oO-タマサ-Oo

Disclaimer: Around Us Ent., and more. But story and plot are mine.

Rated: T

Genre: Drama Hurt

Pairing: JunSeob, JunSeung, DooKwang, and others.

Warning: YAOI, Boyslove, AU, OOC, typo.

Don't like don't read!

oO-タマサ-Oo

Chapter 01

Yoseob memperhatikan sekelompok pemuda di kafe seberang dengan tatapan dingin. Ia memutar ponselnya dengan gerakan main-main. Mereka semua adalah alasan mengapa Yoseob bisa ada di tempat ini sekarang. Entah bagaimana caranya, Yoseob harus bisa menarik perhatian salah satu dari mereka. Ia sudah berdandan seperti umumnya remaja, yaitu dengan kaus putih polos dan jaket denim sebagai outer, skinny jeans sebagai bawahan, dan memakai lensa kontak berwarna navy, agar serasi dengan pakaian yang ia kenakan.

"Harus berapa lama lagi aku menunggu pesan dari Gikwang, Paman?" tanya Yoseob mulai tidak sabar. Paman Lee sedang duduk di balik kemudi, dan ia hanya melirik kaca spion untuk memperhatikan bosnya. Saat melihat ekspresi Yoseob yang dingin, ia menggaruk kepalanya sambil tertawa canggung.

"Sepertinya bocah itu lupa, Tuan Muda."

"Aku tidak boleh membuang waktu. Aku akan masuk ke dalam lebih dulu. Tolong hubungi Gikwang, dan suruh dia untuk segera menyusul." Yoseob merapikan barang bawaannya ke dalam tas ransel kecil yang ia bawa. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangannya, membiarkan poni jatuh menutupi keningnya.

"Tuan Muda," panggil Paman Lee pelan, membuat Yoseob menghentikan kegiatannya, "berhati-hatilah pada mereka."

"Tentu," jawab Yoseob singkat. Ia membuka pintu mobil, dan ketika ia hampir turun dari mobil, ia menambahkan, "terima kasih, Paman". Ia menarik nafas panjang dan melangkah keluar mobil. Memperhatikan sekelilingnya sekali lagi, baru memutuskan untuk menyeberang jalan menuju kafe yang sedari tadi ia awasi. Begitu sampai di depan kafe, ia menoleh ke balik punggungnya, di mana Paman Lee dan mobilnya masih ada di sana. Yoseob mengangguk, sangat tipis, hanya untuk memberi kode pada Paman Lee agar segera pergi dari sana.

Yoseob membuka pintu kaca di depannya. Terdengar suara lonceng angin bambu , tepat ketika pintu terbuka. Yoseob melangkah ke dalam, mengedarkan pandangan ke penjuru kafe. Sebenarnya ia ingin duduk di salah satu sudut kafe yang sepi. Tapi jika ia berada di sana, mustahil akan menarik perhatian sekumpulan pria yang sedari tadi ia awasi. Mau tak mau, Yoseob memilih untuk menempati meja kosong di pinggir dinding kaca, yang hanya berjarak beberapa meja dari mereka. Yoseob berusaha menahan senyumnya saat menyadari para pria di sana berhenti mengobrol hanya untuk memperhatikannya. Tipikal pria yang mudah sekali ditebak.

Tak berapa lama, seorang gadis menghampiri Yoseob. Ia menyodorkan buku menu dan menanyakan menu yang ingin dipesan. Yoseob memutuskan untuk memesan secangkir moccachino dan sepotong cinnamon roll. Gadis itu sempat termangu memperhatikannya, membuat Yoseob tersenyum geli. Ia menyentuh lengan gadis pelayan itu perlahan, mencoba menyadarkan gadis itu. Gadis cantik itu meminta maaf, kemudian buru-buru pergi. Yoseob mendengus, memangnya ada yang aneh dari penampilannya? Mengapa para gadis selalu memperhatikannya dengan tatapan menelisik seperti gadis tadi?

Yoseob mengeluarkan ponselnya. Tidak ada notifikasi apapun, bahkan dari Gikwang. Bocah itu… awas saja kalau dia benar-benar melupakan rencana mereka berdua. Ia membutuhkan bantuan Gikwang, karena ia sama sekali tak mengenali wajah mereka semua selain pria yang bernama Yong Junhyung. Itupun jika pria yang di pinggir itu benar-benar –

–Oh, ada yang memperhatikannya! Salah satu dari mereka.

Pria yang memandangnya itu segera menunduk, sementara Yoseob akhirnya memutuskan untuk memperhatikan pemandangan di luar kafe melalui dinding kaca yang transparan. Mencari perhatian orang lain seperti ini sebenarnya bukan kebiasaan Yoseob. Saat berada di Kyoto dulu, ia selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Selain karena ia adalah cucu dari seorang yang punya pengaruh besar di kotanya, ia juga memiliki wajah yang berbeda dengan penduduk setempat karena ia memiliki wajah mirip dengan ibunya yang asli orang Korea.

Dulu ia selalu merasa rindu dengan suasana Seoul, termasuk kendaraan umum dan pertokoan di sini. Di sana memang banyak pertokoan yang bisa ia kunjungi, tapi karena larangan sang kakek, ia jadi kesulitan untuk melakukannya. Menurut kakeknya, apapun yang Yoseob lakukan, akan selalu menjadi sorotan masyarakat sekitar mereka. Alhasil, Yoseob lebih banyak menyuruh asistennya untuk berbelanja, baik di toko langsung maupun belanja online.

Seharusnya Yoseob baru akan pulang ke Seoul beberapa bulan lagi. Tapi ia terpaksa mempercepat jadwal kepulangannya setelah mendengar kabar kematian Hyunseung. Hanya ia dan Seungho hyung yang tahu bagaimana keras usahanya membujuk sang kakek agar mengijinkan ia meninggalkan Kyoto dan kembali ke Seoul. Yoseob meyakinkan kakeknya kalau Seungho sangat berkompeten untuk mengurus bisnis Yoseob. Seungho adalah pria yang sangat bisa dipercaya, pria itu tak mungkin mengecewakannya. Lagipula Yoseob akan sedikit membantu Seungho meski hanya bisa melakukannya via telepon.

Yoseob tersentak saat mendengar benda terantuk di atas mejanya. Saat ia menoleh, pelayan yang tadi sudah kembali dan meletakkan semua pesanan Yoseob ke atas meja. Yoseob tersenyum, mendekatkan cangkir ke hadapannya sambil bergumam terima kasih. Begitu pelayan pergi, Yoseob mengangkat cangkirnya dan meminum sedikit moccachinonya. Hangat dan manis, yaahh… setidaknya membantu Yoseob agar lebih rileks. Masalah mengenai Hyunseung menyita seluruh perhatiannya. Ibunya sedikit tidak setuju dengan rencana ini, ia takut Yoseob akan mengalami nasib sama seperti Hyunseung. Tentu saja hal itu tidak mungkin, apapun yang terjadi Yoseob tidak akan mungkin jatuh pada lubang yang sama. Yoseob tidak akan buta pada pria itu, seperti yang terjadi pada Hyunseung.

Yoseob baru akan meminum lagi moccachinonya saat tiba-tiba terdengar suara gelas pecah. Tanpa sengaja, Yoseob menumpahkan minumannya, membuatnya mengerang dan meletakkan kembali cangkirnya ke meja. Tak ada kotak tissue sama sekali di atas meja, jadi ia mencoba mencari di dalam tas ranselnya, namun nihil. Yoseob mengembalikan tasnya ke samping sambil mendengus. Ia baru saja berniat memanggil pelayan saat ada tangan yang terulur di depan wajahnya sambil menyodorkan sebuah saputangan yang terlipat. Yoseob mengangkat kepalanya, memperhatikan siapa orang itu. Siapa pria ini?

"Kau membutuhkan ini kurasa…"

"Ah, tidak," Yoseob menggeleng, "tidak apa-apa."

"Ambil saja…," pria itu meraih tangan Yoseob dengan paksa, tapi kemudian membersihkan tangan Yoseob yang kotor dengan saputangan yang ia bawa. Yoseob hampir saja menarik kembali tangannya kalau pria itu tak melakukannya dengan perlahan. "Kau boleh membuangnya setelah ini…," lanjut pria itu sambil tersenyum.

"Terimakasih," gumam Yoseob tersipu.

"Sendirian?" tanya pria itu setelah selesai. Ia masih berdiri di sebelah Yoseob. Yoseob memgangguk dengan ragu.

"Sebenarnya aku sedang menunggu temanku…," jawab Yoseob. Pria itu mengangguk mengerti.

"Baiklah. Aku tidak ingin mengganggumu. Tapi apakah kau keberatan kalau aku mengajakmu berkenalan?" Yoseob tertawa begitu pria itu selesai bertanya. Pria itu melakukan hal romantis tadi hanya karena ingin berkenalan dengannya? Yoseob melirik sekumpulan pria yang dari tadi ia awasi dan melihat ada satu kursi kosong di antara mereka. Kalau tebakannya benar, pria ini pasti salah satu dari mereka. Bisa jadi ini adalah jalan untuk bisa mendekati Junhyung. Lihat saja, Yong Junhyung dan teman-temannya memperhatikan Yoseob dengan tatapan tertarik. Mungkin penasaran dengan jawaban Yoseob.

"Han Yoseob," Yoseob mengulurkan tangannya. Ya, ia memang sudah menyiapkan nama marga palsu untuk memuluskan rencananya. Siapa Han? Salah satu dari bibinya menikah dengan pria Korea bermarga Han, dan kini mereka tinggal di Los Angeles, Amerika. Yoseob bukannya sembarangan memakai nama marga orang lain. Ia sudah menelepon Paman Han sebelumnya, dan ia tidak keberatan jika Yoseob mengaku sebagai salah satu sanak saudaranya setelah yakin tidak ada satupun dari anggota keluarga Han yang pernah berhubungan dengan keluarga Yong Junhyung. Ia hanya meminta agar Yoseob tidak melakukan hal-hal yang bisa mengundang bahaya bagi keluarga besar mereka. Yoseob mengiyakan, ia sudah berhati-hati dalam menyusun rencana, dan melihat bagaimana sifat anggota geng Yong Junhyung, Yoseob sangsi jika salah satu dari mereka menyadari penyamaran Yoseob nantinya.

"Jung Jinwoon," pria itu membalas menjabat tangan Yoseob, "panggil saja Jinwoon, atau Woon-ah". Yoseob tertawa kecil menanggapi gurauan Jinwoon.

"Jinwoon saja," jawab Yoseob.

"Apakah kau keberatan kalau aku menemanimu di sini? Oh, aku tahu kalau aku banyak meminta darimu–"

"–Silakan," sela Yoseob langsung mempersilahkan Jinwoon untuk duduk di kursi depannya, "aku tidak keberatan". Kalau nanti Gikwang tiba, dia bisa duduk di sebelah Yoseob. Meskipun Yoseob tak yakin kapan ia akan tiba.

"Aku akan mengambil minumanku dulu…," Jinwoon berjalan menjauhi Yoseob, kembali menuju ke tempat duduknya. Ya, sesuai tebakan Yoseob, Jinwoon adalah salah satu dari mereka. Saat Jinwoon mengambil gelas minumannya, mereka semua terlihat tertawa menggoda Jinwoon. Sepertinya mereka pun tak menyangka kalau Yoseob tak menolak berkenalan dengan Jinwoon. Yoseob tersenyum miring, mengambil cangkirnya dan menghirup moccachinonya. Itu adalah gesturnya untuk menutupi sebagian wajahnya karena ia sadar mereka semua kini menoleh pada Yoseob dan menatapnya dengan tertarik. Jinwoon memukul lengan salah satu dari mereka, berkata sesuatu entah apa yang membuat teman-temannya kini berhenti menatap Yoseob, baru kemudian ia berjalan kembali menuju meja Yoseob.

"Mereka teman-temanmu? Apa tak masalah kalau kau meninggalkan mereka dan duduk di sini?" tanya Yoseob begitu Jinwoon duduk di kursinya. Jinwoon menggeleng.

"Mereka sudah terbiasa dengan sikapku. Tenang saja."

"Hoo… jadi kau selalu menggoda setiap pengunjung kafe ini?"

"Tidak!" elak Jinwoon, "apa aku terlihat seperti seorang playboy? Aku bahkan belum punya kekasih sejak putus beberapa bulan yang lalu. Aku tidak sembarangan menggoda orang. Lagipula laki-laki semanis dirimu itu cukup langka di sini." Yoseob tersipu saat mendengar kata 'manis' dari mulut Jinwoon. Tapi melihat ekspresi pemuda itu yang biasa saja, sepertinya pemuda itupun tak sadar kalau ia baru saja merayu Yoseob sekali lagi.

"Aku semanis itu?" tanya Yoseob. Kedua pipi Jinwoon merona. Ia tak menjawab pertanyaan Yoseob, hanya menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. "Apa itu juga alasan mengapa mereka tadi memperhatikanku dengan aneh?"

"Oh, maaf dengan sikap tidak sopan mereka. Mereka mengagumi wajahmu."

"Aah~," Yoseob bergumam. Ia sudah tahu itu, ia hanya berpura-pura tanya. Jinwoon menoleh ke belakangnya untuk memperhatikan teman-temannya yang kini sudah terlihat berbincang satu sama lain.

"Mereka selalu membicarakan hal-hal serius. Jika berada di dekat mereka yang dalam mode begitu, aku jadi merasa dikucilkan," lanjut Jinwoon. Hal serius, huh? Yoseob tersenyum sinis. Hal serius macam apa yang mereka bicarakan memangnya? Rencana baru? Menjebak pemuda atau gadis kaya lagi, memanjakan mereka dengan cinta palsu padahal hanya ingin menggerogoti harta mereka, kemudian meninggalkan mereka? Orang kaya mana lagi yang akan mereka peras kali ini?

"Dikucilkan?" tanya Yoseob. Jinwoon mengangguk.

"Mereka semua adalah pria yang sudah bekerja. Sedangkan aku adalah yang paling muda di antara mereka. Kau pasti tak akan percaya kalau aku berkata padamu aku adalah mahasiswa–"

"Masih kuliah? Sungguh?"

"Kau benar-benar tak percaya? Apa karena aku lebih tinggi darimu?"

"Yaa…," Yoseob memutar bola matanya. Ia sedikit sensitif jikaada yang membahas tinggi badannya, "sebenarnya ya".

"Mereka bilang aku kekanakan…"

"Karena kau memang yang paling muda di antara mereka, bukan?"

"Karena aku sering salah paham dengan pembicaraan mereka. Dan sangat cerewet. Aku memang sedikit cerewet," Yoseob mendengus geli mendengar kata 'sedikit'. Sedikit bagaimana, dia bahkan tak berhenti berbicara sejak tadi.

"Memangnya mereka membicarakan apa?" tanya Yoseob memotong rotinya dan menyuapkan ke mulutnya. Ia bahkan lupa dengan kudapannya karena terlalu asyik berbincang dengan pemuda cerewet di depannya ini. Saat mendengar pertanyaan Yoseob, Jinwoon sempat membulatkan matanya. Ia menggaruk kepalanya, terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan sepele itu.

"Biasa… masalah kekasih… Nah, ngomong-ngomong," Jinwoon menepuk kedua tangannya pelan, "apakah ini pertama kali kau berkunjung kemari? Aku dan teman-temanku sering berkunjung ke kafe ini, tapi ini adalah pertama kali aku melihatmu…". Dia sedang mengalihkan pembicaraan, Yoseob sadar itu. Tidak apa, ini adalah pertemuan pertama mereka, jadi wajar jika mereka tidak membicarakan hal-hal pribadi terlebih dulu. Masih ada banyak waktu untuk menggali informasi lebih jauh.

"Aku baru pulang dari Los Angeles. Ini adalah hari ketiga sejak kepulanganku."

"Amerika? Kau serius?" Yoseob sudah biasa melihat reaksi terkejut yang sama seperti Jinwoon. Hari-hari pertama kedatangannya ke Kyoto beberapa tahun silam, tetangga dan kerabat kakeknya selalu menatapnya takjub saat tahu ia adalah orang asing.

"Aku bekerja di sana."

"Lalu mengapa kau kembali ke Seoul, bukankah di sana menyenangkan?"

"Kata siapa?"

"Tidak ada. Hanya saja saat melihat di TV, Amerika sepertinya menyenangkan dan bebas."

"Tidak juga. Apalagi kalau kau selalu merindukan masakan Korea tiap menitnya–"

"–tunggu!" Jinwoon tiba-tiba memotong pembicaraan, "jadi kau sudah bekerja? Kau lebih tua dariku?"

"Menurutmu?" tanya Yoseob balik.

"Tidak mungkin," Jinwoon mendekatkan wajahnya, menatap wajah Yoseob penuh selidik, "kau imut sekali…"

"Berhenti menyebutku imut!" Yoseob mengeluh, mulai tidak nyaman dengan cara Jineoon memujinya. Ia tahu, untuk bisa mendekati geng Junhyung, ia harus bisa memasang image baru. Ia harus dikenal sebagai pria manis berpikiran polos yang ternyata adalah seorang gay, sama seperti mereka. Hanya saja, ia butuh waktu untuk bisa terbiasa dengan itu.

"Tapi kau memang imut…"

"Terserah kau saja."

"Dan aku tidak akan memanggilmu 'hyung', meskipun aku tahu kalau kau lebih tua dariku."

"Apa?"

"Panggilan itu hanya semakin memperjelas perbedaan umur kita dan membuat harga diriku menjadi jatuh…."

Dan obrolan mereka terus berlanjut. Banyak hal yang mereka berdua bicarakan. Jinwoon adalah teman bicara yang menyenangkan karena keramahannya. Sulit dipercaya jika ia juga terlibat dalam aksi Junhyung pada Hyunseung. Mungkin saja dia tidak terlibat dengan Junhyung, meskipun ia tahu apa yang terjadi pada Hyunseung selama ini. Mungkin juga, ia tidak tahu sama sekali kelakuan Junhyung dan teman-temannya sebejat apa. Pilihan yang kedua terdengar sangat mustahil.

Jinwoon mungkin adalah pemuda yang cerewet, tapi sejak tadi ia berhati-hati dalam memilih topik pembicaraan. Ia tidak terlalu bsnyak bertanya hal pribadi pada Yoseob, meskipun terlihat ingin tahu lebih banyak tentangnya. Entah karena takut Yoseob akan balik bertanya hal pribadi padanya, atau dia sekedar ingin menjaga kesan baik di hadapan Yoseob sebagai pemuda yang sopan.

Yoseob melirik arlojinya. Tak terasa sudah 30 menit lebih mereka berbincang. Ia menyalakan ponselnya, melihat notifikasi. Tidak ada balasan apapun dari Gikwang. Yoseob mengeraskan rahangnya, sudah menyiapkan rencana untuk menghajar Gikwang. Saat ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, ia sempat menoleh ke meja Junhyung. Ia terhenyak saat menyadari Junhyung tengah memperhatikannya, entah sejak kapan, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan. Yoseob tersenyum tipis, sepertinya ia harus mengubah sedikit rencana.

Yoseob baru akan melanjutkan obrolannya dengan Jinwoon saat tiba-tiba pintu kafe dibuka secara kasar dari luar. Semua pengunjung kafe menatap ke arah pintu masuk, termasuk Yoseob. Itu dia, yang dinanti Yoseob sedari tadi akhirnya datang juga. Ya, itu Gikwang, Lee Gikwang. Dari jauh saja Yoseob sudah bisa menangkap perubahan apa saja yang kini ada apada Gikwang. Penampilan fisiknya berubah drastis dibanding saat ia terakhir kali bertemu. Yoseob ingat, di antara ia, Hyunseung, dan Gikwang, Gikwang lah yang paling lambat dalam berpikir, meski ia juga yang paling tampan. Kecuali menari dan sepak bola, Gikwang tidak punya kemampuan spesifik. Itulah yang membuat Gikwang memutuskan untuk berkarir menjadi dancer di sebuah agensi. Bukan agensi besar, tapi ia mengaku cukup senang dengan pekerjaannya karena menari adalah jiwanya.

"Yoseob-ah" teriak Gikwang sambil berlari menghampiri Yoseob di mejanya. Yoseob tak menjawab, hanya tersenyum kecut sambil memasukkan ponselnya ke dalam ransel. "Maafkan aku karena tak membalas pesanmu. Pelatih memajukan jadwal latihan, dan aku tidak mungkin absen latihan," Gikwang menjelaskan masih sambil berdiri di samping Yoseob.

"Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu," jawab Yoseob dingin.

"Yah~ maafkan aku… aku janji aku tak akan mengulanginya lagi," Gikwang menempelkan kedua telapak tangannya sambil berlutut di dekat kaki Yoseob. Yosrob membulatkan kedua matanya, terkejut dengan tingkah Yoseob yang berlebihan.

"Yah! Bangun! Kau hanya membuatku malu!"

"Tapi kau mau memaafkanku kan?"

"Iya," Yoseob menarik pundak Gikwang dan menggeser pantatnya, meminta Gikwang untuk duduk di kursinya, "duduklah".

"Aku tahu kalau kau tak akan bisa marah padaku…," Gikwang tersenyum lebar, membuat Yoseob ikut tersenyum. Ya, dia benar. Semarah apapunYoseob, hanya dengan melihat senyum lebar Gikwang saja, Yoseob pasti akan luluh.

"Kau memanfaatkanku…," gumam Yoseob. Ia menoleh pada Jinwoon yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka, "Jinwoon, kenalkan, ini adalah sahabatku, Lee Gikwang," Yoseob menunjuk Gikwang, kemudian pada Jinwoon, "dan Gikwang, ini Jung Jinwoon". Gikwang dan Jinwoon saling menjabat tangan dan mengangguk memberi salam.

"Berapa menit aku meninggalkanmu, dan kau sudah berkenalan dengan seorang pria? Kau tahu, kalau aku kekasihmu, aku pasti sudah sangat cemburu," ujar Gikwang dengan sorot mata heran. Yoseob meringis. Salah siapa kalau ia selalu menarik perhatian banyak orang? Padahal ia tidak pernah berpenampilan mencolok.

Oh, ia hampir lupa menjalankan rencananya!

"Aku ke toilet sebentar. Kalian silakan mengobrol," Yoseob bangkit berdiri sambil merapikan pakaiannya. Gikwang mengangguk, begitupun Jinwoon. Yoseob melangkah cepat, sengaja membuang muka saat melewati meja Junhyung karena ia lagi-lagi menangkap pandangan Junhyung kepadanya.

Begitu sampai di toilet pria, Yoseob memilih untuk masuk ke dalam salah satu bilik. Kebetulan sekali toilet dalam keadaan kosong melompong. Tidak ada siapapun selain Yoseob. Yoseob berdiri bersandar pada pintu bilik. Suasana sangat sunyi, hingga akhirnya ia mendengar pintu depan toilet terbuka. Setelahnya terdengar suara langkah mendekat ke bilik. Yoseob menyeringai. Ia menyalakan flush, meskipun ia tidak menggunakan kloset sama sekali. Ia menunggu beberapa detik, baru kemudian membuka pintu biliknya. Kedua tangannya mrmperbaiki posisi kancing celananya, seolah ia baru saja buang air kecil. Ditambah kepalanya menunduk serius. Yoseob berhenti melangkah saat dilihat ada sepasang sepatu yang menghalangi langkahnya, membuatnya mendongakkan kepala.

Tepat seperti dugaannya. Yong Junhyung. Benar kan, tidak sulit untuk menarik perhatian pria ini.

"Oh maaf," Yoseob tersenyum, sedikit bergeser dan kembali melangkah mendekati wastafel. Dari kaca besar di depannya, Yoseob tahu kalau Junhyung memperhatikannya. Entah dia sebenarnya sadar dengan perbuatannya atau tidak. Tapi seperti sebelumnya, Yoseob tak ambil pusing dengan perbuatannya itu. Ia berpura-pura tak menyadari cara pandang Junhyung yang kurang ajar padanya –dia selalu melirik bagian bawah belakang Yoseob, ngomong-ngomong–, memilih untuk mencuci tangannya dan mengeringkannya dengan tissue.

"Apakah ada yang salah dengan penampilanku, Tuan?" Yoseob akhirnya memutuskan untuk menegur Junhyung lebih dulu, memperhatikan Junhyung melalui cermin di depannya. Junhyung tersentak, ia menggosok kedua telapak tangannya dan melangkah ke samping Yoseob.

"Maaf, aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan dengan memandangimu seperti itu," jika Yoseob tidak pernah tahu bagaimana latar belakang Junhyung sebelumnya, mungkin saat ini ia akan tersentuh hanya dengan mendengar perkataan pria itu. Dia pandai mencuri hati seseirang lewat tutur katanya.

"Kau…," Yoseob menghadap Junhyung, "bukankah kau salah satu teman Jinwoon?"

"Yaa… aku Yong Junhyung," Junhyung menyodorkan tangan kanannya yang disambut jabatan tangan oleh Yoseob

"Han Yoseob," balas Yoseob. Pria manis itu memperhatikan tangannya yang belum dilepas Junhyung, sementara Junhyung terlalu sibuk melamun memperhatikannya. Yoseob tahu, keberadaannya di kafe ini, menghabiskan waktu dengan obrolan tidak penting bersama Jinwoon, semuanya ia lakukan untuk momen seperti ini bersama Junhyung. Hanya saja…

"Junhyung-ssi," Yoseob menarik tangannya, kembali menyadarkan Junhyung dari dunianya sendiri. Dengan gugup Junhyung melepaskan tangan Yoseob sambil tersenyum kikuk.

"Aku kembali ke depan dulu," pamit Yoseob. Junhyung mengangguk kaku. Tanpa bicara lagi Yoseob berjalan menuju ke pintu toilet. Sebelum akhirnya ia berhenti lagi dan berbalik dengan gaya dramatis.

"Kalau kau mau kau bisa bergabung dengan kami, Junhyung-ssi."

Jika setelah Yoseob berkata begitu Junhyung langsung memberikan senyum lebar, maka tak jauh beda dengan apa yang Yoseob lakukan. Ia segera berbalik badan lagi dan menyeringai lebar.

Gotcha!

To be continued...

-oO―タマサーOo-

3000 words! Puas?

Mood saya membaik karena dapet JunSeob moment terus, meskipun sedih juga waktu nonton video-video Outro Live kemaren. Tiap ngeliat Yoseob nangis, rasanya pengen meluk dia sambil bilang, "uljjima, honey~". Terus yang paling baru, JunSeob ke Tokyo karena Yoseob ada mini concert buat album White. Yang bikin gemes tu karena mereka bikin instastory kembaran, yg Tokyo Tower itu. Trus IG Live berdua… ahhhh jiwa fansgirl saya membara!!!

Trus Jinwoon, kalau mungkin kalian lupa Jinwoon itu siapa. Itu lho, member 2AM yang pernah main panjang-panjangan tangan sambil nyentuh-nyentuh pipi ama Yoseob. Saya lupa nama event-nya. Seungho cuman muncul nama doank, Hhaa... Waktu lihat Seungho dulu, suka ngerasa kayak dia tu kok agak mirip ama Yoseob ya, jadinya saya suka pairing-in mereka berdua. Kan kalo mirip katanya jodoh. Hhaa…

Asudahlah! Langsung saja, shoutout untuk Alphaiken yang udah review di chapter sebelumnya.

Terimakasih untuk yang baca...

Terimakasih untuk yang fav dan follow...

Seperti biasa, mind to review again?

See you next chapter!

Ciao!