Disclaimer:

Naruto : Kishimoto Masashi

Dear Hinata : Aiiko Aiiyhumi

Warning: AU, OOC, TYPO, dll

.

.

Author's Note: Terima kasih untuk semua reviewers dan juga silent readers.

Saya mohon maaf karena banyaknya typo pada chapter 1. Dan saya juga ingin meralat beberapa kesalahan pada chapter tersebut. Untuk kelasnya Hinata, ada kesalahan pada penulisannya, kalau pada chapter 1 saya menulis kelas 3-1 dan 1-2, saya ingin meralat, sebenarnya kelas Hinata itu 2-1, jadi dia adik kelasnya Sasuke. Saya mohon maaf karena kesalahan ini. Semoga para readers tidak bosan membaca fic saya, terima kasih…. ^_^

.

.

.

.

Dear Hinata

Kediaman Hyuuga masih terlihat sepi, belum ada aktivitas apapun, kecuali suara kodok yang entah dari mana. Berbeda dengan anggota keluarganya yang lain yang tampak masih terlelap di alam mimpinya, Hinata kini sedang berada di dapur, tangannya sibuk meracik berbagai macam bahan dan kemudian mengolahnya menjadi makanan. Memorynya kembali berputar ke waktu terakhir kali ia bertemu dengan pemuda itu.

*Flash Back*

"Kau tak akan bisa lari, Hinata!"

Sasuke memundurkan wajahnya kemudian melanjutkan kalimatnya.

"Masakanmu enak juga, buatkan untukku setiap hari! Itu tugas pertamamu!"

*Flash Back End*

Jadilah mulai hari ini Hinata akan bangun lebih awal, sebab ia harus membuat dua porsi bekal, untuknya, dan untuk Uchiha muda yang akhir-akhir ini sudah merusak ketenangan hidupnya. Sebenarnya Hinata bisa saja meminta di buatkan oleh salah satu maidnya, tapi Hinata berpikir para maidnya itu pasti lelah mengurusi keperluan di rumah ini, rasanya ia tidak tega merepotkan orang-orang yang berjasa untuk keluarganya itu.

Setelah lebih dari 1 jam Hinata berkutat denga masakannya, akhirnya masakan itu sampai pada tahap akhir, menatanya dalam kotak bekal. Hampir saja Hinata menjatuhkan makanan yang di sendoknya ketika sesuatu menepuk pundaknya.

"Ohayou nee-chan" Hanabi menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambutnya semakin berantakan. Kelopak matanya belum benar-benar menampakkan lavender yang tersembunyi di baliknya.

"Ohayou Hana-chan, kau bangun lebih pagi hari ini" Hinata memberikan senyum lembut kepada adiknya, kemudian perhatiannya kembali terfokus pada kotak-kotak bekal yang baru terisi separuh itu.

"Ya, aku terbangun karena suara berisik dari dapur"

"Hehehe maaf" senyum kembali di tunjukan Hinata untuk adiknya.

Sebenarnya Hinata tidak begitu berisik, Hanabi memang berniat bangun lebih awal untuk membantu kakaknya yang malang itu. Tapi namanya juga Hanabi, walaupun ia bangun lebih awal, tapi ia tetap saja terlambat untuk membantu kakaknya. Dia merasa kasihan dengan nasib kakaknya setelah mendengar ceritanya tadi malam, rasanya ia ingin sekali bertemu pemuda bernama Sasuke itu dan melayangkan salah satu teknik judonya di rahang pemuda yang di ketahui bermarga Uchiha itu. Hanabi memang sangat peduli dengan kakaknya, dia menjadi tempat curhatan Hinata, begitupun sebaliknya, mereka sangat dekat, terlebih setelah mereka kehilangan sosok ibu mereka pada saat Hanabi berusia dua tahun dan Hinata berusia empat tahun kala itu.

"Nee-chan beneran jadi memasakan untuknya?"

"Ya, begitulah, nee-chan tidak punya pilihan" Hinata mencuci peralatan dapur yang tadi dipakainya.

"Punya si Sasuke itu yang mana?"

"Yang ada irisan tomatnya".

Hanabi menyeringai kemudian mengambil botol merica bubuk yang ada tepat di depannya. Hanabi hampir saja membubuhkan merica tersebut.

"Jangan lakukan itu Hana-chan!"

"Kenapa kak? Ayolah biarkan aku memberinya pelajaran"

"Tapi kau tahu kan? Nanti nee-chan yang akan menanggung akibatnnya"

Hanabi tampak berpikir sejenak "Hm… benar, maaf nee-chan"

Hinata tersenyum.

"Tapi nee-chan kalau aku bertemu dengannya nanti, aku tidak akan memberinya ampun"

Tiba-tiba Hyuuga kecil itu bersemangat, kemana perginya rasa kantuk tadi?. Hinata hanya tersenyum melihat tingkah adiknya.

"Iya, iya, tapi sebaiknya kau cepatan mandi sana!" Hinata mendorong bahu Hanabi.

Setelah memastikan semuanya beres, Hinata bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap ke sekolah. Mari sama-sama berdoa semoga hari Hinata menyenangkan.

~O~O~O~O~

Bel tanda istrahat berbunyi, para siswa KHS (Konoha High School) berhamburan keluar kelas, ini saat yang mereka nantikan, saat terbebas dari jeratan rumus-rumus dan penjelasan-penjelasan yang memusingkan, juga saat untuk memanjakan cacing-cacing dalam perut mereka.

Hinata tampak belum beranjak dari tempat duduknya, di depannya ada dua kotak bekal yang tersusun, jarinya di ketuk-ketukan ke meja, menimbang-nimbang sesuatu. Tiba-tiba wajah Sasuke yang marah muncul di pikirannya, dan menurutnya untuk dibayangkan saja itu sangat menakutkan, jangan sampai jadi kenyataan. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Sasuke.

Hinata segera beranjak dari tempat duduknya, tidak lupa dua kotak bekal itu dia bawa. Ketika Hinata keluar dari pintu kelasnya, tiba-tiba.. Bruukk! Dia menabrak seseorang, salah satu kotak bekal yang ia bawa terjatuh dan isinya tertumpah. Hinata berjongkok untuk memungut kotak bekalnya yang kini teronggok tak berdaya. Dia tidak perduli dengan siapa yang menabraknya, yang ada dalam otaknya hanya ada pikiran tentang bekal itu, tapi sayang, makanan itu sudah tak bisa di selamatkan lagi.

"Ah.. maaf aku tidak sengaja, kau baik-baik saja?" suara berat si penabraknya itu terdengar.

Hinata mengangguk, "Ya, aku tidak apa-apa" mengangkat wajahnya, tersenyum, lalu kembali membereskan makanan yang tergeletak di lantai itu.

"Tapi makananmu? Ehm.. biar ku ganti ya?" Pemuda itu menawarkan niat baiknya.

"Tidak usah, terima kasih"

"Ayolah? Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku" Dia mulai memohon

"Tidak perlu, aku sudah memaafkanmu"

"Tapi aku tetap ingin minta maaf, ayolah?" Sekarang lebih terdengar memaksa.

Hinata diam, dia terlihat sedang berpikir, lalu tiba-tiba lengannya di tarik.

"Ayolah, biar aku yang traktir sebagai permintaan maafku"

Hinata hampir saja kehilangan keseimbangannya karena terseret oleh tenaga pemuda yang kini sedang menarik lengan kirinya. Belum juga dia berhasil mengatur kembali keseimbangannya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lain menarik lengan kanannya.

"Hinata, kau mau ke mana?"

Mata onyx itu menatap tajam ke arah lavender yang terlihat takut dan kebingungan.

"Ah, Sasuke Maaf" Hinata terlihat kesulitan berbicara karena kedua lengannya ditarik oleh pemuda-pemuda ini.

Sasuke sepertinya tidak begitu memperhatikan perkataan Hinata, matanya sekarang tertuju pada pemuda yang sedang memegang lengan Hinata itu.

"Kau?" Sasuke memicingkan matanya, ekspresinya terlihat datar, tapi sebenarnya ada sedikit keterkejutan di sana.

"Kau? Wah, lama tak berlemu ya, Sasuke?" pemuda ini tampak lebih ekspresif, keterkejutan terlihat jelas di wajahnya yang tampan itu.

"hn," jawab Sasuke asal, lalu dia menarik tangan Hinata mengajak gadis itu ikut denganya, tapi Hinata tidak bergerak, lebih tepatnya tidak bisa bergerak. Karena lengannya yang lain di tahan oleh pemuda itu.

"Lepaskan tanganmu dari Hinata!" Sasuke menatap lurus ke mata jade pemuda itu.

"Begitukah caramu menyambut teman lama? Aku curiga, jangan-jangan namaku juga kau tidak ingat ya?"

"Untuk apa aku mengingatnya? Ku rasa itu tidak penting, tapi aku masih ingat jelas kekalahanmu" Sasuke memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya seraya menyunggingkan senyum meremehkan.

"Hm, kau tidak berubah ya? Setidaknya sambutlah sahabatmu ini dengan kata-kata yang baik, sahabatmu di masa lalu"

"Karena itu kau datang? Untuk balas dendam?"

"Kenapa? Kau takut?"

Hinata merasakan kilat-kilat menyambar dari kedua orang ini, ia tidak tahu ada apa di antara mereka dan satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya, bengong.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, kemudian dengan ekspresi menguap yang di buat-buat dia meninggalkan pemuda itu. Setelah berjalan beberapa langkah dia berbalik.

"Hinata, ayo!" kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

"I-iya"

Untung saja pegangan pemuda itu sudah tidak terlalu kuat jadi Hinata bisa lebih mudah melepaskan tangannya dan mengejar langkah Sasuke.

"Hinata!"

Hinata menengok ke belakang karena merasa namanya di panggil kembali oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berseru. "Namaku Sasori"

Hinata tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum, kemudian kembali melanjutkan langkahnya, mengejar Sasuke yang sudah meninggalkannya jauh di depan.

"Hinata ya?" Sasori menyeringai sebelum akhirnya pergi ke arah yang berlawanan dan meninggalkan lorong itu.

~O~O~O~O~

Sasuke dan Hinata tampak sedang duduk di bawah sebuah pohon di halaman belakang.

"Apa yang tadi kau lakukan dengan orang itu?"

Sasuke memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.

"Dia menabrakku"

"Jangan bertemu dengannya lagi"

"Kenapa?" Tanya Hinata dengan tampang innocent.

"Kalau ku bilang jangan, ya jangan"

"Dia teman lamamu?"

"Bukan"

"Sepertinya dia murid baru di KHS, ku lihat dia belum memakai baju seragam"

"Siapa perduli? Dan berhenti membicarakanya!"

"Baiklah"

"Dan ingat jangan bertemu dengannya!"

"Iya, aku mengerti"

Hinata bingung kenapa hidupnya jadi di atur-atur oleh pemuda ini? Hinata harus memikirkan cara agar segera terbebas darinya.

"Dan ingat…"

Suara Sasuke yang tiba-tiba itu mengagetkan Hinata.

"Kau tak akan bisa lari, Hinata"

Senyum menyebalkan itu kembali tersungging di bibir Sasuke dan entah mengapa Hinata malah sempat terpesona dengan itu.

"Jadi, mana makananku?"

Lagi-lagi lamunan Hinata di buyarkan oleh suara Sasuke.

"Ano, itu.. tadi jatuh waktu bertabrakkan dengan temannmu, dan hanya satu yang selamat"

"Pertama, sudah ku bilang dia bukan temanku. Dan yang kedua, Aku tidak perduli pokoknya aku mau makannku"

Hinata menelan ludah, "I-ini" Hinata menyerahkan kotak berwarna biru langit itu.

Sasuke meraihnya dan langsung menyantapnya sambil bersandar pada batang pohon.

"Kenapa tidak ada tomatnya? Bukankah sudah ku bilang kau harus memasukan irisan tomat dalam bekalku."

"Tentu saja aku sudah memasukannya ke dalam bekalmu, tapi bekal itu yang terjatuh tadi"

Sasuke hanya ber-oh ria sebentar kemudian kembali menyantap makanan tersebut. Hinata memperhatikan cara makan Sasuke, dan menurutnya itu menunjukan kalau Sasuke sangat suka makan. Tanpa sadar Hinata tersenyum.

"Buka mulutmu!"

Hinata terkejut karena Sasuke tiba-tiba menyodorkan sesumpit makanan ke depan wajahnya.

"Eh?" Hinata belum langsung memakan makanan itu.

"Aku tidak mau repot karena kau sakit, jadi makanlah!"

Dengan sedikit ragu-ragu akhirnya Hinata menyambut suapan Sasuke, dan entah kenapa makanan itu terasa lebih enak dari yang seharusnya.

Tanpa disadari Hinata, ada seulas senyum di bibir Sasuke, tapi tidak lama, dan langsung berubah menjadi seringai khasnya.

"Gantian, sekarang kau suapi aku!"

"Eh?"

"Kau pikir menyuapimu tadi itu gratis? Kau harus membayarnya, sekarang suapi aku!"

Akhirnya dengan sedikit ragu, Hinata menyuapkan makanan pada Sasuke. Sasuke menyambutnya dengan ekspresi datar, tapi di tengah-tengah kunyahanya dia tersenyum, senyum yang entah apa artinya. Sepertinya Sasuke harus berterima kasih pada Sasori karena sudah menjatuhkan kotak bekal itu.

Sasuke merasakan seketika dunianya hancur, kebahagiaannya menyingkir ketika trio menyebalkan itu muncul.

"Wah,wah.. mesranya, Hinata, aku juga mau di suapi dong~"

Duakk! Jitakan yang cukup keras di layangkan tepat di kepala Naruto.

"Bodoh!" tangan Sakura masih terlihat terkepal.

Teman-temanya yang lain tampak hanya memutar bola mata, kejadian seperti itu sudah terlalu sering mereka lihat. Tapi kali ini berbeda, terdengar cekikikan dari seseorang, dan itu berasal dari Hinata.

"Hinata, kau suka itu? Aku bisa melakukannya lagi untukmu" Sakura tersenyum.

"Sakura-chan kejam" Naruto mengelus-elus bagian kepalanya yang terkena hantaman Sakura.

"Sasuke, ternyata kau makan siang disini? Kami mencarimu kemana-mana"

"hn," Sasuke malas menjawab pertanyaan Kiba dia terlalu kesal karena kebahagiaannya barusan telah dirusak oleh perusuh-perusuh ini.

"Pantas dia gak mau makan sama kita lagi, udah ditemani cewek cantik sih. Hai, kau Hinata kan? Perkenalakan aku-" Naruto merasakn tubuhnya tiba-tiba terdorong.

"Giliran liat cewek cantik aja cepat, aku duluan. Hai Hinata, aku Sakura" Sakura menjabat tangannya, Hinata tampak tersenyum.

"Kalian akrab ya?" hinata memandang ke arah Naruto dan Sakura.

"Sebenarnya mereka sedang bermesraan"

Hinata kaget dengan pernyataan Kiba barusan, "Ber-bermesraan?" dia menautkan alisnya.

"Kau tidak tahu ya? Mereka itu pacaran" Kiba menambahkan.

"Eh?" mata Hinata sedikit membulat ia benar-benar tidak tahu kalau Naruto dan Sakura ternyata pacaran.

"Orang-orang memang tidak akan menyangka, karena keduanya sama-sama idiot, tapi hubungan mereka sudah cukup lama".

Sementara dua makhluk itu sudah ber-peace-peace gak jelas sambil nyengir.

"Eh, aku belum memperkenalkan diri, namaku Naruto"

"Aku Kiba"

"Salam kenal semuanya, aku Hinata" Hinata tersenyum semanis mungkin.

"Hm, boleh ku panggil Hinata-hime, tidak?"

"Jangan!"

Tadinya Naruto mau senyum, tapi senyumannya berubah jadi wajah terbengong-bengong karena mendengar Hinata dan Sasuke berteriak 'Jangan!' bersamaan. Sasuke memandang Hinata, begitupun dengan Hinata, pandangan mereka bertemu, lalu beberapa saat kemudian Hinata buru-buru memalingkan wajahnya, menutupi pipinya yang sudah bersemu merah.

"Kalian kenapa?" Sakura menautkan alisnya, sementara bibirnya berusaha menahan senyum.

"Kanapa apanya?" Sasuke berusaha kembali memasang tampang datarnya.

"Kenapa aku tidak boleh memanggil Hinata dengan Hinata-hime? Kenapa Hinata?" ekspresi Naruto tidak berbeda jauh dengan Sakura.

Merasa namanya disebut, Hinata sedikit tersentak. "Eh? Ehm, itu karena-" Hinata tidak melanjutkan kalimatnya.

"Karena?" Kiba juga terlihat berekspresi sama dengan kedua temanya sebelumnya.

Sasuke menatap benci ketiga orang itu, 'kenapa mereka bisa kompak dalam hal seperti ini?' bathinnya.

"Karena apa Hinata?" Naruto masih mempertahankan ekspresinya.

Hinata mulai berpikir, karena.. karena apa ya? Dia sendiri juga tidak tahu karena apa, tapi yang jelas, dia merasa tidak boleh ada yang memanggilnya dengan sebutan Hinata-hime, kecuali satu orang, tapi dia tidak ingat siapa? Ayahnya? Bukan. Kakanya? Bukan juga. Trus siapa ya? Tiba-tiba ingatan tentang teman di masa kecilnya muncul di kepala Hinata, ia ingat sesuatu tentang istana pasir atau semacamnya dan ia juga ingat ia pernah mengikat janji dengan seseorang di masa lalu. Dan sekarang dia ingat, hanya orang itu yang boleh memanggilnya Hinata-hime. Hinata merasakan perasaan rindu dalam hatinya, rindu akan masa kecilnya.

"Kalian ngapain sih ke sini?" nada Sasuke terdengar malas, dan berhasil membuyarkan lamunan Hinata.

"Sudah ku bilang kan? Kami mencarimu"

"Sudah ketemu kan? Sekarang pergilah! Kalian mengganggu saja"

"Kau mau bermesraan dengan Hinata ya?"

Sasuke benci tatapan genit Naruto yang seperti itu. Tanpa Naruto sadari perkataannya itu berhasil memunculkan rona merah di pipi dua insan di antara mereka.

"Kami mengganggu ya Sasuke? Wah, maaf ya" mimik penyesalan sama sekali tidak nampak di wajah Kiba.

"Hn, sudahlah, terserah kalian saja! Mana Shikamaru?" Sasuke baru menyadari ada seseorang yang kurang diantara mereka.

"Kau belum lihat?" alis Kiba terangkat.

"Hah?" Sasuke menaikkan salah satu alisnya.

"Tuh! Di atas sana" Naruto menunjuk dengan wajahnya.

Semua mata mengikuti arah yang di tunjukan Naruto. Dan benar saja, tampak Si rambut nenas itu sedang meringkuk di salah satu batang pohon tempat mereka bernaung.

"S-sejak kapan kau di situ?" Sasuke sepertinya mulai tertular virus gagapnya Hinata.

Shikamaru yang sebenarnya sudah bangun dari tadi, merubah posisinya menjadi duduk. "Hoaam, yang jelas aku sudah di sini sebelum kalian datang"

"Kau dengar percakapan mereka?" Naruto tampak antusias.

"Kalo yang suap-suapan itu sih aku dengar" senyum nakal yang biasa di tunjukan Naruto secara ajaib tersungging di bibir Shikamaru.

"Kenapa kau jadi ikutan idiot seperti mereka?" Sasuke khawatir kalau semua temannya menjadi orang-orang idiot.

"Ehm, sepertinya aku harus segera masuk kelas" Hinata tiba-tiba mohon pamit.

"Eh? Kenapa?" mulut Naruto dan Sakura tampak membulat.

"Aku rasa bel masuk sebentar lagi akan berbunyi"

"Bolos saja Hinata"

"Jangan mengajarkan yang tidak-tidak pada adik kelas" Sakura menjitak pelan kepala Naruto. "Jangan dengarkan si bodoh ini, ya sudah, kau masuk kelas saja" Sakura tersenyum, Hinata turut tersenyum.

"Bye.." kemudian dia berlalu.

"Bye Hinata.." suara Naruto terdengar paling keras dari semua suara tersebut.

Setelah Hinata tak terlihat lagi dari pandangan mereka, Shikamaru turun dari pohon dan membuka kembali percakapan diantara mereka.

"Siapa Sasuke? Teman lama yang di maksud Hinata tadi?"

"Hah?" Naruto, Sakura dan Kiba kompak berekspresi menautkan alis.

"Sasori, dia datang ke KHS"

"Sasori?" entah kenapa mereka bertiga selalu kompak kalau soal bertampang bodoh.

"Sasori yang waktu kecil suka main boneka?" Tanya Sakura memastikan

"Yang rambutnya merah?" sekarang giliran Naruto yang kebingungan.

"Iya" Sasuke terdengar malas menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

"Untuk apa dia ke sini?" Sakura menyilangkan tangannya di depan dada.

"Mana ku tahu"

"Mungkin dia mau datang untuk balas dendam padamu Sas?" Naruto menatap Sasuke.

"Hm, mungkin" Sasuke tampak tidak perduli.

"Kau tidak takut?" Sakura ikut menatap Sasuke. Sasuke terlihat menaikkan sebelah alisnya.

"Bagaimana kalau dia membalasmu dengan memanfaatkan Hinata?" Shikamaru menyandarkan punggungnya ke pohon. Sementara mata Sasuke tampak sedikit membulat mendengar perkataannya.

"Dan bukannya dia juga tahu masa lalumu dengan Hinata?" kini mata Sasuke benar-benar membulat mendengar kata-kata Kiba. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Naruto, memandangnya penuh selidik.

"Apa?" Naruto tidak terima ditatap begitu oleh Sasuke."Bukan salahku, kau sendiri yang dulu sangat bersemangat menceritakan kepada semua orang tentang Hinata dan tentang janji kalian, kau tidak ingat?" lanjutnya panjang lebar.

Sasuke terlihat berpikir, belum sepatah katapun keluar dari mulutnya.

"Eh Sas, sepertinya aku bisa membantumu, kau harus bergerak cepat, jangan sampai keduluan oleh Sasori" wajah Naruto tampak bersemangat.

"Iya, kurasa Naruto benar, sebaiknya kau beritahukan saja yang sebenarnya pada Hinata" Sakura berusaha meyakinkan Sasuke.

"Sebenarnya aku ingin ia sendiri yang menyadarinya" raut wajahnya terlihat sedih.

"Tapi kapan ia akan menyadarinya?"

Sasuke tampak diam saja mendengar pertanyaan sahabatnya Sakura.

"Tapi, mungkin gak Sasori datang untuk bertemu dengan Gaara?" Kiba pasang tampang berpikir.

"Eh? Apa hubungannya dengan Gaara?" Naruto tidak mengerti.

"Sasorikan saudara tirinya Gaara, kau tidak tahu?" Naruto semakin kebingungan mendengar kata-kata Sakura tersebut.

"Hah? Kalian tahu darimana?" dia melihat satu per satu wajah teman-temannya.

"Hooaammm.." Shikamaru menguap malas.

"Eh?eh? kenapa hanya aku yang tidak tahu?"

Sementara Naruto kebingungan teman-temannya malah pasang tampang pura-pura tidak mengenal.

Dan yang sedang mereka bicarakan, kini sedang menatap ke arah mereka.

Fokus Gaara teralih ketika seseorang membuka pintu ruangannya.

"Kau tidak bosan memperhatikan mereka terus? Padahal kau tidak bisa mendengar apa-apa juga kan?"

"Kau masih disini? Pulang sana ke Australi!"

"Tidak, kalau tidak denganmu"

"Terserah, tapi aku tidak akan pernah ikut denganmu"

"Tou-sanmu.. maksudku tou-san kita yang menyuruhku menjemputmu. Kembalilah! Dia membatuhkanmu di masa-masa tuanya."

"Kenapa menjelang akhir hidupnya baru dia memikirkanku? Padahal waktu aku kecil dia menyia-nyiakanku" pandangan Gaara menatap lurus jauh ke depan. Tatapannya kosong.

Gaara merasa ini tidak adik untuknya. Ketika ia tinggal dengan ayahnya waktu kecil, ayahnya tidak pernah perduli padanya, hanya sibuk dengan semua pekerjaannya. Gaara kecil selalu merasa iri pada saudara tirinya yang tinggal di London yang waktu itu masih merupakan hak asuh ibunya. Tapi ketika kini ia bisa hidup mandiri, ayahnya baru menginginkannya, tidak, menurutnya yang di inginkan orang tua itu adalah pengetahuan dan kemampuannya untuk mewarisi perusahaan, bukan dirinya sebagai seorang anak. Jika ia kembali ke Australia, ia yakin pasti hanya akan berada dalam tali kekang orang yang selalu menyebut dirinya sebagai ayah itu.

"Kau tidak mau memaafkannya? Kau harus tahu dia sangat menyesal sudah bersikap tidak baik padamu dulu". Suara Sasori membawa Gaara keluar dari ingatan masa kecilnya. Tapi ia tidak menjawab perkataan Sasori, Gaara terdiam saja.

"Aku tetap harus membawamu pulang, bagaimanapun caranya. Aku sudah berjanji pada tou-san"

Gaara masih belum bersuara.

"Baiklah, bagaimana kalau kita bertaruh?" perkataan Sasori kali ini berhasil membuat Gaara melirik ke arahnya.

"Gadis itu, gadis yang bernama Hinata, kau tertarik padanya kan?" Gaara kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

"Kita bertaruh, kalau kau berhasil mendapatkannya, kau bebas melakukan apapun yang kau mau, dan aku akan kembali ke Australi, tapi kalau aku yang berhasil mendapatkannya, kau harus kembali bersamaku, bagaimana? Cukup sedrhana kan?" Sasori menyeringai.

TBC

Gimana? Penasaran gak? Kira-kira gimana ya reaksi Gaara? Apa dia menerima tantangan Sasori? (sok misterius) *plak*

Oh iya, saya mohon maaf karena chapter ini lebih sedikit dari sebelumnya, mungkin chapter-chapter selanjutnya juga akan begitu, tapi saya akan brusaha agar ceritanya tetap menarik dan memuaskan para readers…. ^_^

Ok, dari pada banyak bacot terus, mending bales review…. ^o^/

Suki, Park Hye Lin, adel hime-chan, ririrea, Saqee-chan , Miya-hime Nakashinki , Lollytha-chan , Kagayaku Aomizu , ichsana-hyuuga , Hizuka Meyuri, keiKo-buu89 , uchihyuu nagisa , cuka-hinata, Hyouma Schieffer, lonelyclover, Hyuga ira, Mamizu Mei, Kimidori hana : Terima kasih atas reviewnya, dan terima kasih sudah menyukai fic saya yang gaje ini… T_T *plak* dan saya minta maaf karena banyaknya typo pada fic ini, dan saya juga akan berusaha update secepatnya, doakan saya yah… ^^ jangan bosan-bosan review fic ini, terima kasih… Fhaska Ken: Terima kasih atas reviewnya ^^, saya akan berusaha agar tidak banyak typo lagi, salam kenal. Seobaby: Terima kasih atas reviewnya . iya, soalnya waktu itu hinata kan gak tau namanya sasuke, dan dia juga masih kecil, tapi aku tidak akan membuatnya melupakan sasuke selamanya kok… ^^ ulva-chan: Terima kasih atas reviewnya, dan terima kasih ya atas pujian dan semangatnya. Penasaran sama sepasang mata itu ya? Udah tahu kan sekarang? ^^ Mt: Terima kasih atas reviewnya, iya, soalnya sasuke yang waktu itu masih kecil belum bisa mengerti, awalnya ia merasa hanya ibunya yang paling cantik, tapi setelah bertemu hinata, ia jadi punya dua wanita tercantik dalam hidupnya ^^. YamanakaemO: Terima kasih atas reviewnya, dan terima kasih juga yah atas kitik dan sarannya, jangan bosan-bosan review… ^^ Yumi michiyo: Terima kasih atas reviewnya, hm.. moonlight in onyx ya? Aku juga suka fic itu… ^^ tapi seperti yang kamu bilang ide bisa saja sama kan? Tapi ini benar-benar hasil karya saya (hanya ingin memastikan) terima kasih atas kritk dan sarannya… ^^Kino lolly : Terima kasih atas reviewnya, salam kenal… ^^ terima kasih atas kritik dan sarannya…. ^^ lain kali akan saya edit-edit lagi. Chikuma new: Terima kasih atas reviewnya, iya, saya akan lebih teliti lagi mengenai typo dan kesalahn-kesalahan lain. Mengenai yang ngintip itu, sudah tahu kan jawabannya ada di chapter ini, kau benar… ^^. Opichantiiik: makasih saying udah review.. ^^ jangan bosan-bosan buat baca yo…

Special Thanks to…

Haruno Aoi: Terima kasih senpai atas bantuan dan petunjuknya… ^_^ saya sangat tertolong. Sekali lagi terima kasih…. ^^

Dan… buat Kazhu temanku, yang udah mau repot membantu. Terima kasih… ^_^

Jangan bosan review and read fict saya ya…

Akhir kata…

Review please?