"Ah," Saya mengumal redah, sembari melirik gedung Nomuhara-Cafe yang luar-biasa bagus Helai-helai surai kecoklatan nampak terlihat lembut tertiup angin, sebuah jepit rambut Khas bermotif sakura terpasang dirambutnya, udara bulan Mei dimusim dingin benar-benar membuat kondisi mood sebenarnya tak enak sekaligus merasa ragu, matanya berwarna coklat keemasan, Ia memerjapkan mata berkali-kali menatap tempat yang sudah ada dihadapan. Untuk penampilanya Saya tidaklah mengenakan baju yang mencolok untuk melamar pekerjaan, ia hanya mengenakan jaket sport dan memasang tudung kepalanya, dan bawahan celana jins lumayan tebal, juga sepatu sports hijau dipakainya.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

*K-PROJECT GROUB*

"-_-_-[K] the Queen of Silver Lily-_- _-"

By

"-_- Ligthting Shun -_-"

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

Saat pintu terbuka udara hangat menembus pori-pori hangat pada tubuhnya, Bola-mata Saya sedikit menyengit setelah melihat keadaan ruangan, ruangan bar yang bergaya inggris yang bisa disebut klasik, semua berdominasi perabotan coklat gelap impor bergaya barat, music jazz dan metal-slow benar-benar memanjakan telinga dan jujur saja ini sangat membuat perasaan Saya merasa nyaman. Tapi dilain itu tatapan waspada nampak diberikan semua orang yang ada Cafe setibanya dia dalam entah tatapan disertai hawa membunuh atau apa-lah mengelilingnya. Saya tak perduli dengan hal itu.

Saya menelan ludahnya, lalu menghelah nafas rendah untuk menenangkan diri dan terus berjalan menuju meja bartender dengan nada datar, Saya tahu ia terus mendapat ta tatapan tak nyaman dari para laki-laki disana tapi Saya berusaha tak mempedulikan sekelilingnya, namun mata Awasnya menangkap dan tatapan dengan satu-satunya anak perempuan diperkumpulan laki-laki itu, Dia seorang anak perempuan manis itu memiliki rambut putih dan iris kemerahan. Ia memakai sebuah gaun lolita merah yang sangat cocok dengan dirinya yang bagaikan boneka porselen. Kulitnya putih dan begitu halus. Gaun yang ia pakai memiliki banyak renda merah dan hitam, serta tudung berbulu hitam yang manis. Kakinya dibalut kaos kaki putih selutut dan sepatu Tanrea hitam, ala Alice in wonderland melekat dikakinya. Wajahnya yang tidak berekspresi membuatya benar-benar tampak bagaikan boneka kecil porselen yang dipajang dikafe ini, jujur Saya kagum pada gadis kecil itu.

"Sumimasen!,"Jawab Saya datar, ia telah sampai pada meja bartender yang mana ada seorang laki-laki berprawakan tinggi, tampan, berambut coklat dengan kacamata berlensa ungu penuh gaya terpasang dibatang hidungnya, nampak memasang senyum ramah pada Saya, membuat hawa tubuh Saya lebih baik.

"Ada apa Nona? Apa anda ingin pesan sesuatu?,"Tanyanya Ramah.

"..."Saya terdiam dalam bisu selang beberapa detik lalu mengeleng, dengan tatapan datar serta mengabaikan semua pandangan aneh padanya, dan memeriksa sesuatu disakunya, dan setelah dikeluarkan sebuah surat iklan lamaran kerja, yang dipasang dikoran. "Aku datang melamar pekerjaan pada anda, aku dengar kalau anda memasang iklan dikoran, dan membutukan orang untuk membuat Cake!,"Ucap Saya datar, membuat raut lelaki nampak berubah lalu menatap intens Saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, selama beberapa detik.

"Ya benar aku memasangnya?! Siapa namamu Nona! Namaku Kusanagi Izumo, salam kenal,"Ucap lelaki tampan itu.

"Saya/ Konahana Saya! berkenalan dengan anda,"Ucap Saya tenang, keduanya berjaba-tangan, sementara semuanya nampak sibuk melirik seseorang Saya.

"Ah! Baiklah jika memang kau ingin melamar pekerjaan disini sebagai pemilik bar ini akan memberi ujian untukmu Saya-san?! ,"Ucap Kusanagi tenang tampa basa-basi . "Sebagai ujian kau harus membuat Cake yang enak, dan jurinya seluruh orang berada disini!, Jika Cakemu enak maka kau lulus, bagaimana Saya-san"Ucap Kusanagi lalu menatap semua lelaki yang sekitar 25 orang yang ada disana ada pula, diantaranya memasang ketawa licik..

"Baiklah!,"Saya mengangguk kalem, meski-pun merasah aneh mengapa Kusanagi harus menyuruhnya membuat Cake dan jurinya adalah orang-orang itu. "Saya akan tetap melakukanya,".

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Oi kemana Saya?!,"Tanya Shun melirik pemuda yaitu Noir yang dengan tenangnya makan susi gulung buatan Shun, dan duduk dikursi dimeja makan dengan kalem, sementara Shun masih memotong tomat untuk kaldu sup, yang dibuatnya dalam panci yang tengah mendidih.

"Kudengar dia ke Homura-Cafe,"Ucap Noir menghelah nafas, dan kembali memakan makananya.

"Oo.."Jawab Shun menghelah nafas datar.

"Shun?," Panggil Noir.

"Nani!?,"Tanya Shun.

"Kau yakin tak apa-apa!? Jika dia kerja di area Homura-klan atau Si-Raja Merah itu?!,"Tanya Noir memandang serius dari ekor matanya, yang mengkilat dengan tekanan hawa menyeramkan yang ditujukan pada Shun yang sedang mencuci beberapa panci kotor. "Kurasa saat ini Saya tak tahu apa-apa!,"Ucap Noir.

"Aku tak bisa menghentikanya? Toh dia kesana kerja selama aman kita tak bisa melarang, Saya adalah gadis yang paling mandiri! Kau dan aku paling tahu tentang itu,"Ucap Shun memandang lurus, lalu mengibas panci yang telah disabuni dan akan ia bilas dengan air keran. "Jika memang terjadi sesuatu aku yakin kau lebih dulu bertindak lebih baik dari pada aku?!,"Ucap Shun tersenyum kemenangan, sementara Noir membuang muka sembari berchi-ria.

"Dasar!, bagaimana masalah Caleum?!,"Tanya Noir memandang datar, menatap serius. "Jangan bilang kau belum melakukan apa-pun?,"Tanyanya dengan tatapan serius.

"Masalah masih belum selesai,"Ucap Shun menghelah nafas panjang, lalu berjalan mendekati meja makan, setelah pekerjaanya selesai tak lupa dia juga mematikan Kerang air dan meletakan panci bersinya ditempatnya. "Tolong bilang pada Saya jika aku tak pulang malam ini, bilang saja aku menginap dirumah temanku,"Ucap Shun, sembari melepas celemeknya dan meletakanya disandaran kursi. "Lalu bagaimana denganmu?!,"Ucap Shun.

"Aku sedang mengumpul Soul yang terjerat, untuk menyelesaikan pekerjaanku! Tapi akhir-akhir ini aku tidak sibuk aku akan menyusul kesana nanti,"Ucap Noir santai.

"Kalau begitu aku pergi,"Ucap Shun.

"Aku mengerti,"Ucap Noir datar.

"Aku pergi ya?,"Ucap Shun lagi perlahan sebuah cahaya dan segel dibawa kakinya terlihat bersamaan gumpalan kabut cahaya mengelilingi dirinya dan menghilang dalam sekejab meninggalkan Noir yang memasang Muka malas, menatap Shun menghilang begitu saja.

"Dasar mahluk yang selalu seenaknya sendiri,"Ucap Noir menghelah nafas lalu melangkah pergi menuju dapur, untuk mencuci piringnya makanya.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Selesai! Silakan dicicipi,"Ucap Saya datar ia mengeluarkan ranbow-cake yang sudah jadi dari pendingin dan Saya dengan santai lalu memotong serta membagikan kue itu pada orang-orang itu, dan Saya juga melepas ikat rambutnya yang sedari tadi tak dilepas ia sedikit mengelus keringat membanjiri pelipis wajahnya, membuat satu Cake dengan porsi besar sendirian lumayan membuang tenaganya hari ini.

"..."Semua memandang makananya beberapa detik, dengan bungkam lalu akhirnya dimakan juga.

"Enak,"

"Woy enak sekali,"

"Kau pandai konohana," Dalam waktu singkat aura mengerikan tadi berbagai penjuru nampak menghilang dan pujian-pujian mulai diberikan pada Saya dengan Cake buatanya.

KRREEEETTT!

Suara pintu kafe terbuka menampilkan, dua orang pemuda satunya pemuda kurus, dan satunya lelaki bertubuh gemuk nampak memasuki ruangan.

"Ano ada apa ini!,"Ucap pemuda itu memasuki ruangan, sembari mengandeng Skerboard miliknya.

"Oh Yata-san, mau makan ada Cake enak loh!

"Eh?!,"Saya lalu memandang pemuda yang datang. dan baik Yata dan Saya saling memandang satu-sama lain lalu.

"Ka-kamu!?

"Eh!,"

"Orang yang memukulku waktu itu!,"Celetuk Yata dengan tatapan membulat dengan muka sedikit memerah.

"Orang yang mesum dan memegang dadaku waktu itu!,"Jawab Saya sembari dengen expresi kaget dengan nada rendah.

"S-soal itu a-aku!,"Mendengar ucapan mematikan dari Saya. Membuat mata Yata langsung membulat, dan wajah bak kepiting rebus, hal memalukan yang dilakukanya kini teringat kembali.

Dan disisi pembicaran :

"Apa!? Yata pegang dada seorang gadis? Lah bukanya Yata itu sangat benci wanita,"Bisik salah satu lelaki disana.

"Yata benar-benar melakukan itu?,"Sahut yang lainya.

"Mana aku tahu! Ternyata Yata liar juga,"Celetuknya beberapa tertawa kecil dan sementara yang lain memasang wajah bodoh dan tiada percaya!,"

"HHHEEEEEEEEEHHHH!,"Jerit para laki-laki yang lain. "YATA KAU MESUM!,"Ucap yang lain dengan serempak.

"Yata!,"Panggil gadis berambut putih.

"Apa Anna?,"Ucap Yata gadis lolita itu ternyata bernama Anna, gadis bak boneka itu nampak menatap wajah Saya lalu tersenyum tipis secara sekilas.

"Selamat Yata!,"Jawab Anna dengan nada aneh.

"APA-APAAN ITU ANNAA!,"Teriak Yata dengan nada frustasi, ucapan Anna membuat dia bingung, dan meremas topi hitamnya membuat keadaan semakin amigu.

"Selamat Yata!,"Ucap beberapa orang yang lain.

"Aku tak begitu AHOOO!~"Teriak Yata tak terima. Kusanagi yang nampaknya tak bisa mengontrol keramaian yang ditimbulkan, hanya menghelah nafas lalu pandangnya mengarah pada Saya yang memasang tampang datar.

"Nee! Konohana-san bisa kita bicara aku akan menilaimu kali ini,"Ucap Kusanagi membimbing meninggalkan Yata dan para kerumunan menuju tempat paling jauh, agar keduanya bisa berbincang.

"Hai!," Saya mengikuti Kusanagi dan Meninggalkan kekacawan bodoh kelompok laki-laki itu duduk secara bersama-sama dengan Kusanagi. "Jadi kau anak sekolah yang ingin Part-time disini?,"Tanya Kusanagi.

"Hai!,"

"Kenapa kau tak memfokuskan diri kesekolahmu? Kenapa kau malah ingin bekerja sambilan,"Tanya Kusanagi.

"Aku hanya ingin menambah pengalaman saja,"Jelas Saya. "Kedua kakak lelakiku mengizinkan aku bekerja, asal tak memaksakan diri,"Ucap Saya.

"Dan kau anak baru dikota ini?,"Ucap Kusanagi sembari melihat formulir lamaran kerja Saya.

"B-benar,"

"Oke baiklah,"Sebuah senyum tampan diperlihat Kusanagi lalu berkata. "Kau mulai besok boleh bekerja disini,"Jelasnya.

"H-Honto!,"Tanya Saya entah kenapa seulas senyuman manis dan gembira terukir tipis diwajahnya. Dan senyuman spontan itu cukup membuat Kusanagi kehilangan kata-katanya dalam beberapa detik. "A-ano Kusanagi-san,"Panggil Saya.

"Ah em! Ya tentu,"Jawab Kusanagi pasif dan senyuman menawanya kembali, benar-benar membuat mood Saya kembali ceria.

"Kalau begitu saya permisi setelah pulang sekolah aku akan kemari,"Ucap Saya, lalu Kusanagi tersenyum.

"Hoi-Hoi! Kau serius menyuruhnya untuk kerja disini? Kusanagi-san?!,"Tanya Yata dengan tatapan kaget tak jauh dari tempat Saya dan Kusanagi.

"Memang kenapa Yata-san,"Tanya Kusanagi.

"..."Saya terdiam dengan hawa mengerikan mengeluar dari tubuhnya dan tampa aba-aba dan memandang kesal pada Yata.

"Memang apa masalahmu Aho-neko!?,"Ucap Saya keras.

"Apa katamu kau pikir kau ada dimana huuh! Kau berada di Klan Homura, dari klan Raja merah,"Ucap Yata.

"Eh?! Klan maksutnya?!,"Ucap Saya bingung."Raja merah? Eh apa maksutnya,"Tanya Saya menatap Kusanagi.

"Jangan bilang kau tak tahu apa-apa tentang kami,"Ucap Yata, memandang serius pada Saya, sementara sigadis mengeleng tidak mengerti.

"Memang tidak tahu,"Ucap Saya jujur.

"EEEHHHHHHHHHHHHHHHH!,".

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Oh jadi kau tinggal jauh dikota Frost di pegunungan, yang jauh dari pemerintahan itu,"Ucap Kusanagi mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Saya.

"Dimana itu kota Frost,"Tanya David.

"Kota Frost adalah kota yang jauh digunung Kreon, yang ada dibarat inggris, kudengar disana adalah kota mendung karna dataran yang tinggi dan dipenuhi hutan, dan disana jauh dari riuk pikuk pemerintahan,"Ucap Kusanagi.

"Sugoi berarti Saya jago dalam bahasa Inggris dong!,"

"Lumayan kedua kakaku sering pindah-pindah diberbagai wilayah dan, aku selalu ikut dengan mereka,"Ucap Saya.

"Apa pekerjaan kakak-kakakmu? Lalu kau tak ikut orang tuamu?,"Tanya Anna.

"Tidak! Kedua orang tuaku meninggal karna kecelakaan saat aku berusia 8 Tahun, dan saat ini aku hanya memiliki kedua Kakakku yang bekerja ilustrasi dan penulis buku, ada juga pamanku, yang bekerja sebagai sejarawan yang menetap diarea penggalian,"Ucap Saya panjang lebar.

"Oh! Pasti sangat menyenangkan bisa pergi diberbagai wilayah didunia,"Ucap Mike.

"Umm...tidak juga!,"Saya mengeleng Kuat dengan lengan yang entah gemetar. "Hidup berpindah-pindah sama sekali tak menyenangkan, setiap kali pindah kau harus membiasakan pola lingkungan yang berubah-rubah,"Ucap Saya menghelah nafas.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

Saya menghelah nafas saat ia pulang dari Kafe, suasana malam benar-benar membuat dia merasakan hawa dingin dari setiap gang, namun ia nampak tak perduli sama sekali, mencoba mengusir rasa gelisa ia mempercepat langkahnya sampai, ada keempat pria menahan dirinya.

"Hei gadis kecil?,"Seorang pria menatap Saya dengan senyuman tampa dosa, ia berjalan mendekat bersamaan tiga atau empat orang dikiri dan kananya turut memandangi Saya demikian.

"Cih!," Saya menatap sinis, orang-orang menatap haus entah haus akan apa, Saya bahkan tak bisa berkata apa-apa.

"Sepertinya uang yang dibawanya tak banyak, jadi boleh nikmati tubuhmu?!,"Tanya lelaki itu memainkan sebilah pisau ditanganya.

"OOOOIIIIIII SSAAAAAYYYYAAAAAAA!,"Teriakan keras mengema, dengan angin keras terkesan lurus mengarah pada Saya, terlihat sosok seorang lelaki dengan Skedtboard dengan kecepatan tinggi mengarah padanya.

"Hah! Y-yata-kun,"

DUARK!

"Oi! JANGAN BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUH DIAAA!,"Tiba-tiba Yata teriak melompat dan langsung menyerang lelaki tadi dengan tendangan langsung tepat kewajah lelaki itu, dengan kecepatan luar biasa hingga salah satunya menghantam wajahnya untuk mencium tanah yang berpasir, dengan gerakan sedikit akrobatik dan juga piawai bermain Sketboardnya yang nampaknya Pro.

"Ah? K-Kamu, kenapa bisa!,"Ucap Saya, dangan pandangan kaget. Saya lalu menatap Yata dengan kecepatan tinggi dan langsung menarik dalam gendonganya. "Hoi-hoi!?,"Ucap Saya

"DIAM!,"Ucap Yata dengan tatapan kesal membuat Saya terdiam, tatapan mengerikan nampak sangat terlihat jelas diwajah Yata, seraya menatap empat lelaki yang masih dihadapanya memandang dengan tatap birngas, sementara yang satunya masih meringis memegang pipinya hingga dan susah bangun.

"Cih! Jangan mengambil mainan kami begitu saja, pemuda-cilik,"Ucap dari salah satu lelaki disana dan menatap rendah.

"Mainan katamu dasar rendahan,"Ucap Yata dengan tatapan membunuh. Bola mata Yata berubah, seperti kilatan kemerahan, dengan Skedboardnya yang lebih kencang dengan Aura kemerahan nampak terbias dari tubuh Yata, ia lalu mendekap erat Saya, posisi ala mengendong pengantian dan melaju kearah penjahat itu lalu.

BUARK!

Yata bersalto, kedepan dan nendang dengan sedikit gaya Akrobatik keras, hingga ke-empat lelaki itu terjatuh disaat yang bersamaan.

"Jangan pernah menyentuh gadis klan Homura, Dasar BRENGSEK!,"Teriak Yata dengan nada emosi. "Atau kalian akan mendapat hadiah yang berkualitas dariku!,"Ucapnya dengan nada mengancam.

"Yata-chan! Kau bawa saja Konohana-san, pulang!,"Teriak sebuah suara, Yata menatap kearah suara dan itu adalah, Kusanagi, Anna dan beberapa orang dari Klan Homura.

"Kusanagi-san, A-anna!,"Ucap Yata mendang keduanya secara bergantian, Sementara Saya hanya terdiam memandangi orang-orang diKafe nampak berkumpul.

"Pergilah,"Ucap Anna.

"Y-Ya!,"Ucap Yata lalu melaju meninggalkan mereka, dengan Sketboard yang diselubung api yang menyala.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Aku pulang,"Ucap Saya masuk rumah yang tak dikunci, dan setelah melepas sepatu dan mengantinya dengan sendal rumahnya, ia memutuskan menuju dapur lebih dulu mencari minuman penyegar tengorokanya yang kering.

"Sudah pulang!,"Tanya Noir muncul dari balik pintu dapur dengan tampilan rambut yang basah, dan hanya mengenakan celana traing, dan telanjang dada, ia juga sedang mengusapkan handuk dirambut berantakanya, sepertinya habis mandi.

"Malam, Noir-nii, mana Shun-nii"Ucap Saya.

"Hmm, dia pergi mengerjakan tugasnya mungkin malam ini dia tak pulang karna akan menginap dirumah temanya"Ucap Noir.

"Habis mandi ya?!,"Ucap Saya.

"Hmm.."Ucap Noir lalu Saya mengarahkan tatapanya pada botol air-mineral yang diambilnya dari kulkas lalu memindahkan airnya pada gelas plastik dan tampa aba-aba Saya, lalu meminumnya hingga tandas.

"Nii aku akan kekamar untuk mandi,"Ucap Saya lalu meninggalkan dapur menuju, kamar dan melewati Noir begitu saja.

"Mmm.."

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Klan Merah? Raja Merah?," Saya berguma ringan sembari melempar handuk dari kepalanya, saat ini dia mengunakan Tangtop hitam dan celana pendek putih setelah keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, membuat kepalanya langsung menghantam kebantal, dia merasa bingung dengan banyak hal yang terjadi hari ini.

"Jangan pernah menyentuh gadis klan Homura, Dasar BRENGSEK!,"

Entah kenapa dia masih memikirkan tentang ucapan Yata. "Klan Homura? Aku seperti mengenal nama itu,"Ucap Saya dengan kalem dalam hati.

"Ada apa Saya?!,"Suara dari seseorang terdengar dari batang pintu, disertai suara langkah kaki mendekatinya.

"Noir-nii,"Ucap Saya, lalu Saya merasakan usapan lembut dipipinya dan kepalanya berulang kali, dan meninggal kehangatan, bau mint menyegarkan tercium dari tangan yang mengusap kepalanya, dengan jari-jarinya yang besar.

"Bagaimana melamar pekerjaanya, kau diterima?!,"Tanya Noir sembari tersenyum tipis, sang kakak masih beragumen pendek seperti biasanya.

"Ya, diterima!,"Ucap Saya singkat, Saya menganti posisi kepalanya agar menatap sang kakak berambut merah itu.

"Lalu mengapa kau jadi suram begini?! Huh?,"Tanya Noir sembari masih mengusap kepala adik kecilnya, dan seketika Saya bangkit dari posisi baringnya lalu ke posisi duduk.

"Aku tak tahu!,"Ucap Saya mengeleng lalu memeluk Noir erat, tanganya sedikit gemetar saat memeluk lelaki yang kekar, ideal banyak wanita yang berharap berada diposisinya.

"Kau tak tahu? Mendoksenna~"Ucap Noir menghelah nafas, dan memeluk Saya dalam rangkulanya. "Semua akan baik-baik saja,"Ucap Noir dan keduanya kembali dalam keheningan.

"Hai, Arigatou Noir-Nii, Ucap"Saya.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

Malam itu berakhir dengan ketenangan, dan Saya Kembali merasa tenang, dan memulai kehidupan sekolahnya dengan baik-baik saja, meskipun ingatan menyebalkan itu sedikit membuat ia sedikit mengalami trauma, namun ia bisa mengatasinya tampa disadari siapa-pun"Nee Saya?,"Panggil Kukuri menatap gadis dihadapanya yang sedang makan bersama ditaman sekolah, Hari ini Sakura sedang Rapat osis hingga tak makan bersama mereka.

"Ya ada apa!?,"Ucap Saya yang tengah melahap sebuah tahu goreng tepung terakhirnya, kebetulan Shun sedang tak ada dirumah jadi yang membuatkan makanan hari ini adalah Noir, yang kebetulan lagi senggang dan tidur-tiduran dirumah, pria dengan sisi nampak malas itu adalah koki lumayan handal, meski Shun sendiri adalah orang yang selalu memegang dapur sepanjang hari, Terkecuali saat ia tak ada.

"Apa kau tak merasa diawasi!?,"Tanya Kukuri sembari memandang curiga Saya melirik keberbagai tempat, lalu menatap bingung, lalu mengeleng aneh. "Aku merasa seperti ada hawa orang yang memperhatikan kita,"Ucapnya dengan nada berbisik.

"Diawasi?,"Tanya Saya balik dan pertanyaan itu membuat Mood Saya tak menetu saat ini. "Tidak kenapa? Memangnya untuk apa aku diawasi aku ini anak pindahan dari negeri yang jauh bagaimana mungkin, memangnya anak biasa sepertiku bisa apa,"Ucap Saya menaikan sebelah alisnya.

"Serius kau tak punya cacatan kejahatan atau dicari polisi, atau anak yang hilang dan tak tahu jalan pulang,"Tanya Kukuri dengan nada yang bercanda sembari menyengir kecil.

"Hoi-Hoi aku tak mungkin anak hilang Dramatis sekali! Aku punya kakak dan aku tak punya cacatan kejahatan selama dinegriku dulu,"Ucap Saya dengan muka digembungkan pada pipinya.

"Soo-kah!,"Ucap Kukuri dengan wajah aneh. "Mungkin hanya perasaanku saja!,"Ucap Kukuri sembari melanjutkan makanya, dan ucapan Kukuri membuatnya jadi kepikirkan.

[SAAT PULANG!]

Seperti biasa Saya pulang sendirian, karna arah rumah Kukuri dan dirinya berbeda jalan, Saya pun juga tak pulang begitu saja karna hari pertamanya dia harus bekerja dikafe Homura, Siang ini.

Dengan langkah kecil menuju keareah Homura cafe, tampa singgah untuk menganti baju saat dia berada dicafe nanti.

KRING!~

"Permisi!,"Saya membuka pintu Homura-Cafe, dan menatap lima dari orang Clan kemarin yang mencoba kuenya sedang duduk santai disalah satu tempat duduk untuk merokok, sementara dia tak menemukan Kusanagi Si-bartender dimejanya.

"Kau masih berani juga,"Ucap seseorang sementara Saya tak menjawab apa-pun.

"Hai-hai kau bisa saja dikejar orang-orang tadi,"Ucap yang lain membuat Saya sedikit menahan ringisan.

"Oh gadis kemarin! Kali ini dengan mengunakan Seragamnya!,"Ucap pemuda berambut emas dan mengenakan tudung jaket hodies berwarna putih sembari tersenyum amat ramah.

"Wow Kawai,"Puji teman sebelahnya.

"Oh kamu! Konohana-san!,"Salah satu diantara lelaki kemarin mendekatinya, dan Saya mengangguk mantap agak canggung, sementara lelaki itu tetap tersenyum ramah membuat pikiran Saya kembali normal meski agak canggung.

"Kusanagi-san sedang pergi belanja kebutuhan makanan, mungkin sebentar lagi kembali, sebaiknya kamu menunggu saja dulu dia disini,"Ucap lelaki itu, sembari mengambil segelas air putih dalam cangkir lalu memberikanya pada Saya.

"Terimakasi,"Ucap Saya ragu-ragu menerima gelas.

"Arigil-san memang selalu mementingkan air putih ketimbang yang lainya,"Ucap teman-temanya.

"Air putih adalah sumber daya tahan tubuh terhadap deidrasi kalau diperhatikan Saya-chan kesini jalan kakikan?!,"Tanya lelaki yang dipanggil Arigil, sementara Saya tersenyum.

"D-darimana kau tahu?!,"Tanya Saya menatap Arigil yang masih tersenyum.

"Hanya berpikir saja, Sekolahmu jaraknya lumayan dekat dengan area tempat ini, jadi mungkin kupikir kau habis berjalan kaki,"Ucap Arigil.

"Ne Konohana Arigil calon dokter loh saat ini dia sedang mengurus kuliah kedokteranya,"Ucap seorang lelaki disana.

"Oh pantas saja,"Ucap Saya tersenyum lalu menenguk air putih yang kali ini tampa ragu.

"Kalian ini!,"Ucap Arigil hanya mendesah mendengar komentar teman-temanya.

"Oh baiklah,"Ucap Saya lalu meletakan cangirnya diatas meja dan lalu meletakan tasnya pada gantungan tak jauh dari wilayah dibartender.

KRING~

Pintu perlahan terbuka, terlihat Yata dan lelaki bertubuh gemuk, berkulit sawo-matang tampak memasuki ruangan, selang beberapa detik Yata terus memandangi Saya. lalu Saya memutuskan untuk memasuki dapur, entah kenapa sedikit cangung bertemu aho-Neko itu sekarang sampai dia mendengar suara dari depan meja bar-tender yang cukup meriah.

"Aku lapar~"Lelaki bertubuh gemuk nampak mengelu, sementara Yata memandangnya dengan Acuh.

"Kau tak bisa tahan dengan perut besarmu itu, Kusanagi belum datang tahu!,"Ucap Yata langsung menjitak kepala lelaki berambut pirang dan bertubuh gemuk itu.

"Minum air putih saja dulu,"Ucap Arigil.

"Apa kalian lapar?,"Tanya Saya mendekati meja Bartender, sementara Yata hanya diam dan memandangnya.

"Sangat!,"Ucap pria disampingnya dengan air mata nampak berlinangan.

"..."Saya nampak memandangi keduanya, dengan tatapan berpikir, bukan hanya melihat Sorot kelaparan lelaki bertubuh gemuk namun ia juga melihat muka kelaparan dari wajah para lelaki disana, plus suara Kruyuk keras dari perut mereka. "Aku punya banyak telur, Mau kubuatkan Nasi-Omlete?,"Tanya Saya datar, ucapan Saya membuat semua lelaki disana langsung memdanginya.

"MAUUUU!,"

SETELAH ITU (!) :

"Enak!,"Jerit salah satu dilelaki disana, Suara lelaki bertubuh gemuk yang sedang makan disamping Yata.

"Terimakasi ya Saya,"Ucap Arigil.

"Sama sama Arigil-kun,"Ucap Saya.

"Saya-chan tambah lagi,"Pinta Rikio dengan wajahnya yang memelas.

"Ah gomene! Aku hanya beli telur sedikit,"Ucap Saya memperlihatkan panci kosong bekas memasak Nasi olmetnya, yang sudah kosong dan siap dicuci.

BLETAK!

"BAKAA! Kau tak bersyukur! Setidaknya kau dapat makanan sekarang, ucapkan terimakasimu Rikio,"Ucap Yata dengan nada emosi.

"Benar tuh! Rikio!,"Ucap lelaki disebelahnya bernama James yang juga mendapat makanan buatan Saya. "Syukuri apa yang kau makan itu,"Ucap James.

"Oh ya! Sebenarnya aku sudah makan banyak disekolah, bagianku kuberikan padamu saja,"ucap Saya datar lalu mengambil piring Kosong Kikiyo mengantinya dengan Sepiring nasi omelet bagianya, lalu pergi menuju kamar mandi, meninggalkan kedelapan lelaki diluar dimeja bartender.

"YAAAAAYYY! ARIGATOOO SAYA-CHAN!,"Teriak Rikio dengan senyuman terpampang lebar, langsung menerima bagian Saya.

"Oy Aho tenanglah sedikit,"Bisik Yata, sembari memakan, makananya secara perlahan.

"Saya-san benar-benar gadis yang cocok untuk berlama-lama disini!,"Ucap James tersenyum.

"Nande Jimmy,"Tanya Kikiyo.

"Biasanya tak banyak wanita yang bisa bertahan bertemu kita dalam waktu beberapa detik saja, apa lagi pesan Kusanagi-san jangan ada yang menganggunya,"Ucap James dengan nada berbisik.

"Apa kita minta Anna merekrut dia menjadi bagian dari klan kita,"Tanya Rikio.

"Apa kalian yakin,"Ucap Arigil dengan pandangan datar.

Kring~

"Oi-oi,Yang benar saja,"Ucap Yata cetus dan membuang muka dari pandangan teman-temanya, hingga ia dan yang lainya tersadar saat pintu terbuka dan menampilkan wajah Kusanagi dan Anna juga beberapa pria sedang membawa bungkus kantung makanan.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Are-are! Saya-chan membuatkan makanan untuk mereka?!,"Tanya Kusanagi pada Saya sementara Saya membungkuk dengan pandangan cemas.

"Maaf melakukan hal seenaknya,"Ucap Saya, mendekati Kusanagi sembari membungkuk hormat berkali-kali.

"Ah! Tak apa-apa Arigato Saya!,"Setidaknya kau tak membuat beberapa teman-temanku kelaparan, sahut Kusanagi sembari tersenyum. "Ahm...akan kuganti uangmu! Untuk telurnya,"Ucapnya lagi sementara Saya mengeleng perlahan.

"Tak usah,"Ucap Saya sembari mengeleng. "Telur itu adalah Hasil Undian kudapat dari telur gratis yang sedang promosi di Centerral-panstel, kebetulan aku menang undian diaduputar kelereng dan Tiket seratus buah telur per-rak ,"Ucap Saya datar.

"Lucy sekali,"Ucap Unamoto dengan pandangan terkaget membuka awal suara, sementara Saya mengangguk polos.

"Eh! Se-serius!,"Ucap Kusanagi, sementara semua menatap kaget, sementara Saya mengaduk-aduk jas sekolahnya dan mengeluarkan dua lembar kertas.

"Sebenarnya aku menang dan mendapat 100 tiket setiap rak saat menang tadi,"Ucap Saya tersenyum, lalu memberikan salah satu kertas pada Kusanagi. "Jadi Ini 50 untuk Kusanagi-San saja, aku akan ambil 50 tiket lainya untuk kebutuhan telur dirumahku,"Jawab Saya panjang kali lebar.

"Ta-Tapi tak mungkin aku mengambil inikan milikmu,"Ucap Kusanagi dengan nada bingung, dilain pihak tawaran ini cukup menggoda baginya, menginggat bisa menambah jumlah penyimpanan telur untuk bahan Cafenya.

"Aku tak masalah,"Ucap Saya lalu berbalik badan menuju dapur, lalu berkata lagi. "Aku akan segera menganti pakeanku, aku akan kekamar mandi sebentar,"Usai itu Saya lalu ngacir menuju kamar mandi terdekat dan juga mengambil bajunya untuk berganti pakaian.

Sepeninggalan Saya, beberapa detik semua keadaan nampak hening setelah ada seseorang berkata dengan suara berat. "Saya-san, orang yang sangat baik,"Ucap orang itu dan semuanya mengangguk dan itu adalah Anna, yang lalu memandang kearah Yata sembari tersenyum seolah menyiratkan sesuatu.

"OOO***OOO+++OOO+++OOO***OOO"

"Kusanagi-san menteganya apa masih ada! dimana Kusanagi-san menyimpan menteganya? soalnya takaranya tak cukup,"Saya nampak mencari lelaki bersurai pirang dan jangkung itu, rupanya lelaki itu baru saja masuk kedapur.

"Ah ada apa Saya-chan,"Tanyanya, sembari membawa beberapa botol Rum ditanganya, Kusanagi memang sedang disibukan dengan beberapa Rum yang datang, dan diimpor dari Inggris tadi pagi.

"Dimana Kusanagi-San menyimpan mentega?!,"Tanya Saya datar menurut intruksi Kusanagi, dirinya harus membuat Ranbow Cake empat porsi karna pesanan mereka nampak bertambah.

"Ah dirak atas,"Ucap Kusanagi sembari menunjuk sebuah Rak cukup tinggi, dan perlu membuat Saya mengambil sebuah Kursi untuk mengambil mentega dirak atas, namun saat mengambil mentega diatas Rak dengan pondasi yang kurang tepa pada kursi membuat, Saya limbung dan hendak akan jatuh dari kursi lalu.

"UAAAAAHH!,"

TEP!

"Apa yang kau lakukan haah! Kau harus hati-hati,"Jerit seseorang dibawahnya, Saat Saya menoleh ia dihadapkan dengan wajah seorang lelaki yaitu Yatta yang sudag memeluk erat tubuh Saya dari belakang dengan wajah amat bersemu merah, beberapa inci didekatnya.

"Ah Maafkan aku, lalu makasi,"Ucap Saya, sementara beberapa orang yang tak sengaja melihat posisi amigu mereka, hanya terkikik plus Kusanagi yang juga tersenyum. Saya juga mengerut wajahnya juga ikut memerah dan memutuskan mengurus Kuenya sebelum wajah putihnya memerah semakin terlihat dihadapan Yatta yang nampak terdevinis manis, sementara Yatta memasang wajah bersemu dan kabur begitu saja dari dapur.

"Apa-apaan gemuru dadaku ini membuatku malu saja,"Umpat Yatta dengan raut semakin memerah layaknya kepiting yang direbus dalam panci mendidih.

[Bersambung]

[Kamis 5 mei 2016]