Pertemuan pertama kedua insan itu terjadi pada awal musim gugur, tepatnya di hari pertama Baekhyun menjalani masa probation di perusahaan games yang merekrutnya minggu lalu. Golden Bright Enterprise merupakan salah satu perusahaan berbasis teknologi yang memiliki reputasi bagus di Korea Selatan, dan Baekhyun beruntung dapat bekerja di sana meski dengan nilai rata-rata yang seadanya.

Tentu saja, perjuangannya tidak mudah. Baekhyun harus melalui amarah Junmyeon yang luar bisa meledak saat ia bersikeras bekerja di sana. Junmyeon, sepupu Baekhyun adalah orang yang paling ia hormati, selain Paman dan Bibi Kim. Dan sayangnya, Junmyeon memiliki pemikiran tersendiri jika menyangkut masa depan. Junmyeon beranggapan, menjadi wirausaha lebih terhormat ketimbang menjadi budak korporasi.

Cukup masuk di akal, sih.

Tapi Baekhyun kan sudah besar, dan ia berhak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Cukup dengan ceritera mengenai Junmyeon.

"Baekhyun, ini Park Chanyeol, yang akan menjadi leadermu di sini." begitu kata Pak Lee, HRD yang mengajarnya selama masa trainning kemarin.

"Selamat siang, Chanyeol-ssi!" Baekhyun menyapa dengan penuh semangat, diikuti dengan bungkukan penuh hormat.

Di sisi lain, Chanyeol, menanggapinya hanya dengan anggukan.

Do Kyungsoo, yang juga pegawai probation ikut memperkenalkan diri, dan Chanyeol-pun membalasnya dengan anggukan.

Waktu jadi ikut terhenti, berkat suasana garing yang diciptakan oleh pria tinggi itu.

.

.

"Sedang apa kau di sini?" Baekhyun menghampiri Chanyeol yang sedang mencuci bekas perkakasnya saat makan siang tadi.

Junmyeon dan Yifan sedang menjemput Sophia, anak tunggal mereka, di tempat kursus, sebab itu Baekhyun berani seenak jidat memasuki ruangan belakang kafe sepupunya itu.

"Bekerja."

Jelas itu bukan jawaban yang diinginkan oleh Baekhyun.

"Golden Bright sudah tidak sanggup membayarmu lagi?" cemooh Baekhyun.

"Memangnya apa urusanmu, Byun Baekhyun-ssi?"

Baekhyun terdiam sejenak, "Bossmu adalah kakakku." ia memutuskan untuk sedikit menyombongkan diri.

"Oh." Chanyeol menundukkan kepala, dan menyelesaikan pekerjaan mencucinya.

Sebenarnya kentara sekali kalau Chanyeol berusaha menghindari Baekhyun. Tapi toh Baekhyun sangat keras kepala. Ia merasa ia harus tahu apa alasan Chanyeol mendadak muncul di hadapannya, terlebih di kafe kakaknya.

Karena setahunya, Chanyeol memiliki kedudukan yang cukup baik di Golden Bright.

"Ya Park Chanyeol!" Baekhyun berteriak sembari mengekori Chanyeol menuju meja barista. "Kau tak berniat menjawab pertanyaanku ya?!"

Chanyeol diam saja.

"Park Chanyeol, jawab aku!"

"Byun sajang." Chanyeol akhirnya berdiri menghadap Baekhyun. "Maafkan aku kalau semua tindakanku hari ini di luar keinginanmu. Sungguh, aku di sini hanya berniat untuk mencari nafkah. Kalau memang Byun sajang memiliki pikiran lain, tolong hilangkan semua itu."

Setelah itu Chanyeol kembali menyibukkan dirinya.

Baekhyun sendiri, seperti anjing yang dipotong lidahnya, diam tak bersuara.

Seingatnya, Chanyeol sempat akan dipromosikan menjadi supervisor. Itu yang membuatnya keluar dari Golden Bright, kan?

Tapi kenapa, Chanyeol malah berada di Pienot Cafe sekarang?

Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Baekhyun harus tahu alasannya. Dan ia akan melakukan apapun untuk mengetahui itu.

.

.

"Psst, Baekhyun!"

Kala itu, Baekhyun baru saja menyelesaikan teleponnya dengan klien, dan ia baru saja melepaskan headphonenya.

"Apa, Kyungsoo-ya?"

Kyungsoo, di sini lain malah bersantai tanpa memikirkan pekerjaan sedikitpun.

"Kau merasa ada yang aneh dengan leader kita, tidak?"

Baekhyun mengendikkan bahunya.

Park Chanyeol, sedari awal memang pendiam, dan hanya akan membuka mulut jika ada yang bertanya kepadanya. Baekhyun memang tidak suka dengan metode bekerja seperti itu, tapi mungkin itu adalah gaya atasannya dalam bekerja. Jadi tak ada pilihan lain untuk Baekhyun protes. Toh dia juga baru dua minggu di perusahaan ini.

"Kurasa, Chanyeol itu aneh."

Baekhyun mengernyit, "Aneh seperti apa, maksudmu eh?"

"Lihat saja, dia bertindak tidak seperti seorang atasan. Sepengalamanku, kalau ada anak baru seperti kita, seorang atasan akan selalu mengawasi, takut-takut pegawai baru melakukan kesalahan, atau apa lah."

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol di ujung ruangan, jauh dari jangkauan mejanya. Sementara ia dan Kyungsoo, di tempatkan di ujung yang berseberangan dengan Chanyeol, juga sedikit berjauhan dengan senior mereka.

Mungkin Kyungsoo ada benarnya, mereka seperti dikucilkan di sini.

"Apa menurutmu ia tidak suka dengan keberadaan kita di sini?" Baekhyun akhirnya bertanya.

"Tidak tidak, tidak seperti itu."

"Lalu?"

"Kurasa Chanyeol itu belum pantas menjadi pemimpin."

Baekhyun kembali melontarkan kernyitan.

"Kau tahu berapa umur Park Chanyeol itu?"

Baekhyun menggeleng.

"Dua puluh lima, sama sepertimu, kan?"

Kedua mata Baekhyun membesar, "Kyungsoo, kau sesuka itu ya dengan leader kita?!"

Pertanyaan itu langsung mendapatkan pukulan, tepat di belakang kepala Baekhyun.

"Enak saja! Aku lupa aku ini sudah beranak?"

Oh iya benar. Kyungsoo menceritakan tentang Taeoh, anak laki-lakinya yang duduk di bangku taman kanak-kanak itu berulang kali.

"Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau Chanyeol seumuran denganku?"

"Aku menguping membicaraan Chanyeol dengan Taeyeon noona. Kau tahu, leader di lantai dua puluh satu, di bawah lantai kita."

Baekhyun kemudian merasa Kyungsoo lumayan menakutkan juga.

"Kyungsoo, aku baru tahu kau hobi menguping?"

"Tidak sengaja." Kyungsoo berdecih pelan. "Tapi intinya, Chanyeol itu terlampau aneh untuk menjadi atasan kita. Seumur-umur aku bekerja, aku tak pernah mendapatkan atasan seperti dia, kau tahu? Padahal, seharusnya ia melakukan sesuatu agar divisinya bisa menjadi nomer satu di kantor, dan dengan begitu ia juga bisa menikmati bonus gajinya."

Baekhyun termangut. Ini adalah pekerjaan pertamanya, dan tentu ia tidak memiliki kemampuan untuk mendebat Kyungsoo yang sudah lebih dulu malang melintang di dunia kerja. Ia sih setuju-setuju saja dengan pendapat Kyungsoo yang merasa aneh dengan posisi duduk mereka, tapi menurutnya, Kyungsoo juga tidak perlu mengeluarkan pendapat sepihaknya mengenai kinerja Chanyeol, terlebih saat mereka baru satu minggu saja ditempatkan di divisi milik Chanyeol.

"Mungkin saja, ia akan berubah saat kita benar-benar diterima di perusahaan ini. Kau tahu kan, posisi kita di Golden Bright belum aman. Mereka bisa mendepak kita akhir bulan ini kalau hasil pekerjaan kita buruk."

"Yah, semoga saja."

Benar, Baekhyun memutuskan untuk tidak mendengarkan ocehan Kyungsoo dan kembali fokus pada pekerjaannya.

.

.

"Ada angin apa kau sampai tahan segini lamanya di kafeku?"

Suara Junmyeon menghancurkan lamunan Baekhyun malam itu. Ya, malam, tepatnya pukul tujuh malam. Dan ia belum selangkahpun bergerak menjauhi tempatnya duduk sedari sore, meski soda stawberrynya sudah selesai ia tandaskan.

"Kau mau cokelat hangat, Baekhyunnie?" tanya Junmyeon sembari menepuk pundak adik sepupunya itu dengan rasa sayang.

"Dengan sirup hazelnut, hyung?" tawar Baekhyun yang menoleh ke sudut kiri, melihat Junmyeon sekaligus melirik Chanyeol di pangkal matanya.

"Aku akan suruh Chanyeol untuk menyiapkannya."

Baekhyun kemudian ditinggalkan oleh Junmyeon, dan bergantian mengobrol dengan Sophia yang ada di pangkuan Yifan.

"Samchon, Sophia suka kalau samchon di sini terus."

Celotehan itu membuat Baekhyun gemas dan mencubit di kecil.

"Sophia mau dengan samchon, eohng? Sophia mau bersama samchon terus?"

"Ne! Sophia mauuuu.!"

"Kalau begitu, tinggal dengan samchon ya? Nanti Sophia juga bisa bermain-main dengan Mongryong."

"Jangan ngawur, Baekhyun-ah." putus Yifan dengan nada dingin. Keposesifan Yifan pada anak semata wayangnya itu memang sudah lumayan terkenal seantero kota.

"Hehehehe."

"Papa, tapi Sophia ingin tinggal bersama samchon!" Sophia memandangi ayahandanya dengan penuh harap.

Dua tahun lalu, Baekhyun memang masih tinggal bersama kedua kakak sepupunya itu, dan sebagian waktu Sophia memang dihabiskan bersama paman Byunnya. Tak heran, hingga saat inipun, Sophia dan Baekhyun sudah seperti kakak beradik saja.

"Sophia, samchon sudah memiliki rumah baru sekarang. Samchon bukannya tak mau tinggal bersama Sophia lagi. Tapi kalau memang Sophia ingin, samchon akan bertandang ke rumah Sophia, barang beberapa hari, bagaimana?"

"Samchon janji?"

"Euhm!" Baekhyun mengangguk pasti.

"Baekhyunnie." Junmyeon kembali dengan secangkir cokelat hangat untuk Baekhyun, dan sebotol cold brew untuk suaminya. "Mungkin ada baiknya kalau kau kembali tinggal dengan kami."

"Hyung.." balas Baekhyun dengan malas. "Kita sudah pernah membicarakan ini, kan? Aku ingin mandiri, dan aku tak ingin mengganggu kehidupan rumah tangga kalian lagi, yang mana aku pasti membuat repot."

"Kau tidak membuat kami repot, Baekhyunnie."

"Fan Hyung, tolong bantu aku." rengek Baekhyun pada sepupu iparnya.

Yifan sendiri tahu betul bagaimana perlakuan Junmyeon, ia-pun menggeleng, seolah tak ingin terlibat di dalam perdebatan itu.

"Lihat, Yifan bahkan tak ingin membantumu lagi."

"Itu karena kau akan menghukumnya selama sebulan tanpa seks, kan?"

"Astaga, Baekhyun!" Yifan refleks menutup telinga anaknya. "Tolong ingat, ada Sophia di sini."

"Ehehehehe, maaf."

Junmyeon tak lagi melanjutkan paksaannya, karena takut Baekhyun akan melontarkan senjata yang lebih kejam dari itu. Baekhyun sendiri, tentu saja senang. Setidaknya ia tak lagi mendengar omelan Junmyeon mengenai perpindahan tempat tinggalnya.

Dengan hati ringan, Baekhyun menyesap cokelatnya.

Ada sesuatu yang aneh, yang tak pernah ia dapatkan dari cokelat buatan Jongdae maupun Junmyeon sendiri.

"Hyung, siapa yang membuat cokelatnya?"

"Chanyeol, tentu saja. Kenapa? Tidak enak?"

Si adik sepupu itu menggeleng, "Tidak, ini enak."

Di kejauhan, Chanyeol tersenyum. Setidaknya ia bangga karena masih mengingat selera Baekhyun yang tidak menyukai makanan maupun minuman manis.

TBC

Jjan ~

Meski belum ada yg review, tetap kupost kok part satunya. Ehehehehe.

Semoga kalian suka ya!

Dan makasih untuk empat orang yang sudah ngefollow story ini ~ aku harap, kalian-pun bisa review di kemudian hari ehehehe.

Untuk selanjutnya, besok fanfic Hello Again yang akan kuupdate. Jadi, tolong berikan aku semangat ya? Terima kasih!