SachiMalff Fanfiction
Oh Sehun – Lu Han
[ answer me ]
"He has a smile that never reaches his eyes yet I feel like I am absorbed into it."
Sehun berjalan menyusuri koridor sekolahnya, dengan pantulan suara derap langkahnya yang menggema sampai ke ujung. Sesaat ia baru menyadari bahwa hanya ialah siswa yang berjalan di sana, dan sedetik kemudian ia baru ingat bahwa ia sudah telat sepuluh menit dari bel pertama. Well, bukannya ia tak peduli akan keterlambatannya—yang sebenarnya sudah banyak menjadi penyebab utama mengapa ia sering didetensi—tapi karena ia pikir bahwa ia sudah terlanjur terlambat, lalu mengapa harus terburu-buru?
Sambil melepas earphone yang menggantung di kedua telinganya, ia membuka pintu kelasnya pelan. Siluet teman-temannya yang telah duduk rapi di tempat duduk tertangkap oleh manik Sehun tatkala pintu di depannya terbuka sedikit demi sedikit.
Sebuah dengusan lelah menyambut kedatangan Sehun.
"Kapan kau akan jera oleh detensiku, Oh Sehun?"
Sehun memutar matanya imajiner.
Kim Junmyeun, guru filsafat dasarnya mengisyaratkan Sehun untuk duduk di tempatnya setelah menggumamkan kalimat seperti—temui aku di ruanganku untuk detensimu.
Sehun membungkuk dan berjalan menuju ke kursinya di barisan paling belakang, tepat di samping seorang pemuda yang sedang menyeringai.
Sedetik setelah Sehun meletakkan pantatnya di tempat duduknya, orang bernama Kim Jongin, teman sebangkunya, langsung meninju lengannya keras-keras.
Sehun mendengus lelah. "Tidak bisakah kau membiarkan pagiku tenang tanpa ocehanmu, Jongin?"
"Tidak. Lagian aku sedari tadi sudah menunggu kedatanganmu! Dengar, Sehun. Kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku berjanji ini yang terakhir kalinya."
"Itu juga yang kauucapkan terakhir kali."
"Tidak, sungguh! Kali ini Kyungsoo ingin bertemu denganku di sebuah tempat, dan aku ingin tahu—"
"Aku kira teman kalian Kim Jongin dan Oh Sehun bisa mengulang perkataanku barusan?" Suara guru mereka menggema di dalam kelas, menyela perkataan Jongin. Alis sang guru filsafat terangkat sambil memandang Jongin dan Sehun jenaka.
Sehun mengumpat pelan, sementara Jongin mendengus mencela.
"Kim Jongin, Oh Sehun?"
"No, Sir," jawab Jongin dan Sehun bersamaan.
Junmyeun menggeleng pelan sembari melanjutkan kalimatnya, meninggalkan Jongin dan Sehun yang mau tak mau harus memerhatikannya.
"Hari ini ada seorang murid yang di-transfer dari China." Junmyeun terdiam sesaat karena suara bising murid-muridnya sebelum kemudian melanjutkan. "Aku tahu ini hal aneh karena dia datang di pertengahan semester, namun ia harus mengikuti orangtuanya yang pindah tugas ke Korea. Aku harap kalian semua bersikap baik padanya, dan sebagai wali kelas, aku tidak ingin mendengar kasus bullying atau kasus serupa di sini. Mengerti?"
"Yes, Sir."
Junmyeun mengangguk paham, kemudian menepukkan tangannya sekali sebelum bicara kembali. "Baiklah, karena teman baru kalian sudah menunggu di depan pintu, maka bersikaplah baik. Nak, masuklah."
Pintu kelas terbuka perlahan-lahan dan Sehun merasakan semua mata teman-temannya menuju kearah sosok lelaki yang berjalan masuk ke kelas mereka.
Langkahnya terasa begitu ringan dan kecil-kecil, seperti rasanya ia berpikir jika ia salah langkah maka ia akan terjatuh. Dalam langkahnya, tak sekalipun ia mengangkat mukanya, dan itu membuat Sehun mengernyit. Bahkan ketika ia berdiri tepat di samping guru mereka, ia belum mengangkat mukanya. Yang bisa Sehun lihat dari belakang, tempat di mana ia duduk, hanyalah surai cokelat madunya dan postur badannya yang terlihat sangat kecil untuk lelaki seumuran sepertinya. (Well, benar juga jika ia disandingkan dengan Mark si anak kelas sebelah atau Chanyeol teman sekelasnya.)
"Lu Han, perkenalkan dirimu."
Lelaki bernama Lu Han itu mengangkat wajahnya perlahan, namun matanya nampak tak fokus. Sehun melihat ia berusaha menghindari mata semua orang yang ada di sana, terlihat jelas dari bagaimana manik hitam itu bergerak gelisah, berusaha menemukan sesuatu asal bukan tatapan mata mereka. Entah kenapa, Sehun merasa hal ini aneh. Ia seperti bukan tipe orang yang ingin Sehun anggap sebagai teman, pikirnya.
"Namaku—Lu Han." Itu adalah kalimat pertama yang Lu H utarakan, dan ia akhirnya menundukkan pandangannya lagi. "Aku berasal dari Beijing, China dan alasan mengapa aku pindah kesini adalah karena orangtuaku harus pindah kesini."
Hening merajai kelas seketika saat Lu Han berhenti berbicara. Ia seperti sedang memutar otaknya untuk mencari kata yang tepat. Sehun meneliti sosoknya dengan cermat. Dia sepertinya bukan tipe orang yang masih asing dengan bahasa Korea,an karena kalimat sebelumnya ia ucapkan dengan sangat fasih. Lalu mengapa ia harus diam?
"Lu Han?" panggil Junmyeun dengan nada khawatir.
Lu Han meremas tangannya, kemudian mendongak untuk menatap gurunya selama dua detik sebelum akhirnya ia kembali menunduk dan membungkukkan tubuhnya sambil berkata, "tolong terima aku dengan baik."
Junmyeun tersenyum kikuk setelah Lu Han menegakkan badannya.
"Baiklah kalau begitu. Jangan merasa terbebani atau takut, oke?" Satu anggukan dari Lu Han membuatnya puas. "Kau boleh mengambil buku pelajaranmu di kantorku setelah selesai sekolah. Sekarang kau boleh duduk di samping—siapa ya... Oh, Baekhyun. Kau boleh duduk di samping Baekhyun. Byun, angkat tanganmu sehingga Lu Han bisa melihatmu."
Seorang lelaki dengan surai brunette mengangkat tangannya, dan Lu Han bergegas menuju kearahnya setelah mengucapkan terimakasih pada gurunya.
"Oke, anak-anak! Kalian boleh berkenalan dengan Lu Han seusai pelajaran. Sekarang, buka buku kalian halaman seratus sepuluh."
Langkah Lu Han yang sangat hati-hati akhirnya menuntunnya untuk sampai pada bangku di samping Baekhyun berada, tepat dua baris di depan Sehun.
Baekhyun membereskan mejanya yang berantakan dengan buku dan alat tulisnya agar ada cukup ruang untuk Lu Han, dan ketika Lu Han sampai, ia langsung duduk dan mengeluarkan bukunya.
Si lelaki brunette bernama Baekhyun itu tersenyum ketika Lu Han menoleh kearahnya. Ia menyodorkan tangannya dan Lu Han hanya membeku.
"Erm—namaku Baekhyun. Byun Baekhyun," katanya sambil tersenyum.
Lu Han masih mengamati tangan Baekhyun dan sedetik kemudian ia mengangkat pandangannya pada wajah Baekhyun yang masih tersenyum. Ragu-ragu, Lu Han menjabat tangan Baekhyun dan mulutnya terbuka.
"Lu Han."
"Hanya Lu Han?" tanya Baekhyun. "Tak ada marga?"
Lu Han menggeleng. "Lu adalah nama margaku. Nama kecilku Han."
Baekhyun membuat gerakan mulut menyerupai O lalu mengangguk paham. Lalu beberapa detik kemudian seorang temannya yang duduk dibelakangnya menepuk punggungnya, mengisyaratkan sesuatu dan Baekhyun akhirnya bicara kembali.
"Ini adalah Kim Jongdae. Kau boleh memanggilnya Jongdae atau Chen, itu adalah nama China-nya karena ia pernah tinggal di sana selama dua tahun."
Lelaki dengan surai hitam legam tersenyum pada Lu Han dan bergumam dalam bahasa Mandarin seperti ni hao dan Lu Han menjabat tangannya dengan anggukan kecil.
"Dan ini adalah Minseok. Kim Minseok."
Seorang lelaki dengan surai ungu menjabat tangannya ramah, menggumamkan sesuatu seperti semoga kau betah yang dijawab Lu Han dengan terimakasih.
"Dan yang di belakang sana adalah Jongin, Kim Jongin." Jari telunjuk Baekhyun mengarah kebelakang, di mana Jongin duduk.
"Kai, Baek. KAI! Hanya Sehun dan Kyungsoo yang boleh memanggilku dengan nama asliku!"
Baekhyun memutar mata sementara Lu Han mengamatinya dengan seksama. Ia menelengkan kepalanya kesamping kanan sambil mengamati Jongin yang memberinya tatapan risih.
"Kau—teman Kyungsoo? Do Kyungsoo?"
Eh?
"Kau kenal Kyungsoo?" tanya Baekhyun dan Jongin secara bersamaan.
Lu Han mengangguk dan beralih menatap Baekhyun. "Dia tetangga baruku."
"Ah, begitu. Dia ada di kelas sebelah dan dia anak yang baik. Hanya nasibnya saja yang jelek kenapa harus selalu ada Jongin yang membuntutinya. Nah, yang di samping Jongin adalah Oh Sehun."
Lu Han mengedarkan pandangannya dari Jongin yang menggerutu karena kalimat Baekhyun pada sosok lelaki di samping Jongin. Beberapa detik tatapan mereka beradu dan Lu Han buru-buru mengalihkan pandangannya setelah berkata hai.
"Aku... senang bertemu dengan kalian. Mohon bimbing aku," katanya dengan nada gugup dan pelan seraya membungkuk berkali-kali.
Baekhyun yang merasa agak risih memegang pundaknya dan menyuruhnya berhenti.
"Tak usah terlalu formal. Kita kan teman, bukankah begitu?" jawab Baekhyun riang yang diikuti oleh 'ya' dan 'itu benar' dari Minseok dan Jongdae.
Lu Han mengangkat mukanya dan memandang teman-teman barunya.
Satu senyum tercipta dari bibirnya sejak pertama kali ia datang ke Korea.
Sehun merasa hawa dingin menerobos masuk ke kulitnya ketika ia melihatnya. Senyumnya begitu indah, melengkung dengan agung dan pas. Senyum menawan yang membuat siapa saja akan jatuh terpesona. Senyum yang tak pernah menyentuh matanya.
Sorot mata yang tak menunjukkan ekspresi apapun.
Hari pertama Lu Han menjadi siswa baru di sekolahan tersebut ia habiskan bersama Baekhyun dan Minseok untuk berkeliling sekolah. Kedua siswa tersebut dengan senang hati memberikan tur panjang untuk Lu Han, memperkenalkan setiap sudut sekolah pada pemuda China tersebut.
"Dan ini adalah lapangan basket di sekolah ini," kata Baekhyun sembari berkacak pinggang, bangga karena mereka telah menyelesaikan satu persatu tempat di seluruh penjuru sekolah. "Memang tidak sebesar yang bisa diharapkan, sih, tapi cukup bagus. Bukankah begitu?"
Lu Han mengangguk dan matanya berkelana kepenjuru lapangan. Sesaat manik matanya tertuju pada para lelaki yang sedang berlatih di sana sambil tertawa dan mendorong satu sama lain.
"Baekhyun." Lu Han memanggil Baekhyun yang sedang tertawa membicarakan sesuatu pada Minseok sambil melihat pemain basket yang ada di sana.
"Ya, Lu Han?"
Lu Han mengangkat tangannya dan menunjuk kearah gerombolan siswa di sana. "Mengapa dia ada di sana?"
Baekhyun mengernyit, menajamkan pandangannya, sambil memfokuskan tatapannya pada arah di mana Lu Han menjulurkan jemarinya.
"Siapa? Hoya anak kelas sebelah? Tentu saja ia sedang bermain basket. Dan—oh, kau mengenal Hoya?"
Lu Han menggeleng. "Bukan. Bukan mereka. Tapi dia," katanya sambil mengarahkan kembali jari telunjuknya. Kali ini Baekhyun mendekat kearah Lu Han sehingga ia bisa tahu siapa yang sedang ia tunjuk dan—
"Oh. Apa yang kaumaksud adalah Sehun?" tanyanya sambil memandang Lu Han. "Oh Sehun di kelas kita?"
Lu Han mengangguk pelan dan beralih kembali menatap Sehun di seberang lapangan. Ia tak mengerti mengapa Sehun tidak ikut bermain bersama yang lainnya. Beberapa detik yang lalu ia melihat Jongin, orang yang duduk di samping Sehun ikut dalam tim basket. Ia heran dengan Sehun yang saat ini hanya sedang duduk di pinggir lapangan dengan earphone di kedua telinganya dan sebuah buku tebal di pangkuannya.
"Sehun bukan bagian dari tim," jawab Baekhyun kalem. "Ia sudah berhenti bermain."
"Berhenti?" tanya Lu Han penasaran tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Sehun.
Minseok berjalan hingga ia berhenti tepat di depan Lu Han, memblok pandangannya dari Sehun hingga Lu Han mengernyit. "Kau tertarik dengannya, ya?" tanya Minseok, mencoba menggoda Lu Han dengan seringaiannya.
Lu Han mendengus dan menyuruh Minseok minggir hingga ia bisa memandang sosok Sehun kembali. "Aku hanya penasaran. Kupikir dia tipe—well... Kupikir dia tipe siswa yang sangat terkenal seantero sekolah karena wajahnya dan karena ia adalah kapten tim basket atau semacamnya."
Mendengarnya, Baekhyun dan Minseok tertawa.
Lu Han mengernyit memandang mereka dan bertanya kenapa.
"Kaupikir hal-hal yang seperti itu nyata, ya?" tanya Baekhyun sambil berusaha menahan tawanya.
Lu Han mengangkat bahunya dan kembali melirik sosok Sehun yang masih belum bergeming dari tempatnya duduk. Dari tempatnya berdiri, Lu Han bisa melihat bagaimana sorot mata Sehun yang tajam terpaku hanya dan hanya pada buku yang berada di pangkuannya.
"Sehun dulunya memang pemain basket seperti dalam imajinasimu, namun ia sudah berhenti bermain sejak tahun lalu."
"Mengapa?"
"Entahlah. Tak ada yang tahu dan kami tak ingin repot-repot mencari tahu," kata Minseok.
Lu Han mengangguk mengerti. Sedetik kemudian ia ingin bertanya lagi namun suara Baekhyun menghentikannya.
"Kupikir ia berhenti karena kasus itu."
Lu Han mengernyit, mengarahkan atensinya pada sosok Baekhyun di samping kanannya. "Kasus?"
Baekhyun dan Minseok dengan setuju mengangguk tegas.
"Setahun yang lalu, Sehun masuk dalam tim basket sekolah. Kata sebagian orang dia ikut dalam tim hanya untuk merebut hati Jaehyun."
"Joohyun," Minseok membenarkan.
"Joohyun," ulang Baekhyun. "Lalu lima bulan kemudian, saat setelah ia menyatakan cintanya pada si Joohyun ini kami mendengar kabar bahwa perempuan ini mengalami kecelakaan hingga ia tak pernah masuk sekolah mulai saat itu. Dan kami tidak tahu apakah Joohyun menerimanya atau tidak."
"Sampai sekarang?" tanya Lu Han bingung.
Minseok dan Baekhyun mengangguk berbarengan.
"Sampai saat ini tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Setelah kejadian itu, tak ada yang berani menyebut namanya di depan Sehun. Bahkan teman dekat Joohyun-pun tak tahu di mana dan bagaimana—jika masih hidup—keadaannya. Setelah itu, Sehun menjadi Sehun yang sekarang. Dia berhenti mengikuti semua ekstrakurikuler dan menjadi pendiam seperti sekarang."
"Dulu dia adalah lelaki yang manis dan pengertian," kata Minseok menyayangkan keadaan Sehun yang sekarang sambil mendesah dramatis. "Dia seperti pangeran yang dipuji banyak perempuan—dan lelaki—karena sifatnya yang manis."
"Aku baru tahu jika cerita seperti itu memang benar adanya," kata Lu Han sambil menatap Sehun. "Menyedihkan sekali."
Baekhyun dan Minseok saling berpandangan, bertukar pandangan bingung akan apa maksud ucapan Lu Han.
"Tapi apa yang sedang ia lihat di pangkuannya itu?"
Baekhyun dan Minseok—lagi-lagi—mengalihkan pandangannya pada Sehun dan menyipitkan pandangan mereka.
"Entahlah," jawab Baekhyun. "Semacam buku pelajaran."
"Mungkin buku filsafat dasar. Buku-bukunya memang tebal seperti itu, kan?" sambung Minseok. Baekhyun mengangguk, namun Lu Han menggeleng.
"Jika ia sedang membaca buku, setidaknya tatapannya akan berpindah-pindah. Namun ia selalu terfokus pada satu sisi buku—seperti sedang memandangi foto."
Baekhyun dan Minseok saling berpandangan lagi, merasa bahwa Lu Han memang agak aneh—seperti yang sudah mereka kira—karena... well, Lu Han sangat ingin tahu.
"Lu Han."
"Ya, Baekhyun?"
Baekhyun berdehem sekali sebelum lanjut bicara. "Apa kau—em—tertarik pada Sehun?"
Lu Han terdiam sejenak, namun tidak satupun dari ekspresi atau gerak tubuhnya yang menjadi jawaban atas pertanyaan Baekhyun. Lama mereka terdiam dalam keheningan yang meraja di antara ketiganya dan apa yang bisa mereka dengar adalah tiupan peluit dari sosok Park Chanyeol di tengah lapangan yang menandakan bahwa latihan akan segera dimulai dan baik Baekhyun maupun Minseok tak segera mendapatkan jawaban atas pertanyaan Baekhyun. Lu Han tetap berdiri di samping Baekhyun dan Minseok, matanya terpasung pada sosok Sehun yang masih duduk di sana, memperhatikan buku di pangkuannya dan mengabaikan keadaan sekitar seolah pikirannya tak ada di sana—namun di tempat lain.
Dan baru saja Baekhyun ingin memanggil Lu Han—yang sepertinya sedang melamun—saat itu pula Lu Han membuka mulutnya.
"Aku tertarik pada matanya."
Sorot mata yang menjabarkan banyak hal.
a/n : this is SachiMalff just in case you are not familiar with my new nickname. I'm so bored with the name "SachiMalff" so let's change it into something cooler hehe.
Okay please welcome this shitty, asshole, incompetence author. Menghiatuskan home dan membawa fanfic baru adalah sebuah kejahatan moral, tapi—ada kalanya kita harus rehat sejenak dari that angsty fic, right?
This one is—less(?) angsty. He-he-he. Anticipate it, juseyo?
