Sapphire09: Chapter baruu!!
Semoga kalian menikmatinya, yaa?
Summary: Seorang gadis diperkosa di dalam mimpinya. Mimpi itu nampak begitu nyata, begitu asli. Tapi, jika memang hal itu terjadi, mengapa dia bisa melihatnya? Apa hubungan antara dirinya dengan gadis itu? Gadis yang begitu mirip dengannya, seperti bayangan cermin.
~|Dua Sisi Cermin|~
by Sapphire09
CHAPTER I
Revelation
Lost in the darkness
Hoping for a sign
Instead there's only silence
Can't you hear my screams?
-- Somewhere by Within Temptation
Aku terbangun secara tiba-tiba. Kukedipkan mataku beberapa kali, mengingat-ingat dimana aku berada. Kududukkan diriku. Dan kugerakkan tanganku menyentuh pelipis kananku. Mimpi itu… datang lagi. Aku kemudian menghela nafas panjang sebelum memperhatikan sekitarku. Aku tidur di dalam hutan dengan rumput hijau sebagai tempat tidurku dan langit sebagai atapku. Aku kemudian menengadah dan menatap langit yang masih gelap. Nampaknya hari masih pagi buta.
Aku tidak ingat sejak kapan aku mulai memimpikan mimpi buruk itu. Sementara aku bertumbuh, orang yang diriku jadikan sebagai 'tubuh', juga tumbuh. Sejujurnya, pada awalnya aku takut. Aku mengira bahwa itu benar-benar 'diriku'. Berangsur-angsur aku mulai terbiasa. Namun, mimpi itu lama-kelamaan semakin sering muncul. Orang yang diriku jadikan sebagai 'tubuh' dalam mimpi itu juga selalu sama, yaitu seorang gadis yang wajahnya sangat mirip denganku, yang memiliki tiga pasang garis horizontal di tiap-tiap pipinya.
Pada awalnya, mimpi mengerikan itu hanya kuanggap mimpi belaka. Namun, aku kemudian menyadari adanya pola-pola tertentu di saat-saat mimpi tersebut muncul. Pada malam tanggal 10 Oktober, mimpi itu selalu muncul tanpa tekecuali setiap tahun, sementara pada hari lain, mimpi tersebut bisa terjadi, bisa tidak. Saat umurku mencapai enam tahun, mimpi tersebut makin jarang muncul, namun tiba tiba menjadi makin sering saat aku menginjak sepuluh tahun, sekitar setahun yang lalu.
Namun… perkosaan ini adalah kali pertama sepanjang aku bermimpi. Biasanya, yang terjadi hanyalah kekerasan secara fisik, tapi sekarang… perkosaan…
Tanganku bergetar. Aku masih bisa merasakannya… Dibawah kulitku, perasaan itu terus merayapiku secara keseluruhan.
Aku kemudian membereskan sisa-sisa kemahku dan semua tanda-tanda bahwa aku pernah ada di tempat itu. Setelah itu, aku pergi ke sungai terdekat untuk membersihkan diri. Saat kusentuh, airnya sangat dingin, sedingin es. Namun, air itu sedingin yang kubutuhkan untuk menghilangkan perasaan menjijikkan ini.
Suhu air yang dingin itu membuatku menggigil, hampir mati rasa, tapi setidaknya aku jadi tidak harus merasakan perasaan menjijikkan itu lagi.
Setelah aku yakin diriku sudah bersih, Kukeringkan diriku dengan sebuah jurus Fuuton(1) yang kupelajari sendiri dengan cara mengamati ninja yang kutemui. Setelah aku selesai mengeringkan diri, kutatapi bayanganku yang terpantul di permukaan air sungai itu. Aku melihat mata berwarna biru safir dan rambut pirang jabrik, namun tanpa garis apapun di pipiku. Inilah aku.
Aku kemudian meraih sebuah topeng berwarna putih yang berbentuk seperti wajah yang terbuat dari logam. Topeng tersebut murni berwarna putih, seperti wajah dingin sebuah boneka porselen. Inilah diriku.
Aku adalah Deathmask, Ronin termuda yang pernah ada.
Third person POV
"Sakura no hana wa itsu hiraku?" (2)
(When will the sakura flowers bloom?)
Suara nyanyian seorang anak yang sayup-sayup, datang dari sebuah rumah yang telah ditinggalkan dan tidak berpenghuni. Suara itu terdengar sangat pilu dan menyedihkan, suara yang seharusnya tidak keluar dari tenggorokan anak-anak seusianya.
Suara yang seharusnya ceria...
"Yama no osato ni itsu hiraku."
(They bloom when they are in their mountain homes)
Suara itu terus bernyanyi. Suara isak tangis terkadang terdengar ditengah-tengah nyanyian itu. Suara yang manis dan indah, namun pilu… dan dapat menghantui mereka yang mendengarnya.
"Sakura no hana wa itsu niou?"
(When will the sakura flowers smell fragrant?)
Anak yang menyanyikan lagu tersebut hampir tidak berpakaian. Selembar kain putih tipis adalah satu-satunya benda yang menutupi tubuh kecilnya.
"Warau nana no ko asobu koro."
(When the laughing seven-year-old child plays)
Matanya yang berwarna biru safir itu nampak kosong dan mati, seperti boneka. Padahal mata itu harusnya bersinar cerah dan hidup.
"Sakura no hana wa itsu odoru?"
(When will the sakura flowers dance?)
Rambut pirang yang panjangnya mencapai bahunya itu tergerai berantakan. Jika dilihat, dia tidak mungkin berumur lebih dari sepuluh tahun.
"Utau nana no ko nemuru koro."
(When the singing seven-year-old child sleeps)
Air mata terus mengalir dari matanya selagi dia bernyanyi. Tubuhnya terasa dingin, membeku. Dia terus memeluk lututnya dengan erat, mencoba untuk menghangatkan dirinya, namun sia-sia. RAsa dingin itu terus menjalari tubuhnya. Meskipun begitu, rasa sakit itu… rasa itu masih bisa ia rasakan. Dia merasa… Jijik.
"Sakura no hana wa itsu kuchiru?"
(When will the sakura flowers wilt?)
Perasaan itu masih ada, menggerogoti seluruh tubuhnya, menyelimuti setiap sel-selnya. Perasaan saat mereka menyentuhya, dia masih mengingatnya…. Dia terus memegangi tangannya dengan erat, sampai-sampai kuku-kukunya melukai kulitnya hingga berdarah. Betapa inginnya dia menguliti dirinya sendiri sekarang…
Betapa muaknya dia akan dirinya sendiri.
"Shinda nana no ko noboru koro."
(When the dead seven-year-old child ascends)
Untuk pertama kalinya, dia berharap bisa menggelung diri dan mati di tempat itu dan saat itu juga, selamanya menghilang dari hidup ini. Lirik terakhir dari nyanyiannya tidak terdengar jelas, terserap saat dia menundukkan wajahnya di antara lututnya.
Bagi gadis Jinchuuriki tersebut, kematian tidak pernah terdengar semanis saat ini.
Deathmask's POV
"…Shinda nana no ko noboru koro…," kuselesaikan lagu itu, lagu yang tiba-tiba saja muncul ke dalam pikiranku. Lagu yang tiba-tiba saja ingin kunyanyikan. Entah mengapa, aku dapat merasakan keputus-asaan dari dalam hatiku.
Aku kemudian memejamkan mataku yang tersembunyi oleh topengku. Samar-samar, aku masih dapat mengingat mimpi itu.
Gadis itu… Gadis itu telah diperkosa.
Dan aku merakan tiap menit rasa sakitnya.
Bohong jika kukatakan aku tidak peduli.
Tidak, aku sangat peduli. Kuputuskan untuk mencari gadis itu, jika benar keberadaannya bukan hanya sekadar mimpi
Aku kemudian menatap matahari yang terbit dari arah hutan. Hi no Kuni(3) nampaknya merupakan tempat terbaik untuk memulainya…
Glossary:
(1) Bagi yang tidak tahu Fuuton, Fuuton itu adalah kategori untuk jurus ninjutsu elemen angin. Pembagian elemen di dunia Naruto kan ada lima, tuh? Kalo ninjutsunya itu berelemen air (misal: Suiryudan no Jutsu) itu masuk kategori Suiton. Kalo elemen api (misal: Gokakyuu no Jutsu) masuk Katon, dsb. Yah, kira-kira gitu deh! (NB: Bukan Futon tempat tidur jepang, lho! .)
(2) Bagi yang suka Jigoku Shoujo, pasti tau nii lagu. Lagu ini adalah lagu yang dinyanyiin Ai ma Sentarou di episode akhir Jigoku Shoujo. Kalo ga salah, episode 25. Judulnya Kizamareru Oto (coba aja cari di google atw youtube atau situs kesayangan anda ^^)
(3) Hi no Kuni: Negara Api, negara dimana ada desa Konoha itu, loh. Jangan ketuker sama Negara Api-nya dunia Avatar: The Last Airbender, ya ^^ lol~
Arti dari judul chapter ini (Revelation) adalah semacam penerangan atau ilham. Kira-kira karena si 'Deathmask' mendapatkan ilham untuk mencari anak perempuan dalam mimpinya? hmm....
Sapphire09: Chary-chan, thanks again ^^
tuh, ak dah ngasi tanda kalo ad pergantian POV. Masih bikin bingung gak?
R&R Please!!
