.Lee Seokmin x Jeon Wonwoo.
"Cintailah seseorang sewajarnya saja. Aku tidak tahu batasan wajar dan wajar itu seperti apa. Karna yang aku tahu wajarku adalah apapun untuk mu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2 : Our Way
['Bukan tak ingin ku bersama, namun kesejatian berasal dari ketulusan bukan dari kata tak bertuan−']
"AISH! YAK SEOKMIN!" wonwoo melemparkan rerumputan liar yang baru saja di cabutnya ke arah seokmin yang sama sibuknya dengan sarung tangan mencabuti rumput liar yang rasanya tak ada habisnya itu
"KAU INI KENAPA SIH, BISA DIAM TIDAK" balas seokmin dengan melempar rumput liar ke arah wonwoo membuat wonwoo menghindar walau masih dalam posisi berjongkok
"YAK! KAU SADAR TIDAK. KALAU BUKAN GARA GARA KAU, MUNGKIN SEKARANG AKU SEDANG MINUM JUS STRAWBERRY DI KANTIN" cerocos wonwoo sambil berdiri kemudian melipat kedua tanganya di depan dada
"kau kira aku mau membereskan kekacauan di halam ini hah?" seokmin menghentikan pekerjaanya, kemudian sedikit mendongakan wajahnya agar bisa melihat wajah wonwoo
"aish! Menyebalkan" wonwoo melepas kedua sarung tangan yang ia kenakan untuk mencabuti rumput kemudian membuangnya ke tanah
Seokmin hanya bisa membuang nafas kasar melihat tingkah wonwoo, namun kemudian dia tersenyum
'dasar, tak pernah berubah' bisik seokmin dalam hati
Tiba tiba seokmin berdiri dan memungut sarung tangan yang tadi wonwoo hempaskan ke tanah
Segera ia berjalan ke arah wonwoo yang memang berjarak sangat dekat darinya. Seokmin menarik tangan wonwoo dan memakaikan kembali sarung tangan tersebut, begitupun sarung tangan yang kiri. Wonwoo hanya diam masih dengan alis yang berkerut kesal
"kajja, cepat selesaikan pekerjaan bodoh ini lalu kita minum jus strawberry"seokmin menggandeng tangan kanan wonwoo mengajaknya ke sisi lain taman yang masih banyak terdapat rumput liar
"jus strawberry dengan jajangmyeon, kau yang traktir" tawar wonwoo sambil menarik tanganya dari gandengan tangan seokmin dan kembali melipatnya di depan dada
"yak! Kau ingin membuat ku bangrut!" protes seokmin
Wonwoo hanya mengerucutkan bibirnya tanda moodnya semakin buruk mendengar protes seokmin barusan
Dan sekarang seokmin malah sibuk berfikir bagaimana cara agar dia tidak menerjang wonwoo sekarang juga, sungguh sulit melihat wonwoo yang terlihat ugh.. mengemaskan seperti ini
Iingin sekali seokmin mengabadikan moment ini, Mengingat seorang jeon wonwoo tak akan mungkin ber pout di muka publik. image sok cool yang di buatnya sukses membuat sifat kekanak kanakanya ini terkamuflase dengan baik
"dasar pelit! Pelit! Pelit! Pelit! Pelit! Pelittttt!"
"arraseo arraseo! Jus strawberry dan jajang myeon" seokmin akhirnya mengalah membuat wonwoo merubah air mukanya
"ASIKKKKKKK YEY!" wonwoo membuat gerakan selebrasi yang cukup heboh dengan melompat lompat kesana kemari, sedikit berputar dan gerakan unik lainya membuat seokmin tertawa
"kkk dasar" seokmin terkekeh kecil dan kemudian memamerkan senyum lembutnya
'ya, hanya kau, si bodoh yang selalu berhasil membuat ku tertawa' seokmin kian lekat memandangi wonwoo
"kajjaaaaa" selesai berselebrasi wonwoo menggandeng tangan seokmin dan menariknya menuju bagian yang harus mereka bersihkan dari rumput liar berikutnya
"aigo darimana datangnya semangat ini hm?" seokmin hanya berdecak heran dan mengikuti dengan pasrah kemana arah wonwoo membawanya
Seokmin dan wonwoo kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Sesekali mereka bertukar candaan bahkan saling menghina satu sama lain
_Beberapa jam kemudian_
Tidak terasa hampir setengah halaman selesai mereka bersihkan
"aigo rasanya pinggangku mau copot" wonwoo merenggangkan otot pinggangnya dengan gerakan pereganggan ringan
"sepertinya hari ini cukup sampai di sini dulu" seokmin ikut memegang pingganya yang sungguh terasa pegal karna kelamaan berjongkok
"waaaaaah kyum lihat! Seperti bukan halamn samping saja"
Wonwoo tersenyum bangga melihat hasil kerjanya bersama seokmin
Kini halaman samping sekolah tersebut terliah lebih layak di pandang
Memang halaman ini tidak seluas halaman depan dan belakang sekolah. namun cukup memadai untuk di jadikan tempat beristirahat, ya walaupun letaknya memang kurang strategis karena untuk mencapai halam ini kita harus melewati beberapa lorong sekolah
"ternyata tidak sia sia rasa sakit di pinggang ku ini" sekomin memukul pinggangnnya berusaha menghilangkan rasa pegal yang masih terasa
"dasar kaunya saja yang seperti kakek kakek" wonwoo mencibir seokmin dengan wajah meledeknya
"mana ada kakek kakek setampan diri ku" seokmin malah membuat tanda V dengan jempol dan telunjuknya kemudian menaruhnya di bawah dagu, bergaya dengan penuh percaya diri
"cih, tampan apanya. Dasar wajah keledai" wonwoo kembali mencela seokmin
"dengan wajah keledaiku saja penggemarku sudah banyak, sungguh membingungkan" sekarang seokmin bergaya bak orang yang sedang berfikir dengan sebelah tangan mengelus elus dagunya sendiri
"aigo, sungguh kepercayaan dirimu sudah di ambang batas kewajaran" dengan memamerkan wajah pura pura kasihan sambil bergeleng geleng wonwoo terus melihat tingkah seokmin yang membutnya harus menahan tawanya
"ah sudahlah bicara terus dengan mu membuat ku haus" tiba tiba seokmin melepas sarung tangan nya dan kemudian meraih kedua tangan wonwoo
Ia lepaskan sarung tangan yang masih melekat di tangan wonwoo dan menaruh dua pasang sarung tangan tersebut di sebuah kantung
Setelah itu dengan sebelah tanganya seokmin menggandeng tangan wonwoo membuat si empunya tangan kaget dan refleks menarik tanganya, namun gagal
"ck ayolah" seokmin yang sukses masih menggandeng tangan wonwoo erat sekrang menatap wonwoo mencoba meminta persetujuan untuk tetap mendekap tangan itu di gandenganya
Wonwoo yang di tatap malah membuang muka dengan wajahnya yang terlihat tersipu, membuat seokmin tersenyum lebar dan melanjutkan langkahnya menuju kantin
_Di Kantin_
Sesampainya di kantin mereka berhasil menyedot perhatian beberpa murid yang sedang asik bercengkrama di sana
Wonwoo dan seokmin yang sudah biasa dengan tatapan tatapan dan bisikan bisikan tersebut berusaha tidak menggubrisnya dan terus berjalan masih dengan tangan yang saling bertautan mencari spot kosong yang bisa mereka tempati
"wonwo! Seokmin!" sapa sebuah suara yang ternyata berasal dari seorang namja yang sudah mereka kenal dengan cukup baik
Seokmin segera menarik tangan wonwoo menuju meja di pojok kantin menghampiri namja yang barusan memanggil nama mereka
"annyeong!" seokmin dan wonwoo berdiri di ujung meja masih dengan tangan yang saling bertautan
"bagimana apakah halaman samping sudah beres?" tanya seungcheol
"tenang hyung sebentar lagi beres" jawab wonwoo dengan penuh kebanggan
"kalian harus tau pinggang ku hampir patah berjongkok terus tadi" keluh wonwoo mebuat junghan dan hoshi yang duduk bersebelahan mentap wonwoo dengan tatapan meledek
"aigo kenapa pinggang mu tidak patah saja sekalian" ucap hoshi dengan wajah yang di buat terlihat sedih
"apa kau tega melihat kawan mu patah pinganggnya hah?" wonwo mengelus rambut hoshi kemudian perlahan lahan menjabaknya membuat si empunya kesakitan
"yaak!" hoshi memukul tangan wonwoo membuat wonwoo melepas tanganya dari rambut berwarna terang hoshi dan malah tertawa ringan
"bahahah harusnya kau tarik lebih kencang" ucap junghan sambil ikut tertawa
Suasana semakin ramai dengan kedatangan wonwoo dan seokmin
Hoshi yang sedang sibuk tertawa tibatiba menghentikan tawanya. Seorang namja tampan yang duduk bersebrangan dengan junghan sekarang menyedot perhatianya
Ekspresi namja itu sungguh sulit di artikan namun kini matanya memandang urus ke satu arah
Kim mingyu, namja yang tingkat kepopuleranya tak perlu di tanyakan lagi. Semenjak pindah ke International Korean High School 1 bulan lalu mingyu sudah menjadi pusat perhatian berkat wajah tampan dan pesonanya yang memang tak bisa di tolak
Hoshi meluruskan arah pandangan mingyu yang intens tersebut. Saat dia mendapati hal apa yang begitu menyita perhatian mingyu, hoshi tersenyum lebar dan segera merumuskan beberapa hal di otaknya
Saat yang lain sedang asik mengobrol tiba tiba hoshi mengambil alih perhatian mereka dengan berdehem
"aigo kim mingyu, semenarik itukah tautan tangan seokmin dan wonwoo?"
Mingyu langsung mengalihkan pandanganya dari tautan tangan seokmin dan wonwoo sambil berusaha agar tidak tersedak oleh jus jeruk yang sedang ia seruput
Seluruh pandangan kini beralih bergantian dari tautan tangan seokmin wonwoo dan mingyu yang hampir tersedak
Refleks wonwoo menarik tanganya dari tangan seokmin dan menyembunyikanya di baik tubuhnya
"wah~ hoshi-shi kau seorang pengamat yang baik ne" cerocos jughan sambil menepuk nepuk pundak hoshi
"ah menurut mu bagimana kelanjutan kisah ini?" sekarang seungcheol yang duduk di sebelah kanan junghan berlagak layaknya wartawan menjadikan botol air mineral di hadapanya sebagai mic dan menyodokanya kepada hoshi
"ya sepertinya ini kan menjadi kisah yang rumit" tutur hoshi dengan wajah yang dibuat serius
"cih, bodoh" cibir kekasih hoshi, jun yang duduk bersebrangan dengan hoshi
"yak!" bentak hoshi tidak terima dengan cibiran jun
"terserah" jawab jun singkat sambil kembali meneguk jus di hadapanya dengan tenang
"aish kau-"
"sudah sudah, aku jadi makin lapar mendengar gosip murahan ini" seokmin akhirnya angkat bicara
Seokmin berjalan ke belakang wonwoo kemudian memegang bahu wonwoo dengan kedua tanganya, ia dorong wonwoo perlahan menuju bangku kosong di sebelah seungcheol dan mendudukan wonwoo di situ
"jus strawberry dan jajangmyeon kan? Tunggu sebentar" seokmin segera beranjak untuk memesan makanan
"huuuu~" hoshi, junghan dan seungcheol memeluk diri mereka masing masing berekting layaknya orang yang sedang kedinginan melihat perlakuan seokmin pada wonwoo
"yak! Kalian bisa diam tidak!" bentak wonwoo dengan wajah yang terlihat tersipu
Sementara itu seorang namja yang sekarang duduk bersebrangan dengan wonwoo menatap kepergian seokmin yang sedang memesankan makanan dengan tatapan yang terlihat aneh
"jihoon apa kau baik baik saja?" tanya junghan yang melihat sekertarisnya di osis itu hanya diam dengan raut waah yang sulit di artikan
"eh? Gwaenchana. Aku hanya sedang menikmati jus ku ini hehe" tuturnya terdengar canggung
Wonwoo memandang jihoon dan segera mengulurkan tanganya ke arah jihoon, mengingat ini kali pertama mereka duduk di meja yang sama
"annyeong, jeon wonwoo imnida. Kau bisa memanggil ku wonwoo, kau anak osis kan? Terimakasih sudah menjaga junghan hyung yang merepotkan ini" cerocos wonwoo
"ah ne, lee jihoon imnida. Kau bisa memanggil ku hyung. ah tidak junghan banyak berperan aktif di osis dia wakil yang baik" jihoon membalas uluran tangan wonwoo dan mereka berjabat tangan sekilas
"kau dengar tidak tadi apa kata jihoon huh?" ucap jeonghan tidak terima dengan perkataan wonwoo
"jihoon hyung kau sudah di doktrin apa saja oleh junghan hyung eoh? Katakan saja pada ku" tanya wonwoo pada jihoon berusaha meledek jeonghan
"yak jeon wonwoo" kini junghan dan wonwoo malah terlibat dalam permainan menghindar dan memukul yang menjadikan seungcheol korban akibat dari duduk di antara dua sahabat sejak kecil tersebut
Jeonghan dan wonwoo sudah bersahabat sejak kecil. Rumah mereka yang bersebelahan membuat mereka menjadi akrab, perbedaan umur mereka yang hanya berjarak satu tahun juga menjadikan apa yang mereka bahas tak jauh berbeda dari remaj remaja lain bicarakan
"ah seokmin kenapa lama sekali cacing cacing di perut ku sudah berdemo" wonwoo yang lelah sehabis memberikan pukulan pukulan ringan pada junghan kini membaringkan sebagian tubuhnya di meja kantin di hadapanya yang masih kosong
Saat wonwoo tidur dengan wajahnya yang menghadap kesamping ingin memejamkan matanya, tiba tiba sebatang coklat muncul di penglihatanya
"coklat!" serunya sambil kembali menegangan duduknya
Mingyu yang melihat reaksi wonwoo tersenyum senang, untunglah tadi ia sempat membeli salah satu makanan favorit wonwoo itu
"mau?" tawar mingyu
Dengan mata yang berbinar wonwoo mengangguk, dan sekarang dia terlihat seperti anak anjing yang akan di beri makan oleh tuanya
"pft dasar" hoshi tertawa diam diam melihat tingkah sahabat sekaligus teman sebangkunya itu, tak habis fikir semudah itu sahabtanya di pancing dengan sebatang coklat
"ambilah, dan habiskan" mingyu menyodorkan coklatnya kepada wonwoo
Saat wonwoo ingin menerimanya seokmin datang dan segera menaruh nampan berisi makan siangnya bersama wonwoo
Dengan cepat seokmin mengambil coklat di tangan mingyu dan meletaknya jauh dari wonwoo
"Yak!" wonwoo berusaha mengambil coklat yang sekarang seharusnya jadi miliknya itu
"kau belum sarapan kan dari tadi pagi? Habiskan makan siang mu baru kau makan benda ini" seokmin segera memindahkan jajjangmyeon di nampan ke hadapan wonwoo beserta jus strawberry yang terlihat sangat segar
Sementara itu mingyu hanya mendengus kesal dan kembali memasang wajah coolnya menyembunyikan kekesalanya pada seokmin
"aish, arraseo" jawab wonwoo dengan nada kecewa
"MARI MAKAAAAN" dan dengan secepa kilat mood wonwoo kembali membaik segera setelah melihat menu makan siang yang ada di hadapanya itu
Mingyu yang melihat wonwoo makan dengan lahap tak bisa menahan senyumnya, seokmin yang sadar sesekali melirik mingyu dan wonwoo secara bergantian
Suasana berubah sedikit lebih sunyi saat para penghuni di meja di pojok kantin itu memiliki kesibukanya sendiri
Hoshi yang sedang berdebat dengan jun, seungcheol yang sedang menggoda junghan serta mingyu dan Jihoon yang sama sama hanya terdiam menatap kedua mahkluk yang sedang menyantap makananya
Namun tiba tiba wonwoo menghentikan acara makanya dan melihat ke arah mingyu
"oh iya mingyu" terlihat mingyu sedikit terkejut karna ketauan sedang menatap wonwoo yang ada di hadapanya
Dan berterimakasihlah karna wonwoo tidak sempat mempermasalahkan hal tersebut sama sekali
" terimakasih atas coklatnya, nanti ku ganti uangnya" lanjut wonwoo sambil tersenyum ke arah mingyu
Mingyu terkekeh mendengar ucapan wonwoo barusan
" Tak usah kau ganti, itu sengaja ku belikan untuk mu" mingyu memamerkan smirknya membuat wajahnya terlihat semakin tampan
"eh? Benarkah? Untuk apa?" tanya wonwoo
Plok plok plok plok
Terdengar suara tepuk tangan dari ujung meja tersebut yang ternyata berasal dari jun
"hebat kau jeon wonwoo"
Hoshi yang paham akan maksud kekasihnya menahan tawanya
Ya jeon wonwoo, manusia yang ketidak pekaanya mendarah daging sejak lahir membuatnya kadang menjadi korban
Korban orang orang yang jatuh hati padanya
Jelas jelas mingyu mengambil langkah kecil untuk menunjukan ketertarikanya kepada wonwoo, namun memang dasar wonwoo hanya tau aku-di beri-coklat membuat usaha mingyu sepertinya gagal
"hm, baiklah aku akan berusaha lebih baik lagi" ucap mingyu sambil berdiri dari duduknya
"aku duluan ne, aku harus menyusun strategi yang lebih baik. Mengingat lawan ku yang cukup tangguh" ucap mingyu sambil melirik ke arak seokmin sekilas dan kemudian membalik badanya untuk segera beranjak dari tempat tersebut
"annyeong~" mingyu melambaikan tangan tampa berbalik badan dan bayanganya pun hilang di balik pintu masuk kantin
"ckckck dasar jiwa jiwa pemberontak" komentar seokmin
"siapa? Mingyu?" tanya wonwoo
"sudah cepat habiskan saja makanan mu" jawab seokmin sambil menyuapi jajangmyeonya ke mulut wonwoo membuat wonwoo batal berkomentar dan dengan tenang mengunyah jajangmyeon di dalam mulutnya
"masa lalu atau masa depan. Mana yang akakan kau pilih jeon wonwoo ?" jun tiba tiba ikut berdiri dari duduknya kemudian menarik tangan hoshi untuk ikut bersamanya
"e-eh semuanya, kam duluan ya" ucap hoshi yang di seret kekasihnya menuju pintu keluar
Wonwoo hanya terdiam mendengar pertanyaan jun barusan
Tbc
Halo ! ngga nyangka bakal ada yang nge review hehe. Makasih buat yang udah review, berkat kalian aku jadi semangat buat lanjutin fanfiction ini. Dan maaf jika di chpater 2 ini ceritanya kurang memuaskan atau masih banyak typonya. Reader-nim jangan berpaling ya ! ya ! ya ! ya ! yaaaa! / maksa/. Sejujurnya saya adalah meanie shipper juga, tapi karna saya gemes liat wonwoo sama seokmin akhirnya terciptalah pairing ajaib ini : ')
Buat next chapter minta kritik dan saranya lagi ya reader tersayang ~ kkkkk.
THANKS TO :
Seokmin97 | Iceu Doger | Park Mitsuki | Bsion | kookies | Shinhy | Evieana689
