BIKER BILLIONAIRE:

A WILD RIDE (REMAKE)

Pairing : SICHUL Slight HANCHUL

Main Cast : Choi Siwon, Kim Heechul, Tan Hangeng and Super Junior Member

Genre : Romance Erotic

Rate : M

Chaptered

Warning: Genderswitch for Uke, OOC, Many Typos, IF YOU READ DON'T BASH

Disclaimer: The story line is belong to JACINDA WILDER as Writer of BIKER BILLIONAIRE. The caracters inside are belong to God and themselves.

*This is an explicit, erotic fiction for adults only! Contains super hot*

Aku bersin, tentu saja aku tidak pernah bersin hanya sekali, selalu setidaknya tiga kali. Dan iya aku bersin tiga kali, berturut-turut. Aku nyaris tidak memalingkan kepalaku agar aku tidak bersin di wajahnya. Dan kemudian aku mulai batuk dan menggigil.

Siwon mengumpat dengan lancer dan bangun dari atas tubuhku. "Ya Tuhan, aku seperti orang brengsek," katanya. "Kau mungkin kena pneumonia dan aku malah menggerayangimu."

Dia mengangkat tubuhku lagi dengan mudah dan membawaku ke kamar mandi pribadi. Dibandingkan dengan kamar mandi apartemenku, ini adalah sebuah istana, semuanya berlapis marmer mengkilap dan stainless steel. Dia menurunkanku di dalam bak mandi dan memutar shower.

Aku menatapnya, lapar akan dirinya. Dia mengenakan T-shirt basah, hitam polos di tubuh yang benar-benar luar biasa berotot. Celana jeansnya yang ketat di pantatnya, dan dia masih tegang di balik ritsletingnya. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tak seharusnya berada disini, aku tidak boleh melakukan ini dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal.

Tapi kenapa tidak? Mengapa aku tidak melakukan ini? tak ada yang menahanku, benar kan? Sebuah pikiran yang mengganggu muncul di kepalaku, mengingatkan aku tentang tamu bulananku, tapi aku mendorong pikiran itu pergi. Mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu hanya disebabkan oleh stress sehingga membuatku jadi terlambat.

Aku berdiri dan membuka ritsleting gaunku, menunggunya untuk berbalik dan menyesuaikan suhu air. Dia melihat aku berdiri, gaun menggantung di bahuku, membuat matanya melebar. Aku menarik satu lengan keluar dari tali, dan kemudian yang lain, dan gaun hijau tipisku jatuh ke lantai meninggalkanku berdiri kedinginan hanya dengan bra renda merah dan celana dalam sepadan. Jantungku berdebar begitu keras hingga aku yakin dia akan mendengarnya.

Aku mengenakan pakaian dalam yang sepadan dengan harapan bahwa kencan dengan Hangeng akan menuju ke arah seks yang panas, dan sekarang aku senang karena disini ada dewa seks yang lebih panas, 193 cm dan bertubuh seperti dewa Yunani.

Aku menatap matanya, menelan kegugupanku dan menjangkau punggungku untuk melepas kaitan bra. Aku menyelipkannya turun dari bahuku dan mengulurkannya padanya dengan ujung jari. Dia menerima dengan kepalan tangannya, tidak bergerak ke arahku. Dia menjadi lebih keras dan lebih besar lagi, dan aku menjilat bibirku. Aku mendorong tali thong-ku turun ke sekitar pinggulku, menggoyangkan celana dalamku keluar. Aku membungkuk, mengangkatnya dan menyerahkannya pada Siwon, yang kali ini menerimanya dengan tangan gemetar.

Tangannya yang gemetar membuatku meleleh, kurang sedikit lagi. Dan tentu saja aku bersin lagi, enam kali.

Tatapannya menjelajah ke seluruh tubuhku, kemudian menyentuh lututku yang tergores dan masih berdarah, juga telapak tanganku. "Kau berdarah," katanya.

Dia menuju ke lemari obat kecil dan mengeluarkan segumpal kapas dan peroksida.

"Duduk," perintahnya dengan suara serius dan tidak bisa dibantah.

Aku duduk telanjang di toilet, porselennya terasa dingin di bawah pantatku. Dia menuangkan peroksida di atas kapas dan memegangnya di dekat lututku, sambil berjongkok. Wajahnya sejajar dengan payudaraku, dan putingku berdiri keras di bawah tatapannya. Aku memaksa lututku terbuka dan matanya mengikuti gerak ke selangkanganku, dengan pubis yang dipotong pendek tapi tidak dicukur habis.

"Ini akan sedikit menyengat," katanya. Sesuatu dalam suaranya dan tatapannya fokus. Dan dengan terlihat terlatih ia mengoleskannya pada lututku, cukup menjelaskan padaku dia pernah mendapatkan pelatihan medis atau sejenisnya.

Aku mendesis karena rasa menyengat itu, tapi tidak bergeming. Dia menyeka lukaku hingga bersih dan pindah ke lututku yang lain, lembut dan menyeluruh. Dia mengambil tanganku dan juga membersihkannya.

"Kau pernah melakukan ini sebelumnya," ini sebuah pernyataan.

"Melakukan apa?" ia bertanya tanpa menatapku.

"Membersihkan luka," kataku. "Kau pernah mendapatkan pelatihan medis, benar?"

Dia mengangguk, "Ya, aku adalah dokter militer. Aku pernah turun ke pertempuran di Iran dan Affhanistan."

"Kau melihat eprtempuran?"

Dia mengangguk dan ketegangan di bahunya menyatakan padaku untuk tidak menanyakan topik itu lebih jauh. Dan aku menurut. Dia membuang gumpalan kapas berdarah.

"Mauklah dan hangatkan tubuhmu. Aku akan meletakkan pakaianmu di mesin pengering."

Dia berbalik untuk pergi, namun aku meraih tangannya.

"Terima kasih," kataku.

Dia mengangguk dan meninggalkan kamar mandi, tapi tidak pergi begitu saja tanpa memandang tubuh telanjangku dengan begitu lama.

Aku mandi, menikmati air panas. Itu jelas tempat tinggal seorang bujangan, ia hanya memiliki satu botol shampoo two-in-one dengan kondisionernya, satu botol sabun cair dan satu busa penggosok berwarna hitam. Aku menggunakan apa yang dia punya, berdebat pada kehigienisan menggunakan busa penggosok seorang pria, namun pada akhirnya keinginan untuk menjadi bersih yang menang.

Sebuah handuk hitam tebal tergantung di dinding, bersih dan kering, dan aku menggunakannya. Membalutkannya sampai ke batas dadaku. Dia hanya memiliki satu sisir, yang aku yakin tidak akan berhasil pada rambutku yang ikal, jadi aku mengabaikannya.

.

.

.

Aku menemukannya di dapur sedang membuat kpi, mengenakan celana jeans biru yang bersih dengan t-shirt tanpa lengan Led Zepplin yang sudah pudar. Dia mendengar aku yang datang dan mendongak, tangannya berhenti mengaduk kopinya, menatapku. Tatapannya intens, melahapku. Aku memutuskan untuk pura-pura malu.

"Apa?" aku bertanya, menampilkan sosok yang polos dan sopan.

"Kamu. Hanya…kau."

"Kenapa denganku?" aku melangkah memutari meja ke arahnya.

Dia mundur, meletakkan kopinya. Aku mengikutinya sampai ia menempel di meja konter.

"Kau seksi," katanya, suaranya serak, matanya menyapu pada handuk yang membungkus belahan dadaku dan rambut kusutku. "Kau tak tahu pengaruh apa yang kau berikan padaku."

"Kurasa aku mungkin tahu," kataku.

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau benar-benar tidak tahu."

Aku membuka kancing celana jeansnya, mencium rahangnya. "Kalau begitu tunjukkan padaku," bisikku.

Aku membuka ritsleting celana jeans, tapi ia menangkap tanganku. "Heechul kita baru saja bertemu ini…..ini gila. Aku tahu aku menciummu dulu, tapi aku tak bisa menahannya. Saat bertemu denganmu, kau kelihatan begitu marah dan basah, dan luar biasa seksi."

"Ini gila," kataku. "Tapi aku menginginkannya. Aku ingin melakukannya karena ini gila. Kau tak mirip siapapun yang pernah kutemui, dan dalam hidupku selama ini aku bersikap cerdas, mengambil keputusan yang bertanggungjawab satu persatu. Kau membuatku gila dan impulsive, dan aku menyukainya."

Suaranya serak, dan jari-jarinya mengendurkan cengkramannya di tanganku. "Dengar, kutahu aku kelihatan seperti biker yang keras dan kasar, tapi aku bukan tipe pria one-night stand."

Ada sesuatu yang menusuk dalam diriku. Itu bukannya rasa bersalah, tapi mirip semacam itu. Apa yang aku inginkan, hubungan jangka panjang? Aku tidak berpikir sejauh itu. Yang aku tahu adalah rasa membakar dari arah perutku, kelembaban di antara pahaku, dan tanganku yang berusaha menyentuh kejantanannya.

"Jadi? Ini tak harus one-night stand." Aku mengubah taktik dan memindah tanganku menjauh dari pangkal pahanya, dan ia melepas tanganku.

Aku menyelipkan tanganku sampai ke bawah t-shirtnya untuk menggerakkan telapak tanganku di atas perutnya yang sekeras tembok.

"Heechul, aku…Ya Tuhan kau membuatku gila." Dia memiringkan kepalanya ke belakang dan matanya bergetar dalam kenikmatan saat aku menjalankan tanganku di atas kulitnya, mengeksplorasi otot panasnya. "Kau mendorongku sampai ke batas kemampuanku. Aku tak akan bisa menahan diri dalam hitungan detik."

"Bagus," bisikku, bibirku menempel pada nadi di tenggorokannya.

Tanganku menelusuri dadanya, memancing ereksinya sekali lagi. Aku benar-benar ingin melihat kemaluannya, tiba-tiba miliknya melompat bebas dari dalam celananya sehingga aku bisa menyentuhnya, menempatkan miliknya di mulut dan vaginaku.

Aku hampir mengatakan itu padanya, tapi aku tidak begitu impulsive, belum.

Dia meraih tanganku, dan dengan lembut tapi tegas mendorong tanganku untuk menjauh darinya. "Sialan, aku mencoba bersikap terhormat disini. Ketika aku memboncengmu, aku bersikap baik. Sopan, jika kau mau menganggapnya begitu. Aku tidak ingin seperti ini. maksudku, Ya Tuhan aku memang menginginkanmu, kau begitu seksi sampai aku tak bisa tahan, tapi aku tidak berpikir kau-"

"Siwon dengarkan aku, aku belum pernah sekalipun melakukan hal seperti ini dalam hidupku. Aku hanya bercinta dengan Hangeng, dan dengan dia itu…selalu sama, cukup sama, dan aku mendapat orgasme, terkadang tapi membosankan." Aku menjatuhkan tanganku ke samping tubuhku dan mencoba menjalankan jariku di atas rambut kusutku. "Aku ingin lebih, Hangeng…dia baik, dan tenang, stabil, bisa diprediksi menjadi membosankan. Dia marah kalau aku mengumpat, yang sering aku lakukan tentu saja karena aku tumbuh bersama tiga kakak laki-lakiku. Ia hanya bisa bercinta di kegelapan dalam posisi misionaris. Dia bekerja di bank dan memakai celana khaki dan kemeja rapi, bahkan di hari Sabtu. Dia tidak pernah minum lebih dari tiga gelas bir dan ia benci melakukan oral padaku, dan tak suka kalau aku melakukan oral padanya. Dia satu-satunya pria di seluruh dunia yang tidak suka mendapat oral."

Aku sudah memainkan peranku sekarang, mengakui hal-hal yang bahkan aku sendiri tidak pernah mengakuinya pada diri sendiri, apalagi mengatakannya dengan suara yang keras.

"Aku sudah bersama Hangeng sejak aku 19 tahun, ia adalah pacar pertamaku dan ia satu-satunya. Aku bosan dengan Hangeng, aku menginginkan lebih. Aku ingin kegairahan. Aku menginginkanmu. Ya, aku takut sekali kin. Semua yang aku miliki adalah atas nama Hangeng, dan aku ada disini denganmu sekarang. Entahlah kau…kau membuatku terangsang tanpa usaha. Kau menciumku di lift dan aku bersumpah bahwa jantungku berhenti."

Aku terengah-engah saat ini, panas, aku berbicara sambil tangan memberi isyarat dan rambutku terbang. Siwon mengawasiku lekat-lekat, matanya mengkhianati ketertarikan, nafsu kasih sayang…terlalu banyak hal yang harus disebutkan. Mata pria itu luar biasa ekspresif, aku benar-benar tersesat. Aku menemukan diriku tenggelam dalam matanya yang hitam legam.

Ketika Siwon tersadar aku kehabisan tenaga, ia melangkah ke arahku, memelukku dan menciumku. Tangannya menelusuri punggungku sampai dengan bahuku, turun ke tepi bawah handuk pada pahaku. Tangannya menemukan pantatku, menangkupkan tangannya dengan ragu-ragu tapi lembut. Aku melengkungkan punggungku dan menggerakkan tanganku di atas punggungnya yang keras.

"Apa kau takut padaku?"

"Tidak," kataku. Itu tidak bohong, tapi bukan juga kebenaran. Aku menginginkan apa yang dia lakukan padaku, tapi juga merasa takut pada saat bersamaan.

"Jadi kenapa kau gemetar?"

"Karena aku sangat menginginkanmu." Aku tersenyum malu-malu, tapi bukan saatnya untuk bersikap malu-malu. "Kau membuat darahku mendidih," aku mendorong pinggulku ke arahnya. "Kau membuatku basah."

Dia menyeringai dan menunduk untuk menciumku, sentuhan cepat pada bibirku. "Selama kau yakin. Aku tak ingin kau merasa dirayu oleh seorang pria sepertiku."

Aku memutar mataku, "Aku sudah bilang, aku salah menilaimu. Dan aku sudah minta maaf."

Dia menggelengkan kepalanya. "Kau tidak salah, tidak sepenuhnya. Aku memang kasar, dan ada saatnya aku siap bercinta pada saat itu juga. Aku malah jadi bosan. Itu jadi tidak punya makna lagi, atau bahkan setiap kenikmatan yang nyata sehingga aku berhenti untuk sementara."

"berhenti? Maksudmu seks?"

Dia mengangguk, "Ya, itu sudah lebih dari setahun."

Aku menatapnya lagi, dengan rasa kagum dan sedikit terpukau. "Aku tak bisa membayangkan setahun tanpa seks. Hangeng dan aku melakukannya tidak setiap hari, tapi itu biasanya setidaknya sekali seminggu. Bagaimana kau bisa tidak gila?"

Dia mengangkat bahu. "Yah aku melakukan banyak hal, dan pekerjaanku tidak menyisakan banyak waktu untuk main-main."

Aku mengambil kopinya dan meneguknya, kemudian bertanya. "Jadi apa pekerjaanmu?"

"Aku dokter. Saudaraku dan aku menjalankan sebuah perusahaan nirlaba yang bernaman "Rescue Medic Enterprises". Kami seperti dokter tanpa batas wilayah, tapi itu hanya tiga saudara laki-lakiku. Kami pergi ke Negara-negara dunia ketiga dan sebagian besar memberikan perawatan medis di daerah berbahaya, atau tempat-tempat dimana organisasi nirlaba lain tidak akan pergi. Aku baru saja kembali dari merawat korban perang saudara di Afrika, dan aku mungkin segera kesana lagi."

"Jadi kau sengaja, suka rela masuk ke zona perang di Negara dunia ketiga untuk mengobati orang-orang yang sakit?"

"Ya, seperti itu." Dia menuangkan secangkir kopi baru dan kami berdiri menghirup minuman kami.

Aku menjadi menginginkannya lebih dari sebelumnya, tapi aku tidka merasa terburu-bur. Kami telah melewati tahap dari meraba satu sama lain sampai percakapan pribadi sengan cara yang aneh, dan aku menikmati ketegangan yang terbangun. Ditambah, dia sangat menarik. Dan aku ingin mengenalnya lebih jauh.

"Itu luar biasa," kataku.

Dia hanya mengangkat bahunya lagi, acuh tak acuh dan tidak menganggap itu penting. "Apa pekerjaanmu?" dia memiringkan kepalanya ke arahku.

"Aku seorang perawat UGD."

Dia menyeringai, "Sejiwa ternyata. Apa kau menyukainya? Bekerja di UGD?"

Aku mengangguk, "Aku menyukainya. Aku suka kesibukan yang terus menerus, kesigapan dan kegairahannya, dan suka membantu orang."

Dia mengangguk, dan terlihat sepertis edang mempertimbangkan sesuatu, tapi kemudian melewatkannya. Lalu ia menaruh cangkirnya, pergi mendekatiku. Aku juga menaruh kopiku dan berdiri diam, menunggu.

Dia tidak membetulkan celananya, dan saat ia mendekatiku, tanganku bergerak atas kemauannya sendir, meraih ke arahnya. Menyentuh pinggir celana dalamnya, menyentuh pinggulnya. Dia menekanku ke arah meja.

"Kesempatan terakhir," katanya. "Aku masih akan membawamu ke tempat lain, tak ada pertanyan yang diajukan."

Aku menggeleng, menyelipkan tangan di bawah celana dalamnya untuk menangkup kulit pantatnya yang ketat.

"Jadi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu," geramnya.

Dia mengangkat tubuhku sekali lagi dan membawaku ke kamar tidur, menempatkanku di tengah-tengah ranjang, berlutut di atasku. Dia membuka lilitan handukku, satu demi satu. Menariknya bebas, ia menarik satu ujung ke sisi yang lain, memamerkan tubuhku pada matanya yang lapar.

"Ya Tuhan, kau seksi," suaranya rendah, begitu mendalam dan gemuruh nyaris tak terdengar.

Aku menggeleng, Hangeng bukanlah orang yang suka memberikan pujian, dan kepercayaan diriku sedang naikturun. Siwon adalah jenis orang yang bisa mendapatkan super model, aktris papan atas, bukannya gadis seperti aku.

"Ya, kau seksi. Kau seorang dewi. Kau memiliki tubuh yang sempurna." Tangannya menelusuri perutku, di antara payudaraku dan naik untuk menangkupnya, mengangkatnya, menggososk ibu jarinya di atas putungku. "Aku tidak sabar untuk mencicipi dirimu utuh."

Tangannya seperti sihir di payudaraku, membuatku melengkung dan menggeliat dengan hanya tangannya di payudaraku. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke bahuku, mencium dengan ujung lidahnya, menggeser bibirnya menyeberang ke dadaku dan turun antara buah dadaku, mencium satu sisi yang lain kemudian sisi yang lain. Dia mengangkat satu payudaraku, mencium bawahnya, kemudian mencium puting yang satu dan mencium yang lain. Aku tenggelam dalam aksinya, hanya berbaring di sana dengan tanganku di punggung dan bahunya, kepala miring ke belakang dan mata sedikit terpejam.

Aku merasakan sesuatu yang tebal menekan clit-ku, dan kupikir dia entah bagaimana telah melepas celananya tanpa aku sadari. Tapi ternyata itu adalah jarinya, menelusuri melingkari di sekitar intiku, membesar dan basah, meluncur turun untuk mendorong masuk ke dalam, meluncur keluar dan kemudian masuk, kemudian kembali ke clit-ku. Aku belum terengah-engah, tapi nyaris. Aku menekan tulang belakangku ke tempat tidur dan ingat bahwa aku punya tangan juga, dan bahwa aku ingin menyentuh dirinya. Aku mendorong celana jeansnya sampai turun dari pinggulnya, dan ia menggoyangkan keluar dari celananya, menendangnya tanpa ragu.

Tanganku menemukan jalan untuk ke pantatnya, dan aku kagum pada kenyataannya bahwa pantatnya pun berotot dan kencang.

Tiba-tiba aku menyadari betapa kecil dan lunaknya milik Hangeng, dan kemudian aku mengusir semua pikiran tentang mantan tunangan dari pikiranku. Dia mungkin juga telah menghilang dari hidupku pada saat itu, sejauh yang aku tahu.

Bibir Siwon perlahan mulai turun secara bertahap, mencium tulang rusukku, dan kemudian perut, pusar dan kedua tulang pinggulku. Dia mengangkatku dan emnarikku ke ujung tempat tidur, tergelincir dan kemudian lututku berada pada pundaknya. Lidahnya menjilati paha bagian dalamku, dan bibirnya menekan ke labiaku, janggutnya yang pendek menggesek pahaku.

Aku melebarkan lututku terbuka, melengkungkan punggungku karena aku merasa lidahnya menemukan clit-ku, berputar-putar dalam lingkaran lambar. Aku terkesiap, menarik napas dengan lembut. Oh, lidah itu gesit dan meyakinkan, menciptakan kenikmatan padaku dalam gelombang yang terampil, membawa ke atas dan kemudian kembali turun. Aku lebih dekat pada tepian orgasme tetapi kemudian menjauh. Siwon menclupkan lidahnya masuk, menggerakkan kepalanya berputar saat pinggulku mulai melengkung.

Aku terengah-engah hampir merintih sekarang, dan aku sangat dekat. Tapi ia melambatkan temponya dan aku membungkuk untuk menempatkan jariku di rambutnya, mengacak-acak dan mencengkeramnya. Dia tertawa di antara pahaku, dan aku mengerang oleh panas yang tiba-tiba ada di sana. Dia melakukannya lagi, kali ini tidak tertawa tapi bernapas lambat, napas panasnya membuatku semakin liar. Ia menghembuskan napasnya lagi, dan kemudian lidahnya menemukan milikku. Lingkaran lambat pada awalnya, kemudian menjilat sedikit ke atas sedikit, dan kemudian melingkar lagi menekan di sekitar clit-ku sampai aku mengejangkan pinggulku dengan kacau dan kemudian aku datang, lebih keras daripada yang pernah aku alami sebelumnya. Aku datang begitu keras sampai aku melihat bintang, dan aku benar-benar menjerit dan mengerang.

Aku bukan orang yang vocal saat berhubungan seks, tidak pernah. Bahkan saat pengalaman yang paling intens sebelumnya, suara yang paling keras aku keluarkan adalah terengah-engah pada saat klimaksnya, juga tubuhku yang bergetar tak bisa ku cegah.

Tapi ini adalah ledakan, sebuah ledakan nuklir yang meluncur keluar yang membakar perutku dan membuat anggota badanku gemetaran. Siwon merangkak kembali ke tempat tidur, dan aku membuka mataku untuk melihatnya menyelinap ke arahku dengan gerakan seperti predator, tersembunyi dan berbahaya dan masih lapar akan tubuhku.

Aku menariknya ke arahku dan menciumnya, rakus akan bibirnya, mencicipi rasaku sendiri di bibirnya dan aku tak peduli, malah sebenarnya menyukainya.

"Apakah kau pernah mengalami apa yang aku lakukan padamu sebelumnya," Siwon bertanya di sela-sela ciuman.

"Sekali, dan itu kikuk dan tidak menyenangkan bagi kami berdua. Itu adalah ketika kami pertama kali mulai berkencan," aku menggoreskan kukuku turun di punggungnya. "Tapi ini tidak seperti apa yang aku rasakan. Aku belum pernah orgasme sebegitu keras dalam hidupku."

Dia hanya tertawa. "Oh kau berada dalam perjalanan yang liar, aku baru saja mulai. Itu untuk membuatmu mau ikut."

Keyakinannya sangat menakjubkan, dan membuat merinding terangsang. Jika itu hanya awalnya, aku bahkan tak bisa membayangkan akan seperti apa sisa malamku nanti.

Siwom membaringkan tubuhnya di tempat tidur di sebelahku dan kami bercumbu, hanya berciuman tetapi lidah sudah terbang dan menggeram. Aku terengah-engah saat kami berpisah. Aku bersandar dengan satu siku dan menjelajahi ke seluruh tubuhnya, melihat hamparan ototnya, kencang, menonjol dan liat. Aku menelusuri dadanya dengan jariku, berputar di putingnya, dan kemudian membiarkan jariku mengikuti lekukan dan cekungan antara otot perutnya. Akhirnya aku menemukan bentuk V dimana otot perutnya mengarah menuju pangkal pahanya, menghilang di balik celana boxernya.

Dia keras karena aku, menonjok jelas di balik celana boxernya, kepala hampir muncul keluar di atasnya. Aku meliriknya, dan dia mengangkat alisnya padaku, tersenyum hanya dengan satu sudut mulutnya. Dia hanya berbaring disana, menunggu, satu tangan di punggungku, yang lain jatuh malas di sepanjang dadanya. Dia tahu apa yang dia punya, dan dia hanya menunggu aku untuk menemukannya.

Saat jariku masuk ke bawah boxer abu-abunya, dan jariku menyenggol ujung miliknya. Dia tersentak, perutnya mengempis masuk. Aku menatapnya, melihat kilatan kegelisahan, menghilang secepat ia datang. Aku ingat dia setahun tidak melakukan ini, jadi sedikit gelisah bisa dipahami. Aku bertanya-tanya apakah ia akan mencapai orgasme dengan cepat. Itu mungkin saja terjadi di tengah kegugupannya. Tapi aku berpikir bahwa bahkan jika Siwon hanya mampu bertahan 30 detik saja, itu adalah 30 detik terbaik yang pernah aku rasakan.

Aku menarik pinggang celananya turun dari tubuhnya, dan ujung kemaluannya melompat bebas, membuatku mengerang saat melihat miliknya. Aku menarik boxernya turun ke pahanya, dan kemudian merasakan getaran keberanian mengembang dari perutku. Aku bergerak ke bawah dan menyentuhkan lidahku pada kemaluannya, hanya ujung lidahku terhadap tepinya. Siwon menarik napas dalam melalui hidung, dan aku menatapnya sambil tersenyum.

"Kau tak perlu melakukannya," katanya.

"Aku ingin."

"Pernahkah kau melakukannya?"

"Sekali, semacam itu," kataku sambil menarik seluruh boxer lepas, ia melemparkannya ke samping dengan kaki.

"Semacam itu?" dia melengkungkan alisnya, satu sikap yang aku pelajari dari kekayaan ekspresi Siwon.

"Itu tidak berjalan dengan baik," aku mengangkat bahuku, mengabaikan masa lalu.

Dia menarik rambutku dengan jarinya. "Jika kau ingin…"

Aku tidak menanggapi. Bukan dengan kata-kata. Aku menggenggamnya dengan kedua tanganku, satu kepalan di atas yang lain, dan kepalanya masih satu inci di atas jari-jariku, bisa juga lebih. Miliknya besar, lebar dan bulat, dengan lengkungan lembut dari pangkal ke ujungnya. Aku menelusuri lubang kecil di ujungnya dengan ibu jari, dan cairan bening berdenyut keluar. Aku menundukkan kepalaku untuk mencicipinya dan dia tersentak lagi, kemaluannya terayun-ayun bersamaan saat ia menarik napasnya. Sangat sensitive.

Aku mengusap ke atas dan ke bawah dengan tanganku, tapi aku sadar dia kering, jadi aku menurunkan mulutku padanya, menjilati dirinya, membawanya ke dalam mulutku dan membiarkan air liurku melapisinya. Dia licin sekarang, dan aku membawanya di tanganku lagi, memompa perlahan. Pinggulnya mulai berputar, dan aku merasa lebih berani. Matanya setengah tertutup, dadanya naik turun perlahan-lahan, tangannya menggenggam selimut tempat tidur. Aku mengambil kepalanya dalam mulutku, mencicipinya di lidahku, dan kemudian mengeluarkannya kembali untuk mengagumi miliknya sekali lagi.

"Penggoda," Siwon tertawa. "Ya Tuhan, kau membuatku gila."

Aku menatapnya, dia masih memegang miliknya di genggamanku, dan meluncurkan tanganku di sepanjang kemaluannya lagi. "Maaf. Aku tak bermaksud menggodamu. Hanya saja milikmu begitu indah."

Dia tersenyum padaku, lalu memiringkan kepalanya ke belakang dan melengkungkan punggungnya saat aku membawanya lagi di mulutku, melebarkan bibirku semampunya untuk mengakomodasi ukurannya. Aku memompa telapak tanganku di sekelilingnya, membawanya jauh ke dalam mulutku sampai menabrak bagian belakang tenggorokanku. Menariknya keluar lagi, tidak semua, dan dia mencengkeram selimut sampai jari-jarinya memutih.

Dia sudah berada cukup lama, lebih dari milik lelaki lain di dalam milikku.

Aku mengulangi lagi, kali ini mendorongnya lebih ke dalam tenggorokanku, hanya sampai ke tepi refleks tersedakku. Dia tersentak, ketika ia hampir sampai di tenggorokanku. Aku suka suaranya, suka kekuasaan yang aku miliki atas dirinya, dan melakukan hal ini. sekarang aku mulai berirama, naik turun padanya, menggelincirkan tanganku pada pangkalnya seirama dengan mulutku.

Pinggulnya bergerak putus asa dan aku mengikutinya, dengan tangan dan mulut secepat aku bisa bergerak, tanganku meluncur di atas air liurku yang licin pada miliknya yang membesar di ujungnya. Aku membawanya semakin ke dalam, membiarkan dia mendorongnya terhadap tenggoranku. Dia menekan dengan liar, dan aku belajar untuk mundur saat ia mencapai puncak dorongnya hingga aku tidak muntah. Jari-jarinya beserta buku-bukunya memutih menggenggam selimut, dan ia terengah-engah di tenggorokannya.

Aku meninggalkan satu tanganku dari kemaluannya dan menurunkannya pada bolanya, menangkup kantung itu di telapak tangan dan jari-jariku, memijat selembut yang aku bisa. Mereka begitu lembut, rambut lembut dan kulit mengeriput kencang dan ketat.

Dia menggertakkan giginya memberi peringatan melalui giginya yang terkatup. "Aku datang oh Tuhan, aku datang sekarang."

Dia datang, dengan keras, melepaskan banjir panas ke dalam mulut dan tenggorokanku. Bolanya berdenyut di tanganku, dan kemaluannya bergetar saat ia ejakulasi. Aku memeras dengan keras, menghisap sampai pipiku cekung, juga dengan tanganku sampai ia mengerang lagi dan menggeliat di tempat tidur, membungkuk ke depan dan kemudian melengkungkan punggungnya.

Aku merasa berkuasa, juga sensual, menggoda dan jadi wanita seutuhnya. Dia menarikku ke dadanya dan aku meringkuk di dalamnya, bersyukur atas kehangatannya. Aku merasa terlingkupi dalam pelukannya, dikelilingi oleh panas dan otot laki-laki dan kekuatan berbahaya dan aksih sayang yang lembut.

"Oh Ya Tuhan," suara Siwon serak dan masih terengah-engah. "Kau membuatku datang dengan begitu keras. Itu sangat mengagumkan."

Aku merasakan sensasi bangga mendengarkan pujian itu. Aku tahu aku akan melakukannya lagi, hanya untuk mendapatkan reaksi darinya, merasakan kekuasaan atas tubuhnya, memberinya kenikmatan yang jelas aku miliki.

Jemariku menelusuri otot-ototnya, tangan yang lain menekan di antara tubuh kami. Tangannya meluncur naik dan turun di atas punggungku, menggelitik tulang ekorku dank e dalam celah pantatku, bergerak naik dari pinggul ke bahuku dan kembali ke pantatku dalam belaian mengeksplorasinya.

Aku tidak bisa menjauhkan tanganku dari penisnya, dan segera berada di tanganku sekali lagi. Aku suka menyentuhnya, merasakan kontradiksi yang aneh dari sutra dan baja. Pada saat itu lembut dan lemas, jatuh di tanganku, tapi anehnya terasa berat.

Perutku tegang dengan antisipasi saat ia mulai menegang di bawah sentuhanku. Aku ingin dia di dalam diriku, aku gemetar dengan antusiasme untuk merasakan dia saat masuk ke dalam milikku yang basah dan licin.

"Ya Tuhan, kau membuatku siap untuk melakukannya lagi," kata Siwon.

T B C

Ini masih hari minggu kan? Jadi nggak telat kan *licik*. Maaf yaa kalo banyak typonya kayak chapter pertama, maklum ngetiknya sambil jagain anak, sendirian lagi. Makasih atas perhatiannya kepada ff ini yaa. Saya akan berusaha tetap di jalur SICHUL nggak pindah-pindah nge-ship crack pair yang lain.

Anyway ini hari apa hayoo ada yang tau? HAPPY NO BRA DAY! Ini merupakan salah satu gerakan anti kanker payudara.

Thanks To:

Ayashi Casey: Iya novelnya bagus loh, conflictless tapi justru ringannya itu bikin santai bacanya, menghibur.

: Yeahhh…karena saya cinta sichul

Hyona21: Iyaaa dukung saya terus makanya yaa, minta koreksinya kalo banyak typo

SimbaRella: Aaahh I know u…salah satu author Sichul yang masih eksis kan? Makasih atas dukungannya ya, mari lestarikan ff sichul.

Cyndishim07: iya udah lanjut

Hani107: udah update, cepet kan?

Kyumin kyumin: sama saya juga panas ini.