Maaf kalo fict ini ganti title.

Sebenernya, saya berniat untuk menjadikannya puluhan chapter, tapi kayaknya gak pas?

Jadi aku potong-potong, kalo gak salah, namanya Session yah?

Kayak Harry Potter gitu..., hehehe...

-a

OK. Sekedar tips, tolong bacanya pelan-pelan yah?

Soalnya ada beberapa paragraf yang perlu dipikirkan artinya. Dan maaf, aku sudah coba mendeskripsikannya sedetail mungkin. Tapi, mungkin karena saya masih pemula. Jadi masih harus banyak belajar.

Balesan Reviewer ada di bawah. Langsung aja!

Tetapkan "Reading and Reviewing!" (moga aja gak salah bahasanya... -a)

WARNING!

Saya tidak tahu jelas apa itu AU, CANNON, OC, ataupun OOC. Bila anda tahu ada yang salah, tolong review ya...? ^^ . Dan ingatkan saya tentang Typo lagi...

Genre ; Sci-Fi and Romance

Rate ; T

Language ; Indonesian.

Pairing ; ... Gak tau, baca aja.

Disclaimer ; Naruto punyanya Mashimoto-sense, trus Yang laen-laennya punya pengarangnya masing-masing. Cerita ini punya saya!

Story Word's ; 2687 word's

Yosh! Selamat membaca...

Summarry ;

Naruto yang mencoba mengikuti IFA. Yang awalnya untuk mengukur kemampuannya, tapi semakin dekat dengan hari batas pendaftaran, dia tak tahu harus bagaimana lagi.

.

F.A.N.F.I.C.T.I.O.N. P.R.O.J.E.C.T.

Chapter 2, Reading and Listening, Membaca dan Mendengarkan

.

.

.

.

.

.

"Legenda Penulis... Dan tahu diri..." gumamku

Still Naruto P.O.V.

Lalu aku membacanya, dan seperti sebuah game online, aku langsung bisa merasakan, dan masuk ke dalamnya.

.

Di dalam BUKU

Aku masuk ke dalam realita maya ini.

Saat ini, aku sedang berperan sebagai seorang anak yang terus di ejek.

"Dasar sok keren! Cupu!" lalu salah seorang dari mereka mendorongku, hingga aku terjatuh di atas lantai. Kemudian mereka meninggalkanku, setelah puas mencemooh dan menyiksaku.

Aku mulai berdiri, menatap sekelilingku.

Dan aku hanya bisa melihat perpustakaan sekolah ini yang berantakan. Dengan puluhan buku yang tidak pada tempatnya.

Padahal tadi, aku dihukum untuk membersihkannya. Dan meletakkan pada tempatnya.

Saat mereka menghinaku, mengejekku, sebenarnya dengan kemampuan wushu yang aku punya, aku bisa mengalahkan mereka semua. Tapi mereka itu temanku.

Yang mengejekku. Menghinaku. Mencemoohku.

Mereka adalah temanku.

Lalu aku mulai membersihkannya.

Hanya satu buku yang belum ku tata, tapi seseorang memanggilku. Dari arah belakang.

"Kenapa kau biarkan saja mereka tadi...?" tanyanya dingin padaku. Ya, dia sahabatku di sekolah ini.

Aku mulai berdiri dari jongkokku mengambil buku di lantai tadi, "Mereka itu temanku," kataku singkat, dan memunggunginya.

"Hh? Teman...?" katanya dengan nada tak percaya, "Kau sadar? ... Mereka bukan temanmu...! Setelah mereka memanfaatkan kejeniusan dan kepopuleranmu karena wajah tampanmu itu, kau akan dibuang oleh mereka! Kau ini orang miskin, dan mereka orang kaya! Mereka merasa kau ini bodoh, mudah dimanfaatkan! Apa kau tahu?" bentaknya kesal padaku.

Tapi aku tahu, dia peduli padaku. Mengkhawatirkanku.

Dan aku hanya bisa tersenyum merasakannya.

"Apa kau tahu, Yahiko...?" aku mulai memandang wajahnya.

"...?"

"Aku tahu. Aku tahu diri, pada diriku sendiri. Bahwa mereka semua, akan tahu artinya persahabatan dan pertemanan dalam hidup. Tapi..." Aku memejamkan mataku sebentar, dan membukanya perlahan. "Bila mereka tak tahu pertemanan itu, aku yang akan memberi tahu mereka. Dan, jika mereka tak mengerti persahabatan itu, aku yang akan membuat mereka mengerti..."

Dia diam. "Tapi itu mustahil! Itu hanya berlaku untuk sesama kalangan kita! Kita tak dapat berbuat apa-apa untuk membantahnya. Percuma menasehati orang kaya seperti mereka itu!" bantahnya.

Lalu aku tersenyum lagi, dan berniat meletakkan buku yang kupegang ke rak buku di sebelahku,"Kalau begitu, aku yang akan membantahnya. Akan kubuat mereka memahami perbedaan kita semua, dan semua orang akan dapat mengerti sama lain."

Dia diam. Sepertinya tak dapat membantah kata-kataku lagi.

Aku meliriknya, dan meletakkan buku terakhir ini pada tempatnya, "Karena, namaku... Adalah..."

~~Daisuke~Edogawa~~

"Jadi, ayah dan ibu pergi berlibur ke Orb?" tanyaku sambil mengunyah sarapan pagiku.

Aku awalnya terkejut, karena ayah dan ibu belum pulang sampai sekarang. Tak biasanya. Dan mendapati kakekku sedang di meja makan, aku ikut saja. Karena ternyata sebelum aku bangun, dia sudah memesan makanan untuk sarapan pagi kami.

"Benar. Aku baru tahu tadi pagi setelah bawahan Minato menelepon kita untuk memberi kabar. Ternyata mereka ambil cuti selama satu minggu dari kantor pemerintahan tempat mereka bekerja," jelasnya. Lagi.

Dengan lahap, tak ambil pusing atas liburan mereka, aku memamakan sarapan pagiku bersama kakek. Jarang sekali hal seperti ini terjadi. Tak disangka aku sudah menghabiskan semuanya ternyata. Dan setelahnya, aku berniat ingin pergi jalan-jalan. Aneh sekali? Hari ini pikiranku ingin refreshing setelah susah payah membuat setengah bagian dari fict yang akan ku publish besok. Aku ingin menulis lagi, tapi tak tahu harus menulis apa. Jadi, refreshing di hari Minggu ini sangat kubutuhkan. Sekalian cari ide, hahaha...

Aku pun beranjak dari kursiku.

Tapi, tiba-tiba kakekku menahanku dengan pertanyaannya, "Kau mau ke mana...?"

Aku hanya tersenyum, "Mau jalan-jalan."

"Ini," dia melemparkan dua lembar kertas di depanku. Ku ambil, kemudian ku teliti. "I-ini 'kan..."

"Itu dua tiket masuk ke Digimon Land, hadiah untukmu karena telah membaca buku pertamaku tadi malam..." Jelasnya, sambil membuka koran. Menutupi wajah tuanya. "Kau bisa mengajak seseorang di sana." Jelasnya lagi.

'Satu orang? ... Sakura!' pikirku kegirangan. Buru-buru aku menuju telepon rumahku, dan kemudian menekan beberapa tombol di sana.

Tuut...

Cklek.

"Hallo?" tanya suara seorang di seberang sana. Lewat telepon. Menunggu jawabanku.

"Hallo... Ini Sakura yah?"

"Iya betul. Naruto? Ada apa menelponku pagi-pagi begini?"

"Ah, anu..." Jawabku gugup.

"Hm...?"

"Aku punya dua tiket ke Digimon Land. Kamu mau ikut?" ajakku. Yang terus terang, agak ragu dia menerimanya.

"Jelas! Jelas! Wah! Terimakasih Naruto..." Teriaknya girang.

Tak ku sangka dia mau. 'Terima kasih Tuhan...'

"Ku jemput nanti ya, Sakura...? Jam sembilan tepat."

"O.K.^^"

Klik. Telpon ditutup.

Dan aku juga menutupnya. Perasaan bahagia kini sedang melanda hatiku. Tanpa sadar, aku meloncat-loncat kegirangan. 'Yahuu...!'. "Terimakasih, kek!" kataku, seraya berlalu ke kamar mandi.

"Sama-sama..." Gumamnya. Tapi aku masih bisa mendengarnya.

~~Daisuke~Edogawa~~

Digimon Land, siapa yang tak kenal Dunia Fantasi itu? Tempat yang berluaskan puluhan kilometer persegi. Yang terdiri dari tempat bermain anak-anak sampai dewasa, lalu stand-stand, tempat konser, lapangan olahraga, dan masih banyak lainnya. Serta padang rumput yang sedang kugunakan untuk berbaring ini. Semua menyatu di dalam Digimon Land ini.

Tempat yang sangat terkenal dengan monster-monster yang ku anggap aneh. Tapi bagi anak-anak dan para perempuan, itu lucu. Tak jarang, setelah populer di TV. Serial Digimon sering dipentaskan di teater-teater tempat ini.

Lalu, aku hanya bisa tersenyum dan berbaring, setelah melewati banyak hal yang melelahkan bersama Sakura tadi. Aku mau saja, saat diajak naik Jetz Coasterz, Ghotz Houze, dan banyak lagi yang lainnya. Hingga aku sering di tertawakannya karena ketakutanku pada wahana-wahana itu.

Dan sekarang, sementara aku beristirahat. Sakura sedang asik bersama Ino serta Tenten yang ingin mencoba wahana-wahana lainnya. Setelah tidak sengaja bertemu kami saat aku sedang memuntahkan sarapan pagiku karena. Ya. Kau tahu? Jetz Couzterz di sini sangat menakutkan.

Tidak aneh, kalau dulu Shikamaru tidak mau diajak Ino ke sini. Aku tahu alasannya. Merepotkan.

Aku menutup mataku, lalu membukanya kembali.

Mencoba memandang awan dari atas rerumputan ini. Di jauh sana, terlihat pegunungan dan danau buatan yang makin menambah indah serta nyamannya tempat ini.

Dengan masih memandang awan, aku berfikir, 'Apa awan itu ada yang melukisnya ya? Rasanya dari hari ke hari, semuanya berbeda.'

Sraakkk...

Aku terbangun dari lamunanku, dan melihat seseorang di sampingku. Ternyata, ada orang yang baru berbaring bersamaku. Di samping kiriku. Dan memandang awan. Sama sepertiku.

Dia diam. Tapi aku yakin dia menyadari tatapan mataku padanya.

Cukup lama, hingga ia menyadarkan kekagumanku padanya. Setelah ia mulai berbicara.

"Hidup ini kosong. Hampa. Tak ada kepastian. Aku berfikir, untuk apakah orang-orang itu hidup? Sungguh aneh. Kenapa kita bisa hidup. Dan, kenapa mereka mati? Apa arti hidup kita. Bila pada akhirnya kita mati. Mengapa kita membantu mereka? Lalu pada akhirnya kita kembali ke 'asal'nya. Hijau, biru, putih. Kuning, merah, hitam. Tawa, bahagia, hidup. Tangis, kepedihan, mati. Kau tahu apa yang kupikirkan...?" kemudian dia memalingkan wajahnya, mencoba menatap wajahku yang sedari tadi memandang kagum pada kata-kata dan cara bicaranya itu. Yang mengapa, menurutku dia ingin mati. Sangat ingin mati.

Aku lalu membalas pandangannya. Wajah tampannya itu, lalu tingginya, dan kulit putihnya yang masih kencang itu. Aku berfikir, 'Pasti usianya sama denganku. Tapi, mengapa ucapannya tadi seperti orang yang ingin mati?'

"Benar?" tanyanya lagi meminta jawabanku.

"Tidak," jawabku singkat.

Lalu. Dia kembali memandang awan. Aku juga sama, kembali memandangi awan.

"Waktu aku masih kecil, sampai tiga tahun lalu... Ak merasakan putihnya surga (kebahagiaan). Lalu pada akhirnya, semuanya hilang karena rasa yang namanya cinta itu..." Katanya lagi.

"Aku dulu juga pernah mengalaminya. Juga kepedihan, dan cinta itu." Dan aku teringat Hinata. Sahabat kecilku, yang sekarang tinggal entah di mana.

"Kalau ditulis di dalam buku... Hidupku hanyalah selembar kertas berwarnakan hitam. Yang dulunya putih, hanya sebagai awal. Kita menulisnya sendiri, dan mereka membacanya. Aku dulu pernah ingin menjadi Tuhan, tapi itu tidak mungkin. Karena aku sudah punya Tuhan..." Katanya lagi. Yang makin membuatku bingung. Kata-katanya begitu dalam akan makna. Yang sepertinya, dari ia berbicara, usianya bisa dibilang ratusan tahun.

Entah kenapa, otakku yang sering dianggap bodoh oleh teman-temanku sekarang terbang entah ke mana. Berganti dengan pemikiran-pemikiran intel, yang aku tak mengerti sebelumnya.

Aku mulai berbicara dengannya. Mengobrol. Tentang banyak hal. Yang aku sendiri tak mengerti. Sampai pada akhirnya ada seseorang yang memanggilku.

"Naruto! Sudah sore! Ayo pulang!" ajak Sakura dari kejauhan. Dengan berteriak sekeras-kerasnya.

Kemudian aku bangkit. "Ya Sakura...!" jawabku berteriak juga. Dan kemudian, aku memandang laki-laki itu lagi, "Sebelum kita berpisah, bisa kau katakan namamu? Nanti akan ku katakan namaku," kataku meliriknya.

Dia masih memandang awan, "Belum bisa. Kita belum ada ikatan waktu (belum saling mengenal). Tapi aku bisa bilang nama lainku..."

"Baiklah..."

"Memories of Daisuke Edogawa..." Katanya menutup mata.

Wus...

Sebuah daun terbang di atas wajahnya.

"Kenapa?" ku kerutkan keningku, bingung akan jawabannya.

"Memories... Ingatan. Of... Dari. Daisuke... Entah sampai sekarang aku belum tahu apa artinya, tapi suatu saat aku pasti tahu. Dan. Edogawa... Aku menganggap hidupku ini di dalam zaman edo, terkekang oleh masa lalu yang tak ingin ku lupakan. Yang semuanya berarti, 'Ingatan yang belum mempunyai arti, dari zaman Edo'..."

"Baiklah... Sepertinya aku mengerti." Aku kemudian melangkahkan kakiku. Menjauh darinya.

"Kau...?" tanyanya pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.

"Memories, of Namikaze Edogawa..."

Jawabku tanpa menghentikan langkahku dan memalingkan wajahku. Dan aku mengangkat tangan kananku. Tinggi-tinggi, dan melambaikannya.

"Sampai jumpa..." Kataku dan dia bersamaan.

"... Edogawa..."

~~Daisuke~Edogawa~~

"Kau tadi kenapa Naruto...? Tak biasanya kau jadi pendiam seperti ini...?" tanya Sakura penuh selidik padaku.

"Aku sendiri tak tahu Sakura. Hehehe," aku tertawa kecil. Menganggapnya sebagai pujian, "Mungkin ini yang dinamakan dewasa ya...?" candaku.

"Hah!" satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Heran. Aku yang biasanya suka cari perhatian, pembuat onar. Sekarang beranjak menjadi lelaki dewasa.

Aku sedang berjalan bersamanya, mengantarnya pulang. Setelah menempuh perjalanan dari Digimon Land dengan menggunakan taksi, dan menurunkan kami sembarangan. Dengan alasan kehabisan bahan bakar. Tak ada cara lain, selain jalan kaki. Toh rumah Sakura cuma satu kilometer lagi.

"Naruto...?"

"Ya...?"

"Aku hanya ingin memberitahumu, lusa nanti tepat jam 12 malam, pendaftaran di IFA akan ditutup. Selain itu, hari Rabu nanti akan ada seleksi. Bagi fiction yang mendapat point sedikit, akan di diskualifikasi. Dan dipilih 10 fiction, yang mempunyai point dan atau dukungan terbanyak di setiap kategori yang disertakan untuk ikut mominasi. Lalu..." Dia menoleh ke arahku yang sedang memperhatikannya bicara. Lalu dia kembali pada pandangan lurus di depannya, "Sepuluh yang lolos nominasi di setiap kategorinya, akan diundang di Skypea hall..."

"Maksudnya Sakura...?" tanyaku agak tak mengerti pembicaraan panjangnya.

Dia menghela napas, "Mudahnya, kau ikutkan saja fictionmu itu. Paling lambat lusa nanti. Lalu, kau periksa saja mailboxmu. Nanti akan ada pemberitahuan di sana."

Setelah lama berjalan, akhirnya kami sampai di depan rumahnya.

"Oh ya, kau tadi berbaring di sana dengan siapa Naruto?" tanyanya, serta mencoba membuka pintu pagar rumahnya.

"Bukan siapa-siapa," jawabku penuh makna.

Dan tepat saat pintu pagar terbuka, tiba-tiba saja. Secara reflek aku menggenggam lengannya, teringat akan perkataan pemuda itu tadi. Saat aku sedang mengobrol dengannya.

'Aku tak mengerti hidup manusia. Walau terus hidup, tak berguna bila telah kehilangan hal itu,' cinta.

Dia tersentak. Kaget. Tapi entah kenapa ia diam saja saat aku menatap wajahnya. Memandangnya dalam-dalam.

"Aku mencintaimu, Sakura..."

Dia tak merespon pernyaatan cintaku yang secara tiba-tiba ini.

Tapi dia semakin mendekatkan wajahnya padaku. Dia tersenyum.

Dan...

Cup.

Bibirku dikecup olehnya? Wow!

Kemudian, selagi aku dalam lamunan bahaiaku, dia sudah masuk melewati pagar rumahnya. Dan berniat menutup pintu gerbang rumahnya ini.

"Lalu, bagaimana denganmu!" tanyaku padanya. Meminta kepastian. Ia masih memandangku dari balik pagar.

Yang memisahkan kami.

"Akan ku jawab. Bila kau mendapatkan award's untuk fict buatanmu!" katanya berlari. Menjauh. Dan masuk ke dalam rumahnya.

Aku kemudian menghela napas. Pelan.

Dan beranjak pergi menjauhi rumahnya. Meninggalkan, untuk pulang ke rumahku.

"Sampai jumpa nanti Naruto...!" teriaknya dari dalam rumahnya.

"Ya. Sampai nanti... Sakura." Gumamku.

~~Daisuke~Edogawa~~

"Kau tidak pulang Kek...?" tanyaku pada kakekku, dengan memfokuskan mataku pada layar laptopku. Membaca funfict karya para Author lain.

"Besok saja. Aku malas kalau Tsunade ngamuk-ngamuk enggak jelas seperti kemarin." Terangnya, dan mencoba untuk menghampiriku.

Ya, Tsunade adalah istrinya. Cewe' yang super duper galak, dan nenek-nek perkasa. Walau bagaimanapun. Err... Dia masih sexy.

"Sial!" umpatku kesal.

Aku tak tahu, kalau dari tadi ternyata kakekku memperhatikanku.

"Kenapa?" tanyanya serius. Lalu memaksaku menutup, dan memberikan laptopku padanya. Dan dia berjalan menuju ke sebuah sofa di depanku.

Aku mengacak-acak rambutku, "Kalau begini terus, aku tak kan bisa menang! Apalagi fiction punyaku belum kelar. Argh! Sial!"

"..." Kakekku diam. Dan meletakkan laptopku di atas meja ruang keluarga di depannya.

Pikiranku kacau. Ambisi untuk menang di IFA olehku meningkat secara drastis. Padahal awalnya tak seperti ini. Aku menyerah!

"Kek, bagaimana caranya untuk menulis?" aku pasti sudah gila menanyakan itu pada penulis hentai.

"Kau ingin menang?" tanyanya balik padaku.

Apa-apaan ini?

"Ya," jawabku cepat.

"Kenapa?"

'Hah!' kejutku di dalam pikiranku. 'Kenapa?'

"Kenapa kau ingin menang?" ulangnya lagi.

"Itu... I-itu," entah kenapa aku tak dapat menjawabnya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Apakah karena Sakura? Atau alasan lainnya? Yang jelas, aku tak tahu.

"Menulis adalah sebuah kegiatan yang alami. Setiap manusia, harus bisa menulis. Untuk menerjemahkan pemikiran serta isi hati mereka bila tak dapat diungkapkan dengan kata-kata." Nasihatnya.

Aku lalu mendengarkannya. Karena aku tahu, perkataan dari kakekku disaat ia serius. Adalah sangat berarti.

"Natural itu mengalir dari otak dan hatimu. Menuju tanganmu." Jelasnya lagi berkoreografi dengan kedua tangannya, "Jika kau menulis dengan terpaksa, ingin menang dari lawanmu. Itu bukan tulisan. Jika kau menulis untuk menghina, mencemooh, menyakiti, menghancurkan atau merusak yang bukan merupakan ideologimu. Itu bukan tulisan. Tetapi sampah yang tak berguna." Lanjutnya.

Sekarang, aku mulai mengerti atas perkataannya itu, "Aku mengerti itu Kek, tapi entah mengapa ingin sekali aku menang. Aku tak mengerti..."

Aku menundukkan kepalaku. Menatap lantai.

Dia mulai berdiri, terlihat bayangannya di lantai. Menghampiriku.

Aku memutuskan untuk mengangkat kepalaku, beradu pandang dengannya.

"Aku mengerti ambisimu itu. Dulu aku juga pernah mengalaminya," dia mencoba menyamakan tingginya denganku yang dalam posisi duduk di atas kursi. Dan dengan ke dua tangannya, dia menepuk ke dua pundakku, "Apa yang menjadi tema tulisanmu...?"

"Cinta..."

Dia mulai berdiri, "Maka menulislah karena cinta itu. Dan jangan karena ingin memenangkannya..."

Dia berpaling. Memunggungiku. Dan berjalan menuju dapur. Menjauhiku.

'Jadi? Menulis untuk dan karena cinta? Bukan karena untuk cinta terbalaskan memenangkannya? ... Tapi...? Aku masih bingung?'. "Kek!" kupanggil ia secara mendadak. Hingga menyerupai teriakan.

Dia menghentikan langkahnya, dan menolehkan mukanya ke arahku, "Apa...?" tanyanya dat ar.

Aku membuang mukaku ke kiri, "Itu... Ada yang ingin. Aku tanyakan lagi. Tentang..."

.

..

...

...

...

...

...

TO BE CONTINUE...^^

.

Balesan Review~

Buat yang ngeVOTE dan Main Chara;

ZephyrAmfoter, Haruno Aoi, Zora Nh, Chiku, Arashi no login, Shinker bell, Meiko Namikaze, Hikari Shinju, Syeren, ruki-darklight17, Amutia Rin, Phantomhive, Oh-Chan is Nanda, Kasu Hano-HimaUlqui, Zie-RainCOol.

Thanks yah kalian semua...!

*peluk-peluk*

Dan vote and Main Chara ditutup.

Trus, yang coment;

Misyel ; Udah tahu kan...? ^^ hehe... Ntar isi buku itu juga ngebantu Naru di chap.3 kok...

AeroBoy ; Maksud saya gini, nama asli Chara akan tetep tampil, tapi nama anda akan jadi samarannya. Liat di atas, saya Main chara juga... Hehehe...

*numpang narziez di fict ndiri, hohoho...!-di bantai Readers, Nggak lucu!-*

Paham kan? Liat aja deh, end chapter(3) di sesion pertama ini nanti. :)

Tambal Panci ; Ehm! Tiap kalimat di lirik Wind OST Naruto itu bisa di jelasin jadi satu paragraf lho. Dont dry with fakes of fears, maksudnya 'Jangan menambah semua itu(kekecewaanmu), dengan berbohong dari ketakutanmu (kayaknya lho).

Karinuuzumaki ; OK. Thanks. ^^

Masahiro night Seiran ; Thanks, Masahi-san. Err... Baca aja deh, ntar juga ngerti. Liat summarinya... Itu inti konfliknya (apa iya?). Kalo enggak ngerti, nanti aku jelasin di end chapter nanti. (Chapter 3, end chapter for session one.)

Oh-Chan is Nanda ; O.K. ^^ Thanks.

Namikaze Sakura ; Gampangnya aja ya?

seme =teme(di NARUTO) = Tipe penyerang, julukan untuk penyuka sesama jenis. (YAOI-huek'-ato Yuri-author muntah lagi-)

Uke = Dobe = tipe penerima. Julukan penyuka sesama jenis.

Udah paham...? Maaf, aku masih pemula, baru 14 bulan kenal FFN. Disarankan tanya dengan yang lebih tahu.

MiniMo ; Aku tahu. T.T

Tapi kalo dibaca baik-baik, pasti bakal ngerti deh... ^^

Rin Akari Dai Chi ; OK. Akan aku coba.

Hana Hirogaru ; Gak tahu (yang sbenernya gak mu ngasih tahu. T.T)

OK.

Maaf kalo ada salah kata, atopun penulisan. Coz saya ngetik pake HP... Jadi mohon dimaklumi...

Sekedar pengertian diatas, bagi yang blum tahu,

Ideologi: pola pikir.

OK. Saya gak minta banyak-banyak. Cuma Review~

THANKS SEMUANYA! Yang udah baca maupun review. Udah 5 hari ni fict update, n' wow! Aku liat trafficnya...

HEBAT!

Tapi para reviewernya gak ada 6% ya...?

Gak apalah, pokoknya thanks buat kalian semua...!

Kalo ada yang gak ngerti, bisa tanya lewat PM ato Review.

Sekali lagi, REVIEW YA...! Karena REVIEW anda adalah nafas bagi para author.

SAMPE KETEMU DI CHAPTER DEPAN...!

SAYONARA... ^^