A/N: Saya rada males nge-update fic ini. Wangsit sama ilhamnya lari entah kemana, padahal udah kepikiran endingnya. Ya udah deh, baca aja.
Disclaimer: Kalo Code Geass punya saya, ceritanya bakal seancur fic ini.
Warning: OC disinggung di sini. AU, Gaje, lebay, OOC, gak ditanggung karena emang sering ada di fic saya, iya kan? Ketauan yang gak pernah baca fic saya.
:: Chap 2: The Most Important Person::
-Lelouch's POV-
Sarapan hari ini cukup berbeda. Nunnally menyiapkan fortune cookies berisi pertanyaan. Pertanyaan itu harus dijawab atau Nunnally akan menyita sarapan kami. Kadang- kadang anak itu bisa berlaku sangat kejam terhadap orang- orang yang disayanginya. Uh… padahal aku lapar sekali. Semalam aku tidak makan gara- gara Nunnally menghanguskan kroketku. Kalau hangusnya sedikit sih, mending. Tapi ini? Kroketnya sudah seperti batu bara. Mana bisa dimakan? Setahuku aku tidak mewariskan kemampuan memasak yang parah padanya. Ibu, jago memasak. Ayah… mana kutahu. Oke, kusimpulkan ia turunan Ayahku. Memang sih, Nunnally lebih mirip Ayah daripada Ibu. Dan curangnya, tadi malam ia dan C.C makan mi instant sementara aku hanya menelan teh mint- ku. Setelah kucek, mi instannya habis. Terpaksalah aku tidak makan. Memasak lagi tidak sempat, aku harus mengerjakan PR ekstra karena nilai ujianku jelek.
OK, here we go. Aku sudah mengambil fortune cookiesku. Semoga pertanyaan matematika. Semoga bukan pertanyaan aneh- aneh. Semoga aku dapat sarapanku hari ini- omelette buatan Sayoko, terjamin tak akan membuat sakit perut.
Ayo, buka kertasnya!" Desak Nunnally. Ia sendiri sudah menjawab pertanyaannya, yaitu," Apa yang akan kaulakukan jika orang yang kausayangi kesulitan?" dan jawabannya sangat panjang. Ia mengoceh selama 5 menit nonstop. Aku heran- kenapa mulutnya tidak kering, ya?
"Onii-sama, pertanyaannya apa?" Tanya Nunnally.
"Pertanyaannya 'Siapa orang yang paling penting bagimu'… apakah harus dijawab sekarang?"
"Tergantung kapan Onii-sama mau mengambil sarapanmu. Santai sajalah, ini kan hari Minggu. Tak usah terburu- buru."
Orang yang paling penting? Siapa lagi kalau bukan Nunnally? Aku sudah bilang, ia satu- satunya matahariku. Tapi dari pandangan matanya, Nunnally tampaknya tak mengharapkan jawaban itu sekarang. Mungkin ia sudah terlalu sering mendengar cuap- cuapanku yang bunyinya," Kau adalah matahariku, Nunnally, aku akan selalu melindungimu, kau orang terpenting bagiku, blah blah blah-" dan lain sebagaimu.
"Kau- Nunnally, Suzaku, dan Ibu." Jawabku enteng.
"Satu orang!" Ya ampun, kekeraskepalaanku menurun padanya.
Tentu saja sulit bagiku untuk memilih satu diantara tiga orang itu. Nunnally, adikku tersayang. Suzaku, sahabatku sejak kecil. Dan- aku bukan anak durhaka, aku tetap saying ibuku meskipun ia sudah tiada. Toh jasanya tetap ada di hatiku.
"Setelah menarik napas panjang, akhirnya kujawab:" Kau, Nunnally."
"Yakin aku?" Sorot matanya tampak meragukan jawabanku.
"Tentu saja, aku sudah sering bilang padamu."
"Terima kasih kalau begitu. Ayo, C.C nee-chan! Ambil fortune cookiesmu!" Nunnally menyorongkan piring berisi fortune cookiesnya. C.C mengambilnya satu dan mengambil gulungan kertas yang ada di dalamnya.
"Apa bunyinya, C.C nee-chan?"
"Hem… sama. 'Siapa orang yang paling penting bagimu?'."jawab C.C dengan wajah datar.
"Wii, sama! Jodoh, dong.. " goda Nunnally. Ia jelas mengharapkan reaksi- reaksi 'manis' dari C.C seperti blushing atau lainnya, dan ia tak mendapatkannya. "Siapa, C.C nee-chan?"
C.C tampak berpikir.
Dalam hatiku yang paling irasional, aku berharap kalau itu aku.
Hahaha. Hahahaha! Dasar irasional.. Coba kau berpikir dengan rasional, Lelouch! Memangnya kau siapa sehingga menjadi orang yang paling penting baginya? Aku hanya teman sekelas- sekaligus serumahnya. Kuketuk pelan kepalaku.. Bisa- bisanya aku berpikiran seperti itu. Irrationality mode on… hey, aku jadi ingat kapan terakhir kali aku bersikap irasional seperti ini- waktu aku menyukai Euphie. Waduh, mengingatnya lagi aku bisa tertawa terbahak- bahak.
Setelah berpikir sebentar, C.C menjawab, "Mrs. Diana Halknig."
Nunnally mengangguk- angguk. Yah, tentu saja C.C menganggap Mrs. Halknig sebagai ibunya sendiri. Dia sudah lebih dulu merawat gadis itu daripada kami. Entah sjeak kapan C.C bersama dengan Mrs. Halknig. Mungkin sejak ia bayi. Aku tak pernah tahu, itu rahasianya. Kehidupan pribadinya.
Eh… perasaan apa ini?
Di salah satu sudut hatiku terbersit sebuah perasaan… perasaan apa? Ini.. bukankah… konyol sekali, ini perasaan kecewa. Kenapa aku mesti kecewa segala? Lagi- lagi kau bersikap irasional, Lelouch.
-C.C's POV-
Kuteguk tehku sambil mendengarkan Nunnally mengoceh (baca: berorasi) mengenai apa yang akan ia lakukan jika orang yang disayanginya mengalami kesulitan. Pertanyaan dari fortune cookies yang dibuatnya sarapan ini. Kadang gadis itu kreatif. Suasana jadi tak terlalu kaku. Kulirik jam- sudah lima menit ia mengoceh. Kurasa yang ia katakana menyentuh juga. Turunan dari kakaknya yang memang terkenal sebagai smooth talker. Kemampuan khusus Lelouch yang paling sering digunakannya memikat hati orang lain.
Aku masih asyik meneguk Earl Grey di cangkirku sampai akhirnya Lelouch mendapatkan pertanyaan dari fortune cookiesnya. Pertanyaannya: "Siapa orang yang paling penting bagimu?"
Mudah ditebak. Pasti jawabannnya Nunnally. Dia kan sister- complex, masa iya tidak mendahulukan adiknya dalam segala urusan? (Yah, kecuali urusan yang berbahaya dan beresiko tinggi, tentu saja.)
"Kau- Nunnally, Suzaku dan Ibu."
Oh iya. Aku tak memikirkan Suzaku. Dia anggota Knights of The Round, pasukan khusus Brittania yang ditugaskan memburu kelompok pemberontak yang meresahkan Area 11- sekalighus mantan anggota OSIS. Lelouch dan Suzaku selalu kompak. Suzaku paling bisa membuat sahabatnya itu tersenyum jika Lelouch sedang bersedih. Kadang aku iri dengan kekompakan mereka berdua. Mereka saling melengkapi dan bisa saling menghibur. Terlebih, aku iri dengan Lelouch. Ia sudah banyak mengalami kehilangan- kehilangan Ibunya, kakak tirinya, dan sosok seorang ayah. Sebegitu beratnya kehilangan yang dialami Lelouch, ia masih punya orang di sisinya yang mampu membuatnya tersenyum. Yang mampu menghiburnya, menghapus air matanya –meskipun aku ragu ia pernah menangis, tapi sekuat- kuatnya manusia toh punya sisi lemahnya juga kan? Jika kaubandingkan dengan nasibku, berkebalikan 180 derajat. Mrs. Halknig, seberapapun baiknya, beliau jarang bisa membuatku tersenyum apalagi tertawa. Ibuku? Sudahlah, jangan bicarakan Ibuku. Alih- alih membuatku tertawa, orang itu malah menimpakan beban bagiku. Beban yang membuatku membencinya meskipun sekarang rasanya tak berguna bagiku untuk membencinya. Toh ia sudah mati. Dulu ia memang menyayangiku, dan aku juga menyayanginya. Namun pengkhianatannya membuatku menorehkan dendam tak berujung padanya. Seenaknya ia menjual jiwaku, dan bayarannya aku harus menanggung beban ini. Immortalitas. Seharusnya aku sudah mati sejak lama. Tapi wanita itu, dengan kejamnya, memberikan immortalitas padaku tanpa tahu dampaknya bagiku. Karena itu aku dianggap penyihir oleh orang lain. Kebencian pun muncul. Benci diriku, benci hidupku, dan dibenci orang orang di sekelilingku. Aku tak kuat hidup terlalu lama. Terlalu banyak beban yang harus kupikul. (A/N: Author aja baru idup 15 tahun stressnya gak ketulungan.. wkwkwkwk) Kalau kau menganggap immortal itu enak, kau salah besar. Memangnya enak ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi? Mereka pergi, sementara kita tak bisa mati. Katakan padaku apa itu enak? Ah, maaf, aku terbawa emosi.
"Ayo, C.C nee-chan! Ambil fortune cookiesmu!" Desak Nunnally sambil menyorongkan sepiring fortune cookies. Dia sudah menganggapku sebagai kakaknya sendiri- sejak awal ia memang memanggilku "Nee-chan". Tak mau mengecewakannya, aku mengambil sebuah. Ternyata pertanyaan yang harus kujawab sama seperti pertanyaannya Lelouch.
"Hem… sama. 'Siapa orang yang paling penting bagimu?'."
"Wii, sama! Jodoh, dong.. " Nunnally meledek. Aku hanya tersenyum kecil. Hanya kebetulan, kebetulan biasa yang bisa terjada kapan saja dimana saja, kan? Tidak juga menentukan jodoh atau tidak. Kebetulan adalah bagian dari dunia yang biasa, tidak istimewa.
"Siapa, C.C Nee-chan?" Nunnally kembali mendesak.
Siapa? Aku tak pernah punya orang yang spesial. Jika aku ditanya soal ini saat Ibu masih hidup dan tidak menanamkan immortalitas ini padaku, tanpa pikir panjang aku akan menjawab Ibu. Tapi sekarang? Aku tak tahu. Mao? Jangan, jangan ungkit- ungkit dia. Ia hanya masa laluku yang tak penting. Aku terlanjur sakit hati dibuatnya. Aku tak mau mempedulikannya. Sekarang ini, orang yang paling bisa mengerti aku ya hanya Mrs. Halknig…
"Mrs. Diana Halknig." Jawabku pendek.
****TBC*****
Author's Corner
Seperti biasa, perbincangan gila
Arisa: Wangsit.. elo kemana sihhh.. kok susah banget yah sayah ngelanjutin fic ini… *guling guling nyari wangsit* padahal gue bikinnya udah lama…
Ayucchi: Kan menghilang dibawa TEMBAKAN CINTA!
Zero (my otoutou): Iiiih.. idung Nee-chan ngapung tuh..
Arisa: HUEK! BERISIK LU PADE! *ngelempar panci ama penggorengan ke Ayucchi ama Zero* TEMBAKAN CINTA DARI HOLAND? Sumpah, gue mah mending dilempar granat daripada gak sengaja nangkep kok nyasar dari orang songong bin sutuy ntuh!
L3MayChan: Iya, orang songong yang jadi cem-ceman lu.
Arisa: URUSAI! Gak usah bahas- bahas tembakan cinta, lah, orang songong, lah.. Gue sebel sama dia, songong banget mentang mentang kelas dia menang futsal-
Ayucchi: KELASnya, bukan DIA.
Zero: Salah Nee-chan sendiri, Suka ama orang songong. Sebelnya jadi berlebihan.
Arisa: Nah, gue anehnya kenapa kalo ngeliat dia makin songong makin keren. Eheheheheh.
L3MayChan: *ngelirik Zero* Zero, kayaknya nee-chanmu harus cepet-cepet dibenerin, deh.
Penutup beneran
Okeh, saya tau saya sotoy abis di chapter ini. Yes, I Know. Saya kehilangan wangsit buat ngelanjutin fic ini padahal endingnya udah tergambar jelas sebening kristal di otak sayah. Ya udah deh. Review yah! Banyak kesalahan di fic ini untuk dikoreksi lo, senpai! Makanya klik ijo- ijo dibawah dan tinggalkan kritik, saran, dan sumbangan (sumbangan ide boleh, uang boleh, pulsa boleh… gyahahaha) di review. Oh iya, maaf kalo ngapdetnya bakal lama.
Mata na chapter 3! m( _ _ )m
Balesin review
Lelou-ShiiTsu Lamperouge: Makasih ya udah mau review. Ciyeeh yang ultahnya beda 10 hari sama sayah. Otanjobi Omedettou^^Eh, Lelouch matek apa nggak sih? Saya penasarann…Masih suka browsing tentang Lelouch sama C.C? The Slave and The Prince masih mau diapdet gak? Bikin fict baru dong!
Ayucchi Fujiwara: Itulah kehebatan terpendam saya… nguahaaahahahah *evil laugh* Change Couple udah apdet belom? Apdet cepetan napa? Wkwkwkwk.. eh, fict OSIS yang waktu itu mau dipost gak? Hehehehe. Maksa banget gue xDDDD
Oh iya, saya buka lowongan jadi OC (Other Character) di fic ini. Jadi "adik" nya C.C. Munculnya Cuma bentar sih tapi perannya penting banget. Ya udah, saya tunggu ya lamarannya.
