Kaien-Aerknard Presents

A Dynasty Warriors Fanfiction

[Time-Cross Soulmates]

.

.

Suara merdu itu hilang tanpa jejak, seperti debu yang tertiup oleh angin timur yang berhembus kencang. Aku menoleh ke belakang, mendapati Tuanku, Sima Zhao melambaikan tangan kanannya ke arahku, seulas seringai lebar khasnya menggembang di wajah. Langkahnya seringan ekspresi yang terpasang pada wajahnya, seperti seorang anak kecil. Aku berbalik, membungkuk hormat pada Tuanku.

"Zhugong, selamat malam," sapaku.

"Ah... kau ini terlalu formal seperti biasanya. Sudah kukatakan, di luar medan perang, posisi kita sama!" ia menepuk punggungku, cukup keras. "Kuharap kau tidak terganggu dengan kunjunganku selarut ini!" ia tertawa.

"...Kunjungan Anda pada jam selarut ini... apakah ada suatu urusan penting yang Anda ingin bicarakan, zhugong?"

Biasanya, seseorang jika berkunjung pada jam dua malam hanya membawa sebuah topik penting untuk dibahas. Saking pentingnya, tak ada seorang lain-pun yang boleh mengetahuinya, seolah si pengunjung memilih jam ketika Dewa-Dewi di langit sedang tertidur pulas agar tak bisa mereka curi dengar. Tuan Sima Zhao tertawa, kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. ...Sudah kuduga. Aku menghela nafas, memaklumi sifatnya yang jauh berbeda dari sang kakak, Tuan Sima Shi.

"Aku hanya ingin mencari udara segar. Dan tanpa sadar, sepasang kakiku malah membawaku ke hadapan gerbang kediamanmu. Jadi kuputuskan untuk sekalian mengunjungimu, tadinya berminat untuk mengerjaimu juga kalau kau masih tidur."

Aku hanya bisa diam seribu bahasa, memberiku sendiri sebuah tamparan di benak. Tuanku yang satu ini... memang cukup unik. Setelah mendengar ceritanya, kurasa ketika tidurpun, aku tidak bisa tenang, huh?

"Ah... sayang sekali kau masih bangun, jadi rencanaku gagal!" wajahnya sama sekali tak menggambarkan sepeserpun rasa bersalah. "Setidaknya, aku jadi punya teman mengobrol malam ini! Jadi, kau sendiri sulit tidur?"

Aku menggeleng. "Tidak. Saya... hanya terbangun oleh sebuah suara."

"Suara?"

Aku mengangguk. "Ya. Suara tersebut... sangat indah. Lagu yang dinyanyikan dibuatnya merdu. Suara itu bahkan membangunkanku dari alam mimpi. Dan ia... berasal dari paviliun ini," Aku berbalik, sepasang tanganku mencengkram pagar paviliun berlapis cat merah. "Anehnya, tak ada siapapun di sini, dan nyanyian itu terus ada sampai kehadiran Anda di sini."

Raut wajah Tuan Sima Zhao berubah drastis, ia yang tadinya menampilkan senyum kini menampilkan ekspresi ketakutan. Entah ia sungguhan atau hanya dibuat-buat. "Oi, Oi, Ciqian! Kau serius? Kau tidak sedang mabuk, bukan?!"

"...Saya bersungguh-sungguh. Pernahkah saya berkata bohong pada Anda?"

"...Aku akan memanggilkan orang pintar besok untuk mengusir roh jahat bersuara merdu itu dari kediamanmu. Aku tak memunggut biaya, gratis. Anggap saja sebagai bayaran setelah semua jasa yang kau lakukan untuk kolong langit."

"Zhugong, Anda tidak perlu memanggil pengusir roh. Saya yakin siapapun kehadiran ini, ia tak membawa maksud buruk."

"Karena mereka tak kasat mata, kau tak bisa mempercayai niat mereka! Ciqian! Kau terlalu polos! B-Bisa saja mereka ingin memancingmu untuk menenggelamkan diri ke kolam ini, bukan?"

"Bilamana si pemilik suara itu memiliki niat sedemikian jahatnya, Anda takkan menemukan saya di sini, maupun di ruang tidur."

Sima Zhao terdiam sesaat. "...Kau benar. Tetap, ceritamu membuatku merinding."

"Anda takut terhadap roh?"

"Tentu saja tidak!"

"Oh."

"Jangan meng-'Oh'-kanku, Ciqian!"

Ia bersandar pada pagar pilar paviliun, menerawang si Dewi Malam yang bersinar terang di angkasa hitam. Semilir angin berhembus, alirannya yang lembut sebagai jemari yang menyisir rambut kami. Dari sudut mata, kudapati ia sekarang duduk di atas pagar, kembali tersenyum pada bulan purnama. Tangan kanan ditopangnya di atas lutut yang ditekuknya, sebuah kekehan lepas dari mulutnya.

"Hei, Ciqian. Apakah kau percaya pada legenda 'belahan jiwa'?" tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi, lalu mengembalikan atensi pada angkasa malam. "...Entahlah. Seperti apakah legenda itu, zhugong?"

"Legenda kuno mengatakan Langit sengaja membelah satu jiwa menjadi dua, agar mereka bisa saling mencari satu sama lain, saling menjaga satu sama lain dan saling berbagi baik kebahagiaan maupun duka."

"Oh?"

Ia lalu melanjutkan ceritanya, seulas senyum cerahnya mulai melayu. "Namun... terkadang Langit itu kejam. Setelah Ia memisahkan kita menjadi dua, Ia menakdirkan mereka untuk lahir di era yang berbeda. Bagaimana bisa mereka saling bertemu jika terlahir di era yang berbeda?"

"Jadi, apakah menurut Anda, si penyanyi bersuara merdu ini adalah belahan jiwaku?"

"Bisa saja? Siapa yang tahu?" Ia menepuk tangannya. "Ini'kan hanya legenda belaka! Hanya cerita yang biasa didogengkan sebagai dongeng tidur! Tidak semua legenda itu benar, Ciqian!"

"...Tampaknya Anda memercayai legenda ini, zhugong."

Untuk kesekian kalinya, ia tertawa keras. Kerasnya seakan dunia bisa dibangunkan olehnya. "Kuharap 'belahan jiwa'-mu ini bukan roh yang aneh-aneh!" ia turun dari pagar paviliun, mulai berjalan meninggalkanku. "Baiklah! Besok kita masih ada pekerjaan, lebih baik aku pamit sekarang. Selamat malam! Dan jangan berlama-lama di sana, aku tak ingin besok pagi ketika bangun, aku menerima kabar tubuhmu mengapung di atas air kolam dan tengah disantap oleh koi-koi yang lapar itu."

Mendengar perkataannya, aku tak bisa menahan senyuman dan tawa pelanku. Aku mengikuti langkahnya, meninggalkan paviliun yang tak bergerak di belakang, mengantarkan sang tamu dadakan ke gerbang. "Tenang saja. Saya akan menghadiri rapat perang besok."

"Jangan sampai tertidur di tengah rapat perang! Kau tahu ganjarannya, Ciqian."

"Saya menasihati Anda akan hal yang sama, zhugong."

"Kau ini, sungguh pandai berbicara! Sampai jumpa besok!"

"Sampai jumpa," aku membungkuk, menunggunya sampai ia hilang dari jarak pandang, baru aku masuk ke dalam kediamanku, dan menghabiskan sisa waktu yang ada untuk beristirahat. Namun, legenda yang ia ceritakan tadi malah membuatku terjaga lebih lama lagi. Sepasang mataku terpaku pada langit-langit ruangan, suara ketukan bambu sesekali terdengar memecah keheningan malam.

...Belahan jiwa, hah? Aku menengok ke jendela, mengamati paviliun di tengah kolam koi itu, membayangkan sosok seorang wanita berdiri di sana, masih melantunkan lagu indahnya. Apakah ia sosok wanita yang tinggi, atau tak terlalu? Berambut hitam, atau kecokelatan? Apakah ia seorang gongzhu? Tetapi selain kehangatan itu, aku bisa merasakan aura kepahlawanannya... mungkinkah ia seorang Jiangjun, sama sepertiku? Apakah suatu hari nanti, wanita itu akan memperkenalkan dirinya, walau ia mungkin tak bisa melihat fisikku, mendengar balasanku?

...Apakah legenda yang diceritakan Tuan Sima Zhao ada benarnya? Bahwa si pemilik suara adalah 'belahan jiwa'-ku dan kami terlahir di era yang berbeda?

Rasa penasaranku akan siapa sosok penyanyi itu malah membuatku terjaga selama semalam penuh. Ketika aku hendak memejamkan mataku, ayam jago sudah berkokok kencang, cahaya matahari mulai menyinari dunia dari ufuk timur. ...Tampaknya, tubuhku terancam hukum rangket sebanyak 50 pukulan...


"Oh, Zihuan, selamat malam," aku berlari kecil mendekatinya. "Apakah kau terbangun oleh suaraku? Maafkan aku."

"Tidak, sama sekali bukan karena dajie aku terbangun. Tiba-tiba aku terpikirkan akan satu sistem yang mungkin bisa kusarankan pada fuwang untuk diterapkan."

"Sistem apakah itu?"

"Aku takkan banyak berbicara banyak soal detilnya. Yang jelas, sistem ini bisa diterapkan pada bidang perekonomian. Aku yakin sistem ini bisa setidaknya memperbaiki keadaan ekonomi di Youzhou."

"Semoga rencanamu disambut baik oleh yifu. Aku tak sabar untuk melihat hasilnya!"

"Terima kasih."

"Dajie yakin kau akan berhasil."

Zihuan berjalan ke pinggir paviliun, mengamati ikan-ikan koi yang berenang dalam kolam hitam bertaburkan berlian putih dari langit. Akupun berdiri di sampingnya, mengamati langit dan rasi bintang utara yang menghias angkasa gelap. Presensi yang kurasakan tadi kini telah lenyap sepenuhnya, entah kemana perginya ia. Setidaknya, aku tak lagi sendirian karena kehadiran sang adik angkat di sisiku. Sedaritadi, ia terus diam, tampak jelas ia larut memikirkan kelancaran sistem yang akan disugestikan olehnya pada yifu di rapat mendatang. Ia memang pribadi yang tertutup, jarang sekali ia menceritakan apa isi pikirannya pada siapapun, bahkan diriku sekalipun aku adalah kakak angkatnya. Maka, akupun tak pernah memaksa Zihuan untuk menceritakan sesuatu yang tak ingin ia ceritakan.

"...Zihuan. Sebelum ada kau di sini... dajie sempat merasakan kehadiran seseorang."

"Tetapi?"

"Orang itu tidak ada."

Raut wajahnya tetap datar, ia bahkan tak menoleh ke arahku. "Dajie tidak bercanda? Bukan mata-mata?"

"Aku merasakannya... berdiri tepat di sampingku tadi. Kalau itu mata-mata atau pembunuh bayaran, mungkin saja aku sudah mati sekarang."

"...Akan kupanggilkan pengusir roh besok."

"Kau tidak perlu sampai berbuat sejauh itu! Kalaupun itu roh, ia tak bermaksud jahat, tenang saja!"

"Tetap, aku tidak ingin kediaman ini dihuni oleh mahluk-mahluk tak kasat mata. Aku tetap akan memanggil pengusir roh besok!"

"Sudah, sudah. Lupakan ceritaku yang tadi. Mungkin, hanya perasaanku saja karena kelelahan."

"Karena itu, seharusnya kau tidur di kamarmu, bukannya berdiri di paviliun tengah malam seperti ini," ia mendesah.

"Tetapi, malam ini terlalu indah untuk dilewatkan."

Zihuan tak memberi tanggapan lebih, aku terkekeh, menepuk pundaknya pelan. "Tenang saja, aku takkan kenapa-napa."

Dan ia hanya diam saja, tak menunjukkan sedikitpun ketertarikan. Kutarik tanganku menjauh dari punggungnya, beralih menyentuh pilar paviliun di sisi kananku. Kepala kusandarkan pada pilar yang kokoh ini, sepasang mataku terpejam, menikmati angin malam yang sejuk dan bau khas rerumputan basah yang dibawanya bersama.

"Hei, Zihuan," ia tak menjawab, tapi aku tahu bahwa ia mendengarkanku. "Apakah kau mempercayai legenda 'belahan jiwa' yang sering diceritakan yimu dulu?"

"...Tidak. Bagiku, legenda hanya omong kosong. Setidaknya, cerita penuh omong kosong itu cukup sebagai dongeng pengantar tidur."

"Ahahaha, kau benar," balasku. "Tetapi... aku mempercayainya."

Legenda kuno berkata bahwa Langit sengaja memisahkan sebuah jiwa menjadi dua, agar mereka saling mencari satu sama lain, saling menjaga satu sama lain, saling berbagi kebahagiaan dan juga duka. Hanya saja… terkadang dua jiwa ini lahir sebagai manusia di waktu yang berbeda. Sesungguhnya, jarak mereka hanya sejauh satu jengkal tangan.

Namun, pada realitanya, masing-masing berada di 'dunia' yang berbeda, dibatasi oleh tembok waktu yang tak kasat mata.

Andai kata legenda itu benar... apakah presensi kepahlawanan yang kurasakan tadi adalah 'belahan jiwa'-ku? Ah... aku hanya mengada-ada saja, tampaknya. Aku tertawa geli, memancing atensi dari Zihuan.

"Jadi, jodoh dajie adalah roh tak kasat mata. Tak kusangka kau sebegitu inginnya mempunyai seorang kekasih hingga roh-pun kau terima."

"Bukan seperti itu, Zihuan. Hanya saja... siapa tahu legenda itu ada benarnya, bukan?"

"Itu kuserahkan pada imajinasi dan kepercayaanmu. Bagiku, legenda tetaplah legenda, hanya omong kosong pengantar tidur saja," ia melangkah meninggalkanku. "Selamat malam."

"Ah, malam."

Kuputuskan untuk tinggal sedikit lebih lama lagi di paviliun ini. Ketika aku menghadap rembulan purnama, akupun bertanya padanya soal legenda kuno tersebut, berharap mendapat jawaban yang takkan mungkin sampai. ...Hahaha... kelihatannya aku saja yang mengada-ada terlalu tinggi. Apa yang dikatakan Zihuan benar, legenda itu tak ada yang benar. Tak ada bukti konkrit yang bisa membuktikan eksistensinya sebagai kenyataan hidup.

Hanya saja... seandainya presensi itu benar seperti yang dikatakan legenda... seperti apakah dia? Apakah ia seorang pria atau wanita? Apakah ia seorang Jiangjun dari zaman sebelumku, atau era setelahku? Seperti apakah sosok fisiknya? Apakah ia tinggi? Apakah ia memiliki badan yang terbilang kekar? Apakah ia memiliki rambut yang hitam dan sehalus sutera? Mataku kembali memejam, aku berusaha menggambarkan fisik si 'belahan jiwa'-ku dalam benak. Tak ada bayangan pasti.

Aku berbalik, meninggalkan paviliun merah di tengah kolam itu, bersiap untuk kegiatan esok hari yang sudah dipastikan padat.

...

[To Be Continued...]

...

Author's notes: Jadi, POV yang pertama itu si Wen Yang, dan yang ke-2 itu si Cao Yin. Ah... saya sadar kosakata saya masih kaku... apakah ini karena sudah lama tidak menulis? Tetapi, saya akan berusaha lebih baik lagi kedepannya! Baiklah! Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya!

Semoga saya berhasil menyelesaikan ide ini.

Terima kasih atas RnR-nya!