Time Machine ga Nakutate
By LalaNur Aprilia & Dee Kyou
Pair: … apaan aja, ya? *plok*
Disclaimer: Kalo Kurobasu jadi punya kita bertiga, dijamin isinya kalo gak GORE, pasti YAOI. Intinya, fic ini hanya punya Fujimaki Tadatoshi yang keceh badhai *alaynyakumat*
Warning: AU, Yaoi, M-preg lewat dikit, ketidak setaraan gender (?), OC, penggunaan bahasa Indonesia yang seenak jidat, de el el de ka.
Don't like, don't read and please no flame.
Nge-flame? Barbell melayang! *lhaah*
~~oo00oo~~
… jangan melihatku seperti itu! Author emang males untuk nulis ulang judulnya!
Iya iya! Seenggaknya ada yang di sunting, kan?! Jangan ngeliatin! Gue tau gue cakep! *eh* *plok*
Oke oke, daripada buang-buang durasi, mending langsung cabuut~~
~~oo00oo~~
Suara langkah kaki itu kian dekat… makin dekat… dan makin dekat… terlihatlah sebuah bayangan tegap dan terkesan mengerikan… perlahan-lahan makin dekat… makin dekaaat…
.
.
.
.
Ini fic horror? Bukaan! Author terlalu penakut untuk itu…
Sosok berambut merah darah dan beriris heterochromatic muncul sambil membawa sebilah gunting. Disebelahnya, anak laki-laki beriris heterochromatic dan bersurai cokelat tanah muncul dari ambang pintu.
"Kyooooooouu!" Ritsu yang mengenal sosok itu langsung menerjang hendak memeluk orang itu dan langsung dihadiahi pukulan manis dari laki-laki bersurai cokelat itu.
"Hiks… Kyou, Hidoii…" Ritsu mewek. Mitsuo malah ngakak. Walah. Dasar adek durhaka (Dee: Sadar diri dong Lala-chan!)
Kita bertolak dari pasangan mesra ini (Kyou: Sapa yang mesra?!) dan menuju pada AkaAoKiKuro *nahlho*
"Kalian berisik sekali Daiki, Ryouta. Kalian ingin merasakan guntingku yang baru diasah rupanya…" ucap Akashi dengan nada membunuhnya. Sedangkan Ryouta dan Aomine? Hanya bisa menelan ludah masing-masing.
"Sudahlah, Sei-kun, kasihan mereka baru datang tadi." Kata Tetsuya membela Ryouta dan Aomine membuat Ryouta menangis dan memeluknya erat. Akashi hanya mendengus. Kenapa dipanggil Sei-kun? Karena Akashi sudah berkeluarga dengan Furi—ralat Akashi Kouki dan memiliki anak bernama Akashi Kyou. Yup. Kyou adalah kekasih Ritsu~~ ehe…
"Paman Sei dan Kyou mau makan disini? Kaa-san masak banyak lho…" tawar Ritsu dan disambut anggukan dan ucapan 'boleh' oleh Akashi.
~~oo00oo~~
Selama makan siang, Aomine dan Mitsuo masih berperang dingin. Ritsu yang duduk disebelah mereka sudah melerai dan malah diberi lemparan sumpit oleh adik 'tercinta'nya itu. (Lala: Tanganku mengkhianati otakku =A=)
Tapi sepertinya sesuatu terjadi…
Setelah selesai makan siang, Kise mengajak Ritsu dan Mitsuo untuk main basket. Akashi, Aomine, Kyou dan Tetsuya ikut, tentu saja.
… dan entah sejak kapan terjadi hal seperti ini.
Awalnya, Akashi hanya tak sengaja mengecup leher Ritsu.
…
Tunggu…
Mari kita ulang adegannya.
Saat itu, mereka sampai di lapangan basket. Kise, Aomine, dan Mitsuo kembali bertempur. Akashi menjauh dari mereka, tapi sepertinya Akashi ditabrak Aomine dan—
CHU
Skakmat! Sebuah kecupan melayang ke leher Ritsu.
Hening
Semua membatu
Mitsuo yang pertama sadar langsung menarik Ritsu menjauh dan melayangkan tatapan membunuhnya pada Akashi.
"Jangan menatapku seperti itu, bocah! Aku tidak sengaja!"
"Sengaja atau tidak sengaja, kau tetap melakukannya, cebol!"
TWITCH
Hinaan Mitsuo padanya membuat Akashi habis sabar. Ia langsung melemparkan guntingnya kearah Mitsuo dan Mitsuo tetap diam tak bergeming.
"MITSUO-CHAN!"
Ritsu langsung mendorong tubuh Mitsuo dan gantinya, lengannya yang terkena lemparan gunting. Mata Mitsuo membelalak. Nyaris saja ia melayangkan pukulannya di wajah Akashi, tapi—
BRAAAK!
"Brak?" semua langsung menoleh kearah Ritsu. Dan terlihatlah Ritsu dengan tanah didepannya sudah retak. Ia mencabut gunting dari lengannya dan jelas mengucurkan darah banyak seperti itu.
"Iikagenishirou, omaetachi!" ucap Ritsu penuh amarah. Ia mengenggam gunting Akashi hingga patah membuat semua orang mundur menjauhinya.
"KALIAN SEMUA, DUDUK DISANA!" teriak Ritsu gusar sambil menunjuk bangku taman tak jauh dari mereka. Semua menurut dan duduk dengan manis. Ritsu mengalihkan tatapannya kearah Akashi.
"Paman Sei, biarpun hanya bercanda, melempar gunting itu berbahaya! Jangan pernah kau lakukan lagi!" omel Ritsu tak peduli bahwa orang dihadapannya ini adalah ayah dari kekasihnya dan juga orang yang paling ditakuti se-Teikou. Akashi hanya diam mendengus dan Ritsu sukses menghentakan kakinya ke tanah hingga retak. Akashi hanya mampu mengangguk. Ritsu mengalihkan pandangannya lagi pada Mitsuo. "Mitsuo-chan!"
"Nande?" tanya Mitsuo dengan nada bosan.
"Jangan bertindak sembarangan! Kamu anak perempuan! Kalau sampai wajahmu terluka bagaimana?!"
"Cih. Aku bisa jaga diri, tuh!"
Mendengar itu, Ritsu menyeringai. Ia ambil salah satu pisau lipat milik Kyou. Ia mendorong tubuh Mitsuo hingga jatuh dan menindih tubuhnya.
"Benarkah? Bagaimana kalau seperti ini?" tanya Ritsu sambil menyentuhkan pisaunya ke leher Mitsuo. Mitsuo hanya menatap Ritsu dengan tatapan seolah ia tak takut. Ritsu balik menatapnya dengan tatapan dingin lalu mulai menggoreskan pisau ke wajahnya.
Reflex, Mitsuo menendang perut Ritsu tapi dengan lihai Ritsu menahan kakinya. Ritsu makin menyeringai
"Lalu, bagaimana kalau aku melakukan ini padamu?" tanya Ritsu sambil menyusupkan tangannya dibaju Mitsuo. Semua langsung panik dan berusaha mencegah, tapi Ritsu memberi mereka tatapan tajam hingga semua takut mendekat.
Mitsuo langsung meninju Ritsu sekuat yang ia bisa, tapi Ritsu tetap tak bergeming. Ia hanya memegang pipinya dan mendecih pelan.
"Huh. Ternyata kau takut." Ritsu makin mendekati wajah sang adik dan membelai pipinya.
"I-ini gawat… gaya bicara Ritsu mulai berubah ssu!" ucap Kise panik.
"Apanya yang gawat?" tanya Akashi.
"Kalau dia sudah berubah gaya bicaranya, dia gak bakal berhenti sampai puas ngehukum kita…" jawab Tetsuya dan Kyou berbarengan.
Berbagai perlawanan sudah dilakukan Mitsuo, tapi Ritsu tetap tak bergeming. Ritsu mengarahkan mulut ke leher Mitsuo dan memberi kissmark di lehernya. Kyou yang mulai merasa perlakuan kekasihnya itu sudah keterlaluan berusaha menjauhkan Ritsu dari Mitsuo, tapi Ritsu menepis tangannya.
Merasa ada kesempatan, Mitsuo langsung mencengkram kerah baju Ritsu dan membantingnya hingga Ritsu terpelanting ke pohon. Ritsu menatap dingin kearah Mitsuo dan mengulurkan tangannya ke wajah Mitsuo.
"Air mata… senjata utama perempuan…"
"Hah?" Mitsuo mengerjap bingung.
"Ini." Ritsu tetap menghapus air mata Mitsuo. "Kau nangis."
Mitsuo melepaskan cengkramannya, lalu langsung berlari menjauh.
Ryouta dan Tetsuya membantu Ritsu berdiri dan mengecek apa ada yang terluka. Semuanya terdiam setelah itu.
"Seharusnya kau tau kalau dia tak mau dianggap lemah, Ritsu." Ryouta membuka suara. Ritsu menatap ayahnya dan mendengus.
"Tapi dia harus sadar dia anak perempuan, dan Ritsu kakaknya… harusnya dia percaya kalau Ritsu akan menjaganya…" keluh Ritsu pelan. Tetsuya menepuk bahunya lembut.
"Ritsu, kau ingat pohon didepan rumah yang tumbang tiba-tiba?"
"Eh? Pohon yang sudah tua itu?" tanya Ritsu. Tetsuya menggeleng.
"Itu bukan karena pohonnya sudah tua, tapi Micchan setiap malam terbangun dan berlatih menendang pohon itu sendirian."
Ucapan Tetsuya membuat Ritsu terbelalak tak percaya. "Kenapa dia lakukan itu? Kan ada Ritsu…?"
"Harusnya kau sadar, dia sudah dewasa dan tak mau merepotkanmu apalagi membuatmu terluka. Karena itu dia bertekad untuk jadi kuat agar bisa melindungi dirinya sendiri." Kata Kyou yang berdiri di sampingnya.
Ucapan Tetsuya dan Kyou membuatnya terdiam. Dalam hati, Ritsu membenarkan ucapan Kyou. Mitsuo sudah dewasa, dan Ritsu harus percaya padanya.
"Uukh…"
Suara lenguhan kesakitan dari Tetsuya membuat Ritsu terbangun dari lamunannya. Ryouta langsung menghampiri Tetsuya yang nampak sangat kesakitan itu.
"Kaa-san, kaa-san kenapa?" tanya Ritsu,
"Se-sepertinya… ukh… a-aku akan melahirkan… ukh…" gumam Tetsuya lirih. Kyou langsung menyuruh Ritsu menyusul Mitsuo dan mengajaknya ke rumah sakit sedangkan Ryouta mencari taksi untuk ke rumah sakit.
Ritsu berlari sekuat tenaga menuju rumahnya dengan mengcopy lari Aomine. Ia langsung mendobrak pintu rumah dan menjelaskan pada Mitsuo kalau Tetsuya akan melahirkan.
Ritsu dan Mitsuo langsung keluar rumah dan mengunci pintu. Saat itu, mereka melewati lubang bekas pohon itu tumbang. Sinar ungu menyinari lubang itu dan membuat Ritsu dan Mitsuo masuk ke dalam lubang itu.
~~oo00oo~~
"Kurokocchi~~ ayo kita pulang ssu~~"
"Kau tidak usah datang kesini setiap hari Kise-kun… kita jadi bahan pembicaraan teman setimku…"
"Tapi aku ingin bertemu Kurokocchi setiap hari, ssu…"
Kuroko dan Kise, 16 tahun, pemain basket, anggota Miracle Generation. Begitulah orang-orang mengenali mereka. Mereka menjalani hubungan khusus beberapa bulan lalu ini.
Yep. Mereka adalah sepasang kekasih yang mesra.
Mereka berjalan bergandengan tangan, namun mendadak seseorang memeluk Kise dari belakang. Rupanya seorang anak berambut biru lembut dan beriris amber yang memeluk Kise erat-erat.
"Huweee…! Akhirnya Ritsu bisa menemukanmu!"
"He-hei! Siapa kau?! Kenapa tiba-tiba memelukku?!"
"Uuh… jahaat… kita kan sudah sering mandi dan tidur bersama… masa kau tidak ingat siapa aku?"
Ucapan orang itu membuat Kuroko naik darah. Ia langsung pergi meninggalkan Kise dan anak itu. Kise ingin mengejarnya, sayangnya Kuroko menggunakan misdirectionnya untuk kabur.
Kise menatap anak itu kesal.
"Hei, kau itu siapa? Kenapa kau seenaknya memelukku?"
"Heeh… jangan bilang kau lupa padaku… itu tidak lucu… tou-san…"
Kise mengerjap beberapa kali. Tou-san? Apa-apaan anak ini?
"K-kau itu sebenarnya siapa?!"
Sementara itu, Kuroko berjalan dengan gusar. Ia tak percaya Kise main-main dibelakangnya.
Ia mendengar suara tangis anak kecil. Ia menoleh kekiri. Tak ada. Ke kanan, tak ada. Ke depan, ia menemukan sosok anak perempuan sedang menangis tersedu-sedu. Merasa kasihan, Kuroko mendekatinya.
"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Kuroko. Anak itu menatap Kuroko dan langsung memeluknya.
"Huweee! Kaa-chan!"
Kuroko mengerjap dan langsung mendorong anak itu.
"Tunggu, kaa-chan? Kau siapa?"
"Eeeh? Kok kaa-chan kaget begitu? Ah! Kaa-chan baik-baik saja? Gimana adik?"
"A-adik? Tunggu, kau siapa? Aku bukan kaa-chanmu."
Sementara itu, ditempat yang jauh namun bersamaan…
"Aree? Aku Ritsu/Mitsuo. Anak tou-san/kaa-chan."
Dan, setelah itu meski ditempat berbeda namun di waktu yang sama, terdengar suara…
"EEEEEEEH?!"
To be continued
Time Machine ga Nakutatte behind the scene!
-take 5
"Lalu, bagaimana kalau aku melakukan ini padamu?" tanya Ritsu sambil menyusupkan tangannya di baju Mitsuo.
"HUASYIIM!"
Sutradara: CUT! Lala! Jangan bersin!
Lala: *lepas wig* Sniiff… maaf… tadi aku pulang ujan-ujanan…
Sutradara: Boong! Tadi nggak ujan!
Lala: Berisik! Kamikorosu! *nyerang sutradara*
Sutradara: GYAAAAAAAAAAAAAA!
-mana nyasar fandom pulak… ._.-
Langsung bales repiyu~~
Alicia. Usagi
Maaf aja kalau gak suka… aku sukanya ini 'w' Ini udah apdet~~
Shaun-the-Rabbit
Wkwkwk. Iya, dong~~ Lala~~ *plok*
Ini udah apdet~~ maaf lama…
Calico Neko
AoKaga? Punya… Cuma belom muncul… maaf belom bisa masukin AkaFuri. Cuma mention doang. Nanti juga bakalan ada :) so, tunggu terus ya~~
Winter Aoi Sakura
Makasih~~
Ini udah apdet~ maaf lama or jelek…
Dee Kyou
Noh, apdetnya. Mangap lama… :v
NisapikoRii
Saya mau meluruskan… disini saya ma temen saya yang jadi OCnya. Jadi…
Saya: Mitsuo, perempuan, 10 tahun. Umur asli saya 12.
Dee: Ritsuka, laki-laki, 16 tahun, umur asli gk dikasih tau.
Kyou: Akashi Kyou, laki-laki, 14 tahun, umur asli juga gak tau.
Ini udah apdet~ maaf lama~
