Karakter dalam cerita ini berdasr manga/anime NMARUTO yang di miliki oleh Masashi Khisimoto
TEM ORDER : MOST WANTED
Chapter 2
Jalan setapak itu ditumbuhi semak rendah yang tumbuh orang berjalan berdampingan bercengkrama satu sama berambut pirang cepak dan seorang berambut pirang mengenakan jubah hitam sampai lutut dengan hiasan awan marah di punggungnya.
"naruto,kau tahu apa yang akan dibicarakan tuan Madara kali ini?" tanya yang berambut panjang
'Entahlah Deidara,aku tak tahu" jawab Naruto.
Sebuah rumah tua muncuk dari kegelapan,Cahaya lampu pijar yang tak beghitu terang terlihat dari orang itu lalu memasuku rumah tersebut itu sudah terdapat beberapa orang yang duduk mengelilingi meja
"Naruto,Deidara,cepatlah..." kata seorang pria dengan nada suara yang nyaring tinggi.
Sosok yang dudk di ujung meja itu profilnya samar-samar,Wajahnya mengenakan topeng berwarna perak dengan hanya menyisakan Lubang mata kanan danmulutnya sajhalah yang bisa dilihat orang lain.
"Naruto,kau duduk di dekatku,dedara kau di samping Sasori" ucap Madara sambil menunjukan kursi kosong kepada mereka berdua.
Keduanya lalu duduk di kursi yang telah ditunjuk oleh Madara tadi,Madar sejenak menatap Naruto sebelum dia mulai berbicara kepadanya.
"jadi bagaimana pencarian kalian?"
"Maaf taun,kami belum menumukan tempat yang tepat" jawab Naruto.
"hmmm,begitu ya?' ujar lalu bangkit dari tempat duduknya,matanya menatap Naruto debgan intens membuat orang-orang di sekelilingnya sedikit gelisah melihatnya.
Pintu itu kembali terbuka membuat semua mata menoleh ke arah pria berambut orange masuk bersama wanita berambut biru."maaf kami terlambat tuan" ucap Pein yang lalu duduk di krsi kosong yang agak jauh dari tampat Madara Konan duduk di sampingnya.
Madara yang sudah berdiri kemudian berjalan perlahan di belakang orang-orang yang duduk di kursi yang mengelilingi meja.
"Kami sudah menemukan tempat yang tepat tuan,bekas gudang senjata di kawasan timur Konaha dekat perbatasan Suna kkami rasa tempat yang tepat" ucap Konan
"apa kau yakin Konan?" tanya Madara,Konan sedikit ragu apakah akan menjawab pertanyaan itu atau tidak.
"Tentu tuan,tempat itu sudah tak terpakai lagi,dan kelihatannya keplisisan Konoha maupun Suna jarang memantau tempat itu" kali ini Pain lah yang Menjelaskan kepada Madara
"hmmm,kerja bagus" kata Madara,dia bertepuk tanagn pelan mendengar penjelasan Pein.
000000000000000
SEorang pria menendap-endap dari alik semak belukar di luar rumah tua pistol digenggam kedua tangannya,Sesekali dia berhanti menoleh ke kanan dan kiri memastikan situasi lama kemudian dia sampai disamping rumah itu,Dia bersandar di dinding kaayu yang sudah agak mengintip kedalam rumah itu melalui lubang yang tak lebih besar dari bola samar-samar dapat dilihatnya beberapa orang berkumpul didalam rumah itu.
Orang-orang didalam rumah itu sedang menikmati makanmalam meraka,canda tawa keluar dari mulut mereka menghilangkan yang sedang asyik mengobrol dengan Naruto sekilas melihat bayangan orang dari balik jendela,Perlahan dia mengeluarkan pistol dari laci mejanya yang menarik perhatian Naruto.
"Ada apa tuan?" tanyanya sambi meneguk segelas minuman,
"hmm,sepertinya ada penganggu" ucap Madara yang tiba-tiba mengacungkan pistolnya ke arah jendela.
DUAR..DUAR..DUAR..DUAR...
empat kali tembakan tadi mengagetkan orang-orang di ruangan itu,mata mereka lalu tertuju ke arah Madara yang masih mengacungkan asap masih terlihat dari ujung pistolnya.
0000000000000000
"ck,kepolisian Konoha" ucap Deidara
"Sebaiknya kita beritahu tuan Madara" kata Sasori yang Lalu bergegas masuk kedalam rumah meninggalkan Didara bersama mayat polisi yang tergeletak di hadapannya.
Madara masih terdiam setelah kejadian tadi,Dia menunggu laporan sasori dan Deidara yang tadi diperintahnya keluar memeriksa tiba-tiba berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu,Dia berpapasan dengan Sasori yang akan menyampaikan berita kepada Madara.
"Naruto,kau mau kemana?" tanya Madara menahan langkah kaki Naruto.
"Aku mau memeriksa keluar sebentar" Naruto lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
...
"Dedara,bagaimana?apa sudah kau periksa mayatnya?"tanya Naruto yang muncul dari dalam rumah.
"Ya,sepertinya orang ini tak akan lagi menikmati sisa hidupnya di dunia ini" kata Deidara dengan santainya.
Naruto lalu berjalan mendekati mayat itu,Matanya terbelalak melihat wajah anggota polisi itu dan tubuhnya seakan mati rasa.
"Kau kenapa Narutu?" tanya Pain tiba-tiba,dia juga ikut keluer menyusul Naruto bersersama itu membuyarkan pakiran Naruto,dia lalu bertingkah normal untuk menghindari kecurigaan mereka.
"Ah,tidak apa-apa..sepertinya aku pernah melihat polisi ini" jawab Naruto
"Kau ini..bukankah kita tiap hari berurusan dengan mereka,mungkin dia pernah menangkapmu dulu" kata Pein sambil menepuk Bahunya.
Madara beserta anak buahnya yang lain lalu menyusul mereka yang sudah ada di lalu mengelilingi mayat anggota polisi masih mengalir dari belakang kepala polisi itu,tembakan tadi tepat mengenai kepala polisi tersebut yang menewaskannya.
"Tuan,Bagaimana ini?" tanya hidan
"Bodoh,tentu saja kita buang mayatnya" kata Deidara
"tenang kalian...sekarang yang jadi masalah siapa yang akan membawa mayat ini?' tanya Madara
tak satupun menjawab pertanyaan madara,mereka hanya diam dan saling lempar pandangan.
"Aku " kata Naruto tiba-tiba mengagetkan mereka semua." Biar ku bawa dengan mobilku saja"
"...kuserahkan padamu naruto,dan semuanya sampai ketemu di pertemuan selanjutnya" kata Madara mengakhiri pertemuan malam itu
Dia memandang keluar jendala apartementnya,hiruk pikuk kota Konoha bisa dilihatnya dengan yang rindah di sekitar menambah suasana menjadi semakin terletak di lantai delapan sehingga terpaan angin cukup terasa,rambutnya ynag berwarna pink sepanjang bahu bergerak mengikuti arah terus menatap ke arah luar,tangan kanannya menggenggam sebuah liontin berwarna perak berbentuk hati."sakura..." terdengar seseorang memanggil namanya,tetepai dia tak memperdulikanya.
BLTAK
"Auuchh..." Sakura merintih kirinya memegangi kepalanya yang tersa sakit,dia lalu menoleh kebelakang dimana seseorang berambut pirang panjang manatapnya dengan wajah penuh kemarahan.
"Kau pikir sudah berapa kali aku memanggilmu?'' tanya Ino agak marah.
"maaf Ino,kenapa?" tanya Sakura
"Kau sedang memikirkan sesuatu atau seseorang?dan yang di tanganmu itu...?" tanya Ino sambil menunjuk liontin yang ada di tangan kanannya.
"Ini..?" kata sakura memperlihatkan liontin itu kepada Ino.
Naruto masih menatap nisan yang ada di hadapanya,disitu tertulis jelas dua nama seseorang yang disemayamkan yang sudah dia anggap sebagai kerabatnya Umino,salah seorang teman dekat orang adalah orang yang merawat Naruto setelah orang tuanya meninggal sebelum pada umur lima belas tahun dia pindah ke Amerika bersama pamannya.
"Sendirian saja Naruto?" tanya seseorang yang berdiri dibelakangnya
"Ah paman,," Naruto lalu berdiri dan menjabat tangan orang itu." Maaf,ini semua gara-gara aku..seandainya saja aku-..."
"sudah lah Naruto,jangan salahkan dirimu terus menerus..kita tahu kau tak bisa berbuat apa-apa saat itu" kata pria itu.
"Tapi harusnya aku tak membiarkan ini terjadi..." kata Naruto
"Hei,seminggu sudah berlalu sejak kejadian itu..kau harus meneruskan perjuanganmu,buatlah Iruka tak meninggal sia-sia...bagaimana kalau sekarang kita makan siang di restoran favoritmu,biar paman traktir " katanya mencoba menghibur Naruto.
"Maaf paman,aku tak bisa...ada pertemuan penting" kata naruto
''Baiklah,semoga usahamu kali ini berhasil "
Keduanya lalu meninggalkan pemakaman.
"Jadi itu hadiah dari teman kecilmu?" tanya Ino
"begitulah...delapan tahun sudah kami tak pernah bertemu,terakhir ketika kami berusia lama belas tahun" kata Sakura,dia lalu duduk ditempat tidurnya di ikuti oleh Ino.
"eemmm...terus sekarang kau merindukanya kan?" tanya ino
"sangat merindukan dirinya..!Ino kau ingat dengan seseorang yang di restoran waktu itu tidak?' tanya sakura
"maksudmu laki-laki pirang itu?" Sakura mengangguk mendengar jawaban kejadian itu sudah berlalu sekitar satu minggu dia tentu tak akan lupa bagaimana ekspresi kemarahan sasuke ketika memukuli pemuda berambut pirang itu.
"Ketika memandang pria itu,aku jadi teringat pada teman kecilku itu..mereka sama-sama berambut pirang" kata sakura
"Ssshhhh...sudahlah lupakan saja,
lebih baik kita jalan-jalan saja,aku tak ingin waktu libur kita terbuang sia-sia" kata Ino.
Pekerjaan mereka sungguh melelahkan,beberapa hari sebelumnya mereka dikejutkan oleh meninggalnya salah seorang rekannya sesama anggota polisi sampai sekarang mereka belum bisa menangkap waktu libur yang hanya satu hari tak ingin mereka habiskan dengan berdiam diri di apartement mereka.
...
...
Pria itu mondar-mandir di sekitar taman kota,sesekali dia melirik jam nampak sudah mulai habis,berjam-jam dia di tampat itu tetapi tanda-tanda kemunculan temannya belum juga terlihat.
"Sial " umpat orang itu,sebuah kaleng bekas tanpa ragu di tendang sekuat tenaga.
CTAK
"Aduh..." terdengar suara rintihan seorang tak menyangka kaleng itu akan mengenai seseorang.
"Eh,maaf..Kau tidak apa-apa ka nona?" tanya Naruto memasang raut penyesalan menghampiri perempuan itu
"Hei,lihat-lihat kalau kau bertindak" teriak perempuan lainnya.
"Sudahlah ino,dia kan sudah minta maaf,," kata sakura yang masih mengusap disangka ketika sedang asyik berjalan tiba-tiba saja sebuah kaleng mendarat tepat di keningnya.
"Kau kan...?" ucap Ino menunjuk ke pria berambut pirang itu." Bukan kah kau pria yang di restoran waktu itu?"
Naruto lalu memandang wajah mereka,pandangannya lansung tertuju pada orang yang tangannya masih dia yang berwarna pink tentu tak akan membuatnya lupa.
"Sakura..." batin Naruto
TO BE CONTINUED
