"ayo, kak.. kita harus cepat!" Naruto menarik pergelangan tangan Itachi untuk mengajak pria itu masuk ke dalam kerumunan pengantri tiket taman wahana permainan. Hari libur telah tiba, jadi wajar saja kalau pengunjung taman wahana permainan di kota Konoha ramai pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak beserta para keluarganya. Itachi menuruti saja Naruto yang hendak mengajaknya berdesak-desakan.
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua pun berhasil membeli tiket masuk. Dengan perjuangan Naruto yang rela dorong-dorongan antar sesama pengunjung. Itachi saja sedikit merasa kesal, ketika mendapati para gadis-gadis remaja yang mencuri kesempatan dalam kesempitan padanya. Gadis-gadis remaja itu bahkan nekat pura-pura jatuh sehingga mau tak mau Itachi yang berdiri tepat di depan mereka harus membantu gadis puber itu untuk berdiri, atau malah menahannya agar tidak jatuh ke lantai.
Belum lagi mendengar para ibu-ibu yang menggodanya, dan mencolek nakal wajah tampannya. Dengan sengaja Itachi pun memeluk Naruto dari belakang, seolah menunjukan kalau ia sudah mempunyai Naruto sebagai pasangan hidupnya. Naruto yang mendapati pelukan tiba-tiba pada lehernya pun Cuma bisa maklum saja, dan menganggap jika itu hanya kejahilan kakak iparnya.
"lihat, kita sudah dapat" Naruto berkata senang—sambil mengusap keringat sebesar biji jagung pada keningnya. "Uchiha berdesak-desakan? Tidak elit sekali" sahut Itachi. Naruto memiringkan wajahnya, menatap Itachi dengan wajah polosnya. Itachi yang melihat itu pun memalingkan wajahnya, menahan sesuatu yang hendak keluar dari hidungnya.
"ayo, kita masuk!" Itachi langsung menarik pergelangan Naruto, dan mengajaknya untuk berlari menuju pintu masuk taman wahana permainan. Mereka berdiri antri menunggu giliran seorang petugas memberikan cap di tangan mereka. Naruto memandang takjub wahana permaian itu, ini adalah pertama kali baginya untuk pergi ke sebuah taman rekreasi seperti ini.
Maklum saja, meskipun anak orang kaya. Minato bahkan tidak pernah mengajak Naruto bepergian untuk rekreasi seperti Itachi. jadi, maklumi saja kalau Naruto sedikit agak katro ketika berada di tempat ini. "huwwaaaahhhh, banyak sekali" Puji Naruto, wajahnya terlihat imut dan membuat pengunjung pria gemas melihatnya. Ah, andai Itachi tidak berdiri di sampingnya, sudah pasti mereka akan meminta no. Ponsel milik Naruto.
"Istana boneka" iris sapphire Naruto terpaku melihat sebuah istana seperti di negeri dongeng dengan unsur tema 'Boneka' di dalamnya. "kita ke sana!" Naruto memutuskan memaksa Itachi untuk mencoba berkunjung ke sana. "Hey" Itachi memekik pelan, ketika Naruto berlari seraya menarik paksa pergelangan tangannya. Dirinya hanya bisa pasrah, menolak pun ia sendiri tidak tega melakukannya.
.
.
.
Cinta Yang Lain
Rating : T
Genre : Romance/Angst
Pairing: SasuNaru, (slight) SasuNaruko, Itanaru
WARNING: ALUR CEPAT, OOC, GAJE,SHO-AI, Typo(s)
Masashi Kishimoto©
.
.
.
.
Setelah 6 jam bermain, Itachi dan Naruto pun memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang masih berada di lingkungan taman rekreasi itu. Sambil menunggu pesanan, pemuda bersurai blonde itu menyempatkan dirinya membuka isi file kamera digital milik Itachi. melihat koleksi-koleksi foto mereka yang diambil ketika menikmati arena permainan.
Jam menunjukan pukul 7 malam, Naruto sepertinya enggan untuk pulang. Bahkan, ia sempat memikirkan arena permainan apa yang harus ia mainkan lagi. "harus di upload!" seru Naruto, Itachi tersenyum simpul melihat ulah Naruto yang manja itu. Naruto memang sangat manja padanya dibandingkan dengan Sasuke, yang notabene adalah suami Naruto.
"kita harus bermain lagi" kata Naruto, melihat ke arah ferris Wheel yang tampak menyala-nyala akibat efek lampu di malam hari. Matanya memandang binar ke arah arena kincir ria favourite ABG-ABG jaman sekarang bersama kekasih mereka. "aku mau naik itu!" seru Naruto, seperti seorang anak kecil yang merajuk pada ayahnya.
Itachi melihat ke arah ferris wheel yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini. "tapi kita harus makan dulu, setelah itu naik dan habis itu kita pulang" sahut Itachi.
Raut gembira Naruto pun tergantikan oleh raut wajah sedihnya. Pulang? Ia harus pulang kemana? Ke rumah orang tuanya kah? Ayah dan ibunya sedang bertengkar karena dirinya. Pulang ke rumah suaminya? Itu bukan ide yang bagus. Itachi mengerti keadaan Naruto, dengan penuh kasih sayang ia pun memeluk pundak Naruto. "aku bisa membelikan apartemen untuk kau tinggali jika kau mau" hibur Itachi.
"tidak usah, kak. Aku pulang ke rumah kami saja" Naruto menolak halus. "oh, baiklah"
"permisi" pesanan pun tiba. Keduanya menghentikan pembicaraan mereka dan segera menikmati santap malam mereka. Bermain seharian memang membuat mereka merasa sangat lapar.
.
.
.
.
Setelah pamit dengan Itachi, Naruto pun dengan langkah ragunya berjalan memasuki pekarangan rumah mereka. Rasa takut hinggap di hatinya, jika saja Sasuke mengetahui kepulangannya yang sudah di atas pukul 12 malam. Bisa saja Naruto pulang ke rumah ayahnya, karena ibunya meminta dirinya untuk menginap satu bulan disana. Namun, sejak kejadian 5 hari yang lalu, ibu dan ayahnya tidak saling tegur sapa lagi.
Jadi, alhasil Naruto pun memutuskan untuk pulang ke rumah suaminya saja kalau begitu. Naruto menekan bel, dan berharap semoga saja Naruko lah yang membukakan pintu untuknya. Hujan tiba-tiba turun deras disertai angin kencang. Naruto yang sudah menggunakan jaket saja masih merasa kedinginan, tetapi Sasuke maupun Naruko belum juga membukakan pintu untuknya.
Tak terasa satu jam lamanya ia menunggu. Kantuk pun datang, Naruto ketiduran di luar ditengah-tengah hujan lebat. Tubuh kurusnya menggigil merasakan dinginnya cuaca. Sebenarnya ada seseorang yang mendengar bunyi bel berbunyi, bahkan ia sempat mengintip ke luar jendela. Begitu tahu bahwa Naruto lah yang bertamu, orang itu pun mengurungkan niatnya untuk membukakan pintu masuk bagi pemuda manis itu.
.
.
.
.
Naru's Room
Naruto baru saja bangun dari tidurnya. Sedikit bertanya-tanya, mengapa ia bisa ada dikamarnya ketika malam harinya ia tertidur di teras rumah dalam keadaan basah kuyup. Lalu, siapa yang sudah berbaik hati menggendongnya dan membaringkan tubuhnya di kamar? Mungkinkah, Sasuke? Karena tidak mungkin Naruko yang menggendongnya.
Kepalanya berdenyut sakit, ia baru saja ingat kalau luka di kepalanya belum terlalu kering untuk berlama-lama di dalam air. Tubuhnya pun sedikit membiru dibagian kaki, tangan, dan paha, mungkin karena terlalu lama bermain di taman.
Cklek..
Sosok pria bersurai raven melawan gravitasi menyembul dari arah pintu dengan sebuah nampan berisi sarapan dan obat-obatan. Pria tinggi itu berjalan mendekati Naruto yang masih berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya. "t..t..terimakasih" ucap Naruto, terbata-bata. Ia berusaha mengubah posisinya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur ukuran queen size itu.
Sasuke meletakan nampan itu tepat dipangkuan Naruto tanpa berkata sepatah kata pun. Naruto menggigit pelan bibir bawahnya hingga darah merembes dari bibirnya akibat terlalu kuat menggigit. Sasuke sontak saja terkejut dan mengambil sapu tangan di sakunya untuk membersihkan darah di bibir Naruto. Namun, tangan putih itu di tepis oleh tangan tan milik istri tertuanya itu.
"jika pada akhirnya aku hanya membuat mu muak, kau tak perlu khawatir pada ku" ujar Naruto, suaranya terdengar dingin tanpa tersirat emosi. "terimakasih sarapannya" lanjut Naruto. Sasuke masih diam, ia tidak percaya mendapati penolakan dari istrinya. Sebelum menyentuh sarapannya, Naruto meraih ponsel pemberian Itachi 3 hari yang lalu setelah sang blonde menceritakan mengenai ponselnya yang hilang pasca kecelakaan itu.
"apa kakak ada waktu?" Naruto mulai berbicara setelah selang 2 menit ia menekan nomor Itachi.
'...'
"bisakah kakak menemani ku ke rumah sakit? Kemarin aku mandi terlalu lama, aku takut luka ku bermasalah"
'...'
"hehehe, baiklah.. pukul 1 siang nanti"
Pip..
"kau bisa pergi sekarang" ujar Naruto, tanpa melemparkan padangannya ke arah Sasuke. Ia tahu, kalau Sasuke masih berada di kamarnya. Sasuke tidak beranjak, ia masih berdiri di samping tempat tidur Naruto. Timbul rasa bersalah di wajah Naruto yang telah berkata kurang sopan pada suaminya. "kenapa kau tidak memakannya?" Akhirnya, Sasuke membuka suaranya.
Naruto menoleh ke arah Sasuke. Menatap penuh selidik pada sang suami. "aku tidak lapar" jawab Naruto. Suasana pun kembali hening, "makanlah! Naruko tidak mau kau sakit" titah Sasuke, membawa nama Naruko supaya Naruto mau memakan sarapannya. "jangan marah, tapi aku sedang ingin sendiri dulu, kau bisa keluarkan?" Naruto mengusir Sasuke dengan nada halus. Tanpa menyahut, Sasuke pun akhirnya pergi meninggalkan Naruto seorang diri di kamarnya.
.
.
.
.
Kediaman Namikaze
"kau masih ingin terus mendiami ku?"
Ruang keluarga itu seketika terasa kaku kala seorang pria berusia 45 tahunan membuka suaranya. Sedangkan yang diajak bicara hanya diam, tidak menyahut. "jika yang ku lakukan salah, lalu yang mana yang benar?" lagi, pria pirang itu berbicara. "kau selalu benar, Minato" Sara beranjak dari duduknya, dan berlalu meninggalkan sang suami.
Sara melangkahkan kakinya menuju altar tempat dirinya dan Minato berdoa. Di sana terdapat sebuah foto milik Kushina (sahabatnya saat di panti asuhan dulu) yang sudah meninggal 25 tahun lamanya. Foto itu masih dipajang, mengingat Minato yang begitu mencintai sosok figure Kushina sebagai cinta pertamanya itu. "kau tahu, Kushina? Saat kecil kita selalu bersama dan selalu berjanji untuk menepati, bukan?" ujar Sara—menatap foto Kushina dengan tatapan sendu.
"sehari sebelum kematian mu, kau meminta ku untuk menandatangani surat pernikahan ku dengan suami mu, kan? aku menyayangi mu, sangat. Begitupun dengan putra-putri mu. Kushina, melihat Naruto yang terus menerus tersakiti seperti ini, sedangkan aku tidak bisa berbuat sesuatu untuknya. Entah kenapa terasa sakit disini, Kushina" Sara bersimpuh sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"mungkin menghadapi kekerasan hati Minato aku bisa, tapi begitu menghadapi wajah sedih Naruto, aku tidak bisa.. katakan—" wanita itu menjeda kalimatnya,
"katakan, apa yang harus ku lakukan?" Tanya Sara, melanjutkan perkataannya.
.
.
.
.
Sejak pulang dari rumah sakit, Itachi tidak sama sekali mengajak Naruto untuk mengobrol. Ia memang sengaja diam, karena masih merasa khawatir pada kondisi sang adik ipar. Namun, ternyata Naruto malah menduga kalau Itachi marah padanya. "kak Itachi marah, ya?" Tanya Naruto, takut jika nantinya Itachi marah padanya.
Diam..
Itachi tetap focus menyetir mobil. Naruto tidak suka diabaikan, ia pun memasang wajah sedih dan menghadapkan wajahnya ke arah jendela. Melihat hal itu, Itachi pun akhirnya luluh juga. Ia tidak mungkin membiarkan Naruto menangis karena dirinya. "Naru—"
"kaka marah kan pada ku?" Tanya Naruto, wajahnya memerah dengan air mata masih membasahi kedua pipi chubby miliknya. Itachi menghela nafas pelan, "marah sih tidak" Itachi menghentikan ucapannya, membuat Naruto memandang penasaran padanya. "aku hanya khawatir pada kesehatan mu, itu saja" lanjutnya.
"dokter Kabuto bahkan bilang, luka mu terbuka lagi" Itachi melirik kening Naruto yang baru saja dijahit ulang oleh seorang dokter yang merawat Naruto ketika di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Naruto menghapus kasar airmatanya seperti seorang anak kecil, kemudian ia tertawa. "apa yang lucu?" Tanya Itachi, kalau saja lampu merah menghentikan mereka, sudah dipastikan Itachi akan menjitak kepala Naruto.
"kakak sih mengajak ku ke taman bermain, aku jadi sakit kan" Naruto menyalahkan Itachi. "apa kata mu? Kau yang mandi selama 3 jam lamanya, aku yang kau tuduh sebagai penyebab jahitan mu lepas? Dasar bocah ramen" sahut Itachi, benar-benar keluar dari sikap aslinya. Naruto malah tertawa, seolah ucapan Itachi itu lucu.
'berhentilah tertawa, Naru-chan! Kau bahkan berpura-pura melakukannya hanya untuk menutupi perasaan mu' Itachi membatin miris mengenai pemuda manis itu.
.
.
.
.
Sara terkejut ketika mendapatkan pesan singkat dari Naruko mengenai keadaan Naruto. Istri Sasuke Uchiha itu sangat khawatir, Naruto jatuh sakit. Dan sempat berobat lagi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan lukanya yang terbuka sedikit. Seharian ia berada di kamar Naruto, sepertinya ia tidak niat untuk pulang. Memang sesampainya di rumah, Naruto dikejutkan oleh sambutan sang ibu yang tampak khawatir padanya.
"sudah bu, Naru tidak apa-apa" Naruto menolak ketika Sara hendak melihat bekas jahitan baru di kening Naruto. "ibu kan sudah bilang, jangan mandi terlalu lama" kata Sara, guratan kesal tampak di wajah cantiknya. "hehehe" sang anak malah tertawa tidak jelas, dan menyebabkan kekesalan di hati Sara lenyap kala melihat wajah polos Naruto.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Sara sangat marah pada Sasuke. Penderitaan yang dibawa olehnya, begitu banyak mengubah pola hidup Naruto. Pemuda manis itu rela mengalah hanya untuk kebahagian adik kembarnya, lalu kenapa laki-laki tampan itu sulit sekali untuk berbagi kasih padanya. "ibu akan di sini! Dan kau jangan coba mengusir ku, bocah!" sergah Sara, mau diusir berapa kali juga dia tidak akan mau meninggalkan putra kesayangannya itu dalam kesedihan.
Naruto menggembungkan pipi tembamnya. "ibu berlebihan" oceh Naruto, ia sedikit jengah melihat rasa posesif di hati sang ibu. "kau putra ku, ingat?" Sara menyahut. Naruto tertawa kecil. Sepertinya ia akan tidur di kamar Naruto dan menemani pemuda manis itu mengarungi mimpinya. "kau tetap bocah kecil kesayangan ku, Naru-chan" Sara memeluk erat tubuh Naruto yang lebih kecil dari tubuhnya. Seharusnya Minato lebih memperhatikan Naruto untuk urusan pertumbuhannya, lihat saja (jika kau bisa) bahkan tubuh Naruto tumbuh lebih kecil dibandingkan pemuda-pemuda seusianya.
"kau harus makan, aku membawakan makanan untuk mu" Sara melepas pelukannya dan menyambar sebuah bungkusan yang ia bawa dari rumah. "ramen?" Tanya Naruto. Sara mengangguk, "HOREEEE, IBU KU MEMANG BAIK!" seru Naruto, ia sangat bahagia. Kapan lagi ibunya membiarkan dirinya memakan ramen? Makanan berlemak berkuah kental itu adalah makanan favourite-nya sejak kecil. "makanlah, sebelum aku berubah pikiran" canda Sara. Mana mungkin ia bersungguh-sungguh? Kebahagiannya adalah melihat wajah sedih Naruto kembali ceria, karena dia adalah seorang ibu.
"kak Itachi juga sering melarang ku. Memangnya kenapa sih? Ramen itu kan enak" protes Naruto. "kau bisa gendut, Naru-chan" sahut Sara.
"ekhem.."
Keduanya menoleh ke arah Naruko yang sedang berdiri tepat di depan pintu bersama Sasuke. Tadi itu Naruko yang berdehem, sedikit mengintrupsi adegan ibu-anak di depan matanya. Ada rasa iri di hatinya, kenapa Sara lebih menyayangi Naruto dibandingkan dirinya? Bahkan, dulu para kerabat Namikaze pun lebih menyukai Naruto dibandingkan dirinya. Apa karena ia penyakitan? Entahlah, Naruko tidak tahu apa kekurangannya.
"makan malam sudah siap" ujar Naruko. Jangan berpikir ia yang memasak, karena akhirnya Sasuke pun menyewa seorang pembantu rumah tangga akibat desakan ayah mertuanya, entah apa maksud Minato. Sara menghentikan tawanya, begitupun dengan Naruto. Makan malam? Bersama? Bahkan, dulu Naruto selalu makan di dapur demi membuat kenyamanan bagi Sasuke dan Naruko. Naruto memandang sang ibu. Sara mengerti arti tatapan Naruto, "aku bisa makan di sini bersama PUTRA ku yang manis ini" sahut Sara, tanpa ada basa-basi dan sengaja menekankan kata 'PUTRA'.
"a..aku kan juga anak ibu" Naruko sedikit terbata-bata, karena ia merasa ibunya enggan mengakui dirinya adalah putrinya. "tentu saja kau anak ku juga, Naruko" kata Sara. "aku kan tidak berkata kau bukan anak ku. Kau wanita, kan? kau adalah putri ku, dan Naruto adalah putra ku" lanjut Sara. "ibu, kau kan tadi bilang kau belum makan. Aku tidak mau berbagi makan malam dengan mu, kau makan yang lain saja" Naruto mencoba mencairkan suasana.
Kemudian Sara melirik ke arah Sasuke. "apa tidak apa-apa kalau kita mengganggu pasangan muda seperti kalian?" Tanya Sara(menyindir)menggoda pasangan itu. Naruko merona malu, sedangkan Sasuke hanya menatap datar ke arah Sara dan Naruto secara bergantian. "s..sudah sana, bu! Ibu kan kalau makan banyak. kalau memakan ramen ku pasti tidak cukup" Bujuk Naruto.
"kau bujuk aku dengan uang satu milyar pun aku tidak mau, manis" kata Sara, mencubit gemas pipi Naruto. "makanlah duluan, kalau aku lapar aku bisa memasak mie instant" sahut Sara, tanpa ada senyum ramah di wajah cantiknya.
.
.
.
Seminggu kemudian..
Naruto memandang heran koper-koper besar berserakan di kamar milik Naruko dan Sasuke. Ia yang hendak meminjamkan koper miliknya pun memandang penuh heran koper-koper besar itu. "wahhh, Naru-chan" sapa Naruko. Naruto menoleh ke arah Naruko yang kini sudah mengenakan jaket bulu dan syal berwarna biru, Nampak cantik di tubuhnya. "kau hendak kemana, Naruko-chan?" Tanya Naruto, ia berani menebak, pasti Sasuke mengajak Naruko liburan lagi (1 tahun yang lalu Sasuke mengajak Naruko pergi ke London selama 3 bulan). Samar-samar Naruto mendengar suara orang yang sedang mandi di kamar mandi. Ah, mungkin saja itu Sasuke yang sedang bersiap-siap.
"aku? heheheh, aku hendak mengikuti terapi di Kanada" jawab Naruko, dengan nada riang. "hehehe, ingin memberikan Sasuke-kun bayi" bisik Naruko.
Degg..
Jantung Naruto berdenyut sakit, sesak rasanya. Ia mencoba menahan air mata yang hendak menetes di kedua pipinya, dan itu berhasil. "semoga berhasil, ya!" ucap Naruto, tidak apa-apa mengalah sedikit lagi mungkin ada baiknya, begitulah pikir Naruto. "berapa minggu?" Tanya Naruto. "minggu? Naru-chan, aku akan menetap di sana sampai terapinya berhasil" jawab Naruko, tawa bahagia tampak jelas di wajahnya.
"titip Sasuke-kun, ya! Awas, dia nakal" canda Naruko.
.
.
.
.
Di lain tempat..
"aku sudah melupakan Naruko" ujar seorang pria tampan bersurai maroon pada seorang wanita cantik bersurai merah jambu yang sedang asyik menyesap rokok. Sakura (wanita bersurai merah jambut itu) meniupkan asap rokok ke wajah Sasori dengan sensual. "oh, iya? Yasudah.. aku tidak akan memaksa" sahut Sakura. Bibir berlipstick merah itu tampak mengeluarkan asap-asap rokok yang baru saja ia sesap.
"aku menyerah, terimakasih atas kerja samanya, Sakura" ucap Sasori—melemparkan selembar kertas informasi di atas meja. Sakura menyeringai, namun tak dihiraukan oleh Sasori. "setelah ini, jalani rencana mu sendiri. Aku tidak ikut campur lagi, kau dan aku pun juga tidak lagi bekerja sama" sahut Sasori. "Kanada? Heh, mandul" Sakura tersenyum mengejek.
"berhati-hatilah, Sakura!" pria berwajah tampan itu memperingati Sakura. "kau tenang saja" Sakura menyahut. Senyum kemenangan tak luput di wajah cantiknya. Kalau saja Sasori boleh berkomentar, wajah ambisius dengan seringai licik di wajah Sakura itu sungguh menyeramkan dibandingkan hantu penunggu toilet sekalipun.
.
.
.
.
3 jam kemudian..
From : Naruko-chan
On 2 hours ago
Naru-chan.. note book ku ketinggalan, tolong antarkan ke bandara ya. Jam 5 nanti aku sudah bernagkat, mau kan? please, tolong.. aku membutuhkannya, kau mau bantu saudari mu inikan, manis? Sasuke-kun tidak bisa pulang, ia ada urusan di kantor cabang. Bantu aku, ya..
Tepukan pelan ia berikan tepat di dahi berwarna tan miliknya. Bodoh, kenapa ia bisa sebodoh ini. Naruko membutuhkannya 2 jam yang lalu. Naruto melirik jam, pukul setengah enam sore, pasti ia sudah terlambat. Naruko sudah berangkat, dan ia sangat menyesali keteledorannya itu. "bodoh..bodoh..bodoh, Naruto bodoh" Naruto mengejek dirinya sendiri sambil menjambak kasar surai keemasan miliknya.
Kringg..kringgg...
Naruto segera berlari menuruni anak tangga, ia melihat pembantu rumah tangganya, Kiku-san juga sedang berlari-lari hendak mengangkat telpon. "ahh, maaf.. nyonya Naruto" ucap Kiku, ia lupa apa gender Naruto karena rupa milik pemuda mungil itu. Naruto tersenyum, jantungnya berdegup kencang, semoga itu bukan Sasuke, semoga saja itu Naruko yang memarahinya karena lupa membawakan note book milik saudarinya itu.
Tangan tan nya gemetar, Naruto pun memaksakan diri untuk mengangkat telepon yang terus berdering itu.
"ha...hallo—"
'hallo, apa ini dengan keluarga Uchiha? Kami dari kepolisian ingin mengabarkan berita duka atas nama Naruko Uchiha . Nyonya Uchiha mengalami kecelakaan beruntun di tol 72 Km, saudari Naruko berada di rumah sakit Health Center hari ini—"
Tuutt..tuutt...
Tubuh Naruto terjatuh lemas, ia menoleh ke arah foto pernikahan saudari kembarnya dengan suaminya, Sasuke. Tak ada air mata, karena ia tidak tahu harus berbuat apa. ia memeluk kedua kakinya dengan keringat dingin yang bercucuran. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan pada Sasuke dan ayahnya, yang begitu posesif pada Naruko.
Pasti nantinya ayahnya akan memarahi dirinya dan menyalahi Naruto akibat kecerobohannya (Naruto berpendapat Naruko kecelakaan karena hendak pulang ke rumah untuk mengambil buku note kesayangannya). Dan Sasuke mungkin akan tambah benci padanya, lalu pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cinta dari pria Uchiha itu.
.
.
.
.
From : kak Itachi..
Kau harus segera ke rumah sakit Health center.. Naruko kecelakaan, maafkan aku , dik! Tapi dokter tidak bisa menyelamatkannya..
Beberapa menit yang lalu Sasuke membaca pesan singkat dari kakak kandungnya mengenai istri tercintanya. Dengan kecepatan tinggi, Sasuke segera melaju ke rumah sakit. Wajahnya tampak cemas, apa maksud kakaknya tidak bisa diselamatkan? Apa dokter di sana terlalu bodoh? Tidakah mereka diajarkan bagaimana cara untuk menyelamatkan orang lain. Sial, cabut saja izin kerja dokter disana.
45 menit kemudian, Sasuke pun tiba. Setelah memarkir mobil sport miliknya, pria Uchiha itu pun langsung berlari mencari kamar dimana Naruko di rawat. Akan tetapi, sang resepsionis mengatakan bahwa tidak ada pasien kecelakaan yang selamat bernama Naruko. Sasuke sangat geram, dan hendak menampar gadis resepsionis itu.
Untunglah Itachi yang hendak menyusul kedatangan Sasuke melihat kejadian itu. Ia pun segera menarik Sasuke menuju tempat dimana Naruko berbaring.
Di sana ia melihat Naruto yang menangis sesunggukan, ia tidak mempedulikannya dan menghentikan langkahnya ketika tanpa sengaja ia membaca kamar mayat di pintu ruangan tersebut. Sasuke menggelengkan kepalanya dan mendobrak pintu kayu berwarna putih itu. Di sana, di sebuah ranjang, tertutup selimut putih, tubuh wanita yang amat ia cintai terbujur kaku. Istrinya meninggal dunia, Naruko pergi selama-lamanya.
Baru 7 jam yang lalu ia mengecup bibir merah pucat Naruko. Dan kini, sosok itu telah pulang ke pangkuan tuhan dengan cara tragis. Andai, ia tidak mementingkan pekerjaannya, pasti kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi. Pasti Naruko saat ini sedang berada dalam perjalanan ke Kanada. "t..tidak mungkin" lirih Sasuke.
Tubuh tinggi itu merosot ke lantai. "TIDAK" teriak Sasuke. Naruto yang mendengar teriakan itu pun langsung masuk menyusul suaminya, dan berusaha menghibur sang suami. "TIDAK MUNGKIN, NARUKO BELUM MATI" teriak Sasuke, belum bisa menerima kenyataan bahwa Naruko sudah tidak mungkin bersamanya lagi.
"maaf, hiks..maafkan aku Sasuke, aku yang salah..Naruko hendak mengambil buku note nya yang ketinggalan, tapi akibat kelalaian ku ini terjadi. Kau tidak salah, hiks.. maaf, maafkan aku" Naruto menangis, sembari berusaha membuat Sasuke untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi tiba-tiba saja—
BRUKKHH..
Naruto merasakan sakit ketika tubuhnya berbenturan dengan dinding rumah sakit. Ia menutup matanya erat-erat tidak berani menatap pelaku penyebab dirinya berbenturan dengan dinding. "YA, SEMUA SALAH MU! SEMUA SALAH MU, DASAR JALANG! TIDAK TAHU DIRI" bentak Sasuke.
Itachi menyusul keduanya, dan melihat keadaan Naruto yang menahan sakit pada bagian punggungnya. "NARUTO!" Pekik Itachi, panic. Naruto tidak menangis, hanya saja wajahnya tampak terluka. Itachi tahu, bahwa bukan punggung Naruto yang terluka, tapi hati sang blonde lah yang terluka parah. Dengan penuh kasih sayang, ia menggendong Naruto ala bridal style. Ia menatap tajam ke arah Sasuke.
"ada waktu dimana kau akan menyesal, Sasuke" ucap Itachi—menatap tajam ke arah sang adik.
.
.
.
.
Sakura menatap sebuah testpack di tangannya. Rasa tidak percaya terlihat jelas di matanya. "tidak mungkin" gumam wanita itu. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, "aku tidak mungkin hamil" kata wanita itu. Sakura mencoba menghibur diri, tidak mungkin ia hamil. Karena saat itu ia sedang dalam keadaan aman.
Jadi, tidak mungkin dia hamil. "hehehhe, aku tidak mungkin hamil. Karena aku hanya akan hamil anak Sasuke-kun" kata Sakura, sepertinya ia sudah mulai tidak waras.
Tiba-tiba saja Sakura memukul perutnya dengan kepalan tangannya berkali-kali. "matilah kau anak terkutuk! Matilah kau, aku tidak menginginkan diri mu!" Sakuru beteriak keras, seperti orang gila.
'Kecelakaan beruntun di jalan tol Km 75 kembali merenggut korban jiwa. Istri pengusaha muda Sasuke Uchiha pun turun menjadi korban keganasan jalan tol maut ini'
Berita di tv menghentikan aksi gilanya. "rupanya aku terlambat" gumam Sakura. Wajahnya merenggut kesal, namun tak lama ia menyeringai. "tak apa, tinggal selangkah lagi. Bagaimanapun cara matinya. Aku tidak peduli, karena setidaknya tak ada lagi penghalang yang hendak menghalangi ku" lanjutnya.
.
.
.
.
Minato tampak terpukul begitu mengetahui putrinya tewas akibat kecelakaan beruntun. Ia memandang sendu ke arah makam basah milik Naruko. Ia tidak bisa menepati janjinya pada Kushina sang istri untuk menjaga kedua buah hatinya. Terdengar suara daun-daun kering yang terinjak oleh sepatu seseorang.
Keluarga Uchiha-Namikaze itu lantas menoleh ke asal suara. Dimana Naruto hendak pergi mendahului mereka. "kau ingin kemana, Naruto?" Tanya Itachi, mendahului Sara yang hendak bertanya pada putra kesayangannya itu.
"pulang" Naruto menjawab tanpa berbalik badan.
"kita bisa pulang bersama lagipula—"
"TIDAK KAH KAU RASAKAN DUKA YANG MENDALAM AKIBAT KEMATIAN SAUDARI MU, NARUTO" Minato menyela perkataan Itachi.
Naruto diam, tak lama kemudian ia berbalik badan dengan wajahnya yang memerah. "tanpa ayah mengatakan itu, aku juga sudah merasakannya bahkan jauh sebelum kecelakaan ini merenggut nyawa adik ku" sahut Naruto.
Tidak ada yang menyahut..
Hanya semilir angin yang menerpa lembut wajah orang-orang itu.
"ayah memaksa ku untuk berkorban untuk Naruko, mengalah, berbagi apa yang aku miliki, bahkan berbagi seorang laki-laki seakan tidak ada lagi laki-laki lain di dunia ini. Ayah memaksa ku untuk merasakan apa yang dirasakan Naruko. sakitnya adalah sakit ku, tapi sakit ku bukanlah sakitnya.. APA AYAH TAHU BAGAIMANA RASANYA? DIABAIKAN OLEH ORANG YANG DICINTAINYA? APA AYAH TAHU? APA AYAH MERASAKAN SAKIT YANG KU ALAMI? APA IBU JUGA PERNAH MENDUAKAN AYAH DAN MENGABAIKAN AYAH? KENAPA?KENAPA HARUS AKU? KENAPA BUKAN YANG LAIN SAJA, KENAPA AYAH MENGORBANKAN PERASAAN KU, KENAPA AYAH TIDAK PERNAH MEMPERHATIKAN AKU, KENAPA?"
Mereka (Itachi,Sasuke, Minato, dan Sara) hanya tertunduk dalam tidak tahu hendak berkomentar apa. "kenapa tidak ayah bunuh saja aku sejak dulu?" Tanya Naruto, suaranya terdengar serak dengan pipi chubby nya yang basah. Naruto pun berlalu tanpa mempedulikan orang-orang dewasa yang sedang menatap punggung kecilnya hingga tidak lagi terlihat oleh jangkauan mata mereka.
"turut berduka cita" seorang wanita bersurai merah jambu tiba-tiba saja menyalami tangan Naruto ketika pemuda manis itu hendak keluar dari areal pemakaman. Naruto hanya melihat tangan putih mulus milik Sakura, dan tidak ada niat untuk menyambut salaman itu. Naruto pun kemudian berlalu meninggalkan Sakura yang berdecak kesal atas kelakuan sombong Naruto.
"cih, sombong" decihnya.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Naruto langsung menuju ke kamarnya dan menutup rapat-rapat ruang tidurnya itu. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan memeluk kedua lututnya, disembunyikannya wajah manisnya yang tampak basah akibat air mata yang tidak berhenti untuk mengalir. "hiks.." isaknya.
'kau harus berkorban demi Naruko! Karena Naruko tidak beruntung seperti mu.'
Ucapan sang ayah ketika ia masih berusia 5 tahunan pun terngiang di kepalanya. Kala itu, Naruto masihlah bocah polos yang tidak tahu apa itu penyakit kanker yang di derita oleh adiknya. Ironis bukan? Ketika seorang anak kecil dipaksa untuk menjadi dewasa dalam pola berpikirnya.
'kalau Naruko hidup hanya dengan satu ginjal, kau juga harus sama dengannya. Karena sakitnya adalah sakit mu juga'
Itu adalah kalimat dimana Naruto harus berhenti menjadi seorang pemain sepak bola di SMP nya dulu. Kalimat itu pulalah yang membawa Naruto ke sebuah asrama bertaraf internasional, hingga akhirnya ia berkenalan dengan cinta pertamanya itu, Sasuke Uchiha.
'aku bisa mengizinkan mu berpacaran dengan Sasuke, jika kau juga mau berbagi pria itu dengan adik mu'
Dan itu adalah kalimat yang dikatakan sang ayah ketika Naruto mengatakan kalau ia menyukai Sasuke. Akan tetapi, Naruko juga menyukai Sasuke dan meminta ayahnya untuk menikahkan dirinya dengan sahabat saudara kembarnya itu.
Naruto mendapati sebuah foto dimana ia dan saudari kembarnya tengah berpose bahagia. Foto itu diambil ketika musim panas 10 tahun yang lalu. Naruko memaksa Naruto untuk memakai baju dress miliknya dengan sebuah bando telinga kucing di kepalanya. Karena didesak terus, Naruto pun akhirnya menuruti dan tidak berani menolak.
"katakan, katakan saudari ku! Apa kau puas? Apa kau puas atas pelayanan ku? Kerja keras ku? Puaskah? Jika tidak, bunuh aku! dan seret aku ke neraka!"
Dikeluarkannya foto itu dari figura foto berbentuk hati miliknya. Dengan kesal, ia merobek foto itu menjadi beberapa bagian dan membiarkannya berserakan di lantai. Apa yang kurang darinya? Ia sudah berusaha sekeras tenaga membuat hati keluarganya bahagia. Namun, inikah hasilnya? Hatinya remuk hancur, tidak tahu berbentuk apa lagi. Ini semua untuk keluarganya! Ia rela hatinya hancur hanya untuk keluarganya, lalu apa yang ia dapatkan? Pemghianatan kah? Terdengar lucu.
Lalu iris biru sapphire nya itu bertemu pandang dengan sebuah foto pernikahan ia dan Sasuke. Disana, Naruto rela didandani menjadi seorang wanita akibat desakan Naruko. Lagi-lagi untuk Naruko ia melakukannya. Ia meraih foto tersebut dan mengusapnya dengan jemari tangannya. Ia menyentuh wajah Sasuke yang tidak terlihat ada emosi di wajahnya. Mungkin saja saat itu Sasuke menyesal telah menikahi Naruto hanya untuk mendapatkan Naruko.
Pranggg...
Naruto membanting foto pernikahannya ke tembok. Kemudian ia berteriak keras, berteriak sampai pita suaranya putus pun tidak akan pernah bisa mengobati rasa sakit di hatinya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, pasti itu Kiku (pembantu rumah tangga) yang khawatir dengan keadaan Naruto.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
(hy, AI gak nyangka kalau readers memberikan sambutan hangat untuk fic ini. Fic yang awalnya AI ragu banget buat AI post. Heee... Terimakasih banyak ya, readers.. Oh, iya.. buat yg kemarin Tanya Blog Ai, buka lagi dong blog nya, Ai posting fic baru lagi, lho:D. Jangan lupa dibaca, ya!*maksa* kalo ada pertanyaan PM, ne:D)
Balas Review dulu yahh..
X-ein as guest: heheh, ide nya boleh juga. Tapi kalau dibuat sequel ke depannya nanti sedikit membingungkan
Detective Agatha: salam kenal, terimakasih pujiannya. Kira-kira fic ini gak sampe 15 chapter. Soalnya alurnya cepat, kalo Minato yang menyesal, pasti AI terima kok. Soal soulmate, hehehe Deidara aja, gimana?
IneedToHateYou: Ok, terimakasih reviewnya. Pasti lanjut kok
Hanazawa Kay: Hehehe, Itanaru ya? Cuma slight aja kok, senpai. buat Ai sih selama Seme nya itu bermarga Uchiha, gak masalah. Habis, Naruto itu lebih cocok sama manusia Uchiha itu. Hehhe, Cuma pendapat AI, lho.
Vianycka Hime: terimakasih reviewnya, senpai.
Gothiclolita89: ya, nanti ada chapter dimana Itachi ngungkapin rasa sukanya, senpai. siapa aja semenya, yang penting Uchiha marganya (khusus buat Naruto!)
Clein Cassie: Heheh, *pikir-pikir dulu*
0706 as Guest: coba nanti Ai buat pair Itanaru, tapi beda fic ya
Nagaru Yukiatsu: AI juga nyesek, sedih, hiks..huweeee
LovelyKyuu: hiiee, AI gak keberatan bikin Itanaru, tapi beda fic ya:D
Yunauchii: ada saat dimana Sasuke menyesal, nanti AI bikin Sasuke lebih nyesek lihat saja!*mukaDendam*
LNaruSasu: A..ano, *hayooLo dimarahin* Ai lagi suka fic-fic, Angst, Hurt comfort, gitu. Hehehe, gomen, senpai.
Saory Athena: Salam kenal juga, Saory senpai. oke, tunggu kelanjutannya aja, ne
Guest: Kita bikin Sasuke menderita *khukhukhu..*
Navi as Guest: Ok, update kilat:D
Yamashita Miko: Hehehe, itu Rahasia senpai..
Iche cassiopei: ok, dilanjut
Uzumakinamikazehaki: sip, lanjut.
Deathberry45: sama Ai juga gak sabar nyelesain ini.
Shinaru: ok, pasti Sasu menyesal.
Killua as guest: Ai-chan? Yasudlah, apa saja , AKU JUGA MENUNGGU Cinta*coret* review mu.
4ever: salam kenal, Nurin-san. Hiee, kurang panjang? Oke, AI bikin panjang deh ceritanya. Tapi, kalo panjang malah membosankan Nurin-san.
.
.
Review?
