"Return to me"
.
.
.
"I will say it 'till your heart hears it"
.
.
.
"Until your body's getting hotter and hotter"
.
.
.
"I can prove it, just by your red face"
.
.
.
"But, you accuse me"
.
.
.
"For something you don't even realize"
.
.
.
"In this darkness world"
.
.
.
"Black Love"
.
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rated T
(Typos, AU, OOC (maybe), Shonen ai)
Romance, Humor, Friendship
(Don't like? Don't read! Which means, NO FLAMER)
Aoisunoire presented
Black Love
.
.
.
Previously in Black Love :
"Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Itachi sambil mengganti-ganti channel di TV. Mata kelamnya bosan melihat acara yang sama setiap harinya. Badannya disandarkan di sofa hitam yang terdapat di ruang tamu tersebut.
"Aku bisa aniki," balasnya sambil membalikkan halaman novel yang daritadi ditekuninya. Mata hitam kelamnya yang tajam. Menusuk sangat dalam bagi siapa saja yang berani mendeathglare pemuda ini.
"Dingin sekali malam ini, mau cokelat panas?" tanya Itachi sambil beranjak pergi ke dapur, yang terletak di sebelah kiri ruang tamu tadi. Tangannya ia gosok-gosokkan satu sama lain.
"Hn," balasnya. Tetap dengan ekspresi datar. Tidak terlihat sedikit pun, salah satu clan Uchiha ini, menggigil kedinginan. Heh, harga diri tinggi pemuda ini, terlalu tinggi untuk hal seperti itu.
"Oh ya, imouto, nanti kau harus tegas menghadapi para bawahanmu," jelas Itachi sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir kecil.
"Hn?"
"Ada satu pegawai yang selalu telat, dan selalu mengeluh, teriak-teriak pula," lanjut Itachi sambil membawakan dua buah cangkir berisi cokelat panas pada adiknya itu.
"Namanya?"
"Uzumaki Naruto."
.
.
.
"ACHOOO! Aaaaah, dingin sekali disini," tanya Naruto sambil menggesekkan kedua tangannya mencari kehangatan. Padahal ia sudah memakai syal, sarung tangan, dan kaos kaki. Bahkan memakai dua baju berlengan panjang. Dan harusnya sang Kyuubi memiliki aura panas bukan? Harusnya ia menghangatkan jinchuuriki nya bukan? Dasar Kyuubi tidak bergun- "KAU BILANG APA HAH?! Aku ini bijuu bukan KOMPOR!"
"Ssstt!"
"Kenapa, Naruto?" tanya Gaara kebingungan.
"Eh- ehe- he.. nandemo, betsuni," cengir Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sementara Gaara hanya tersenyum melihat kekas- uh.. Temannya ini.
"Gaara, kau yakin sudah menyalakan penghangatnya?" tanya Naruto. Hidungnya sudah mulai memerah karena suhu yang dingin ini.
"Sudah. Tidak cukup hangat kah?" balas Gaara sambil menyiapkan semangkuk sup hangat untuknya, dan Naruto pasti mengeluh karena supnya. "Naikkan saja suhunya,"
"Kau seharusnya memasang dua penghangat disini, Gaara. Mengingat betapa luasnya rumahmu," sahut Naruto. Matanya mencari-cari dimana Gaara meletakkan remote control nya itu. 'Mencari remote control saja sudah setengah mati, bagaimana mencari tusuk gigi?' kata Naruto dalam hati. Tidak heran rumah Gaara sangat luas atau bisa dibilang semegah layaknya seorang pangeran yang tinggal di istana. Dia memang seorang pangeran bukan? Tunggu. . . The Second Prince. "Remote nya tidak ada, Gaara,"
"Benarkah?" balas Gaara sambil berjalan mendekati Naruto. Dibalikkannya tubuh Naruto dengan pelan, "Nanda yo?" tanya Naruto kebingungan. Sekejap diangkatnya dagu Naruto itu dan didekatkan bibir Naruto dengan bibirnya, diciumnya bibirnya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Wajah Naruto bersemu lalu dibalas dengan pelukan dari Naruto.
"Ayo makan dulu," kata Gaara tersenyum hangat melepaskan ciumannya, menyajikan dua mangkuk sup hangat di meja. Naruto terdiam melihat sup itu, dicibirkan bibirnya itu, mukanya cemberut kesal. Hei, sup bukan tipe makanannya bukan?
"Kenapa? Tidak mau? Ya sudah buatku," balas Gaara berniat mengambil mangkuk sup milik Naruto.
"EEH! I-iya aku makan! Ittadakimasu!" jawab Naruto buru-buru mengambil kembali mangkuknya, dan menyendokkan sesuap ke mulutnya. Daripada tidak sama sekali? Pikirnya.
"Pelan-pelan," jawab Gaara terkekeh melihat Naruto salah tingkah akibat perlakuannya.
"Bagaimana kerjamu hari ini?" tanya Gaara memecah keheningan. Naruto melirik ke arah Gaara sambil menyendokkan supnya ke mulutnya.
Naruto menelan supnya, lalu menghela nafas panjang. Ia menggelengkan kepalanya. "Itachi-san memangnya bilang apa?"
"Eh? Tidak bilang apa-apa," balas Gaara. Naruto menaikkan alisnya, ia tidak percaya dengan perkataan Gaara. "Jadi?"
"Sungguh? Um, yah, sebenarnya hari ini Aku-"
"Pfftttt..."
"Gaara! Aku tahu kau hanya berpura-pura bertanya, kan?!" bentak Naruto kesal. Wajahnya memerah menahan malu. Sedangkan Gaara berusaha menutupi mulutnya menahan tawa.
"Ma-Maaf, kalau Itachi yang bilang aku tidak tah- pfffttt..."
"Itu kan bisa terjadi pada siapa saja," lanjut Naruto sambil kembali memakan supnya itu, menutupi rasa malunya.
"Iya iya," balas Gaara sambil tersenyum, ia juga kembali melanjutkan menyantap supnya. 'Atau mungkin hanya kau, Naruto' kata Gaara dalam hati.
"Kalau kau bagaimana? Sudah minum obatmu? Hari ini kau tidak memaksakan diri, kan?" tanya Naruto. Gaara hanya terdiam diri. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Aku baik, sudah kuminum tadi sore, tentu tidak," balas Gaara, ia tersenyum kecil. Kemudian ia berdiri dan mengambil piring Naruto dan miliknya. Ia mulai berjalan ke dapur.
"Syukurlah, Gaara. Aku khawatir dengan kondisimu," ujar Naruto sambil menghela nafas. Gaara terdiam, ia tersenyum pahit mendengarnya. Sedih rasanya, tetapi Naruto adalah segalanya. Ia tidak akan berani melakukan apapun yang bisa menggores atau menyakiti Naruto sedikitpun. Sesaat ia melamun, dan ia sadarkan dirinya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Sadarlah Gaara, masih ada hari untuk membahagiakan Naruto,' kata Gaara dalam hati, ia tersenyum kemudian ia berjalan dan memeluk Naruto dengan erat dari belakang. Memberikan kehangatan dan perasaan tidak ingin kehilangan dirinya.
"Gaara?" Naruto menoleh kebelakang, kemudian wajahnya memerah dan membalas pelukan Gaara. Dengan sangat hangat.
"Tinggallah sebentar, akan aku antar pulang nanti," ujar Gaara. Dan dibalas dengan anggukan kecil dari Naruto. Gaara tersenyum. Betapa bahagianya ia berada bersama Naruto. Sangat bahagia.
.
.
.
oooooooooooooOOOOOOOOOoooooooooooooo
KRIIINGGGG
"Hnggh... Jam berapa in- AAARRGGHHHHH AKU TELAT!" teriak Naruto saat melihat jam wekernya. Ia mulai keringat dingin, terasa jantungnya menembus dadanya, lalu keluar kamarnya, melewati apartemennya, keluar kota Konohagakure, keluar dari bumi, menembus luar angkasa, keluar dari galaksi BimaSakti, dan memasuki BlackHole.
"Harus cepat-cepat, harus cepat-cepat! Tidak dapat kubayangkan wajah Raja Iblis itu. . .Selamatkan aku lagi Tuhan, hari ini. . ." kata Naruto panik. Ia pun langsung masuk ke kamar mandi bersiap-siap untuk membilas diri.
Gin'iro no sora ga wareru no wo
Boku wa tsuttatte, BOOT to miteita
taikutsu ni yarareru kurai nara
shinjimau hou ga zutto MASHI sa ~
"AARGH! Siapa yang menelpon pagi-pag-... siang-siang begini?!" bentak Naruto, baru saja ia mau menginjakkan kaki memasuki kamar mandinya, tiba-tiba handphone nya berdering.
"Iya, iya! Sebentar... Um, Moshi-moshi?"
"Ohayou, Naruto,"
"Ga-Gaara?! Ada apa?"
"Masih di rumah?" tanya Gaara. 'Aku bahkan baru bangun tidur' kata Naruto dalam hati. "I-iya, kenapa?"
"Bagus, cepatlah bersiap-siap. Akan ku antar,"
"Hee?! Benarkah?! Yokatta ~ Aku tidak akan terlamba-maksud ku, aku mandi dulu ya Gaara, Jaa~" balas Naruto sambil tersenyum lebar. Senang sekali rasanya bila diantar oleh Gaara. Tuhan masih mau menolongnya kali ini. Kemudian ia tutup handphonenya itu dan mulai bergegas mandi.
.
.
.
"Yosh~! Aku sudah siap," ucap Naruto lalu berjalan cepat keluar kamar. Dilihatnya kemudian sesosok laki-laki tampan berpakaian rapih sedang duduk tegap di sofa miliknya menunggu seseorang. Ia mengenakan sweater merah dan celana jeans hitam. Rambut merah batanya dibiarkan berantakan, dan Naruto harus mengakuinya. . Ia benar-benar terlihat tampan.
"Ayo," balas orang itu dengan senyum babyface nya. Dan dibalas anggukan kecil oleh Naruto.
"O-Ohayou!" sapa Naruto sambil terengah-engah. Ia mengelap dahinya yang penuh keringat karena berlari takut akan sang Raja Iblis- Bos Iblis, Itachi, menghukumnya nanti. Mata Naruto membulat lebar akan pemandangan di depannya ini. Ia kaget bukan karena ia lupa bahwa Itachi-san sudah digantikan, tetapi kini masalahnya adalah orang yang menjadi penggantinya.
Kini didepannya sudah ada pemuda tampan kira-kira berusia 23 tahun, dengan muka stoic dan rambut hitam ravennya. Berdiri sambil mengaitkan kedua lengannya di depan dadanya, kakinya menghentak-hentakkan ke lantai. Aura hitam mulai terasa dan terlihat pekat, lebih besar dan lebih mengerikan daripada aura yang selama ini Naruto kenal. Aura yang sepertinya berasal dari seseorang yang pernah ia kenal dekat selama ini. Aura hitam seorang Uchiha.
"Selamat datang, Uzumaki Naruto, selamat datang di. . ."
"Eh? Eh? Eeeehhh?! Ita- bukan, Sa-sa-"
.
.
.
#FlashBack
#Naruto'sPOV
.
.
.
TEEEETTTTT
"Akhirnya bel istirahat. Hoaaaahhmm, pelajaran bahasa Inggris benar-benar-benar saaangatt membosankan. Kakashi-sensei benar-benar menyebalkan," kataku sambil mengusap-usapkan mata. Sepertinya Kiba juga tidak tahan dengan Kakashi-sensei. Aku melihatnya tidur sepanjang pelajaran nya tadi. Celotehnya yang sepanjang mie ramen hampir membuatku mati kebosanan.
"Mari kita sebut itu Lucky, kalau saja nilaimu tidak pas-pasan, mungkin penghapus ini akan mendarat dikepalamu, Uzumaki-san," kata Kakashi-sensei. Aku pun langsung sweatdrop. Bagaimana bisa ia mendengar omonganku dengan aku yang duduk di kursi paling belakang?
"Karena suaramu yang cempreng, mungkin," jawab Kakashi-sensei sambil berjalan keluar kelas. Huaaaa, benar-benar guru yang super menyebalkan. Heh, sudahlah toh besok sudah hari Sabtu, waktu ku untuk bersantai.
"Bangun, Kiba!" teriakku sambil menggoyangkan tubuh Kiba. Kiba membuka mata dan menguap. Ia menoleh kekiri-kanan. Masih belum sadar rupanya. "Ayo, Kakashi-sensei sudah pergi," kataku menjelaskan. Kemudian aku tarik lengan Kiba keluar kelas. Aku sudah muak berada di kelas.
"Hei Naruto, lihat! Ada seseorang yang memperhatikanmu dari tadi tahu," ujar Kiba sambil berbisik. Kenapa pula ada yang memperhatikanku, tak ada yang menarik dari diriku. Ya kecuali rambutku ini yang memang mencolok warnanya. Tapi buang-buang waktu saja kalau hanya memperhatikan rambutku.
"Cih, ada-ada saja kau Kiba," bantah ku. Aku pun meneruskan memakan bento buatan Kaa-san ku, Kushina Uzumaki. Oh ya, jangan salah, masakan Kaa-san ku adalah yang terbaik di dunia. Hanya saja jangan pernah meminta masakan pedas darinya, kalau tidak ingin mati konyol.
"Naruto, dia ke arah kita," bisik Kiba. Kemudian aku menoleh, sudah terlihat seorang laki-laki dengan wajah um.. err.. tidak jelek sedang melihat tajam ke arahku, berambut hitam dengan model ah aku tidak tahu itu model apa yang penting rambutnya mencuat ke atas dan mata hitamnya yang tajam.
"Mau apa?" tanyaku sambil menoleh ke atas. Huaa, dia lebih tinggi daripadaku. Dia mau apa? Pamer?
"Ikut aku," jawabnya datar dengan tampang sok keren. Heh dia pikir dia siapa? Pangeran?
"Kau kira kau siapa, teme?" jawabku dengan tegas dan memasang wajah cuek.
"Pokoknya ikut!" bentaknya. Lalu ia menarik lenganku dengan kasar.
"Hei!" apa-apaan dia, seenaknya mengganggu waktu makan ku. Makananku sampai tumpah-tumpah.
"Oi, Teme!" bentakku sambil berusaha melepaskan genggamannya. Ck, percuma, genggamannya kuat sekali.
"Naruto!" panggil Kiba. Sesaat ku lihat Kiba dikepung oleh beberapa kakak kelas dari sekolahku. Aku panik. Lalu orang yang menarik tanganku menarikku ke atap sekolah. Ku paksa tarik tanganku dengan kuat.
"Mau apa kau, Teme?!" bentakku.
"Berkenalan denganmu," jawabnya dengan datar. Apa? Berkenalan? Kau umur berapa hah?!
"Yang benar saja! Ak-"
"Akan kuganti bekalmu nanti," selanya. Apa? Dengan semua perlakuannya padaku, ia menyogokku dengan kata itu? Heh, tidak akan. Tida. . . "Apapun yang kau inginkan," lanjutnya.
"Apa saja?!" balasku dengan antusias. Aku akan meminta ramen yang banyak dengan porsi besar. Hehehe.
"Hn," balasnya. Kata apa itu? Ah, biarlah yang penting aku dapat ramen nanti.
"Jadi?" lanjutnya. Huh, baiklah aku harus mulai dari mana? Nama? Ya, nama.
"Baik-baik. Namaku Uzumaki Naruto, dari kelas 2 B. Kau?" tanyaku berbalik. Apa itu cukup?
"Sasuke, 3 A," jelasnya singkat. Apa?! Dia senpai ku?! Di kelas unggulan pula! Dengan wajah err.. tidak jelek, dan tinggi yang berlebihan. "Kenapa bisa-" tiba-tiba saja ia memojokkan ku dan mengunci pergerakkan kedua lenganku. Aku memberontak dan . . .
CUP
Ia mencium ku! M-E-N-C-I-U-M! Mencium! Di bibir! Tuhan!
"HUAA! TEME! LA-LAGI KAU-" kataku sambil mengelap bibirku dengan cepat. Dia mengambil FirstKiss ku yang berharga! Kejam nya diri-
"Aku menyukaimu," sela nya. A- K-Kenapa? Padahal kami baru bertemu, dan dan ia sudah bilang menyukai ku? Tidak, tidak, bukan itu masalahnya. Intinya, kenapa ia bisa-bisa nya melakukan hal memalukan seperti itu?!
"KAU GILA!"
BUGH
Refleks aku memukul tepat di wajahnya. Nafasku berderu-deru. Aku marah, dan kesal. Apa-apaan orang ini?! Ia melecehkanku! Beraninya melakukan itu kepadaku!
Ia terdiam menunduk kebawah sambil memegangi pipinya tempat aku memukul tadi. Kemudian lama kami terdiam seperti ini. Ia pun akhirnya mengangkat kepalanya.
DEGH
A-ada apa dengan wajah menyedihkan itu? Terlihat seperti meminta dikasihani. M-matanya juga.. Menusuk kedalam. D-dan a-ada apa ini, k-kenapa jantung ku berdebar? Naruto, kendalikan dirimu. Dia, seorang Uchiha yang menjengkelkan. Dan kau Uzumaki yang terhormat. Tidak tidak, ini suatu kesalahan. Ya, ada yang salah dengan diriku. Pasti.
"Aku serius," ucapnya. Raut wajahnya memang terlihat serius dan menakutkan. Ia memandangiku tanpa melirik ke arah lain sedikitpun. Jantungku tidak berhenti berdebar. Kalau terus begini, bisa-bisa aku...
"Itu.. Itu.. Uh.. A-aku.. Anu.. Uu.. UWAAAARRGGHH!" teriakku frustasi. Aku berlari kabur secepat kilat, meninggalkan dia sendirian berdiri di sana. Mukaku terasa panas, aku tidak tahan dengan tekanan seperti ini.
Aku pun berlari menuruni tangga, kabur dan masuk ke Music Room. Nafasku terengah-engah, kakiku lemas sekali, berlari dari atap sekolah ke lantai 1. Hehh, capai sekali. Kemudian aku melihat ke sekeliling, betapa gelapnya ruangan ini. Ah, tidak apa-apa yang penting aku bisa kabur dari si Teme itu...
. . . . . . . . . . .
T-tunggu.. S-suara apa itu? Suara piano? A-ada orang disini? P-pasti! Tidak mungkin kan piano bermain sendiri ha ha ha.
Sekejap aku merasakan kehadiran sesuatu disini. Sesuatu seperti .. Uh, bulu kudukku berdiri. Dan aku ingin buang air kecil. K-kakiku kembali lemas. Keringat dingin mulai bercucuran di dahiku sekarang. Ha ha ha, tidak ada hantu didunia ini, ti-
"..."
"HUAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
Suzuku ~
Tadaimaa, minna-san ~ ! Aoi's here! Genki-genki? X3
Um, Februari, Maret, April, Mei, Jun- GYAA! Udah 3 bulan sejak Aoi bikin Chapter 1 ini TwT Gomen yo, minna.. Aoi harus fokus belajar untuk UN kemarin, jadi belum sempat bikin update-an nya! Jadi sekali lagi Aoi mohon maaf untuk para pembaca yang masih setia menunggu update-an Black Love ini ~ *dikeroyok para viewers*
Demo sa, karena sekarang Chapter 2 nya sudah terbit *emang nya komik* sudah di publish, dan Aoi juga sudah selesai UN, maka Aoi bisa meng-update kilat, Black Love ini, Kya~ *tebar bunga* Jadiii, mohon bantuannya ya minna, untuk tetap mereview, dan mengikuti Black Love ini w) (ngga dibunuh kok kalau ga mau baca *bletak) Jadi terimakasih ya atas kesabarannya xD
Oh ya, rencananya sih Aoi mau bikin Black Love ini supaya jadi 10 chapter, tapi mari kita lihat nanti kalau para pembaca mau dibikin lebih ~
Dan minna san, kalau ada yang tidak mengerti di chapter ini, silahkan ditanyakan ya kepada Aoi xP
Reviews :
Son Sazanami : Ehhh? Belum nyambung atau ngga ngerti nih? Ditanyakan saja kalo tidak mengerti ^w^
sheren : Yaaah, gomen, update kilatnya ga Aoi kabulin.. Keep following Black Love yo ~
Gunchan CacuNalu Polepel : Yokai yo! ~ w
Guest : (Lanjuttttttt thorrrr,itu naru uda knal sama sasu pa blm?) Umm, sekian dibaca selanjutnya untuk menjawab pertanyaan nya :P kukukuku
Dee chan - tik : Sumimaseenn, untuk telat update nya.. TwT jangan dibunuh Aoi nya
FebayDLuffy6 : *tendang feby* sankyu feb, tetep dibaca ya XD
NamikazeNoah : heheheh X3 iya, ShikaNeji, author juga dapat ide pair itu dr mana ya ._. Yosh, sankyuu w
UzumakiKagari : Betul! x3
And thanks to : Angora Blonde, Dee chan - tik, Uchy-san, UzumakiKagari
See you, on next chapter ~ Jaaaaa :3
