Tadinya dia baik-baik saja di acara pemakaman Mike, di kuburan, atau saat Erwin dan Hange terus mengusap-usap punggungnya seolah sikap itu dapat menghibur Levi. Tetapi begitu ia masuk ke kamarnya, damn, semua emosi menghantamnya sekaligus. Tubuh Levi bergetar, kepalanya sakit, ingus membuatnya susah bernapas dan dadanya terasa terbakar. Mike di mana-mana. Di kasur, di tengah ruangan, di kursi belajarnya, di setiap sudut ruangan dan semuanya membuat Levi sesak. Levi menggigit bibirnya untuk menahan suara yang mungkin keluar dari mulutnya, tak ingin Kenny mendengar ia menangis seperti bayi, tak ingin terlihat lemah dan bodoh di depan Kenny. Ia meringkuk seperti anjing dengan wajah berkerut dan jelek dengan ingus dan air mata di lantai kamarnya dan puluhan hantu Mike mengerumuninya tanpa ekspresi. Fuck, ini semua membuat Levi kewalahan. Gila rasanya satu orang lelaki bisa membuatnya hilang akal, berhalusinasi, dan merasa asing di kamar yang sudah ditempatinya selama hampir sepanjang hidupnya. Mike tetap saja egois meski ia sudah berada enam kaki di bawah tanah dan Levi benci, benci, Mike.
Levi baru merasa tenang setelah hampir dua jam menangis. Wajahnya bengkak, hidungnya merah, matanya gatal dan panas, dan Levi hanya ingin berendam dalam bak mandi sampai fajar karena seluruh badannya lengket.
"Jangan pernah mengunci kamar mandi lagi." Kenny menasehatinya ketika sarapan pagi/siang. Tadi pagi Kenny menendang pintu kamar mandi sampai menyentak Levi yang tanpa sadar tertidur di dalam bak mandi hanya dengan brief boxer membalut tubuhnya. Levi tak bisa melupakan bagaimana ekspresi wajah Kenny saat menemukannya. Kenny bahkan sampai berjongkok di depan bak untuk menarik Levi ke dalam pelukannya.
"Aku akan kembali besok." Balas Levi menggigit bacon agak kesusahan. "Aku tak bisa berlama-lama di sini. Aku bisa gila."
Kenny membiarkan Levi selesai mengunyah kemudian menjawab. "Aku akan mengantarmu ke bandara."
Selesai makan, Levi memutuskan untuk membantu Kenny mencuci peralatan makan. Ia kembali melihat Mike dari ekor matanya, merasakan keberadaannya, jauh, kemudian semakin dekat setiap kali ia berkedip. Levi nyaris berteriak, hilang kendali, tetapi Kenny membawanya kembali.
"Bagaimana... keadaanmu? Maksudku, umm, yeah, kau tahu maksudku." Tutur Kenny menjernihkan suaranya. Ia mengambil kain yang tergantung di atas rak cuci piring dan membantu Levi mengeringkan alat makan.
Levi menelan ludah. "Yeah. Mike menghantuiku. Betul-betul, menghantuiku."
"Maksudmu kau bisa melihatnya? Apa dia di sini sekarang?" Kenny menoleh ke sekeliling mereka, mencoba menemukan Mike jika memang dia menghantui Levi.
"Tadi dia di sini. Di sampingku. Sumpah, tadinya aku mau berteriak, Kenny. Dia, dia mengacaukan pikiranku... dan aku tak suka." lirih Levi, menghidupkan keran air kembali untuk membasuh piring. "Kau percaya padaku, kan?"
Kenny mengangguk, terlalu cepat. "Ya! Lee, ya, tentu saja aku percaya. Ketika Mamamu meninggal, aku bersumpah bisa melihatnya di mana-mana. Dia seperti mengawasiku diam-diam dengan tatapan kosong. Semakin aku mengingatnya, semakin sering dia menampakkan diri."
Keran dimatikan. Levi memberi perhatian penuh kepada Kenny. Mencoba memproses apakah barusan Kenny hanya mencoba bersikap simpati kepadanya, atau sungguh-sungguh. "Jadi, bagaimana kau mengenyahkan Mama?"
Kenny mengambil piring basah dari tangan keponakannya, kemudian menjawab dengan menatap Levi tepat di mata. "Dengan membuang semua hal yang berhubungan dengan Mamamu. Foto, barang pribadinya, aku membuang mereka semua meskipun berat rasanya, dan bang, Kuchel tak pernah menghantuiku lagi."
Levi terdiam. Semuanya jadi masuk akal sekarang.
iPhonenya panas di atas telapak tangannya yang berkeringat dan cahaya kontrasnya terlalu tinggi dan mata Levi sakit, perih, dan air matanya menetes ke atas layar tanpa henti. Ia telah menyortir semua hal yang mengingatkannya dengan Mike ke dalam kotak kardus untuk disumbangkannya ke Goodwill, tetapi begitu ia mencoba menghapus satu-satunya foto yang ada di camera roll ponselnya, air mata mendesak keluar begitu saja. Satu foto bisa mengingatkannya dengan sejuta memori. Kalau ia menghapus satu-satunya hal yang bisa mengingatkannya dengan Mike, itu artinya ia akan kehilangan Mike seutuhnya. Hal itu benar-benar mengerikan sampai Levi tak bisa berbuat apa-apa selain menggigit tangis menatap layar ponselnya yang menampilkan Mike dan dirinya saling mendempetkan kepala membuat wajah konyol ke arah kamera. Orang macam apa yang bisa move on begitu saja setelah orang yang pernah disayanginya meninggal. Khususnya, cinta pertamanya. Orang-orang semacam itu pasti benar-benar kuat. Tetapi tidak dengan Levi. Levi bukan orang yang kuat meskipun itu yang paling ia harapkan di saat ini. Ia lemah. Terhadap Mike, terhadap perasaannya, terhadap egonya. Ia lemah dan bodoh dan konyol.
Levi melempar ponselnya ke dalam laci nakas. Mengunci laci, kemudian membuang kuncinya ke luar jendela. Tetapi kemudian kegelisahannya langsung menyerang, menghantamnya seperti hentakan mobil, dan semenit kemudian ia merangkak di rumput, meraba-raba untuk mencari kunci tanpa berhenti terisak seperti anjing.
Mungkin perlu waktu baginya untuk melupakan Mike, Levi sadar itu setelah menonton beberapa TEDtalks di Youtube sepanjang malam. Ia tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan atau selanjutnya... mungkin ia yang terkubur enam kaki di bawah tanah jika terus seperti itu. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyikapi kesedihan setelah ditinggal oleh orang yang disayang. Kenny mungkin bisa move on setelah membuang semua benda milik Kuchel—mamanya, tetapi bukan begitu cara yang cocok untuk Levi. Ia memang masih akan menyumbangkan pakaian/benda yang telah disortirnya ke Goodwill, tetapi ia tak akan menghapus fotonya bersama Mike dari camera rollnya. Foto itu sama berharganya dengan kenangan yang pernah mereka buat. Levi sadar, tak ada salahnya menjadi sedikit sentimentil. Tak ada yang salah memiliki hubungan emosional dengan benda atau tempat atau bau tertentu. Karena semua itu yang membentuk suatu kenangan atau momen menjadi berarti dan penting.
Ia tak ingin menyesal lagi. Ia ingin mengingat Mike. Ia ingin punya sesuatu yang mengingatkannya tentang cinta pertamanya yang berjalan lumayan sukses. Ia ingin orang-orang tahu kalau Mike pernah ada. Pernah singgah di hidupnya. Pernah menjadi bagian terbaik dari hidupnya. Ia akan menceritakan kisah cintanya kepada anak-anaknya suatu saat, atau hewan peliharaannya, atau teman hidupnya dan ia tak akan menangis melainkan tersenyum. Well, tadi itu cukup dalam.
"Jaga dirimu baik-baik, Lee." Kenny berbisik di lehernya ketika mereka berpelukan. Tepukan di punggungnya agak terlalu kuat sebelum Kenny melepas pelukan mereka. Di kiri kanan mereka, orang-orang juga melakukan hal yang agaknya sama.
"Yeah." Levi pamit, kemudian pergi seraya membenarkan tali duffle bagnya tanpa menoleh ke belakang.
Di antara saat pesawat hendak lepas landas, sekilas ia melihat Mike di luar jendela menatapnya tepat di mata. Biasanya ia tak pernah memberikan ekspresi apa pun, tetapi kali ini ia tersenyum. Senyum khasnya yang membuat kupu-kupu memenuhi perut Levi. Cuma sebentar. Karena begitu ia berkedip, Mike menghilang dan tak pernah muncul lagi. Tidak ketika akhirnya ia berada di asrama. Atau esoknya. Atau bulan depannya. Atau juga tahun berikutnya. Mike tak pernah muncul kembali.
Levi memang bukan tipe yang religius.
Tetapi setiap malam sebelum tidur sejak kembali dari Colorado, ia selalu menyempatkan diri untuk berlutut di samping kasurnya. Berdoa untuk Mike dan Mamanya...
for anyone who needs closure... as for me, ive finally got mine (': -stay hydrated fam! xoxo
