~Because I Love You~
.
.
.
Diclaimer: Kamichama Karin; Kamichama Karin Chu ©Koge Donbo
.
.
Claimer : This Fanfic made by Kiyoko Hanazono 'ZaZaRu'-Chu (Tia)
.
.
_Chapter 1_
I Will Always Love You
.
.
Rating : T
Pairing : Hanazono Karin X Kujyou Kazune ; Yuuki X Myon
Genre : Romantic,Angst
.
.
Chara : Hanazono Karin, Kujyou Kazune, Kujyou Himeka, Jin Kuga, Kujyou Kazusa, Karasuma Rika, Michiru Nishikiori, Kujyou Kazuto, Kujyou Suzuka, Q-chan, Yuuki, Myon.
.
.
WARNING! : OOC ; Deskripsi gak jelas ; Jalan cerita gak nyambung ; GaJe ; Miss-typo ; de el el
.
.
~Because I Love You~
.
.
Kau Beri Aku Cintamu
Kau Tunjukan Pada Ku Apa Itu Cinta
Kau Beri Aku Harapan
.
.
Seorang gadis cantik yang mengenakan gaun penganti berwarna putih berjalan menuju seorang pria yang akan menikahinya. Ia tersenyum menatap pria itu. Acara pernikahanpun segera dimulai.
"Kau Jin Kuga menerima Hanazono Karin sebagai Istrimu? Menerimanya disaat sehat mau pun sakit, disaat senang mau pun sedih, menerima semua kekurangan dan kelebihannya" kata seorang Pendeta yang memimpin acara pernikahan tersebut.
"Iya, aku menerimanya dengan segala kelemahan dan kelebihan yang ia miliki." Jawab pengantin pria yang bernama Jin Kuga.
"Dan kau, Hanazono Karin menerima Jin Kuga sebagai Suamimu? Menerimanya disaat sehat mau pu sakit, disaat senang mau pun sedih, menerima semua kekurangan dan kelebihannya." Kata si Pendeta tersebut kepada calon mempelai wanita.
"Iya, aku menerimanya." Jawab wanita yang bernama Hanazono Karin itu.
Namun, saat pengantin pria yang bernama Jin ingin memakaikan sebuah cinci di jemari Karin tiba-tiba saja tubuh Jin perlahan menghilang dan berubah menjadi kelopak-kelopak bunga mawar yang beterbangan tepat disamping Karin karena tertiup angin. Suasana pun dalam sekejap mata berubah, bukannya didalam Gereja, tapi sekarang Karin berada ditempat yang sangat penuh dengan bunga mawar, seperti berada ditaman bunga.
"Jin, Jin! Dimana kau? Jin! Jin!" serunya yang terus memangil-manggil nama kekasihnya. Karin berjalan menelusuri tempat tersebut, kemudia dia melihat sosok pria berjas hitam melangkah tepat di arahnya. Ia mempercepat langkahnya, dengan rasa takut dia mendekati pria itu dan memegang pundak pria itu. "Jin, kaukah Jin?" tanyanya dengan penuh harapan. Pria itu menoleh dan menatap wajah Karin, ternyata pria itu bukanlah Jin.
"Kau bukan Jin! Dimana Jin?"
"Jin? Pria yang kau maksud telah mati! Dia telah mati! Dia telah mati! Orang yang bernama Jin Kuga telah lenyap dari bumi ini!" tegas pria itu dengan suara yang sangat kuat, kemudian pria itu tertawa dengan sangat keras.
"Tidak! Jin ku tidak mati! Tidak mungkin dia mati! Ada yang salah! Ini pasti salah! Hari ini kami akan menikah, dia tidak akan meninggalkanku! Dia berjanji akan hidup bersama denganku selama-lamanya!" mendengar hal itu, Karin sangat kaget. Kakinya lemas dan ia terjatuh sambil menutup kedua telinganya.
Tiba-tiba suasana taman itu menghilang dan berubah menjadi tempat yang sangat menyeramkan. Karin terus berteriak mencari Jin, namun saat ia mulai putus asa Jin tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Jin, kaukah itu? Kau masih hidup! Kau tidak mati. Aku melihatmu." Kata Karin dengan nada yang meyakinkan dirinya sendiri jika yang dia lihat adalah Jin dan jika Jin kekasihnya belum meninggal dunia.
Jin hanya tersenyum memandang Karin, "Selamat tinggal Karin." ucapnya, ia melambaikan tangan kanannya dan kemudian bayangnya kembali menghilang. Karin kembali berteriak dan tiba-tiba ia terjatuh dari sebuah jurang.
"Aaaaa! Ternyata, itu hanya mimpi." Teriak gadis yang bernama Hanazono Karin, kemudian ia menghela nafas lega. Ia mengambil segelas air yang ada diatas meja yang berada di samping kanan tempat tidurnya.
"Kenapa hal itu kembali teringat olehku? Jin..." gumamnya.
.
.
Tahukah Kau Bagaimana Caraku Menjalani Hidup?
Aku Telah Berusaha Untuk Melupakanmu,
Tapi, Kenapa Bayangmu Kembali Datang dan Menghantuiku?
.
.
Pagi pun menjelang, Karin bangun dari tidurnya dan segera pergi bekerja. Ia bekerja di sebuah toko buku sederhana milik ayah temannya.
"Aku membeli beberapa buku ini. Berapa harganya?" tanya seorang lelaki yang membeli beberapa buku di toko buku itu.
"Biar aku periksa dulu Tuan." Jawabnya, kemudian Karin memeriksa harga-harga buku itu. "Emm, total keseluruhannya 5.000 yen. Bisa di bayar dengan uang tunai ataupun kartu kredit." Sambungnya kembali.
"Baiklah, aku bayar pakai uang tunai saja." Jawab lelaki tersebut, kemudian memberikan uangnya kepada Karin. Saat Karin hendak menerima uang tersebut, ia baru menyadari jika lelaki yang ada dihadapannya adalah Michiru Nishikiori.
"Kau? Kau lagi? Bisakah untuk tidak mengikutiku?" ucap Karin dengan nada kesal.
"Hanazono, bukan begitu! Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Karena sejak kejadian itu aku merasa sangat bersalah. Aku minta maaf." Ucap Michiru yang berlutut meminta maaf.
"Kenapa harus meminta maaf kepadaku? Bukankah sudahku bilang, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kalian semua! Karena kalian, hidupku hancur! Karena kalian, aku kehilangan segalanya! Apa dengan minta maaf dapat mengembalikan keadaan seperti semula? Jika aku memaafkanmu, apakah dia akan kembali kesisiku?"
"Maaf, maaf, maafkan aku. Hanya ini yang dapat aku lakukan. Setiap hari aku dihantui dengan rasa bersalah dan rasa penyesalan! Aku sangat menderita, aku merasa tertekan dengan keadaan yang ada! Kehilangan sahabat baikku. Maafkan aku Hanazono."
"Lebih tertekan siapa? Setiap hari bayangnya semakin nyata dihidupku. Setiap malam aku selalu memimpikan hal itu! Kehilangan kekasih dihari pernikahan, lebih menderita siapa? Aku bingung! Aku bingung dengan semua yang terjadi! Tidak tahu harus berbuat apa, aku sudah hampir gila karena kejadian ini! Ingin rasanya aku berteriak! Aku bahkan tidak bisa untuk melupakan namanya! Wajah dan semua ingatan tentang dia tidak bisa aku lupakan! Apa kau tahu bagaimana caraku menjalani hidup? Apa kau mengerti perasaanku? Kau tidak mengerti apa-apa! Kau bilang kalian teman? Jika kalian bertiga teman kenapa hanya Jin yang meninggal? Kenapa hanya calon suamiku? Dan kenapa harus di hari pernikahan kami!" ucapnya dengan nada yang keras. Airmatapun jatuh dari kedua mata indahnya. Michiru hanya terdiam. Perlahan-lahan, pandangan mata Karin mengabur dan ia jatuh pingsan.
.
.
Aku Tidak Tahu Ingin Berbuat Apa
Bisakah Kau Kembali?
Bisakah Kita Memulai Semuanya Dari Awal?
.
.
"Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah sadarkan diri?" tanya seorang anak perempuan bernama Himeka.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya Hanazono mengalami tekanan yang cukup parah, jiwanya tertekan makanya ia jatuh pingsan. Keadaanya juga sangat memprihatinkan, aku kasihan pada hidupnya." Jawab Michiru.
"Tentu saja jiwanya tertekan! Walaupun kejadiaanya sudah 5 tahun, tapi jika aku ada diposisinya mungkin aku juga akan tertekan atau mungkin aku akan bunuh diri karena tidak tahan dengan tekanan yang ada. Karin termasuk wanita yang hebat. Kehilangan calon suami dihari pernikahan dan dengan cara yang sangat tragis. Bahkan jenazah Jin keadaannya sangat menyedihkan. Acara pernikahan berubah menjadi acara pemakaman yang sangat menyedihkan." Sambung Kazusa, yaitu kakak dari Himeka dan merupakan salah satu orang yang mengenal Karin.
"Sudah, berhenti membicarakan kehidupannya!" kata seorang laki-laki berambut pirang yang tiba-tiba saja masuk ke kamar tempat Karin berada yang bernama Kujyou Kazune yaitu kakak dari Kazusa dan Himeka.
"Emm, baik-baiklah Kazune. Aku mengerti." jawab Michiru. "Oh ya, bagaimana keadaannya? Apa yang dikatakan Dokter padamu Kazune?" sambung Michiru.
"Dokter bilang keadaannya tidak sebaik yang kita kira. Karin mengalami setres. Sepertinya dia juga kurang tidur dan gizinya tidak terpenuhi. Mungkin dia sering tidak makan." Jelas Kazune.
Sayup-sayup suara obrolan mereka terdengar ditelinga Karin. Matanya perlahan terbuka. Dan dengan pandangan yang masih sedikit kabur, ia sadarkan diri.
"Aku di mana?" tanyanya yang baru saja sadarkan diri. Kemudian ia memegang kepalanya. "Kepalaku sedikit pusing." Sambungnya kembali.
"Hanazono! Hanazono! Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" tanya Michiru dengan nada yang bahagia karena Karin telah sadar.
"Kau? Kalian semua? Dimana aku sekarang?" tanya Karin yang bingung.
"Kau ada dirumahku." Jawab Kazune singkat.
Karin terdiam, kemudian ia duduk dan segera berdiri dari tempat tidurnya.
"Aku harus pergi." Ucapnya dingin, kemudian ia bermaksud untuk pergi. Namun, Kazune menarik lengan kanannya.
"Tunggu, jangan pergi! Kenapa harus pergi? Saat ini keadaanmu sedang tidak baik!" pinta Kazune.
"Untuk apa aku menetap? Kenapa kalian semua muncul dihadapanku setelah 5 tahun lamanya kalian memutuskan hubungan padaku? Apakah belum cukup bagi kalian melihat aku menderita seperti ini?"
"Menetaplah. Demi aku Karin! Apa kau mengingatku? Kau masih ingat tentangku bukan?" ucap Himeka yang berusaha untuk menenangkan dan menahan Karin agar tetap berada di rumah mereka.
"Kami tahu apa yang kami lakukan padamu. Makanya sekarang kami datang untuk membantumu, kami merasa sangat bersalah." Sesal Michiru.
"Kalian tahu kalian bersalah? Lalu, kenapa baru sekarang kalian menyadari kesalahan yang telah kalian lakukan! Aku sudah seperti orang gila yang kehilangan arah! Sulit bagiku untuk mengendalikan diriku sendiri!"
"Demi Jin, sahabatku. Demi orang yang kau cintai. Menetaplah disini, bersama kami. Kami tahu kami salah, izinkan kami menebus kesalahan kami. Kecelakaan itu, bukan aku yang menginginkannya. Michiru kehilangan matanya, selama 2 tahun dia hidup dengan 1 mata. Hingga akhirnya dia bisa melihat seperti orang normal lainnya, walaupun matanya dengan jelas terlihat berbeda. Jin, dia meninggal saat perjalanan menuju Rumah Sakit. Dan aku, aku sempat mengalami depresi berat karena kecelakaan itu. Dengan mataku sendiri, aku melihat sahabatku meninggal. Aku melihat begitu banyaknya darah yang keluar dari kepala Jin. Aku merasa bersalah. Seandainya aku yang mengemudikan mobil itu, dan seandainya aku yang meninggal pada saat itu. Mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Di hadapanku, aku melihat wanita yang dicintai sahabatku menangis. Aku telah menghancurkan hidupnya. Aku sangat menyesal. Maaf, maafkan aku." Kata Kazune yang menyesali kejadian 5 tahun yang lalu. Kemudian ia berlutut dihadapan Karin.
Sementara itu, Karin hanya terdiam dan menatap wajah orang yang sedang memohon dihadapannya. Ia mengalihkan pandangannya menuju sisi yang lain. "Tolong, hentikan semua ini! Hentikan semua lelucon yang sangat konyol ini! Aku tidak mau mendengar semua ini lagi! Aku tidak mau hidup dalam perasaan yang sangat aneh seperti ini! Aku mohon hentikan semua ini!" bentaknya dengan nada tinggi sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Perlahan-lahan ia menangis, ia mengeluarkan air mata penyesalannya. "Berdirilah. Jangan minta maaf padaku. Apa gunanya minta maaf jika ada polisi dan hukum?" sambungnya kemudian ia pergi dari kamar tersebut.
Semua orang yang ada diruangan itu terdiam. Michiru berusaha mengejar Karin dan memintanya tinggal bersama Kazune dan yang lain untuk beberapa waktu hingga keadaan membaik. Tapi, saat Karin berada di depan pintu, tiba-tiba ia terjatuh dan pingsan tepat di pangkuan Michiru. "Hanazono.. Lagi-lagi kau melakukan hal yang bodoh." Ucap Michiru.
.
.
Aku Ingin Mengulang Semuanya!
Aku Ingin Menghentikan Semuanya!
Tapi Aku Terlalu Lemah Untuk Melakukan Semua itu,
Aku Hanya Bisa Menangisi Hidupku Yang Menyedihkan Ini
.
.
Pada malam harinya, Karin sadarkan diri. Kemudian, Himeka membujuk Karin agar Karin mau tinggal untuk beberapa saat dirumahnya. Dan ternyata, Karin mendengarkan nasehat dari sahabatnya tersebut.
Ia termenung di atas tempat tidur yang ada di kamar yang saat ini sedang ia tempati. Matanya cekung, badannya kurus, dan wajahnya benar-benar pucat seperti mayat. Ia duduk dan terus meneteskan air mata sambil memandangi foto kekasihnya yang kini telah tiada. Seperti orang yang prustasi. Ya, itulah keadaannya saat ini. Kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar yang sedang ia tempati tersebut.
"Apa aku boleh masuk?" tanya orang yang mengetuk pintu tersebut. Yang adalah Kazusa, yaitu adik kandung Kazune Kujyou dan salah satu sahabat Karin.
"M..A..Maasukklah.." jawabnya terbata-bata. Kemudian ia menghapus air matanya dan menyimpan foto kekasihnya itu dibawah bantal.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik? Ini aku bawakan makanan untukmu. Makanlah yang banyak!" ucap Kazusa ramah dan membawakan semangkuk bubur ayam yang lezat lengkap dengan sayuran dan juga segelas air putih untuk Karin.
"Tteerimaakasih." Jawabnya yang juga masih terbata-bata.
"Ayo cepat di makan. Semua ini khusus aku buatkan untukmu. Kau harus menghabiskannya! Mengerti? Atau kau mau aku menyuapkannya untukmu?" tawar Kazusa dengan senyuman khasnya.
"Tidak perlu. Terimakasih karena kau telah membuatkan semua ini. Maaf jika aku merepotkanmu."
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantu. Sepertinya kau habis menangis ya? Kenapa? Apa yang membuatmu menangis? Ceritakan padaku!"
Karin hanya terdiam. Air matanya kembali mengalir membasahi kedua pipinya. Kali ini, tangisannya tidak bisa di hentikan. "Apa yang harus aku lakukan? Apa? Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak mengerti kenapa ini semua terjadi pada hidupku! Katakan apa kesalahanku!" ucapnya. Ia terus menangis dan menjerit.
Kazusa memeluknya dengan sangat erat. "Aku tahu apa yang terjadi pada hidupmu. Kau telah menjalani hidup yang sangat berat. Selama 5 tahun kau tidak bicara pada oranglain. Selama 5 tahun belakangan ini kau telah banyak menderita. Aku tahu apa yang terjadi padamu. Menangislah jika kau ingin menangis. Keluarkan semuanya jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku akan mendengarkannya." Ucap Kazusa sembari menepuk-nepuk punggung Karin.
Setelah selesai memakan bubur buatan Kazusa, Karin segera memakan obat yang diberikan oleh Dokter padanya. Ya, setelah kurang lebih 5 tahun, lebih tepatnya setelah Jin meninggal dunia Karin tidak pernah mau mendengarkan nasehat dari orang lain. Jika ia sakit, ia tidak pernah mau memakan obat yang telah diberikan Dokter untuknya. Ia juga tidak mau bicara pada orang lain. Setelah Michiru kembali menemukannya, barulah kali ini ia mau kembali bicara, makan, mendengarkan nasehat orang lain dan memakan obat yang diberikan Dokter. Walaupun belum sepenuhnya Karin kembali seperti dulu, tapi ini semua sudah lebih dari cukup dan orang-orang disekitarnya sudah beranggapan jika ini adalah kemajuan yang sangat luar biasa pada Karin.
Kemudian, Kazusa keluar dari kamarnya Karin sambil membawa sisa makanan dan obat-obatan yang baru saja telah di makan oleh Karin. Tak sengaja, saat di tangga menuju ke dapur Kazusa bertemu dengan Kazune yang ternyata ingin menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Kakak.." tegur Kazusa.
"Kazusa? Dari mana kau? Kenapa kau membawa makanan dan obat-obat milik Karin?" tanya Kazune heran.
"Aku baru saja dari kamarnya Karin. Dan sekarang aku ingin meletakkan mangkuk-mangkuk kotor ini di dapur agar bisa langsung di cuci oleh Q-chan." Jelas Kazusa.
"Oh begitu. Oh ya, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Kazune khawatir.
"Keadaannya sedang tidak baik. Bahkan sangatlah buruk. Tadi, saat aku menyuruhnya untuk makan ia menangis dan berteriak dihadapanku seperti orang yang hilang kendali. Sepertinya ia sangat tertekan dengan semua keadaan yang ada."
Kazune terdiam sesaat. "Jadi begitu, baiklah. Terimakasih Kazusa. Setelah kau meletakkan semua mangkuk-mangkuk kotor itu, segera pergi ke kamarmu dan tidurlah. Mengerti?"
"Baik kak." Jawab Kazusa.
Kemudian, Kazune langsung menuju lantai atas. Ia duduk di atas kursi dan memandang ke arah luar jendela kamarnya. Ia mengerutkan dahinya dan merenung sesaat. Lalu, Kazune keluar dari kamarnya dan menuju kamar Karin.
Ia melihat Karin yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur. "Maaf.. Maafkan aku. Aku minta maaf. Karena aku, hidupmu jadi seperti ini. Kau menjadi menderita. Maaf." Ucap Kazune penuh penyesalan.
Sementara itu, setelah Kazusa selesai meletakkan mangkuk-mangkuk kotor di dapur, ia segera pergi menuju kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Kemudian, ia segera merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur dan ia mengeluarkan sebuah foto dari laci meja di samping tempat tidurnya.
"Kau, kau keterlaluan! Mengapa kau biarkan ini terjadi? Ini sulit untuk di percaya! Kau biarkan aku merawat kekasihmu! Kau tahu jika aku mencintaimu! Kau bilang kau akan mengakhiri hubunganmu dengannya, tapi mengapa kau mengadakan acara pernikahan dengannya? Aku bersyukur pada Tuhan, jika hari itu tidak terjadi kecelakaan maka mungkin aku yang akan mati karena melihat kalian bersama! Kalian sungguh memuakkan!"
.
.
Maaf.. Hanya Kata Maaf
Yang Saat Ini Ku Dengar
Apa Dengan Mengatakan Maaf Bisa Mengubah Semuanya?
Maka, Apa Gunanya Minta Maaf
Jika Ada Hukum Dan Polisi?
.
.
To Be Continued
.
.
Review please?
