Sebuah buket mawar merah ada di depan Chanyeol, tapi entah kenapa dia tidak tertarik untuk mencium aromanya. Setelah perilisan album ketiganya yang sukses ke sana ke mari, Kyungsoo menjadi lebih sering mengirmkan bunga dengan wangi yang menguar alami memenuhi apartemen Chanyeol.
Tapi, daripada bunga, sebenarnya Chanyeol lebih mengharapkan sebuah kehadiran. Itulah mengapa ia selalu terlihat murung setiap buket bunga sampai di depan pintunya.
"Selamat atas albummu!" Chanyeol bergumam parau tapi tak bisa untuk tidak meninggalkan sebuah kekehan singkat. Dia bahkan membayangkan bagaimana wajah Kyungsoo saat menulis ini.
Ah, rindu benar-benar berat, huh?
Karena urusan dunia entertain yang mengharuskan Chanyeol sembunyi-sembunyi soal hubungan asmaranya, Kyungsoo terpaksa menjadi seorang pengagum tak terlihat tapi masih ada eksistensinya (yang ini bagi Chanyeol sendiri). Dia bahkan dengan sukarela mulai mengurangi kehadirannya sendiri, berusaha mengerti, dan beberapa hal yang ia mengerti untuk bisa menjaga Chanyeol.
Serindu-rindunya Chanyeol pada Kyungsoo, dia tidak bisa langsung datang ke flatnya hanya untuk memeluk kekasihnya itu. Para wartawan belakangan ini berubah menjadi buas, mereka melihat dengan teliti mangsa empuk yang bisa segera dikoyak.
Beberapa menit kemudian setelah melamun, Chanyeol mendengar dering ponselnya di dalam kamar. Dengan langkahnya yang terpaksa, dia berjalan ke sana lalu melihat siapa yang menelponnya di tengah malam ini.
"Kyungsoo?"
"Chanyeol! Ah, akhirnya diangkat!" Di seberang sana Kyungsoo menghela napas, sampai meremangkan bulu halus di tengkuk Chanyeol.
"Kenapa?" Chanyeol menetralkan suaranya di kantuknya yang tiba-tiba hilang. Telinganya dia pasang sempurna agar dia bisa benar-benar mendengarkan Kyungsoo.
"Aku di... depan... pintumu," gumam Kyungsoo. Suaranya terdengar parau dan Chanyeol sudah tenggelam dalam terkejutnya yang sedikit demi sedikit tergantikan oleh rasa antusias.
"Sebentar," katanya sambil berjalan ke pintu. Dipasangnya wajahnya yang paling tampan di antara senyum lebarnya yang sampai telinga, Kyungsoo menyambutnya dengan senyum hangat dan mata besarnya.
"Hai." Kyungsoo masuk lebih dalam saat Chanyeol menutup pintu. Sandal rumah yang sedikit berdebu akhirnya kembali dia pakai setelah sekian lamanya tak berkunjung.
Hal pertama yang Kyungsoo lakukan adalah membuka kulkas yang setelahnya dia sesali karena decakan keras terdengar nyaring.
"Kulkasmu kosong." Laki-laki itu kemudian memakai apron, mengambil telur dan kentang dari dalam paper bag yang ia bawa.
"Kupikir aku sudah memeringatimu tentang makanan yang ada di luar."
Chanyeol diam, tapi lama-lama senyumnya mengembang.
"Ya, aku tadi sudah makan mawarmu," tanggapnya.
"Chanyeol," Merengek, Kyungsoo tidak bisa akting seperti anak kecil tapi setidaknya dia bisa protes.
"Iya?"
"Haruskah kita bahas ini di tengah malam?"
"Haruskah kau memasak di saat seperti ini?"
Kyungsoo mematikan kompor. Telur yang sudah jadi dibiarkan di atas teflon. Menghela napas sebentar, dia membalikkan badannya sebelum sebuah pelukan erat menyambutnya.
"Pakai kata romantis, tidak?" tanya Chanyeol. Wajahnya tenggelam di tengkuk Kyungsoo, mencium wanginya dalam-dalam.
"Haruskah?"
Lalu mereka berdua tertawa.
"Aku merindukanmu." Chanyeol masih sama eratnya, tangannya naik ke atas untuk mengusak rambut Kyungsoo yang sudah mulai memanjang.
"Perlu kubalas?" Kyungsoo terkekeh. "Aku juga merindukanku," balasnya kemudian yang ditanggapi dengusan oleh Chanyeol.
"Ya, ya, Kyungsoo."
Malam ini, mungkin ini akan menjadi malam nyenyak yang sudah lama tak mendatanginya. Sebuah kehadiran memang berdampak sebegini besarnya pada Chanyeol walaupun dia tidak terlalu bisa mengekspresikan rasanya.
end.
Sekian lama enggak menulis rasanya kaku, aku masih belum bisa menumpahkan feelingku sendiri dan rasanya hambar sekali...
dua-duanya belum di edit.
