DISCLAIMER
NOBLESSE- JEHO SON & KWANGSU LEE BELONG. I JUST BORROW ALL OF THE CHARACTERS.
SUMMARY
Seorang photographer yang bersaing untuk mendapatkan title Haute Cuture dengan photographer lainnya, dengan memotret dia menemukan seorang pemuda cantik yang bisa membawanya sampai ke title itu.
AUTHOR
Erikafhr
GENRE : Modern!AU
RATED : T+ (+ untuk jaga-jaga)
WARNING : Sho-ai terselubung
.
.
Note:
FF ini bukan FF collab lagi untuk sementara, dikarenakan Mega sedang sibuk sekolah, jadi mulai chapter ini dan seterusnya saya yang akan terusin.
Chapter 2
.
.
.
Sebuah benda berentuk balok yang terduduk rapih di atas meja membunyikan sesuatu yang menggantikan kokokkan ayam jantan di luar sana, membuat Frankenstein terbangun, mata sapphire itu langsung melihat kearah benda tersebut, 'Masih terlalu pagi. Ahh sial, siapa yang mengatur alarm ku menjadi jam segini, lagipula ini hari minggu.' Debat Frankenstein dalam hati. Kemudian kembali tidur.
.
Aroma masakkan tercium harum dari arah dapur, membuat Frankenstein mengikuti arah aroma masakkan itu, "Siapa yang memasak?" Frankenstein berbicara sendiri menuju dapur, sesampainya didapur Frankenstein membulatkan matanya, "Apa yang kalian lakukan pada dapurku?" Frankenstein berbicara kepada ketiga pemuda berbeda surai rambut yang sekarang sedang bereksperimen dengan bahan-bahan makanan yang ada di kulkas dapurnya./
"Kita sedang memasak sarapan pagi." Tao yang menjawab pertanyaan Frankenstein, yang kemudian menghampirinya, "Kau duduk manis saja di meja makan, Frankenstein, kami sedang membuatkan sarapan yang paling lezat." Tao langsung menyeret-membawa Frankenstein keluar dari dapur. Namun tertahan karena Frankenstein memegang kedua penyangga pintu.
"Aku meragukan itu Tao, lebih baik aku yang memasak, aku tidak mau sarapan pagiku hancur karena adanya kejadian mulas-mulas akibat keracunan makanan yang kau buat. Itu sama sekali tidak lucu."
"Hahaha, Frankenstein, anak kecil saja tau kalau itu juga tidak lucu, aku bahkan tak tertawa sama sekali."
"Kau tadi tertawa Tao." Frankenstein menatap tajam Tao.
"Ahh pokoknya, kau tunggu saja diluar, aku tidak mungkin meracunimu Frankenstein." Frankenstein menyipitkan kedua matanya. Tao langsung membawa Frankenstein keluar dari dapur dan mendekati meja makan, "Kau tunggu disini saja." Diletakkannya serbet putih di atas pangkuan Frankenstein. Diliriknya Tao dengan tatapan tajam.
"Jangan melihatku seperti itu, Frankenstein, aku jadi seperti orang yang mencurigakan, haha." Tao tertawa canggung.
Baru saja Tao ingin kembali ke dapur untuk melanjutkan eksperimennya, tiba-tiba bau gosong menyapu penciuman orang yang berada di dalam rumah itu, tak terkecuali pemilik rumah itu, Frankenstein, "Bau apa ini." Frankenstein mengendus dalam-dalam, diliriknya Tao, "Jelaskan padaku Tao."
"Tao! Oi cepatlah kemari, tiba-tiba ikannya mengeluarkan asap,, uhukkkk…uhukkk." Takeo berteriak dari arah dapur. Tao langsung berlari kedapur tanpa menghiraukan Frankenstein yang mengeluarkan aura ganjil di belakang.
"Kenapa jadi gosong, Takeo, uhuukk…uhuk." Tao menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.
"Tadi katamu, dibiarkan saja biar terasa renyah, ." Tao langsung mematikan kompor induksinya, "ahh tidakk,, jika Frankenstein tau… hyakkk aku, yang akan bertanggung jawab atas semua ini."
"Benarkah,, kau akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi di dapurku?." Tiba-tiba Frankenstein muncul di ambang pintu dapur. "Hyakk,, kenapa kau disini?!"
"Suka-sukaku lah, toh ini rumahku, dan sekarang aku minta pertanggung jawaban dari kau, dan…. Juga kalian berdua, M-21, Takeo."
"Aku rasa aku tidak melakukan apapun, kenapa aku jadi kena imbasnya." M-21 menggerutu pelan, sekilas seperti bisikkan. Frankenstein menghampiri mereka bertiga, lebih tepatnya menghampiri Tao, yang tidak jauh darinya, "Dan kau Tao, aku tidak akan menggajimu, karena kau harus membayar beberapa kerusakkan di dapurku." Frankenstein berbicara disertai gestur tangan.
"Aku rasa tidak ada yang rusak sedikitpun, apa kau melihat ada yang rusak, M-21." Takeo yang berbicara, tidak, ia berbisik kepada M-21 yang berada di sampingnya. "Aku tidak tau, tapi ku rasa kau benar." M-21 membalas bisikkan Takeo.
"Hey kalian berdua, aku mendengarnya lho." Frankenstein menatap M-21, dan Takeo. Seketika mereka tidak bisa berkutik, sekujur tubuhnya kaku.
"Karena kalian berbisik tentangku, seharian penuh kalian tidak dapat jatah makan, jika kalian ingin makan, keluarlah, kalian ingin memesan delivery, silahkan, tapi tidak ku izinkan makan disini, dirumah ini, dan ini juga berlaku untukmu Tao." Frankenstein menunjuk antusias ke arah Tao.
.
.
"Bagaimana? Apakah urusan Raizel sudah beres, Gechutel, Rayga."
"Maaf lord, sejujurnya mengurusi itu semua dalam sehari adalah hal mustahil." Balas Gechutel, dibantu anggukkan dari Rayga.
"Benar juga." Pria yang dipanggil lord itu bertopang dagu pada pinggiran sofa. "Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk mengurusnya?"
"Beri kami waktu satu minggu, tidak. Lima hari saja cukup."
"Itu termasuk dalam hitungan satu minggu Gechutel, aku sungguh merasa mempunyai dua orang anak perawan, dan satunya lagi sedang di pingit untuk upacara pernikahan mendatang. Baiklah-baiklah, bagaimana kalau tiga hari, yahh tiga hari, aku tunggu hasilnya hari rabu." Pria itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Rayga, sebaiknya kita pergi sekarang." Ucap Gechutel.
"Baik." Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan ini.
Mobil 'Aston Martin One-77' Silver' berhenti di depan gerbang Noblesse University, salah satu universitas terkenal di kota Seoul, menunggu gerbang besar itu terbuka.
"Universitas ini lebih besar dari yang kemarin kita lihat di internet, kan, Rayga." Tanya Gechutel kepada Rayga yang sedang menyetir mobil. Tidak. Ia menunggu gerbang terbuka/dan masih menunggu. Rayga mengangguk, "Iya, dan juga, kenapa gerbangnya lama sekali dibuka."
"Mungkin alasan keamanan, lagi pula universitas ini juga unggul, jadi tidak heran jika keamanannya sangat ketat."
"Begitu." Bunyi suara kumpulan besi dan baja bergema, menandakan gerbang sudah terbuka. "Apakah gerbang ini otomatis?" Tanya Rayga.
"Kurasa ada yang mengendalikannya dari dalam."
"Aku juga berfikir begitu. Baiklah kita masuk." Mobil itu melaju memasuki universitas, terpampang besar tulisan 'University Noblesse' di dinding universitas itu. Dan menuju pelantara parkir, tidak bisa di sebut tempat parkir pula, lebih tepatnya seperti sorum mobil mewah, sangat mewah hanya untuk sekedar tempat parkir.
"Aku rasa lord memilihkan tempat yang sangat cocok untuk Raizel." Ujar Gechutel.
"Yaa, tempat ini juga sangat mewah."
"Kenapa Rasceia tidak sekolah disini juga bersama Raizel." Rayga menaikan kedua bahunya kepada perkataan Gechutel.
Mereka berdua memasuki koridor universitas itu, terlihat sangat sunyi, "Sepi sekali, Gechutel."
"Yaa, aku curiga tidak ada siswa disini." Mereka berdua berjalan ke ruangan rektor kampus ini. Setelah sampai di depan ruangan tersebut, Gechutel mengetuk pintu ruangan itu perlahan, "Em? Silakan masuk." Seruan masuk terdengar dari dalam ruangan, Gechutel memutar knop pintu ruangan, dan berjalan memasuki ruangan tersebut, disusul oleh Rayga dibelakangnya.
"Silakan duduk." Pemilik ruangan sekaligus rektor itu mengarahkan telapak tangannya ke arah kursi di depannya. Menyuruh mereka duduk. "Terimakasih." Seruan Rayga dan Gechutel bersamaan.
"Em? Kalian yang menghubungi kami kemarin kan?" Tanya rektor tersebut.
"Iya, kami yang menghubungi kemarin, emm… dimana rektor kampus ini?" ucap Gechutel.
"Heh? Wah wah, rupanya aku tidak tampak seperti rektor, toh." Jawab rektor tersebut. Rayga dan Gechutel saling bertukar pandang lewat sudut matanya, mereka seakan mengatakan, 'aku tidak yakin dia rektor di kampus ini.' Perilaku rektor ini tidak mencerminkan sebagaimana sifat rektor di universitas lainnya, rektor yang sangat tegas, berwibawa, sedangkan yang duduk di hadapan Rayga dan Gechutel terlihat seperti karyawan yang sedang bermalas-malassan sambil menunggu jam pulang kerja.
"Perkenalkan, saya Muzaka, selaku rektor di kampus ini, anda…."
"Saya Gechutel K. landerge." Gechutel memperkenalkan diri, di susul oleh Rayga, "Saya Rayga Kertia."
"Wah wah, nama kalian formal sekali, seperti seorang bangsawan." Gechutel dan Rayga bergeming.
"Baiklah, kita masuk ke topik, jadi…. Apa kalian membawa berkas yang diperlukan untuk masuk ke universitas ini, umm… omong-omong, siapa yang akan menjadi mahasiswa di kampus ini, biar kutebak, pasti kau." Muzaka menunjuk ke arah Rayga, "Karena tidak mungkin kakek tua ini yang akan masuk, toh kampus ini didiami remaja semua, apa kalian ada hubungan darah, semacam kakek dan cucuk, atau ayah dan anak, warna rambut kalian berbeda, hanya warna mata kalian yang sama."
Rayga menghela nafas, "Bukan saya yang akan masuk, saya juga bukan remaja, lagipula saya sudah memiliki dua orang putra."
"Apa?! Huh-_- anak zaman sekarang masih muda sudah punya anak, saya juga memiliki seorang putri, namun belum beranjak remaja, mungkin anak kita sepantaran."
"Anak saya, mereka berdua sudah remaja."
"Hiyyy, berapa usiamu? Kau tampak masih muda, tapi sudah memiliki dua orang putra yang sudah remaja, aku curiga, kau menikah sangat muda." Rayga bergeming.
Gechutel terohok, melihat kelakuan sang rektor, "Emm. Permisi, kita sedang berbicara apa ya? Kenapa sampai membahas anak." Ucap Gechutel kepada Muzaka dan Rayga.
"Oh, saya sampai lupa, jadi, bisa saya lihat berkas-berkasnya."
"Ya." Rayga memberikan map cokelat yang berisi berka-berkas yang diminta sang rektor, Muzaka.
Muzaka mengambil map tersebut dari Rayga, kemudian dibukanya map cokelat itu, dan dilihatnya selembar demi selembar kertas itu, "Umm.. Cadis Etrama Di Raizel. Usia 24th, pendidikan terakhir….. uhh homeschooling?"
"Ya, dia tidak pernah keluar dari rumahnya, dari kecil dia selalu mengecap pendidikan homeschooling, lord kami juga menyuruhnya sesekali keluar rumah, untuk menghirup udara bebas, tapi dia tidak mau, hanya cara inilah satu-satunya yang memungkinkannya keluar dari rumah, dengan memasukkannya ke universitas." Ucap Gechutel.
"Ahh baiklah, aku tidak mengerti, ngomong-ngomong kenapa tidak terlampir foto diberkasnya."
"Dia tidak suka di foto." Balas Gechutel.
"Orang yang aneh, mendengar dari ceritamu, sepertinya dia orang yang tidak gampang berbaur, aku takut tidak ada yang mau mendekatinya,"
"Menurutku, banyak orang yang mendekatinya, hanya saja dia tidak begitu terbuka terhadap orang asing."
"Begitu."
"Yah, lagipula disini pasti ada orang yang akan menjadi partnernya."
"Baguslah jika begitu pemikiran anda kakek."
"Kakek? Hufft..Kalau begitu, kami permisi dulu." Gechutel dan rayga terkesiap, berdiri dari kursinya.
"Baiklah, sampai bertemu besok, anak yang bernama Raizel bisa memulai kelasnya besok akan kupilihkan kelas yang cocok untuknya."
"Terimakasih" seruan Gechutel dan Rayga bersamaan. Kemudian mereka berdua berjalan keluar ruangan, melintasi koridor yang sama saat mereka menuju ruangan sang rektor.
"Gechutel, aku ingin bertanya sesuatu."
"Silahkan."
"Sekarang ini hari apa?"
"Hari minggu." Gechutel menyampingkan wajahnya ke arah Rayga yang berada disebelahnya.
"Pantas saja."
"Ada apa?" Tanya Gechutel yang sedang berada di ambang kebingungan oleh perkataan Rayga.
"Pantas saja kampus ini terasa sepi, hari ini saja hari minggu, semua mahasiswa disini pun pasti libur."
Gechutel tersentak, "Uh,,Kau benar Rayga, aku juga melupakkan hal itu."
.
.
Dua orang berbeda surai rambut memasuki sebuah rumah mewah, menuju ke ruangan yang tertulis nama 'lord' dipintunya, diketuknya pintu tersebut, dan terdengar seruan masuk dari dalam, dibukanya pintu tersebut dan berjalan mendekati lord.
"Apa kalian membawa berita bagus?" Tanya lord rumah tersebut.
"Ya, lord, kami membawa berita bagus untuk lord, mulai besok Raizel sudah bisa kuliah di universitas itu." Jawab Gechutel disusul anggukan oleh Rayga.
"Kalian memang sangat bisa di andalkan, aku tidak menyangka prosesnya akan sangat cepat."
"Ya, kami juga tidak menyangka akan secepat ini." Ujar Gechutel.
"Ahh, akhirnya anak perawanku sudah terbebas dari sangkar." Gechutel dan Rayga terohok,
"Aku harus memberi kabar gembira ini kepada Raizel."
"Rayga, tolong panggil Raizel ke sini, dan kau Gechutel, kau boleh meninggalkan ruanganku." Seruan 'baik' terucap dari mereka secara bersamaan, mereka berdua pun meninggalkan ruangan tersebut.
Tok…tok….tok…
Rayga mengetuk sebuah pintu kamar, "Raizel, anda dipanggil lord ke ruangannya." Pintu tersebut di buka dari dalam, "Mari saya antar." Raizel hanya menjawab dengan anggukan.
"Rayga." Ucap Raizel ditengah-tengah perjalanan menuju ruangan yang dituju.
"Ya? Ada apa?" balas Rayga dengan hormat.
"Antar aku kesana, setelah bertemu dengannya." ucap Raizel yang langsung diberi anggukan oleh Rayga, "Ya, baik." Jawab Rayga, dan mereka berdua pun sampai keruangan yang dituju.
Rayga mengetuk pintu ruangan itu, sambil menunggu jawaban dari dalam, tentu, bersama dengan Raizel juga, tidak disangka bahwa sang empunya ruangan tidak menjawab dari dalam, 'Tumben lord tidak menjawab dari dalam, apa dia sedang pergi, tidak mungkin, dia bahkan yang menyuruhku membawa Raizel ke ruangannya, jadi mana mungkin dia pergi.' Batin Rayga. Diliriknya Raizel, namun yang diliriknya malah asik mandangin pintu.
Ceklek, suara pintu terbuka, menampakkan sosok empunya ruangan,
"Ehh? Anda ada disini lord?" Tanya Rayga terheran.
"Eh? Memangnya aku kemana?" jawab santai pria itu.
"Saya kira anda pergi keluar, habis tidak ada jawaban dari dalam."
"Wah-wah aku kan ingin menyambut anak perawanku tercinta, Raizel." Mendengar lord berbicara begitu, wajah Rayga langsung terlihat horror, dan Raizel pun tampak tidak terjadi apa-apa di bilang anak perawan, so, dia tetep stay cool, dengah wajah polosnya.
"Rayga, tinggalkan kami berdua, sekarang kamu boleh minggat." Hiyaakkk nih lord tidak ada rasa terimakasihnya kah kepada Rayga, yang udah berbaik hati nganterin Rai keruangannya, dan malah disuruh minggat, minggat kemana pula, toh, ini juga rumahnya.
.
.
.
.
.
To be continue
thanks buat yang udah review chapter kemaren, saya saya senang, dan thanks juga buat temen2 yg setia dukung saya. i luv u
