"Entahlah, mungkin sejak Tuhan mengukir takdir untuk saya dan Anda."

-

Eren Jaeger. Selama dua hari belakangan ini terlihat agak berbeda.

Tentu saja. Dia sering kedapatan melamun. Lebih banyak diam. Dia juga jarang, menggubris penghinaan yang Jean lemparkan padanya. Dan oh, jangan lupakan dia selalu mengalihkan pembicaraan saat Mikasa maupun Armin bertanya tentang Eren yang akhir-akhir ini, agak berbeda.

Seperti saat ini. Eren diam melamun sambil menatap kemoceng di tangannya. Mikasa dan Armin mencoba untuk tak peduli. Pekerjaan 'bersih-bersih' sekarang adalah prioritas.

Walaupun begitu. Sudut mata Mikasa sesekali melihat Eren, memastikannya tetap dalam keadaan baik. Bukannya berlebihan, sifat Mikasa memang seperti ini terhadap Eren. Sudah jadi kebiasaan.

Sedangkan, Eren yang tak memperhatikan sekitar. Tidak merasa terganggu dengan tatapan intens dari Mikasa. Bahkan, Eren masih diam pada posisinya, di saat Mikasa, Armin, Jean, Historia, dan, Conny mengalihkan perhatian mereka pada Heichou, yang sudah berdiri tegap di depan pintu perpustakaan.

Pandangan Rivaille fokus pada seseorang yang masih setia memandang kemocengnya. Mata Mikasa mengikuti arah pandangan Rivaille yang tertuju pada Eren. Dan dapat di tebak. Pandangan Mikasa seketika menajam, menatap Rivaille. Rivaille hanya acuh tak peduli dengan pandangan Mikasa, yang solah-olah ingin membunuhnya. Walaupun Rivaille sangat yakin Mikasa memang benar-benar memiliki niat untuk membunuhnya. Tapi, sekali lagi Rivaille tak peduli.

"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?" Atensi Rivaille beralih pada semua orang yang berada di ruangan.

"Semuanya sudah selesai Heichou, hanya tinggal membersihkan debu di gorden jendela, itu... E-Eren sepertinya belum selesai dengan pekerjaannya," Armin meneguk ludah susah saat menyebut nama Eren. Sedangkan yang namanya bersangkutan diam, masih hanyut dalam lamunan. Entah apa yang dipikirkan.

Jean yang berdiri beberapa langkah dari Eren mencoba memanggil, saat Rivaille menatap tajam Eren. Gondok karena tak ada sahutan. Jean menginjak—keras, tanpa perasaan—kaki Eren.

"Aw! Jean sialan! Kenapa kau menginjak kaki ku, muka kuda?! Ha?!" Teriak Eren. Setelah di tarik—secara paksa—dari lamunannya.

"Kau yang sialan! Dari tadi melamun. Di panggil gak nengok-nengok. Apa enaknya natap kemoceng, dari tadi?!" Lebih enak juga natap Mikasa, lanjut Jean di hati.

"Khe... Sejak kapan aku melamun! Itu, kau saja yang cari gara-gara! Brengsek!"

"Kau kira aku bohong! Sialan kau Eren. Masih untung aku memanggilmu."

"Aku tak pernah merasa di untungkan saat berurusan dengan kuda sialan sepertimu!"

"Kurang ajar! Apa perlu aku mengajari mu sopan santun, he!?"

"Belajar bersihkan kamar mu tanpa merepoti orang lain dulu. Sialan!"

Dan dunia serasa milik Jean dan Eren.

"Oi"

Eren merasakan mulutnya terisi cairan besi, darah. Jean pun sama, bedanya, ia merasakan sarapan paginya serasa akan keluar dari tempat, ingin muntah.

"Kalian berisik." Rivaille menatap datar, pada Eren dan Jean yang berusaha menahan sakit.

"Eren, ke ruangan ku, segera. Dan kalian, seharusnya waktu yang kuberikan cukup untuk membersihkan perpustakaan ini. Segera bersihkan kembali." Dan Rivaille pergi begitu saja.

"Eren, Jean, kalian baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, ini sudah biasa, Armin." Sahut Eren lemah, lidahnya masih sakit. Mengingat wajahnya habis di hantam kaki Rivaille.

"Ini semua karena kau, sialan. Kalau saja kau tak melamun." Cucu Jean menahan sakit.

Eren ingin menjawab tuduhan sialan Jean, tapi lidahnya masih ngilu.

"Sudah-sudah, Eren bukankah kau harus pergi?" Kata Historia, di lengkapi nada lelah melihat pertengkaran tak penting Jean dan Eren.

Eren mengerang. Kalau sudah seperti ini terpaksa ia harus pergi menemui Rivaille. Padahal Eren sama sekali tak memiliki niatan untuk berjumpa dengan Rivaille, dalam waktu dekat.

Sejak kejadian 'Eren kepergok' Rivaille masih bersikap seperti biasa. Seperti tak terjadi apa-apa. Dan Eren juga berusaha untuk menganggap kejadian itu hanyalah mimpi. Well, tapi.

Kejadian itu selalu dan selalu, secara otomatis berputar-putar dalam pikiran Eren. Ini tidak adil. Apa hanya Eren yang terus memikirkan ini. Bagaimana dengan Rivaille? Persetan. Setelah dipikir-pikir, Eren yang masih kedapatan bernafas hingga sekarang patut di syukuri. Hell, ia sudah mengrape-rape wajah seorang 'manusia terkuat', ok.

"Aku akan mengantarkan mu."

"Tidak usah." Eren menggeleng pelan pada Mikasa, masih tak bisa bicara terlalu panjang.

-

Eren melangkah penuh ragu menuju ruangan Rivaille.

Sekonyong-konyong, Eren teringat kembali pada malam itu. Tidak ada hal penting terjadi.

Eren yang waktu itu kepergok oleh Rivaille, hanya diam kaku di tempat duduk. Hatinya ketar-ketir, berharap ini hanya mimpi. Padahal niat hati ingin meredakan masalah yang menimpanya. Sekarang masalah malah bertambah berkali-kali lipat.

"oi, bocah aku menunggu."

Eren menatap sekilas Rivaille yang balik menatapnya datar. Lalu pandangan turun menatap kakinya, gugup melanda. Eren mencoba menenangkan diri. Kalau sudah terlanjur kepergok, lebih baik selesaikan dengan cepat.

"Saya yakin, tanpa saya jelaskan, Anda sudah mengerti." ya secara, Anda tadi hanya pura-pura tidur. Ingin Eren mengucapkan. Tapi urung. Eren masih sayang nyawa.

"Kalau begitu, saya kembali dulu. Selamat malam." Dan, Eren dengan pengecutnya pergi meninggalkan Rivaille yang diam menatap kepergiannya. Tanpa ekspresi berarti.

-

"Masuk." adalah suara yang pertama menyahuti ketukan pintu Eren.

Rivaille sibuk dengan setumpuk laporan, yang tadi pagi di berikan Hange. Eren hanya diam mengamati.

Hening dan rasa canggung mendera, membuat Eren merasa tak nyaman. Tapi, Eren tak punya alasan untuk memulai pembicaraan. Tidak mungkin kan, Eren memulai pembicaraan di antara mereka. Dengan gamblangnya, mengatakan, 'Jujur saja, Heichou. Saya tidak kuat kalau hanya seruangan berdua dengan Anda. Saya sungguh tak menjamin bisa menahan diri. Untuk tidak melakukan beep dan beep lalu beep oh, jangan lupakan berbagai macam gaya yang bisa saya dan Anda lakukan, misal gaya beep lalu gaya beep, atau gaya beep, kepada Anda'. Tidak! Hell, tentu saja tidak. Serentetan kata tadi, tidak akan pernah terucap oleh Eren. Tidak akan pernah. Kecuali Eren sudah terlampau ingin menemui malaikat kematian secepatnya.

"Dari laporan yang ku dapat, kau sepertinya memiliki masalah dengan wujud titan mu itu. Hange bilang kau selalu kehilangan konsentrasi karena kebanyakan melamun." Lamunan mesum Eren tertarik oleh suara berat Rivaille.

"Ini akan jadi masalah besar, bila tembok sudah tak bisa menahan titan sialan di luar sana. Kau di sini sebagai kartu As, harusnya bisa berguna sesuai fungsinya.

Kalau kau memang tak berguna, silakan undur diri dari pasukan pengintai, bocah."

Nada suara Rivaille datar, ada unsur amarah terselip di sana. Well, Eren hanya bisa bergidik ngeri saat Rivaille, memasang wajah marahnya.

Terdengar helaan nafas di pendengaran Eren. Dan Eren hanya bisa meneguk ludah susah. "Apa yang kau pikirkan akhir-akhir ini kuharap tidak mengganggu kinerja mu, umat manusia bergantung pada kekuatan mu itu."

Mata Eren terpatih pada bola mata Rivaille yang sekarang menatapnya. God, ini tak baik untuk jantung Eren. Tapi sayangnya, Eren tidak bisa memungkirinya, ternyata sesuatu hal yang menghambat Eren untuk pergi dari pesonanya, adalah keinginan Eren. Keinginan untuk mendapatkan sinar cinta dari mata Rivaille. Tanpa sadar wajah Eren memanas.

"Ha'i, Heichou. Saya akan berusaha sekuat tenaga." untuk membuat Anda ikut terjatuh dalam pijakan yang sama, hanya ada saya dan Anda yang berdiri. Lanjut Eren dalam hati.

"Oy, bocah." Gumam Rivaille. Sedikit berbisik. "yang membuat mu tidak konsen belakangan ini, apa karena pembicaraan kita dua hari lalu?"

"Jawab aku bocah, kali kini, tanpa ada acara kabur seperti kemarin." Paksanya dengan nada mengancam.

"Seperti yang Heichou kira. Itu benar." Ujar Eren. "Anda pasti merasa jijik ya." Eren harap dia dapat menelan kata-katanya kembali.

"Aku tak berpikir seperti itu." Ungkap Rivaille dengan nada datar. Walaupun begitu, Eren tersenyum dengan tanggapan Rivaille. Setidaknya, Rivaille tidak merasa keberatan akan keberadaannya.

"Sekarang kembalilah ke perpustakaan, dan lanjutkan pekerjaan mu. Kali ini lakukan tanpa melamun." Terdengar ragu di telinga Eren, bisa di bilang.

"Ha'i." Dengan setengah hati, Eren melangkah menuju pintu. Rasa kecewa tiba-tiba muncul. Berharap pembicaraan tidak berhenti sampai di sini. Eren ingin sesuatu terjadi di antara mereka. Bukan, bukan hal mesum, yang Eren harapkan terjadi.

Tapi, hal lain, sesuatu seperti pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.

"Kapan?" Lirihnya.

Keinginannya terkabul. Sebelum tangannya menyentuh kenop pintu. Sebuah suara menginstruksinya.

Rivaille sudah berdiri dari duduknya, menatap dalam mata Eren dari tempatnya berdiri. Tatapannya tajam mengintimidasi, meminta jawaban. Eren merasakan kakinya lemas.

"Sejak kapan? Perasaan itu ada." Tambahnya. Menjelaskan.

Eren membeku. Tak menyangka pertanyaan itu akan terlontar dari bibir rubi merah pudar itu. Eren merasa semua seperti mimpi. Seorang Rivaille yang selalu berbicara tegas dan berat. Sekarang berbicara lirih. Membuat jantung Eren berlari.

Eren berpikir sejenak, kapan adalah kata yang mempertanyakan waktu. Hell, pertanyaan ini cukup sulit. Tapi.

"Entahlah, mungkin sejak saya menyaksikan cinta itu senyata Anda."

Jawaban atas pertanyaan Rivaille.

Mengalir begitu saja.

-

Hallo minna!

Kembali lagi dengan aku! Huhuhu... jujur saja aku terhura dengan ada yang, mau menyempatkan diri untuk mampir ke sini. Terima kasih dengan riviuw kalian, yang membakar semangat ku untuk melanjutkan cerita ku ini. Sejujurnya minggu-minggu ini adalah minggu aku ujian, dan aku berencana untuk update minggu depan setelah ujian. Tapi, karena tak menyangka akan mendapatkan riviuw, semangatku terpacu. Dan berakhirlah dengan aku yang nyempet-nyempetin untuk nulis dikit-dikit dari hari Senin kemarin, dan viola, aku baru selesai hari kamis dan hari Jumat aku revisi. Lalu malamnya baru aku update.

Fyuhh... segitu dulu bacotan ku.

See you!