
"Nenekku mau ke Shibuya untuk menengok saudara kami yang sakit." *agak takut ngomong sama Tezuka*
Daripada terlibat percakapan yang lebih dari ini, aku terpaksa menginjak kaki Tachibana untuk menyuruhnya diam. Aku berharap Uchimura tidak melihat saat Tachibana spontan melepas genggaman tangannya dari tanganku.
~Shinjuku Railway Station~
Perjalanan 1 jam ini berujung cukup melelahkan di stasuin besar Shinjuku. Keramaian sudah siap menyambut kami. Uchimura dan neneknya berpisah dengan kami karena mereka akan berpindah kereta menuju Shibuya.
"Sekarang sudah di Shinjuku. Kita mau ke mana lagi, Tachi?"
"Kita akan menikmati keramaian di sini. Ayolah, banyak hal yang bisa kau nikmati di sini, Tezu. Kau mau cari apa? Nanti aku belikan."
"Hee? Memangnya kau punya uang?"
"Jangan tanya soal itu. Sebutkan apa keinginanmu, nanti akan aku wujudkan."
"Tachi…"
"Anggap saja kita kencan, bagaimana?"
"Kencan katamu?" *khawatir*
"Kalau masih belum menentukan apa-apa, sebaiknya kau ikuti aku saja. OK?"
"Hanya di Shinjuku khan? Maksudku, tidak sampai ke Shinjuku Ni-chome(1) khan?"
"Jadi, kau tahu tempat itu juga, Tezu?"
"Pokoknya kalau kau mengajakku ke tempat itu, atau tempat mana saja yang aneh-aneh, aku akan langsung minta pulang!"
"Iya deh, tidak aneh-aneh kok. Ayo, kita jalan-jalan."
~Shinjuku Street Restaurant – Lunch time~
Setelah kami puas mengitari keramaian Shinjuku, kami berhenti di sebuah restoran untuk makan siang. Untuk kalian tahu, Tachibana-lah yang banyak inginnya di kota super sibuk ini. Baru beberapa meter kami jalan dari stasiun, dia sudah beli topi dengan alasan tidak ingin kepanasan saat jalan-jalan nanti. Kemudian kami masuk ke pertokoan, dia membeli kaos sedangkan aku membeli jaket. Aku tidak enak sampai dia yang harus keluar uang. Tapi dia tidak sedikit pun mengaitkan perlakuannya ini dengan hari ulang tahunku. Apa dia lupa?
"Aku suka jaketmu, Tezu. Kau pintar juga memilih."
"…"
"Tezu? Ada apa? Tidak enak saladnya?"
"Kau ingat akan hari ini, Tachi?"
"Hm? Hari ini? Minggu?"
"OK, tidak jadi. Lupakan saja."
"Hey hey, memangnya ada apa dengan hari ini? Bilang donk, Tezu."
"Hari ini adalah u-"
"TACHIBANA-SAN!"
Aku belum selesai bicara, tiba-tiba kami dikejutkan oleh Ishida dan Sakurai, adik-adik kelasnya Tachibana, yang kebetulan masuk ke restoran ini untuk makan siang, mungkin, atau ingin menyapa kapten mereka ini. Melihat mereka datang, Tachibana langsung mengurut-urut keningnya.
"Aku tidak percaya bisa bertemu dengan Tachibana-san di sini. Sedang apa?"
"Kau bisa lihat aku sedang apa khan, Ishida?"
"Ya ya, aku tahu. Maksudku, apa yang kau lakukan di Shinjuku? Dengan Tezuka-san dari Seigaku pula."
"Terserah aku lah mau ke mana dengan siapa saja. Kalian sendiri sedang apa di sini?"
"Ishida mengajakku pergi mencari raket tenis baru. Kebetulan aku ingin mengganti sepatu tenisku."
"Sudah dapat raketnya, Ishida? Aku harap kau tidak menjebolnya lagi dengan pukulan Hadokyu."
"Hohoho…tenang, Tachibana-san. Aku tidak hanya beli satu raket saja untuk latihan. Tidak tanggung-tanggung, aku beli dua! Ne ne, Sakurai, kau pesan makan. Kita makan bersama Tachibana-san dan Tezuka-san."
"Oh, bagus…" *pusing*
"Kenapa, Tachibana-san?"
"Kalian ini…"
Aku ingin tertawa melihat tingkah Tachibana yang sepertinya tidak senang diganggu acaranya oleh Ishida dan Sakurai. Kalau aku jadi dia, aku akan membiarkan mereka bergabung. Hanya saja, aku ingat dengan kata-katanya di awal tadi. Dia bilang, anggap saja ini kencan. Siapa juga yang ingin diganggu saat sedang asyik berduaan seperti ini? Akhirnya, aku mengambil keputusan…
"Ishida-kun, kalau tidak keberatan, kalian makan berdua saja tidak apa-apa khan? Tachibana masih harus mencari keperluannya."
"Wah, sayang sekali. Padahal aku ingin bicara banyak dengannya. Tapi ya sudahlah, tidak masalah. Toh besok masih ketemu di sekolah. Hati-hati, Tezuka-san!"
"Ayo, Tachibana. Kita jalan sekarang."
Setelah berjalan beberapa meter menjauh dari sana, aku mendengar Tachibana menghela nafas lega karena sudah bebas dari pengacau harinya. Bayangkan saja, dia terkejut bukan main saat melihat Uchimura di atas kereta, dan baru saja dia kembali dikejutkan dengan Ishida dan Sakurai.
"Aku tidak percaya akan bertemu dengan mereka hari ini."
"Bukankah seharusnya kita bisa bersenang-senang dengan mereka juga, Tachi?"
"Tidak. Demi Tuhan, aku tidak mau ada yang mengacaukan hari ini. Aku ingin melewatinya hanya denganmu saja!"
"…"
"Maaf…"
"Jangan minta maaf, kau tidak salah kok. Habis ini mau ke mana lagi, Tachi?"
~Shinjuku Railway Station~
Menjelang sore, kami kembali ke stasiun Shinjuku untuk pulang. Tachibana bilang rute perjalanan pulang yang dia pilih ini akan sangat panjang. Dia berharap tidak sampai malam tiba di Tokyo nanti. Di sini sudah banyak orang. Rata-rata mereka akan pergi ke arah yang sama dengan kami.
"Kau lelah, Tezu?"
"Tidak."
"Mau minum?"
"Tidak, terima kasih."
"Rasanya kita akan berdiri sampai tujuan nanti."
"Ya, karena hari sudah sore dan orang banyak yang akan mengarah ke Tokyo."
"Pokoknya jangan sampai terpisah denganku, Tezu."
"Hn."
Kereta yang kami tunggu tiba. Dan benar saja, kami tidak dapat tempat duduk karena banyak sekali orang yang naik. Tachibana agak panik melihat keramaian ini, spontan dia langsung menarik tanganku untuk tetap berada di dekatnya. Kereta mulai berjalan, dan banyak orang yang masih berusaha menempatkan diri supaya merasa nyaman saat perjalanan.
~Ichigaya Railway Station~
Setelah melewati satu stasiun kecil, kami tiba di stasiun Ichigaya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan matahari sudah mulai menunjukkan warna oranye pada kilau sinarnya. Kami masih berdiri karena stasiun ini pun juga dipadati penumpang yang akan ke Tokyo. Ibaratnya, turun 50 orang, yang naik 100 orang. Satu gerbong ini saja sudah sangat penuh sekali. Posisiku berdiri sampai harus agak memeluk lengan Tachibana karena aku sudah mulai terdesak.
"Tezu, kau tidak apa-apa?"
"Ya."
"Kalau ada orang yang mengganggumu, katakan padaku."
"Selama ada kau, aku akan baik-baik saja."
"Sebentar lagi kita akan transit di stasiun besar Otemachi. Di sana akan lebih banyak orang lagi. Tidak di dalam kereta, melainkan banyak yang berpindah kereta. Aku harap tidak salah jalur untuk pulang ke Tokyo."
~Otemachi Railway Station~
Tibalah kami di stasiun besar Otemachi. Ini pertama kalinya aku melihat stasiun besar macam ini. Turun dari kereta, banyak sekali lalu-lalang orang yang hendak berpindah kereta. Ada lima jalur perjalanan yang tersedia di sini. Salah satunya adalah Tokyo. Saat kami turun tadi, kami mendengar bahwa kereta yang ke Tokyo saat ini sedang bersiap berangkat dari stasiun Awajicho. Akan ada keterlambatan, jadi kami duduk dulu sebentar di peron.
"Kau baik-baik saja, Tezu?"
"Ya."
"Mau minum?"
"Tidak, aku tidak haus."
"Keretanya seharusnya sebentar lagi. Awajicho itu tidak jauh dari stasiun ini."
"Kita akan menunggu di peron mana, Tachi?"
"Ah, itu dia keretanya datang!"
Tachibana mengajakku berlari menuju peron yang sudah dipenuhi orang. Baru kami tiba untuk mengantri, di belakang sudah banyak orang yang mendesak kami. Akibatnya, genggaman tangan Tachibana terlepas dariku saat orang-orang mulai berdesakkan untuk masuk.
"Tachi!"
"Tezu!"
Aku terpisah oleh Tachibana sekarang. Dan yang lebih buruknya, sayup-sayup aku mendengar suara Tachibana berseru…
"Tezu! Bukan ini keretanya! Keluarlah dari sana!"
Dan aku terlambat menanggapi kata-katanya. Aku sudah terlanjur masuk ke gerbong karena ikut arus orang-orang yang banyak masuk, dan pintu otomatis ini tidak bisa dibuka lagi. Kereta mulai bergerak. Aku melihat Tachibana berusaha lari mengikuti gerak kereta ini.
"Tachi!"
Mulutnya membuka dan menutup, seakan dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Tetapi aku tidak mendengar. Ketika kereta sudah mulai menjauh, aku baru sadar bahwa aku salah naik kereta.
"Tachi…"
Ke mana kereta ini akan membawaku pergi?
To be continue~
Maap, harus TBC lagi…= =" *ditabok*
Stay tuned terus yak, chapter 3 coming up next!
