.
CRUSHER
['FOOLISH CRUSH'—SEQUEL]
.
Chapter 2 : Someone who loves you that much
.
Persiapan ujian masuk universitas sudah seperti ujian antara hidup dan mati. Lorong kelas yang biasanya ramai di jam-jam istirahat, kini hanya terdengar ketukan hak tinggi dari guru atau bahkan hening tanpa penghuni. Seluruh siswa tampak sibuk dengan bukunya masing-masing. Walau ada satu dua murid yang memilih tidur dengan beralaskan buku saking lelahnya. Begitu pun dengan Luhan, ia melirik Jongin dan menghela nafas melihat temannya sudah berpetualang di dunia mimpi.
"Hhh…" Kepala diletakkannya diatas buku yang terbuka. Matanya mengedar di sisi kiri dan menemukan Chanyeol yang begitu sibuk membaca dan menulis sesuatu di bukunya. "Anak itu benar-benar. Si biasa saja berubah menjadi si nomor satu, mengalahkan Cha Eunwoo. Wah, Chanyeol benar-benar gila belajar sekarang." bisiknya entah pada siapa. Ia baru ingin memejamkan mata sebelum terdengar umpatan kecil dari arah bangku Chanyeol.
Ia mengernyit.
Temannya tampak memegangi lubang hidungnya dengan kepala mendongak, sementara tangannya sibuk mencari-cari sesuatu di tasnya. Setelah menemukan lembaran tisue, ia segera menyumpal hidungnya dengan tisue tersebut dan membersihkan noda merah di tangannya. Mata Luhan membulat.
"Apa dia gila?!" dengan gerakan super sonic ia mendekati pemuda itu dan berjongkok di samping mejanya. Chanyeol menatapnya sejenak sebelum kembali berkutat dengan deretan angka di permukaan bukunya. "Ya! Kau butuh istirahat, Park! Jangan memaksakan diri. Nilaimu takkan berkurang, tenang saja." rayunya dengan bibir mengerucut. Yang diajak bicara hanya menatapnya dengan pandangan masa-bodoh-nya.
"Sebaiknya khawatirkan nilai-nilaimu, bodoh!"
"Sialan kau!"
Luhan ingin memukulnya, tapi urung. Si sok sibuk itu benar-benar menyebalkan sekarang. Setelah menjadi si nomor satu, ia tak pernah meluangkan waktunya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Karena itu Jongin sekarang menempel padanya bak lem perekat. Bibir tipis Luhan mendumel kesal tanpa dipedulikan. Detik berikutnya, ia menegakkan badannya. Teringat sesuatu yang sangat penting.
"Ngomong-ngomong, Yeol—" Dibalas gumaman tanpa minat oleh si empunya nama. "Baekhyun mengirimiku e-mail dua bulan yang lalu." Gerakan tangan pemuda tinggi itu sontak terhenti. Pandangan matanya berubah. Maniknya tampak bergerak gelisah, sebelum akhirnya melanjutkan tulisannya dengan gerakan kaku yang kentara. "Rupanya tebakanku benar, kau tidak tahu. Apa kau tidak ingin mengecek e-mailmu? Mungkin dia juga menghubungimu." Ia tersenyum lebar, lebar sekali sampai Chanyeol berpikir bahwa Luhan nyaris menyamai Joker. "Mungkin kau ingin mengungkapkan perasaanmu?"
Tangan itu kembali terhenti, sementara Luhan menyeringai tanpa disadari Chanyeol.
"Perasaan apa?"
Kemudian yang lebih pendek mendengus.
"Berhentilah menjadi gengsi, mungkin ini kesempatan terakhirmu untuk berbicara dengan Baekhyun." Luhan berdiri dari posisinya. Menatap jengah pada sikap Chanyeol yang masih semenyebalkan dulu. "Jangan sampai kau menyesal." Setelah itu si pemilik manik rusa itupun berlalu. Meninggalkan Chanyeol yang mengeratkan pegangannya pada bulpennya. Menatap kosong lembar-lembar yang tertiup angin di depannya. Merasakan detakan jantungnya semakin keras ketika membayangkan Baekhyun berbicara lagi dengannya.
"Jangan sampai aku menyesal…" lirihnya.
—e)(o—
Sekitar jam 9 malam, ia baru sampai disekitar kompleks rumahnya setelah menaiki bus sekitar dua puluh menit dari sekolahnya. Butuh sekitar 10 menit untuk mencapai rumahnya dari halte bus terdekat. Tidak banyak orang yang berlalu lalang. Namun di kedai-kedai yang dibuka di pinggir jalan cukup ramai pengunjung. Musim hujan di Seoul hampir terganti dengan musim dingin. Angin bertiup sangat kencang, sehingga ia perlu mengeratkan jaket tebalnya demi melindungi kulitnya dari gesekan udara malam. Uap berkali-kali keluar dari bibir kissablenya, menunjukkan betapa dingin suhu malam itu.
Dalam kesendirian, ia teringat ucapan Luhan.
Ia penasaran, namun juga takut kecewa. Hari dimana mereka terakhir berbicara adalah hari yang cukup buruk. Selain menemukan fakta Baekhyun suka menyendiri di ruang musik, ia juga baru melihat sosok rapuh yang selama ini terlihat baik-baik saja. Pikirnya, Baekhyun dulu seperti hulk, kebal terhadap apapun. Bahkan rasa sakit. Tapi… anak itu memang pemain yang sempurna. Aktingnya benar-benar bagus hingga semua orang tertipu oleh senyumnya.
Ia tersenyum kecut.
"Memangnya dia masih mau menghubungiku?" bisiknya dengan nada putus asa. Ia tidak yakin Baekhyun masih mau berkomunikasi dengannya. Dia takut berharap. Takut melangkah. Takut mencari tahu. Bukan hal tidak mungkin perpisahan membuat Baekhyun melupakannya dan menemukan sosok baru di Kanada sana. Apalagi orang-orang barat terkadang terlihat sangat keren. Penampilan dan wajahnya sangat maskulin daripada orang Asia sepertinya. Ah, tiba-tiba ia merasa menciut.
"Ah, sial!"
—e)(o—
Setelah mandi dan makan malam, Chanyeol memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan membawa beberapa camilan sebagai teman belajarnya. Namun baru setengah jalan, ia berhenti. Memainkan bulpen di tangannya sembari berpikir keras mengenai ucapan Luhan disekolah. Rasa penasaran lama-lama membunuhnya hingga akhirnya ia menyerah dan bergegas menaiki ranjangnya dimana laptopnya telah menyala disana. Dengan cekatan, ia segera membuka e-mailnya. Menjelajahi inbox namun tidak menemukan apapun. Ia nyaris mendesah lelah, sebelum menyadari kotak spam yang belum terjamah. Setelah menelusuri sebanyak 20 e-mail, ia akhirnya menemukan alamat e-mail asing.
Subjek : 'Chanyeol, apa kabar?'
Matanya membulat dan dadanya terketuk makin keras. Rasa berdesir yang indah tiba-tiba meluap begitu saja. Mengabaikan fakta beberapa menit yang tadi ia tampak begitu ragu dan kecewa tanpa sebab. Masih dengan jemari yang sedikit bergetar, ia membuka e-mail tersebut. Berbeda dengan Luhan yang dikirim dua bulan yang lalu, miliknya baru dikirim sebulan yang lalu.
Hai, Chanyeol.
Ini, aku, Baekhyun.
Maaf tidak menghubungi selama ini. Tapi, sejujurnya, aku juga ragu-ragu ingin menghubungimu. Karena itulah aku membutuhkan waktu yang lama untuk mengirimimu e-mail. Hehe. Kupikir, mungkin kau tidak ingin melihatku apalagi bersedia untuk membaca ini. Ya, tapi tetap saja kuharap kau masih mau menerima dan membaca tulisanku. Bagaimana kabarmu? Apa kau masih suka menghabiskan sekotak susu mocca di pagi hari? Apa kau masih suka berjalan kaki dan menaiki bus ke sekolah? Apa kau masih suka basket?
Kuharap kau selalu baik-baik saja, Chanyeol-ah. Bagaimana dengan kekasihmu? Kuharap tidak adanya aku membuat hubungan kalian awet. Hehe. Maaf karena aku dulu begitu egois sampai tidak membiarkan seorang pun dekat denganmu. Tapi tenang saja, karena aku sudah tidak ada, kau bebas berhubungan dengan siapapun. Jangan menjadi brengsek, oke. Jadilah pria yang gentle terhadap pasanganmu. Keke.
Chanyeol tersenyum kecut. Tiga hari sejak kepergiaan Baekhyun, ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya. Alasan yang sebenarnya tak ia mengerti. Ia hanya merasa kalau hubungan itu salah. Sesuatu yang tidak benar-benar ia inginkan. Pikirannya justru berputar pada sosok lain yang selalu mengganggu hubungannya, bukan kekasihnya sendiri. Bukankah ia akan menyakiti kekasihnya jika memaksa lebih jauh? Karena itu ia memilih untuk mengakhirinya. Bahkan sampai sekarang, ia tak memiliki kekasih lagi selain payung warna biru yang ia bawa kemana-mana. Bahkan ketika musim panas.
Hm… apa kau sudah tahu tentangku? Mungkin, iya. Tapi kuharap kau tidak mengasihaniku, Chanyeol. Aku tidak suka dikasihani karena kelemahanku. Lagipula, itu juga bukan hal yang serius. Chanyeol juga tidak akan peduli kan? Ya, sebaiknya seperti itu. Makan yang teratur, belajarlah yang sungguh-sungguh untuk ujian suneung, dan hiduplah dengan baik. Ah, jangan lupa membawa payung ketika musim hujan! Karena aku tidak akan berada disana lagi untuk membawakan benda itu untukmu. Haha.
Aku ingin sekali melihatmu lagi, tapi kurasa aku hanya akan menganggu kehidupanmu yang tenang. Karena itu, aku hanya ingin berterima kasih untuk segalanya. Terima kasih karena telah membuatku jatuh cinta untuk waktu yang lama. Tidak perlu membalasku. Aku hanya berharap kau bersedia membaca tulisan ini saja. Jaga dirimu baik-baik, Park Chanyeol. Annyeong!
Chanyeol menahan nafas setelah membaca deretan tulisan yang dikirim oleh Baekhyun. Rasanya begitu lega, namun juga penuh sesak. Penyesalan yang selama ini dipendamnya seolah menguar bersama angin. Ia memperlakukan Baekhyun begitu buruk sampai anak itu bahkan ragu untuk mengiriminya e-mail. Sial. Mengapa rasanya benar-benar menyesakkan? Kenapa Baekhyun membuat dadanya berdenyut gila seperti ini?
"Bodoh! Kenapa selalu mengkhawatirkanku?" umpatnya dengan mata yang memanas.
Ting!
Chanyeol melirik chat e-mailnya di pojok kiri bawah. Disana ada akun Luhan yang baru saja aktif. Ia hampir saja meng-close tabnya sebelum menyadari ada foto profil seseorang yang tidak asing, tepat di samping akun Luhan. Kepalanya mendekat. Bahkan sampai memicingkan mata demi memperjelas penglihatannya. Mata perinya kemudian melebar dan jantungnya langsung berlomba ingin keluar.
"B-Baekhyun aktif?"
—e)(o—
Tangannya berkeringat dingin sementara jarinya kaku dan gemas ingin membuka akun aktif tersebut. Keringat dingin menuruni pelipisnya. Tubuhnya gemetar seperti pengering baju. Ia merasa gila hanya karena melihat titik hijau di chatroom milik Baekhyun. Ingin menyapa, namun ia ragu. Apa yang harus ia katakan? Hai? Lama tidak berjumpa? Oh, tidakkah itu terlihat konyol? Lalu apa yang harus ia katakan? Aku merindukanmu? Terdengar lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Arrgh!" ia mengusak rambutnya frustasi dan bergelung diatas ranjangnya seperti orang sinting. Melihat kedua akun itu aktif, ia rasa Luhan dan Baekhyun tengah mengobrol sekarang. Apa tidak apa-apa jika ia menganggu percakapan itu? Setidaknya, ia harus menanyakan nomor handphone Baekhyun agar mereka bisa menjalin komunikasi.
Benar kan?
Ting!
Tubuhnya kaku. Suara chat seperti menggoda untuk dijamah. Atau jangan-jangan hanya akun yang baru aktif? Entahlah. Ia tak berani bahkan untuk sekedar melirik. Lima menit ia habiskan untuk bergelung dengan selimut sebelum akhirnya meraih laptopnya mendekat dan melihat pojok kiri bawah. Rahangnya jatuh ketika melihat chat masuk yang berasal dari Baekhyun. Baekhyun mengiriminya chat? Serius? Apa ia bermimpi?
Klik.
Baekhyunee : "Chanyeol-ah!"
Tanpa sadar, Chanyeol tersenyum. Merasa Baekhyun lebih dekat dari sebelumnya. Tunggu! Apa yang harus ia tulis untuk membalasnya?
Ting!
Baekhyunee : "Chanyeol tidak mau mengobrol denganku ya? Ah, padahal kita teman lama. Jangan terlalu sombong, bung!"
Teman? Mereka teman? Dalam hati ia menolak kata keramat itu. Mereka lebih dari sekedar teman. Chanyeol adalah first love Baekhyun dan Chanyeol sendiri kebetulan adalah seseorang yang mulai merindukan sosok Baekhyun. Cepat-cepat ia memposisikan tubuhnya dengan nyaman, duduk bersila di depan laptopnya dan membalas chat dari Baekhyun secepat yang jemarinya bisa.
Chanyeol : "Hi, Baek."
Baekhyunee : "Akhirnya kau membuka e-mailmu setelah sekian lama! Kutebak pasti Luhan yang memberitahumu kan? Ah, kau masih saja acuh. Apa aku mengganggumu?"
Refleks ia menggeleng, senyumnya selebar daun kelor dan secerah bunga matahari.
Chanyeol : "Tidak, tentu saja. Kau tidak mengganggu. Senang bisa melihatmu lagi, Baekhyuna."
Chanyeol menunggu balasan dengan gugup. Detik demi detik berlalu hingga sepuluh menit lamanya, Baekhyun belum juga membalas. Ekspresi bahagianya perlahan meredup. Hanya beberapa kali obrolan saja dan itu tak cukup membuat kerinduannya berkurang. Apa Baekhyun tidak berminat untuk mengobrol dengannya? Atau ia salah bicara? Ia hanya berusaha jujur. Ia melirik jam di pojok kanan bawah, lima belas menit berlalu begitu saja. Rasa antusiasnya menghilang dan senyuman kecut tersampir di bibirnya.
Ting!
Baekhyunee : "Chanyeol-ah… apa kau merindukanku?"
Deg.
Tak ada yang lebih mendebarkan daripada membicarakan hal serius dengan seseorang yang mungkin sekarang bisa kau sebut 'crush'. Chanyeol jadi berpikir, mungkin inilah yang dirasakan Baekhyun ketika mereka mengobrol. Perasaan gugup akan balasan darinya dan bingung ingin membalas apa. Ternyata cukup menyenangkan juga.
Chanyeol : "Sangat."
Baekhyunee : "Huuuuuu. Apa kau menjadi perayu sekarang?"
Chanyeol : "Hanya padamu. Jadi, bisakah aku mendapatkan nomor handphonemu?"
.
A/N : Tau fitur e-mail yang chat itu kan? Ya, kurang lebih kek chat di fb atau anggap saja begitu.
—e)(o—
Chanyeol tidak pernah merasa sebahagia ini dalam setahun belakangan. Baekhyun memberikan nomor ponselnya kemarin dan langsung terhubung pada setiap akun yang dimiliki pemuda mungil itu. Jujur saja, itu membuatnya berdebar. Memikirkan seperti apa Baekhyun sekarang. Apakah ia telah sehat kembali? Apa dia tetap menjadi sosok ceria yang tidak bisa diam? Yang jelas, apapun penampilan atau perubahan Baekhyun, pasti akan tetap cocok untuknya.
Dengan tangan kanan yang memegang ponsel dan tangan kiri memegang roti bakar, juga mulut yang sibuk mengunyah, mata peri Chanyeol tak berhenti menatap layar ponselnya yang menampilkan profil seseorang. Itu Baekhyun, masih manis seperti dulu. Dengan surai kecoklatan dan helaian yang tertiup angin. Pemandangan yang begitu indah menyambut paginya. Tanpa sadar ia tersenyum. Menimbulkan tanya pada setiap mata yang tertuju padanya.
"Anak ibu tampak bahagia pagi ini. Apa sesuatu telah terjadi semalam?"
"Ya." Chanyeol tersenyum lebar. Menunjukkan layar ponselnya dengan foto Baekhyun terpampang manis disana. "Dia adalah calon menantu ibu. Manis kan?" ucapnya bangga dan disambut kekehan wanita paruh baya itu.
"Baekhyun selalu tampak manis dimata ibu, sayang." Lalu usapan sayang ia rasakan diatas helaian. Begitu hangat seperti biasanya. "Jadi, apa dia telah menghubungimu?"
"Sepertinya memang begitu, bu. Lihat saja anak lelakimu yang tersenyum gila seperti itu." Yoora mencibir, namun hatinya ikut bahagia melihat suasana hati adiknya membaik. Meskipun ia tidak terlalu mengetahui permasalahannya, namun ia bisa menebak jika kepergiaan Baekhyun –sosok yang dulu sering mampir ke rumahnya, membuat Chanyeol berubah menjadi kaku dan dingin. Tapi sekarang? Dia sudah tampak lebih bersinar dari mentari pagi.
"Bilang saja kau iri."
"Well, untuk apa aku iri. Aku sebentar lagi bertunangan, bodoh. Aku tidak single sepertimu."
"Ck, kalian ini—" sanggah sang ayah, namun tak berhasil membuat dua saudara ini berhenti berdebat. Dan pagi itu pun diisi oleh pertengkaran kecil keluarga Park. Sang ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menikmati paginya yang hangat seperti tahun-tahun sebelumnya.
—e)(o—
Two weeks later….
Masa-masa mengerikan ujian masuk universitas telah selesai hari ini. Luhan dengan wajah pucatnya keluar dari kelas dan melangkah terseok-seok kearah teman-temannya yang telah berkumpul di gerbang sekolah. Kyungsoo berdecak dan merangkul pundak kanan sahabatnya, disusul dengan rangkulan Jongdae di pundak kirinya. Ekspresi Luhan yang seperti ingin menangis membuat teman-temannya iba. Namun hanya dua orang yang menatap si manja itu tanpa minat. Tentu saja si masa-bodoh Chanyeol dan wajah tembok, Oh Sehun.
"Kurasa kita akan terpisah. Huwaaaa!" Ia mengusap airmata imaginernya dan Kyungsoo hanya menepuk-nepuk belakang kepalanya.
"Kau sudah melakukannya dengan baik, hyung."
"Tidak usah sok dramatis, bodoh. Menggelikan." Jongin berujar acuh dan menunjukkan ekspresi ingin muntahnya. Dibalas delikan kesal oleh rusa jejadian itu. "Ya, setidaknya aku senang karena kita memutuskan untuk bersekolah di Kyunghee. Jadi, aku tidak akan sendirian. Hehe." Ia menyenggol lengan Sehun, salah satu orang yang memilih jurusan yang sama dengannya. Hanya ada dia, Sehun, dan Luhan yang memilih jurusan seni tari modern.
"Aku berharap akan sering-sering berada di satu kelas dengan Chanyeol kelak." aku Jongdae tiba-tiba. "Kita memilih jurusan musik. Tapi beda aliran sih. Aku di bagian teknik vocal sedangkan dia berada di bagian aransemen musiknya." Ia menggedikkan bahu. "Kurasa mata kuliah kita banyak yang sama. Kalau kau, Soo?"
"Aku pilih sastra."
"Sudah kuduga." Luhan menimpali dengan nada iri dan canda.
"Jja! Kita harus makan siang bersama dan melupakan ujian masuk universitas ini untuk sementara! Bagaimana?" Jongin lagi memberi saran dan diangguki antusias oleh teman-temannya. "Chanyeol, kau ikut kan?" Seluruh mata menatap penuh harap padanya. Bagaimana pun mereka jarang bersama gara-gara kesibukan sebelum ujian. "Kita harus sering-sering bersama sekarang." Senyuman kecil terpantri di bibir pemuda jangkung itu, ekspresi yang jarang ia berikan setahun belakangan.
"Baiklah, aku ikut."
"ASSAAA!"
—e)(o—
Gelak tawa di meja pojok café terdengar begitu nyaring diantara puluhan anak muda dan orang-orang tua bersama anaknya yang menjadi pelanggan tetap disana. Bukan gelak tawa yang mengganggu toh café adalah tempat umum sehingga banyak canda tawa didalamnya. Meja pojok dihuni oleh Chanyeol dan teman-temannya yang tengah sibuk bermain truth or dare dan Luhan adalah korban paling parah diantara mereka. Keberuntungan tidak pernah berpihak padanya sejak dulu.
"Argh!"
"Hahahaaa—" tawa makin menggelegar ketika Luhan lagi-lagi kalah dalam permainan itu.
"Bahkan kau tidak bisa memainkan pabo369." Jongin memberinya tatapan remeh dengan tawa paling menyebalkan. Ingin sekali menjitak kepala si tan itu namun apa daya, ia harus melakukan hukumannya sekarang. "Dare kan? Aku menantangmu untuk memberikan ciumanmu untuk salah satu dari kita—" Luhan ingin beranjak ke arah Kyungsoo sebelum Jongin melanjutkan ucapannya.. "—kecuali Kyungsoo."
"WHAAAT?!"
"Kutahu kau tidak akan sungkan pada Kyungsoo karena yeah… kalian sama-sama uke."
"AKU INI SEME!"
"Berisik." Jongin berdecih dan teman-temannya hanya tertawa. Gelak Jongdae-lah yang paling keras hingga tangannya menepuk-nepuk paha saking gemas dengan percekcokan dua temannya itu. "Lakukan saja jika kau mengaku gentle dan… manly tentu saja." Seringaian terbentuk di sudut bibir Jongin. Seringaian yang katanya sexy itu justru membuat Luhan mual setengah mati. Dengan ragu-ragu ia menatap Jongdae, mengernyit jijik karena tingkah konyol Jongdae terlihat memalukan. Ia kemudian menatap Jongin, namun ia tak mungkin menciumnya karena mereka itu enemy. Lalu melirik Chanyeol dan pemuda itu mendelik padanya, tanda menolak. Dengan berat hati ia mendekati Sehun.
"Sehuna, bantu hyungmu ini, hm?"
"Tidak."
"Ayolah~" Ia mencoba merayu dan hanya ditatap datar oleh si empunya nama.
"Tidak."
"Ah, masa bodoh!" Kalimat itu menjadi kalimat terakhir Luhan sebelum akhirnya menekan tengkuk Sehun dan menciumnya tepat di bibir. Seluruh teman-temannya bersorak heboh dan Kyungsoo membulatkan matanya takjub. Hanya selama beberapa detik sebelum akhirnya terlepas dan menyisakan wajah memerah Luhan. Sehun mungkin tetap bertingkah acuh namun telinganya begitu merah menandakan kalau wajah flat itu bisa memalu juga. "DIAMLAH!"
"Padahal aku hanya bilang ciuman, bukan berarti ciuman di bibir, bodoh!" Jongin tergelak di tempatnya dan Luhan hanya bisa meruntuki kebodohannya.
Chanyeol tersenyum geli, merasa terhibur. Namun senyumnya sirna bersamaan dengan getaran di ponselnya. Ketika menemukan nama seseorang yang spesial disana, ia bergegas pergi setelah memberikan pandangan pada Kyungsoo dan dijawab anggukan oleh satu-satunya teman normalnya itu. Setelah mencapai daun pintu café, ia pun menggeser tanda hijau di ponselnya.
"Chukkae!" seru suara di seberang. Terdengar begitu merdu dan kekanakan. Nada yang selalu ia rindukan. Senyuman lebar langsung terpatri di bibirnya, nyaris menyamai joker. "Kudengar kau mendaftar di Kyunghee. Kurasa kau akan berhasil." Suara ceria itu, entah mengapa membuat jantungnya berdebar. Ia bahkan bisa membayangkan dengan baik, bagaimana ekspresi puppynya ketika mengatakan itu dengan senyum lebarnya yang manis.
"Hei, bahkan aku baru selesai ujian dan pengumumannya masih seminggu lagi."
"Chanyeora, kau itu si nomor satu sekarang! Luhan yang bilang."
"Jadi, apa kau bangga sekarang?"
"Tentu saja. Chanyeol-ku adalah yang terbaik!" Jantungnya terasa jatuh ke lantai dan tercecer menjadi berlian. Bagaimana nada yang terkesan mengklaim dirinya itu begitu hangat terdengar. Beberapa minggu belakangan memang membuat mereka semakin dekat. Tak seharipun terlewatkan tanpa obrolan di telfon ataupun chat. Meskipun mereka terkesan seperti berkencan, percayalah bahwa mereka belum memiliki hubungan apapun selain persahabatan. "Chanyeora, apa kau sudah makan?"
"Hn, aku bersama yang lain untuk makan siang. Bagaimana denganmu?"
"Selesai dengan bersih."
"Bagaimana dengan obatmu?"
"Sudah." Suara diseberang terkikik geli. "Aku akan berhenti mengkonsumsinya sebulan lagi dan dinyatakan sembuh total. Aku bisa melanjutkan studiku disini dengan baik." Senyuman di bibir Chanyeol sedikit menghilang. Teringat akan jarak mereka yang bermil-mil jauhnya. Ia tak tahu apakah Baekhyun memiliki kekasih disana, apa dia dekat dengan seseorang atau bahkan siapa saja temannya, ia tak tahu. Dan ia sendiri tak berani untuk sekedar bertanya. "Chanyeora?"
"Itu bagus, Bee. Segeralah sembuh."
"Aku baik-baik saja, Chanyeol. Jangan mengasihaniku." Nada disana terdengar sedih dan ia merasa bersalah karenanya.
"Tidak, Bee. Aku hanya khawatir."
"Kau khawatir… padaku?" Suaranya berubah menjadi cicitan ragu namun tersembunyi rasa berharap di dalamnya.
"Tentu saja. Aku mengkhawatirkanmu… selalu."
—e)(o—
"Tentu saja. Aku mengkhawatirkanmu… selalu."
Baekhyun menggigit bibirnya menahan senyuman. Jantungnya berdebar dengan kurang ajar di dalam sana. Jika saja Chanyeol tahu, wajahnya sudah semerah strawberry sekarang. Bahkan ibunya yang tengah melipat baju di nakas samping ranjangnya, tampak tersenyum geli karena tingkahnya yang seperti anak gadis. Jemarinya memilin kemeja warna abu yang ia kenakan, tersenyum begitu lembut. Matanya menerawang keluar sana. Melihat langit malam yang begitu indah dari lantai tujuh tempatnya berpijak. Di Seoul pasti masih siang sekarang.
"Terima kasih—" ujarnya tulus. "—Chanyeora." Ia memalu, kemudian tertunduk dalam. Panggilan kesayangan mereka terdengar cute ketika terucap dari bibirnya. "Baiklah, aku akan istirahat. Selamat malam."
"Hn, selamat tidur, Bee."
Panggilan pun berakhir.
Baekhyun kemudian menatap lembaran file yang tersimpan apik di balik amplop coklat besar ditangannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis. Di dalamnya telah terdapat satu ijazah kelulusan homeschooling-nya dan juga file-file penting untuk kepindahannya ke Seoul dengan tujuan Universitas Kyunghee, jurusan seni musik. Jurusan yang sama dengan Jongdae dan Chanyeol. Ia memeluk amplop coklat itu dengan begitu erat. Merasa sudah sangat dekat dengan kampung halamannya, dan tentu saja… cinta pertamanya yang tidak pernah ia lupakan.
"Selamat sayang, kau sudah berhasil melewati semuanya." Ibunya memeluk dengan erat dan ia balas tak kalah eratnya. Menyembunyikan kepalanya di ceruk leher ibunya, merasa ingin memanja pada wanita yang telah mendukungnya dan membantunya berjuang selama ini. "Jaga kesehatanmu disana, jangan terlalu lelah, dan perhatikan makananmu. Ibu telah menitipkanmu pada Bibi Sooyeon, jadi jangan merepotkannya. Dan… bersikap baiklah pada Soojung, jangan berebut atau pun bertengkar. Jika seluruh urusan disini telah selesai, ibu pasti akan menyusulmu ke Seoul."
"Tenang saja, bu. Aku akan baik-baik saja."
"Baiklah, ibu percayakan semua padamu. Tidurlah, kau akan berangkat jam 10 pagi besok."
"Hn, selamat malam, bu."
"Malam, sayang."
.
"Seoul, aku kembali…" Ia pun menutup matanya dan mulai mengarungi mimpi-mimpi manis.
.
"To Be Continued—"
.
OGP :
Hello again! Semoga tidak terlalu kecewa ama kealay'an bahasanya. Untuk yang request adanya orang ketiga, hmm… aku gatau apakah itu perlu. Oya, tapi jangan terlalu berharap banyak untuk endingnya. Hohoho.
Salam Tsadesst!
